cover
Contact Name
Oki Sumiyanto
Contact Email
oq.sumiyanto@gmail.com
Phone
+6221-84975425
Journal Mail Official
jurnalbegawanabiosomhunkris@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Hukum Universitas Krisnadwipayana Gedung Blok F, Lantai 2 Jalan Kampus UNKRIS, Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, 17411
Location
Kota bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
BEGAWAN ABIOSO
ISSN : 18582990     EISSN : 28100727     DOI : https://doi.org/10.37893/abioso
Core Subject : Social,
Journal of Begawan Abioso by Master of Law Universitas Krisnadwipayana. Our academic journal contains several studies and reviews from selected disciplines in several branches of legal studies. Begawan Abioso journal covers legal disciplines, including criminal law, civil law or business law, agrarian law, and constitutional law. In addition, the journal also contains several legal studies in a broader sense. This journal is published regularly twice every year, namely in June and December. Articles that have been approved and are ready to be published will be published regularly on the website which can be downloaded for free and a printed version will be circulated at the end of each period.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 35 Documents
PEMBUKTIAN UNSUR KESALAHAN SEBAGAI SYARAT PEMIDANAAN Siswantari Pratiwi
Begawan Abioso Vol 4 No 1 (2015): Begawan Abioso
Publisher : Magister Ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2707.707 KB)

Abstract

To proof, someone’s fault in any criminal deed is a very cumbersome process. The first issue in the case of proofing is the related circumstances to the issue. The second one is the cooperation of the accused himself or themselves. As can be seen in the cases described herein, the court may encounter easy proofing, namely in cases of clear and easy to trace relationships. Or the court may be swayed in considering the proofs as given by the Public Prosecutor. In such a complicated case, the judge may consider the case contrary to the Public Prosecutor. To remedy such differences in a legal opinion, the higher court, including the Supreme Court has the last word of the decision. Keywords: burden of proof, easy case, hard case.
PERLINDUNGAN HUKUM HAK-HAK PELAKU (PERFORMING RIGHT) ARTIS INDONESIA MENURUT UNDANG-UNDANG HAK CIPTA Claresta Gianina
Begawan Abioso Vol 4 No 1 (2015): Begawan Abioso
Publisher : Magister Ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2419.677 KB)

Abstract

This article highlights the legal protection of the performing rights in Indonesia. Despite the clarity of formulation of Law Number 19 of 2002 regarding copyright, its implementation was still far from effective. The main cause was the legal will of those related to such law implementation was still insufficient. The same applies to the perception of that performance. Keywords: related right, copyright, performer, protection.
PEMBATALAN KONTRAK PERJANJIAN JUAL BELI SEBAGAI AKIBAT WANPRESTASI Dwi Ariyanti Ramadhani
Begawan Abioso Vol 4 No 1 (2015): Begawan Abioso
Publisher : Magister Ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2712.331 KB)

Abstract

The terms of a contract as outlined in an agreement is in itself a law, that is binding upon the parties to the said contract. Any breach thereof can be sued based on the provisions of the commercial law whether concerning the nullification of the said contract and the repayment of any material loss suffered by the creditor. Usually, the breach of any contractual agreement by the debtor resulted in material or tangibles loss as well as intangible loss to the creditor. The longer the resolution period as required to solve such breach of contract thought the court, the more will be the loss suffered by the creditor. Keywords: contract, breach of contract, material and immaterial loss.
STATUS KEWARGANEGARAAN ANAK HASIL PERKAWINAN CAMPURAN DI INDONESIA Topan Sopuan
Begawan Abioso Vol 4 No 1 (2015): Begawan Abioso
Publisher : Magister Ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2718.696 KB)

Abstract

Marriage between men and women with different citizenships has become unavoidable. Such type of marriage brought along problems about the children regarding their proper citizenship. Considering such a complex issue the government of Indonesia stipulated that such children may gain limited twin citizenships status. This is in line with the protection of the child’s basic rights. Keywords: child’s basic rights, citizenship, mixed marriage.
ANALISIS TERHADAP TANAH-TANAH HAK USAHA YANG DIKUASAI OLEH MASYARAKAT Maria Lince
Begawan Abioso Vol 4 No 1 (2015): Begawan Abioso
Publisher : Magister Ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2785.083 KB)

