cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 2614498     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 62 Documents
Tingkat Pengetahuan dan Harapan Warga Sekolah Terhadap Program Usaha Kesehatan Sekolah di Tingkat Sekolah Dasar Kota Yogyakarta Sri Mulyani; Erni Dwiwahyuni; Ana Trisnawati Wimbagya; Oldy Mutiara Dewi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.205 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.29010

Abstract

Background: School is a foremost place for students to do their activities besides home. Thus, health services which target school aged children would be more effective if conducted at school. Goverment has carried out the school-based health centre program in every school including in elementary level, however the implementation was still disobediently. Therefore, it is necessary to investigate the level of knowledge as well as expectation of school society regarding School-based health centre program.Objective: to investigate the level of knowledge toward the implementation of the school- based health centre program as well as their expectation regarding the program.Methods: this is a survey research to investigate knowledge and hope of teachers, parents and students regarding the implementation of school-based health centre program. Using clustered random sampling method, 842 respondents were recruited including 384 students, 352 parents and 106 teachers. Quessionaire were modi ed from school strati cation evaluation form for primary school level by Health Department 2013.Results: knowledge level of the school society towards School-based health centre program was 61,89% in general indicator, 78,78% in health eduation indicator and 71,48% respectively in healthy environtment indicator. In addition, their expectation regarding the program was high (3,27 out of 4).Conclusion: School society has a good knowledge and great expectation towards the implementation of the school-based health centre program.ABSTRAKLatar Belakang: Sekolah merupakan tempat utama yang digunakan anak untuk melakukan aktivitasnya selain di rumah. Oleh sebab itu, pemberian pelayanan kesehatan dengan target anak usia sekolah akan lebih efektif jika dilakukan di sekolah. Pemerintah telah mencanangkan adanya program UKS di Sekolah-sekolah, akan tetapi selama ini pelaksaan program tersebut masih belum optimal. Untuk itu perlu dicari tahu bagaimana sebenarnya pengetahuan warga sekolah terhadap UKS dan harapan mereka terhadap adanya program UKS.Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan harapan warga sekolah tentang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di Sekolah Dasar Wilayah Kota Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian survey untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan harapan guru, siswa dan orang tua siswa terhadap pelaksanaan UKS. Dengan metode cluster random sampling diperoleh sebanyak 842 responden yang terdiri dari 384 siswa, 352 orangtua siswa dan 106 guru. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini merupakan modi kasi dari lembar evaluasi strati kasi UKS tingkat SD dari Dinas kesehatan 2013.Hasil : Rata-rata tingkat pengetahuan warga sekolah tentang UKS pada indikator pengetahuan umum sebesar 61,89%, pendidikan kesehatan sebesar 78,78% dan pelayanan kesehatan sebesar 71,48%, serta pembinaan lingkungan sehat sebesar 75,22%. Sementara rerata harapan warga sekolah terkait TRIAS UKS sebesar 3,27 (rentang nilai 1-4) yang artinya harapannya tinggi/besar.Kesimpulan: tingkat pengetahuan warga sekolah tentang program UKS dalam kategori baik dan secara umum terdapat harapan yang sangat besar dari warga sekolah terhadap pelaksanaan program UKS.
Perbandingan Antara Diagnosis yang Sering Ditegakkan dan Possible Diagnosis yang Diprediksikan oleh Perawat Pada Klien dengan Gangguan Jiwa Intansari Nurjannah; Dewi Retno Pamungkas; Sri Warsini
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.393 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.29011

