cover
Contact Name
Aulina Adamy
Contact Email
aulinaadamy@gmail.com
Phone
+6281298061066
Journal Mail Official
jurnal.rumoh@unmuha.ac.id
Editorial Address
Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Aceh, Jl. Muhammadiyah No. 91 Bathoh, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Rumoh: Journal of Architecture
ISSN : 20889399     EISSN : 27984648     DOI : https://doi.org/10.37598/rumoh
Core Subject : Engineering,
Jurnal ini memuat artikel-artikel ilmiah pada lingkup ilmu: arsitektur, lanskap, interior, perancangan kota dan permukiman serta arsitektur lingkungan. Rumoh menerima artikel ilmiah, studi kasus, studi literatur, laporan serta artikel untuk edisi khusus. Artikel ilmiah ini diterima dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
Articles 53 Documents
PUSAT REHABILITASI NARKOBA ACEH DI JANTHO: Tema: Arsitektur Organik Putri Puspa Sari; Effendi Nurzal
Rumoh Vol. 10 No. 19 (2020): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1271.566 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i19.102

Abstract

Aceh merupakan daerah peringkat pertama pengedar dan pengguna narkotika jenis ganja. Dari 73.201 pecandu, 916 telah direhabilitasi, dimana 12% dari jumlah tersebut direhabilitasi di Kota Banda Aceh pada 2 (dua) tempat yang berbeda dan hanya menampung pasien narkoba pria. Tujuan perancangan ini adalah merancang sebuah bangunan yang menampung pasien narkoba pria dan wanita berskala provinsi sehingga dapat membantu penyembuhan dan pemulihan pecandu Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) dengan pelayanan medis dan pelayanan sosial. Lokasi rancangan berada di Jln. Prof. A. Majid Ibrahim, Barueh, Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Klasifikasi Pusat Rehabilitasi Narkoba Aceh di Jantho termasuk dalam kategori rehabilitatif (pemulihan). Berdasarkan fungsinya yang mempertimbangkan kenyamanan pemakai maka pendekatan tema rancangan adalah tema arsitektur organik. Analisis yang digunakan adalah analisis fungsional, analisis lingkungan dan analisis bangunan. Hasil rancangan organik yang diterapkan perancangan ini adalah building as nature, of the people dan of the hill dimana implementasi mampu menyelaraskan bangunan dengan alam, memanfaatkan kondisi lingkungan yang alami, mempertimbangkan kenyamanan pemakai bangunan dan memberikan ide dan solusi rancangan yang unik pada lokasi yang memiliki kontur tanah yang tidak stabil. Pusat Rehabilitasi Narkoba Aceh ini dirancang bermassa banyak yang terdiri dari 5 massa dengan daya tampung 500 pasien. Luas Lahan 31.250 m², Koefisien Dasar Bangunan 40% yaitu 12.000 m² dan Koefisien Lantai Bangunan 3,5 yaitu 42.000 m². Fasilitas yang direncanakan adalah Kantor Administrasi dan Instalasi Gawat Darurat (IGD), Unit Asrama Pasien (Putra dan Putri), Unit Terapi, Unit Pemantapan Sosial, Fasilitas Penunjang dan Parkir.
REDESAIN PASAR INDUK LAMBARO DI ACEH BESAR: Tema: Arsitektur Neo Vernakular Dhany Safandi; Qurratul Aini
Rumoh Vol. 10 No. 19 (2020): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2126.539 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i19.106

