cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekasatyafriansyah@institutpendidikan.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
powermathedu@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Jl. Neptunus Timur 1 Blok K 2 No 53c Komp Margahayu Raya Bandung
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu (PME)
ISSN : 29623952     EISSN : 2962245X     DOI : https://doi.org/10.31980/powermathedu
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu (PME) berisi artikel-artikel mengenai pendidikan matematika berbasis TIK yang ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Naskah berupa diseminasi hasil penelitian yang dihasilkan oleh ahli, ilmuwan, praktisi, dan mahasiswa dalam bidang Pendidikan Matematika dengan lingkup: -Desain Pembelajaran Matematika -Pengembangan Bahan Ajar ataupun Model Pembelajaran -Pengembangan Media/Aplikasi Pembelajaran Matematika -Alat Peraga Pembelajaran Matematika -Analisis Kesulitan Siswa dalam Pembelajaran -Analisis Penerapan Model/Pendekatan/Metode/Strategi Pembelajaran -Media Pembelajaran berbasis IT -Penelitian Tindakan Kelas -Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran Matematika Khusus untuk hasil penelitian, metode penelitian yang digunakan dapat menggunakan penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, penelitian campuran, penelitian pengembangan, penelitian desain, ataupun jenis penelitian lainnya yang berkaitan dengan topik di atas.
Articles 43 Documents
Kemampuan representasi matematis siswa pada materi kesebangunan dan kekongruenan di kampung sukawening Suci Marliani; Nitta Puspitasari
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.752 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i2.2224

Abstract

The ability to mathematical representation is an important aspect that must be learned and mastered by students. The knowledge of mathematical representation helps students in the understanding of concepts, problem-solving, mathematical communication, mathematical connection, and the application of mathematical ideas through modeling. The purpose of this study is to determine the ability of students’ mathematical representation in similar and congruent materials. The type of research used was in the form of descriptive qualitative with the research subjects of four students of junior high school class IX in Sukawening Village. Data collection techniques used include tests, interviews, and documentation. The data analysis techniques used are in the form of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that students' mathematical representation ability is moderate. The average score obtained from the three measured indicators was 44.8%. The highest score is found in the verbal indicator, which is 50%, followed by the image indicator at 42.5%, and the symbol indicator at 40.62%. Problems faced by students in answering the measured indicators, including low understanding and mastery of mathematical concepts and students' errors in understanding the material. This results in students not being able to represent their mathematical ideas and ideas in the ordered form. Kemampuan representasi matematis merupakan aspek penting yang harus dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Kemampuan representasi matematis membantu siswa dalam dalam pemahaman konsep, penyelesaian masalah, komunikasi matematis, koneksi matematis, dan penerapan ide matematis melalui pemodelan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan representasi matematis siswa pada materi kesebangunan dan kekongruenan. Jenis penelitian yang digunakan berupa kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian empat orang siswa SMP kelas IX yang berada di Kampung Sukawening. Teknik pengumpulan data yang digunakan diantaranya tes, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan representasi matematis siswa ada pada kategori sedang. Rata-rata skor yang diperoleh dari ketiga indikator yang diukur sebesar 44,8%. Skor tertinggi terdapat pada indikator verbal, yakni 50%, diikuti oleh indikator gambar sebesar 42,5%, dan indikator simbol sebesar 40,62%. Permasalahan yang dihadapi oleh siswa dalam menjawab indikator yang diukur, diantaranya rendahnya pemahaman dan penguasaan konsep matematis dan kesalahan siswa dalam memahami materi. Hal tersebut mengakibatkan siswa belum mampu merepresentasikan ide dan gagasan matematisnya ke dalam bentuk yang diperintahkan.
Kemampuan pemecahan masalah siswa smp dalam menyelesaikan soal cerita pada materi persamaan kuadrat Heni Sri Utami; Nitta Puspitasari
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.912 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1916

