cover
Contact Name
Santun Bhekti Rahimah
Contact Email
uptpublikasiunisba@gmail.com
Phone
+6285295184370
Journal Mail Official
jrk@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Rektorat Unisba, Jl Tamansari no.20
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Kedokteran
ISSN : 28083040     EISSN : 27986594     DOI : https://doi.org/10.29313/jrk.v1i2
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Riset Kedokteran Jurnal Riset Kedokteran (JRK) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset terhadap isu-isu empirik dalam sub kajian kesehatan, masyarakat industri dll. JRK ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6594 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 60 Documents
Scooping Review : Efektivitas Penggunaan Alat Pelindung Diri dengan Kejadian Dermatitis Kontak pada Pekerja Pabrik Muhammad Agung Pratama
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.653 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.107

Abstract

Abstract. Skin disease is currently still a health problem for people in the world, including in Indonesia. The prevalence of all forms of dermatitis was 4.66%. Dermatitis often occurs in factory workers, such as garment factory workers, with 25.7% suffering from Occupational Contact Dermatitis (DKAK), which is related to the use of colored fabrics for fabrics. The use of personal protective equipment (PPE) in this case gloves can minimize the risk of contact dermatitis. The aim of this study was to assess the effectiveness of the use of personal protective equipment in reducing the incidence of contact dermatitis in workers. This type of research is the Scooping Review with article searches from Google Scholar, Science Direct and Springer Link. There were 83 articles that matched the inclusion criteria and those that matched the exclusion criteria were 3. The study was conducted March 2019- December 2020. The results of the analysis showed that the effectiveness of using personal protective equipment is very important to avoid the incidence of contact dermatitis in workers, especially to prevent factors -factors that put workers in contact with allergens and irritants. Abstrak. Penyakit Kulit saat ini masih menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Prevalensi dari semua bentuk dermatitis adalah 4,66%. Dermatitis sering terjadi pada pekerja pabrik, seperti misalnya pekerja pabrik garment sebesar 25,7 % menderita Dermatitis Kontak Akibat Kerja (DKAK), yang terkait penggunaan bahan warna untuk kain. Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) dalam hal ini sarung tangan dapat meminimalkan risiko terjadinya dermatitis kontak. Tujuan penelitian untuk menilai efektivitas penggunaan alat pelindung diri dalam mengurangi kejadian dermatitis kontak pada pekerja. Jenis penelitian yang digunakan adalah Scooping Review dengan pencarian artikel dari Google Scholar, Science Direct dan Springer Link. Artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 83 artikel dan yang sesuai dengan kriteria eksklusi adalah 3. Penelitian dilakukan Maret 2019- Desember 2020. Hasil telaah analisis didapat efektivitas penggunaan alat pelindung diri sangat penting untuk menghindari kejadian dermatitis kontak pada para pekerja, terutama untuk mencegah faktor-faktor yang membuat para pekerja berkontak dengan bahan-bahan alergen dan iritan.
Gambaran Status Gizi pada Balita di Puskesmas Karang Harja Bekasi Tahun 2019 Nurshifa Eka Putri; Mia Yasmina Andarini
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.241 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.108

