cover
Contact Name
Carolina Damayanti Marpaung
Contact Email
jkgt@trisakti.ac.id
Phone
+6287808001055
Journal Mail Official
jkgt@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jl. Kyai Tapa No.260, RT.4/RW.16, Grogol, Kec. Grogol petamburan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11410
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 27160718     EISSN : 26856867     DOI : https://doi.org/10.25105/jkgt.v4i1
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu publishes articles and scientific work from Researches, Case Reports and Literature Reviews in Dentistry and Dental Science. The scopes vary from: Dental Surgery, Dental Forensics, Oral Biology, Oral Medicine, Dental Public Health and Preventive Dentistry, Paediatric Dentistry, Dental Materials and Technology, Conservative Dentistry,Orthodontics,Periodontics,Prosthodontics,Dental Radiology.
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu" : 18 Documents clear
Effect Of Ethanol, Hexane And Water Extracts Of Clinacanthus Nutans Leaves On Hone-1 Proliferation Moehamad Orliando Roeslan; Siti Ladia Fatima
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.141 KB) | DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7503

Abstract

Background: Mortality from cancer has increased especially in the developing country. Global pattern shows the half of mortality occurred in Asia. One type of cancer occurring in Indonesia is nasopharyngeal cancer. Clinacanthus nutans is a species of herbal plants in the Acanthaceae family that grows in tropical Asia, especially Indonesia. This plant is considered as one of traditional medicinal plants, which is effective in treating several diseases, including cancer. Different polarity of solvent that used to extract this plant will have different dissolved compounds. Objective: To determine the effect of ethanol, hexane, and water extract of C. nutans leaves on HONE-1 cell proliferation.Method: This study conducted using experimental research in vitro laboratory. Three different extract, ethanol, hexane, and water extract of C. nutans leaves treated to HONE-1 cell. Cell proliferation was measured using MTT assay.Result: The results showed significant differences (p <0.05) of treatments group compared to negative control. Ethanol extract showed the highest inhibition of HONE-1 cell proliferation.Conclusion: Ethanol, hexane, and water extract of C. nutans leaves could inhibit the HONE-1 cell proliferation
Perbandingan Kekuatan Tekan Gipsum Bangunan, Dental Plaster, Dan Orthodontic Plaster Nadya Putri Winandari; Octarina Octarina; Johan Arief Budiman
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1105.584 KB) | DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7513

Abstract

Latar Belakang: Gipsum merupakan mineral alam yang dimanfaatkan dalam konstruksi bangunan dan bidang kedokteran gigi. Bahan dasar partikel -hemihidrat dimiliki oleh gipsum bangunan serta gipsum kedokteran gigi tipe 2 yaitu dental plaster dan orthodontic plaster. Sifat mekanis berupa kekuatan tekan memiliki peranan penting dalam aplikasi gipsum di bidang kedokteran gigi. Tujuan: Untuk membandingkan kekuatan tekan gipsum bangunan dan gipsum kedokteran gigi tipe 2 setelah 24 jam. Metode: Penelitian eksperimental laboratoris dibagi kedalam 3 kelompok (gipsum bangunan, dental plaster, orthodontic plaster) yang masing-masing terdiri dari 10 sampel. Gipsum dimanipulasi dengan perbandingan 50 g bubuk dan 25 mL akuades, diaduk hingga homogen menggunakan gypsum mixer (HL-YMC, Cina). Adonan gipsum dituang pada mould silindris berukuran (20±0,2) mm x (40±0,4) mm sesuai standar ISO 6873/ Spesifikasi ADA No. 25 dan diletakkan pada vibrator. Berat gipsum ditimbang setelah pembuatan sampel dan setelah 24 jam. Pengujian kekuatan tekan dilakukan 24 jam setelah pembuatan sampel menggunakan Universal Testing Machine (Shimadzu AGX-V 10kN, Japan) dengan chs 1 mm/min. Hasil: Pada penelitian didapatkan perbandingan nilai rerata kekuatan tekan gipsum bangunan (11,51 0,65) MPa, dental plaster (11,18 0,75) MPa, dan orthodontic plaster (13,15 0,79) MPa. Orthodontic plaster memiliki kekuatan tekan tertinggi sedangkan nilai kekuatan tekan gipsum bangunan tidak berbeda bermakna dengan dental plaster. Analisis menggunakan One way ANOVA dan Post Hoc-Tukey menjelaskan bahwa nilai kekuatan tekan antar kelompok memiliki perbedaan signifikan dengan p<0,05. Perbedaan bermakna terjadi antara kelompok orthodontic plaster terhadap gipsum bangunan dan dental plaster. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa gipsum bangunan dapat digunakan sebagai bahan alternatif gipsum kedokteran gigi tipe 2.
Bahan Adhesif Restorasi Resin Komposit Eko Fibryanto
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.008 KB) | DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7514