Abstract

Problem-solving skills are very important and must be possessed by all students. This is necessary to train students to get used to solving various problems. Problem-solving in the form of story questions needs serious attention because story questions provide a real picture of various life problems using mathematical sentences. The purpose of this study was to determine the problem-solving ability of junior high school students in solving story problems on the Quadratic Equations Material. This type of research is descriptive qualitative research. The technique of taking subject of this study used a purposive sampling technique. The subjects of this study were five grade IX junior high school students in Kutawaringin Village. Data collection techniques used are tests, interviews, and field notes. Data analysis techniques are data reduction, presentation, and conclusions. From the results of the study, it can be concluded that junior high school students have not been able to solve story problems on the Quadratic Equation material because students have not been able to apply all the indicators of problem-solving. This is because students are less careful in arithmetic operations which results in many errors. In addition, because students do not understand the concepts in the questions, so they cannot solve problems completely and most importantly, students are not familiar with non-routine questions.Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dan harus dimiliki oleh semua siswa. Hal ini diperlukan untuk melatih siswa agar terbiasa memecahkan berbagai masalah. Pemecahan masalah dalam bentuk soal cerita perlu mendapat perhatian serius, karena soal cerita memberikan gambaran nyata tentang berbagai masalah kehidupan dengan menggunakan kalimat matematika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa SMP dalam menyelesaikan soal cerita pada materi Persamaan Kuadrat. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan subjek penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Subjek dari penelitian ini adalah lima siswa SMP kelas IX di Desa Kutawaringin. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes, wawancara, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa siswa SMP belum mampu memecahkan soal cerita pada materi Persamaan Kuadrat karena siswa belum mampu menerapkan seluruh indikator dari pemecahan masalah. Hal ini disebabkan karena siswa kurang teliti dalam operasi hitung yang mengakibatkan banyak terjadi kesalahan. Selain itu, karena siswa belum memahami konsep pada soal, sehingga belum bisa memecahkan masalah dengan tuntas dan yang paling utama adalah siswa tidak terbiasa dengan soal-soal non-rutin.
Kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi persamaan dan fungsi kuadrat berdasarkan gender di desa sukamenak Alisa Mutiarani; Deddy Sofyan
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.276 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1911

Abstract

Communication plays an important role in assisting students in constructing concepts and establishing links between abstract ideas and language and mathematical symbols. The purpose of this study was to determine students' mathematical communication skills on the material of equations and quadratic functions in terms of gender differences in Sukamenak village. The population in this study were students of SMP/MTs equivalent in the village of Sukamenak, while the sample was selected based on purposive sampling technique, with as many as 6 students consisting of 3 male students and 3 female students. Based on the description and analysis of the results of the research that has been done, it is known that male students get an overall score of 45, with a percentage of 75%, so that they are included in high mathematical communication skills, while female students get an overall score of 50, with a percentage of 83%, so it is included in the category of high mathematical communication skills. So, it can be concluded that the students' mathematical communication skills in the matter of equations and quadratic functions in Sukamenak village in terms of gender differences obtained similarities, both male students and female students belonging to the high category of mathematical communication skills.Komunikasi memainkan peranan yang penting dalam membantu siswa dalam membina konsep dan membina perkaitan antara ide dan bahasa abstrak dengan simbol matematika.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi persamaan dan fungsi kuadrat ditinjau dari perbedaan gender di desa sukamenak. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP/MTs sederajat yang berada di desa sukamenak, sedangkan sampel dipilih berdasarkan teknik purposive sampling sebanyak 6 orang siswa yang terdiri dari 3 orang siswa laki-laki dan 3 orang siswa perempuan. Berdasarkan deskripsi dan analisis hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa: Siswa laki-laki memperoleh keseluruhan skor sebanyak 45, dengan persentase sebesar 75%, sehingga termasuk dalam kemampuan komunikasi matematis yang tinggi, sedangkan siswa perempuan memperoleh keseluruhan skor sebanyak 50, dengan persentase sebesar 83%, sehingga termasuk dalam kategori kemampuan komunikasi matematis yang tinggi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi persamaan dan fungsi kuadrat di desa Sukamenak ditinjau d perbedaan gender diperoleh kesamaan, baik siswa laki-laki maupun siswa perempuan tergolong kedalam kemampuan komunikasi matematis kategori tinggi.
Kemampuan pemahaman matematis siswa smp pada materi perpangkatan dan bentuk akar secara daring pada masa pandemi covid-19 di desa jayaraga Pranitha Agustina Hidayat; Reni Nuraeni
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.706 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i2.2230

