cover
Contact Name
Danny S. Mintorogo
Contact Email
dannysm@petra.ac.id
Phone
+62312983375
Journal Mail Official
dimensi.arch@petra.ac.id
Editorial Address
Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya 60236, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
DIMENSI: Journal of Architecture and Built Environment
ISSN : 0126219X     EISSN : 23387858     DOI : https://doi.org/10.9744/dimensi
Core Subject : Engineering,
Journal of DIMENSI: Journal of Architecture and Built Environment is a peer-reviewed journal devoted to the applications of architecture theory, sustainable built environment, architectural history, urban design and planning, as well as building structure. We accept National and International original research articles which are free of charged at this moment. The manuscript will be reviewed by two independent National or International advisory boards who are in their expert field. DIMENSI: Journal of Architecture and Built Environment is published, twice a year, in July and December, by the Institute for Research and Community Services, Petra Christian University, Surabaya-Indonesia. DIMENSI will be distributed to other universities, research centers, and National or International advisory board as well as to regular subscribers.
Articles 82 Documents
PERANAN PERENCANAAN FISIK DALAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN SKALA BESAR PANTAI TIMUR SURABAYA Timoticin Kwanda
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 27 No. 1 (1999): JULY 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/dimensi.27.1.%p

Abstract

To fulfil the increase needs of housing especially at large cities, the government encourages developers to develop large scale housing developmets. Large scale housing developments fastly advance at large cities, such as Surabaya. This paper reviews the role of physical planning in developing large scale housing development of Pantai Timur Surabaya project. The project was developed through a long stage, from a preliminary stage to construction stage. In each stage of development, physical planning performs substantial roles with different level of involvement. It is hoped that by understanding the role of physical planning in each stage of large scale housing development, inputs could be reached for developing of large scale housing in the future. Abstract in Bahasa Indonesia : Untuk memenuhi kebutuhan permukiman yang terus meningkat terutama di kota-kota besar, pemerintah mendorong pihak pengembang untuk mengembangkan permukiman skala besar. Pembangunan permukiman skala besar oleh pengembang berkembang cepat di kota-kota besar seperti Surabaya. Tulisan ini membahas tentang peranan perencannaan fisik dalam pengembangan permukiman skala besar proyek Pantai Timur Surabaya. Proyek ini dikembangkan melalui suatu proses tahapan yang panjang mulai dari tahap persiapan sampai dengan tahap pembangunan. Dalam setiap tahapan pengembangan ini, perencanaan fisik cukup berperan dengan tingkatan peran yang berbeda-beda pada setiap tahapan. Dengan mengetahui peranan perencanaan fisik dalam setiap tahapan pengembangan permukiman skala besar ini, diharapkan dapat memberi masukan dalam pengembangan permukiman skala besar di kemudian hari. Kata kunci: Pengembang, Permukiman Skala Besar, Perencanaan Fisik.
KECENDERUNGAN PENAMAAN JALAN DI KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SURABAYA Benny Poerbantanoe
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 27 No. 1 (1999): JULY 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/dimensi.27.1.%p

Abstract

This paper is the result of updating of fact and figures, derived from the draft Master Plan of street names in the IId level municipal area of Surabaya, prepared by the writer when he was making a comparative study in 1996-1997 dealing with result of data drawing and collection from primary sources and secondary sources. It contains an analytical description based on facts, showing the prevaling tendency and pattern of thought in Surabaya, starting from 1706 at a time when the Gemeente of Surabaya was not yet established up to 1998 under the rules of the present IId level municipal governement. In this study is used as yard stick " the theories of urban architecture". Abstract in Bahasa Indonesia : Tulisan ini adalah hasil up-dating dari salah satu bagian konsep Master Plan Nama Jalan di Kotamadya Dati II Surabaya, yang dipersiapkan oleh penulis sewaktu melakukan studi komparasi di antara sigi sekunder dan primer, tahun 1996-1997. Tulisan ini memuat deskripsi analitis yang disusun berdasarkan fakta tentang kecenderungan penamaan jalan serta pola yang berkembang di Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya. Sejak periode pemerintahan pra Gemeente tahun 1706 sampai dengan periode pemerintahan Kotamadya dati II Surabaya tahun 1998, yang dikaitkan dengan teori arsitektur-kota. Kata kunci : nama-nama jalan, surabaya.
LINGKUNGAN "PECINAN" DALAM TATA RUANG KOTA DI JAWA PADA MASA KOLONIAL Handinoto Handinoto
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 27 No. 1 (1999): JULY 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/dimensi.27.1.%p

