cover
Contact Name
Avid Leonardo Sari
Contact Email
digilib.websttd@gmail.com
Phone
+6281221512892
Journal Mail Official
digilib.websttd@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Setu No.89, Cibuntu, Cibitung. Bekasi-Jawa Barat
Location
Kab. bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat
ISSN : 20866569     EISSN : 2776351X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat adalah jurnal Ilmiah yang diterbitkan dua kali setahun (Juni dan Desember) oleh Politeknik Transportasi Darat Indonesia- STTD. Artikel yang dimuat di jurnal ini merupakan artikel dengan topik penelitian dan kajian Transportasi Darat. Selain Sebagai wadah Komunikasi Ilmiah Penerbitan jurnal ini bertujuan untuk menyebar luaskan hasil hasil penelitian yang berkaitan dengan bidang ilmu transportasi dan sumber daya manusia di bidang transportasi darat serta pengembangan Politeknik Transportasi Darat Indonesia- STTD. Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat telah terdaftar pada International Standard Serial Number (ISSN: 2086-6569 & e-ISSN: 2776-351X)
Articles 131 Documents
PENGKAJIAN PENENTUAN BESARAN BATASAN (THRESHOLD) TERHADAP PERUNTUKAN KEGIATAN PERUMAHAN WAJIB ANDALALIN Effendhi Prih Raharjo; Azrisal Azrisal; Dani Hardiyanto; Sahar Andika
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.29 KB)

Abstract

Peraturan pendukung yang kurang dapat menjelaskan secara rinci mengenai batasan-bataasan kewajiban (threshold) terhadap Andalalin. Seharusnya ada pedoman yang pasti untuk menghindari perbedaan pandangan para pengembang mengenai kriteria wajib andalalin di setiap daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kriteria dalam menentukan batasan lokasi wajib andalalin terhadap besaran dan peruntukan pembangunan atau pengembangan guna lahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap pembangunan/pengembangan guna lahan yang dapat meningkatkan volume lalu lintas sampai dengan 10% dari volume sebelumya memerlukan analisis dampak lalu lintas. Analisis perbandingan volume lalu lintas dan luasan lahan untuk mengetahui besaran pengaruh luasan lahan terhadap bangkitan perjalanan atau volume lalu lintas. Bangkitan perjalanan pada luasan lahan lebih dari atau sama dengan 165 m² wajib dilakukan andalalin. Jumlah unit bangunan akan mempengaruhi besarnya bangkitan perjalanan dan volume lalu lintas, untuk nilai perbandingan volume lalu lintas dan bangkitan perjalanan terhadap jumlah unit bangunan adalah lebih dari atau sama dengan 77 unit wajib untuk dilakukan andalalin.
PENINGKATAN PELAYANAN KA COMMUTER JABODETABEK Tonny C.M Korah; A. Ubaini Rasyid; Hotland Silaban; Djoko Septanto
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.148 KB)

Abstract

Peningkatan pelayanan kereta api komuter jabodetabek pada saat stasiun jakarta kota tergenang banjir. optimalisasi pelayanan perrgerakan kereta api komuter line jabodetabek pada sat stasiun jakarta kota tergenang air dimana pengaturan sinyal telekomunikasi terganggu maka stasiun akhir jakarta kota dipindahkan ke stasiun jayakarta dan stasiun antarkota jarak jauh dipindahkan dari stasiun gambir ke stasiun manggarai dan jatinegara,sedang operasi komuter line lintas manggarai –jakarta kota yang berhenti di stasiun jayakarta hanya digunakan kereta komuter line yang berjalan searah dengan menggunakan sepur salah dan kereta api komuter line berikutnya menunggu di stasiun gambir dan hal itulah simulasi yang digunakan secara bergantian sehingga pelayanan kereta api komuter line dapat berjalan secara optimal dengan pengawasan yang sangat ketat dan selalu waspada dan berhati hati dalam pelaksanaannya.
ANALISIS JARAK ANTAR PERLINTASAN SEBIDANG JALUR KERETA API CIKARANG - CIKAMPEK Abadi Sastrodiyoto; Edi Waluyo; Santausa Purnama; Juliaman Pangaribuan; Uriansyah Uriansyah
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.465 KB)