Abstract

Mathematical understanding ability is the ability to classify mathematical objects and be able to interpret mathematical ideas or concepts. Online learning or electronic learning (e-learning) is an electronic-based learning process, towards the continuity of learning activities during the COVID-19 pandemic in accordance with policies issued by the government by using various media that support learning. This study aims to determine the ability of students' mathematical understanding in solving problems on the matter of Powers and Root Forms. The type of research used is qualitative research. This research was conducted in Jayaraga Village with research subjects of as many as three junior high school students in class IX. The data collection techniques in this research are using written tests and interviews. The results of this study indicate that students who have a high mathematical understanding ability are able to complete 3 indicators of mathematical understanding ability, while students who have a moderate mathematical understanding ability are only able to complete 2 indicators of mathematical understanding ability, and students who have the low mathematical understanding ability are not able to complete all indicators of understanding ability mathematical. Kemampuan pemahaman matematis adalah kemampuan mengklasifikasikan objek-objek matematika dan mampu menginterpretasikan gagasan atau konsep matematika. Pembelajaran daring atau pembelajaran elektronik (e-learning) merupakan sebuah proses pembelajaran berbasis elektronik, terhadap keberlangsungan kegiatan pembelajaran di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pemahaman matematis siswa dalam menyelesaikan soal-soal pada materi Perpangkatan dan Bentuk Akar. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Desa Jayaraga dengan subjek penelitian sebanyak tiga orang siswa SMP kelas IX. Adapun teknik pengumpulan data dalam peneltian ini adalah menggunakan tes tulis dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa siswa yang memiliki kemampuan pemahaman matematis tinggi mampu menyelesaikan 3 indikator kemampuan pemahaman matematis, sedangkan siswa yang memiliki kemampuan pemahaman matematis sedang hanya mampu menyelesaikan 2 indikator kemampuan pemahaman matematis dan siswa yang memiliki kemampuan pemahaman matematis rendah tidak mampu menyelesaikan semua indikator kemampuan pemahaman matematis.
Kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang bangun ruang sisi lengkung menggunakan prosedur newman Liya Lestari; Ekasatya Aldila Afriansyah
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.933 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i2.2225

Abstract

The fact that many students still struggle with mathematical concepts like the material of curved side space is what spurred this research. This study set out to investigate the errors that students make when applying Newman's technique to narrative problems with curved side spaces. Methodology for descriptive qualitative research is used. Three students who reside in the village of Radug were selected as samples using the purposive sampling technique from a population of all students who had studied the Constructing Curved Side Space content. Tests, field notes, observations, and interviews are just a few of the data collection procedures used. The steps of data reduction, presentation, and conclusion are the data analysis technique used. According to the study's findings, there were 16% reading errors, 50% problem understanding errors, 33% transformation errors, 55% process skills faults, and 59% writing errors in the final answer. Problem-solving is still a joint task that must be solved, so there is a need for other research that can help analyze mathematical errors. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami ide-ide dasar matematika, termasuk ruang sisi lengkung. Penelitian ini melihat kesalahan yang dibuat siswa saat memanfaatkan proses Newman untuk menyelesaikan cerita ruang sisi lengkung. Metodologi penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Purposive sampling digunakan untuk mengambil tiga siswa dari desa Radug sebagai sampel dari populasi semua siswa yang sebelumnya telah mempelajari konten untuk Membangun Sisi Lengkung Ruang. Beberapa metode yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi tes, catatan, observasi, dan wawancara. Teknik analisis data meliputi tahapan reduksi data, penyajian, dan penarikan data. Menurut temuan penelitian, ada 16% kesalahan membaca, 50% kesalahan pemahaman masalah, 33% kesalahan transformasi, 55% kesalahan keterampilan proses, dan 59% kesalahan menulis dalam jawaban akhir. Pemecahan masalah masih menjadi tugas bersama yang harus diselesaikan, maka perlu adanya penelitian lain yang bisa membantu menganalisa kesalahan matematis.
Kemampuan koneksi matematis berdasarkan disposisi matematis siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel Ersa Siti Fatimah; Rostina Sundayana
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.455 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1917