Abstract

Background: There is not enough information related to the accuracy of nursing and collaborative diagnoses established by nurses in psychiatric setting in Indonesia.Objective: The objective of this study was to identify the correspondence between nursing and collaborative diagnoses established and predicted by nurses.Methods: This was a descriptive cross-sectional study which employed 81 nurse respondents. Data were collected in 2013 using two types of questionnaires. The rst questionnaire was used to identify the most frequent nursing and collaborative diagnoses encountered by the nurses. The second questionnaire was used to identify data which were most frequently identi ed by the nurses. The second questionnaire was developed based on the sequence in the Intan’s Screening Diagnosis Assessment (ISDA).Results: The results indicated that there were 46 nursing diagnosis labels established by the nurses. Of the 46 nursing diagnosis labels, only 13 (28.26%) corresponded precisely to the labels in North American Nursing Diagnoses Association (NANDA) taxonomy (2012-2014) of nursing diagnoses. As many as 11 diagnoses (23.91%) could be included as key concepts (or diagnostic foci) in NANDA taxonomy. However, these nursing diagnosis labels did not written correctly as in NANDA labels. There were also 22 diagnosis (47%) labels not listed in NANDA taxonomy.Conclusion: The majority of nursing diagnosis labels did not match with nursing diagnosis labels in NANDA taxonomy. ABSTRAKLatar belakang: Belum banyak informasi terkait akurasi diagnosis keperawatan dan kolaboratif yang dibuat perawat dalam setting keperawatan jiwa di Indonesia.Tujuan: Tujuan dari peneltian ini untuk mengidenti kasi kesesuaian antara diagnosis keperawatan dan kolaboratif yang sudah ditegakkan dan yang diduga oleh perawat. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yang melibatkan 81 responden perawat. Data dikumpulkan pada tahun 2013 menggunakan 2 kuesioner. Kuesioner pertama digunakan untuk mengetahui diagnosis keperawatan dan kolaboratif yang paling sering ditegakkan oleh perawat. Kuesioner kedua digunakan untuk mengidenti kasi data yang paling sering ditemukan oleh perawat. Kuesioner kedua dikembangkan berdasarkan Intan’s Screening Diagnosis Assessment (ISDA).Hasil: Dari hasil penelitian didapati terdapat 46 label diagnosis keperawatan dibuat oleh perawat. Dari 46 label diagnosis keperawatan hanya 14 label diagnosis (28,26%) yang sesuai dengan label diagnosis berdasarkan taxonomi North American Nursing Diagnoses Association (NANDA) (2012-2014). Sebanyak 11 diagnosis (23,91%) dapat tercakup sebagai konsep penting (atau fokus diagnostik) dalam taksonomi NANDA. Namun label diagnosis keperawatan tersebut tidak dituliskan secara benar sesuai label NANDA. Selain itu ada juga 22 label diagnosis yang dituliskan tidak sesuai taksonomi NANDA.Kesimpulan: Mayoritas label diagnosis keperawatan yang dituliskan perawat tidak sesuai dengan label diagnosis keperawatan dalam taksonomi NANDA.
Hubungan Pelaksanaan Perawatan Indweling Kateter dengan Kejadian Infkesi Saluran Kemih Melyza Perdana; Haryani Haryani; Khudazi Aulawi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.25 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.29012

Abstract

Background: Nosocomial infection is the most common problem occurs among 9% of 1,4 million hospitalized patients in the world. Urinary tract infections (UTIs) account for up to 40% of nosocomial infections which are reported by acute-care hospitals every year. Objective: The objective of this study was to identify the association between indwelling catheter care and urinary tract infections in internal ward of Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta. Methods: This was a non experimental study with cross-sectional design. The subjects of this study were 27 patients who had indwelling catheter inserted in internal ward of Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta chosen by total sampling technique. Data were obtained from checklist that was arranged based on literature and catheter care procedures in Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta. Results: The results of the study showed that 18 of 27 patients who had indwelling catheter inserted had UTIs. The p value resulted from chi-square test was 0,023 (p<0,05). Statistically, this study showed that there was an association between indwelling catheter care and UTIs. There were some of catheter care procedures that had not well-implemented yet by the nurses, such as daily catheter care procedure (37%), hand washing before and after the procedure (49,4%), using gloves in every catheter contact (39,5%), cleaning the meatus and catheter with antiseptic (40,7%), and ensuring the catheter bag did not touch the oor (18,5%). Conclusion: There was an association between indwelling catheter care and UTIs in internal ward of Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta. ABSTRAKLatar belakang: Infeksi nosokomial merupakan masalah global dan menjangkau sekitar 9% lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia. Infeksi saluran kemih merupakan penyebab 40% dari semua infeksi nosokomial yang dilaporkan oleh rumah sakit perawatan akut tiap tahunnya. Kira-kira 10% dari pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit terpasang kateter, memberikan populasi besar yang beresiko terhadap infeksi saluran kemih yang berhubungan dengan kateter. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pelaksanaan perawatan kateter dengan kejadian infeksi saluran kemih di Bangsal Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental menggunakan rancangan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien yang dipasang kateter di Bangsal Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta yang diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi pelaksanaan perawatan yang disusun berdasarkan prosedur tetap dan dimodi kasi dengan teori yang ada. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18 dari 27 pasien yang diobservasi mengalami infeksi saluran kemih. Dari hasil uji chi square didapatkan nilai p sebesar 0,023 (p<0,05). Secara statistik diketahui bahwa ada hubungan antara pelaksanaan perawatan kateter dengan kejadian infeksi saluran kemih. Belum semua tindakan perawatan kateter dilakukan 100% oleh perawat. Tindakan ini meliputi melakukan perawatan kateter satu kali setiap hari (37%), mencuci tangan sebelum dan sesudah tindakan (49,4%), menggunakan sarung tangan (39,5%), membersihkan daerah meatus dan ujung kateter dekat meatus dengan cairan antiseptik (40,7%), kantung penampung urin tidak menyentuh lantai (18,5%).Kesimpulan: Ada hubungan antara pelaksanaan perawatan indwelling kateter dengan kejadian infeksi saluran kemih di bangsal penyakit dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. 
Pengaruh Pengetahuan, Sikap, Fasilitas, Pengelola Pasar, Terhadap Perilaku Flu Burung pada Pedagang dan Pemotong Unggas Putu Yuni Fitria Dewi; Purwanta Purwanta; Sri Mulyani
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21307.143 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.29014