Abstract

Perkeretaapian sebagai salah satu moda transportasi yang memiliki karakteristik dan keunggulan khusus, terutama dalam kemampuannya untuk mengangkut, baik untuk orang maupun barang, menghemat energi, menghemat penggunaan ruang, mempunyai faktor keselamatan yang tinggi. Mengingat karakteristik dan keunggulan tersebut, maka perkeretaapian terus dikembangkan dan dilakukan peningkatan sarana dan prasarana perkeretaapian, yang ditandai dengan telah dioperasikannya rel ganda Jalur Utara Jakarta-Surabaya pada tahun 2014 yang lalu dan pembangunan rel ganda Jalur Selatan Jakarta-Surabaya yang saat ini sedang dikerjakan dan ditargetkan selesai pada tahun 2017. Di samping itu pada saat ini juga secara bertahap telah dioperasikan lokomotif yang dibeli oleh PT Kereta Api Indonesia sebanyak 100 unit, dan 1.000 unit gerbong datar untuk peti kemas, serta 1.200 unit kereta rel listrik (KRL). Pembelian lokomotif tersebut untuk meningkatkan angkutan kereta api khususnya angkutan batu bara di Sumatera Selatan yang ditargetkan 25 juta ton per tahun pada 2020, sedangkan pembelian gerbong datar tersebut untuk meningkatkan angkutan peti kemas hingga 1 juta peti kemas per tahun. Kemudian pembelian KRL untuk memenuhi target angkutan penumpang kereta api di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi sebanyak 1,2 juta orang per hari pada 2019. Dengan penambahan jumlah prasarana dan sarana perkeretaapian untuk angkutan orang dan barang tersebut, tentunya akan berakibat pada peningkatan frekuensi perjalanan kereta api dari Jakarta menuju Bandung, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Purwokerto,Yogyakarta, Solo, Bojonegara, Madiun dan Surabaya dan begitu sebaliknya, terutama yang melalui Jalur Kereta Api Cikarang-Cikampek. Jalur Kereta Api Cikampek-Cikarang atau sebaliknya tersebut merupakan pertemuan jalur kereta api dari arah Cirebon dan dari arah Bandung, sehingga frekuensinya lebih padat daripada jalur yang lainnya. Pada Jalur Kereta Api Cikarang-Cikampek terdapat 10 perlintasan sebidang resmi.
MODEL TARIKAN PERJALANAN MINIMARKET DI BEKASI Budiharso Hidayat; Eko Sudriyanto; FX Bowo Priyambodo; Fery Subekti
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.37 KB)

Abstract

Perubahan guna lahan untuk kegiatan perdagangan akan menarik perjalanan sesuai dengan karakteristik guna lahan dan lokasi penggunaan lahan. Pertambahan perjalanan mempengaruhi kinerja lalu lintas yang disebabkan pertambahan volume lalu lintas pada ruas jalan sekitar minimarket yang beroperasi. Batasan pada guna lahan untuk kegiatan perdagangan diberikan batasan luas 1.000 yang untuk minimarket belum jelas batasan harus dilakukan andalalin dengan memperhatikan besarnya tarikan perjalanan. Terutama batasan yang digunakan untuk memprediksi tingkat tarikan perjalanan apabila ada rencana pembangunan/pengembangan minimarket pada suatu daerah tertentu. Hubungan perjalanan dengan luas bangunan, tenaga kerja dan volume lalulintas belum ada penelitian terhadap hal ini.
PENENTUAN TEKNIK PERHITUNGAN KEBUTUHAN RUANG PARKIR HOTEL DI KOTA BEKASI Handa Lesmana; Firga Ariani; Rode Paulus GP; Fery Subekti
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.35 KB)

Abstract

Saat ini Kota Bekasi memiliki peran sebagai pendukung ibukota negara dari sisi Timur maupun jalur perlintasan dari arah Barat ke Timur pulau Jawa dan dari pulau sebelah Barat ke sebelah Timur Indonesia. Keberadaan hotel tersebut harus ditunjang dengan penyediaan fasilitas pelayanan yang baik tentunya dengan fasilitas penunjang lainnya seperti ruang parkir. Apabila penyediaan ruang parkir kurang mencukupi akan menimbulkan berbagai masalah dalam kelancaran sistem lalu lintas. Kebutuhan ruang parkir hotel perlu memiliki standart menurut fungsi tata guna lahannya perlu dilakukan suatu studi kebutuhan standar parkir untuk hotel di kawasan kota bekasi sesuai dengan tata guna lahan yang ada sehingga dapat menjadikan sumbangan yang berarti didalam memecahkan masalah penyediaan ruang parkir hotel di Indonesia dan Kota Bekasi khususnya.
ANALISIS JANGKAUAN PELAYANAN ANGKUTAN PERDESAAN KABUPATEN BEKASI M. Guntur; Firga Ariani; Subarto Subarto; Rode Paulus; Wisnu Wardana
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.882 KB)