Abstract

Latar Belakang: Bahan adhesif merupakan salah satu faktor penting dalam restorasi resin komposit. Resin komposit berikatan dengan jaringan gigi melalui bahan adhesif. Jaringan email dan dentin memiliki struktur yang berbeda sehingga berpengaruh terhadap perkembangan bahan adhesif. Pengetahuan dan pemahaman tentang perkembangan bahan adhesif dan prinsip ikatannya terhadap struktur gigi sangat diperlukan agar restorasi resin komposit dapat bertahan lama. Tujuan: untuk memberikan pengetahuan tentang perkembangan bahan adhesif serta prinsip dasar ikatannya terhadap jaringan email dan dentin. 
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua Dengan Kebutuhan Perawatan Ortodonti Interseptif (Kajian pada Anak Usia 8 - 11 Tahun di SDN 01 Krukut Jakarta Barat) Shilla Kamal; Yohana Yusra
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.06 KB) | DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7515

Abstract

Latar Belakang : Maloklusi yang mulai berkembang dapat segera dilakukan perawatan dini untuk mencegah bertambah parah pada periode gigi tetap. Jenis perawatan yang dapat dilakukan yaitu perawatan ortodonti interseptif. Perawatan ortodonti interseptif adalah perawatan yang dilakukan pada masa pertumbuhan ketika muncul tanda-tanda maloklusi pada periode gigi campur. Penilaian kebutuhan perawatan ortodonti interseptif dapat menggunakan Indeks Kebutuhan Perawatan Ortodonti Interseptif (IKPO-I). Penilaian indeks ini diberikan secara kuantitatif dengan memberikan skor spesifik pada tiap gambaran maloklusi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan kebutuhan perawatan ortodonti interseptif pada anak usia 8-11 tahun di SDN 01 Krukut Jakarta Barat. Metode: Pemeriksaan intra oral pada anak dengan kaca mulut yang dilakukan oleh dokter gigi dan pencatatan dengan menggunakan formulir pemeriksaan IKPO-I yang setiap indikator diberikan skor berdasarkan kondisi intra oral subjek. Jenis penelitian yang dilakukan berupa penelitian observasional analitik dengan rancangan potong silang. Hasil: Subjek penelitian sebanyak 90 murid SDN 01 Krukut Jakarta Barat. Hasil pemeriksaan menggunakan IKPO-I diperoleh hasil tingkat pendidikan orang tua sebagian besar berada pada tingkat pendidikan menengah sebanyak 73 (81,1%). 43 (47,8%) membutuhkan perawatan ortodonti interseptif, 9 (10,0%) tidak membutuhkan perawatan ortodonti dan 21 (23,3%) membutuhkan perawatan korektif. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dengan kebutuhan perawatan ortodonti interseptif (p = 0,448).
Gambaran Hasil Analisis Sefalometri Pada Pasien Ras Deutro Melayu Usia 8-12 Tahun Menggunakan Analisis Ricketts Rissa Anuar Shindy; Olivia Piona Sahelangi
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.814 KB) | DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7516

