cover
Contact Name
Linardita Ferial
Contact Email
linarditaferial@unbaja.ac.id
Phone
+6287884906664
Journal Mail Official
adkes@unbaja.ac.id
Editorial Address
Jl. Syekh Moh. Nawawi Albantani Kp. Boru Kecamatan Curug, Serang-Banten
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Journal of Baja Health Science
ISSN : 27753859     EISSN : 27753840     DOI : https://doi.org/10.47080
Core Subject : Health,
Journal of Baja Health Science (JOUBAHS) is an open-access journal published by Health Administration Department, Faculty of Economic and Business, Universitas Banten Jaya as scientific journal to accommodate current topics related to preventive and promotive measures to enhance the health of the public through a scientific approach applying a variety of technique. This focus includes areas and scopes such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety. The journal employs a peer-review mechanism where each submitted article should be anonymously reviewed by expert peers appointed by the editor. Articles published in this journal could be in form of the original article and invited article (brief reports, case reports, opinion articles, commentaries, editorials, and correspondence).
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 02 (2021): Journal of Baja Health Science" : 9 Documents clear
ANALISIS PAPARAN ALERGEN TUNGAU DEBU DI LINGKUNGAN SEKOLAH TERKAIT DENGAN SENSITISASI ALERGI DI SEKOLAH DASAR DI SERANG TAHUN 2021 Rini Ambarwati; Linardita Ferial
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol 1 No 02 (2021): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v1i02.1480

Abstract

Tungau debu merupakan salah satu aeroalergen yang paling umum yang memiliki hubungan kuat dengan manifestasi dan sensitisasi alergi. Paparan alergen di sekolah dapat menyebabkan sensitisasi dan memicu penyakit atopik dan manifestasi alergi, sehingga menurunkan prestasi belajar siswa di sekolah. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis kualitas udara dalam ruangan sekolah terkait tungau debu dan pengaruhnya terhadap sensitisasi alergi pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan tungau debu di sekolah dengan sensitisasi alergi serta mengidentifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan sensitisasi alergi. Metode dalam penelitian ini yaitu studi potong lintang dilakukan di SD, Kota Serang. Sebanyak 112 siswa diacak menjadi responden dalam penelitian ini. Paparan tungau debu dinilai dengan menyedot debu yang mengendap di ruang kelas dan kemudian menganalisisnya menggunakan metode flotasi untuk menghitung kepadatan dan mengidentifikasi tungau debu. Sensitisasi siswa dinilai menggunakan tes tusuk kulit sedangkan faktor risiko diidentifikasi dengan mengisi kuesioner ISAAC. Hasil penelitian didapatkan 31 siswa tersensitisasi D.pteronyssinus dan 37 siswa tersensitisasi D.farinae. 1,7 gram debu yang mengendap diambil dari 8 sampel. Tidak ada hubungan bermakna antara paparan tungau debu dengan sensitisasi alergi terhadap D.pteronyssinus dan D farinae (D.pteronyssinus p>0,05; OR 1,211; CI 0,736 – 6,470 dan D.farinae p>0,05; OR 2,182; CI 0,396 – 3,704 ). Kepadatan tungau debu di sekolah adalah 0,58 tungau/gram debu. Ada hubungan yang signifikan antara kepemilikan hewan peliharaan (kucing atau anjing) dengan sensitisasi D.farinae (p<0,05; OR 2,5; CI 1,192 – 5,525). Ada juga hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan sensitisasi D.pteronyssinus (p<0,05; OR 2,876, CI 1,216 – 6,801), sehingga rendahnya paparan tungau debu di lingkungan sekolah tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan sensitisasi anak.
ANALISIS PERILAKU PEMANFAATAN PELAYANAN KLINIK SANITASI PUSKESMAS OLEH KELUARGA DENGAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU BTA (+) DI KECAMATAN TAKTAKAN KOTA SERANG Nia Kurniatillah; Fauzul Hayat
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol 1 No 02 (2021): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v1i02.1481