Abstract

Pecinan (Chinese Camp) area is never absent in the town of Java. Although the specific characteristics of this mileu is not so strong any more at the present as it was in the past, its presency in diverse smaller towns in Java is still felt as something different. The specific atmosphere of the area, centered on the klenteng as the place of workship, its social environment, included the specific style of house construction, are easy to be recognized. In some world cities like San Fransisco and Manila, the socalled China Towns are just stimulated for its existence. It is even so far, that theyare recomended as tourist destination objects. During the rule of the New Order (1965-1998), Pecinan in the towns in Indonesia are systimatically abolished, because of sicio political considerations. This paper tries to trace back the history of those Chinese Camps in the older towns of Java, to have a certain picture of its existence in the past. Abstract in Bahasa Indonesia : Lingkungan "Pecinan" selalu ada di hampir semua kota-kota di Jawa. Meskipun sekarang lingkungan ini sudah semakin kabur, tapi di beberapa kota kecil di Jawa bekas kehadirannya masih sangat terasa sekali. Atmosfir lingkungannya yang khas, diperkuat dengan kehadiran kelenteng sebagai pusat ibadah dan sosial, serta bentuk-bentuk bangunan yang khas pula sangat mudah untuk ditengarai. Di beberapa kota di dunia seperti San Fransisco, Manila dan sebagainya daerah Pecinan ini justru di perkuat kehadirannya. Bahkan daerah tersebut bisa dijadikan sebagai daerah tujuan wisata kota. Selama Orde baru, karena alasan sosial dan politik, kehadiran Pecinan di kota-kota Indonesia, mulai dihapuskan. Tulisan ini mencoba untuk menelusuri sejarah kehadiran daerah "Pecinan" pada kota-kota di Jawa pada masa lampau. Kata kunci : Kota di Jawa jaman kolonial, Pecinan.
GRIYA DAN OMAH Penelusuran Makna dan Signifikasi di Arsitektur Jawa Josef Prijotomo
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 27 No. 1 (1999): JULY 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/dimensi.27.1.%p

Abstract

Terms and names in architecture may sometimes be powerful in exploring history of ideas. Philology and hermeneutics are discipline of knowledge that utilize this notion in a very throgh and critical way. Inspired by those discipline of knowledge, this musing on `Griya' and `Omah' tries to demonstrate that their meaning is not `house' as many still understand them. Rather, both terms understood by the Jawanese as `any building' constructed. Critical assessment upon old documents named `Kawruh Griya' not only supportive for this understanding among the Javanese, but also provide us with a hint on one of ideals of `what a home is' among the Jawanese. The Javanese once had a notion that to dwell in a house is like sheltering under a shady tree. Since `griya' and `omah' may open our musing up to regions and cultures outside Jawa, this paper will limit its musing within the Jawanese. Abstract in Bahasa Indonesia : Kata, sebutan dan istilah yang digunakan dalam arsitektur terkadang memiliki kemampuan untuk membantu dan menjadi bahan kajian sejarah bagi dunia arsitektur. Kajian filologi dan hermeneutika dengan baik telah memanfaatkan kemampuan tersebut. Tanpa harus memaksakan diri untuk mengikuti dengan ketat bidang pengetahuan tersebut, penelusuran atas arti `griya' dan `omah' ini mencoba untuk mengungkap sebagian kecil dari sejarah arsitektur Jawa. Melalui interpretasi-menerangkan (Poespoprodjo 1987: 194-195)) atas arti kedua kata tersebut di dalam berbagai naskah Kawruh Griya, keduanya samasekali tidak memiliki arti: `rumah'. Dengan penelusuran ini ditemukan pula petunjuk yang mengarah pada salah satu gagasan orang Jawa tentang rumah yakni `bagaikan berteduh di bawah pohon'. Meskipun kedua kata tersebut dapat membawa penelusuran ini ke wilayah di luar arsitektur dan masyarakat Jawa, harus diakui bahwa penelusuran ini masih dibatasi pada telusuran internal bahasa Jawa, yakni hanya mengkaji kedua kata tersebut di dalam perjalanan kebahasaan bahasa Jawa. Kata kunci : Bangunan, rumah, idealisasi rumah Jawa.
PENDOPO DALAM ERA MODERNISASI : Bentuk Fungsi dan Makna Pendopo pada Arsitektur Tradisional Jawa dalam Perubahan Kebudayaan Maria I Hidayatun
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 27 No. 1 (1999): JULY 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/dimensi.27.1.%p

