cover
Contact Name
Heppy Yohanes
Contact Email
heppyyohaneslim@gmail.com
Phone
+6287878968652
Journal Mail Official
info@pspindonesia.org
Editorial Address
Perum Puri Bengawan Indah Jl. Karandan Rt.007 Rw.005, Joyontakan, Serengan, Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
ISSN : 2797717X     EISSN : 27977676     DOI : https://doi.org/10.54403/rjtpi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian ilmiah para dosen / peneliti pada bidang Teologi. Fokus dan Scope pada Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia adalah: Sejarah pada Teologi Kajian Teologi Pentakosta Tokoh gereja Liturgi Musik Gereja Misiologi Kepemimpinan Kristen Pastoral Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia is a forum for publishing the scientific of lecturers / researchers in the field of Theology. Focus and scope on Jurnal Pentakosta Indonesia are: History of Theology The Pentacostal Analysis Theology Church Figure Liturgy Church Music Missiology Christian Leadership Pastoral
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia" : 7 Documents clear
Tinjauan Eksistensi Roh Kudus dalam Dunia Virtual Sarah Priska Toding; Carolina Etnasari Anjaya
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.148 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i3.21

Abstract

This research is structured in order to provide an understanding to believers that the current virtual world has actually moved away from the quality of life that God wants. Even though God has given the Holy Spirit as a true guide for life. The research method uses a qualitative type, through reading and analyzing various relevant literature and basing the theory of understanding on the biblical text. The results show that life in the virtual era does not involve the Holy Spirit in it. This does not mean that the Holy Spirit does not exist and is unable to intervene in circumstances, but this is related to the free will that God gives to believers. The existence of the Holy Spirit needs to be presented to the life of the virtual world as the only guide. In this regard, there are several concrete steps that believers can take in order to be witnesses and glorify God in today's virtual life.Penelitian ini disusun agar dapat memberikan pemahaman kepada  umat percaya bahwa kehidupan dunia virtual saat ini sejatinya telah bergerak menjauh dari kualitas kehidupan yang dikehendaki Tuhan. Padahal Tuhan telah memberikan Roh Kudus sebagai penuntun hidup yang benar. Metode riset dengan mempergunakan jenis kualitatif, melalui pembacaan dan analisa terhadap berbagai literatur yang relevan dan melandaskan teori pemahaman pada teks Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan dalam era virtual tidak melibatkan Roh Kudus di dalamnya. Hal ini bukan berarti Roh Kudus tidak ada dan tidak mampu mengintervensi keadaan, namun ini bertalian dengan kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada orang percaya. Eksistensi Roh Kudus perlu dihadirkan pada kehidupan dunia virtual sebagai satu-satunya penuntun. Bertalian dengan hal tersebut terdapat beberapa langkah konkrit yang dapat dilakukan oleh umat percaya agar dapat menjadi saksi dan memuliakan Tuhan dalam berkehidupan virtual masa kini.
Membaca Ulang Kisah Natal dari Bingkai Spiritualitas Pentakosta Kosma Manurung
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.302 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i3.22

Abstract

Christmas is a celebration commemorating the birth of the Lord Jesus which in the Bible record is a story whose beginning was in God's plan long before the event itself occurred. By using a descriptive analysis approach and literature review, this research intends to offer a perspective on the Christmas story from the Pentecostal spirituality frame. This article contains several examples of the idea of Christmas in the Bible both in the Old Testament and reviews the first Christmas story in the New Testament and also the meaning of Christmas in the context of Pentecostal spirituality. It is concluded that Christmas is the fulfillment of God's promise, Christmas is about divine reconciliation, Christmas also talks about mission, and Christmas is God's means to restore the effects of sin. Natal adalah sebuah perayaan memperingati kelahiran Tuhan Yesus yang dalam catatan Alkitab merupakan sebuah kisah yang permulaannya sudah ada dalam rencana Allah jauh sebelum peristiwa itu sendiri terjadi. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis dan kajian literatur penelitian ini bermaksud menawarkan sebuah sudut pandang tentang kisah natal dari bingkai spritualitas Pentakosta. Artikel ini berisikan beberapa contoh ide natal dalam Alkitab baik di Perjanjian Lama maupun ulasan kisah natal pertama di Perjanjian Baru dan juga arti natal dalam bingkai spritulitas Pentakosta. Disimpulkan bahwa natal adalah pengenapan janji Allah, natal berintikan tentang rekonisiali ilahi, natal juga berbicara tentang misi, dan natal menjadi sarana Allah untuk memulihkan dampak dosa.
Telaah Kekinian Kotbah Topikal dari Perspektif Aliran Pentakosta Rexi Tambunan; Sarah Andrianti
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.671 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i3.23