Abstract

Abstract. Humans, especially toddlers, need good nutritional status. Nutritional status is the state of the body due to food consumption and use of nutrients, which is defined as the balance of energy that is entered and released by the body. The health profile of Bekasi Regency in 2017 shows that there are 3.88% of children under five with malnutrition status and 0.04% with malnutrition status. And 2.91% of children under five with more nutrition. This study aims to determine the nutritional status of children under five at Puskesmas Karang Harja Bekasi in 2019. This study uses a descriptive research method with a cross sectional design that measures variables as well as to determine the nutritional status of children. Sampling of this research is a total sampling technique from recording data reporting months of weighing toddlers aged 12-60 months at Puskesmas Karang Harja Bekasi in 2019. This research was conducted from September to December 2020. The results of this study indicate that children under five at Puskesmas Karang Harja Bekasi in 2019 as many as 902 people, 771 people with good nutrition (85.5.3%), 62 people (7.9%) with good nutrition, 59 people (6.5%)% malnutrition and ten people (1.1%) ) malnutrition. This study concluded that the nutritional status of children under five was mostly good. However, there are still children with low nutritional status, so it should be noted that there are still many malnourished children under five in Indonesia. Abstrak. Manusia khususnya balita membutuhkan status gizi yang baik. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat dari konsumsi makanan dan penggunaan gizi, yang didefinisikan sebagai keseimbangan energi yang masuk dan dilepaskan oleh tubuh. Profil kesehatan Kabupaten Bekasi tahun 2017 menunjukkan terdapat 3,88% balita dengan status gizi buruk dan 0,04% dengan status gizi buruk. Dan 2,91% balita dengan gizi lebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi balita di Puskesmas Karang Harja Bekasi tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan desain cross sectional yang mengukur variabel dan untuk mengetahui status gizi balita. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik total sampling dari pencatatan data pelaporan bulan penimbangan balita usia 12-60 bulan di Puskesmas Karang Harja Bekasi tahun 2019. Penelitian ini dilakukan pada bulan September hingga Desember 2020. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa balita di Puskesmas Karang Harja Bekasi tahun 2019 sebanyak 902 orang, gizi baik 771 orang (85.5,3%), gizi baik 62 orang (7,9%), gizi baik 59 orang (6,5%)% dan gizi buruk sepuluh orang ( 1,1%)) malnutrisi. Studi ini menyimpulkan bahwa status gizi balita sebagian besar baik. Namun demikian, masih terdapat balita dengan status gizi rendah, sehingga perlu diperhatikan bahwa masih banyak balita gizi buruk di Indonesia.
Korelasi Aktivitas Fisik dan Screen Time Selama Pandemi Covid-19 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2020−2021 Fatmaningrum
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.73 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.109

Abstract

Abstract. It is well establised that inadequate physical activity can be a major risk factor for cardiovascular disease, hypertension, diabetes mellitus, prostate cancer and colon cancer. This study assessed the corrrelation of physical activity (low, moderate, high) dan screen time (acceptable, borderline excessive, excessive) in college students of the Faculty of Medicine, Unisba, academic year 2020-2021. Data was collected in a sample of 85 college student in seven days during the Covid-19 lockdown. This research used corelation analytics with cross sectional design in the period November−December 2020. The sampling technique was done by purposive sampling. Statistical analysis using Rank Spearman test. The results showed that most (57/85 = 67%) were in the low physical activity category during their home quarantine. All students have screen time duration> 21 hours/week (excessive). The results of statistical analysis showed a weak negative correlation (value -0.155) and there was no relationship between physical activity and screen time (p = 0.156). In conclusion, there is no correlation between screen time duration and low physical activity. Abstrak. Diketahui bahwa aktivitas fisik yang kurang dapat menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes melitus, kanker prostat, dan kanker usus. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran aktivitas fisik (rendah, sedang, tinggi) dengan screen time (acceptable, borderline excessive, excessive) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba tahun akademik 2020‒2021. Penelitian ini menggunakan analitik korelasi dengan desain cross sectional pada periode November‒Desember 2020. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Analisis statistik menggunakan uji Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (57/85=67%) mahasiswa termasuk kategori aktivitas fisik rendah selama menjalani karantina di rumah. Seluruh mahasiswa memiliki durasi screen time >21 jam/minggu (excessive). Hasil analisis statistik terdapat korelasi negatif lemah (nilai korelasi -0,155) dan tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dan screen time (p=0,156). Kesimpulan, tidak terdapat hubungan lama durasi screen time dengan penurunan aktivitas fisik.
Hubungan Posisi Duduk dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah pada Tenaga Kependidikan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Daris Akbar; Rika Nilapsari
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.437 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.110

