cover
Contact Name
Abd Kholiq
Contact Email
kholiq@unesa.ac.id
Phone
+6285731570404
Journal Mail Official
jifi@unesa.ac.id
Editorial Address
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya Kampus Ketintang Unesa, Gedung C3 Lantai 1 Jl Ketintang, Surabaya 60321, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Inovasi Fisika Indonesia (IFI)
ISSN : 23024216     EISSN : 28301765     DOI : https://doi.org/10.26740/ifi
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia(IFI) is a peer-reviewed journal, ISSN: 2302-4216, which is managed and published by the Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA). This journal is accessible to all readers and covers developments and research in physics (Materials Physics, Earth Physics and Instrumentation Physics).
Articles 300 Documents
RANCANG BANGUN SOUND LEVEL METER BERBASIS ARDUINO UNO UNTUK MENGUKUR KEBISINGAN INTERMITEN AKIBAT KERETA API MELINTAS Firly Maulidya Anggrayni; Dzulkiflih Dzulkiflih
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) Vol 11 No 3 (2022): ARTICEL INPRESS
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sa1ah satu kawasan di Jl. Ketegan Barat merupakan pemukiman padat penduduk yang berdekatan 1angsung dengan re1 kereta api karena hanya berjarak sekitar ± 3,5 m dari 1intasan. Berbagai dampak yang diakibatkan o1eh kereta api yang me1intas dapat mengancam kese1amatan penduduk sekitar. Tujuan dari pene1itian yang di1akukan yaitu mengukur dan mengidentifikasi kebisingan yang diakibatkan saat kereta api me1intas, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 dengan menggunakan Sound Level Meter rancangan pene1iti yang te1ah di uji keakuratannya. Pengujian menggunakan metode pengukuran secara 1angsung dengan pendekatan kuantitatif serta metode purposive sampling dan te1ah di1akukan pada 9 Mei – 15 Mei 2022 pada waktu pagi, siang, dan ma1am. Dari pene1itian tersebut menghasi1kan ni1ai rata-rata intensitas kebisingan intermiten di J1. Ketegan Barat sebesar 89,5 dB – 98,9 dB atau 1ebih besar 62,73% - 79,81% dari batas ambang kebisingan untuk pemukiman yakni sebesar 55 dB. Berdasarkan hasi1 pengujian Sound Level Meter rancangan pene1iti menunjukkan tidak hanya efektif untuk mengukur kebisingan akibat kereta api me1intas namun juga perancangan a1at yang mudah dan murah, serta f1eksibe1 dibawa kemana saja. Kata Kunci: Kereta api, Kebisingan, Sound Level Meter Abstract One of the areas on J1. West Ketegan is a dense1y popu1ated residentia1 area that is direct1y adjacent to the rai1way because it’s on1y about ± 3.5 m from the track. Various impacts caused by passing trains can threaten the safety of 1oca1 residents. The purpose of this research is to measure and identify the noise caused when the train passes, based on the Decree of the Minister of the Environment No. KEP-48/MENLH/11/1996 by using Sound Leve1 Meter designed by researchers that has been tested for accuracy. The test uses a direct measurement method with a quantitative approach and purposive samp1ing method and has been carried out on May 9 – May 15, 2022 in the morning, afternoon, and evening. From this research, the average va1ue of intermittent noise intensity on Jl. West tension is 89.5 dB – 98.9 dB or 62.73% - 79.81% of the noise thresho1d for residential areas, which is 55 dB. Based on the resu1ts of the Sound Leve1 Meter test, the researcher's design shows is not on1y effective for measuring noise due to passing trains, but a1so the design of a too1 that is easy, inexpensive, and f1exib1e to carry anywhere. Keywords: Train, Noise, Sound Leve1 Meter
KARAKTERISTIK ANTIMIKROBA NANOFIBER PVA/GELATIN SEBAGAI PENUTUP LUKA Musyarofah Dwi Nur Laily; Diah Hari Kusumawati
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) Vol 11 No 3 (2022): ARTICEL INPRESS
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Mikroorganisme yang terpapar ke permukaan menyebabkan perlu adanya pengembangan berupa agen antimikroba berbasis nanofiber. Nanofiber banyak diaplikasikan pada produk biomedis salah satunya sebagai penutup luka. Nanofiber yang dihasilkan dari larutan polyvinyl alcohol (PVA) dan gelatin dengan proses elektrospinning. Serat tersebut dilakukan variasi tegangan sebesar 17 kV, 20 kV, dan 23 kV. Dikarakterisasi dengan mikroskop optik, SEM, EDX, FTIR, UV-Vis, dan aktivitas antimikroba. Ukuran diameter nanofiber yang diukur dengan mikroskop optik menurun seiring bertambahnya tegangan. Spektroskopi UV-Vis menunjukkan nanofiber berbahan PVA/Gelatin menghasilkan nanofiber yang memiliki absorbansi tinggi seiring penambahan daya radiasi UV yang diberikan. Spektrum FTIR dengan rentang gelombang 400-4000 cm-1 menunjukkan gugus fungsi yang terlihat yaitu, O-H stretching, C-H stretching, C-O stretching, C=O stretching dan C-H bending. Morfologi