cover
Contact Name
Rifky Serva Tuju
Contact Email
servatuyu00@gmail.com
Phone
+6282216985878
Journal Mail Official
sttetmpb@gmail.com
Editorial Address
STT Erikson-Tritt Jalan Trikora Sowi 3 Manokwari, Papua Barat
Location
Kab. manokwari,
Papua barat
INDONESIA
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 27453766     DOI : https://doi.org/10.53827/lz
LOGON ZOES merupakan wadah publikasi hasil penelitian di bidang teologi, sosial dan budaya bagi pengembangan kekristenan di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Erikson Trit, Manokwari dan institusi lain yang ingin berkontribusi dengan bidang kajian yang serupa. LOGON ZOES diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tirtt Manokwari dengan Focus dan Scope pada bidang: Teologi Biblikal, Teologi Sistematika, Teologi Praktikal, Teologi dan Sosial, Budaya dan Kearifan Lokal.
Articles 36 Documents
Dampak Dikeluarkannya Edik Milano 313 bagi Kebebasan Gereja Damanik, Jon Mister R.
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 4, No 1: Pebruari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.9 KB) | DOI: 10.53827/lz.v4i1.23

Abstract

Church history is not an outdated or outdated writing, but church history has an important role to play. Because in the history of the church there are important parts that can be used as a teaching for the church today. Chrestus is a term for followers of Christ, and Christians are used as an outlet for pleasure when they are persecuted, pitted against hungry animals, used as torches to light the garden, nearly 250 years of persecuted Christians have not been given freedom by the state even if there is a problem -problems like a fire whose cause is Christians because they do not worship their gods so that the gods are angry. The Edik Milan is a decree issued in 313 which greatly influenced the church's freedom to carry out religious activities. The meaning of Edik is: "an order carried out by the ruler." Milan is "the Roman state where Roman rule ruled." With the issuance of this Edict of Milan by Konstantin the Great, the ruler of the Roman empire gave a glimmer of hope in freedom of worship. Events that have occurred in the church in the past are a motivation for the church to keep carrying out the command of the Lord Jesus, namely to make all nations become His disciples. The church exists today because there was a church in the past, hope to continue learning about history because from history there will be a lot to know about what happened in the past as a positive lesson in the present.AbstrakSejarah Gereja bukan suatu tulisan yang tidak berlaku atau yang sudah usang, tetapi sejarah gereja memiliki peranan penting untuk dipelajari. Karena dalam sejarah gereja terdapat bagian-bagian yang penting untuk dapat dijadikan sebagai suatu pengajaran bagi gereja masa kini. Chrestus adalah suatu sebutan untuk pengikut Kristus, dan orang-orang Kristen dijadikan sebagai pelampiasan kesenangan pada saat mereka dianiaya, diadu dengan binatang lapar, dijadikan obor sebagai penerang taman, hampir 250 tahun orang-orang Kristen dianiaya tidak diberikan kebebasan oleh negara bahkan jika ada masalah-masalah seperti kebakaran yang penyebabnya itu adalah orang Kristen karena mereka tidak menyembah dewa mereka sehingga dewa murka. Edik Milan adalah suatu Surat Keputusan yang dikeluarkan pada tahun 313 yang sangat berpengaruh bagi kebebasan gereja untuk melaksanakan kegiatan ibadah-ibadah. Arti Edik adalah: ”perintah yang dilakukan oleh penguasa.” Milan adalah ”negara Roma tempat pemerintahan Romawi berkuasa.” Dengan dikeluarkan Edik Milan ini oleh Konstantinu Agung penguasa kekaisaran Romawi memberikan secercah harapan dalam kebebasan dalam melaksanakan ibadah. Peristiwa yang pernah terjadi pada gereja pada masa dulu adalah suatu motivasi bagi gereja untuk tetap menjalankan perintah Tuhan Yesus yaitu untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid-Nya. Gereja ada pada hari ini karena ada gereja pada masa lalu, harapan teruslah belajar tentang sejarah karena dari sejarah akan banyak diketahui apa yang terjadi pada masa lalu sebagai suatu pembelajaran yang positif pada masa kini.
INTEGRASI THEOLOGIA SISTEMATIKA SECARA HOLISTIK Manggaprou, Pilipus
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 3, No 1 (2020): Agustus 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.593 KB) | DOI: 10.53827/lz.v3i1.16