Abstract

Angkutan umum sebagai salah satu elemen dari sistem transportasi perkotaan memegang peran yang sangat penting bagi daerah wilayah. Kabupaten Bekasi sebagai pembina transportasi di Kabupaten Bekasi tentunya sangat berkepentingan dalam membina angkutan umum di wilayahnya. Salah satu wujud pembinaan (perencanaan, pengaturan dan pengendalian pelayanan angkutan umum) yaitu melakukan kegiatan evaluasi kinerja pelayanan angkutan pedesaan. Dalam melakukan evaluasi kinerja pelayanan, hampir seluruh zona di wilayah kabupaten Bekasi memiliki nilai rendah (dibawah standar) apabila dilihat dari analisis jangkauan pelayanan. Sedangkan dalam pengembangan dan penataan trayek untuk meningkatkan aksebilitas dan jangkauan pelayanan terutama pada zona taruma jaya, zona babelan, zona sukawangi yang saat ini sangat minim pelayanan angkutan umum. selain itu, untuk perbaikan pelayanan dalam meningkatan minat penggunanaa angkutan umum. Rasio kendaraan yang beroperasi dengan kendaraan yang diizinkan atau tingkat operasi akumulasi angkutan pedesaan di Kabupaten Bekasi yang masih beroperasi sebasar 103 %. Angkutan Pedesaan di kabupaten Bekasi sampai saat ini berjumlah 25 Trayek yang tersebar di wilayah kabupaten Bekasi.
MODEL PENENTUAN GRAFIK PERJALANAN KERETA API UNTUK MENINGKATKAN FREKUENSI PERJALANAN KERETA API (Studi Kasus: Lintas Bogor-JakartaPP) Fauzi Fauzi; I Made Suraharta; J.R.C. Hosang; Utut Widyanto; Sande Ritin Irawan
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.521 KB)

Abstract

Jabodetabek akan berkembang menjadi satu wilayah, sehingga perlu ditata dalam satu konsep sebagai metropolitan terpadu. Kereta api sebagai salah satu bagian dari sistem transportasi dan mempunyai fungsi pokok yaitu pelayanan kepada pelanggan serta berorientasi kepada pasar, baik penumpang maupun barang yang dilayaninya. Pada saat ini pengelolaan perkeretaapian di Indonesia dilaksanakan oleh suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT KAI Commuter Jabodetabek (PT. KCJ). Lintas Bogor–Jakarta, adalah salah satu lintas KRL komuter untuk angkutan penumpang komuter terpadat, setiap tahunnya mengalami peningkatan karena dipengaruhi oleh permintaan dan kondisi sarana dan prasarana KRL. Dan ini berpengaruh juga pada jadwal perjalanan KRL sehingga setiap tahunnya jadwal perjalanan KRL mengalami perubahan. Dengan demikian dalam upaya meningkatkan sistem pelayanan perjalanan KRL, perlu adanya sistem pengaturan jadwal dan penggunaan prasarana dan sarana yang ada sekarang dioptimalkan, terutama jadwal perjalanan kereta-kereta listrik lintas Bogor-Jakarta pada saat jam sibuk.
PERENCANAAN TEMPAT PERHENTIAN ANGKUTAN UMUM DI JALAN WILAYAH PERKOTAAN PURWOKERTO Budiharso Hidayat; Ekki Ryan Wahyudi; Djoko Septanto
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.499 KB)