dan distribusi PVA/Gelatin ditunjukkan oleh SEM dengan diameter berkisar 140 – 160 nm, dengan unsur yang terdapat pada spektrum EDX yaitu C, O, dan N masing-masing 29,96%, 8,76%, dan 61,28%. Aktivitas antimikroba efektif hingga 47,5% dan efisien sampai dengan 2 jam. Sehingga nanofiber PVA/Gelatin dapat dijadikan acuan biomaterial sebagai penutup luka. Kata Kunci: Nanofiber, PVA, Gelatin, antimikroba Abstract Microorganisms exposed to the surface cause the need for the development of nanofiber-based antimicrobial agents. Nanofiber is widely applied to biomedical products, one of which is as a wound dressing. Nanofiber produced from a solution of polyvinyl alcohol (PVA) and gelatin with an electrospinning process. The fiber is subjected to voltage variations of 17 kV, 20 kV, and 23 kV. Characterized by optical microscopy, SEM, EDX, FTIR, UV-Vis, and antimicrobial activity. The size of the nanofiber diameter as measured by optical microscopy decreased with increasing stress. UV-Vis spectroscopy showed that nanofibers made from PVA/Gelatin produced nanofibers with high absorbance as the UV radiation power was added. The FTIR spectrum with a wave range of 400-4000 cm-1 shows visible functional groups, namely, O-H stretching, C-H stretching, C-O stretching, C=O stretching and C-H bending. The morphology and distribution of PVA/Gelatin was shown by SEM with diameters ranging from 140 – 160 nm, with elements contained in the EDX spectrum namely C, O, and N respectively 29.96%, 8.76%, and 61.28%. Effective antimicrobial activity up to 47.5% and efficient up to 2 hours. So that PVA/Gelatin nanofibers can be used as a reference for biomaterials as wound dressings. Keywords: Nanofiber, PVA, Gelatin, antimicrobial
Nanofiber PVA/Kitosan Sebagai Wound Dressing Indah Yuliani; Diah Hari Kusumawati
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) Vol 11 No 3 (2022): ARTICEL INPRESS
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Nanoteknologi adalah ilmu pengetahuan yang mengalami perkembangan pesat, salah satunya dibidang nanofiber. Dalam bidang kesehatan nanofiber dapat diaplikasikan sebagai wound dressing. PVA dapat diaplikasikan sebagai wound dressing karena sifatnya yang tidak beracun, namun PVA memiliki kelemahan yakni hidrofisilitas yang tinggi sehingga mempengaruhi sifat mekanik dari PVA. Oleh sebab itu PVA perlu dikompositkan dengan polimer lain yaitu kitosan. Kitosan digunakan untuk meningkatkan viskositas dan memiliki karakteristik yakni sifat biokompatibel dan antimikroba. Pembuatan komposit nanofiber PVA/Kitosan dilakukan dengan menggunakan metode elektrospinning. Kemudian nanofiber dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), UV Vis Spectroscopy, Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-Ray (SEM), Energy Dispersive X-Ray (EDX), Antibacterial Assay. Nanofiber yang dihasilkan dari proses elektrospinning menunjukkan komposit nanofiber PVA/Kitosan pada tegangan 21 kV memiiliki nilai absorbansi yang tinggi dengan rentang panjang gelombang 200-300 nm. Komposit nanofiber menunjukkan bahwa terdapat kandungan gugus fungsi dari PVA dan komposit nanofiber PVA/Kitosan. Nanofiber PVA/Kitosan pada tegangan 21 kV dapat digunakan sebagai wound dressing, hal ini dikarenakan ukuran diameter dari fibers yaitu sebesar 130,1 nm, homogen, rapat, serta permukaan halus tanpa beads berdasarkan karakterisasi SEM. Komposit nanofiber PVA/Kitosan efektif digunakan sebagai wound dressing yakni pada waktu inkubasi jam ke-3 dengan efisiensi 78,8% berdasarkan uji antibakteri yang telah dilakukan. Kata Kunci: PVA, kitosan, nanofiber, elektrospinning, wound dressing Abstract Nanotechnology is a science that is experiencing rapid development, one of which is in the field of nanofibers. In the health sector, nanofiber can be applied as a wound dressing. PVA can be applied as a wound dressing because it is non-toxic, but PVA has the disadvantage of high hydrophilicity, whic affects the mechanical properties of PVA. Therefore, PVA needs to be composed with other polymers, namely chitosan. Chitosan is used to increase viscosity and has the characteristics of being biocompatible and antimicrobial. The manufacture of PVA/Chitosan nanofiber composites was carried out using the electrospinning method. Then the nanofibers were characterized using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Uv Vis Spectroscopy, Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-Ray (SEM), Energy Dispersive X-Ray (EDX). voltage 21 kV has a high absorbance value with a wavelength range of 200-300 nm. The nanofiber composites showed that there was a functional group content of PVA and PVA/Chitosan nanofiber composites. PVA/chitosan nanofibers at a voltage of 21 kV can be used as wound dressings, this is because the diameter of the fibers is 130.1 nm, homogeneous, tight, and has a smooth surface without beads based on SEM characterization. PVA/Chitosan nanofiber composites was effeectively used as a wound dressing, namely at the incubation time of 3 hours with an efficiency of 78,8% based on the antibacterial test that had been carried out. Keywords: PVA, chitosan, nanofiber, electrospinning, wound dressing