Abstract

Secara praktis, bertolak dari arti “yadah” (PL) dan “ginosko” (PB), maka theologia adalah pengalaman: 1). “Mengenal Allah” melalui membaca dan merenungkan Alkitab; 2). “Bersekutu dengan Allah” secara intim (akrab) melalui komunikasi secara terbuka dan interaktif; 3). “Menjadi serupa dengan (character) Allah di dalam Tuhan Yesus” dalam segala hal; dan 4). “Melakukan kehendak Allah” dengan penuh ketaatan dan kesetiaan sebagai wujud pendeklarasian kemuliaan Allah. Secara harafiah, theologia adalah istilah Yunani qeologia (Theo dan logia) yang diartikan sebagai ilmu yang mempelajari perkataan-perkataan Allah. Perkataan-perkataan Allah itu diinspirasikan kepada para penulis dan diinskripturasikan ke dalam buku segala buku, yaitu Alkitab. Jadi obyek atau sumber theologia adalah Alkitab. Kalau Roh Kudus yang menginspirasikan para penulis mengenai perkataan-perkataan Allah itu maka dipastikan bahwa apa yang disampaikan tidak mungkin salah, maka hanya Roh Kudus pula yang mengiluminasi para pembaca untuk mengerti perkataan-perkataan itu, bahkan hanya Roh Kudus yang mengaktifkan dan mengefektifkan para pembaca melakukan dan memberitakannya. Suatu studi yang mempelajari hakikat theologia sistematika yang komprehensif dan integratif, yang dilatar-belakangi dan dilatar-depani oleh perubahan paradigma pemikiran theologia disepanjang sejarahnya dan dipengaruhi oleh perubahan era (dunia) modern kepada postmodern yang menuntut upaya untuk membangun pemikiran dan penerapan theologia Kristen dengan semua bidang dalam rumpun studi theologia maupun dengan semua bidang disiplin ilmu non-theologia secara integratif. heologia adalah usaha manusia untuk mempelajari Alkitab dengan baik dan benar dengan tujuan agar manusia dapat mengenal Allah dan mengalami kebaikan serta kemurahan-Nya dan hidup sesuai dengan kehendak Allah dan hubungannya dengan sesama manusia serta semua ciptaan-Nya agar dapat menghasilkan perubahan pandangan hidup menuju kedewasaan sehingga mampu bertanggung jawab atas panggilan-Nya dalam melayani dengan tujuan untuk hormat dan kemuliaan-Nya saja.
TINJAUAN TERHADAP PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN ANAK BERDASARKAN ULANGAN 6:1-19 Utami, Ninik Tri
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 1, No 1 (2017): Agustus 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.32 KB) | DOI: 10.53827/lz.v1i1.7

Abstract

Pengakuan akan keesaan Allah adalah keharusan bagi umat Allah. Ini adalah pengakuan iman yang amat besar. Pengakuan akan keesaan Allah diwujudnyatakan dalam ketaatan. Sebagai dasar dari hidup dalam ketaatan adalah kesediaan mendengarkan firman dan melakukannya. Pengakuan akan keesaan Allah adalah keharusan bagi umat Allah pada waktu itu. Hal ini diajarkan pada waktu umat itu masih anak-anak. Keharusan bagi anak-anak untuk menghafalkan dan setelah itu memahami. Kewajiban bagi setiap umat Alah untuk mengucapkan pengakuan itu. Sejak masih kecil umat Allah sudah harus wajib mempelajarinya dan kehidupan seperti mendatangkan berkat-berkat Allah dalam kehidupan selanjutnya. Prinsip mengasihi Allah adalah prinsip utama yang ditekankan dalam kehidupan umat Allah. Menekankan sikap hati yang mengasihi Allah sepenuh-penuhnya, tidak mengasihi yang lain, termasuk akal budi, menyimpan perkataan Allah di dalam hati, pikiran mereka harus dipenuhi dengan hukum  dan ketetapan Tuhan sehingga segala percakapan dan kegiatan mereka harus dikuasai oleh firman itu.Allah adalah prioritas bagi umat Allah sebagai pusat penyembahan dan sumber kehidupan.  
Peranan Konseling Pastoral dalam Gereja bagi Pemulihan Kesehatan Rohani Jemaat Santoso, Samuel Irwan
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 4, No 2: Agustus 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.156 KB) | DOI: 10.53827/lz.v4i2.47