Abstract

The reality on the ground shows that students' ability to make mathematical connections is still relatively low. The purpose of this study was to determine the ability of mathematical connections based on the mathematical disposition of students on the material of a two-variable linear equation system in Jayaraga village. The population in this study were students of SMP/MTs equivalent in Jayaraga village, while the sample was selected based on a purposive sampling technique of 3 students. The analysis of the results of this study shows that the mathematical connection ability and mathematical disposition: (1) The students' mathematical connection ability and mathematical disposition are in the medium category. (2) The level of mathematical disposition ability tends to affect the level of students' mathematical connection abilities. Students who have a high level of mathematical disposition ability tend to have better mathematical connection abilities. Students who have a moderate level of mathematical disposition ability tend to have ordinary mathematical connection abilities. And students who have a low level of mathematical disposition skills tend to have low mathematical connection abilities. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam melakukan koneksi matematis masih tergolong rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan koneksi matematis berdasarkan disposisi matematik siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel di desa Jayaraga. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP/MTs sederajat yang berada di desa jayaraga, sedangkan sampel dipilih berdasarkan teknik purposive sampling sebanyak 3 orang siswa. Analisis hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan koneksi matematis dan disposisi matematik: (1) Kemampuan koneksi matematis dan disposisi matematik siswa masing-masing termasuk ke dalam kategori sedang. (2) Tingkat kemampuan disposisi matematik cenderung mempengaruhi tingkat kemampuan koneksi matematis siswa. Siswa yang memiliki kemampuan disposisi matematik tingkat kategori tinggi cenderung memiliki kemampuan koneksi matematis lebih baik. Siswa yang memiliki kemampuan disposisi matematik tingkat kategori sedang cenderung memiliki kemampuan koneksi matematis yang biasa. Dan siswa yang memiliki kemampuan disposisi matematik tingkat kategori rendah cenderung memiliki kemampuan koneksi matematis yang rendah.
Kesulitan siswa kelas viii dalam menyelesaikan soal cerita spldv dengan menggunakan langkah polya di desa cihikeu Siti Sanidah; Tina Sri Sumartini
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.186 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1912

Abstract

The difficulty is a person's lack of ability to solve a problem, for example, difficulty learning in solving story problems, giving math problems in the form of story problems to students intended to show the interconnectedness of problem-solving in everyday life, seeing the many difficulties experienced by students in solving problems.  About the story, then there needs to be an analysis of the difficulty of students in solving the story problem. The purpose of this study is to find out the difficulties of class VIII students in solving SPLDV story problems in Cihikeu Village and to find out the factors that cause students to have difficulty in solving SPLDV story problems. The method in this study uses qualitative research methods, while the techniques selected are based on purposive sampling techniques for as many as 3 students. Participants in this study were students of class VIII of State Junior High School 4 Bungbulang. The techniques for data in this study are tests, interviews, and questionnaires. The results of this study showed that students had difficulty in determining the methods used and students had difficulty in proving back the results of the answers, while the causative factors were student's less understanding of concepts, students were less careful in reading the problem, and students' efforts in correcting the story question were still lacking.Kesulitan merupakan kurangnya kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah,  contohnya yaitu kesulitan belajar dalam menyelesaikan soal cerita. Pemberian soal matematika dalam bentuk soal cerita kepada siswa dimaksudkan untuk menunjukkan keterkaitan pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari, melihat masih banyaknya kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal cerita, maka perlu adanya analisis kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesulitan siswa kelas VIII dalam menyelesaikan soal cerita SPLDV di Desa Cihikeu dan untuk mengetahui faktor penyebab siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita SPLDV. Metode pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, sedangkan teknik yang dipilih berdasarkan teknik purposive sampling sebanyak 3 siswa. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Bungbulang. Adapun teknik pengumulan data dalam penelitian ini adalah tes, wawancara dan angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menentukan metode yang digunakan dan siswa mengalami kesulitan dalam membuktikan kembali hasil jawaban, adapun faktor penyebabnya yaitu siswa kurang memahami konsep, siswa kurang teliti dalam membaca soal, serta usaha siswa dalam menyelesaikan soal cerita masih kurang.
Kemampuan representasi matematis siswa pada materi bilangan berdasarkan self-confidence Nabilah Citra Amalia Ulfa; Rostina Sundayana
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.288 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i2.2231

