cover
Contact Name
Wulan Agung
Contact Email
aristarkhusagung@gmail.com
Phone
+6282227139081
Journal Mail Official
jurnalsabdanusantara@gmail.com
Editorial Address
Sabda: Jurnal Teologi Kristen adalah jurnal ilmiah dalam bidang teologi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Nusantara Salatiga. Diterbitkan dua kali dalam 1 tahun yaitu bulan Mei dan Nopember. Menerima naskah hasil penelitian dalam bidang: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan Seluruh naskah yang masuk akan diperiksa terlebih dahulu oleh editor, jika memenuhi ketentuan maka dapat diproses untuk review.
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Sabda : Jurnal Teologi Kristen
ISSN : 27223078     EISSN : 2722306X     DOI : https://doi.org/10.55097/sabda.v2i2
Sabda: Jurnal Teologi Kristen menerima artikel dengan fokus: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021" : 7 Documents clear
Memitigasi Peran Orang Tua Di Keluarga Kristen Dalam Menanggulangi Dampak Disinformasi Dari Bingkai Teologi Pentakosta Kosma Manurung
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.753 KB) | DOI: 10.55097/sabda.v2i1.18

Abstract

The period in which believers live today is a time marked by the ease with which information is obtained. Unfortunately not all information is good, correct, and useful because there is a lot of information circulating out there that is deliberately created to spread hatred, lies, moral depravity, and various other acts that are contrary to Christian faith. The purpose of this article's research is to illustrate the important role that parents in Christian families can play in overcoming the disinformation impact of the Pentecostal theological framework. In this study, researchers used a descriptive analysis method and literature review. The results of this study offer four practical steps that parents in Christian families can take in stemming disinformation in their families, namely by taking protective measures in the form of regulating and restricting children's access to the internet, providing assistance, opening discussion spaces, and being examples that can be followed. by the child.
Implikasi Strategi Pemuridan Yesus dalam Gereja Meregenerasi Pemimpin Yakub Hendrawan Perangin Angin; Tri Astuti Yeniretnowati; Lindin Anderson
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.317 KB) | DOI: 10.55097/sabda.v2i1.20

Abstract

There is a statement, "Christianity without discipleship is Christianity without Christ. And the fact is that until now there are still quite a lot of churches that practice Christianity without discipleship, so that the existence of the church today is still ineffective in carrying out its calling role in this world. Even the most dangerous effects of an exemplary and Jesus-like Christianity have created leaders addicted to recognition and success simply without. So the Christian problem is unchanging faith. This research was conducted using the literature method. The result of this research is that the method that Jesus taught and inherited to His church in regenerating leaders is still the most effective method. And a church that wants to do a pattern like Jesus did at least must consider important factors: Prayer, Authority and power from God, Awareness (awareness) is blessed to be a blessing, Carry out the process of evangelism and discipleship, multiplication (multiplication - training of trainer) , Starting from serving the family and the church, committed and consistent for a continuous change in spiritual life, and becoming a great commission church.  Abstrak:Ada pernyataan ”Kekristenan tanpa pemuridan adalah kekristenan tanpa Kristus. Dan faktanya sampai saat ini masih cukup banyak gereja yang menerapkan kekristenan tanpa pemuridan, sehingga keberadaan gereja saat ini masih ada yang tidak efektif dalam melakukan peran panggilannya di dunia ini. Bahkan dampak paling membahayakan dari kekristenan tanpa kehidupan yang meneladani dan serupa Yesus telah menciptakan para pemimpin yang kecanduan akan pengakuan dan kesuksesan semata tanpa. Jadi masalah umat Kristen adalah iman yang tidak mengubahkan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah metode yang Yesus ajarkan dan wariskan kepada gereja-Nya dalam meregenerasi pemimpin masih merupakan metode yang paling efektif. Dan Gereja yang mau melakukan pola seperti yang Yesus lakukan paling tidak harus mempertimbangkan faktor-faktor pentingnya: Doa, Otoritas dan kuasa dari Allah, Awareness (kesadaran) diberkati untuk menjadi berkat, Melakukan proses penginjilan dan pemuridan, Pelipatgandaan (multiplikasi - training of trainer), Bermula dari melayani keluarga dan gereja, Komitmen dan konsisten untuk perubahan hidup rohani yang berkesinambungan, dan Menjadi gereja amanat agung. 
Peran Guru Bimbingan Konseling (BK) dalam Membentuk Karakter Siswa Kristen Erna Alinda Hendrika Ottu; Reni Triposa
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.625 KB) | DOI: 10.55097/sabda.v2i1.21