Abstract

This study specifically outlines the role of pastoral counseling in the church for the restoration of the spiritual health of the church. This paper uses qualitative methods with a literature study approach. The description in this article describes that the interpersonal relationships between counselors and their consensual. Counseling comes from the Latin "Concilium" which means with or with and taking or holding. Pastoral counseling serves to heal the whole human being therefore pastoral counseling helps the "wounded", to survive and go through a state in which they recovered to their original condition. In applying pastoral counseling to the congregation a counselor must understand how he or she should deal with the consequences. This is so that the counselor does not rush to blame or confront a person sharply and directly in the early stages of counseling. A good Christian pastor or counselor should put his or her function first rather than his office, for without real realization of the duty of responsibility one cannot be said to be a good shepherd or counselor. AbstrakKajian ini secara spesifik menguraikan mengenai peran konseling pastoral dalam gereja bagi pemulihan kesehatan rohani jemaat. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Uraian pada artikel ini menjelaskan bahwa hubungan timbal balik (interpersonal relationship) antara konselor dengan konselenya.  Konseling berasal dari bahasa Latin “Consillium” yang berarti dengan atau bersama dan mengambil atau memegang. Pastoral konseling berfungsi untuk menyembuhkan manusia seutuhnya karena fungsi konseling pastoral untuk menolong orang yang “terluka”, agar bertahan dan melewati suatu keadaan yang di dalamnya pemulihan kepada kondisi semula. Di dalam menerapkan konseling pastoral kepada jemaat seorang konselor harus memahami bagaimana seharusnya ia menghadapi konselinya. Ini bertujuan agar konselor tidak terburu-buru mempersalahkan atau mengkonfrontasi dengan tajam seseorang pada tahap permulaan konseling. Seorang gembala atau konselor Kristen yang baik harusnya lebih mengutamakan fungsinya daripada jabatannya, karena tanpa realisasi nyata dari tugas tanggung jawab yang diembannya seseorang tidak dapat dikatakan sebagai gembala atau konselor yang baik.  
AKTUALISASI KARAKTER ALLAH DALAM MENYELAMATKAT MANUSIA Rumaikewi, Daniel
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 3, No 1 (2020): Agustus 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.481 KB) | DOI: 10.53827/lz.v3i1.21

Abstract

Keselamatan adalah harapan dan dambaan setiap umat manusia dan merupakan topik yang menarik dan paling mendasar dari iman Kristen karena kesematan meliputi dua aspek penting yang berhubungan dengan kehidupan, yaitu keselamatan hidup dimasa kini dan masa yang akan datang (kehidupan kekal). Namun apabila diperhadapkan pada pertanyaan tentang kepastian keselamatan, maka seringkali ada respon keraguan yang terlihat dan terdengar sebagai jawaban. Respon keraguan itu terafiliasi dengan konsep yang berpandangan bahwa keselamatan hidup manusia dapat hilang apabila dia melakukan dosa. Allah didalam kekekalan telah merencanakan dan berkaya dalam menyelamatkan manusia. Kualitas dari karya Allah Tritunggal didasari oleh hati-Nya yang penuh belas kasihan.
PENINGKATAN KUALITAS IMPLEMENTASI KURIKULUM PAK SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN MORALITAS BAGI PELAJAR Baransano, Ribka
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 2, No 1 (2018): Agustus 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.987 KB) | DOI: 10.53827/lz.v2i1.12

Abstract

Pada zaman modernisasi ini maka terlihat banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia, oleh karena itu pendidikan agama sangatlah penting untuk diajarkan di sekolah dengan tujuan untuk menolong moralitas para siswa yang semakin lama semakin jauh dari kebenaran Allah. Untuk itu pendidikan harus diletakkan pada empat pilar yaitu belajar mengetahui (Learning to know), belajar melakukan (Learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (Learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (Learning to be), dan hal ini harus dikembangkan dalam pembangunan manusia pada masa kini dan masa yang akan dating. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam pengembangan kompetensi adalah Kurikulum sebagai alat pendidikan. Dalam hal ini kurikulum diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan dengan mempersiapkan peserta didik, melalui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi erhadap sistem pendidikan secara efektif, efisien, dan berhasil guna. 
POLA KADERISASI DALAM KEPEMIMPINAN MUSA TERHADAP KEPEMIMPINAN KRISTEN MASA KINI Salabai, Bastian
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 1, No 1 (2017): Agustus 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.136 KB) | DOI: 10.53827/lz.v1i1.3