Abstract

This study aims to explain the perspective of the Pentecostal church on topical preaching. Preaching is the delivery of God's message to the congregation through people who have been chosen by God. The research method used in this study is qualitative using a descriptive approach and literature review. Various types of preaching models are used by preachers. One of the most popular types of sermons is topical preaching. Because in the perspective of the Pentecostal church, it is known that there is no prohibition regarding the way someone delivers a sermon. The most important thing is to use the Bible as a basis for preaching. Based on the results of the discussion, the Pentecostal church interprets topical sermons as a way of delivering the content of the Bible that is relevant and contextual to the daily life of the congregation. Without reducing the essence and authority of God's word. Because God does not limit the way humans can preach or convey God's words. The preachers of the Pentecostal church believe that the Holy Spirit will guide the preacher to be able to prepare and deliver a sermon so that it is right on target.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perspektif gereja aliran Pentakosta terhadap khotbah topikal. Khotbah merupakan penyampaian pesan Allah kepada jemaat melalui orang-orang yang telah dipilih oleh Allah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif dan kajian literatur. Berbagai jenis model kotbah dipakai oleh para pengkotbah. Salah satu jenis kotbah yang banyak disukai adalah kotbah topikal. Karena dalam perspektif gereja beraliran pentakosta diketahui tidak ada larangan terkait cara seseorang dalam menyampaikan khotbah. Yang terpenting adalah harus menggunakan Alkitab sebagai landasan dalam berkhotbah. Berdasarkan hasil pembahasan, gereja aliran Pentakosta memaknai kotbah topikal sebagai salah satu cara penyampaian isi Alkitab yang relevan serta kontekstual dengan kehidupan jemaat sehari-hari.Tanpa mengurangi esensidan otoritas firman Allah.Karena Tuhan tidak membatasi cara manusia dalam berkhotbah atau menyampaikan firman Tuhan.Para pengkotbah gereja Pentakosta percaya bahwa Roh Kudus akan menuntun pengkotbah untuk dapat mempersiapkan dan menyampaikan kotbah sehingga tepat pada sasaran.
Membaca Pemikiran Ulrich Zwingli Tentang Reformasi Gereja (Sebuah Penelusuran Sejarah Gereja Hingga Sekarang ini) Hery Budi Yosef
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.304 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i3.24

Abstract

This journal examines the historical description of Ulrich Zwingli's thoughts on church reform, especially after Martin Luther. And the results of the research provide new thinking that was left behind towards the reforms at that time. Though doctrinal thought began to move away from the papal hierarchy, but there are still things that were maintained by the reformers, and until now in the modern era it seems to be running (held), namely the practice of infant baptism, and the concept of the relationship between church and state. It's just that the results of this research are not more there, because the focus is solely on searching. There are many other sources that review Zwingli's actions in his involvement in removing other groups of believers (read: Anabaptists) from the church decisions that he fought for after the reformation. Because the concrete evidence has not shown the accuracy of the event, the author only focuses on his thoughts, specifically confronting his thoughts with the previous proclaimer of reform, namely Martin Luther. In this study, the background of the character, Zwingli's movement in Switzerland in an effort to reform the church will also be described successively as an extension of the previous important figures. In another section, Zwingli's thoughts which are the reasons for the reform of the church will be presented, Zwingli is slightly different from his predecessors in post-reform theology from Luther's. This journal uses a descriptive-historical qualitative approach, it is said that because the author examines it by tracing the sources contained in the literature regarding the characters studied, and linking them to the church today. Of course there will be limitations in the study, that's why the author hopes that there will be further research on this church figure, especially in other studiesJurnal ini mengkaji uraian historis terhadap pemikiran Ulrich Zwingli mengenai reformasi gereja khususnya setelah Martin Luther.  Banyak sumber yang mengulas tentang sepak terjang Zwingli dalam keterlibatannya menyingkirkan kelompok orang percaya lainnya (baca: Anabaptis) dari ketetapan gereja yang diperjuangkannya pasca reformasi.  Oleh sebab bukti-bukti konkrit belum menunjukkan keakuratan terhadap pristiwa tersebut, penulis hanya menyoroti pemikiran-pemikirannya, secara khusus mengkonfrontasikan pemikirannya dengan proklamator reformasi sebelumnya, yakni Martin Luther.  Dalam kajian ini juga akan dipaparkan secara berturut-turut tentang latar belakang tokoh, pergerakan Zwingli di Swiss dalam upaya pembaharuan gereja sebagai perluasan dari tokoh-tokoh penting sebelumnya.  Di bagian lain pemikiran-pemikiran Zwingli yang menjadi alasan reformasi gereja akan dipaparkan, Zwingli sedikit berbeda dengan pendahulunya dalam berteologi asca reformasi.  Jurnal ini menggunakan pendekatan kualitatif deskritif – historis, dikatakan demikian karena penulis mengkaji dengan menelusuri sumber-sumber yang terdapat di literartur mengenai tokoh yang diteliti, dan mengkaitkan kepada gereja di masa kini.  Tentunya aka nada keterbatasan dalam pengkajiannya, itu sebabnya penulis berharap aka nada penelitian lanjut terhadap tokoh gereja ini, khususnya dalam kajian yang lain.
HL Senduk dan Kegerakan Pentakosta di Indonesia Heppy Yohanes; Yakub Hendrawan Perangin Angin; Tri Astuti Yenirenowati
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.473 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i3.25