Abstract

Redesain Pasar Induk Lambaro di Aceh Besar dilatar belakangi oleh kondisi pasar yang kumuh dan tidak teratur, terbatasnya ruang untuk berjualan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam proses jual beli. Maksud dari perencanaan ini adalah menciptakan sebuah pasar yang bersih, nyaman dan aman bagi pejual dan pembeli dengan tujuan menghilangkan kesan pasar tradisional yang kumuh lewat penataan pembangunan yang lebih baik. Rumusan masalah merencanakan kembali Pasar Induk Lambaro yang sesuai dengan standar dan menerapkan tema Arsitektur Neo Vernakular. Pasar Induk Lambaro terletak di Desa Lambaro Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Tema Arsitektur Neo Vernakular dipilih berkeinginan untuk menciptakan bangunan yang berangkat dari adat istiadat dan budaya setempat, guna mempertahankan kebiasaan/tradisi masyarakat Aceh yang secara turun temurun dan penguatan identitas lokal. Klasifikasi perancangan tergolong kedalam jenis Pasar Induk dengan lingkup pelayanan Pasar Regional, dan kepemilikan pasar adalah Pemerintah. Analisis – analisis yang dilakukan ialah seperti analisis lingkungan, analisis fungsional dan analisis bangunan. Penerapan rancangan di angkat dari unsur budaya dengan mempertahankan gaya Arsitektural Rumoh Aceh serta mengatur pola ruang bangunan yang sesuai, guna menghindari kebiasaan masyarakat Aceh dari segi ketidak teraturannya. Pasar Induk Lambaro memiliki luas lahan ±37.353 m² (3.7 Ha). Massa bangunan merupakan massa tunggal yang teridiri dari 2 lantai, dengan luas lantai dasar 13.086 m² dan luas lantai keseluruhan 25.124 m². Fasilitas yang akan direncanakan pada Pasar Induk Lambaro yaitu Kegiatan Utama (Pasar Basah dan Kering), Kegiatan Penunjang (Kafetaria, Ruang Laktasi, Musholla, Atm Center, dan Klinik), Kegiatan Pengelola (Kantor Pengelola) dan Kegiatan Servis (Pos Keamanan, Cleaning Servis, Gudang Barang, dan Cassier Of Parking).
PUSAT SENI BUDAYA SIMEULUE DI KOTA SINABANG: Tema: Arsitektur Neo-Vernakular Nur Wahyuni; Faiza Aidina
Rumoh Vol. 10 No. 19 (2020): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.98 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i19.94

Abstract

Simeulue memiliki berbagai macam seni budaya yang khas, yaitu seni nandong dan debus yang sejak lama sudah ada dan selalu diajarkan dari generasi ke generasi dan seiring berjalannya waktu seni budaya semakin dikembangkan yaitu seperti tari silongor dan mangasila, yang mana dulu hanya merupakan sebuah lagu daerah Simeulue. Di Simeulue saat ini belum mempunyai sebuah wadah atau tempat yang memiliki fasilitas yang layak untuk menampung masyarakat, serta sanggar-sanggar seni untuk mempertunjukan maupun mengembangkan kemampuan seni budaya yang dimiliki. Selain itu adanya Pusat Seni Budaya juga akan menampung layanan informasi seputar pariwisata (Tourism Information Center), dan juga sekaligus sebagai promosi Simeulue ke luar daerah. Pusat Seni Budaya Simeulue yang akan direncanakan berada di ibu kota Kabupaten Simeulue, yaitu Sinabang.Pusat Seni Budaya Simeulue di Kota Sinabang yang akan direncanakan termasuk kedalam klasifikasi Kabupaten. Pendekatan tema Arsitektur Neo-Vernakular untuk menghadirkan keselarasan antara kebiasaan masyarakat dengan seni budaya Simeulue. Pengembangan adat istiadat yang dimiliki oleh Simeulue, seperti motif khas milik Simeulue yaitu mata-mata, batik khas Simeulue, dan rumah adat tradisional Simeulue.Dengan analisis angin, matahari, dan hujan yang disesuaikan dengan keadaan di Simeulue. Luas lahan untuk perencanaan Pusat Seni Budaya Simeulue di Kota Sinabang ini 27.000 m², Massa bangunan yang direncanakan menggunakan pola massa tunggal. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 40% yaitu 7,200 m² dan ketinggian bangunan yaitu 20.000 m. Dengan fasilitas-fasilitas utama seperti Auditorium dan Amphiteather dan fasilitas pendukung Tourism Information Center, perpustakaan seni, ATM Center, Studio Seni dan fasilitas lainnya yang menjadikan pusat seni budaya menjadi lebih lengkap dan memberi manfaat lebih kepada pengunjung Pusat Seni Budaya Simeulue di Kota Sinabang.
RUMUSAN KONSEP RUANG EXPERIENTIAL LEARNING PADA PERANCANGAN KAWASAN: Studi Kasus: Sungai Mati Kp. Baru Kec. Baiturrahman, Banda Aceh T. Eka Panny Hadinata
Rumoh Vol. 10 No. 19 (2020): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.074 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i19.95