Abstract

Wilayah Perkotaan Purwokerto merupakan pusat kegiatan dari kabupaten Banyumas sehingga wilayah tersebut memerlakan sistem transportasi yang baik agar mobilitas masyarakat terlayani dengan baik, dengan adanya sistem angkutan umumnya yang baik, perlu di dukung dengan prasarana yang baik juga, dalam hal ini yakni tempat perhentian angkutan umum. Saat ini kinerja halte di Wilayah Perkotaan Purwokerto tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat maupun pedoman teknis. Dengan jumlah 29 trayek dan 273 armada, tetapi hanya ada 8 halte, maka dari itu perlunya perencanaan untuk pembangunan halte. Pembangunan tempat perhentian angkutan umum di sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Purwokerto yang sesuai dengan karakteristik penumpang maupun pengemudi angkutan umum. Pembangunan menggunakan skala prioritas dengan menitikberatkan jumlah demand, tata guna lahan dan jarak berjalan kaki. Rencana Anggaran Biaya di hitung untuk semua halte rencana.
Efisiensi Pelayanan Angkutan Umum Trayek Kampung Utan – Pasar Setu – Serang dengan Kode Trayek K.14 di Bekasi Budi Harso Hidayat; Eko Sudriyanto; FX. Bowo Priyambodo; Fery Subekti
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 2 (2015): December 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.769 KB)

Abstract

Pelayanan angkutan umum tidak handal atau memiliki kepastian dalam aspek waktu sehingga menurunkan minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum. Perilaku pengemudi yang kurang memperhatikan keselamatan penumpang dengan berhenti di sembarang tempat sesuasi kehendak pengemudi. Penelitian ini menggunakan metoda observasi langsung terhadap pelayanan angkutan untuk mengetahui kinerja angkutan umum dari aspek kepengusahaan. Pendekatan ini untuk mengukur pendapatan yang diperoleh pada saat observasi untuk dianalisis lebih lanjut apakah dengan simulasi terhadap perubahan operasi secara terjadwal apakah dapat meningkatkan pendapatan yang menjadi indikasi bahwa pengusaha untuk yang menggambarkan adanya efisiensi dalam pengoperasian. Hasil analisis terhadap pelayanan angkutan umum trayek Kampung Utan – Pasar Setu - Serang memiliki faktor muat rata-rata 26 % dengan pelayanan atau frekuensi tertinggi sebesar 16 kendaraan/jam. Waktu tempuh rata-rata 44 - 52 menit untuk menempuh jarak sepanjang 17,9 km dengan kecepatan rata-rata 22,8 km/jam. Pendapatan rata rata pengemudi untuk pengoperasian dalam sehari mencapai Rp 99.500,- atau perkiraan pendapatan pengemudi dengan tingkat operasi rata-rata 25 hari, seorang pengemudi dapat mencapai pendapatan bulanan Rp. 2.487.500,-. Simulasi dengan pelayanan secara terjadwal dapat pelayanan selama sehari pengemudi dapat menyelesaikan perjalanan sebanyak 7 RIT. Pendapatan yang semula sebesar Rp 99.500,- per RIT meningkat menjadi pendapatan menjadi Rp.160.000,- perhari sehingga total pendapatan adalah Rp 4.000.000,-. Hal ini menunjukkan bahwa penjadwalan dapat meningkatkan pendapatan dari Rp. 2.487.500,- meningkat jadi Rp 4.000.000,-.per bulan. Peningkatan pendapatan sebesar 38 % dari sebelumnya atau lebih efisien.
PENENTUAN LOKASI PERHENTIAN ANGKUTAN UMUM BERDASARKAN TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Trayek K-14, pada Ruas Jalan Raya Setu, Kabupaten Bekasi) I Made Suraharta; Fauzi Fauzi; Nico Djajasinga; Siti Umiyati
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 2 (2015): December 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.613 KB)

Abstract

Penetapan lokasi tempat perhentian angkutan umum (TPAU) dipengaruhi oleh banyak faktor. Kriteria penentuan lokasi TPAU yang sudah pasti adalah bahwa TPAU yang direncanakan harus berada pada jalur trayek yang akan dilayaninya. Selain itu, identifikasi lokasi kantung penumpang menjadi faktor penting yang harus dipertimbangan dalam penetapan TPAU. Kantung-kantung penumpang akan berdekatan dengan tata guna lahan pemukiman, dengan demikian tata guna lahan menjadi salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan lokasi TPAU. Faktor-faktor lainnya yaitu: lokasi simpang, jarak perjalanan, rencana halte harus berada dekat dengan tata guna lahan berupa pemukiman dengan melakukan intersect antara buffer trayek dengan tata guna lahan pemukiman, rencana lokasi halte harus sedekat mungkin dengan kantung penumpang. Selain itu rencana lokasi perhentian angkutan umum/halte dilarang berada di simpang dengan radius kurang dari 25 meter juga menjadi kriteria pertimbangan penetapan lokasi TPAU.

Page 1 of 14 | Total Record : 131