cover
Contact Name
Novi Kurniati
Contact Email
drg.novi@dsn.moestopo.ac.id
Phone
+628118711640
Journal Mail Official
mderj@jrl.moestopo.ac.id
Editorial Address
Redaksi M-Dental Education and Research Journal Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jalan Bintaro Permai Raya No 3, Bintaro, Jakarta Selatan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
M-Dental Education and Research Journal
ISSN : 27760839     EISSN : 27760820     DOI : -
M-Dental Education and Research Journal published by the Faculty of Dentistry, Prof. University. Dr Moestopo (Beragama) in Jakarta. This journal features articles that publish research articles from researchers and students in all fields of science and basic development of dental and oral health through an interdisciplinary and multidisciplinary approach. The purpose of publishing this journal is so that researchers and students can become reliable in writing scientific articles, and readers can gain insight into the latest developments in science and technology in the field of dentistry. The manuscripts presented Conservative Dentistry, Periodontics, Orthodontics, Prosthodontics, Pedodontics, Oral Medicine, Oral Surgery, Dental Public Health, and supporting fields in dentistry such as Oral and Maxillofacial Radiology, Oral Biology, Dental Material Science and Technology. This journal is published regularly four times a year (in January, April, July and October). The submission process opens throughout the year. All submitted manuscripts will be screened with a double-blind peer review process from two reviewers and editorial decision before the manuscript was accepted to be published.
Articles 18 Documents
POTENSI REGENERASI JARINGAN PULPA GIGI PADA PERAWATAN ENDODONTIK Rina Permatasari; Moch. Dicky Alifuddin
M-Dental Education and Research Journal Vol 1, No 2 (2021): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.429 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: tujuan perawatan pulpa adalah untuk menjaga vitalitas gigi yang rusak akibat karies atau trauma gigi, menjaga struktur gigi tetap utuh dan mempertahankan fungsi yang optimal. Kemajuan terbaru dalam bioteknologi dan penelitian translasi, telah memungkinkan untuk menyediakan modalitas perawatan perlindungan pulpa vital melalui manipulasi dentinogenesis reaksioner dan reparatif. Pendekatan ini disebut sebagai prosedur regeneratif. Kedokteran gigi regeneratif bertujuan untuk mengganti gigi dan struktur sekitarnya secara biologis untuk mengganti jaringan pulpa yang rusak dengan jaringan yang layak. Tujuan: menjelaskan potensi regenerasi jaringan pulpa gigi pada perawatan endodontik. Metode: Berdasarkan sumber yang didapat dari jurnal, textbook dan website yang diakses melalui database Google Scholar. Jenis referensi yang diambil berupa laporan penelitan, dan studi pustaka yang diterbitkan dari tahun 2010–2020. Kesimpulan: terdapat perbedaan pendapat dari para ahli mengenai potensi regenerasi jaringan pulpa gigi dengan menggunakan sel yang berbeda, tetapi mayoritas menunjukkan hasil yang baik dan efektif dalam meregenerasi jaringan pulpa gigi. Kata kunci: Endodontik regeneratif, rekayasa jaringan, jaringan pulpa. ABSTRACTBackground: the purpose of pulp treatment is to maintain the vitality of teeth damaged by caries or dental trauma, the structure of the teeth intact, and the optimal function. Recent advances in biotechnology and translational research have made it possible to offer treatment modalities for vital pulp protection, through the manipulation of both reactionary and reparative dentinogenesis. This approach is referred to as the regenerative procedure. Regenerative dentistry aims to biologically replace teeth and its surrounding structures to replace damaged pulp tissue with viable tissue. Purpose: to describe the potential for regeneration of dental pulp tissue in endodontic treatment. Methods: based on sources obtained from journals, textbooks and websites accessed through the database on Google Scholar. Types of reference are taken from the form of research reports and literature studies published from 2010–2020. Conclusion: There are different opinions from the experts regarding the potential of dental pulp tissue regeneration using different cells, but the majority show good results and are effective in regenerating dental pulp tissue. Keyword: Regenerative endodontics, tissue engineering, pulp tissue.