Abstract

Background: There were 131 cases of bird deaths in Yogyakarta on 12-16 May 2014 due to H5N1 virus. Live poultry market as one of the crucial points in the transmission of avian influenza should be handled seriously. Therefore, it is necessary to know the behaviors of poultry traders and slaughterers working in the market, as those are at high risk of contracting avian influenza.Objective: This research aimed to determine the correlation among knowledge, attitudes, facilities, and market administrators toward behaviors of poultry traders and slaughterers in preventing avian influenza in Terban Market, Yogyakarta.Methods: This was a quantitative research with cross-sectional design. Data were obtained via questionnaires and observations of 100 people consisted of poultry traders and slaughterers in Terban Market chosen by proportionate stratified random sampling technique in September 2014. Data were then analyzed using Somers’D for the bivariate analysis and logistic regression for the multivariate analysis.Results: The results showed that the respondents’ knowledge was high (65%) while attitudes (66%), facilities (53%), behaviors of market administrators (44%), and behaviors of poultry traders and slaughterers (55%) were satisfactory. There were correlation among knowledge (p=0,015), attitudes (p=0,000), facilities (p=0,010), and behaviors of market administrators (p=0,001) toward poultry traders and slaughterers behaviors. Attitudes was the most dominant factor influencing live poultry traders and slaughterers behaviors (OR=7,296). Conclusion: Knowledge, attitudes, facilities, and behaviors of market administrators influenced poultry traders and slaughterers behaviors in preventing avian influenza in Terban Market, Yogyakarta.ABSTRAKPendahuluan: Pada tanggal 12-16 Mei 2014, di Yogyakarta terjadi 131 kasus kematian unggas akibat virus H5N1. Pasar unggas hidup yang merupakan salah satu titik kritis dalam penularan flu burung, harus mendapatkan penanganan yang serius. Untuk itu perlu diketahui perilaku pedagang dan pemotong unggas yang bekerja di pasar sebagai pihak yang beresiko tinggi tertular flu burung.Tujuan: Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pengetahuan, sikap, fasilitas, dan pengeiola pasar terhadap perilaku pencegahan flu burung pada pedagang dan pemotong unggas di Pasar Terban Yogyakarta.Metode: Penelitian berjenis kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan observasi pada 100 orang pedagang dan pemotong unggas di Pasar Terban, dengan teknik proportionate stratified random sampling pada bulan September 2014. Analisis bivariat menggunakan Somers’D, analisis multivariat menggunakan regresi logistik.Hasil: Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan responden tinggi (65%), sedangkan sikap (66%), fasilitas (53%), perilaku pengelola pasar (44%), dan perilaku pedagang dan pemotong unggas (55%) cukup baik. Terdapat pengaruh antara pengetahuan (p=0,015), sikap (p=0,000), fasilitas (p=0,010), pengelola pasar (p=0,001) dengan perilaku pedagang dan pemotong unggas. Sikap adalah faktor yang paling dominan mempengaruhi perilaku pedagang dan pemotong unggas (OR=7,296).Kesimpulan: pengetahuan, sikap, fasilitas, dan perilaku pengelola pasar mempengaruhi perilaku pencegahan flu burung pada pedagang dan pemotong unggas di Pasar Terban, Yogyakarta.
Efek Elektroakupunktur dan Akupunktur Tradisional Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien Low Back Pain Sutono Sutono; Ginus Partadiredja; Mustofa Mustofa
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5808.317 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.29015

