cover
Contact Name
Erna Meiliana
Contact Email
ernameiliana@trisakti.ac.id
Phone
+6287840093703
Journal Mail Official
jurnal_dimensi@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Jl.Kyai Tapa No.1 Grogol Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 25275666     EISSN : 25497782     DOI : https://doi.org/10.25105/dim
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain diterbitkan oleh Fakultas seni Rupa dan Desain. Jurnal ini terbit 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu Februari dan September. Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal bidang seni dan desain yang terbilang aktif sejak pertama kali diterbitkan dari tahun 2003 sampai sekarang. Menjadi salah satu jurnal seni dan desain yang banyak diminati oleh para penulis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia
Articles 285 Documents
CITRA VISUAL DAN VERBAL DALAM POSTER KAMPANYE BERPERILAKU BAIK DI MACAU Elda Franzia
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.878 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i1.474

Abstract

Abstract The Visual and Verbal Image of Well Behaviour Poster Campaign in Macau. Macau is one  of the country in Asia that is known for its gambling tourism objects. As a country that is built its economic bases from tourism sector, the goverment of Macau needs to socialize good behaviour to citizens and tourits of Macau through behaviour posters that hung along the crossing bridge. Those posters convey the message of several important good behaviour that need to do by the citizent and tourist in order to maintain the peaceful of neighbourhood. Those posters use three language to send verbal language, wich are Chinese, Portuguese, and english. For visual structures, those posters contain comical character, background, and speech bubble. In semantic principles, those posters have semantic, sintactic, and pragmatic functions. Throuhg comical style, those poster become visually interesting and the message can be communicated well. AbstrakCitra Visual dan Verbal dalam Poster Kampanye Berprilaku Baik di Macau. Macau merupakan negara kecil di Asia yang terkenal dengan objek pariwisata perjudiannya. Sebagai negara yang membangun perekonomiannnya dari sektor pariwisata, pemerintah Macau memandang perlu untuk mensosialisasikan sikap dan perilaku baik bagi penduduk dan pendatang di Macau , melalui poster-poster perilaku yahg dipasang di sepanjang jembatan penyebrangan. Poster-poster ini berisi perilaku-perilaku baik yang harus diperhatikan , baik berupa anjuran maupun larangan, agar tercipta ketenangan dan ketentraman lingkungan yang diinginkan. Poster-poster tersebut menggunakan tiga bahasa sebagai penyampai pesan verbal, yaitu Bahasa Cina, Bahasa Portugis, dan Bahasa Inggris. Sedangkan secara struktur visual, poster-poster tersebut memiliki unsur tokoh karikatur, latar visual dan gelembung percakapan. Dalam kaidah semiotika, poster-poster tersebut memenuhi fungsi semantik, sintaksis, dan pragmatik. Melalui gaya komik, diharapkan poster-poster tersebut menjadi menarik dan pesan serta larangan yang ingin disampaikan dapat dikomunikasikan dengan baik.
SEJOLI VITRIN DAN CAHAYA BUATAN SEBAGAI WADAH PAMER KAIN BATIK KLASIK Muhammad Fauzi; Yuke Ardhiati; Ganal Rudiyanto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.809 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i1.929

Abstract

AbstractBatik has become a part of Indonesian cukture dating back hundreds of years ago. Batik uniqueness, lies in the coloring process that uses wax as part of a protected cover. Classical Batik is a valuable work of art, which needs to be protected, so therefore batik is also made of organic materials, then it is most vulnerable or damaged. The process of batik fabric damge can be physically or chemically. environmenal influences such as light moisture, temperature and poluttion is a major cause of the damage. And for that, then the batik collection on display using display type vitrin equipped as protective glass.Observation data is done in the Textile Museum ( Galllery Batik) , Pekalongan Batik Museum and National Museum of Singapore that shows some of the less ideal in order to show off vitrin. This will in trying to analysis of those aspects of teh display and lighting aspects.The result of analysis followed in the drafting process vitrin and artificial Light with design concepts from batik geometry and the philosaphy of one motif with similar meaning as the container. SO that the design is expected to improved the image galleries and museum in the public eye in terms of aesthetics, comfort and Protectuion of the collection  can be improved AbstrakBatik sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Keunikan batik terletak pada proses pewarnaan dengan menggunakan lilin sebagai penutup bagian yang terlindungi. Batik tulis klasik merupakan karya adiluhung yang perlu dilindungi, oleh karena itu batik tulis juga terbuat dari bahan-bahan organik, maka hal ini sangat rentan atau mengalami kerusakan. Proses kerusakan kain batik dapat secara fisik maupun kimiawi. Pengaruh lingkungan seperti cahaya kelembabab suhu udara dan polusi merupakan penyebab utamanay terjadinya proses kerusakan itu, untuk itulah maka koleksi batik yang dipamerkan menggunakan display jenis vitrin yang dilengkapi kaca sebagai pelindung.Data observasi yang dilakukan di Museum Tekstil ( Galeri Batik) , Museum Batik Pekalongan dan Museum Nasional Singapura. Menunjukk=ka beberapa kurang idealnya tata pamer pada vitrin. Hal ini akan dicoba analisis dari aspek-aspek display dan aspek pencahayaan. Hasil dari analisa dilanjutkan dalam proses perancangan vitrin dan cahaya buatan denga konsep perancagan yang  berasal dari transformasi motif batik geometri dan dipilih motif yang memiliki filosofi serupa dengan fungsi vitrin. Sehingga hasil perancangan ini diharapkan dapt meningkatkan citra galeri dan museum di mata masyarakat dari segi estetika, kenyamanan dan perlindungan terhadap koleksi dapat ditingkatkan.
BAUHAUS AWAL SEKOLAH DESAIN Asidigisianti Surya Patria
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1256.894 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i1.930