Abstract

Law number 5 of 1960 on basic stipulations of agrarian issues has set forth provisions concerning land ownership and land cultivation in Indonesia. The law laid down the legal provisions to solve the agrarian issues post the proclamation of Indonesian independence and the establishment of the Republic of Indonesia. In practice, however, the government and the court still encountered a lot of problems relating to the possession and cultivation of land. As described herein, the Indonesian land policy as outlined in regulations has not properly applied yet, resulting in an actual loss for the land tenants. Keywords: land policy, court ruling, improper decision.
Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan dan Alih Fungsi Menjadi Perkebunan Donal Alfari Pakpahan
Begawan Abioso Vol 12 No 1 (2021): Begawan Abioso
Publisher : Magister Ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4569.793 KB) | DOI: 10.37893/abioso.v12i1.586

Abstract

Penyelesaian sengketa tanah kawasan hutan dan alih fungsi menjadi perkebunan dihubungkan dengan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 51 Prp. Tahun 1960 merupakan kajian yang berdasarkan pada landasan hukum atas penguasaan dan penggunaan tanah secara melawan hukum yang terjadi di Desa Segati, Kecamatan Langgam antara perusahaan swasta nasional melawan masyarakat adat dan masyarakat petani pendatang khusus datang untuk berkebun dan tinggal di sekitar kawasan hutan yang telah beralih fungsi. Penelitian menggunakan hukum yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan. Pembahasan penelitian ini adalah bahwa perampasan lahan perkebunan milik masyarakat dikategorikan ke dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 51 Prp. Tahun 1960 tidak dinyatakan secara tersurat akan tetapi diatur secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kehutanan dan undang-undang tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan serta illegal logging yang mengakibatkan berlakunya asas lex specialis derogate legi generalis atau peraturan khusus menyampingkan peraturan yang umum di areal konsesi PT. Nusa Wana Raya di Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan tidak ada ditemukan warga masyarakat transmigrasi. Hasil penelitian ini dapat memperlihatkan bahwa aspek secara legalitas yang digunakan untuk penguasaan kawasan hutan oleh pihak perusahaan multi nasional adalah Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Tanaman Industri Pola Transmigrasi (sementara) PT. Nusa Wana Raya. Kata Kunci: Agraria; Alih Fungsi Hutan; Sengketa Tanah.
Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Korupsi Dana Corporate Social Responsibility (CSR) Henry Manurung
Begawan Abioso Vol 12 No 1 (2021): Begawan Abioso
Publisher : Magister Ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5735.007 KB) | DOI: 10.37893/abioso.v12i1.593

Abstract

Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai cakupan dari tugas public relations dalam suatu perusahaan mengeluarkan dana anggaran yang tidak kecil. Lalu bagaimana peraturan yang mengatur mengenai CSR perusahaan BUMN yang seringkali penggunaannya kurang transparan dan tidak terlihat manfaatnya bagi masyarakat. Permasalahan yang muncul mengangkat apakah pertanggungjawaban terhadap penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) BUMN telah diatur dalam undang-undang dan mengapa penyalahgunaan penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) BUMN dalam putusan Pengadilan Negeri Palembang Nomor 30/Pid.Sus-TPK/2014/PN.Plg dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi. Metode penelitian yang digunakan dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan analisis putusan pengadilan. Penelitian ini mendapatkan fakta bahwa terhadap penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) BUMN belum diatur dalam peraturan khusus yang mendefinisikan secara tegas mengenai status hukum dana yang digunakan dalam CSR BUMN, namun BUMN yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan, atas dasar modal yang digunakan oleh BUMN adalah uang negara, maka apabila terjadi penyelewengan oleh pengelolaannya yang mengakibatkan kerugian negara, maka pelaku penyelewengan dana tersebut dapat dikenakan pertanggungjawaban Pidana sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kata Kunci: BUMN; CSR; Korupsi.
Permohonan Hak Atas Tanah di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi yang Berada di Kawasan Hutan Produksi Mindasari Mindasari
Begawan Abioso Vol 12 No 1 (2021): Begawan Abioso
Publisher : Magister Ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5907.206 KB) | DOI: 10.37893/abioso.v12i1.600