Abstract

Abstract. Low back pain (NPB) is the most common musculoskeletal disorder. Based on the Global Burden of Disease (GBD) the prevalence of low back pain in 2010, which reached 9.2% which was calculated from all ages on a clinical basis. NPB is most related to work or work with administrative factors which are not ergonomic factors for sitting. The purpose of this study was to determine the relationship between sitting and the incidence of low back pain in the teaching staff of the Faculty of Medicine, Islamic University, Bandung. The research method used an observational analytic method with a cross sectional approach, the research subjects consisted of 24 respondents with an average age of more than 30 years who were selected by total sampling. The attitude of the respondent sits on the value with observation by placing workers while doing work carried out based on OSHA that has been sent by (Syamsyiayah), while for low back pain using a validated questionnaire. The results showed that most of the respondents has NPB complaints as many as 17 people (70.8%). Most of the respondents who sat with a non-ergonomic position has NPB as many as 14 people (58.3%) and the results of statistical analysis using the right test showed that the value of p = 1, which means there is no relationship between sitting position and the incidence of NPB. In conclusion, there is no close relationship between sitting position and the incidence of low pain in the education staff of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung, which may be due to many other factors that can cause low pain. Abstrak. Nyeri punggung bawah (NPB) adalah gangguan pada muskuloskeletal yang paling sering terjadi. Berdasarkan Global Burden Of Desease (GBD) prevalensi nyeri punggung bawah pada tahun 2010, yaitu mencapai 9,2 % yang dihitung dari seluruh usia secara gIobaI. NPB terbanyak berhubungan dengan pekerjaan administrasi atau perkantoran dengan faktor resiko posisi duduk yang tidak ergonomis. Tujuan pada penelitian ini-adalah untukimengetahuiihubungan posisi duduk dengan kejadian nyeri punggung bawah pada tenaga kependidikan Fakultas Kedokteran Universitas-Islam-Bandung. Metode pada penelitianiini menggunakan metode analitik observasionalidengan pendekatanicross sectional, subjek penelitian terdiri dari 24 responden dengan rata-rata usia lebih dari 30 tahun yang dipilih secara total sampling. Sikap duduk responden di nilai dengan observasi dengan cara memfoto posisi duduk pekerja saat melakukan pekerjaan secara tidak disadari lalu melakukan penilaian berdasarkan OSHA yang telah dimodifikasi oleh (Syamsyiayah), sedangkan untuk nyeri punggung bawah menggunakan kuesioner yang sudah tervalidasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden memilikiikeluhan NPB sebanyak 17 orang (70.8%). Responden yang duduk dengan posisiiduduk tidak ergonomis sebagian besar mengalami NPB sebanyak 14 orang (58.3%) dan hasil dari analisis statistik menggunakan fisher’s exact test menunjukan bahwa nilai p=1 yang berarti tidak terdapat hubungan bermakna antara posisi duduk dengan kejadian NPB. Kesimpulan, tidak terdapat hubungan bermakna antara posisi duduk dengan kejadian nyeri punggung bawah pada tenaga kependidikan Fakultas Kedokteran Universitas-Islam Bandung yang mungkin dapat disebabkan karena banyak faktor lain yang dapat menyebabkan nyeri punggung bawah.
Karateristik Pasien Karsinoma Ovarium Berdasarkan Gejala Klinis, Penyakit Penyerta, Komplikasi, dan Usia di Ruang Rawat Inap RSUD Al-Ihsan Bandung Raden Ajeng Wahyu Ayuadiningsih; Siti Annisa Devi Trusda
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.816 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.111

Abstract

Abstract. Ovarian carcinoma is a primary malignant process that occurs in the ovaries. This disease is commonly found in postmenopausal women with various clinical symptoms, comorbidities, and complications. This study aims to determine how ovarian carcinoma is based on the characteristics of clinical symptoms, comorbidities, complications, and age in patients at Al-Ihsan Hospital Bandung for the period January 2018-December 2019. The population in this study were patients with ovarian carcinoma at Al-Ihsan Hospital Bandung. . The sampling technique used in this study was the total sampling technique, covering all patients with ovarian carcinoma at RSUD Al-Ihsan Bandung for the period 2018-2019. The results showed that the number of patients hospitalized in RSUD Al-Ihsan Bandung for no longer than 5 days was 72.5%. In addition, the number of ovarian carcinoma patients at Al-Ihsan Hospital Bandung with the most clinical symptoms detected, namely anemia by 47.83%, comorbidities, namely uterine myoma and gastritis by 40.00%, complications namely sepsis and pleural effusion by 33.33%. , and most have an age between 30-50 years at 47.50%. Abstrak. Karsinoma ovarium adalah proses keganasan primer yang terjadi pada ovarium. Penyakit ini umumnya dijumpai pada wanita usia pasca menopause dengan berbagai macam gejala klinis, penyakit penyerta, dan komplikasi yang timbul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karsinoma ovarium berdasarkan karateristik gejala klinis, penyakit penyerta, komplikasi, dan usia pada pasien di RS Al-Ihsan Bandung periode Januari 2018 – Desember 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien penderita karsinoma ovarium di RS Al-Ihsan Bandung. Teknik penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik total sampling, mencangkup seluruh pasien penderita karsinoma ovarium di RSUD Al-Ihsan Bandung periode 2018–2019. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah pasien yang dirawat inap di RSUD Al-Ihsan Bandung paling lama kurang dari 5 hari sebesar 72,5%. Selain itu jumlah pasien karsinoma ovarium di RSUD Al-Ihsan Bandung yang paling banyak terdeteksi gejala klinis yaitu anemia sebesar 47,83%, penyakit penyerta yaitu mioma uteri dan gastritis sebesar 40,00%, komplikasi yaitu sepsis dan efusi pleura sebesar 33,33%, serta paling banyak memiliki usia antara 30-50 tahun sebesar 47,50%.
Perbandingan Efek Getah Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas L) dengan Lendir Bekicot (Achantina Fulica) terhadap Lama Penyembuhan Luka pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster Wiwit Kesumaningrum; R. Anita Indriyanti
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.894 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.314

