cover
Contact Name
Widyasari
Contact Email
humaya.fhisip@ecampus.ut.ac.id
Phone
+6285648989213
Journal Mail Official
humaya.fhisip@ecampus.ut.ac.id
Editorial Address
Jalan Cabe Raya, Pondok Cabe, Pamulang, Tanggerang Selatan 15418
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya
Published by Universitas Terbuka
ISSN : 27989518     EISSN : 2798950X     DOI : https://doi.org/10.33830/humaya
HUMAYA: Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat dan Budaya adalah jurnal nasional yang mendukung dosen, peneliti, dan praktisi dalam memublikasikan hasil penelitian berupa artikel ilmiah dalam bidang hukum, humaniora, masyarakat dan budaya. Jurnal ini dapat diakses publik yang diterbitkan dan dikelola oleh Jurusan Ilmu Sosial, Hukum dan Humaniora, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka sejak tahun 2021, baik untuk internal maupun eksternal. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun, setiap bulan Juni dan Desember. Jurnal Humaya menerbitkan artikel hasil penelitian di bidang sosiologi hukum, humaniora, bahasa, sosiologi, masyarakat, dan budaya. Jurnal Humaya melaporkan penelitian empiris tentang topik-topik yang penting bidang sosiologi hukum, humaniora, bahasa, sosiologi, masyarakat, dan budaya menggunakan desain penelitian yang tepat dan hasil yang dijelaskan dengan baik dan utuh. Artikel yang berisi analisis kritis terhadap literatur ilmiah tentang topik bidang sosiologi hukum, humaniora, bahasa, sosiologi, masyarakat, dan budaya juga dapat diterbitkan. Jurnal Humaya juga mencakup resensi buku. Tujuan jurnal ini adalah menerbitkan artikel hasil penelitian berkualitas yang mempunyai potensi memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu di bidang sosiologi hukum, humaniora, bahasa, sosiologi, masyarakat, dan budaya. Naskah harus memenuhi karakteristik sebagi berikut. Mempunyai kerangka teori yang jelas Menunjukkan dengan jelas hubungan dan relevansi antara literatur sebagai sumber referensi dengan topik yang diteliti Mempunyai Desain penelitian yang tepat dan analisis data yang utuh. Membahas secara komprehensif dan kritis data dalam kaitan dengan konteks penelitian Mempunyai kebaruan (Novelty) Jurnal Humaya menerima artikel dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2022): JUNE" : 8 Documents clear
Komodifikasi Wilayah Pasca Perang: Okinawa Sebagai Destinasi Wisata Tropis “Bukan Jepang?” Mukhlis Arifin; Kurniawaty Iskandar
Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya (HUMAYA) Vol. 2 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/humaya_fhisip.v2i1.2361

Abstract

This paper will review the commodification of tourism in Okinawa in the form of dark tourism and how the form of Japanese identity formation in Okinawa is basically "not Japanese." This research aims to understand how irony from tragedy becomes a commodity that can spur the economic pace of society. The concept of dark tourism and commodification will be the analysis knife in dissecting tourism activities in Okinawa. This paper uses literature study method; this paper will collect previous research and process it to understand how the commodification of tragedy can be of economic value. The study found that the tragedy can be valued as comodity by the tourist who looking for the past event as the comodity, but it will remain recorded in their collective memory as an unsolved problem in the affected community. Tulisan ini mengulas tentang komodifikasi pariwisata di Okinawa dalam bentuk "Wisata Gelap" dan bagaimana bentuk pembentukan identitas Jepang di Okinawa pada dasarnya “bukan orang Jepang”. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana ironi dari tragedi menjadi komoditas yang dapat memacu laju ekonomi masyarakat. Konsep dark tourism dan komodifikasi akan menjadi pisau analisis dalam membedah aktivitas pariwisata di Okinawa. Makalah ini menggunakan metode studi kepustakaan. Makalah ini mengumpulkan penelitian sebelumnya dan mengolahnya untuk memahami bagaimana komodifikasi tragedi dapat bernilai ekonomi. Studi ini menemukan bahwa tragedi dapat dinilai sebagai komoditas oleh para wisatawan yang melihat peristiwa masa lalu sebagai komoditas, tetapi akan tetap terekam dalam memori kolektif mereka sebagai masalah yang belum terpecahkan di masyarakat yang terkena dampak.
Tracing The Glory of Sri-Vijayan Empire Art Style in Southeast Asia Andre Syafrony
Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya (HUMAYA) Vol. 2 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/humaya_fhisip.v2i1.2823

