cover
Contact Name
Heppy Yohanes
Contact Email
heppyyohaneslim@gmail.com
Phone
+6287878968652
Journal Mail Official
info@pspindonesia.org
Editorial Address
Perum Puri Bengawan Indah Jl. Karandan Rt.007 Rw.005, Joyontakan, Serengan, Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
ISSN : 2797717X     EISSN : 27977676     DOI : https://doi.org/10.54403/rjtpi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian ilmiah para dosen / peneliti pada bidang Teologi. Fokus dan Scope pada Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia adalah: Sejarah pada Teologi Kajian Teologi Pentakosta Tokoh gereja Liturgi Musik Gereja Misiologi Kepemimpinan Kristen Pastoral Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia is a forum for publishing the scientific of lecturers / researchers in the field of Theology. Focus and scope on Jurnal Pentakosta Indonesia are: History of Theology The Pentacostal Analysis Theology Church Figure Liturgy Church Music Missiology Christian Leadership Pastoral
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia" : 7 Documents clear
Review of Indonesia Revival: Focus on Timor John P. Lathrop
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.829 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.7

Abstract

News of spiritual stirrings in the Christian church attract attention. Believers around the world are encouraged by such reports. These accounts hold out the hope that it can happen in other places and may prompt some to pray for just such a divine visitation. In the later part of the twentieth century Indonesia was the setting for one of these moves of God. A number of people have written about this revival, George W. Peters is one of them. In his book, Indonesia Revival Focus On Timor, he looks at the factors that he believes contributed to it as well as its strengths and weaknesses.Berita tentang gejolak rohani di gereja Kristen menarik perhatian. Orang-orang percaya di seluruh dunia didorong oleh laporan semacam itu. Kisah-kisah ini memberikan harapan bahwa hal itu dapat terjadi di tempat lain dan mungkin mendorong beberapa orang untuk berdoa untuk kunjungan ilahi seperti itu. Di bagian akhir abad kedua puluh, Indonesia adalah tempat untuk salah satu gerakan Tuhan ini. Sejumlah orang telah menulis tentang kebangkitan ini, George W. Peters adalah salah satunya. Dalam bukunya, Indonesia Revival Focus On Timor, ia melihat faktor-faktor yang menurutnya berkontribusi terhadapnya serta kekuatan dan kelemahannya.
Baptisan Roh Kudus dalam Teologi Pantekosta dan Implikasinya Bagi Hidup Orang Percaya Yakub Hendrawan Perangin Angin; Tri Astuti Yeniretnowati
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.529 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.4

Abstract

The question of what it means to be baptized with the Holy Spirit and how it happens, has created many great dividing lines and even endless debates from the past until now among Christians. Also the debate regarding the time and way of being baptized in the Holy Spirit also often becomes a polemic at the time of repentance or after? To answer this problem, this research was carried out using a qualitative method with a library approach, namely by collecting information from various textbooks and journals, then the researchers analyzed the concept of baptism and the concept of the baptism of the Holy Spirit as a conceptual framework that can provide a theological frame for how the baptism of the Holy Spirit is carried out. in Pentecostal Theology and its implications for believers. The conclusion of this study is how the implications of the baptism of the Holy Spirit which are agreed upon and experienced by people who believe in the Lord Jesus Christ increasingly give power and a very strong commitment to service for believers in their devotion to God.Pertanyaan tentang arti dibaptis dengan Roh Kudus dan bagaimana hal itu terjadi, sudah banyak membuat garis pemisah besar bahkan perdebatan yang tiada ujung dari dulu sampai saat ini di kalangan umat kristiani. Juga perdebatan terkait waktu dan cara seseorang dibaptis Roh Kudus juga sering kali menjadi polemik saat bertobat atau setelahnya?. Untuk menjawab permasalah ini maka dilakukan tinjauan pustaka, yaitu dengan cara menganalisis tentang konsep baptisan dan konsep baptisan Roh Kudus sebagai sebuah kerangka konsep yang dapat memberikan bingkai teologis bagaimana baptisan Roh Kudus dalam Teologi Pentakosta dan implikasinya bagi orang percaya. Implikasi dari baptisan Roh Kudus yang diamini dan dialami orang percaya semakin memberi kuasa dan komitmen pelayanan yang sangat kuat bagi orang percaya dalam pengabdiannya kepada Allah.
Perayaan Israel Bagi Ekklesia Heppy Yohanes
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.114 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.12