Abstract

Abstract. A wound is a break in body tissue from the epithelial layer of the skin to the inner layer, such as subcutaneous tissue, fat, muscle, and bone. Jatropha sap and snail slime are natural ingredients that can be used in the treatment of wounds. Jatropha sap contains tannins, alkaloids, and flavonoids which function as anti-inflammatory, while snail mucus contains achantin isolate which has anti-bacterial and anti-inflammatory effects. The purpose of this study was to compare the effect of jatropha (Jatropha Curcas L) and snail slime (Achantina fulica) on the duration of wound healing in Swiss Webster male mice. This study was a laboratory experimental study with a completely randomized design method on 24 male white mice strains. Swiss Webster. An incision was made on each mouse 1.5 cm long and 2 mm deep. The experimental animals were divided into 4 groups, namely the negative control group which was not given any treatment, the positive control group was given 10% povidone iodine, group I was given jatropha plant sap at a dose of 2 times per day with 2 drops of Pasteur pipette and group II snail mucus 2 times per day with 2 drops of Pasteur pipette. The wound observer was carried out for 14 consecutive days starting one day after the treatment. All mice in the positive control and negative control experienced healing (100%) and only a part of the mice (50%) in the group given karak plant sap and snail mucus who experienced healing. In the treatment of jatropha sap has no effect on wound healing time, as well as snail mucus there is no effect in the duration of healing wounds, but wounds heal faster using castor plant sap. Abstrak. Getah tanaman jarak pagar dan lendir bekicot merupakan salah satu bahan alam yang dapat digunakan dalam pengobatan luka. Getah tanaman jarak pagar mengandung tanin,alkaloid, serta flavonoid yang berfungsi sebagai antiinflamasi, sedangkan lendir bekicot mengandung isolat achantin yang memiliki efek anti bakteri dan anti inflamasi, sehingga membantu untuk mempercepat penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan efek getah tanaman jarak pagar (Jatropha Curcas L) dengan lendir bekicot (Achantina fulica) terhadap lama penyembuhan luka pada mencit jantan galur Swiss Webster. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan pendekatan acak lengkap terhadap 24 ekor mencit putih jantan galur Swiss Webster. Luka secara insisi dibuat pada masing-masing mencit sepanjang 1.5 cm dengan kedalaman 2 mm. Hewan coba dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif yang tidak diberikan perlakuan apapun, kelompok kontrol positif yang diberikan povidon iodin 10%, kelompok I diberi getah tanaman jarak dengan dosis 2x/hari sebanyak 2 tetes dan kelompok II lendir bekicot 2x/hari sebanyak 2 tetes. Pengamatam ukuran luka dilakukan selama 14 hari berturut-turut yang dimulai satu hari setelah pemberian perlakuan. Luka diamati selama 14 hari berturu-turut. Seluruh mencit pada kontrol positif dan kontrol negatif mengalami penyembuhan luka (100%) dan hanya sebagian mencit (50%) pada kelompok yang diberikan getah tanaman karak dan lendir bekicot yang mengalami penyembuhan. Pada perlakuan getah tanaman jarak tidak memiliki efek terhadap lama penyembuhan luka, begitu juga dengan lendir bekicotpun tidak terdapat efek dalam lama penyebuhan luka, namun luka lebih cepat mengalami penyembuhan dengan menggunakan getah tanaman jarak. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara pemberian getah tanaman jarak terhadap penyembuhan luka (p=0,125). Karena nilai sig nya > 0,05 artinya tidak terdapat perbedaan antara Kontrol negative, Kontrol positif, Kelompok 1 (Getah tanaman jarak), dan Kelompok 2 (Lendir bekicot). Pemberian getah tanaman jarak pagar dan lendir bekicot tidak memiliki efek terhadap lama penyembuhan luka pada mencit jantan galur Swiss Webster tetapi pemberian getah tanaman jarak pagar lebih baik dari pada lendir bekicot.
Hubungan Gangguan Neurobehavior dengan Paparan Pestisida pada Pekerja Perkebunan Teh PT X Kabupaten Cianjur Zahra Salsabila Firdaus; Ismet Muchtar Nur
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.961 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.315