Abstract

H.L. Senduk merupakan salah seorang tokoh rohani yang dikenal di Indonesia, khususnya bagi kalangan Pentakosta. Sejak pertobatannya dan pengalaman akan baptisan Roh Kudus, ia mengikuti jejak gurunya Pdt. Van Gessel di Gereja Pentakosta, hingga akhirnya ia mendirikan Gereja Bethel Injil Sepenuhnya (GBIS). Seiring berjalannya waktu ia mengalami konflik dan akhirnya keluar dan mendirikan Gereja Bethel Indonesia (GBI). Kehidupan dan pelayanan H.L. Senduk sangatlah berpengaruh bagi kalangan Pentakosta di Indonesia yang terlihat dari sinode GBI merupakan sinode terbesar ketiga di Indonesia pada tahun 2021 dan terus mengalami pertumbuhan baik secara kuantitas ataupun kualitas. Pelayanan H.L. Senduk yang berdampak luar biasa ini pastinya merupakan sesuatu hal yang harus diketahui oleh banyak orang Kristen dan sangat penting untuk dipelajari. Penulisan kisah H.L. Senduk ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Naratif agar mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kehidupan H.L. Senduk dari berbagai sumber, sehingga bisa mengetahui warisan rohani yang sangat penting bagi gereja di Indonesia. Warisan rohani H.L. Senduk pastinya akan terkait dengan pandangan teologisnya, kepemimpinan yang ia lakukan, dan pelayanannya. Pandangan teologis H.L. Senduk yang paling utama bagi gereja-gereja pentakosta adalah terkait dengan pentingnya gereja untuk terbuka dan dinamis terhadap tuntunan dan karya Roh Kudus. Kepemimpinan H.L. Senduk pastinya sangat penting untuk diteladain, karena berdampak dengan membuat sindoe GBI sebesar sekarang. Kepemimpinan yang visioner dengan memberikan teladan dan menampilkan karakter yang baik bagi seluruh kalangan. Pelayanan H.L. Senduk yang menekankan penginjilan mendorong GBI untuk terus melayani secara realistis sosial dengan relevan dan efektif. H.L. Senduk is a well-known spiritual figure in Indonesia, especially among Pentecostals. Since his conversion and experience of the baptism of the Holy Spirit, he has followed in the footsteps of his teacher Rev. Van Gessel at the Pentecostal Church, until finally he founded the Full Gospel Bethel Church (GBIS). Over time he experienced conflicts and eventually left and founded the Indonesian Bethel Church (GBI). The life and ministry of H.L. Senduk is very influential for Pentecostals in Indonesia as seen from the GBI synod, which is the third largest synod in Indonesia in 2021 and continues to experience growth both in quantity and quality. H.L. Service This amazingly impactful spoon is definitely something that many Christians should know and very important to learn. Writing the story of H.L. This Senduk uses a qualitative method with a narrative approach in order to get a clear picture of the life of H.L. Senduk from various sources, so that we can know the spiritual heritage that is very important for the church in Indonesia. The spiritual legacy of H.L. Senduk will certainly have to do with his theological views, his leadership, and his ministry. H.L.'s theological view the main thread for the Pentecostal churches is related to the importance of the church to be open and dynamic to the guidance and work of the Holy Spirit. H.L. Leadership Senduk is certainly very important to follow, because it has an impact by making the GBI sindoe as big as it is now. Visionary leadership by setting an example and displaying good character for all circles. H.L. Service Senduk which emphasizes evangelism encourages GBI to continue to serve with realistically- socially in a relevant and effective manner.
Penyebaran Yudaisme di Masa Intertestamental Dari Sudut Pandang Peristiwa Pentakosta Kis 2:9-11 Hanny Setiawan
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.099 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i3.26