FABRIKASI DAN KARAKTERISASI NANOFIBER PVA/PVP/KITOSAN SEBAGAI BAHAN DASAR WOUND DRESSING Arsha Bayu Rahanti; Diah Hari Kusumawati
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) Vol 11 No 3 (2022): ARTICEL INPRESS
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Elektrospinning adalah metode yang digunakan untuk menghasilkan serat dengan ukuran diameter dari nanometer hingga mikrometer. Nanofiber yang dihasilkan dapat diaplikasikan sebagai rekayasa jaringan, penghantaran obat pada antikanker, kosmetik, dan sebagai wound dressing. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fabrikasi nanofiber PVA/PVP/Kitosan dapat dijadikan sebagai bahan dasar wound dressing. Fabrikasi nanofiber tersebut dilakukan dengan menggunakan metode elektrospinning. Parameter proses elektrospinning menggunakan laju alir 1 ml/jam, jarak jarum antar kolektor sejauh 15 cm, serta variasi tegangan sebesar 15 kV, 18 kV, dan 21 kV. Hasil yang didapatkan akan dikarakterisasi menggunakan MO, UV-Vis, FT-IR, SEM-EDX, dan antibakteri. Berdasarkan hasil karakterisasi MO menunjukkan bahwa semakin tinggi tegangan yang disuplai antara drum kolektor dan jarum, maka ukuran diameter nanofiber tersebut semakin kecil. Hasil Uv-Vis menunjukkan bahwa fabrikasi ini mampu menyerap cairan yang berasal dari cairan pada luka dan cairan disekitar luka. Hasil FTIR diperoleh gugus fungsi O-H stretch pada puncak serapan PVA, gugus fungsi N-H bend pada puncak serapan kitosan dan gugus fungsi C-O stretch pada puncak serapan PVP. Karakterisasi SEM menunjukkan bentuk morfologi permukaan yang halus dan ukuran diameter serat pada PVA 10% sekitar 210-225 nm mengalami penurunan pada PVA/PVP/Kitosan 18 kV sekitar 170-195 nm. Hasil EDX menunjukkan bahwa material pembentuk polimer PVA, PVP, dan kitosan terdapat pada fabrikasi nanofiber ini. Hasil antibakteri pada sampel PVA/PVP/Kitosan tegangan 18 kV menggunakan bakteri S.aereus dengan konsentrasi 100 µl/ml menghasilkan efisiensi antibakteri tertinggi sebesar 56,8% dalam waktu inkubasi 3 jam. Kata Kunci: Elektrospinning, Nanofiber, Wound Dressing Abstract Electrospinning is a method used to produce fibers with diameters from nanometers to micrometers. The resulting nanofibers can be applied as tissue engineering, drug delivery in anticancer, cosmetics, and as wound dressings. This study aims to determine the fabrication of PVA/PVP/Chitosan nanofibers that can be used as a basic material for wound dressings. The nanofiber fabrication was carried out using the electrospinning method. The electrospinning process parameters used a flow rate of 1 ml/hour, a needle distance between collectors of 15 cm, and a voltage variation of 15 kV, 18 kV, and 21 kV. The results obtained will be characterized using MO, UV-Vis, FT-IR, SEM-EDX, and antibacterial. Based on the results of MO characterization, it shows that the higher the voltage supplied between the collector drum and the needle, the smaller the diameter of the nanofiber. Uv-Vis results show that this fabrication is able to absorb fluids from the fluid in the wound and the fluid around the wound. FTIR results obtained O-H stretch functional group at the peak of PVA absorption, N-H bend functional group at the peak of chitosan absorption and C-O stretch functional group at the peak of PVP absorption. SEM characterization showed a smooth surface morphology and fiber diameter at 10% PVA around 210-225 nm decreased at 18 kV PVA/PVP/Chitosan around 170-195 nm. The EDX results show that the polymer-forming materials of PVA, PVP, and chitosan are present in this nanofiber fabrication. Antibacterial results on 18 kV PVA/PVP/Chitosan samples using S.aereus bacteria with a concentration of 100 l/ml resulted in the highest antibacterial efficiency of 56,8% within 3 hours of incubation. Keywords: Electrospinning, Nano Fiber, Wound Dressing
IoT MONITORING KUALITAS AIR DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR SUHU, pH, DAN TOTAL DISSOLVED SOLIDS (TDS) Fanharis Chuzaini; Dzulkiflih Dzulkiflih
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) Vol 11 No 3 (2022): ARTICEL INPRESS