Abstract

Abstract. Background: The use of pesticides in plantations or agriculture includes insecticides, herbicides, fungicides, rosenticides, and fumigants are chemicals from several groups, namely organochlorines, organophosphates, carbamates, and pyrethroids. Pesticides that are widely used in agriculture and plantations are the organophosphate group because this group is easier to decompose in nature. Besides being able to increase agricultural product yields, pesticides can also have a negative impact on workers in plantations due to exposure to pesticides, including nervous system disorders in the form of neurobehavioral disorders, which are harmful changes or functional disorders of the nerves, both the central nervous system and peripheral nervous system with symptoms / signs - a sign of changes in memory, attention, mood, disorientation, thinking irregularities, as well as changes in somatic, sensory, and cognitive function as neurotoxic effects due to the use of neurotoxicants. Aim: Research on workers in tea plantations aims to determine the relationship between neurobehavioral disorders in spraying workers (who use pesticides) in tea plantations. Method: This study used an observational analytic method which aims to reveal the correlative relationship between variables using a cross sectional group design approach and using a total sampling technique. The population and research sample amounted to 30. This study used a questionnaire The German Q18 Quesionnaire. The independent variable in this study is pesticides and the dependent variable in this study is neurobehavioral disorders. Univariate data analysis using frequency distribution and bivariate using chi-square. Result : The results showed that there was a relationship between the neurubehavioral disorders experienced by workers and the length of exposure to pesticides seen from their working period. The number of respondents who experienced neurobehavior disorders was 18 people (60.0%) had negative neurobehavioral disorders and as many as 12 people (40.0%) had positive neurobehavioral disorders. Chi-Square test results obtained p value = 0.011 <α (0.05), which means that there is a significant relationship / correlation between neurobehavioral disorders and exposure to pesticides in tea plantation workers of PT. X Cianjur Regency. Conclusion: in this study, there are neurobehavior disorders in plantation wprkers who use pesticides. Abstrak. Latar Belakang: Penggunaan pestisida dalam perkebunan atau pertanian meliputi insektisida, herbisida, fungisida, rosentisida, dan fumigan merupakan bahan kimia dari beberapa golongan yaitu organoklorin, organofosfat, karbamat, dan piretroid. Pestisida yang banyak digunakan di bidang pertanian dan perkebunan adalah golongan organofosfat karena golongan ini lebih mudah terurai di alam. Selain dapat meningkatkan hasil produk pertanian, pestisida juga dapat memberikan dampak negatif bagi pekerja di perkebunan akibat paparan pestisida, antara lain gangguan sistem saraf berupa gangguan neurobehavioral, yaitu perubahan berbahaya atau gangguan fungsional saraf, baik sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi dengan gejala/tanda – tanda perubahan daya ingat, perhatian, mood, disorientasi, ketidakteraturan berpikir, serta perubahan fungsi somatik, sensorik, dan kognitif sebagai efek neurotoksik akibat penggunaan neurotoksikan. Tujuan: Penelitian pada pekerja di perkebunan teh bertujuan untuk mengetahui hubungan gangguan neurobehavioral pada pekerja penyemprotan (pengguna pestisida) di perkebunan teh. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik yang bertujuan untuk mengungkap hubungan korelasional antar variabel dengan menggunakan pendekatan cross sectional group design dan menggunakan teknik total sampling. Populasi dan sampel penelitian berjumlah 30. Penelitian ini menggunakan kuesioner The German Q18 Quesionnaire. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pestisida dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah gangguan neurobehavioral. Analisis data univariat menggunakan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan chi-square. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara gangguan neurobehavioral yang dialami pekerja dengan lama paparan pestisida dilihat dari masa kerjanya. Jumlah responden yang mengalami gangguan neurobehavior sebanyak 18 orang (60,0%) mengalami gangguan neurobehavior negatif dan sebanyak 12 orang (40,0%) mengalami gangguan neurobehavior positif. Hasil uji Chi-Square diperoleh p value = 0,011 < (0,05), yang berarti terdapat hubungan/korelasi yang signifikan antara gangguan neurobehavioral dengan paparan pestisida pada pekerja perkebunan teh PT. X Kabupaten Cianjur. Kesimpulan: pada penelitian ini terdapat gangguan neurobehavior pada pekerja perkebunan yang menggunakan pestisida.
Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Diabetes Melitus dengan Persepsi Pencegahan Komplikasi Polineuropati Diabetik Rizky Rizal Alfarysyi; Meike Rachmawati
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.384 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.316