Abstract

Pendopo is part of the traditional housing in Java and is of significant importance, because of its location at the front part of the residental housing with multiple funtions, like the rendez vous for member of the family and for visiting neigbours; not only is it a place to meet each other, but it conceives the togetherness between friends and acquaintances. In the present era of globalization, a change is underway in the function as well as in its from notwith standing, the existence of the pendopo is still desired and needed. Abstract in Bahasa Indonesia : Pendopo merupakan bagian dari sebuah rumah tradisional Jawa yang mempunyai arti penting, selain karena letaknya yang terdapat pada bagian paling depan dari sebuah rumah tinggal, fungsi sebuah pendopo adalah tempat untuk bersosialisasi dengan keluarga, kerabat maupun tetangga, demikian juga sebuah pendopo tidak hanya sekedar sebuah tempat tetapi mempunyai makna yang lebih dalam yakni mengaktualisasi satu bentuk kerukunan antara si penghuni dengan masyarakat sekitarnya/kerabatnya. Dalam era globalisasi ada satu pergeseran dalam makna, fungsi maupun bentuk dari sebuah pendopo, walaupun eksistensi/kehadiran dari pendopo tersebut masih tetap diakui dan dibutuhkan. Kata kunci : Pendopo, bentuk, fungsi dan makna.
TELAAH GAYA ARSITEKTUR MEDITERANIA DI INDONESIA Freddy H. Istanto
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 27 No. 1 (1999): JULY 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/dimensi.27.1.%p

Abstract

During the last decade of 1990' s, the style of architecture takes after the architectural style of Mediterranean. This style has invited a strong polemic against the name it bears. Is Mediterranean spanning the three continents appropriate of representing the name of Mediterranean-style ? This paper will discuss about the historical development of this Architectural style and its physical elements. Abstract in Bahasa Indonesia : Gaya arsitektur yang marak di Indonesia pada dasawarsa akhir tahun 1990-an adalah gaya arsitektur Mediterania. Gaya arsitektur ini mengundang polemik tentang nama yang disandangnya, apakah kawasan Mediterania yang meliputi tiga benua itu layak mewakili nama gaya arsitektur Mediterania ?. Makalah ini membahas perjalanan Gaya Arsitektur ini dan elemen-elemen fisikalnya. Kata kunci : gaya arsitektur Mediterania, elemen-elemen fisikal.
MENGEVALUASI PENGHAWAAN ALAMI SEBUAH RUMAH TROPIS DUA LANTAI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK SIMULASI NUMERIK Sangkertadi Sangkertadi; Fransisca Rumagit
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 27 No. 1 (1999): JULY 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/dimensi.27.1.%p

Abstract

Large openings in tropical style houses are needed to get enough airflow through the rooms. As it is mentioned In the Indonesian standard building (SK SNI T-14-1993) that there is a minimum ventilation rate for each room. This study concern in evaluation of natural ventilation performance of a two-story tropical house in Manado. Recently, numerical simulation is common method and practical tool in the researches in engineering. Airflow pattern in buildings can easily evaluated using numerical simulation method. Wind direction and speed as variable of inputs can easily varied and introduced in the code of simulation. In this study a computer program Ventila.1.0 (written by Sangkertadi, 1998) is used as simulator. This code is based on the basic of flow equations (Bernoulli, Pressure difference, Stack-effect, Mass balance). The results show that the quantity of airflow from cross ventilation is greater than the minimum value mentioned in the standard. Abstract in Bahasa Indonesia : Tipe rumah tropis pada umunya adalah memiliki bukaan cukup untuk menghasilkan debit ventilasi untuk mencapai tingkat kenyamanan dan kesehatan ruang. Namun begitu yang dijadikan ukuran mengenai persyaratan kuantitas debit ventilasi di Indonesia telah ditetapkan melalui SK SNI-T-14-93. Studi ini adalah dalam rangka mengevaluasi sistim penghawaan alami pada sebuah tipe rumah tropis berlantai dua (merupakan modifikasi dari rumah tradisional Minahasa) yang berada di daerah perkotaan (di pusat kota di Manado). Rumah tersebut dibuat sedemikian sehingga terdapat sebuah ciri ventilasi cerobong disalah satu bagian ruangannya. Metoda yang dipakai dalam studi ini adalah simulasi numerik dengan program Ventila.1.0 (program dibuat oleh Sangkertadi, 1989, dalam bahasa Fortran77) Formulasi yang ada didalam program ini didasarkan pada persamaan-persamaan umum tentang aliran (Bernoulli, Perbedaan Tekanan, Stack Effect, dll). Hasil dari simulasi menunjukkan bahwa ternyata sistim penghawaan silang berlangsung dengan baik dan nampak bahwa sistim ventilasi cerobong juga menunjukkan fungsinya dengan baik. Kata kunci : arsitektur tropis, penghawaan alam, simulasi numerik.
STRATEGI DAYLIGHTING PADA BANGUNAN MULTI-LANTAI DI ATAS DAN DI BAWAH PERMUKAAN TANAH Danny Santoso Mintorogo
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 27 No. 1 (1999): JULY 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/dimensi.27.1.%p