Abstract

Background: Low Back Pain (LBP) is a disease affecting many people with high prevalence. Acupuncture is a complementary and alternative medicine that has been recognized as an optional therapy for LBP clinical improvement. There are several methods of treatment with acupuncture on LBP: the traditional one with techniques and methods referring to ancient Chinese medicine, and another method developed from research, which is the electro acupuncture.Objective: This study aimed at comparing the effectiveness of electro acupuncture method and traditional acupuncture in reducing pain in patients with LBP.Methods: This research was a quasy-experimental study with a cohort design. The respondents were LBP patients who visited the acupuncture clinic in Bethesda Hospital. Samples were taken using accidental sampling technique, with as many as 34 people divided into 2 groups: 21 patients with LBP underwent electro acupuncture and 13 others underwent traditional acupuncture method. Before undergoing acupuncture, the pain of the respondents was measured using the Short Form McGill Pain questionnaire (SFMPQ). After respondents underwent acupuncture for 12 times, pain measurements were repeated with SFMPQ. Data were then analyzed using the Mann Whitney test.Results: In both groups of acupuncture therapy, it was found that the results of electro acupuncture and traditional acupuncture were of the same level of effectiveness in reducing pain in LBP. There was no significant difference in lowering the level of pain of LBP in both methods.Conclusion: Electro acupuncture and traditional acupuncture had the same level of effectiveness in reducing pain of LBP, but there was no significant difference between the two in lowering the levels of pain.ABSTRAKLatar belakang: Low Back Pain (LBP) atau nyeri pinggang bagian bawah adalah penyakit yang sampai saat ini masih banyak diderita masyarakat, dengan prevalensi yang masih tinggi. Akupunktur merupakan pengobatan komplementer dan alternatif yang telah diakui sebagai terapi pilihan untuk perbaikan LBP secara klinis. Ada beberapa metode pengobatan dengan akupunktur pada LBP yaitu secara tradisional dengan teknik dan metode yang masih mengacu pada kedokteran Cina kuno, serta metode yang dikembangkan dari hasil penelitianyaitu Elektro akupunktur.Tujuan: Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas metode elektro akupunktur dengan akupunktur tradisional dalam menurunkan tingkat nyeri pada penderita LBP.Metode: Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimental, dengan rancangan cohort. Responden penelitian adalah penderita LBP yang berkunjung ke poliklinik akupunktur RS Bethesda yang diambil menggunakan teknik accidental sampling yaitu sebanyak 34 orang yang terbagi kedalam 2 kelompok yaitu 21 orang penderita LBP yang menjalani tindakan elektro akupunktur dan 13 orang penderita LBP yang menjalani tindakan akupunktur tradisional. Sebelum menjalani akupunktur, dilakukan pengukuran nyeri dengan menggunakan Short Form Mcgill Pain Questionnare (SFMPQ) pada responden. Setelah responden menjalani akupunktur selama 12 kali, selanjutnya dilakukan pengukuran ulang dengan SFMPQ. Data dianalisis dengan menggunakan uji Mann Whitney.Hasil: Pada kedua kelompok terapi akupunktur, ditemukan hasil bahwa elektro akupunktur dan akupunktur tradisional sama-sama memiliki efektifitas dalam menurunkan tingkat nyeri LBP. Tidak ada perbedaan yang bermakna dalam menurunkan tingkat nyeri LBP pada kedua metode.Kesimpulan: Elektro akupunktur dan akupunktur tradisional sama-sama memiliki efektivitas dalam menurunkan tingkat nyeri LBP, tetapi tidak ada perbedaan yang bermakna antara keduanya dalam menurunkan tingkat nyeri.
Pengaruh Pendidikan Teman Sebaya Terhadap Kemampuan Perilaku Cuci Tangan pada Anak Usia Pra Remaja Herlina Ristanti; Sri Mulyani; Ema Madyaningrum
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15716.309 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.29016