Abstract

God as the Initiator of culture in Israel put celebration to be celebrated by them. The celebration is Passover celebration, unleavened bread, firstfruits, Pentecost, trumpet, atonement, and booths as written in Leviticus 23. In order to understand God's purpose in each of these feasts, one must have the same way of thinking as the Israelites. One form is to celebrate the feasts. But there are groups within Christianity who refuse to celebrate it on the grounds of Paul's direction in Colossians 2:16. Through descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the current condition of the church only celebrates Passover and Pentecost of the seven Israelite feasts. There are groups who thought that not all the Words are things that the church must do, especially in Leviticus 23. Celebrations based on the Hebrew language mean entering an appointed cycle and time, thus explaining that the church should follow this celebration in order to align with God's cycle and experience God's appointed time. Each of Israel feasts has great significance and is an image that can help believers experience spiritual growth. Church history proves that Israel's celebrations were no longer celebrated not by the decree of the apostles, but as a result of the shift in Constantine's reign in Rome. So, the Israelite Festival should be celebrated and taught its meaning by the church.Tuhan sebagai Penggagas kebudayaan di Israel menaruh perayaan yang harus dirayakan oleh mereka. Perayaan tersebut adalah Paskah, roti tak beragi, buah sulung, pentakosta, terompet, pendamaian, dan pondok daun seperti yang tertulis pada kitab Imamat 23. Agar bisa mengerti maksud Tuhan pada setiap perayaan tersebut pastinya harus memiliki cara berpikir yang sama dengan orang Israel. Salah satu bentuknya adalah merayakan perayaan tersebut. Namun ada kelompok didalam kekristenan yang menolak untuk merayakannya dengan alasan atas arahan Paulus pada Kolose 2:16. Melalui metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literatur dapat disimpulkan bahwa dapat kondisi gereja saat ini hanya merayakan paskah dan pentakosta dari tujuh perayaan Israel. Adanya kelompok yang beranggapan bahwa tidak semua Firman merupakan hal yang wajib gereja lakukan, khsususnya pada Imamat 23 ini. Perayaan berdasarkan Bahasa Ibrani berarti memasuki siklus dan waktu yang ditetapkan, sehingga menerangkan bahwa gereja seharusnya mengikuti perayaan ini untuk bisa selaras dengan siklus Tuhan dan mengalami waktu yang Tuhan tetapkan. Setiap perayaan Israel memiliki makna yang sangat penting dan merupakan gambaran yang dapat membantu orang percaya untuk mengalami pertumbuhan rohani. Sejarah gereja membuktikan bahwa perayaan Israel tidak dirayakan lagi bukan oleh keputusan rasul-rasul, melainkan diakibatkan pergeseran saat kekuasaan Konstantin di Romawi. Jadi seharusnya Perayaan Israel dirayakan dan diajarkan maknanya oleh gereja.
Mengimplementasikan Dwi Kewarganegaraan Kristen dalam Era Pos-Sekulerisme Gilrandi A. Pramonojati
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.815 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.11

Abstract

This article examines the relationship of the Church to politics in post-secularism popularized by Jurgen Habermas. The research method used in this research is literature study. This research finds that, Post-secularism offered by Habermas provides space for the Church to translate the wealth contained in religion into a public message. In the view of post-secularism the Church has an important role to fill in the empty spaces that cannot be achieved by rationality. Habermas's thoughts on post-secularism also serve as a bridge to harmonize faith and rationality, as well as to explain dual citizenship as an unrelated Christian political view.Artikel ini menelaah hubungan Gereja dengan politik dalam pos-sekulerisme yang dipopulerkan oleh Jurgen Habermas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Penelitian ini menemukan bahwa, Pos-sekulerisme yang ditawarkan oleh Habermas memberi ruang Gereja untuk menerjemahkan kekayaan yang terkandung dalam agama menjadi pesan publik. Dalam pandangan pos-sekulerisme Gereja mempunyai peran penting untuk mengisi ruang kosong yang tidak dapat dijangkau oleh rasionalitas. Pemikiran Habermas mengenai pos-sekulerisme juga menjadi jembatan untuk menyelaraskan iman dan rasional, sekaligus menerangkan kewarganegaraan ganda sebagai pandangan politik Kristen yang selama ini tidka dimengerti.
Biblical Pentecost John Henry King
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.553 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.6

Abstract

Tiga ribu saksi tertusuk dalam hati mereka oleh Roh pada hari pertama itu sementara Petrus berbicara tentang peristiwa-peristiwa tetapi tujuh minggu sebelumnya. Pentakosta Alkitabiah adalah kisah Gereja yang dibakar oleh nyala api yang turun dari surga, dinyalakan pada hari Pentakosta dan yang tidak dapat padam. Itu telah berkobar sepanjang sejarah, mungkin kadang-kadang berkedip sangat rendah, tetapi selalu, dihembuskan oleh penganiayaan sampai berkobar terang seperti pada awalnya. Ini adalah kisah tentang Roh yang melayang-layang, menciptakan, bekerja di dalam dan di antara umat-Nya seperti dulu ketika Dia menciptakan langit dan bumi.Three thousand witnesses were pricked in their hearts by the Spirit that first day while Peter spoke of events but seven weeks earlier. Biblical Pentecost is the story of the Church set ablaze by a flame descending from heaven, ignited at Pentecost, and which could not be extinguished. It has blazed throughout history, perhaps at times flickering alarmingly low, but always, fanned by persecution until it raged brightly as at the beginning. This is the story of the Spirit hovering, creating, working in and among His people as once before when He created the heavens and the earth.
Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Teologi Pentakosta Simon Simon; Stefanus Dully; Tomi Yulianto; Adi Prasetyo Wibowo
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.541 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.5