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air dapat dikatakan berkualitas untuk keperluan higiene sanitasi jika memenuhi beberapa syarat, termasuk diantaranya adalah suhu (±3 °C dari suhu udara dimana tempat air berada), pH (6,5-9,5), dan TDS (<1000 ppm). Untuk memudahkan pengukuran suhu, pH, dan TDS air, maka dalam penelitian ini dikembangkan alat dengan teknologi IoT untuk memonitor ketiga parameter tersebut. Sampel air uji diambil dari salah satu sumur warga di Desa Wedi, Kapas, Bojonegoro, Sumber Mata Air Grogolan Desa Ngunut, Dander, Bojonegoro, Sendang Tirta Arum di Desa Sumberarum, Dander, Bojonegoro, Pantai Sowan di Kabupaten Tuban, dan salah satu Sumur Warga di Desa Sambiroto, Kapas, Bojonegoro. Sensor input yang digunakan pada penelitian ini adalah sensor suhu DS18B20, sensor pH dengan pH modul DIY 4502-C, dan Gravity TDS sensor DFRobot. Kemudian input dari sensor diproses oleh mikrokontroler ESP32 dan hasilnya akan ditampilkan pada LCD dan di smartphone dengan aplikasi Blynk. Hasil dari pengukuran alat yang dikembangkan kemudian dibandingkan dengan alat ukur SNI, untuk termometer (Seri 06-6989.23-2005), pH meter (Seri 06-6989.11-2004), dan TDS meter (Seri 06-6989.27:2004). Akurasi pengukuran yang didapatkan dari alat yang dikembangkan ini sangat baik, yaitu berkisar antara 98,28-100%. Kemudian, hasil pengukuran dari kelima tempat yang diambil sampelnya memiliki kualitas suhu yang baik (29-31 °C) dan TDS yang baik (318-551 ppm). Namun, air dari Sendang Tirta Arum di Desa Sumberarum dan sumber mata air Grogolan di Desa Ngunut memiliki kualitas pH air yang kurang baik, dengan nilai pH masing-masing adalah 9,8 dan 8,7. Kata Kunci: Kualitas Air, IoT, Sensor Suhu, Sensor pH, Sensor TDS, Higiene sanitasi Abstract Water can be said to be of good quality for sanitation hygiene purposes if it meets several requirements, including temperature (±3 °C from the air temperature where the water is located), pH (6.5-9.5), and TDS (<1000ppm). To facilitate the measurement of water temperature, pH, and TDS, in this study a tool with IoT technology was developed to monitor these three parameters. Water samples were taken from one of the residents' wells in Wedi Village, Kapas, Bojonegoro, Grogolan Springs, Ngunut Village, Dander, Bojonegoro, Sendang Tirta Arum in Sumberarum Village, Dander, Bojonegoro, Sowan Beach in Tuban Regency, and one of the Residents' Wells. in Sambiroto Village, Kapas, Bojonegoro. The input sensors used in this research are the DS18B20 temperature sensor, the pH sensor with the DIY module pH 4502-C, and the Gravity TDS sensor DFRobot. Then the input from the sensor is processed by the ESP32 microcontroller and the results will be displayed on the LCD and on the smartphone with the Blynk application. The results of the measurement tools developed were then compared with SNI measuring instruments, for thermometers (Series 06-6989.23-2005), pH meters (Series 06-6989.11-2004), and TDS meters (Series 06-6989.27:2004). The measurement accuracy obtained from this developed tool is very good, ranging from 98.28-100%. Then, the measurement results from the five samples taken had good temperature quality (29-31 °C) and good TDS (318-551 ppm). However, water from Sendang Tirta Arum in Sumberarum Village and Grogolan spring in Ngunut Village has poor water pH quality, with pH values ​​of 9.8 and 8.7, respectively. Keywords: Water Quality, IoT, Temperature sensor, pH sensor, TDS sensor, Sanitary hygiene
Pencitraan Rupture Gempa Bumi Sumatra 10 Januari 2012 Mw 7.2 Menggunakan Metode Multiple Signal Classification Back Projection (MUSICBP) MADLAZIM MADLAZIM; Daniar Kartika
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) Vol 11 No 3 (2022): ARTICEL INPRESS
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Gempa bumi Sumatra 10 Januari 2012 dengan kekuatan Mw 7.2 merupakan salah satu dari rangkaian gempa bumi Sumatra 2012 yang berlokasi di dekat antarmuka zona subduksi atau ~400 km dari barat laut Sumatra Utara di sisi laut Sunda Megathrust di dalam Cekungan Wharton, dimana terdapat zona patahan lama yang kembali aktif akibat dari aktivitas subduksi pada area tersebut sehingga sering kali terjadi gempa bumi dengan kekuatan yang besar seperti rangkaian gempa bumi Sumatra 2012, untuk itu dilakukan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik rupture dari gempa bumi Sumatra 10 Januari 2012 Mw 7.2, dengan diketahuinya karakteristik rupture tersebut dapat digunakan untuk mengetahui gempa susulan yang mungkin terjadi setelah peristiwa gempa bumi tersebut sehingga dapat dimanfaatkan sebagai upaya mitigasi bencana gempa bumi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan data sinyal yang terekam oleh stasiun seismik pada AU array dengan jumlah stasiun sebanyak 106 stasiun dan difilter menggunakan frekuensi tinggi sebesar 0.5-1.0 Hz pada tahap cross corelation diolah menggunakan metode Multiple Signal Clasification Back Projection (MUSICBP) didapatkan hasil karakteristik rupture berupa arah rambat