Abstract

Background: Closeness of students during preteen years can be a facility to improve hygienic and healthy life behaviors. Peer education is an effort for improving experience leading to a change of behavior on the group member. One of behaviors mastered by junior high school students related to a clean and healthy life behaviors is hand-washing.Objective: To investigate the influence of peer education toward the ability of hand-washing on preteens in SMPN 5 Depok, Sleman.Methods: This was a quasi-experimental research with one group pretest and posttest design. The respondents in this research were 128 students of the seventh grade of SMPN 5 Depok. This research used the hand-washing behavior questionnaire and observation sheet. The paired sample t-test was used in order to know the hand-washing behavior before and after peer education. Observation sheet was analyzed using one-way anova test to compare the average observation for three weeks.Results: The average score of hand-washing before and after peer education were 48,177 ± SD = 7,099 and 82,838 ± SD = 6,536 respectively. There was a significant difference before and after peer education toward the hand-washing behavior with p-value = 0,0001.Conclusion: Peer education influenced the progress of hand-washing on preteen children.ABSTRAKLatar Belakang: Kedekatan siswa pada usia pra remaja dapat menjadi fasilitas untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. Pendidikan teman sebaya merupakan suatu wadah untuk meningkatkan pengalaman yang menyebabkan perubahan perilaku pada anggota kelompok. Salah satu perilaku yang dikuasai oleh siswa SMP terkait perilaku hidup bersih dan sehat yaitu cuci tangan.Tujuan: Mengetahui pengaruh pendidikan teman sebaya terhadap kemampuan perilaku cuci tangan pada anak usia remaja di SMPN 5 Depok, Sleman.  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan rancangan one group pretest and posttest design. Responden pada penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN 5 Depok yang berjumlah 128 orang. Penelitian ini menggunakan kuesioner perilaku mencuci tangan dan lembar observasi. Analisis penelitian menggunakan paired sample t-test untuk mengetahui pengaruh perilaku cuci tangan sebelum dan sesudah pendidikan teman sebaya. Lembar observasi dianalisis menggunakan uji anova satu arah untuk membandingkan rata-rata observasi selama tiga minggu.Hasil : Hasil rata-rata skor perilaku cuci tangan sebelum pendidikan teman sebaya sebesar 48,177 ± SD= 7,099 dan sesudah sebesar 82,838 ± SD= 6,536. Terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pendidikan teman sebaya terhadap perilaku cuci tangan dengan p-value = 0,0001.Kesimpulan: Pendidikan teman sebaya berpengaruh terhadap peningkatan perilaku cuci tangan pada anak usia pra-remaja.
Evaluasi Lama Waktu Pelaksanaan Keterampilan Keperawatan pada Objective Structured Clinical Evaluation di Comprehensive Clinical Nursing Skills Heny Suseani Pangastuti; Sri Setiyarini
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7947 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.29017