Abstract

This paper discusses the pandami of COVID-19 in a Pentecostal theology perspective. The current pandemic is causing trouble for everyone, at the same time this epidemic encourages religious people to view and study from a theological point of view how this COVID-19 disease from the perspective of the Bible. This article was written using a qualitative method with a literature study approach. Within the internal of Christianity itself, the various interpretations of COVID-19 can be analyzed from a theological frame. In the perspective of Pentecostal theology, of course this pandemic is believed to be a part of the prophecy of the holy book as well as hinting that we are in an end-time phase, one of which is the epidemic of pestilence today. This pandemic is also within the framework of Pentecostal theology as preparation for the coming of Jesus Christ to earth, for the second time through pestilence as written by the Scriptures. This COVID-19 incident is also a phase in which humans will enter a period of queue for Kris who becomes the ruler and controller of this world. Key Words: Pandemic COVID-19, Pentecostal Theology, Church.Tulisan ini membahas pandemi COVID-19 dalam perspektif teologi Pentakosta. Pandemi yang terjadi saat ini tentu menyebabkan kesulitan bagi siapa saja, sekaligus wabah ini mendorong kaum religius untuk memandang dan mengkaji dari sudut pandang teologis bagaimana penyakit COVID-19 ini dari perspektif Kitab Suci. Artikel ini ditulis dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Di dalam lingkup internal Kekristenan sendiri, beragam pemaknaan dan penafsiran mengenai COVID-19 ini jika ditelisik dari bingkai teologis. Dalam perspektif teologi Pentakosta, tentu pandemi ini diyakini sebagai bagian dari nubuatan kitab suci sekaligus mengisyaratkan kita berada di fase akhir zaman yang ditandai salah satunya mewabahnya penyakit sampar di masa kini. Pandemi ini juga dalam bingkai teologi Pentakosta sebagai persiapan kedatangan Yesus Kristus ke bumi, untuk kedua kalinya melalui penyakit sampar sebagaimana yang ditulis oleh Kitab Suci. Peristiwa COVID-19 ini juga sebagai fase di mana manusia akan memasuki masa anti Kris yang menjadi penguasa dan pengendali dunia ini. Kata Kunc: Pandemi COVID-19, Teologi Pentakosta, Gereja,
Pemuridan dalam Konsep Teologi Pantekosta bagi Pertumbuhan Gereja Paulus Kunto Baskoro
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 1 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.522 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i1.2

Abstract

Discipleship is the most important part of church growth. The early church, after the descent of the Holy Spirit, experienced tremendous breakthroughs. It cannot be denied that the concept of Pentecostal theology is not overemphasized. That is why this writing about a discipleship makes an effective contribution to thinking about and starting a movement for the concept of Pentecostal theology. The movement in the gifts of the Holy Spirit is indeed very extraordinary and brings great movement in the concept of Pentecostal theology. However, if it is not based on discipleship, then the church will only focus on the sparkling gifts of gifts, but cannot be firmly rooted. This research uses descriptive method, which is studying Discipleship in the Concept of Pentecostal Theology for Church Growth from the point of view of the truth of God's Word. The purpose of this discussion is to provide a new perspective on the discipleship that is the basis of church growth. In discipleship there will be a strong foundation laying on the truth of God's Word, the growth of spiritual maturity, spiritual gifts that function more optimally, the multiplication of new leaders and the church becomes strong from generation to generation. All are fully committed to the power of the Holy Spirit who will help and equip.Pemuridan menjadi bagian yang paling penting dalam sebuah pertumbuhan gereja.. Gereja mula-mula setelah peristiwa turunnya Roh Kudus, mengalami terobosan yang luar biasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam konsep teologi Pantekosta tidak terlalu ditekankan. Itu sebabnya penulisan ini tentang sebuah pemuridan memberikan kontribusi yang efektif untuk memikirkan dan memulai sebuah gerakan bagi dalam konsep teologi Pantekosta. Kegerakan dalam karunia-karunia Roh Kudus memang sangat luar biasa dan membawa kegerakan yang hebat dalam konsep teologi Pantekosta.. Namun kalau tidak didasari dengan sebuah pemuridan, maka gereja hanya fokus kepada gemerlap kehebohan karunia saja, namun tidak bisa berakar dengan kuat. Penelitian ini menggunakan metode deskritif, yaitu mempelajari tentang Pemuridan dalam Konsep Teologi Pantekosta bagi Pertumbuhan Gereja dari sudut pandang kebenaran Firman Tuhan. Tujuan pembahasan ini adalah memberikan pandangan yang baru tentang sebuah pemuridan yang menjadi dasar pertumbuhan gereja. Dalam pemuridan akan terjadi peletakan dasar yang kuat tentang kebenaran Firman Tuhan, pertumbuhan kedewasaan rohani, karunia-karunia rohani yang berfungsi lebih optimal, multiplikasi pemimpin baru dan gereja menjadi kokoh dari generasi ke generasi. Semua diserahkan sepenuhnya dalam kekuatan Roh Kudus yang akan menolong dan memperlengkapi.

Page 1 of 1 | Total Record : 7