rupture yang merambat secara unilateral ke arah barat laut dengan durasi rupture selama ~40s, dengan begitu dapat diketahui kecepatan rupture dari grafik regresi linear hubungan jarak dari radiator frekuensi tinggi ke episenter terhadap waktu selama 40s yaitu sebesar 1.9 km/s, kecepatan rupture tersebut termasuk ke dalam kategori lambat untuk sebuah gempa besar dengan kedalaman dangkal. Kata Kunci: Gempa bumi, Sumatra, rupture, back projection, MUSICBP Abstract The 10 January 2012 Sumatra earthquake with a magnitude of Mw 7.2 is one of a series of 2012 Sumatra earthquakes located near the interface of the subduction zone or ~400 km northwest of North Sumatra on the sea side of the Sunda Megathrust within the Wharton Basin, where there is an old fault zone. which is reactivated as a result of subduction activity in the area so that earthquakes with large strength often occur such as the 2012 Sumatra earthquake series, for this reason this study was conducted to determine the rupture characteristics of the Sumatran 10 January 2012 Mw 7.2 earthquake, by knowing the rupture characteristics This data can be used to find out aftershocks that may occur after the earthquake so that it can be used as an effort to mitigate earthquake disasters. Based on research conducted using signal data recorded by seismic stations on the AU array with a total of 106 stations and filtered using a high frequency of 0.5-1.0 Hz at the cross-correlation stage processed using the Multiple Signal Classification Back Projection (MUSICBP) method, the characteristic results obtained rupture in the form of a rupture propagation direction that propagates unilaterally to the northwest with a rupture duration of ~40s, so that the rupture speed can be seen from the linear regression graph of the relationship between the distance from the high-frequency radiator to the epicenter of the time for 40s, which is 1.9 km/s, speed The rupture is included in the slow category for a large earthquake with a shallow depth. Keywords: Earthquake, Sumatra, rupture, back projection, MUSICBP
ESTIMASI PARAMETER a-VALUE DAN b-VALUE UNTUK ANALISIS STUDI SEISMISITAS DAN POTENSI BAHAYA BENCANA GEMPA TEKTONIK DI WILAYAH MALUKU UTARA Hilda Risanti; Tjipto Prastowo
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.849 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v10n1.p1-10

Abstract

Abstrak Studi seismisitas dan analisis potensi bahaya bencana seismik di wilayah Maluku Utara dapat dilakukan dengan menentukan parameter a-value dan b-value di wilayah tersebut. Kedua parameter mendiskripsikan level seismisitas dan akumulasi stres mekanik yang disimpan oleh batuan geologi bawah permukaan di wilayah tersebut. Secara prinsip, parameter a-value dan b-value ditentukan dari distribusi frekuensi-magnitudo gempa melalui hukum Gutenberg-Richter. Dalam penelitian ini, hukum Gutenberg-Richter diterapkan pada sumber gempa tektonik dari katalog gempa USGS (http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/) selama 2009-2019 dengan kedalaman mencapai 551 km dan variasi magnitudo . Kedua parameter dihitung dengan metode least-squares dan maximum likelihood, di mana perbedaan signifikan a-value dan b-value menurut kedua metode tersebut merefleksikan level akurasi kedua metode tersebut. Metode maximum likelihood memberikan a-value dan b-value yang lebih akurat karena melibatkan penapisan data sebelum proses pengolahan data. Persamaan empiris Gutenberg-Richter yang diperoleh dari metode maximum likelihood adalah , di mana a = 9,73 dan b = 1,39 dengan adalah jumlah kejadian gempa dan adalah gempa dengan magnitudo lebih besar dari (batas bawah magnitudo di mana hukum Gutenberg-Richter berlaku valid). Analisis variasi spasial dan temporal b-value serta variasi spasial a-value berhasil merekonstruksi 3 kejadian gempa relatif besar antara 2009-2019. Kombinasi temuan b-value ≈ 1,4, a-value ≈ 9,7 dan a-value (annual) ≈ 8,7 dengan bantuan ZMAP6,0 menunjukkan bahwa seluruh wilayah Maluku Utara merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana gempa dengan frekuensi gempa tinggi yang dipicu seismisitas relatif tinggi di wilayah tersebut. Temuan ini memicu peningkatan kesadaran dan kesiagaan terhadap potensi bahaya bencana gempa tektonik di Maluku Utara. Kata Kunci: seismisitas, bencana seismik, a-value, b-value, hukum Gutenberg-Richter Abstract Seismic studies and corresponding seismic hazard analysis in North Maluku can be performed using determination of a-value and b-value parameters. These parameters describe seismicity level and mechanical stress accumulated in subsurface structure in the region of interest. In principle, a-value and b-value were obtained from frequency-magnitude distribution provided by Gutenberg-Richter law. In this