Abstract

Background: “Comprehensive Clinical Nursing Skills (CCNS)" is a compulsory subject for students of School of Nursing Faculty of Medicine Universitas Gadjah Mada who have already finished the academic stage, in order to prepare them to get into the internship stage. In this subject, students learn essential skills and will then be evaluated through Objective Structured Clinical Evaluation (OSCE) method. The length of examination is 7 minutes. However, there has been no previous study to identify whether such duration is adequate for students to perform particular nursing skills.Objective: To identify the average length of each nursing skill evaluated through OSCE in School of Nursing Faculty of Medicine Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.Methods: This study was a descriptive study with cross-sectional approach. It was conducted in August 2008 in School of Nursing Faculty of Medicine Universitas Gadjah Mada. The population was all students who undertook OSCE CCNS in August 2008. The samples were 41 respondents by total sampling. Data were collected via observation sheets and stop watch. Data were analyzed using simple statistics to report the mean length of each nursing skill.Results: The average length of time of 8 nursing skills were shown as follows: average length for health education was 3 minutes 56 seconds (SD ± 58,35 seconds), restrain 6 minutes 4 seconds (SD ± 59,12 seconds), delivery of baby 5 minutes 42 seconds (SD ± 57,78 seconds), CPR 5 minutes (SD ± 58,25 seconds), tracheostomy care 5 minutes 11 seconds (SD ± 1 minute 1,68 seconds), drug injection 5 minutes 22 seconds (SD ± 55,6 seconds), communication 5 minutes 23 seconds (SD ± 1 minute 13,27 seconds) and vital sign examination 5 minutes 42 seconds (SD ± 53,55 seconds). The means of other skills (NGT insertion, wound care, and new born care) could not be analyzed because more than 25% of participants could not finish those skills in 7 minutes, so the results could be bias.Conclusion: The average length of time of nursing skills implementation in OSCE CCNS was 5 minutes 17 seconds with standard deviation 22,63 seconds.ABSTRAKLatar Belakang: "Comprehensif Clinical Nursing Skills (CCNS)” wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan tahap akademik. Program ini dilakukan untuk mempersiapkan mahasiswa memasuki tahap internship. Pada program ini mahasiswa belajar dan dievaluasi kompetensinya pada keterampilan tertentu seperti komunikasi, pemeriksaan klinis ataupun prosedur klinis melalui metode Objective Structured Clinical Evaluation (OSCE). Lamanya waktu untuk ujian keterampilan yang digunakan di PSIK selama ini adalah 7 menit, walaupun begitu belum pernah dilakukan penelitian untuk menentukan apakah waktu tersebut cukup bagi mahasiswa melakukan suatu keterampilan keperawatan.  Tujuan: Mengetahui rata-rata waktu pelaksanaan masing-masing keterampilan keperawatan yang diujikan pada OSCE-CCNS di Program Studi llmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitan deskriptif observasional yang dilakukan di PSIK FK UGM pada bulan Agustus 2008. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa peserta OSCE CCNS periode bulan Agustus 2008, dan sampel diambil dengan cara total sampling dengan 41 peserta Data diperoleh dengan menggunakan instrumen berbentuk lembar observasi dan alat bantu stopwatch. Analisis data dilakukan menggunakan statistik sederhana untuk mengetahui rata-rata lama waktu pelaksanaan keterampilan keperawatan.Hasil: Hasil penelitian lama waktu pelaksanaan pada delapan keterampilan keperawatan menujukkan hasil rata-rata untuk keterampilan pemberian pendidikan kesehatan 3 menit 56 detik (SD ± 58.35 detik), pemasangan restrain 6 menit 4 detik (SD ± 59,12 detik), menolong persalinan 5 menit 42 detik (SD ± 57,78 detik), RJP 5 menit (SD ± 58,25 detik), perawatan trakeostomi 5 menit 11 detik (SD ± 1 menit 1,68 detik), injeksi obat 5 menit 22 detik (SD ± 55,6 detik, komunikasi 5 menit 23 detik (SD ± 1 menit 13,27 detik) dan pemeriksaan tanda vital 5 menit 42 detik (SD ± 53,55 detik). Tiga keterampilan lainnya, yaitu pemasangan NGT, perawatan luka dan perawatan bayi baru lahir tidak dianalisis karena jumlah mahasiswa yang tidak dapat menyelesaikan keterampilan tersebut lebih dari 25%, sehingga dapat menimbulkan bias.Kesimpulan: Rata-rata lama waktu pelaksanaan delapan keterampilan keperawatan pada OSCE CCNS PSIK FK UGM adalah 5 menit 17 detik dengan standar deviasi 22,63 detik.  
Resusitasi Jantung Paru Menggunakan Feedback Device Terhadap Kualitas RIP pada Peserta Pelatihan RJP Mahasiswa S1 Keperawatan Tahap Profesi di Yogyakarta Fifi Dwi Andika; Sutono Sutono
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8218.56 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.29018