Abstract

One of the common factor for Energy Saving on buildings has dealed a lot with the lightings on building, especially for multi level floors above and below grade. In order for saving energy on lightings, many daylighting strategies on multi floors building are being used and under-developed by many architects. This paper discusses the strategies of the daylighting techniques on multi floors building both above and below grade Abstract in Bahasa Indonesia : Strategi hemat energi sangat erat hubungan dengan faktor penerangan dalam bangunan, lebih-lebih pada bangunan berlantai banyak diatas atau dibawah permukaan tanah. Untuk menghemat pemakaian energi listrik dari penerangan ini, maka strategi-strategi penerangan alami "Daylighting" terus dikembangkan. Tulisan ini bertujuan memaparkan berbagai strategi daylighting pada bangunan yang berlantai banyak yang dibangun diatas maupun dibawah permukaan tanah. Kata kunci : daylighting, energi
"FASADE KACA PINTAR" Teknologi Inovatif Bangunan Tinggi Hemat Energi Jimmy Priatman
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 27 No. 1 (1999): JULY 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/dimensi.27.1.%p

Abstract

Intelligent Glass Facade is a state of the art technology concept of curtain wall to meet ecological and economical importance in the kind of fully glazed office buildings, that needed full air-conditioning. It reduces solar thermal reflection of glass towers that may cause heat-island effect in the urban center as well as it decreases greenhouse effect in the earth's atmosphere. At the same time it lowers energy consumption levels by reducing external cooling load of air-conditioning system. An intelligent glass facade makes use of self-regulating thermal protection and solar control measures to adapt in a dynamic way to changing light and weather conditions all over the year by optimizing renewable energy sources such as solar radiation and air flows on the building envelope. Extensive application of this method to high-rise buildings will play a major role in protecting our environment. Abstract in Bahasa Indonesia : Fasade Kaca Pintar merupakan suatu konsep teknologi mutakhir dinding tirai kaca yang mempertemukan kepentingan ekologi maupun ekonomi bagi bangunan perkantoran bertingkat tinggi yang dikondisikan sepenuhnya (fully air-conditioned). Ia mampu mengurangi pantulan panas matahari dari bangunan bangunan kaca tinggi yang menyebabkan meningkatnya temperatur lingkungan diperkotaan (heat-island effect) maupun efek rumah kaca pada atmosfer bumi (green house effect). Selain itu ia mereduksi penggunaan energi yang dipakai untuk sistim tataudara dengan cara mengeliminir beban pendinginan eksternal. Disebut sebagai fasade kaca pintar , karena kemampuan otomatik sistim ini untuk selalu ber adaptasi dengan pergantian cahaya dan kondisi cuaca sepanjang tahun dengan cara meng optimasi sumber energi yang dapat diperbarui ( radiasi matahari dan kecepatan udara) pada selubung luar bangunan. Aplikasi sistim ini pada bangunan tinggi akan dapat memainkan peranan besar dalam usaha untuk melindungi lingkungan global kita. Kata kunci : selubung bangunan, dinding tirai kaca, fasade kaca pintar.
ADAPTING URBAN HEAT ISLAND MITIGATION STRATEGY ON BANDUNG DOWNTOWN AREA Petrus Natalivan Indradjati; Iztirani Nur Aisha
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 46 No. 2 (2019): DECEMBER 2019
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1372.175 KB) | DOI: 10.9744/dimensi.46.2.129-140

Abstract

Urban Heat Island (UHI) mitigation research has been carried out for a long time but it requires to be sharpened to enrich mitigation strategies. In Bandung, maximum temperature has been increasing from 330C to 350C in 30 years. Bandung is getting hotter which can exaggerate the negative impact of UHI mainly in the downtown area. Suitable UHI mitigation strategies are needed to lower urban temperature. UHI mitigation has involved the use of heat-absorbing and covering man-made materials with vegetation such as green wall and roof system. Content analysis of UHI precedents and some preliminary studies are applied to assess prerequisites of UHI mitigation. The analysis showed adaptation opportunities of UHI mitigation strategy on buildings and environmental physical components. The mitigation strategies may vary depending on the typology of buildings (roof and wall) by using reflective materials, while outside the building by increasing vegetation to maximize evaporation to lower the temperature.