Abstract

Saat ini metode edukasi berkembang semakin pesat, hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman terkait dengan edukasi yang ingin diajarkan. Metode pengguanaan ruang kelas atau satu arah saat ini sudah menjadi metode yang lama dalam dunia pendidikan, oleh karenanya diperlukan metode yang baru dalam proses edukasi di dunia pendidikan dan edukasi pada masyarakat. Salah satu metode baru tersebut adalah metode Experiential Learning, metode edukasi ini perlu dikembangkan pada masyarakat, sebagaimana kita ketahui saat ini sangat sulit mengedukasi masyarakat dalam hal menjaga lingkungan, tertib lalu lintas, dan lain sebagainya. Metode ini berupaya mengedukasi secara tidak langsung namun memiliki efektifitas yang baik. Experiential Learning merupakan sistem belajar melalui pengalaman-pengalaman yang dirasakan atau disuguhkan. Sehingga dampaknya lebih kuat dalam penanaman edukasinya. Experiential Learning berfokus pada rekayasa ruang spasial yang mengaitkan dengan sistem biologis manusia seperti indera penglihatan, pendengaran, penciuman dan perasa/peraba. Skenario yang ada dibuat dengan seksama dengan menanamkan nilai-nilai edukasi yang ingin dimasukkan, sehingga membuat manusia paham akan nilai edukasi tersebut. Rumusan Experiential Learning ini diharapkan menjadi acuan dalam perancangan arsitektur, baik bangunan, raung dalam, luar dan perancangan kawasan. Studi kasus yang diambil adalah kawasan sungai mati Jl. Politeknik Kp. Baru, Kecamatan Baitussalam Kota Banda Aceh dengan luas area sekitar 2 Ha. Kawasan ini saat ini menjadi area belakang dan terbengkalai tempat pembuangan sampah dan limbah rumah tangga, sehingga perlu adanya penanganan agar kawasan menjadi lebih baik. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan pada kawasan, rumusan konsep Experiential Learning pada kawasan tersebut berfokus pada dua nilai edukasi yang akan ditanamkan pada kawasan yaitu nilai edukasi lingkungan dan mitigasi bencana. Lingkungan berkaitan dengan edukasi pemahaman masyakarat akan pentingnya menjaga lingkungan, sedangkan mitigasi bencana sebagai edukasi terkait bahaya bencana yang ditimbulkan dan cara menanganinya. Penerapan konsep perancangannya menggunakan empat tipe Experiential Learning yakni audio, visual, kinethic, dan tactile yang diaplikasikan kepada kawasan sungai mati tersebut, baik pada area sungai dan tepi sungainya.
PASAR MODERN MANGGENG DI KABUPATEN ACEH BARAT DAYA: Tema: Arsitektur Kontekstual Afrimansyah Afrimansyah; Effendi Nurzal
Rumoh Vol. 10 No. 19 (2020): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.516 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i19.96