Abstract

Background: Cardiopulmonary resuscitation (CPR) training is one way to improve the quality of CPR itself. However, in developing countries there has been no unified method of CPR that causes nursing graduates to have different skills of CPR. One of the recommendations for learning CPR by American Heart Association (AHA) in 2010 is a CPR demonstration using feedback device. However, some previous researches have pointed out that no consistent results were found about the effect of feedback device on the quality of skill of CPR.Objective: To determine whether a demonstration of CPR with feedback device affects the quality of CPR among nursing interns as CPR trainees in Yogyakarta.Methods: This was a pre-experimental study using one group pretest-posttest design. There were one research group, 1 time pretest and 1 time posttest. The study population was 13 undergraduate nursing students at the internship stage in Yogyakarta who were registered as participants in CPR training. Samples were taken by using saturation sampling technique which then obtained a sample size of 13 people. Data were analyzed using the Wilcoxon test.Results: CPR using feedback devise influence the CPR quality in term depth compression (p=0,006) and total number of ventilation (p=0,014) but not influence others component such as average of depth compression, rate of compression, wrong hand position, incomplete release, average volume of ventilation and duration of session.Conclusion: There was no influence of CPR demonstration using feedback device on the quality of CPR among nursing interns in Yogyakarta. ABSTRAKLatar Belakang: Pelatihan RJP merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas RJP. Namun, di negara berkembang belum terdapat metode demonstrasi RJP yang seragam sehingga lulusan yang dihasilkan pun berbeda-beda. Salah satu rekomendasi edukasi RJP oleh American Heart Association (AHA) pada tahun 2010 adalah metode demonstrasi RJP menggunakan feedback device. Beberapa penelitian sebelumnya tidak menunjukkan hasil yang konsisten tentang pengaruh feedback device terhadap kualitas RJP.Tujuan: Untuk mengetahui apakah demonstrasi RJP menggunakan feedback device berpengaruh terhadap kualitas RJP pada peserta pelatihan RJP mahasiswa S1 keperawatan tahap profesi di Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pre eksperimental one group pre-test-post-test. Pada penelitian ini terdapat 1 kelompok penelitian, 1 kali pre-test, dan 1 kali post-test. Populasi penelitian adalah mahasiswa keperawatan S 1 tahap profesi di Yogyakarta yang terdaftar sebagai peserta pelatihan RJP, yaitu 13 orang. Penentuan sampel menggunakan sampling jenuh yang kemudian didapatkan sampel sebesar 13 orang. Data dianalisis menggunakan Wilcoxon.Hasil: RJP menggunakan feedback device memberikan pengaruh terhadap kualitas RJP dalam hal kedalaman kompresi (p=0,006) dan total jumlah ventilasi (p=0,014). Sementara RJP menggunakan feedback device tidak berpengaruh pada kualitas indikator kompresi dan ventilasi lainnya (rata rata kedalaman, kecepatan kompresi, posisi tangan yang salah dan pelepasan yang tidak lengkap, rata rata volume ventilasi dan durasi ventilasi).Kesimpulan: Tidak terdapat pengaruh demonstrasi RJP menggunakan feedback device terhadap kualitas RJP pada peserta pelatihan RJP mahasiswa S1 keperawatan tahap profesi di Yogyakarta.
Efektivitas Pemberian Pendidikan Kesehatan Terstruktur tentang Penggunaan Teknik Non Farmakologi untuk Mengurangi Nyeri Kanker Haryani Haryani; Melyza Perdana; Septa Adhi Hermawan; Malina Luthfiana
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.757 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.34286