Abstract

Perubahan perilaku dan perbaikan kondisi sanitasi lingkungan berperan penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tuberkulosis paru BTA (+). Tingginya kejadian penyakit tuberkulosis paru BTA (+) di Kota Serang terutama di Kecamatan Taktakan diperlukan upaya-upaya terobosan diantaranya melalui upaya perbaikan dan peningkatan pelayanan klinik sanitasi puskesmas. Desain penelitian ini menggunakan studi cross sectional dengan besaran sampel sebanyak 96 orang penderita tuberkulosis paru (BTA+). Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Juli tahun 2019.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Analisis yang dilakukan adalah regresi logistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan (OR= 4,2; 95% CI: 1,529-11,478), dukungan keluarga (OR= 3,9; 95% CI: 1,440-11,004), faktor kebutuhan (need) (OR= 3,8; 95% CI: 1,258-11,477) memiliki hubungan yang kuat terhadap perilaku pemanfaatan pelayanan klinik sanitasi puskesmas. Pengetahuan, dukungan keluarga dan faktor kebutuhan (need) merupakan faktor dominan berpengaruh terhadap pelayanan klinik sanitasi puskesmas oleh keluarga dengan penyakit tuberkulosis paru (BTA+).
ANALISIS FAKTOR KEBIJAKAN DALAM IMPLEMENTASI PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA RUMAH SAKIT (K3RS) RUMAH SAKIT ‘X’ KOTA CILEGON, BANTEN linardita ferial; Astri Prianti
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol 1 No 02 (2021): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v1i02.1482

Abstract

Rumah Sakit merupakan salah satu tempat kerja, yang wajib melaksanakan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) yang bermanfaat baik bagi SDM Rumah Sakit, pasien, pengunjung/pengantar pasien, maupun bagi masyarakat di lingkungan sekitar Rumah Sakit. Di awal pelaksanaannya permasalahan yang dijumpai di IGD RS ‘ X’ Kota Cilegon, Banten diantaranya menunjukkan adanya kejadian yang beresiko penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja seperti, masih ada perawat yang tidak memakai alat pelindung diri berupa sarung tangan dan masker saat melakukan tindakan perawatan di instalasi gawat darurat, pencahayaan yang kurang di ruang administrasi instalasi gawat darurat, ruang tunggu untuk pasien tidak nyaman,ruang triage yang tidak berfungsi dengan baik, dan tidak dibedakannya pintu masuk dengan pintu keluar Intalasi Gawat Darurat sehingga dapat menyebabkan terjadinya benturan antara pasien yang masuk dan keluar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan faktor-faktor kebijakan Implementasi Program K3RS di IGD RS ‘X’ Kota Cilegon. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dengan informan utama petugas kesehatan di IGD dan informan triangulasi Kepala Instalasi K3, Kepala Ruang IGD, dan Kepala Seksi Pelayanan Medik. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor implementasi dari segi isi dan tujuan program K3RS, komunikasi, dan komitmen masih kurang penerapannya dikarenakan sosialisasi dan pengawasan yang kurang. Sedangkan untuk sumber daya, lingkungan kerja, dan SOP sudah baik. Disarankan pihak rumah mengadakan sosialisasi secara rutin, dan perlu adanya sanksi atau teguran bagi petugas kesehatan yang tidak menerapkan program K3RS sesuai dengan SOP yang ada.
PENCEMARAN UDARA DALAM RUANGAN (KARBON DIOKSIDA DAN TOTAL SENYAWA ORGANIK VOLATILE) SERTA GANGGUAN PARU PADA SISWA SD DI DEPOK Najah Syamiyah
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol 1 No 02 (2021): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v1i02.1485

Abstract

Kualitas udara dalam ruangan yang baik di lingkungan sekolah sangat penting bagi kesehatan dan produktivitas siswa. Polusi udara dalam ruangan perlu menjadi pertimbangan, mengingat bahwa seseorang dapat menghabiskan 90% waktunya di dalam ruangan. CO2 dan Total VOC merupakan polutan dalam ruangan yang menyebabkan gangguan pada paru-paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan CO2, konsentrasi, VOC total dengan gangguan paru pada siswa SD. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang yang dilaksanakan pada bulan Maret – Mei 2021. Sampel penelitian adalah 110 siswa yang diambil dengan menggunakan simple random sampling. Nilai CO2 diukur dengan Q-trak, Total VOC diukur dengan ppbRAE dan nilai fungsi paru-paru adalah spirometri. Konsentrasi CO2 dalam ruang kelas adalah 478,70 ppm, rata-rata konsentrasi total VOC 6,4 x 10-3 ppm, % KVP = 72,66, % VEP1 = 74,52 dan rata-rata %VEP1/KVP = 93,97, dan proporsinya siswa dengan gangguan paru adalah 3,6%. Tidak ditemukan hubungan antara paparan konsentrasi CO2 dalam ruangan dan total VOC dengan gangguan paru VEP 1/KVP (CO2, p = 1.000 dan total VOC p = 0,374) karena jumlah mahasiswa dengan gangguan paru sedikit sedangkan konsentrasi CO2 dan tingkat VOC total di bawah ambang batas yang tercantum. Penelitian ini tidak menemukan bukti bahwa pajanan berhubungan dengan gangguan paru. perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah perlu ditingkatkan dan penelitian lebih lanjut tentang parameter pencemar udara dalam ruangan lainnya dan gangguan pernapasan atau penyakit degeneratif perlu dilakukan dengan metode yang berbeda.
KUALITAS UDARA DALAM RUANGAN SEKOLAH (PM2.5, PM10, CO2, DAN HCHO) DAN RISIKO KESEHATAN PADA SISWA DI KOTA SERANG Sischa Andriani
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol 1 No 02 (2021): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v1i02.1486