Abstract

The link between civilizations influenced by Indian culture in Indonesia and Thailand has been thought-provoking. Many discoveries are mainly found in southern Thailand, which is similar to Javanese 9th-century artwork. This proves that the constituencies in South-East Asia had been in contact with each other in the past. Therefore, this paper aims to explore the concept of cultural influence and link it with the influence of Indian culture in South-East Asia, leading to the cultural conceptualization of the art style during the particular period of the Srivijaya Empire. Hubungan antara peradaban yang dipengaruhi oleh budaya India di Indonesia dan Thailand telah lama menimbulkan kekaguman. Banyak penemuan di Thailand selatan, seperti karya seni Jawa abad ke-9. Ini membuktikan bahwa daerah-daerah kekuasaan di Asia Tenggara telah saling bertukar kebudayaan di masa lalu. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh budaya dan menghubungkannya dengan pengaruh budaya India di Asia Tenggara, yang mengarah pada konseptualisasi budaya gaya seni pada masa Kerajaan Sriwijaya dengan menggunakan analisis sastra dan dokumen
Perubahan Makna pada Terjemahan Lirik lagu "In Control" Setelah Dialihbahasakan Yeremia Guinea Johanis; Ni Putu Meri Dewi Pendit
Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya (HUMAYA) Vol. 2 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/humaya_fhisip.v2i1.2952

Abstract

This study aims to describe the process of translating spiritual songs from English to Indonesian and vice versa. The approach used is an interdisciplinary approach due to not only a linguistic approach, but also music and theology. The problem is the difference in the number of syllables needed to convey the message in a complete sentence with the availability of syllables in the melody. The translation method of Newmark was applied, which focuses on the Target Language. It uses two songs that have been translated by the author and have been sung by the congregation during a worship in the church. The results of the translation through testimonies given by native English and Indonesian speakers, where both parties actively understand both languages, with a background in music knowledge and faith. The results of the study concluded that there would be no translated song that could be one hundred percent accurate in transferring the message of the lyrics and intangible elements in a song, but it could be attempted as close as possible by looking at the parallels of words and meanings, the parallels of song structure, and the parallels of the impact of the song on listeners of target language. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses penerjemahan lagu rohani dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan sebaliknya. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan interdisipliner dikarenakan bukan hanya pendekatan kebahasaan, namun juga musik dan juga teologi. Masalah yang dihadapi adalah perbedaan jumlah suku kata yang dibutuhkan untuk membawakan pesan dalam kalimat secara utuh dengan ketersediaan suku kata dalam melodi. Metode yang digunakan mengacu pada metode penerjemahan menurut Newmark, yang menekankan pada bahasa sasaran. Digunakan dua buah lagu yang telah diterjemahkan sendiri oleh penulis dan telah dinyanyikan oleh jemaat dalam proses peribadatan dalam gereja. Penutur asli bahasa Inggris dan Indonesia yang berlatar belakang musik, ilmu dan keimanan juga memberikan komentar positif terhadap terjemahan lagu-lagu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu-lagu rohani tersebut tidak dapat diterjemahkan secara sempurna ke dalam bahasa sasaran, terutama yang berkaitan dengan pesan-pesan lirik dan unsur-unsur tidak berwujud dari lagu tersebut, namun penerjemah dapat menerjemahkannya sedekat mungkin ke dalam bahasa sasaran dengan melihat kesepadanan kata dan makna, struktur lagu, dan dampak lagu bagi pedengar di bahasa sasaran.
Arbitrators as a Legal Profession in The Alternative Role of Dispute Resolution in Indonesia Muhammad Iqbal Baiquni
Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya (HUMAYA) Vol. 2 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/humaya_fhisip.v2i1.3057