Abstract

Acts 2:9-11 shows a list of the nations who were present at Pentecost. This article examines the relationship between these nations and the spread of Judaism during intertestamental periods. The study was conducted by looking at history with a focus on the pattern of the spread of Judaism from one era to another, and the pattern of geographical distribution. Based on these patterns, the research results of this article conclude two main things: first, the presence of these nations has become part of God's plan to fulfill the Great Commission (Matthew 28:19-20), and the Pentecostal Commission (Acts 1: 8); second, the Jewish education system after the exile of 586 BC was the key to the successful spread of Judaism in the Intertestamental Period.Kisah Para Rasul 2:9-11 memperlihatkan daftar bangsa-bangsa yang hadir dalam peristiwa Pentakosta.  Artikel ini meneliti hubungan antara bangsa-bangsa tersebut dengan penyebaran Yudaisme selama masa intertestamental. Penelitian dilakukan dengan melihat sejarah dengan fokus kepada pola penyebaran Yudaisme dari satu era kepada era lain, dan pola penyebaran secara geografis. Berdasarkan pola-pola tersebut, hasil penelitian artikel ini menyimpulkan dua hal utama : pertama, kehadiran bangsa-bangsa tersebut sudah menjadi bagian dari rencana Allah untuk memenuhi Amanat Agung (Mat 28:19-20), dan Amanat Pentakosta (Kisah Para Rasul 1:8); kedua, sistem pendidikan Yahudi setelah masa pembuangan 586 BC adalah kunci keberhasilan penyebaran Yudaisme di Masa Intertestamental.
Konsep Memuliakan Tuhan Berdasarkan Lukas 17:11-19 dan Signifikansinya Dalam Kehidupan Abad Modern Yonatan Alex Arifianto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.876 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i3.27

Abstract

In modern times the understanding of the phrase glorifying God has been reduced to only spiritual and church activities or actions. Excavation of the biblical text on the story of Luke 17:11-19 becomes the basis or pattern for compiling its implications for the lives of believers in this modern era. For believers, glorifying God is an attitude of the heart and deepest awareness of the existence of God as the only Supreme Being. The research hopes to provide a correct understanding of the phrase glorifying God according to the story in Luke 17:11-19 so that believers can apply it correctly in their daily lives. The method used is descriptive qualitative research through a literature study approach. The results of the research found that actions and attitudes are the fruit of a state of the soul that glorifies God. Some important points about it are: first, humility is the first step to glorify God. Second, there is an acknowledgment of the authority of the Lord Jesus and giving the highest respect. Third, glorifying God contains a high level of trust and obedience. Fourth, placing God as the only necessity of life. Fifth, glorifying God properly will be marked by the fruits of concrete life that can be felt directly by God and others. Sixth, believers who glorify God will be able to become living models for others. Seventh, being able to let go of the world and all the modern pleasures it offers to focus on living only for God.Pada masa modern ini pemahaman terhadap frasa memuliakan Tuhan mengalami reduksi hanya sebatas pada aktivitas atau tindakan rohani dan bergereja. Penggalian teks Alkitab pada kisah Lukas 17:11-19 menjadi dasar atau pola untuk menyusun implikasinya terhadap kehidupan umat percaya di era modern ini. Bagi umat percaya, memuliakan Tuhan  merupakan sikap hati dan kesadaran jiwa terdalam akan keberadaan Tuhan sebagai satu-satunya yang Maha Mulia. Penelitian ini memiliki harapan dapat memberikan pemahaman yang benar terhadap frasa memuliakan Tuhan sesuai kisah dalam Lukas 17:11-19 sehingga umat percaya dapat menerapkannya secara benar dalam keseharian hidup. Metode yang dipergunakan adalah riset kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kepustakaan. Hasil riset menemukan bahwa tindakan dan sikap adalah buah dari keadaan jiwa yang memuliakan Tuhan. Beberapa poin penting tentang hal itu yaitu: pertama, kerendahan hati menjadi langkah awal memuliakan Tuhan. Kedua, adanya pengakuan otoritas Tuhan Yesus dan memberikan penghormatan setinggi-tingginya. Ketiga, memuliakan Tuhan memuat sikap percaya tingkat tinggi dan ketaatan. Keempat, menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya kebutuhan hidup. Kelima, memuliakan Tuhan secara benar akan ditandai dengan buah-buah kehidupan konkrit yang dapat dirasakan langsung oleh Tuhan dan sesama. Keenam, umat percaya yang memuliakan Tuhan akan mampu menjadi model yang hidup bagi sesama. Ketujuh, mampu melepaskan dunia beserta semua kenikmatan  modern yang ditawarkan di dalamnya untuk fokus hidup hanya bagi Tuhan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7