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG STOMATITIS AFTOSA REKUREN (SAR) PADA MAHASISWA PROGRAM PROFESI FKG UPDM(B) ANGKATAN 2020 Sarah Mersil; Karis Maharani Abel Andjani
M-Dental Education and Research Journal Vol 1, No 1 (2021): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.356 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) atau yang biasa dikenal dengan sariawan, merupakan penyakit mulut yang paling sering ditemukan di masyarakat. Perkuliahan topik SAR yang didapatkan di program akademik akan diaplikasikan di program profesi dalam menegakkan diagnosis dan menentukan rencana perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk  menjelaskan pengetahuan tentang Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) pada mahasiswa program profesi FKG UPDM(B) angkatan 2020. Metode penelitian: penelitian deskriptif cross-sectional dengan 118 responden menggunakan  metode kuesioner (google form) yang terdiri dari 27 butir pertanyaan tertutup tentang SAR dengan topik epidemiologi, etiologi dan faktor predisposisi, gambaran klinis dan pengobatan. Tingkat pengetahuan responden digolongkan dalam skala empat tingkat, yaitu sangat baik, baik, cukup dan rendah. Data diolah dengan software statistic berbasis komputer. Hasil penelitian: berdasarkan kuesioner yang didistribusikan, sebanyak 84 (71,2%) mahasiswa  profesi mengetahui SAR dengan tingkat pengetahun sangat baik, 33 (28%) mahasiswa profesi dengan kriteria baik, dan sebanyak satu mahasiswa profesi (0,8%) dengan kriteria cukup, tidak ada mahasiswa dengan tingkat pengetahuan rendah. Rata-rata jawaban paling banyak benar mengenai topik etiologi dan pathogenesis (3.93 (±2.127)), rata-rata jawaban paling sedikit benar pada topik gambaran klinis (0.49(±0.624)). Kesimpulan: berdasarkan analisa data mengenai pengetahuan SAR pada mahasiswa program profesi FKG UPDM(B) angkatan 2020, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang SAR tergolong sangat baik dengan persentase 71,2% dengan pengetahuan mengenai etilogi dan predisposisi SAR lebih tinggi dari topik lainnya. Kata  kunci : Stomatitis Aftosa Rekuren, Mahasiswa Program Profesi, Penyakit Mulut ABSTRACTBackground: Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) or commonly known as thrush, is the most common oral disease in the community. RAS topics obtained in academic programs will be applied in dental profession education programs in making diagnosis and determining treatment plans. Purpose: to explain the knowledge about Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) in the dental profession education programs students of FKG UPDM(B) class of 2020. Methods: a cross-sectional descriptive study with 118 respondents using a questionnaire method (google form) which consists of 27 closed-ended questions about RAS include epidemiology, etiology and predisposing factors, clinical features and treatment topics. Respondents' knowledge were classified on a four-level scale as excellent, good, fair, poor. The data were processed by computer-based statistical software. Results: based on the distributed questionnaires, as many as 84 (71.2%) professional students know the RAS with a very good level of knowledge, 33 (28%) professional students with good criteria, and as many as one professional student (0.8%) with fair criteria, there are no students with a poor level of knowledge. The average of the most correct answers on the topic of etiology and pathogenesis (3.93 (±2.127)), the average of the least correct answers on the topic of clinical picture (0.49(±0.624)). Conclusion: based on data analysis regarding SAR knowledge among students of the 2020 FKG UPDM(B) profession program, it can be concluded that knowledge of SAR is classified as excellent with a percentage of 71.2% and knowledge of etiology and predisposition to SAR is higher than other topics. Keywords : Recurrent Aphthous Stomatitis, Professional Program Student, Oral Lesion 
PEMILIHAN MEDIKAMEN INTRAKANAL PADA PERAWATAN SALURAN AKAR Rina Permatasari; Mega Irbahani