Abstract

Kawasan Pasar Manggeng pada saat ini belum memiliki fasilitas publik seperti area parkir dan toilet umum. Kawasasan Pasar Manggeng umumnya berbentuk toko dengan keterbatasan luas ruangan serta padatnya barang dagangan yang tidak diatur rapi membuat ruang gerak menjadi tidak leluasa. Selain itu pencapaian ke setiap ruko menyebar mengikuti arah jalan, sehingga menyulitkan pengunjung dalam mencari barang. Maka, perlu adanya pembangunan Pasar Modern Manggeng Di Kabupten Aceh Barat Daya yang berfungsi sebagai sebuah pusat perbelanjaan dengan sistem transaksi tawar menawar harga, serta menerapkan konsep ruang dan fasilitas yang modern. Lokasi perancangan berada di Jl. Nasional Meulaboh-Tapaktuan, Desa Kedai, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya. Pasar Modern Manggeng Di Kabupten Aceh Barat Daya tergolong dalam jenis Pasar Kota, dari segi jumlah pedagang merupakan jenis pasar tipe III yaitu menampung 250 pedagang, serta menjual lebih dari satu jenis barang dagangan (heterogen). Tema desain yang diterapkan adalah Arsitektur Kontekstual dengan kategori Kontras, yaitu bangunan yang dirancang berbeda dengan bangunan yang ada dilokasi site perancangan, tidak ada pengambilan motif dan tidak memiliki keterkaitan dengan bangunan disekitarnya. Analisis yang dipakai adalah analisis fungsional, analisis lingkungan dan analisis bangunan. Bangunan Pasar Modern Manggeng Di Kabupaten Aceh Barat Daya menerapkan konsep bentuk simetris dengan menampilkan vocal point bangunan, material lapisan dinding luar bangunan menggunakan material fabrikasi yaitu aluminium composite, dan kaca. Massa bangunan yang direncanakan menggunakan pola massa tunggal. Luas keseluruhan site 27.295 ha, luas lantai dasar 6.281,62m² dan luas kesuluruhan lantai 13.383,63m². Bangunan Pasar Modern Manggeng Di Kabupaten Aceh Barat Daya memiliki fasilitas los tipe A 62 unit, los tipe B 61 unit, toko tipe A 119 unit dan 5 unit toko tipe B.
ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN NAGAN RAYA: Tema: Green Architecture Heri Safriadi; Qurratul Aini
Rumoh Vol. 10 No. 19 (2020): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.325 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i19.97

Abstract

Kecamatan Suka Makmue merupakan salah satu Kecamatan yang sedang mengalami pemekaran dari 10 Kecamatan yang ada di Kabupaten Nagan Raya.Oleh karena itu sangat cocok untuk pembangunan sebuah sarana dan prasarana Islamic Center yang diharapkan bisa menampung segala jenis kegiatan yang bergerak dibidang Informatika Islam sperti; Masjid, Museum peninggalan bersejarah Islam, Perpustakaan Islam serta kegiatan pendidikan yang bersifat formal seperti; Sekolah Informatika Islam tingkat SMP dan Sekolah Informatika Islam tingkat SMA, dan pendidikan yang bersifat informal seperti; Perlombaan TPQ, MTQ serta tempat perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Konsep rancangan Islamic Center di Kabupaten Nagan Raya menerapkan konsep holism yaitu penerapan keseluruhan prinsip-prinsip green architecture yang ramah lingkungan dan sedikit menkonsumsi sumber daya alam, termasuk energi, air, dan material, serta sedikit menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sehingga mampu memberikan citra bagi masyarakat Kabupaten Nagan Raya serta karakter tersendiri bagi bangunan Islamic Center Kabupaten Nagan Raya itu sendiri. Rancangan Islamic Center di Kabupaten Nagan Raya diawali dengan pendekatan studi literatur dari studi objek sejenis, studi lapangan (survey) dan penekanan tema pada bangunan sehingga dapat menghasilkan satu desain rancangan yang sesuai dengan kondisi tapak, lingkungan dan potensi tapak serta jumlah pemakai bangunan itu sendiri. Rancangan Islamic Center di Kabupaten Nagan Raya memiliki luasan lahan 3 Ha (Hektar) dan jumlah pemakai bangunan Islamic Center 5% dari jumlah keseluruhan penduduk Kabupaten Nagan Raya yaitu 8.356 jiwa.
MUSEUM DIORAMA GAYO: Arsitektur Tangible Metaphors Fendika Anggara; Henny Marlina
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.588 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.110