Abstract

Setiap orang ingin jadi pemimpin, dan setiap pemimpin yang baik harus bisa menyiapkan para pemimpin yang baru dengan cara mengkaderkan orang-orang yang dapat dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan. Sebab pemimpin tidak bersifat kekal, karena itu diperlukan para kader-kader terbaik untuk dipersiapkan dengan baik untuk menjadi pemimpin di kemudian hari. Seorang pemimpin juga harus mempunyai visi dan misi yang jelas dengan tujuan agar sebagai pemimpin dapat mencapai suatu tujuan yang jelas dalam masa kepemimpinannya. Dalam Perjanjian Lama Musa telah mempersiapkan Yosua sebagai pemimpin masa depan yang kelak akan menggantikan Musa bilamana Musa tidak lagi menjadi pemimpin. Demikian juga dalam Perjanjian Baru Yesus Kristus telah mempersiapkan murid-murid-Nya sebagai pemimpin masa depan yang siap menggantikan Yesus Kristus bilamana Yesus Kristus tidak lagi menjadi pemimpin dan bersama-sama dengan murid-murid Yesus lagi.  
Gomer sebagai Gambaran Orang Israel dalam Kitab Hosea 1:2-9 Lumban Gaol, Luhut P
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 4, No 1: Pebruari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.316 KB) | DOI: 10.53827/lz.v4i1.24

Abstract

The wickedness of the Israelites has always been an inseparable spotlight from the Old Testament, and this can be described as a cycle of circles that keep turning. But the struggle in describing the wickedness of the Israelites is with the marriage in Hosea, where this marriage is unusual and violates the customary norms of the Israelites. Traditionally and religiously this is clearly not allowed, because Hosea was a figure who had an important role in the spiritual life of the Israelites at that time. This book stands in stark contrast to the rest of the OT books, where Hosea's marriage is a matter of debate for interpreters. There are several interpreters who explain that this is only an allegory and also exists as a fact. It is hard to accept to see this as real action, but it is also difficult to get rid of this fact if you look at and explain the book. In fact, this debate is still ongoing today, with various views and assumptions against which to measure the justification of this view. But what needs to be understood is how we look at it from a different perspective, namely the context of the situation at that time in relation to the way God described the depravity of the Israelites, and also the basis of God's anger against His people. It may be contrary to our understanding of God's personality, but also we should not speculate about the verses in the book. In this discussion, we will try to explain through a textual approach (exposition) to see the picture of Hosea and Gomer 's marriage.AbstrakKejahahatan bangsa Israel selalu menjadi sorotan yang tidak pernah terlepas dari kitab Perjanjian Lama, dan ini dapat digambarkan sebagai siklus lingkaran yang terus berputar. Tetapi yang menjadi pergumulan dalam menggambarkan tentang kejahatan bangsa Israel adalah dengan pernikahan yang ada dalam kitab Hosea, dimana pernikahan ini yang tidak lazim dan melanggar norma kebiasaan bangsa Israel. Secara tradisi dan agama jelas hal ini tidak diperbolehkan, sebab Hosea adalah sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam kehidupan kerohanian bangsa Israel pada masa itu. Kitab ini sebagai sikap yang sangat bertolak belakang dengan seluruh kitab PL, dimana perkawinan Hosea ini menjadi perdebatan para penafsir. Ada beberapa penafsir yang menjelaskan bahwa hal ini hanya bersifat alegori dan ada juga sebagai fakta. Memang sulit diterima untuk melihat hal ini sebagai tindakan yang nyata, tetapi juga sulit untuk menghilangkan kenyataan ini jika melihat dan penjelasan kitab tersebut. Pada kenyataannya perdebatan ini masih terus berjalan sampai sekarang, dengan berbagai pandangan dan asumsi yang menjadi tolak ukur pembenaran pandangan tersebut. Tetapi yang perlu dipahami adalah bagaimana kita melihat dari sudat pandang yang berbeda, yaitu konteks situasi pada masa itu berkaitan dengan cara Allah menggambarkan kebobrokan bangsa Israel, dan juga dasar kemarahan Allah pada umat-Nya. Mungkin saja ini bertolak belakang dengan pemahaman kita berhubungan dengan kepribadian Allah, tetapi juga kita tidak boleh berspekulasi mengenai ayat dalam kitab tersebut. Dalam pembahasan ini akan mencoba menjelaskan melalui pendekatan teks (eksposisi) untuk melihat gambaran pernikahan Hosea dan Gomer. 
KARYA KESELAMATAN ALLAH DALAM YESUS KRISTUS SEBAGAI JAMINAN MANUSIA BEBAS DARI HUKUMAN KEKAL ALLAH Randa, Federans
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 3, No 1 (2020): Agustus 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.088 KB) | DOI: 10.53827/lz.v3i1.17