Abstract

Penyelesaian permohonan hak atas tanah yang berada di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi yang berada di kawasan hutan produksi, beserta hambatan dan solusinya serta hubungannya dikaitkan dengan perencanaan tata ruang. Merupakan kajian yang berdasarkan landasan hukum pengaturan penguasaan tanah, penataan ruang, dan dua program landreform yang dihubungkan dengan telah lahirnya Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Penguasaan Dalam Kawasan Hutan. Pokok permasalahan bagaimanakah pelaksanaan permohonan hak atas tanah, bagaimanakah hubungan RT/RW Kabupaten Bekasi terkait permohonan hak atas tanah dan bagaimana hambatan dan solusi dalam permohonan hak atas tanah di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi yang berada di kawasan hutan produksi. Metode penelitian hukum yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan menggunakan norma-norma hukum secara tertulis serta didukung dengan hasil wawancara dengan narasumber dan informan. Dalam penelitian ini bahwa minat masyarakat di Kecamatan Muara Gembong untuk mendapatkan sertifikat Hak Atas Tanah yang berada di kawasan hutan begitu tinggi, namun beberapa hambatan muncul dalam penyelesaiannya, yang terdiri atas hambatan yuridis, fisik, dan sosial ekonomi, serta SDM dan kelembagaan. Penyelesaian permasalahan permohonan hak atas tanah yang berada dalam kawasan hutan harus memperkuat paduserasi dan koordinasi serta dukungan semua stakeholder secara nyata, di samping harus ada petunjuk teknis lebih lanjut dan juga didukung dengan kebijakan satu peta atau one map policy. Kata Kunci: Hutan Produksi; Kawasan Hutan; Penguasaan Tanah; Permohonan Hak.
Sengketa Kepemilikan Hak Atas Rahasia Dagang Dalam Persaingan Bisnis Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang Adhyo Baskoro
Begawan Abioso Vol 12 No 1 (2021): Begawan Abioso
Publisher : Magister Ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4670.832 KB) | DOI: 10.37893/abioso.v12i1.604

Abstract

Salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam persaingan bisnis baik di bidang industri perdagangan maupun jasa adalah bagaimana menciptakan suatu penemuan atau metode baru yang hasilnya jika diperdagangkan akan menghasilkan keuntungan bagi yang membuatnya. Inilah yang dalam kalimat secara eksplisit biasa disebut dengan rahasia dagang (trade secret). Rahasia dagang menjadi salah satu aspek yang cukup penting dalam persaingan bisnis sekarang ini, Oleh karena itu, pada tahun 2000 pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Rahasia Dagang yaitu Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang. Seorang pegawai atau pekerja dapat menimbulkan suatu pelanggaran rahasia dagang dengan cara memberikan maupun membocorkan hal yang bersifat rahasia dan mempunyai nilai ekonomi baik berupa informasi, data, maupun metode lainnya yang dapat menghasilkan keuntungan baik yang akan digunakan sendiri atau dijual ke perusahaan dan tempat lainnya. Permasalahan dalam penelitian ini ialah bagaimana perlindungan hukum yang diberikan oleh pemerintah melalui Undang-Undang Rahasia Dagang kepada pemilik hak atas rahasia dagang di Indonesia dan cara penyelesaian sengketa terhadap rahasia dagang yang terjadi di Indonesia. Kata Kunci: Hak Kekayaan Intelektual; Persaingan Bisnis; Rahasia Dagang.
Kebijakan Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Desersi In Absensia di Lingkungan Pengadilan Militer II-08 Jakarta Kuswara Kuswara
Begawan Abioso Vol 12 No 1 (2021): Begawan Abioso
Publisher : Magister Ilmu Hukum Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3515.751 KB) | DOI: 10.37893/abioso.v12i1.605

Abstract

Penulisan ini adalah perihal penyelesaian perkara desersi in absensia yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer tindak sesuai dengan asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan. Sangat menarik untuk dilakukan analisis mengenai pengaturan penyelesaian tindak pidana desersi in absensia yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. Muncul adalah bagaimanakah penyelesaian perkara desersi in absensia sesuai dengan asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan dalam putusan Pengadilan Militer II-08 Jakarta No. 106-K/PM II-08/AL/IV/2016, bagaimanakah upaya mempercepat penyelesaian perkara desersi in absensia. Pembahasan dalam tulisan ini adalah bahwa penyelesaian tindak pidana desersi diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer yaitu enam bulan setelah berkas perkara dilimpahkan ke pengadilan militer dan sudah dipanggil tiga kali secara berturut-turut yang mengakibatkan tunggakkan perkara di pengadilan militer, sehingga dibuatnya suatu kebijakan dalam penyelesaian perkara desersi in absensia yaitu tiga bulan setelah berkas perkara dilimpahkan ke pengadilan militer dan sudah dipanggil tiga kali secara berturut-turut. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian hukum yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan. Kata Kunci: Desersi In Absensia; Peradilan Militer; Tentara Nasional Indonesia.

Page 1 of 4 | Total Record : 35