M-Dental Education and Research Journal Vol 1, No 3 (2021): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.707 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: perawatan saluran akar (PSA) bertujuan untuk mengeliminasi bakteri yang menyebabkan infeksi pada jaringan pulpa gigi dan periapikal. Keberhasilan PSA secara langsung dipengaruhi oleh kemampuan untuk mengeliminasi mikroorganisme yang terdapat pada saluran akar yang terinfeksi salah satunya dengan cara disinfeksi ruang pulpa dengan medikamen intrakanal. Medikamen intrakanal didefinisikan sebagai penempatan sementara obat-obatan dengan biokompatibilitas yang baik ke dalam saluran akar. Tujuan: menjelaskan pemilihan medikamen intrakanal pada saat melakukan perawatan saluran akar. Metode: bersumber dari jurnal, textbooks dan website yang diakses melalui database Google Scholar, Science Direct dan PubMed. Pencarian literatur diseleksi oleh kriteria inklusi berupa tahun terbit 2012 – 2022, menggunakan bahasa Inggris, tersedia artikel lengkap, dan sesuai dengan topik yang dibahas. Literatur dieliminasi dengan kriteria eksklusi berupa tidak menyebutkan spesifikasi bahan, topik kurang relevan, dan tidak menyebutkan metode penelitian. Hasil: sebanyak 35 referensi yang ditemukan. Setelah dianalisis berdasarkan kriteria inklusi, eksklusi dan pembacaan abstrak yang tersedia, terdapat 16 yang dipilih dan 19 artikel termasuk kriteria eksklusi. Setelah 16 jurnal dibaca terdapat 8 artikel yang tidak dimasukkan berdasarkan kriteria inkulusi dan terdapat 8 artikel yang masuk dalam tinjauan integratif. Kesimpulan: bahan medikamen saluran akar yang dapat menjadi pilihan diantaranya kalsium hidroksida dan klorheksidin. Kalsium hidroksida masih menjadi bahan medikamen pilihan yang paling populer dan umum digunakan sebagai bahan medikamen intrakanal pada perawatan saluran akar, tetapi kalsium hidroksida tidak efektif untuk membasmi Enterococcus faecalis. Klorheksidin sebagai medikamen intrakanal lebih efektif untuk membasmi mikroorganisme Streptococcus mutans, Enterococcus faecalis, dan Candida albicans. Kata kunci: medikamen intrakanal, perawatan saluran akar, kalsium hidroksida, klorheksidin ABSTRACTBackground: root canal treatment (RCT) aims to eliminate bacteria that cause infection in the dental pulp tissue and periapical. The success of RCT is directly influenced by the ability to eliminate microorganisms present in infected root canals, one of which is by disinfection of the pulp chamber with intracanal medicaments. The intracanal medicament is defined as the temporary placement of drugs with good biocompatibility into the root canal. Purpose: to explain the choice of the intracanal medicament when performing root canal treatment. Method: based on sources obtained from journals, textbooks, and websites accessed through the Google Scholar Science Direct and PubMed database. The literature search was filtered by publication year (i.e.2010–2020 ), the language used (English), availability of full article version, and literatures that discussing the same or similar to the topic. Some literatures were excluded if they didn’t mention the specified material, less relevant, and literature that didn’t discussed its research method.. Results: a total of 35 references were found. After being analyzed based on the inclusion, exclusion criteria, and reading of the available abstract, there were 16 selected and 19 excluded articles. After 16 journals were read, 8 articles were excluded based on inclusion criteria and 8 articles found that were included in the integrative. Conclusion: root canal medicament materials that can be selected include calcium hydroxide and chlorhexidine. Calcium hydroxide is still the most popular medicament of choice and is commonly used as an intracanal medicament in root canal treatment, but calcium hydroxide is not effective for eradicating Enterococcus faecalis. Chlorhexidine as an intracanal medicament is more effective for eradicating microorganisms such as Streptococcus mutans, Enterococcus faecalis, and Candida albicans. Keywords: intracanal medicament, root canal treatment, calcium hidroxide, chlorhexidine 
PERBANDINGAN INDEKS PLAK PENGGUNAAN OBAT KUMUR ENZIM DENGAN EKSTRAK NIGELLA SATIVA PADA PASIEN ORTODONTIK CEKAT Ayu Sukma; Belly Jordan
M-Dental Education and Research Journal Vol 1, No 2 (2021): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.224 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: perawatan ortodontik cekat bertujuan untuk memperbaiki fungsi pengunyahan, bicara dan penampilan. Pemakaian peranti ortodontik cekat dapat meningkatkan jumlah retensi plak , menurunnya pH saliva, meningkatnya jumlah mikroba seperti streptococcus mutans. Cara untuk mencegah pembentukan dental plak dengan cara menggunakan sikat gigi interproximal, kumur-kumur dengan obat kumur (fluoride,  chlorhexidine, enzim atau nigella sativa) dan makan makanan yang baik buat gigi serta menghindari makanan yang dapat merusak gigi. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan indeks plak pada penggunaan obat kumur yang mengandung enzim (amiloglukosidase dan glucose oksidase) dengan obat kumur yang mengandung nigella sativa pada pasien ortodontik cekat. Metode: jenis penelitian ini adalah eksperimental klinis, Jumlah pasien terdiri dari 16 orang kelompok pemakai obat kumur  enzim amiloglukosidase, glucose oksidase, 16 orang kelompok pemakai obat kumur ekstrak nigella sativa dan 16 orang kelompok pemakai pasta plasebo. Jumlah total sampel penelitian 48 orang.  Hasil: tidak ada perbedaan signifikan indeks plak antara penggunaan obat kumur yang mengandung campuran enzim amiloglukosidase dan glukose oksidase dengan obat kumur yang mengandung nigella sativa. Terdapat perbedaan yang signifikan antara indeks plak yang menggunakan obat kumur enzim campuran amiloglukosidase dan glukose oksidase dengan obat kumur plasebo. Kesimpulan: menunjukkan bahwa penggunaan obat kumur yang mengandung enzim dan nigella sativa sama-sama dapat mengurangi indeks plak gigi dibandingkan dengan tidak memakai obat kumur. Sebaiknya  pasien ortodonti cekat disarankan menggunakan obat kumur yang mengandung antibakteri sehingga dapat mengurangi dan mencegah terjadinya penumpukan plak. Kata kunci : Perawatan Ortodontik Cekat, Indeks Plak, Obat Kumur,  Enzim Amiloglukosidase dan glukose oksidase,  nigella sativa  ABSTRACTBackground:  fixed orthodontic treatment is a treatment that can improve the function of mastication, speech and appearance.The use of fixed orthodonti  can  increase the amount of plaque retention in the teeth and  decreased pH of saliva, increasing the number of microbes such as streptococcus mutans. To reduce dental plaque and reduce damage to teeth and oral mucosa, by doing a regular toothbrush every meal and before bedtime, use an interproximal toothbrush and mouthwash with mouthwash, which contains fluoride, chlorhexidine, enzymes or nigella sativa and eat good food for teeth. Purpose:   this study aims to find out if there are differences in plaque index in the use of mouthwash containing amiloglukosidase, glucose oksidase  and nigella sativa in fixed ortodontic patients. Method:  this type of study is clinically experimental, The number of patients consists of 16 groups of mouthwash users containing the enzyme amyloglucosidase,glucose oksidase 16 groups of mouthwash users who containing extract nigella sativa and 16 people group of placebo pasta users. The total number of research samples was 48 people.   The  results showed no significant difference in plaque index between the use of mouthwash containing the enzymes amiloglukosidase and glucose oksidase with mouthwash containing nigella sativa, and there was a significant difference between the plaque index using the enzyme mouthwash amiloglukosidase, glucose oksidase with placebo mouthwash.  Conclusion: suggests that the use of mouthwash containing enzymes and nigella sativa can equally reduce the index of dental plaque compared to not using mouthwash. Fixed orthodontic patients are advised to use mouthwash containing antibacterial so that it can reduce and prevent plaque buildup. Keywords : fixed ortodontic treatment, plaque index, mouthwash containing enzymes Amiloglukosidase , glucose oksidase , nigella sativa.
PENGARUH PENYIMPANAN SIKAT GIGI TERHADAP KONTAMINASI BAKTERI PADA BULU SIKAT GIGI Umi Ghoni Tjiptoningsih; Frida Nugraheni Permatasari
M-Dental Education and Research Journal Vol 1, No 3 (2021): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.497 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: salah satu cara dalam menjaga kebersihan mulut adalah menyikat gigi. Sikat gigi merupakan alat paling efisien untuk menghilangkan plak yang ada di dalam mulut, terutama pada permukaan gigi dan lidah. Namun sikat gigi dapat menjadi sumber kontaminasi  jika tidak memperhatikan cara pemeliharaan sikat gigi dengan baik. Kontaminasi bakteri pada sikat gigi dapat mempengaruhi peran penting dalam berkembangnya penyakit.Penyimpanan sikat gigi dan lamanya penggunaan sikat gigi dapat mengkontaminasi sikat gigi terhadap bakteri.Sikat gigi harus diganti setiap bulan maksimal tiga bulan sekali dan tidak boleh disimpan dalam wadah tertutup atau basah. Bakteri yang sering ditemukan dalam sikat gigi yang sudah terkontaminasi adalah Streptococcus, Staphylococcus dan Klebsiella yang dapat menyebabkan penyakit di dalam mulut Tujuan: untuk melakukan studi pustaka integratif dengan bukti ilmiah yang berkaitan dengan kontaminasi bakteri