Abstract

AbstractBauhas is one of school of design in Germany which combine between art and craft. It was found by Walter Gropius who was and German Architect. Although Bauhas was only last for 15 years ( 19-19-1933) , it has huge impact to design and architecture. Besides the Bauhas artwork broke through the existing design inhtat period of time, the published book are used in school of design around the world. even the international style such as simple and use primery color also geometric shape become the part of modern design. The learning philosophy is also used until now which is learning by doing through studio system and workshop in school of design AbstrakBauhaaus adalah sekolah desain pertama di Jerman yang menyatukan anatara seni dan kriya . Didirikan oleh Walter Gropius seoranh arsitek Jerman. Meskipun hanya berdiri selama 15 tahun ( 1919-1933) pengaruhnya besar terhadap desain dan arsitektur. Selain karya-karya yang dihasilkan mendobrak rancangan yang telah ada, buku-buku yang dipublikasikan juga menjadi acuan sekolah-sekolah desain seluruh dunia. Bahkan gaya yang dinaut, seperti sederhana dan menggunakan warna primer serta bentuk geometris tetap menjadi acuan desain modern. Bhakan filosofi embelajarannya juga diterapkan hingga kini, yaitu learning by doing melalui sistem studio dan bengkel kerja di sekolah-sekolah
PERKEMBANGAN SENI RUPA URBAN DI SURAKARTA Agustinus Sumargo; Sigit Purnomo Adi
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1347.056 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i1.931

Abstract

AbstractAmong the various ar forms existing and developing in Indonesia today, the urban art has a unique history of emergence. This form of art did not emerge through the process common to other nations, where it grew up out of a long tradition. The factors behind the appereance of urban art in Indonesia are also different. In general, the growth and development of international urban art has been inseparable from the artist's treatment of aesthetic values. When these young artist's had just begun to delve into urban art, other art forms had already entered their respective modern period. Because of this, the urban art seemed to sudenly appear in the midst of other established art form in IndonesiaAbstrakDi antara berbagai aliran seni yang ada dan berkembang di Indoensia saat ini, seni urban memiliki sejarah kemunculan yang unik. Seni Urban tidak muncul melalui proses yang umum di negara-negara lain, di mana terdapat tradisi yang panjang. Faktor-faktor di belakang kemunculan seni urban di Indoensia juga berbeda. Secara umum, pertumbuhan dan perkembangan seni urban Internasional tidak dapat dipisahkan dari perlakuan senimannya terhadap nilai-nilai aestetik. Begitu seniman seniman muda ini mulai terjun ke dalam seni urban, akiran seni lainnya sudah memasuki masa modern. Oleh karena  itu sepertinya seni urban muncul secara mendadak di tengah aliran seni lainnya
RANCANAGAN ORNAMEN 'MOTIF-MOTIF URBAN' PADA KAIN TENUN NUSANTARA Dina Martin; Ganal Rudiyanto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1936.93 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i1.932