Abstract

Abstract. The World Health Organization (WHO) reported that in 2014, there were 422 million people living with Diabetes Mellitus (DM). The most DM complications were diabetic polyneuropathy (DPN) by 50% compared to other complications. A person's knowledge of a disease, in this case DM, can be the basis for one's perception of choosing disease prevention planning, disease control, and self-management. The purpose of this study was to determine the relationship between the level of knowledge type 2 DM with the perception prevention of DPN complications in adults in Kujangsari Village, Bandung City. This study used an analytic study method with a cross-sectional approach, analyzed by using the Chi-square test. The subjects of this study were 60 adults over 30 years old in Kujangsari Village, Bandung City and the sample was taken using simple random sampling method. The data of this study were obtained from a questionnaire on knowledge level of type 2 DM and a questionnaire for assessing the perception of DPN complications prevention. The results of the study obtained by most adults were having good knowledge about type 2 DM as many as 57 people (97%) and perception prevention of complications DPN as many as 55 people (92%). The results of the data analysis research showed that there was a significant relationship between the level of knowledge about type 2 DM with the perception of the prevention DPN complications. This research illustrates that a good level of knowledge type 2 DM can be a supporting factor to form a perception prevention of complications DPN which is also positive. Abstrak. World Health Organization (WHO) melaporkan terdapat 422 juta jiwa orang yang hidup dengan Diabetes Melitus (DM di dunia pada tahun 2014, Komplikasi DM paling banyak adalah polineuropati diabetik (PND) sebesar 50% dibandingkan komplikasi lain. Pengetahuan seseorang terhadap suatu penyakit dalam hal ini DM, dapat menjadi dasar persepsi seseorang memilih perencanaan pencegahan penyakit, pengendalian penyakit, dan manajemen diri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan DM tipe 2 dengan persepsi pencegahan komplikasi PND pada orang dewasa di Kelurahan Kujangsari Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode studi analitik dengan pendekatan potong lintang, dianalisis dengan uji Chi-square. Subjek penelitian ini adalah orang dewasa di atas 30 tahun di wilayah Kelurahan Kujangsari Kota Bandung berjumlah 60 responden dan sampel tersebut diambil dengan menggunakan metode simple random sampling. Data penelitian ini diperoleh dari kuesioner tingkat pengetahuan DM tipe 2 dan kuesioner penilaian persepsi pencegahan komplikasi PND. Hasil penelitian yang diperoleh orang dewasa yang terbanyak adalah memiliki pengetahuan yang baik tentang DM tipe 2 sebanyak 57 orang (97%) dan persepsi terhadap pencegahan komplikasi PND yang positif sebanyak 55 orang (92%). Hasil analisis data menunjukkan terhadap hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang DM tipe 2 dengan persepsi pencegahan komplikasi PND. Hasil bahwa tingkat pengetahuan DM tipe 2 yang baik dapat menjadi faktor pendukung terhadap pembentukan persepsi pencegahan komplikasi PND yang juga positif..
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Air Kopi Robusta (Coffea canephora) terhadap Bakteri Pseudomonas Aeruginosa Naura Mufida Marsya; Hendro Sudjono Yuwono
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.894 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.317