Abstract

Ketika Allah menciptakan manusia pertama yakni Adam dan Hawa, maka keduanya diciptakan segambar dengan Allah tanpa ada dosa dalam diri manusia. Namun manusia akhirnya jatuh dalam dosa oleh karena pilihan manusia yang salah dengan melanggar perintah Allah dengan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat yang dilarang oleh Allah untuk dimakan, sebab ketika manusia memakannya pastilah mati dan kematian itulah yang membuat sehingga manusia menjadi berdosa dan kehilangan kekudusan Allah dari dirinya (Rm. 3:23). Dosa membuat manusia terpisah dengan Allah dan manusia tidak bisa mencapai Allah karena perseteruan yang terjadi antara manusia dengan Allah. Dosa membawa manusia kepada kebinasaan dan hukuman kekal Allah. Namun karena kasih Allah yang sangat besar terhadap manusia yang diciptakan istimewa yakni segambar dengan Allah, sehingga Allah mengambil inisiatif untuk melepaskan dan menyelamatkan manusia dari kebinasaan dan hukuman kekal Allah yang akan ditimpahkan kepada manusia oleh karena dosa manusia itu sendiri.
PEMAHAMAN KHUSUS TERHADAP PROFESIONALISME KEPEMIMPINAN GURU KRISTEN Krey, Herman
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 2, No 1 (2018): Agustus 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.466 KB) | DOI: 10.53827/lz.v2i1.8

Abstract

Dunia pendidikan memerlukan guru profesional. Pendidikan Kristen memerlukan Guru Kristen yang profesional. Dalam kamus Webster memberikan defenisi  mengenai profesi yakni: Profesi merupakan suatu pekerjaan yang menuntut pendidikan tinggi (kepada pengembannya) dalam liberal arts atau science, dan biasanya meliputi pekerjaan mental dan bukan manual, seperti mengajar, keinsinyuran, mengarang, dan sebagainya; terutama kedokteran, hukum dan teknologi. Kata Profesional, sendiri  mengandung makna yang mengacu kepada sebutan tentang orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengan profesinya. Penyandangan dan penampilan “profesional” ini telah mendapat pengakuan, baik secara formal maupun informal. Pengakuan secara formal diberikan oleh suatu badan atau lembaga yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah dan atau organisasi profesi. Sedangkan secara informal pengakuan itu diberikan oleh masyarakat luas dan para pengguna jasa suatu profesi. Dengan demikian, profesional menunjuk pada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi, misalnya “Dia seorang profesional. ” Kedua, penampilan dari seseorang dalam melakukan pekerjaannya yang sesuai dengan profesinya. Pengertian kedua ini, profesional dikontraskan dengan “non-profesional” dan “amatir.” Profesional adalah seseorang yang melakukan suatu (kegiatan, aktivitas, usaha, pekerjaan) yang dilakukan untuk mendapatkan (nafkah, kesenangan) atau memberi (konstribusi) dengan mengandalkan (keahlian, keterampilan, kemahiran) yang tinggi dengan melibatkan komitmen pribadi (moral) yang mendalam. Ditambahkan juga bahwa orang tersebut juga merupakan anggota suatu entitas atau organisasi yang didirikan sesuai dengan hukum di sebuah negara atau wilayah. Guru profesional adalah seorang guru yang melakukan kegiatan, aktivitas dan pekerjaannya dengan mengandalkan keahlian, ketrampilan, kemahiran dengan komitmen yang tinggi. Guru Kristen yang profesional adalah guru Kristen yang bercermin dan belajar dari Yesus Kristus sebagai guru agung yang sudah tentu Ia adalah guru profesional. Kepemimpinan guru Kristen dikerjakan oleh guru Kristen yang profesional yang berarti bahwa pekerjaan guru secara profesional berarti juga melakukan kepemimpinan dalam pekerjaan tersebut. 

Page 1 of 4 | Total Record : 36