Abstract

Suku Gayo merupakan masyarakat asli dari Kabupaten Aceh Tengah yang beribukota Takengon dan merupakan bagian dari Provinsi Aceh. Keberadaan adat istiadat, budaya dan sejarah suku Gayo menjadi karakter yang di wariskan nenek moyang mereka kepada generasi berikutnya secara turun temurun. Namun sayangnya saat ini sebagian masyarakat suku Gayo sudah lupa akan adat istiadat, budaya dan sejarahnya. Untuk hal tersebut maka di perlukan suatu wadah berupa museum yang mampu mengekspresikan adat istiadat, budaya dan sejarah suku Gayo dalam bentuk diorama yang menyenangkan dan edukasi.Proses perancangan Museum Diorama Gayo Di Aceh Tengah ini diawali dengan pendekatan studi literatur dari objek sejenis, studi lapangan dan pendekatan tema bangunan, yaitu Arsitektur Tangible Methaphors. Maka dari itu dilanjutkan dengan analisa terhadap permasalahan yang timbul dalam rancangan dengan memperhatikan beberapa kemungkinan yang ada seperti lokasi tapak, hubungannya dengan lingkungan sekitar serta potensi-potensi yang dapat dikembangkan. sehingga dapat mempermudah dalam proses perancangan. Museum Diorama Gayo Di Aceh Tengah akan dibangunan di atas lahan seluas 25.500 m² dengan luas bangunan 4577.3 m². Museum Diorama Gayo Di Aceh Tengah ini bersifat massa tunggal dengan jumlah lantai sebanyak empat lantai, yang dilengkapi dengan lobby, loket karcis, ruang penitipan, ruang informasi, ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang seminar, ruang auditorium, perpustakaan, ruang edukasi, dan ruang konservasi. Selain itu juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa toko souvenir, mushalla, kafetarian dan taman. Konsep yang diangkat pada museum diorama Gayo di Aceh Tengah ini adalah kombinasi dari bentuk gerakan tarian saman dan alat musik teganing.
KEPUASAN HUNIAN: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR Aulina Adamy
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.901 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.112

Abstract

Penelitian kepuasan hunian masih sangat jarang di Indonesia. Secara universal, kepuasan hunian juga tidak menggunakan indikator yang seragam. Sehingga tujuan artikel ini untuk menelaah kriteria-kriteria yang dipakai dalam mengukur kepuasan hunian selama ini. Artikel ini termasuk artikel telaah (review paper) dengan metodologi menggunakan mesin pencarian Garuda untuk artikel Indonesia dan Google Scholar untuk artikel internasional. Hanya mendapatkan 8 artikel yang dipublikasikan di Indonesia dan sebanyak 1.670.000 artikel internasional. Dilakukan dua tahap screening: tahap pertama adalah artikel jurnal, dapat diakses gratis, dan fokus pada kepuasan rumah tinggal dan mendapatkan 32 jurnal. Screening kedua adalah artikel yang masuk dalam peringkat SJR. Sehingga hasil akhir mendapatkan 8 artikel (n=8) sebagai sampel. Kesimpulan yang didapatkan adalah walaupun menggunakan alat ukur yang berbeda-beda tetapi ternyata indikator sering kali sama hanya berbeda istilah; secara umum dapat dilihat kriteria dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu: hunian dan non-hunian akan tetapi ada juga beberapa referensi yang memasukkan kelengkapan fasilitas publik sebagai ke dalam kriteria non-hunian. Bagaimana pun, semua kuesioner yang dikutip dan ditelaah di artikel ini terbukti valid dan dapat diandalkan. Sehingga bisa menggunakan kriteria mana saja selama dua aspek hunian dan non-hunian masuk ke dalam alat ukur kepuasan hunian.
RENTAL OFFICE DI BANDA ACEH: Tema: Arsitektur Neo Vernakular Uci Faradilla; Qurratul Aini
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.478 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.116