Abstract

The low ability of students’ mathematical representation has an effect on achievement in mathematics learning. Students find it difficult to understand what is known and asked, also are still not able to find a way out in solving the questions so many students find it difficult to solve the problems given in the form of story questions. Low self-confidence is also an influence on student success because self-confidence itself is self-confidence in doing tasks and choosing good, appropriate, and effective solutions. The purpose of this study was to analyze the mathematical representation ability of number material based on self-confidence. The subjects of this study were three class VIII junior high school students who were taken randomly. The data collection techniques in this study were tests, interviews, documentation, and questionnaires. The results of this study indicate that: (1) Respondents with a high self-confidence category can solve problems on the sub-indicators of making mathematical equations or models from other representations, making image representations to clarify problems and facilitate solving, making problem situations based on the data or representations provided; (2) Respondents with moderate self-confidence and low self-confidence categories can only solve the problem in the sub-indicator to create a problem situation based on the data or representation provided. Rendahnya kemampuan representasi matematis siswa berpengaruh terhadap prestasi dalam pembelajaran matematika. Siswa sulit memahami apa yang diketahui dan ditanyakan, juga masih kurang mampu mencari jalan keluar dalam menyelesaikan soal sehingga banyak siswa yang merasa kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan dalam bentuk soal cerita. Rendahnya Self-confidence juga menjadi pengaruh terhadap keberhasilan siswa karena self-confidence itu sendiri merupakan kepercayaan diri dalam melakukan tugas dan memilih cara penyelesaian yang baik, tepat dan efektif.  Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kemampuan representasi matematis pada materi bilangan berdasarkan self-confidence. Subjek penelitian ini adalah tiga orang siswa SMP kelas VIII yang diambil acak. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, wawancara, dokumentasi, angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Responden dengan kategori self-confidence tinggi dapat menyelesaikan permasalahan pada sub indikator membuat persamaan atau model matematika dari representasi lain, membuat representasi gambar untuk memperjelas masalah dan memfasilitasi penyelesaian, membuat situasi masalah berdasarkan data atau representasi yang diberikan; (2) Responden dengan kategori self-confidence sedang dan self-confidence rendah hanya dapat menyelesaikan permasalahan pada sub indikator membuat situasi masalah berdasarkan data atau representasi yang diberikan.
Kemampuan komunikasi matematis dan self-confidence siswa pada materi sistem persamaan linear tiga variabel di desa sukaresmi Hapsoh Hapsoh; Deddy Sofyan
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.862 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i2.2226