Abstract

The profession of arbitrator in Indonesia is a profession that has bright prospects for the present and the future. Based on Article 1 point 7 of Law No. 30 of 1999 concerning Arbitration and Alternative Dispute Resolution, the arbitrator profession is one or more persons who are chosen by the parties to the dispute or appointed by the District Court or by the arbitration institution, to give a decision regarding a particular dispute. which has been resolved by arbitration. An absolute requirement for an arbitrator is a professional, this is closely related to the ethics of the legal profession in carrying out its duties and authorities. The professional position of the Arbitrator is as a private party who is given rights and obligations, authorities and responsibilities by the state (AAPS Law No. 30 of 1999). In this paper, the author uses the juridical-normative method with a statute approximation approach or a study of legislation. This paper reviews more deeply about the Arbitrator Profession within the scope of the Legal Profession. Profesi Arbiter di Indonesia menjadi profesi yang mempunyai prospek cerah untuk masa sekarang hingga masa mendatang. Berdasarkan Pasal 1 angka 7 UU No.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, profesi arbiter merupakan seorang atau lebih yang lebih yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa atau yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri atau oleh lembaga arbitrase, untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase. Syarat mutlak dimiliki seorang arbiter adalah profesional, hal ini berkaitan erat dalam etika profesi hukum dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Kedudukan profesi Arbiter adalah sebagai pihak swasta yang diberikan hak dan kewajiban, wewenang dan tanggung jawab oleh negara (UU AAPS). Dalam tulisan ini penulis menggunakan metode yuridis-normatif dengan pendekatan statute approch atau studi perundang-undangan. Tulisan ini mengulas lebih dalam tentang Profesi Arbiter dalam ruang lingkup Profesi Hukum.
Studi Kasus Penerjemahan Teks Eksplanasi Menggunakan Metode Penerjemahan Semantis-Komunikatif pada “Routledge Handbook on Sufism” Melinda Awalukita; Afriliani
Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya (HUMAYA) Vol. 2 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/humaya_fhisip.v2i1.3080

Abstract

Explanatory text is a text that explains the process related to natural, social, and cultural phenomena on a certain theme which is equipped with an explanation (Karnedi, 2014). This scientific work is presented as a case study of translating an explanatory text with a religious theme from the source language to the target language using the communicative-semantic translation method supported by a number of annotations related to the translation procedure. The annotation focuses on various spiritual, social, and cultural aspects of the book entitled “Routledge Handbook on Sufism” in the section on Sufism in Modern Morocco by Marta Dominguez Diaz. The purpose and benefit of writing this scientific paper is to provide an explanation of the translation of the beginning of a sociocultural phenomenon in the world of Islamic mystics that can develop in the country of Morocco at the end of the eighteenth century until today. The purpose of writing is to make it easier for readers to understand terms in spiritualist texts, as well as additional insight into the process of translating an explanatory text with a religious theme. Teks eksplanasi adalah teks yang menerangkan proses berkaitan dengan fenomena alam, sosial, dan budaya atas tema tertentu yang dilengkapi dengan sebuah penjelasan (Karnedi, 2014). Karya ilmiah ini disajikan sebagai sebuah studi kasus penerjemahan teks eksplanasi bertema religi dari bahasa sumber ke bahasa sasaran dengan menggunakan metode penerjemahan komunikatif-semantis yang didukung dengan sejumlah anotasi terkait prosedur penerjemahannya. Anotasi menitikberatkan berbagai aspek spiritual, sosial, dan kultural dari buku yang berjudul “Routledge Handbook on Sufism” pada bagian Sufism in Modern Morocco karya Marta Dominguez Diaz. Tujuan dan manfaat dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memberikan penjelasan penerjemahan tentang awal mula sebuah fenomena sosiokultural dalam dunia mistikus Islam dapat berkembang di negara Maroko di akhir abad kedelapanbelas hingga hari ini. Tujuan penulisan untuk memudahkan para pembaca dalam memahami istilah-istilah dalam teks spititualisme, serta sebagai wawasan tambahan mengenai proses penerjemahan suatu teks ekpslanasi bertema religi.
Peran Hukum Pajak dalam Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Membayar Pajak Salsa Voni Larasati
Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya (HUMAYA) Vol. 2 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/humaya_fhisip.v2i1.3177