pada sikat gigi. Metode: menganalisis jurnal dari database Google Scholar, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Science Direct, EBSCO, dan PubMed dari tahun 2011 sampai dengan 2020. Kesimpulan: menjaga kebersihan tempat penyimpanan sikat gigi dan mengganti sikat gigi maksimal 3 bulan sekali untuk mencegah kontaminasi bakteri. Bakteri yang sering ditemukan dalam sikat gigi yang sudah terkontaminasi adalah Streptococcus, Staphylococcus dan Klebsiella yang dapat menyebabkan penyakit di dalam mulut. Kata Kunci : Sikat gigi, Menyikat Gigi, Kontaminasi, Bakteri. ABSTRACTBackground: one way to maintain oral hygiene is by toothbrushing. Toothbrush is the most efficient tool to remove plaque in the mouth, especially on the surface of the teeth and tongue. However, toothbrush can be a source of contamination if it is not properly cared. Bacterial contamination of toothbrushes is the main factor in the development of various oral diseases. Toothbrush can be contaminated, depending on where the toothbrush is stored and the duration of use of the toothbrush. Toothbrush should be replaced every month or a maximum of once every three months and should not be stored in a closed or wet containers. Bacteria that are often found in contaminated toothbrush are Streptococcus, Staphylococcus and Klebsiella which can cause diseases in the mouth. Purpose: this study aims to conduct an integrative study of scientific evidence related to the bacterial contamination potential of toothbrushes. Method: Journal analysis from Google Scholar, National Library of the Republic of Indonesia, Science Direct, EBSCO, and PubMed databases from 2011 to 2020. Conclusion: Maintain the cleanliness of the toothbrush storage area and replace the toothbrush a maximum of once every 3 months to prevent bacterial contamination Keywords: Toothbrush, Brushing Teeth, Contamination, Bacteria
EFEK TINDIK LIDAH TERHADAP KESEHATAN RONGGA MULUT Poetry Oktanauli; Pinka Taher; Lia Kamalia Rizki Alchy
M-Dental Education and Research Journal Vol 1, No 1 (2021): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.588 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: tindik lidah merupakan tindakan pembuatan lubang pada lidah kemudian anting logam dekoratif dipasangkan pada lubang tersebut. Fenomena yang terjadi di kalangan remaja menjadikan tindik lidah sebagai suatu trend dan dianggap sebagai sarana untuk mengekspresikan diri. Terdapat dua jenis tindik lidah yang umum dilakukan, yaitu pada daerah dorsoventral dan dorsolateral. Tujuan: agar dapat lebih memahami efek dari pemasangan tindik lidah terhadap kesehatan rongga mulut. Metode: berdasarkan kriteria eksklusi dan inklusi, total terdapat tujuh (7) jurnal yang dianalisis dari database Google Scholar, Science Direct, PubMed dan buku teks. Jurnal yang dianalisis adalah mengenai efek tindik lidah terhadap kesehatan rongga mulut. Kesimpulan: pemasangan tindik lidah dapat menimbulkan efek samping bagi rongga mulut.  Efek samping dari pemasangan tindik lidah dapat menyebabkan terganggunya pemeriksaan radiografi, perdarahan (hemorrhage), kerusakan saraf, risiko penularan penyakit, inflamasi lokal pada lidah, resesi gingiva dan fraktur pada gigi. Diharapkan agar masyarakat mempertimbangkan secara matang sebelum melakukan tindik lidah.Kata kunci: tindik lidah, rongga mulut, efek samping. ABSTRACTBackground: tongue piercing is the act of making holes in the tongue which are then paired with decorative metal earrings (barbells) on the hole. The phenomenon that occurs among teenagers makes tongue piercing a trend and is considered a means of expressing yourself. There are two types of tongue piercing that are commonly performed, namely in the dorsoventral and dorsolateral regions. Purpose: to better understand the effects of tongue piercing on the health of the oral cavity. Method: based on the exclusion and inclusion criteria, a total of seven (7) journals were analyzed from the Google Scholar, Science Direct, PubMed’s and text book. The journals that analyzed are discussing about Effects of Tongue Piercing on Oral Health. Conclusion: Tongue piercing can have side effects on the oral cavity. Side effects of tongue piercing can cause disruption of radiographs, bleeding (hemorrhage), nerve damage, risk of disease transmission, local inflammation of the tongue, gingival recession and tooth fractures. It is hoped that the public will consider carefully before doing tongue piercing.Keywords: tongue piercing, oral cavity, side effects.