Abstract

Background: Cephalometric analysis is one of the supporting tools in establishing a correct diagnosis. From the various methods of cephalometric analysis, one that used is the analysis of Ricketts. This Ricketts analysis has a method for determining the position of facial convexity, dental position and face profile. This study was thus carried out to describe the value of cephalometric measurements in patients with Deutro Melayu race aged 8-12 years using Ricketts analysis. Method: This type of research is a descriptive observational cross sectional design. Samples were taken in the form of secondary data, namely cephalograms from orthodontic patients at RSGM FKG Usakti in January 2018 to December 2018. The analysis was carried out by measuring 8 Ricketts analysis parameters, namely: facial axis, facial depth, mandibular plane, convexity of point A, lower incisor to A-Pog, upper molar to PtV, lower incisor to A-Pog, lower lip to aesthetic lines. Result: Based on Ricketts analysis, the cephalometric mean value of RSGM FKG Usakti orthodontic patients was facial axis of 87,8°; facial depth of 85,6°; mandibular plane of 31°; convexity of point A 3,5 mm; the lower incisor distance to A-Pog of 3,0 mm; upper molar to PtV of 7,8 mm; the lower incisor angle to A-Pog of 23,5°;  lower lip to aesthetic lines of 1,9 mm. Conclusions: Deutro Malay Race has a skeletal class 1 with a tendency towards lower incisor proclination and mild  protusive lower lips.
Teknik Kompresi untuk Menciptakan Profil Jaringan Lunak Peri-Implan yang Lebih Baik Marie Louisa
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.663 KB) | DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7518

Abstract

Latar Belakang: Morfologi jaringan lunak peri-implan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan estetik implan. Dalam kepustakaan modern, teknik kompresi dinamis jaringan lunak merupakan salah satu metode untuk menciptakan profil jaringan lunak yang diinginkan. Tujuan: Tujuan laporan kasus ini adalah melaporkan metode pembentukan jaringan lunak menggunakan abutment sementara yang dimodifikasi dengan resin komposit untuk mendapatkan profil jaringan lunak yang diinginkan. Kasus dan Penatalaksanaannya: Seorang pasien laki-laki 52 tahun datang dengan kasus kehilangan gigi insisivus lateral atas kanan yang direhabilitasi dengan pemasangan implan. Setelah periode osseointegrasi selesai, profil jaringan lunak dibentuk dengan aplikasi kompresi menggunakan abutment sementara yang ditambahkan resin komposit secara inkremental. Setelah 1 bulan, profil jaringan lunak dipindahkan dalam bentuk cetakan dan kemudian dibuat restorasi implan akhir. Kesimpulan: Penggunaan custom healing abutment yang dimodifikasi merupakan salah satu metode pembentukan jaringan lunak peri-implan yang non-invasif dan estetis.
Pengaruh Minuman Kemasan Terhadap Kekasaran Basis Gigi Tiruan Sebagian Lepasan (Kajian Berdasarkan Perbedaan Derajat Keasaman) Andy Wirahadikusumah; Deviyanti Pratiwi; Helen Cyntya Andany
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.267 KB) | DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7519

Abstract

Latar belakang: Resin akrilik heat cured merupakan material kedokteran gigi yang sering digunakan untuk pembuatan basis gigi tiruan lepasan. Salah satu kelemahannya adalah mudah menyerap air yang dapat meningkatkan porositas. Derajat keasaman (pH) pada minuman kemasan dapat meningkatkan porositas sehingga kekasaran basis gigi tiruan akan meningkat. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh konsumsi minuman kemasan dengan variasi derajat keasaman terhadap kekasaran basis gigi tiruan sebagian lepasan resin akrilik. Metode: Penelitian eksperimental laboratoris ini menggunakan 20 sampel resin akrilik heat cured berukuran 20 10 3 mm yang dibagi menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok direndam selama 5 dan 15 hari dalam 5 ml larutan minuman yang memiliki variasi derajat keasaman berbeda (aquades pH 7, kopi pH 6.5, minuman buah  pH 3.7, dan minuman bersoda pH 2.5). Pengukuran kekasaran permukaan dilakukan sebelum dan sesudah perendaman pada bagian tengah permukaan poles dengan titik pengukuran yang sama sebanyak tiga kali setiap sampel menggunakan alat surface roughness testers. Hasil: Data yang diperoleh pada pengukuran kekasaran permukaan ini dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis H dengan hasil analisis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05) setelah perendaman selama 5 dan 15 hari. Kesimpulan: Tidak terjadi peningkatan kekasaran permukaan pada basis gigi tiruan resin akrilik heat cured yang telah dilakukan pemolesan dengan baik secara signifikan akibat mengkonsumsi minuman kemasan.
Distribusi Gingivitis Pada Pasien Skizofrenia (Kajian pada RSJD Dr. Amino Gondohusodo Semarang) Mikael Surya Editha; Lies Zubardiah
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.707 KB) | DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7520