Abstract

A guidance teacher or counselor is a person who is professionally trained, namely a mentor / counselor who has an academic education and has experience in professional skills training. The task of the counseling guidance teacher is a teacher who has full duties and responsibilities, authority and rights in guidance activities for a number of students. Supervising teachers must be able to carry out their duties and be entrusted with implementing the guidance service program, the implementation of activities carried out in accordance with the prepared plans in the fields of personal, social, learning, career, religious life and family life. The problems experienced by counseling guidance teachers today are difficult. to shape the character of students during adolescence, this is due to the influence of the times. Using descriptive qualitative methods, it can be concluded that the role of counseling guidance teachers in shaping the character of Christian students can be studied as counseling teachers can understand and interpret the definition of Counseling Guidance, and can provide the Counseling Guidance program as an effort to build character. Because it is the function of the counseling teacher. So that the counseling guidance teacher can achieve the objectives of counseling guidance and the nature of Christian religious education in providing the basis that there is Character Building for children of students which is carried out through character building through Christian values.  Abstrak:Guru bimbingan atau konselor merupakan seorang yang terlatih secara profesional, yaitu guru pembimbing/konselor yang memiliki pendidikan secara akademik serta memiliki pengalaman latihan-latihan ketrampilan secara profesional. Tugas guru bimbingan konseling merupakan guru yang mempunyai tugas dan tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan terhadap sejumlah peserta didik. Guru pembimbing harus mampu menjalankan tugasnya dan amanah dalam melaksanakan program pelayanan bimbingan, pelaksanaan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah dipersiapkan pada bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar, karier, kehidupan keberagamaan dan kehidupan berkeluarga. Masalahnya yang dialami guru bimbingan konseling saat ini adalah sulit untuk membentuk karakter siswa pada masa remaja, hal ini dikarenakan pengaruh dari perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan metode Pustaka dengan pendekatan kualitatif deskritif dapat disimpulkan bahwa peran Guru bimbingan konseling dalam membentuk karakter siswa Kristen dapat dikaji sebagaimana guru bimbingan konseling dapat mengerti dan memaknai tentang definisi bimbingan konseling, serta dapat memberikan program bimbingan konseling sebagai upaya untuk pembentukan karakter. Sebab hal itu harus diupayakan dalam menjalankan fungsi sebagai guru bimbingan konseling di sekolah. Sehingga guru bimbingan konseling dapat mencapai tujuan pelayanan bimbingan konseling dalam menanamkan nilai-nilai kekristenan.  
Implementasi Pemuridan dalam Efesus 4:11-16 bagi Pertumbuhan Rohani Jemaat di Masa Kini Paulus Kunto Baskoro; Indra Anggiriati
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.338 KB) | DOI: 10.55097/sabda.v2i1.22