Abstract

Lingkungan dalam ruangan merupakan lingkungan mikro yang penting bagi siswa yang menghabiskan 6-8 jam di ruang sekolah dan rentan terhadap polusi udara. Beberapa penyakit pernapasan dalam kelompok ini terkait dengan kualitas udara yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kualitas udara di lingkungan sekolah dan menilai risiko kesehatan pada siswa. Penelitian mengukur kualitas udara (PM2.5, PM10, CO2, dan HCHO) di tiga SD kemudian dilanjutkan dengan penilaian risiko kesehatan. Penelitian ini menemukan bahwa konsentrasi PM2.5 dalam ruangan (A 0,113 mg/m3; B 0,119 mg/m3; C 0,056 mg/m3) dan konsentrasi PM10 dalam ruangan (A 0,188 mg/m3; B 0,071 mg/m3; C 0,229 mg/ m3) melebihi nilai standar di semua sekolah dengan risiko kesehatan (HQ>1) untuk PM2.5 di semua sekolah dan PM10 di dua sekolah. Sedangkan konsentrasi karbon dioksida dan formaldehida masih aman dan tidak memberikan risiko kesehatan (HQ < 1). Skenario pengelolaan risiko kesehatan dari paparan PM2.5 dan PM10 adalah dengan mengontrol konsentrasi paparan pada ambang batas aman PM2.5 0,035 mg/m3; 0,043 mg/m3 dan PM10 0,144 mg/m3 untuk sebagian besar penduduk pada waktu sekolah normal. Disimpulkan bahwa kualitas udara seluruh SD dalam penelitian ini belum memenuhi standar nilai yang ditetapkan dan diperkirakan memberikan dampak kesehatan pada siswa sehingga diperlukan pengendalian risiko kesehatan.
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT AKIBAT KERJA PADA KARYAWAN SMELTER ‘X’ INDUSTRI TAHUN 2020 Rahayu Tri
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol 1 No 02 (2021): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v1i02.1488

Abstract

Pengelasan merupakan tempat kerja yang berisiko tinggi menimbulkan gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis faktor yang berhubungan dengan Penyakit Akibat Kerja (PAK) pada pekerja las di Jalan A.Yani, Kota Banjarbaru. Desain penelitian adalah observasional analitik menggunakan metode cross sectional. Jumlah sampel berdasarkan quota sampling sebanyak 30 orang. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan antara usia (p=0,513), masa kerja (p=0,729), lama kerja (p=0,337) terhadap PAK. Namun, ada hubungan pengetahuan (p=0,046) dan penggunaan APD (p=0,000) terhadap PAK. Secara simultan usia, masa kerja, lama kerja, tingkat pengetahuan, dan penggunaan APD tidak berhubungan dengan kejadian PAK pada pekerja las. Secara parsial tingkat pengetahuan dan penggunaan APD hubungan parsial yang signifikan terhadap penyakit akibat kerja pada pekerja las. Tukang las yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang berisiko 5,442 kali lebih besar dibanding yang memiliki tingkat pengetahuan baik. Tukang las yang tidak menggunakan minimal empat APD utama berisiko 1,000 kali lebih besar dibanding yang menggunakan minimal empat APD utama. Tidak ada hubungan yang signifikan antara usia, masa kerja, dan lama kerja dengan penyakit akibat kerja. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan penggunaan APD terhadap penyakit akibat kerja.
Hubungan Pengetahuan, Persepsi dan Sikap Masyarakat dengan Perilaku Pencegahan Wabah Virus Corona (COVID 19) Tahun 2021 Fida asfia
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol 1 No 02 (2021): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v1i02.1500