Abstract

Abstract. Pseudomonas aeruginosa is common in Healthcare-Associated Infections (HAIs) and shows resistance to many common antimicrobial agents. Robusta coffee has been chosen as an alternative to antibiotics because of its antibacterial properties. This study aims to determine the antibacterial activity of Robusta coffee (Coffea canephora) water extract against Pseudomonas aeruginosa. The treatments given was agar plate that added Robusta coffee water extract in 4 doses, namely 12.5%, 25%, 50%, and 100%, imipenem antibiotic disc (positive control), and disk containing aquadest (negative control). They were then incubated in an incubator at 37ºC for 24 hours. The assessment was carried out by observing and measuring the inhibition zone. The research data proved that the inhibition zone produced by robusta coffee water extract at a dose of 100% had the highest average compared to other doses, which is at 8.13 mm, but smaller than imipenem which had an average inhibition zone of 25 mm. This shows that robusta coffee water extract has an antibacterial effect against Pseudomonas aeruginosa. Abstrak. Pseudomonas aeruginosa umum ditemukan pada Healthcare-Associated Infections (HAIs) dan menunjukkan resistensi pada banyak agen antimikroba yang umum. Kopi Robusta telah dipilih sebagai antibiotik alternatif karena memiliki kemampuan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak air kopi robusta (Coffea canephora) terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa. Perlakuan yang diberikan adalah media agar diberi disk yang mengandung ekstrak air kopi robusta dalam 4 dosis yaitu 12,5%, 25%, 50%, dan 100%, imipenem (kontrol positif), dan disk yang mengandung aquadest (kontrol negatif). Agar diinkubasi dalam inkubator dengan suhu 37ºC selama 24 jam. Penilaian dilakukan dengan pengamatan dan pengukuran zona inhibisi. Data hasil penelitian membuktikan zona inhibisi yang dihasilkan oleh ekstrak air kopi robusta pada dosis 100% memiliki rata-rata paling tinggi dibandingkan dengan dosis lainnya yaitu 8,13 mm, namun lebih kecil dibandingkan dengan imipenem yang memiliki rata-rata zona inhibisi sebesar 25 mm. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak air kopi robusta memiliki efek antibakteri terhadap Pseudomonas aeruginosa.
Gambaran Keluhan Nyeri Muskuloskeletal pada Tenaga Kebersihan di Universitas Islam Bandung Tahun 2020 Agistha Novta Auliya; Uci Ary Lantika
Jurnal Riset Kedokteran Volume 1, No.1, Juli 2021, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.861 KB) | DOI: 10.29313/jrk.v1i1.318

Abstract

Abstract. Musculoskeletal pain is the most common complaint among workers around the world. Musculoskeletal pain can cause muscle damage due to several factors such as heavy load carrying, wrong position, in a long period, which can cause damage to muscles, joints, ligaments and tendons. This study aims to determine symptoms of musculoskeletal pain among cleaning services at Universitas Islam Bandung in 2020. This study was descriptive research which used the Nordic Body Map (NBM) questionnaire. The research was conducted from November-December 2021 with 40 respondents. The results showed that the level of pain among workers was no pain (75%), mild pain (17%), and moderate pain (8%). The regions of the body that most often complained were waist, back, right ankle, left and right calf. This is caused by awkward posture and lifting heavy weights for a long period. Complaints of musculoskeletal pain are also caused by working period, working duration, and individual factors such as age. As conclusion, most of the workers did not complain of musculoskeletal pain, but there are only a few workers who feel musculoskeletal pain in the back and waist area. Abstrak. Keluhan nyeri muskuloskeletal merupakan keluhan paling umum yang dialami pada pekerja di seluruh dunia. Nyeri muskuloskeletal dapat dipicu akibat otot yang menerima beban statis secara berulang, posisi yang salah, dan dalam waktu yang lama, sehingga dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada otot, sendi, ligamen dan tendon. Keluhan nyeri muskuloskeletal dapat timbul pada pekerja terutama tenaga kebersihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan nyeri muskuloskeletal pada tenaga kebersihan di Universitas Islam Bandung tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM). Penelitian dilakukan dari bulan November-Desember 2021 dengan jumlah responden sebanyak 40 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkatan nyeri yang dikeluhkan pekerja yaitu: tidak nyeri sebesar 75%, agak sakit (17%), dan sakit (8%) berdasarkan Nordic Body Map. Adapun area yang dikeluhkan nyeri adalah pinggang, punggung, pergelangan kaki kanan, betis kiri, dan betis kanan. Hal ini disebabkan oleh postur yang salah dan mengangkat beban berat dalam jangka waktu yang lama. Keluhan nyeri muskuloskeletal juga disebabkan oleh masa kerja, lama bekerja, dan faktor individu seperti usia. Simpulan, sebagian besar pekerja tidak mengeluhkan nyeri muskuloskeletal. Sebagian kecil pekerja yang mengeluhkan nyeri muskuloskeletal pada area punggung dan pinggang.