Abstract

Discipleship is the message of the Lord Jesus in the great commission to go to make disciples of all nations. Many Christians are just regular spectators and congregants. In fact, many churches are not very serious about the church. So that it does not implement the concepts of discipleship and causes the church to not grow or mature spiritually. The spirituality of the congregation that does not grow has many negative effects on the movement of God's church. It can even be said that a congregation whose spirituality does not grow will hinder God's work from growing tremendously. In fact, discipleship is the most important part of the life of God's church, especially in the spiritual growth of the congregation. In fact, the survey has shown that churches with a strong focus on discipleship will produce the maximum strength of the church. This is the background of an understanding of discipleship which has an impact on the spiritual growth of the congregation. This discussion will be carried out by observing some of the spiritual attitudes of believers who are discipled or who are not. The context for the discussion of discipleship is Ephesians 4: 11-16. As well as observations using the literature study method to sharpen the understanding of discipleship that brings the spiritual growth of the congregation. All of this aims to provide practical steps when discipleship occurs very effectively in a church which is carried out by church leaders, it will produce a strong spiritual life of the congregation and a strong church. A lot of student multiplication was taking place. The name of God is glorified and becomes awesome.  Abstrak:Pemuridan merupakan pesan Tuhan Yesus dalam amanat agung untuk pergi menjadikan semua bangsa murid Yesus. Banyak orang Kristen hanya menjadi penonton dan jemaat biasa. Bahkan banyak gereja yang sangat tidka serius memperhatikan gereja. Sehingga tidak melaksanakan konsep-konsep pemuridan dan menyebabkan jemaat tidak bertumbuh atau dewasa rohani. Rohani jemaat yang tidak bertumbuh menjadikan banyak efek negatif bagi kegerakan gereja Tuhan. Bahkan bisa dikatakan jemaat yang rohaninya tidka bertumbuh akan menghambat pekerjaan Tuhan makin berkembang dengan dahsyat. Padahal pemuridan menjadi bagian terpenting dalam kehidupan gereja Tuhan, terutama dalam pertumbuhan rohani jemaat. Bahkan survey membuktikan gereja-gereja yang fokus pemuridannya kuat akan menghasilkan kekuatan gereja yang maksimal. Hal ini yang melatarbelakangi sebuah pemahaman tentang pemuridan yang berdampak kepada pertumbuhan rohani jemaat. Pembahasan ini akan dilaksanakan dengan metode pengamatan terhadap beberapa sikap hidup rohani orang percaya yang dimuridkan atau yang tidak dimuridkan. Konteks pembahasan pemuridan tertuju kepada Efesus 4:11-16. Serta juga pengamatan menggunakan metode studi literatur pustaka untuk mempertajam pengertian tentang pemuridan yang membawa pertumbuhan rohani jemaat. Semua ini bertujuan untuk memberikan langkah-langkah praktis ketika pemuridan terjadi sangat efektif dalam sebuah gereja yang dilakukan oleh para pemimpin gereja, maka akan menghasilkan kehidupan rohani jemaat yang kuat dan gereja yang kuat. Banyak multiplikasi murid-murid yang terjadi. Nama Tuhan dipermuliakan serta menjadi dahsyat.
Manusia Baru Menurut Kolose 3:10-17 Dan Penerapan Bagi Orang Kristen Yohanis Erastus Babys
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.527 KB) | DOI: 10.55097/sabda.v2i1.23

Abstract

The new man is a life change from a life that was once dominated by sin, now has left that life and begins to have a new life. Basically a new human being is a intelligent creature who has given his life for Jesus Christ, is willing to be led, and understands God's will in human life, so that it is realized through practical life every day, including compassion, generosity, humility, gentleness, patience, forgiveness. , love, peace, speak Christ, and give thanks.Manusia baru merupakan perubahan hidup dari kehidupan yang dulunya dikuasai oleh dosa, sekarang telah meninggalkan kehidupan tersebut dan mulai untuk memiliki kehidupan baru. Pada dasarnya manusia baru adalah makhluk berakal budi  yang telah menyerahkan hidupnya untuk Yesus Kristus, bersedia untuk dipimpin, dan mengerti kehendak Allah dalam hidup manusia, sehingga diwujudkan melalui kehidupan praktis setiap hari, diantaranya yaitu belaskasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, mengampuni, kasih, damai sejahtera, memperkatakan Kristus, dan bersyukur.
Yosua Sebagai Model Hamba Tuhan Dalam Suksesi Kepemimpinan puji swismanto
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.599 KB) | DOI: 10.55097/sabda.v2i1.24