Abstract

COVID 19 merupakan penyakit menular dimana sebagian besar orang yang terinfeksi virus ini memiliki keluhan gangguan pernafasan yang disertai dengan demam. Serangkaian kasus di China mengungkapkan bahwa sebanyak 81% kasus memiliki gejala ringan, 14% kasus memiliki gejala berat, dan 5% kasus masuk kedalam kategori kritis. Studi yang dilakukan di Cina pada tahun 2020 menyebutkan bahwa dari 1576 pasien yang terinfeksi, sebagian besar memiliki gejala klinis demam yaitu sebesar 91%, diikuti oleh batuk (67,7%), kelelahan (51%) dan dispneu (30,4%). (Jing Yang et all, 2020). Penelitian ini dilakukan di Provinsi Banten pada bulan Juli s.d Agustus tahun 2021. Desain penelitian ini menggunakan Crossectional. Dengan jumlah sampel sebanyak 143 orang diambil dengan rumus uji hipotesis beda dua proporsi. Teknik analisis data meliputi analisis univariat, uji chi square dan uji regresi logistik berganda. Hasil penelitian ditemukan bahwa Mayoritas responden memiliki perilaku baik dalam hal pencegahan penyakit COVID 19 yaitu sebanyak 56.6%., karakteristik responden mayoritas berada pada kategori dewasa tua (72,7%), memiliki tingkat pendidikan S1 (37.8%) dan Bekerja pada status pekerjaan (67.8%), memiliki tingkat pengetahuan Baik (58%), persepsi pencegahan Covid 19 yang positif (53.1%), dan Sikap yang positif (56.5%). Hasil dari Analisis bivariat yaitu ada hubungan yang signifikan antara usia responden, status pekerjaan, persepsi pencegahan covid 19, dan sikap dengan perilaku pencegahan covid 19 dimana nilai p<0,05.
ANALISIS IMPLEMENTASI STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KESEHATAN DI PUSKESMAS CURUG, KOTA SERANG Nova Wahyuni
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol 1 No 02 (2021): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v1i02.1501

Abstract

Pelayanan kesehatan di Kota Serang, Banten telah menerapkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan, Puskesmas Curug merupakan salah satu unit pelayanan Kesehatan masyarakat yang menerapkan 12 indikator dalam pelayanan dasar tersebut. Target yang ditetapkan didalamnya adalah 100% untuk setiap indikator pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, masih terdapat beberapa pelayanan di Puskesmas Curug yang belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh SPM bidang Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan SPM di Puskesmas Curug. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan cara indepth interview. Informasi dikumpulkan dari 5 informan yang terkait dalam pelaksanaan SPM terdiri dari informan utama dan informan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 indikator pelayanan yang belum memenuhi target SPM, yaitu pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan balita, pelayanan kesehatan pada usia lanjut, pelayanan Kesehatan penderita diabetes mellitus, pelayanan kesehatan penderita hipertensi, pelayanan kesehatan orang terduga tuberkulosis, serta pelayanan kesehatan orang berisiko HIV. Beberapa faktor yang menghambat laju target SPM diantaranya kuantitas dan kualitas sumber daya manusia yang kurang maksimal, wilayah demografi yang luas juga berpengaruh terhadap sarana dan prasarana yang dibutuhkan, budaya dan kesadaran masyarakat sebagai faktor eksternal, serta manajemen monitoring dan evaluasi yang kurang optimal.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kepatuhan Peserta Mandiri Membayar Iuran BPJS di Kelurahan Cipocok Jaya Shalsha Yunita
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol 1 No 02 (2021): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v1i02.1502

Abstract

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) merupakan badan penyelenggara yang kepesertaannya bersifat wajib sebagaimana tertuang dalam UU No.40 Tahun 2004. Di wilayah Banten, Kota Serang menduduki peringkat ke-2 sebagai wilayah dengan peserta BPJS terbanyak memiliki tunggakan dalam pembayaran BPJS di mana Kecamatan Cipocok Jaya memiliki jumlah tunggakan tertinggi yaitu 32.484 jiwa dan Kelurahan Cipocok Jaya memiliki jumlah tunggakan tertinggi sebesar 4.586 jiwa. Iuran sangat berpengaruh terhadap kelancaran berjalannya BPJS Kesehatan agar tidak terjadi defisit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang Memengaruhi kepatuhan peserta mandiri dalam membayar iuran BPJS di Kelurahan Cipocok Jaya. Penelitian dilakukan di Kelurahan Cipocok Jaya, Kecamatan Cipocok Jaya Kota Serang pada bulan maret- april tahun 2021. Sampel yang diambil adalah peserta BPJS mandiri sebanyak 102 orang. Desain penelitian menggunakan cross sectional dengan teknik pengambilan data purposive sampling. Analisis dilakukan dengan uji univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan peserta mandiri dalam membayar iuran BPJS (p-value = 0,000). Perlu adanya sosialisasi secara rutin dari petugas BPJS Kesehatan mengenai informasi pembayaran iuran tepat waktu.

Page 1 of 1 | Total Record : 9