GAMBARAN UMUM PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL PADA DOKTER GIGI: STUDI PENDAHULUAN Yufitri Mayasari
M-Dental Education and Research Journal Vol 1, No 2 (2021): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.442 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi pada masyarakat berkembang di era digital saat ini. Salah satu pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi adalah pemanfaatan media sosial. Media sosial merupakan sebuah wadah yang memberikan peluang interaksi bagi individu melalui komunikasi dua arah. Pemanfaatan media sosial oleh dokter gigi dapat menjadi peluang sebagai wadah promosi kesehatan gigi dan mulut dengan jangkauan yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran pemanfaatan media sosial pada dokter gigi. Metode penelitian: penelitian ini merupakan studi pendahuluan bersifat deskriptif dengan desain cross sectional. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan survei menggunakan kuesioner online google form pada 444 dokter gigi.  Hasil penelitian: dari 444 dokter gigi yang menjadi responden penelitian ini, semuanya memiliki media sosial. Jenis media sosial yang mayoritas digunakan oleh responden adalah Instagram sebesar 77%. Sebagian besar responden (274 dari 444 responden) menggunakan media sosial untuk mencari berbagai informasi, sementara itu hanya 65 responden yang menggunakan media sosial untuk membagikan informasi terkait kesehatan gigi dan mulut. Sebanyak 91.7% responden setuju bahwa terdapat pro kontra dalam pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi kesehatan. Kesimpulan: semua responden dokter gigi memiliki media sosial. Mayoritas responden menggunakan media sosial untuk menjelajah berbagai informasi. Jenis dan tujuan pemanfaatan media sosial oleh dokter gigi yang ternyata beragam dapat menjadi potensi pemanfaatan media sosial untuk promosi kesehatan gigi dan mulut. Kata kunci: media sosial, promosi kesehatan, dokter gigi ABSTRACTBackground: the use of information and communication technology in society is developingn in today’s digital era. Social media is one of that. Social media is the platform that give individuals the opportunity to interact, using two way communication. The use of social media by dentists can be an opportunity as a tool for oral health promotion with a wide reach.. The purpose of this study was to describe the use of social media in dentists. Method: a cross sectional study was conducted among 444 dentists. Data were collected by conducting a survey using an online google form questionnaire. Result: in general, all of the respondents of this study,444 dentists, have social media. Instagram was rated as the most used social media (77%). Most of the respondents (274 out of 444 respondents) used social media to find various information, while only 65 respondents used social media to share information related to oral health. Almost all of the respondents was agree that there are pros and cons in the use of social media for health promotion.(91.7%) Conclusion: all dentist respondents have social media. Most of the respondents using social media for browsing many things. The different types and purposes of using social media by dentists can be a potential use of social media for the promotion of dental and oral health. Keywords: social media, health promotion, dentist
PERBEDAAN INDEKS DMF-T ANTARA SISWA SMP BINAAN UKGS DENGAN SISWA SMP TIDAK BINAAN UKGS (STUDI PADA SMPN 177 DAN SMP STRADA BHAKTI UTAMA, JAKARTA SELATAN) Mutiara Rina Ruslan
M-Dental Education and Research Journal Vol 1, No 3 (2021): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.051 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: penyakit gigi dan mulut masih banyak di temukan dan menjadi masalah utama pada anak usia sekolah dasar hingga menengah adalah karies gigi Salah satu program yang dapat dilakukan untuk tindakan pencegahan terjadinya karies gigi pada siswa sekolah yaitu melalui kegiatan UKGS. Pada kegiatan UKGS dapat dilakukan pemeriksaan status karies gigi  (indeks DMF-T) sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang ada. Namun tidak semua sekolah menengah melaksanakan UKGS sehingga belum diketahui perbedaaan indeks DMF-T siswa SMP binaan UKGS dengan siswa SMP tidak binaan UKGS. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan nilai DMF-T siswa SMP binaan UKGS dengan siswa SMP tidak binaan UKGS. Metode: penelitian ini merupakan penelitian dengan desain  cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan  purposive sampling  pada 551 orang   dengan 278 orang siswa SMPN 177 yang binaan UKGS dan 273 orang  siswa SMP Stada Bhakti Utama tidak binaan UKGS sebanyak 273 orang. Pemeriksaan klinis untuk melihat status karies gigi. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Mann-Whitney Hasil: indeks DMF-T pada sekolah binaan UKGS rata-rata sebesar 0,9 sedangkan indeks DMF-T rata-rata pada sekolah tidak binaan UKGS adalah 1,02. Dari hasil uji Mann Whitney didapatkan  nilai p=0,997 (p0,05). Kesimpulan: tidak terdapat perbedaan yang bermakna indeks DMF-T  antara siswa SMP binaan UKGS dengan siswa SMP tidak binaan UKGS. Kata kunci: Karies gigi, DMF-T, siswa SMP,  binaan UKGS, tidak binaan UKGS ABSTRACTBackground: dental and oral diseases that are commonly found and are still a major problem in elementary to junior school age are dental caries. UKGS program is one of activity that intended to increase dental and oral healthiness in school age, yet there are schools that have not run UKGS. Dental caries status can be assessed using DMF-T index. Purpose: the aim of this study is to determine the differences of DMF-T index  between junior high school  that are implemented by UKGS and junior high school that are not. Methods: cross sectional study are conducted, the number of subjects was 551 example was taken using purposive sampling with 278 of samples was students from SMPN 177 that are implemented by UKGS implemented and 273 samples was SMP Strada Bhakti Utama that are not UKGS. Clinical examination intended to check the dental caries status. Mann-Whittney test for statistic. Result: the result of this research shows that DMF-T index from UKGS was averaging at 0,9, while the average of DMF-T index with non-program was 1,02. Mann-Whittney test result  p=0,997 (p0,05). Conclusion: there is no significant  DMF-T index differences between junior high students that implemented UKGS with students that no implemented UKGS. Keywords: Dental caries, DMF-T, junior high student, implemented UKGS program, unimplemented UKGS program.
GAMBARAN KESEHATAN GIGI PESERTA KKN MERAJUT NUSANTARA 2019 DI KABUPATEN SAMBAS Manuel Dwiyanto; Pindobilowo Pindobilowo; Mirna Febriani
M-Dental Education and Research Journal Vol 1, No 1 (2021): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.108 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: karies gigi masih menjadi masalah kesehatan gigi di Indonesia. Menurut Rikesdas 2018, prevalensi karies gigi di Indonesia 45,3% khususnya di Sambas dengan prevalensi karies 51,14 % dan salah satu faktor risikonya adalah kualitas sumber air minum yang rendah Tujuan:  memperoleh data demografi, derajat keasaman air minum, saliva dan status kesehatan gigi masyarakat di Kabupaten Sambas responden Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sambas 2019 Metode: penelitian deskriptif pendekatan potong lintang  yang dilakukan pada masyarakat kabupaten Sambas yang menjadi responden KKN melalui kuesioner; pemeriksaan kesehatan gigi mulut, pH saliva dan air minum. Hasil: 151 responden yang diperiksa memiliki usia rata-rata 24,953 tahun, 66% menggunakan air hujan sebagai sumber air minum dengan keasaman (pH) air 5,965; pH saliva 6,40. Nilai DMFT sebesar 6,51. Berdasarkan uji statistik, tidak ada perbedaan  antara sumber air minum, IMT, frekuensi ke dokter gigi dengan nilai DMFT. Korelasi antara pH air minum dengan nilai DMFT sangat lemah, pH saliva dengan DMFT berkorelasi kuat. Kesimpulan: kesehatan gigi masyarakat kabupaten Sambas masih sangat rendah. Terjadinya karies gigi pada masyarakat kabupaten Sambas tidak dipengaruhi oleh sumber air minum tapi adanya faktor perilaku untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut yang kurang baik. Kata kunci: DMFT, pH air minum, pH saliva, kesehatan gigi, kabupaten Sambas ABSTRACTBackground: dental caries is still a dental health problem in Indonesia according to the Rikesdas 2018, the prevalence of caries in Indonesia is 45.3%, especially in Sambas, with a caries prevalence of 51.14% and one of the risk factors is the low quality of drinking water sources. Purpose: to collect demographic data, acidity of drinking water, saliva and oral health status of  residents of  Sambas when Kuliah Kerja