Abstract

Background: Pain is the most common symptoms suffered by cancer patients that can affect their daily activity and quality of life. Non pharmacological intervention to decrease pain often ignored.Objective: To determine the effectivity of structured health education of non pharmacological intervention to decrease cancer pain.Method: This is a quasi experimental research. The inclusion criteria were cancer patients who were more than 18 years old, suffered cancer pain (from 1-10 scale), and were on stage I-IV of cancer. Sixty eight subjects were recruited (34 for intervention group and 34 for control group). The booklet contains about how to treat non-pharmacology pain and management in the form of warm compress, cold compress, and relaxation techniques. Control group only use diary pain while usual care were provided for control group. Daily pain diary was filled by research subjects for three days. Brief Pain Inventory was given for both of two groups. Paired t test was used to compare pain score and ADL disturbance before and after intervention.Result: There were a significance decrease on both of pain score and daily activity disturbance before and after intervention in the intervention group (p= 0,000). There were not any significant different of pain score (p=0,762) and daily activity disturbance (p= 0,253) in control group. In addition, warm compress is the most nonpharmacological technique used by the intervention group.Conclusion: Providing structured health education of non-pharmacological intervention technique such as warm and cold compress, and relaxation is effective in reducing pain and ADL disorders in cancer patient. ABSTRAKLatar belakang: Nyeri adalah salah satu keluhan yang sering dirasakan penderita kanker. Nyeri yang timbul terus-menerus dan tidak ditangani secara adekuat dapat mengganggu aktivitas sehari-hari pasien dan menurunkan kualitas hidup pasien. Penanganan nyeri secara non-farmakologi sering diabaikan.Tujuan: Mengetahui efektivitas pemberian pendidikan kesehatan teknik non-farmakologi penanganan nyeri pada pasien kanker.Metode: Desain penelitian quasi eksperimen. Kriteria inklusi pasien kanker dengan umur >18 tahun, mengalami nyeri skala 1 – 10, stadium I-IV. Kriteria eksklusi adalah pasien yang mengalami gangguan jiwa. Subjek penelitian 68 orang (34 kelompok kontrol dan 34 kelompok perlakuan). Kelompok perlakuan diberikan booklet cara penanganan nyeri non-farmakologi dan demonstrasi teknik non-farmakologi berupa kompres hangat, kompres dingin, dan teknik relaksasi. Kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar. Responden mengisi daily pain diary selama 3 hari dan mengisi kuesioner Brief Pain Inventory (BPI). Analisis data menggunakan distribusi frekuesi dan uji t test berpasangan untuk membandingkan skala nyeri dan tingkat gangguan aktivitas sehari-hari akibat nyeri sebelum dan sesudah pemberian intervensi.Hasil: Teknik non-farmakologi yang banyak digunakan oleh kelompok perlakuan adalah kompres hangat sebesar 56,67%. Terjadi penurunan rata-rata tingkat nyeri sebelum dan sesudah pemberian intervensi (p= 0,000) dan rata-rata tingkat gangguan ADL karena nyeri sebelum dan sesudah pemberian intervensi (p= 0,000). Tidak ada perbedaan tingkat nyeri (p=0,762) dan tingkat gangguan ADL (p= 0,253) pada kelompok kontrol.Kesimpulan: Pemberian pendidikan kesehatan terstruktur tentang penggunaan teknik non-farmakologi seperti kompres hangat, dingin dan relaksasi efektif dalam menurunkan nyeri dan gangguan ADL pada pasien kanker.
Efektivitas Biaya Program Berbasis Keperawatan: Pemasangan Akses Vena Sentral Melalui Perifer Yang Dipandu Ultrasonografi Anastasia Sari Kusumawati; Sukihananto Sukihananto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.766 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.34310

Abstract

Background: Vein access is frequent procedures in hospital care. Repeated attempts to cannulate small veins can cause considerable distress for patients and took considerable amount of staff's time. Peripherally inserted central catheter recommended replacing a long term peripheral catheter. The responsibility for the insertion of peripheral catheters has shifted from specially trained nurses to skilled nurses. A peripherally inserted central venous catheter is recommended to replace long term peripherally catheters.Objective: This literature study goals to give a view in cost effectiveness venous access practices using ultrasound-guided practices and traditional cannulate practices nurse-based.Method: The method used in this paper is literature review related topics.Result: There are several studies that demonstrate the cost effectiveness of venous access practices using nursing-based ultrasound guidelines.Conclusion: Result shows by implementation of nursing based on ultrasound-guided peripheral venous access gave more effective approach than traditional practices. ABSTRAKLatar belakang: Akses vena sering dilakukan dalam perawatan di rumah sakit. Upaya berulang untuk memasang kateter vena kecil dapat menyebabkan tekanan mental yang besar bagi pasien dan membutuhkan waktu staf cukup banyak. Tanggung jawab pemasangan kateter perifer telah bergeser dari perawat sangat terampil ke perawat terampil. Pemasangan akses vena sentral melalui perifer direkomendasikan untuk mengganti kateter perifer jangka panjang. Tujuan: Tinjauan studi literatur ini diharapkan dapat memberi gambaran tentang efektivitas biaya praktik akses vena dengan menggunakan panduan ultrasonografi berbasis keperawatan. Metode: Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah literature review terkait topik.Hasil: Terdapat beberapa penelitian yang membuktikan efektivitas biaya praktik akses vena dengan menggunakan panduan ultrasonografi berbasis keperawatan.Kesimpulan: Hasil menunjukkan bahwa penerapan akses vena perifer dengan panduan ultrasonografi berbasis keperawatan, mampu menjadi pendekatan yang lebih efektif dibandingkan praktik tradisional.