study, this law was generated using earthquake datasets from USGS at http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/, where events occurred between 2009-2019 with varying magnitudes and depths to 551 km. The methods included the least-squares and maximum likelihood, where significant differences in the parameters acquired reflect levels of accuracy. The maximum likelihood method yielded accurate results for a-value and b-value due to data declustering prior to data processing. The Gutenberg-Richter law in a log-linear expression was obtained, where a = 9.73 and b = 1.39 with is the cumulative number of occurence and denotes events with magnitudes greater than (defined as the magnitude at which the lower end of the distribution starts to deviate from the Gutenberg-Richter law). Analysis of spatial and temporal variations of b-value and spatial variation of a-value successfully reconstructed 3 occurrences of large magnitudes during 2009-2019. A combined finding of b-value ≈ 1,4, a-value ≈ 9,7 dan a-value (annual) ≈ 8,7 by ZMAP6.0 found for North Maluku reveals that the whole parts of the region are vulnerable to tectonic earthquakes with high frequency owing to relatively high seismicity. This calls for increased awareness of and preparedness for possible seismic threats in North Maluku. Keywords: seismicity, seismic hazard, a-value, b-value, Gutenberg-Richter law
PENENTUAN PARAMETER SEISMIK a-VALUE DAN b-VALUE UNTUK ANALISIS POTENSI BENCANA GEMPA DI WILAYAH MALUKU Teti Apriliani; Tjipto Prastowo
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.473 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v10n1.p11-20

Abstract

Abstrak Kerentanan wilayah Maluku terhadap bencana gempa dipelajari melalui analisis potensi bahaya bencana gempa dengan menentukan parameter seismik a-value dan b-value yang diperoleh dari data statistik gempa tektonik yang terjadi di wilayah tersebut selama kurun waktu tertentu. Kedua parameter seismik mendiskripsikan level seismisitas dan stress mekanik yang disimpan dalam lipatan batuan bawah permukaan. Secara prinsip, kedua parameter ditentukan dari distribusi frekuensi-magnitudo gempa dengan bantuan hukum Gutenberg-Richter. Pada penelitian ini, data sekunder distribusi frekuensi-magnitudo gempa diperoleh dari katalog USGS (http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/search/) dengan variasi kedalaman sumber sampai 625 km di bawah permukaan dan variasi magnitudo gempa selama kurun waktu 2009-2019. Perhitungan parameter a-value dan b-value dilakukan dengan metode kuadrat terkecil dan maximum likelihood untuk uji konsistensi dan reliabilitas estimasi kedua parameter tersebut. Estimasi berdasarkan metode maximum likelihood memberikan hasil yang lebih akurat dan stabil karena melibatkan penapisan data sebelum proses pengolahan data dilakukan. Berdasarkan hasil analisis diperoleh persamaan empiris Gutenberg-Richter dengan metode maximum likelihood adalah , di mana dan dengan adalah frekuensi kejadian gempa dan adalah magnitudo yang lebih besar dari , batas bawah magnitudo di mana hukum Gutenberg-Richter masih berlaku. Akurasi hasil estimasi a-value dan b-value dijamin melalui penentuan yang akurat, di mana = 5,0 diperoleh dari plot distribusi frekuensi-magnitudo gempa. Berdasarkan nilai parameter a-value dan b-value, dapat disimpulkan bahwa wilayah Maluku memiliki level seismisitas yang relatif tinggi dan rentan terhadap potensi bencana gempa tektonik yang dipicu oleh aktivitas seismo-tektonik patahan lokal Sorong dan dua zona mikro-subduksi Busur Sangihe dan Busur Halmahera. Kata Kunci: seismisitas Maluku, gempa tektonik, a-value, b-value, hukum Gutenberg-Richter Abstract The vulnerability of Molucca to seismic hazards can be examined through analysis of earthquake-event potential in the region. This analysis can be performed by determining parameters a-value and b-value acquired from datasets of events during a time period, describing seismicity rate and mechanical stress accumulated within local crustal rocks. These parameters were estimated using the Gutenberg-Richter law in this study using frequency-magnitude distribution obtained from the USGS catalog at http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/search/ with varying depths to 625 km below the surface and earthquake sizes during 2009-2019. The calculations were carried out using two separate methods, the least squares and the maximum likelihood to search for consistency and reliability of the results. Estimates using the maximum likelihood method provides results that are more accurate and stable due to data filtering prior to data processing. Using the maximum likelihood method selected, the Gutenberg-Richter empirical equation was found to be , where and with denotes the event frequency and represent magnitudes greater than , defined as the lower end of magnitudes above which the Gutenberg-Richter law applies. The accuracy in a-value and b-value estimates was provided by accurate determination of = 5,0 directly obtained from the plot of the frequency-magnitude distribution. Based on the calculated parameters, it can be concluded that Molucca is in the relatively high level of seismicity and prone to seismic threats owing to a combined effect of seismo-tectonic activities from both a local active Sorong fault and subduction processes of Sangihe arc and Halmahera arc. Keywords: Molucca seismicity, tectonic earthquake, a-value, b-value, Gutenberg-Richter law