Abstract

Abstract Indoensia rich in ornaments, motifs and color of clothes weaving. This diversity is the influence of geographical factors, demograraphic and outsider influences. There are several working techniques, the most common technique is the tehnique of ikat weaving lungsi, the second is the technique of feed belt, tie the third is called multiple or double ikat tie. Sumba is one area in Indonesia is rich in decoration of ikat weaving. Researchers used a contructivist the existing motifs on weaving clothes , it used as the basis of creation, the science of aesthetics, science, phenomenology, and the science of design. Urban weaving motifs created by using a phenomenological observation motifs that exist in Sumba ikat, and observations made by researchers observed using the sense and reflect the basis for the creation of urban motifs woven fabric. To create new weaving patterns of urban motifs as the end of the result. AbtrakIndonesia kaya akan ragam hias, motif dan pewarnaan pada kain Nusantara . Keragaman ini merupakan pengaruh dari faktor geografis, demografis dan pengaruh luar. Ada beberapa teknik pengerjaan, teknik yang paling umum adalah teknik ikat lungsi, kedua adalah teknik ikat pakan, ikat yang ketiga adalah yang disebut dengan tenun ikat berganda atau dobel ikat. Sumba merupakan salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan ragam hias tenunnya. Peneliti menggunakan pardigma teori filsafat konstuktivisme Guba, secara ontologi, epistomologi dan metodologi.
PENCIPTAAN COSPLAY TOKOH WAYANG 'LIMBUK' UNTUK SENI PERTUNJUKAN URBAN DI JAKARTA Putri Anggraeni Widyastuti; Yuke Ardhiati; Krishna Hutama
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.554 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i1.935

Abstract

AbstractIn general beginner-level cosplayer and common people think that in cosplay events, cosplayers pklay as fictional and non-fictional characters from America or Japan. However, a similar event charged this perception somewhat. In Hellofest, cosplayers not only play as characters from Japan or America, but also from Indoensia. In this event, one can find cosplayers posing as characters inspired from wayang talesOf Course, this changes the principal meaning of cosplay itself. Cosplay is the art of playacting, not unlike theatre, as in cosplay can be considered as a part of urban art. To popularize this urban event, the wayang character "Limbuk" was created. This serves not only as a critic for cosplay in general, but it also serves as a solution for cosplayers with rotund bodies who are concerned with their body shapes. It also helps preserve the wayang tradition in this globalization era, while introducing this female punakawan to the peopleUsing qualitative reserach method with the grounded theory and phenomenology approaches, as well as supported by several theories, such as the post-modern theory, the writers tried to conceptualize the cosplay of the awayang character " Limbuk" for theatrical shown in Jakarta. The process itself is not so different from fashion designing in general AbstrakPada umumnya cosplayer pemula dan masyarakat awam hanya mengetahui bahwa dalam acara cosplay, cosplayer menampilkan karakter fiksi dan non fiksi dua dimensi dari Jepang atau amerika ke dalam bentuk tiga dimensi. akan tetapi , melihat seuah fenomena acara sejenis yang berbeda, mengubah pemikiran mengenai cosplay. acara tersebut adalah Hellofest, di mana para cosplayer mengenakan kostum dan dandanan karakter dari Jepang atau Amerika tetapi juga dari Indonesia. Di acara ini, dapat ditemui para cosplayer mengenakan kostum dan dandanan yang terinsipirasi dari tokoh pewayangan.Ini tentu saja mengubah pemahaman mengenai cosplay itu sendiri. Cosplay adalah seni bermain peran seperti layaknya teater, karena bagimanapun juga dalam acara cosplay terdapat kabaret yang diikuti oleh tim-tim cosplayer. Jadi tidak heran kalau cosplay merupakan bagian dari seni pertunjukan urban. Untuk meramiakan acara seni pertunjukan urban ini, maka dibuatlah penciptaan tokoh wayang Limbuk. Ini di samping sebagai kritik terhadap cosplay pada umumnya, juga sebagai solusi bagi cosplayer bertubuh gemuk, agar bisa ikut bagian dalam acara cosplay tanpa harus khawatir dengan bentuk tubuh. Di samping ini juga memlestarikan pewayangan di era globalisasi ini. Selain ini juga memperkenalkan dan mengapresiasi tokoh punkawan wanita ini kepada masyarakat.Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan grounded theory dan fenomenologi, serta didukung dengan berbagai teori seperti teori postmodern, penulis mencoba membuat konsep penciptaaan cosplay tokoh wayang " Limbuk" untuk seni pertunjukan di Jakarta. Untuk proses penciptaaan cosplay karakter ini tidak jauh berbeda denga yang dilakukan desainer fashion pada umumnya
KELAHIRAN GAYA UBUD DAN GAYA BATUAN DALAM SENI LUKIS BALI PADA MASA KOLONIAL BELANDA M. Agus Burhan
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1251.59 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i1.937