Abstract

Abstract:The purpose of this research is to describe that leadership in an institution continues to be sustainable, and a leader must also be ready to be replaced and prepare a substitute for the continuity of the institution being led. However, the fact is that there are many leaders who are not willing to leave their chairmanship and do not prepare a replacement leader. A leader must realize that the age and age factor cannot be denied and inevitably must be ready to be replaced and appoint a substitute. Two Old Testament Bible characters who can serve as models for God's servants in leadership succession. Joshua's point of departure and model provides the reason that Joshua has had a high attitude and character and integrity as a leader and is ready to accept the leadership relay as a substitute for Moses. So that in this work the author focuses on Joshua, as a substitute for the qualitative description method used. focuses on the object of research on the book of Joshua and supporting literature review. To get good results the researcher used descriptive qualitative methods by examining literature research with the main source of the Book of Joshua and supported by the biblical text which is very close to the discussion by describing Joshua as a model of God's servant in leadership succession. The results found from this research are that Moses and Joshua as God's servants have carried out a succession of leadership for the sake of the people who are led in achieving their goals. Abstrak:Tujuan penelitihan ini untuk mendikripsikan bahwa Kepemimpinan dalam sebuah embaga terus berkelanjutan, dan seorang pemimpin juga harus siap untuk digantikan dan mempersiapkan penganti demi kelangsungan lembaga yang dipimpin. Namun fakta yang terjadi tidak sedikit pemimpin yang tidak rela meninggalkan kursi kepemimpinanya dan tidak mempersiapkan seseorang pemimpin pengganti, Seorang pemimpin harus menyadari akan dirinya bahwa masa dan faktor usia tidak dapat dipungkiri dan mau tidak mau harus siap digantikan dan menunjuk penggati. Dua tokoh Alkitab Perjanjian Lama yang dapat diteladani sebagai model bagi hamba Tuhan dalam suksesi kepemimpinan. Titik tolak dan model  pada diri Yosua memberikan alasan bahwa Yosua telah memilki sikap dan karakter dan intergitas yang tinggi sebagai seorang pemimpin dan siap menerima estafet kepemimpinan sebagai penggati Musa. sehingga dalam karya ini penulis terfokus pada diri Yosua,sebagai pengganti.dengan metode diskripsi kualitatif yang berfokus pada obyek penelitian kitab Yosua dan kajian pustaka yang mendukung. Untuk mendapatkan hasil yang baik peneliti mengunakan metode kualitatif diskriptif dengan meneliti penelitihan literatur dengan sumber utama KitabYosua dan ditunjang dengan teks Alkitab yang erat sekali dengan pembahasan dengan cara mendiskripsikan Yosua sebagai Model hamba Tuhan dalam suksesi kepemimpinan. Hasil yang ditemukan dari peneliti ini Musa dan Yosua sebagai hamba Tuhan telah melaksanakan suksesi kepemimpinan demi umat yang dipimpin dalam mencapai tujuan.      
Tinjauan Teologis Peran Gembala dalam Aktualisasi Misi Berdasarkan 2 Timotius 4:1-2 Gideon Rusli; Yonatan Alex Arifianto
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.155 KB) | DOI: 10.55097/sabda.v2i1.26

Abstract

Peran gembala dalam memberitakan Injil harus menjadi contoh dan teladan bagi jemaatnya. Namun banyak yang tidak menyadari bahwa peran penginjilan adalah bagian terpenting dari pertumbuhan gereja. Menggunakan metode kualitatif deskritif dalam pendekatan studi literatur dan kajian eksegesa maka  tinjauan Teologis peran gembala dalam aktualisasi misi berdasarkan 2 Timotius 4:1-2 harus didasarkan kepada pengertian yang benar akan adanya hakikat misi dan aktualisasinya, dengan mengerti terhadap analisi teks dari eksegese 2 Timotius 4 :1-2, yang mana hal tersebut dapat memberikan konsep dalamkajian teologis bahwa gembala yang pertama, gembala dalam memberitakan Injil harus memberitakan Firman Sebagai bagian dari Penyataan Allah dan tugas kerajaanNya. Kedua gembala mengerti akan esensi berita adalah Firman  Allah. Ketiga maka gembala harus bersiap sedia disegala keadaan dan waktu dan yang terakhir gembala harus bersikap dalam Kebenaran dalam mengahadapi orang yang belum mengenal Yesus. sehingga peran gembala dapat menjadi dampak dan berkat bila tanggung jawab tersebut dikerjakan dengan benar. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7