RANCANG BANGUN ALAT PENGUKUR FREKUENSI RESONANSI DAN CEPAT RAMBAT GELOMBANG PADA DAWAI MENGGUNAKAN SENSOR PICK UP MAGNETIK Friska Dwi Kusuma Wardani; Imam Sucahyo; Metayanti Dewi
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.894 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v10n1.p21-28

Abstract

Abstrak Pengukuran frekuensi resonansi yang sesuai dengan hukum Marsenne dan cepat rambat gelombang dapat dilakukan menggunakan sonometer. Sonometer dapat diterapkan pada alat praktikum laboratorium instrumentasi. Metode pengukuran tersebut yaitu dawai dengan massa per satuan panjang sebesar 0,39; 0,78 dan 1,12 kg/m diletakkan di atas kayu sepanjang 80 cm secara bergantian yang diberi beban di ujung serta pengait di ujung lainnya dengan menambahkan komponen driver coil yang disambungkan dengan sumber input AFG (Audio Frequency Generator) dan dua bridge. Gelombang merambat melalui dawai dan dideteksi oleh sensor pick up magnetik yang disambungkan dengan osiloskop. Pengukuran frekuensi resonansi dilakukan dengan memanipulasi massa per satuan panjang dawai (0,39; 0,78 dan 1,12 kg/m) dan jarak antara driver coil dengan sensor pick up magnetik (0,39 dan 0,18 m). Ketiga manipulasi massa per satuan panjang dawai untuk jarak 0,3 m menghasilkan frekuensi 220,48; 264,20 dan 373,63 Hz serta untuk jarak 0,18 m menghasilkan frekuensi 36,75; 44,03 dan 62,27 Hz. Pengukuran tersebut membuktikan bahwa semakin pendek jarak maka didapatkan frekuensi resonansi yang semakin besar, sedangkan semakin kecil massa per satuan panjang pada dawai maka semakin besar frekuensi resonansi. Kedua hal tersebut sesuai dengan hukum marsenne. Pengukuran cepat rambat gelombang dilakukan dengan memanipulasi massa persatuan panjang dawai 0,39; 0,78 dan 1,12 kg/m. Ketiga manipulasi tersebut diperoleh 354,46; 250,64 dan 209,17 m/s. Oleh karena itu, dapat dijelaskan bahwa semakin kecil massa persatuan panjang dawai maka semakin cepat gelombang merambat. Kata Kunci: Frekuensi resonansi, cepat rambat gelombang, sensor pick up magnetic, massa per satuan panjang, jarak antara driver coil dengan sensor pick up magnetik Abstract Measurement of the resonant frequency in accordance with Marsenne's law and the propagation of the waves was carried out using a sonometer. Sonometer can be applied to laboratory instrumentation lab tools. The measurement method is a string with a mass per unit length of 0.39; 0.78 and 1.12 kg / m are placed on the wood along 80 cm alternately which is loaded at the end and the hook at the other end by adding a coil driver component connected to the AFG (Audio Frequency Generator) input source and two bridges. The waves propagate through the strings and are detected by a magnetic pick-up sensor connected to an oscilloscope. Resonant frequency measurements were performed by manipulating the mass per unit length of the string (0.39; 0.78 and 1.12 kg / m) and the distance between the driver coil and the magnetic pick-up sensor (0.39 and 0.18 m). The three manipulations of mass per unit length of string for a distance of 0.3 m yield a frequency of 220.48; 264.20 and 373.63 Hz and for a distance of 0.18 m the resulting frequency is 36.75; 44.03 and 62.27 Hz. These measurements prove that the shorter the distance, the greater the resonant frequency is obtained, while the smaller the mass per unit length of the string, the greater the resonant frequency. Both of these are in accordance with Marsenne's law. Measurement of the velocity of the wave propagation is done by manipulating the mass of the length of the string 0.39; 0.78 and 1.12 kg / m. The three manipulations were obtained 354.46; 250.64 and 209.17 m / s. Therefore, it can be explained that the smaller the united mass of the strings, the faster the waves propagate. Keywords: Resonant frequency, wave velocity, magnetic pick up sensor, mass per unit length, distance between coil driver and magnetic pick up sensor
ANALISIS PANDU GELOMBANG OPTIK MODEL Y-BRANCH DENGAN FILM TIN (IV) OXIDE NANO SEBAGAI DIVAIS OPTOELEKTRONIKA Novita Dwi Rahayu; Asnawi .