Abstract

Tax is a very important source of state revenue. Tax law itself is a regulation that regulates taxation and the relationship between the state and taxpayers, the purpose of which is to clarify and reinforce tax procedures. In line with the theory of legal compliance, legal order is strongly influenced by the level of public awareness. Therefore, this article will discuss the role of tax law and public awareness in increasing tax compliance to realize prosperity. Using a descriptive method, the study was conducted with a conceptual approach by looking at the provisions of the Act and other legal sciences. The search and analysis were conducted based on the study of legal literature. The firmness and fairness of the tax law with public awareness play an important role in increasing taxpayer compliance and tax revenue that will be used for development to realize public welfare. Pajak merupakan sumber pendapatan negara yang sangat penting. Hukum pajak sendiri adalah peraturan yang mengatur tentang perpajakan dan hubungan negara dengan orang atau badan wajib pajak, tujuannya memperjelas dan mempertegas prosedural pajak. Sejalan dengan teori kepatuhan hukum, ketertiban hukum sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadaran masyarakatnya. Oleh sebab itu, artikel ini akan membahas tentang peranan hukum pajak dan kesadaran masyarakat dalam meningkatkan kepatuhan pajak sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan. Menggunakan metode deskriptif, pengkajian dilakukan dengan pendekatan konseptual melihat ketentuan UU dan ilmu hukum lainnya. Penelusuran dan analisis dilakukan berdasarkan studi dokumen kepustakaan dan literatur hukum. Ketegasan dan keadilan hukum pajak yang dibersamai dengan kesadaran masyarakat berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak dan jumlah penerimaan pajak yang akan digunakan untuk pembangunan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Memperdagangkan Alibi dalam Perkara Keterlibatan Korupsi Menggunakan Teori Anomie dari Emile Durkheim Amelia Indahni; Ramadhani Cassanti; Ranti Miranda uliarta Manalu
Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya (HUMAYA) Vol. 2 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/humaya_fhisip.v2i1.3201