Abstract

Background: Periodontal disease is a form of inflammation in the periodontal tissue commonly caused by bacteria. Periodontal disease consists of gingivitis and periodontitis. The clinical signs appears in gingivitis only occurs in the gingiva. The prevalence of periodontal disease in Indonesia in 2018 reached a number of 37,057%. Gingivitis can be occur to psychiatric disosder patient such as schizophrenia. Schizophrenia is a psychiatric disorder experienced by someone depicting the discordance or disharmony in the process of thinking, feeling, and doing. Normal individuals can easily learn the proper way to brush the teeth in order to wipe the plaque effectively. While, the brushing teeth education for schizophrenic patients is much harder to be accepted correctly. Objective:  To identify the frequency distribution of gingivitis lesions in schizophrenic patients at the Regional Psychiatric Hospital Semarang. Method: The descriptive observational research was conducted by looking at the secondary data which was a medical record of schizophrenic patients experiencing dental treatment in the dental polyclinics during 2015-2019. Results:  The undergoing dental treatment of schizophrenic patients were as many as 100 medical records. Gingivitis in schizophrenic patients are found 41% in most people ranged from 26 to 35 years old and 36 to 45 years old (63.42%). Based on gender, there are more men suffering from gingivitis lesions than women. Conclusion: A study shows that schizophrenia patients suffering gingivitis comes in a relatively high of number (41%).
Perspektif Anatomi Dan Antropometri Pada Senyum Wita Anggraini
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.26 KB) | DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7522

Abstract

The main muscle that forms a smile is the m.zygomaticus major, which pulls the corners of the mouth to the superior and lateral. The m.zygomaticus major area is related to one's appearance, both when active or inactive. Smiles are fundamentally divided into “spontaneous” or “true” smiles ("Duchenne" smiles) and “fake” smiles or “social” smiles ("non-Duchenne" smiles). In "Duchenne" smile there is an additional contraction of the orbicularis oculi muscle so that the cheeks are raised and form wrinkles around the eyes. The contraction of orbicularis oculi muscle is very difficult to do voluntarily. Clinical smile analysis can be in the form of facial palpation by observing anatomical superficial landmarks of the face. Anthropometric measurements in smile analysis are recommended using standardized photographs with 8 main components of assessment: lip line, smile arch, upper lip curvature, buccal corridors, smile symmetry, occlusal frontal plane, dental components and gingival components. The purpose of this paper is to examine smiles in an anatomical and anthropometric perspective. 
Tatalaksana Perawatan Doskolorasi Intrinsik Dengan Perawatan Saluran Akar Dan Metode Walking Bleach Ie Elline Istanto
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.088 KB) | DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7526

Abstract

Background: Intrinsic discoloration of the tooth can be caused following trauma, loss of vitality, endodontic treatment, and restorative procedures apart from known local and systemic factors. Tooth bleaching, veneering or placement of a full coverage crown are treatment options for discolored tooth. Non-vital teeth that are extensively discolored are highly receptive for bleaching techniques. This case report discusses a patient having discoloration in the anterior region with caries in proximal distal. In  clinical  aspects  considerations,  it was essential for  a minimally  invasive and achieve esthetic treatment. Objective: This case report is written to bring forward the proper and successful management in esthetic treatment of anterior maxilla in discoloration with caries in proximal case. Case and management : A 20 years old female patient complained of discoloration in 11 and feels uncomfortable with her condition. On examination, 11 caries D6 ICDAS, Mount & Hume site 2 size 3 and Class IV G.V Black. In first appointment, patient was informed about the treatment and signed informed consent. Endodontics treatment was performed in multiple visit. Root canal preparation was performed using TF Adaptive   25/.08, 35/.06, 50/.04. Obturation used warm vertical compaction. After finishing the endodontics treatments 2 mm  wing barrier was built to prepare the walking bleach method. Walking bleach using hydrogen peroxide 35% was applicated in pulp chamber for 1 week.  In next visit, composite restoration was done. Conclusion: Management in intrinsic discoloration  can be done by performing endodontic treatment , walking bleach combined with composite restoration  and they can give satisfactory result.

Page 1 of 2 | Total Record : 18