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI) Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.162 KB) | DOI: 10.26740/ifi.v10n1.p29-35

Abstract

Abstrak Pandu gelombang optik adalah salah satu piranti pasif yang penting dalam sistem fotonika dan jaringan komunikasi optik. Piranti dalam pandu gelombang optik dapat mentransmisikan dan memodifikasi sinyal optik dari satu titik ke titik lain yang dapat berfungsi sebagai pembagi daya (power divider), directional coupler, optical combiner, dan optical switch. Tujuan penelitian ini adalah memfabrikasi pandu gelombang optik model Y-branch berbasis material Tin (IV) Oxide (SnO2). Pandu gelombang optik model Y-branch dibuat dengan menggunakan metode laser cutting, dimana substrat pandu gelombang optik adalah akrilik dengan film/core pandu gelombang adalah SnO2 dan PMMA sebagai cladding. Proses kerja laser cutting yaitu dengan memfokuskan sinar laser pada substrat akrilik yang ingin dipotong dengan ukuran 25x15 mm2. Setelah proses pemotongan akrilik kemudian material SnO2 berupa gel dimasukkan ke dalam pandu gelombang Y-branch. Pengukuran output pandu gelombang Y-branch­ dilakukan dengan mengambil gambar laser dari penampang melintang (cross section) pada pandu gelombang kemudian diolah menggunakan perangkat lunak Image-J. Grafik pada perangkat lunak Image-J dapat digunakan untuk menganalisis hasil penelitian. Laser He-Ne dengan panjang gelombang sebesar 632,8 nm sebagai sumber cahaya masukan pada pandu gelombang optik Y-branch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai intensitas output 1 dan output 2 yang optimum dari pandu gelombang optik model Y-branch terdapat pada sudut percabangan 50 yaitu sebesar 58,8% (kanal 1) dan 41,2% (kanal 2), hal ini menggambarkan bahwa pandu gelombang Y-branch dengan sudut 50 merupakan pandu gelombang optik yang memiliki nilai luaran yang optimum sebagai pembagi daya (power divider). Dengan demikian, pandu gelombang optik model Y-branch berbasis material Tin (IV) Oxide berpotensi untuk terus dikembangkan sebagai bahan utama pada divais optoelektronika. Kata Kunci: pandu gelombang, pembagi daya, SnO2, laser cutting Abstract Optical waveguides are one of the most important passive devices in photonic systems and optical communication networks. Devices in optical waveguides can transmit and modify optical signals from one point to another which can function as a power divider, directional coupler, optical combiner, and optical switch. The purpose of this research is to fabricate a Y-branch model optical waveguide based on Tin (IV) Oxide (SnO2) material. The Y-branch optical waveguide model is made using laser cutting method, where the optical waveguide substrate is acrylic with the film/core is SnO2 and PMMA as cladding. The work process of laser cutting is by focusing the laser beam on the acrylic substrate to cut with a size of 25x15 mm2. After the acrylic cutting process, the SnO2 material in the form of gel is injected into the Y-branch waveguide. Measurement of the Y-branch waveguide output is done by taking a laser image from the cross section of the waveguide and then processing it using Image-J software. Graphics in Image-J software can be used to analyze research results. He-Ne laser with a wavelength of 632.8 nm as an input light source on a Y-branch optical waveguide. The results showed that the optimum intensity value from the Y-branch optical waveguide model at a branching angle of 50 with 58.8% (channel 1) and 41.2% (channel 2), this illustrates that the Y-branch waveguide with an angle of 50° is an optical waveguide that has an optimum output value as a power divider. Thus, the Y-branch optical waveguide model based on Tin (IV) Oxide material has the potential to be developed as the main material in optoelectronic devices. Keywords: waveguide, power divider, SnO2, laser cutting

Page 1 of 30 | Total Record : 300