Nyata  2019 was held. Method: descriptive cross-sectional approach conducted on the residents of Sambas District to obtain sociodemographic data, snack patterns through a questionnaire; examination of dental health status, pH of saliva and drinking water. Results: 151 residents had an average age was 24,953+15,990 years, 66% of the participants used rainwater as a source of drinking water with a acidity (pH) was 5,965+0,75; pH of saliva was 6,40+0,74. The DMFT value was 6.51+4.81. Based on statistical tests, there was no difference between drinking water sources, BMI, frequency of visit to the dentist and the DMFT value. Conclusion: the dental health of the people of Sambas district is very low. The occurrence of dental caries is not influenced by the source of drinking water but from the behavioral factors to maintain dental health. Keywords: DMFT, pH of drinking water, pH of saliva, dental health, Sambas district
PERUBAHAN DIMENSI VERTIKAL WAJAH MALOKLUSI KELAS III ANGLE DENGAN PENCABUTAN GIGI 34 DAN 44 (ANALISIS SEFALOMETRI) Paulus Maulana
M-Dental Education and Research Journal Vol 1, No 2 (2021): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.028 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: perawatan maloklusi kelas III Angle bertujuan memperbaiki gigitan silang anterior dan posterior. Perawatan maloklusi kelas III Angle  dilakukan pencabutan gigi 34 dan 44. Tujuan Penelitian: menjelaskan perubahan dimensi vertikal wajah penderita  maloklusi kelas III Angle dengan pencabutan gigi 34 dan 44  pada perawatan ortodontik cekat. Metode penelitian: penelitian membandingkan kelompok pra dan post perawatan ortodontik. Definisi operasional variabel dimensi vertikal muka adalah besaran sudut yang dihasilkan oleh sudut SGnSN, OclSN, FHGoMe, GoGnSN. Analisa data diperoleh dari pengukuran foto sefalometri lateral pada pasien pra dan post  perawatan ortodontik. Pengolahan data menggunakan program SPSS. Hasil penelitian: hasil uji Kolmogorov Smirnov pengukuran sefalometri. Nilai p 0,05 menunjukan distribusi data normal. Distribusi data normal dilakukan uji paired t. Hasil uji paired t sudut SGn-SN, FH-GoMe, Ocl-SN, GoGn-SN, bawah antara kelompok pra  dan post perawatan. Didapatkan nilai p pada sudut SGn-SN, Ocl-SN, FH-GoMe, GoGn-SN 0,05. Sudut SGn-SN, Ocl-SN, FH-GoMe, GoGn-SN, ada perbedaan bermakna antara kelompok pra dan post perawatan ortodontik. Kesimpulan: ada perbedaan bermakna sudut SGn-SN, OclSN, FH-GoMe, GoGn-SN antara kelompok pra  dan post perawatan ortodontik. Nilai rata rata sudut SGn-SN, OclSN, FH-GoMe, GoGn-SN antara kelompok post lebih besar dari pra perawatan ortodontik. Kata kunci: Vertikal pada wajah, Maloklusi kelas III Angle, Pencabutan gigi 34 44, Sefalometri. ABSTRACTBackground: the goal class III Angle malocclusion treatment is to correct anterior and posterior cross bites. Class III malocclusion treatment was the extraction of the mandibular first premolar. Research purposes: describe the changes in the vertical dimensions of the face of patients with Angle class III Angle malocclusion with the extraction of the right and left mandibular first premolars with fixed orthodontic treatment. Research method: the study compared the pre and post orthodontic treatment groups. The operational definition of the vertical dimension of the face is the angular magnitude produced by the SGnSN, OclSN, FHGoMe, GoGnSN angles. Analysis of data from measurements of lateral cephalometric photos in pre and post orthodontic patients processed by the SPSS program. Research result: Kolmogorov Smirnov test results of cephalometric measurements. With a p value 0.05, it indicates normal data distribution. The results of the paired t-angle SGn-SN, FH-GoMe, Ocl-SN, GoGn-SN, bottom between the pre and post treatment groups. The p value was obtained at the SGn-SN, Ocl-SN, FH-GoMe, GoGn-SN angles 0.05. The SGn-SN, Ocl-SN, FH-GoMe, GoGn-SN angles, there were significant differences between the pre and post treatment groups. Conclusion: there was a difference between the SGn-SN, OclSN, FH-GoMe, GoGn-SN angles between the pre and post orthodontic treatment groups. The mean value of SGn-SN, OclSN, FH-GoMe, GoGn-SN angles between post groups was greater than pre orthodontic treatment. Keywords: Vertical face, Class III Angle malocclusion, Tooth extraction 34 44, Cephalometri

Page 1 of 2 | Total Record : 18