Abstract

Abstract This research reveal the changing of Balinese traditional painting in 1930's era. The consequence of their interaction with European painters and the influence of tourism, Balinese painting that have been bound to their traditions show the significant changing. Form and function is not any longer sacred and bound to the puppetries mythology ot their mythology, but they shift into profane function and express daily life world. The expert in that era called this a modern balinese painting or new design Balinese painting. Balinese painting developed became a genuinese expresion with many personal style and group style of painters. This development certainly could not be separate form social stucture and the society that support it. AbstrakPenelitian ini mengungkapkan tentang perubahan seni lukis Bali tradisional pada tahun 1930-an. Akibat interaksi dengan pelukis-pelukis Eropa dan pengaruh pariwisata, seni lukis Bali yang berabad-abad terikat denga tardisi, pada masa itu menunjukkan perubahan sangat signifikan. Bentuk dan fungsinya tidak lagi bersifat sakral dan terikat mitologi wayang atau mitologi lainnya, tetapi telah beralih pada fungsi profan dan mengungkapkan dunia kehidupan sehai-hari. Para ahli pada masa iti menyebutnya sebagai seni Bali modern atau seni lukis Bali corak bru. Seni lukis Bali itu memang telah berkembang menjadi ungkapan jati dengan berbagai gaya pribadi pelukis maupun dalam gaya kelompok. Perkembangan yang demiian tentu tidak lepas dari struktur sosial dan masyarakat yang menyangganya pula.
MENELUSURI MASYARAKAT KOTA DAN KAUM URBAN Julius Andi Nugroho
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1279.72 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i1.938

Abstract

Abstract Jakarta is considered by many people, especially the urban as a paradise in search of sustenance, so that urban from the various provinces are many came to Jakarta to seek their fortune in Jakarta. Some urbanities who came to Jakarta bring asset and these are some that did not carry at all, so he does not have a palce to live. Many of the urban use land of another person or riverside to be their home in Jakarta. Riverside areas in Jakrta now is full of wlild settlement that should not be established for residential. Is it true that 100% the cause of flooding in Jakarta because of the existing settlements on the edge of the river and also the waste discharged into river AbstrakKota Jakrta di anggap oleh banyak orang khusunya kaum urban sebagai surganya dalam mencari rejeki, sehingga kaum urban dari berbagai propinsi banyak yang datang ke Jkarta untuk mencari keberuntungan di Jakarta. Kaum urban yang datang ke Jakrta ada yang membawa modal dan ada juga yang tidak mebawa sama sekali, sehingga ia tidak mempunya tempat tinggal. Banyak kaum urban yang menggunakan tanah orang lainataupun pinggiran sunagi untuk dijadikan rumah tinggalnya di Jakarta. Daerah pinggiran sungai di Jkarta sekarang ini penuh dengan pemukiman liar yang seharusnya tidak boleh dijadikan sebagai pemukiman . Apakah benar 100% penyebab banjir di Jakarta karena pemukiman liar yang ada di pingiran sungai dan juga sampah-sampah yang dibuang ke sungai?
ESTETIKA JEAN FRANCOIS LYOTARD SEBAGAI "ESTETIKA RUANG KETIDAKSADARAN FREUDIAN' Akhyar Yusuf Lubis
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1331.325 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i2.302

Abstract

Abstract The term postmodern was born in the world of art. Now, though, the term has found a widesperad use in other field. Francois Loytard was a Philosoper who helped popularise the term among the academic community. He wrote an interesting , yet relatively unknown theory postmodern aesthetics. At a glance, Lyotard seemed to ignoe aesthetics theories in favour of merely enjoying works of art, for to him, art has to be able to mesmerize and make someone enjoy it. AbstrakIstilah posmodern lahir dari dunia seni dan pengguanaan istilah itu sekarang telah merambah ke berbagai bidang ilmu pengetahuan. Francois Lyotard, termasuk pemikir yang mempopulerkan istilah posmodern di lingkungan akademis. Francois Lyotard juga menulis tentang teori estetika posmodern yang sangat menarik, namun relatif belum dikenal 
THE TRANSFORMATION OF HOUSES IN KAUMAN YOGYAKARTA SETTLEMENT AS A FORM OF CULTURAL STAGES Cama Juli Rianingrum
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1452.581 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i2.303

Abstract

AbstrakManusia menerima alam dengan segala kondisinya karena memang bukan manusia yang menciptakan alam, namun dengan akalnya manusia mencari pemecahan masalah dari berbagai persoalan hidup sehari-harinya dan berusaha mengendalikan alam agar sesuai dengan keinginannya.Bangunan dalam pemukiman Kauman Yogyakarta mengalami pergeseran dan perubahan bentuk, yang menurut teori Peursen terjadi dalam tiga tahap kebudayaan, yaitu tahap mistis ( alam pikiran), tahap ontologis dan tahap fungsionil. Selama peradaban manusia berlangsung selalu tampil dalam sebuah kebudayaan, sebagai hasil budi daya akal manusia terhadap suatu perubahan peradaban atau perubahan jaman. AbstractHuman received nature with all of it's condition because it was not human who created nature , but with their intelligence human seeked for resolution of their various everyday life's problems and tried to control the nature for their own desire. The building on Kauman Yogyakarta settlement had experecienced shifts and alterations to it's form, with according to the the Peursen's theory happened in three cultural stages, the mystical stage ( the mind), the ontological stage and the functional stage.

Page 1 of 29 | Total Record : 285