Abstract

In reality, mathematical communication skills and lack of trust in students in Indonesia are still relatively low. Indications of low mathematical communication skills are seen from the results of a survey conducted by the OECD that shows that students' ability in mathematics learning is at a low level. Indications of weak self-confidence in learners are when students lack confidence when asked to express their opinions on the concept of normality discussed. The purpose of the researcher is to know the mathematical communication skills and self-confidence of students in the material of the three-variable linear equation system. This study was conducted on high school students in the Sukaresmi area with 6 students sampled. The findings in this study include the mathematical communication skills of each student in the SPLTV materials vary, including students with low, medium, and high mathematical communication skills. Furthermore, the achievement of self-confidence in students can also be seen from the level of interpretation obtained by students, namely moderate and high. Students with high self-confidence interpretation tend not to understand the advantages or disadvantages that they have, while students with self-confidence interpretation are not confident in their own abilities, are anxious about solving problems, feel depressed, and tend to be irresponsible. Pada kenyataannya kemampuan komunikasi matematis dan kurangnya rasa percaya pada peserta didik di Indonesia masih tergolong rendah. Indikasi rendahnya kemampuan komunikasi matematis dilihat dari hasil survei yang dilakukan oleh OECD yang menunjukan bahwa kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika berada pada level yang rendah. Indikasi lemahnya self-confidence peserta didik adalah saat peserta didik kurang percaya diri ketika diminta untuk mengemukakan pendapatnya mengenai konsep kematematikaan yang dibahas. Adapun tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis dan self-confidence siswa pada materi sistem persamaan linear tiga variabel. Penelitian ini dilakukan pada siswa tingkat SMA/Sederjat di daerah Sukaresmi dengan 6 orang siswa yang dijadikan sampel. Hasil temuan dalam penelitian ini diantaranya kemampuan komunikasi matematis setiap siswa pada materi SPLTV berbeda-beda, diantaranya siswa dengan kemampuan komunikasi matematis rendah, sedang, dan tinggi. Selanjutnya pencapaian self-confidence pada siswa juga dapat dilihat dari tingkat interpretasi yang diperoleh oleh siswa yaitu sedang dan tinggi. Siswa dengan interpretasi self-confidence yang tinggi cenderung tidak memahami kelebihan maupun kekurangan yang dimilikinya, sedangkan siswa dengan interpretasi self-confidence yang sedang kurang percaya pada kemampuan dirinya sendiri, cemas dalam menyelesaikan permasalahan, merasa tertekan serta cenderung tidak bertanggung jawab.
Kemampuan berpikir kritis matematis antara siswa yang mendapat model problem-based learning dan discovery learning Bayu Adi Pratama; Dian Mardiani
Jurnal Inovasi Pembelajaran Matematika: PowerMathEdu Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.772 KB) | DOI: 10.31980/powermathedu.v1i1.1918

Abstract

The ability to think critically is still not optimal, this is because learning is not optimal. Therefore we need a variety of learning processes both approaches, methods, or innovative learning models to be able to improve the ability to think critically and mathematically. Learning models that support improving mathematical critical thinking skills are PBL models and DL models. The purpose of this study is to determine the mathematical critical thinking skills of students who get the PBL model better than the DL model. The research method used was a quasi-experimental study with a population of all grade XI students of SMA Negeri 11 Garut. Due to purpose sampling, the samples taken are two classes, namely class XI MIPA 5 as the experimental class I which gets the PBL model, and class XI MIPA 8 as the experimental class II which gets the DL model. The research instrument was used in the form of a description test and questionnaire. From the results of this study, it was concluded that the mathematical critical thinking ability that gets the PBL model is better than the DL model.Kemampuan berpikir kritis masih belum maksimal, hal ini dikarenakan pembelajaran yang belum optimal. Oleh karena itu di perlukan sebuah variasi proses pembelajaran baik pendekatan, metode, atau model pembelajaran yang inovatif untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis. Model pembelajaran yang mendukung meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis adalah model PBL dan DL. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang mendapatkan model PBL lebih baik daripada model DL. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 11 Garut. Karena pengambilan sampel purpose sampling maka sampel yang diambil sebanyak dua kelas yaitu kelas XI MIPA 5 sebagai kelas eksperimen I yang mendapatkan model PBL dan kelas XI MIPA 8 sebagai kelas eksperimen II yang mendapatkan model DL. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes uraian dan angket. Berdasarkan hasil analisis secara statistik diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis yang mendapatkan model PBL lebih baik dari pada model DL.