Abstract

The previous research has emphasized that belief systems justification can weaken perceptions of corruption, thereby possibly encouraging unfair behavior. The results of previous replicated studies show that system justification is generally negatively related to perceptions of corruption. However, they also show a negative correlation with corrupt intentions. This journal discusses the relationship between corruption and the Anomie theory which was initiated by Emile Durkheim. The results of the study prove that there are still many people who justify any means to get what they want. Many power holders commit criminal acts of corruption to enrich themselves. In fact, according to the Anomie theory, which was coined by Emile Durkheim, all these methods must be done in the right way and do not harm others, such as saving from monthly wages every month. But in fact, many people take shortcuts to achieve their goals which will certainly harm them in the future. The same thing was done by one of the employees of the Directorate General of Taxes at the Ministry of Finance, Gayus Tambunan. He was in the spotlight of the Indonesian state because the amount of balance in his account was fantastic and hard to believe. It turned out that the money he earned was not from honest results. Instead, it comes from corruption which is an illegal act or is not justified by the state. What the state can do is to take precautions. Prevention can be done by the state by communicating values ​​and moral concepts that apply equally to all members of society. If society or the state establishes clear and unequivocal standards, individuals recognize them and abandon certain desires that they had previously planned. It can be said that, according to Durkheim, it is the communication of clear and firm social norms on the one hand and the stability of economic and social factors in society on the other that can prevent the spread of crime, especially corruption. Penelitian sebelumnya telah menekankan bahwa pembenaran sistem kepercayaan dapat melemahkan persepsi korupsi sehingga mungkin mendorong perilaku yang tidak adil. Hasil studi replika sebelumnya menunjukkan sistem justifikasi umumnya berhubungan negatif dengan persepsi korupsi. Namun, mereka juga menunjukkan korelasi negatif dengan niat korupsi. Jurnal ini membahas hubungan antara korupsi dengan teori Anomie yang digagas oleh Emile Durkheim. Hasil penelitian membuktikan banyak pemegang kekuasaan melakukan tindak pidana korupsi untuk memperkaya diri. Padahal, menurut teori Anomie yang dicetuskan oleh Emile Durkheim, semua cara tersebut harus dilakukan dengan cara yang benar dan tidak merugikan orang lain. Kenyataannya, banyak orang yang mengambil jalan pintas untuk mencapai tujuannya yang tentunya merugikan mereka di kemudian hari. Hal senada juga dilakukan salah satu pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Gayus Tambunan. Ia menjadi sorotan negara Indonesia karena jumlah saldo di rekeningnya yang fantastis dan sulit dipercaya yang ternyata merupakan hasil korupsi. Yang bisa dilakukan negara adalah melakukan tindakan pencegahan. Pencegahan dapat dilakukan oleh negara dengan mengkomunikasikan nilai dan konsep moral yang berlaku sama kepada seluruh anggota masyarakat. Dapat dikatakan bahwa, menurut Durkheim, komunikasi norma-norma sosial yang jelas dan tegas di satu sisi dan stabilitas faktor-faktor ekonomi dan sosial dalam masyarakat di sisi lain dapat mencegah penyebaran kejahatan, khususnya korupsi.
Penggunaan Sapaan Pedagang Makanan di Lingkungan Kampus Hilma Erfiani Baroroh
Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya (HUMAYA) Vol. 2 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/humaya_fhisip.v2i1.3425

Abstract

This research is a sociolinguistic study conducted in a simple scope of a campus setting. It aims at understanding the pronominal address system that is used in business conversational settings between sellers-buyers and canteen owners and their employees, as well as the responses from the speakers i.e. both the buyers and canteen employees. The theory used to achieve the goal is Brown and Gilman’s theory of pronominal address forms (1972). The analysis on the seven ways used by sellers in addressing (1) students; (2) security officers; (3) sellers from their own/same hometown; (4) sellers from different hometowns; (5) parking attendants; (6) photocopy employees; and (7) cleaning service employees, revealed that ‘addressing by name only’ was used to address younger people that the sellers had known already, as well as for addressing people whom they considered close, while the words “Mas” (brother), “Mbak” (sister), Ibu (madam), and Bapak (mister) were used for addressing older people as honorific titles that are deemed more respectful. The findings confirmed one of the Indonesians’ typical “Eastern” values, which is the use of specific pronominal address words in day-to-day lives. Penelitian ini merupakan penelitian dalam bidang sosiolinguistik, yang dilakukan di ruang lingkup yang sederhana yaitu di lingkungan kampus. Penelitian ini berusaha mengungkapkan sistem sapaan yang digunakan pada tuturan seputar kegiatan perdagangan, antara penjual-pembeli maupun antara pemilik kantin dengan pegawainya dan respon yang diberikan oleh petutur, baik itu pembeli maupun pegawai kantin. Teori yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah teori tutur sapa Brown dan Gilman (1972). Dari tujuh analisis penggunaan sapaan pedangang kepada (1) mahasiswa; (2) satpam; (3) sesame pedagang sedaerah; (4) sesama pedagan lain daerah; (5) petugas parkir; (6) petugas fotokopi; dan (petugas cleaning service), ditemukan panggilan “nama” sapaan bagi yang lebih muda karena sudah mengenal dan sebagai sapaan langsung secara akrab, dan panggilan “Mas”, “Mba”, “Ibu”, dan “Bapak” bagi yang lebih tua karena untuk lebih menghormati. Hal ini sejalan dengan ciri khas budaya ketimuran orang Indonesia dan kata sapaan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Page 1 of 1 | Total Record : 8