Abstract

Rental Office di Banda Aceh di khususkan untuk perusahaan dalam bidang jasa konstruksi dan jasa notaris. Di Banda Aceh, bidang jasa konstruksi dan jasa notaris banyak menjadikan pertokoan dan rumah tinggal sebagai tempat usaha, sehingga menyebabkan bangunan di Banda Aceh beralih fungsi. Perencanaan Rental Office di Banda Aceh berlokasi di jalan T. Hasan Dek, Simpang Surabaya, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh. Maksud dari perencanaan ini adalah agar tidak terjadinya perubahan fungsi bangunan secara berkelanjutan di masa yang akan datang, serta tersedianya kebutuhan ruang usaha yang mampu menampung kegiatan perkantoran sesuai dengan standarisasi. Pendekatan tema pada rancangan menggunakan Arsiektur Neo-Vernacular, dengan alasan ingin menampilkan identitas lokal daerah Aceh, yang dikombinasikan dan disesuaikan dengan perkembangan pembangunan pada masa sekarang. Klasifikasi desain yang diterapkan menggunakan, modul ruang sewa yaitu Small Space, Medium dep Space dan Large Space. Berdasarkan peruntukannya, klasifikasi kantor berfungsi majemuk dan berdasarkan tipikal pencapaian menerapkan klasifikasi tipe koridor terbuka. Analisis yang dipakai dalam bangunan ini yaitu analisis fungsional, analisis tapak dan analisis bangunan. Rental Office di Banda Aceh berorientasi ke arah timur dan barat, sebagai adopsi orientasi rumah tradisional Aceh. Menerapkan bentuk panggung sebagai pilotis dan menerapkan folosofi kebiasaan sosial masyarakat Aceh pada konsep ruang. Luas Lahan 3.0291 m2. Massa bangunan merupakan masa tunggal, dengan Koefesien Dasar Bangunan 7.134 m2, dan luas keseluruhan bangunan 34.614 m2. Rental Office di Banda Aceh menampung 54 perusahaan jasa konstruksi dan jasa notaris serta memiliki fasilitas penunjang yaitu ruang seminar, coffe shop, restoran, ruang laktasi, fitness center, bank unit dan mini market.
BANDA ACEH APARTMENT: Tema: Arsitektur Organik Shavia Nada Annissa; Muhammad Joni
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.323 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.117

Abstract

Kota Banda Aceh, sebagai Ibu Kota Provinsi Aceh menjadi pusat dari segala kegiatan, baik di bidang ekonomi, politik, pendidikan dan lain sebagainya. Sehingga angka kepadatan penduduk di Kota Banda Aceh semakin lama semakin tinggi tingkat kepadatan lahan dan harga tanah yang juga semakin tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut perlu direncanakan konsep pemukiman secara vertikal yang digunakan sebagai sarana tempat tinggal bagi pebisnis yang menetap di Kota Banda Aceh berupa Apartemen. Lokasi untuk pembangunan Banda Aceh Apartment ini di Jln. Teuku Nyak Arief, Syiah Kuala, Banda Aceh. Banda Aceh Apartment bertema Arsitektur organik yang merancang suatu bentuk dan struktur berdasarkan kebutuhan penghuni dan menerapkan elemen alam pada rancangan. Melalui konsep of the people dan of the material, sehingga desain-desain yang diciptakan menyatu dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Bahan bangunan yang digunakan berupa batu alam, kayu, dan penerapan vegetasi pada beberapa bagian dinding. Banda Aceh Apartment menerapkan sistem Apartemen sewa dan Apartemen beli, berkategori jenis High-Rise Apartment, dengan sirkulasi vertical Elevator Apartment. Banda Aceh Apartment ini direncanakan dengan luas lahan 25.000 m². Massa bangunan tunggal dengan tipe 2 tower sebagai hunian dengan menyediakan fasilitas hunian tipe studio dengan penambahan 2 bedroom dan 3 bedroom. Terdapat beberapa fasilitas pendukung antara lain Sauna, cafe, playground, jogging track, cafetaria, salon, restaurant, fitness, dan swimming pool.