cover
Contact Name
Yanita Mutiaraning Viastika
Contact Email
yanitamutiaraningviastika@unwiku.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
mp@unwiku.ac.id
Editorial Address
Fakultas Peternakan, Universitas Wijaya Kusuma. Jalan Raya Beji Karangsalam Purwokerto. 53152
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Peternakan
ISSN : 14113538     EISSN : 29855527     DOI : https://doi.org/10.56681
Aims Media Peternakan (MP) accommodates articles / scientific works which has not been published yet. Fields of journal cover aspects of animal sciences: animal feed and nutrition, feed science and technology, feed additive technology, ; animal reproduction and physiology, genetics, animal production; animal behaviour, welfare, livestock farming system; socio-economic and policy; and animal products science and technology Scope Media Peternakan (MP) encompasses a broad range of research topics in animal sciences: Breeding and Genetics, Reproduction and Physiology, Animal Nutrition, Feed Sciences, Agrostology, Animal Products, Food Processing and Technology, Biotechnology, Behaviour, Animal Welfare, Health, Livestock Farming System, Livestock and Climate Change, Socio-economic, and Policy.
Articles 33 Documents
Penggunaan Tepung Cacing Tanah dan Tepung Jagung Fermentasi Terhadap Pertambahan Bobot Badan Ayam Buras Periode Starter Sulistyaningtyas -
Media Peternakan Vol 19, No 2 (2017): MEDIA PETERNAKAN
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.86 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertambahan bobot badan, konsumsi dan konversi pakan ayam buras periode starter yang diberi pakan tepung cacing tanah dan jagung fermentasi. Materi yang digunakan adalah ayam buras periode starter sebanyak 81 ekor. Metode penelitian yang dipakai Rancangan Acak Lengkap dimana perlakuan disusun secara faktorial (3x3) dengan 3 kali ulangan untuk setiap kombinasi perlakuan. Sebagai faktor pertama adalah level tepung cacing tanah (C) yaitu C1 (5 persen), C2 (15 persen), dan C3 (25 persen). Faktor kedua adalah tepung jagung fermentasi (F) yaitu F1 (10 persen), F2 (20 persen), dan F3 (30 persen), serta interaksi antar kedua macam bahan pakan tersebut. Berdasarkan rancangan tersebut terdapat 27 unit percobaan, dimana setiap unit perlakuan terdiri dari tiga ekor ayam buras periode starter. Peubah yang diamati adalah pertambahan bobot badan, konsumsi dan konversi selama sembilan minggu. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam dan apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan rataan pertambahan bobot badan ayam buras selama sembilan minggu adalah sebesar 424,10 gram ± 42,34 gram dengan kisaran antara 380 sampai 500 gram. Rataan pertambahan bobot badan pada masing-masing level perlakuan tepung cacing tanah sebesar 432,50 gram; 410,29 gram; 429,54 gram dan pada level perlakuan tepung jagung fermentasi adalah sebesar 417,59 gram,; 417,22 gram; 437,50 gram, serta kombinasi antar kedua bahan pakan yang tertinggi adalah C3F3 yaitu sebesar 503,89 gram. Untuk hasil analisis ragam menunjukkan bahwa ransum dengan perbedaan pada level tepung cacing tanah dan tepung jagung fermentasi serta interaksi antar dua macam bahan pakan tersebut berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap pertambahan bobot badan, konsumsi pakan dan konversi pakan ayam buras periode starter.Kata kunci : tepung cacing tganah, tepung jagung fermentasi, ayam buras The objective of the research is to study the body weight gain, consumption and feed conversion of starter period buras chicken which is feed earthworm meal and fermented corn meal. Material used were 81 heads of starter period of buras chicken. Randomizes Complete Design was used as a research method whereas treatment is arranged by factorial way (3x3) with 3 times repeat of every treatment combination. As first factor is the level of earthworm meal (C) such as C1 (5 percent), C2 (15 percent) and C3 (25 percent). As second factor is the level of fermented corn meal (F) wich are F1 (10 percent), F2 (20 percent) and F3 (30 percent), and the interaction of both kinds of feed material. There were 27 units of experiment while every unit of treaqtment consist of three heads of starter period of buras chicken. The variable observed are body weight indrement, consumption and feed consumption during nine weeks. Data gained were analyzed with variation analysis and if it occurs different between the treatments it is continued with Honest Significant Difference (HSD) test. The result shows that the mean of buras chicken body weight gain for nine weeks is 424,10 grams ± 42,34 grams with range between 380 to 500 grams. The mean of body weight increment on each level of earthworm meal treatment are 432,50 grams; 410,29 grams; 429,54 grams, and on the level of fermented sorn meal diet are 417,59 grams,; 417,22 grams; 437,50 grams, while the combination between both feed material shows that the highest respon of body weight gain is C3F3 which is 622,12 grams. The variation analysis indicates that the treatment of different level of earthworm meal and fermented corn meal and also interaction between both kinds of feed materials have non significant (P > 0,05) to body weight gain, feed consumption and feed convertion of starter buras chicken. Key words : earthworm meal, fermented corn meal, buras chicken 
PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PRODUKTIVITAS RUMPUT ODOT (PENNISETUM PURPERIUM cvMOOT) DI PADANG PENGGEMBALAAN MARIBAYA KECAMATAN BUMIAYU Feki Aris Riyanto; Soegeng Herijanto; Susilo Rahardjo
Media Peternakan Vol 24, No 2 (2022): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.239 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variansi jarak tanam terhadap produksi rumput odot. Materi yang di gunakan adalah lahan kebun rumput, cangkul, tali, sabit, meteran, timbangan digital, bibit rumput dan pupuk kandang. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 9 ulangan jarak tanam pada setiap perlakuan sebagai berikut : P1 40x40; P2 50x50; dan P3 60x60. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot segar per plot. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf 1 % dan 5%, apabila menunjukan adanya pengaruh signifikasi maka di lakukan uji lanjut dengan Uji Beda Nyata Terkecil ( BNT). Hasil penelitian terlihat bahwa perlakuan P3 menunjukan produksi tertinggi dibandingkan dengan perlakuan jarak tanam P1 dan P2 dengan rata-rata tinggi tanaman 43,43. Jumlah daun 27,00 dan bobot segar 2.61 kg per plot. Kata Kunci: Jarak tanam , Rumput odot, Produksi This study aims to determine the effect of spacing variance on production of odot grass.The materials used are grass garden land, hoes, ropes, sickles, meters, digital scales, grass seeds and manure. This research was conducted experimentally using a Randomized Block Design ( RCBD ) with 3 treatments and 9 replications of spacing for each treatment as follows : P1 40x40 P2 : 50x50 and P3:60x60 .The variables observed were plant height, number of leaves and fresh weight per plot.The data obtained were analyzed according to the analysis of variance (ANOVA) at the level of 1% and 5%, if it showed a significant effect, further tests were carried out with the Smallest Significant Difference Test (BNT). The results showed that the P3 treatment showed the highest production compared to the spacing treatment P1 and P2 with an average plant height of 43.43, number of leaves 27.00 and fresh weight of 2.61 kg per plot. Keywords : Spacing, Odot grass, Production
EVALUASI PENDAPATAN PETERNAK AYAM BROILER PADA SISTEM PERKANDANGAN CLOSED HOUSE DAN TRADISIONAL Fani Dwi Evadewi; Tri Sukmaningsih
Media Peternakan Vol 23, No 2 (2021): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.245 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem perkandangan (closed house dan tradisional) terhadap penghasilan peternak ayam broiler. Penelitian ini telah dilaksanakan di peternakan ayam broiler Desa Rawalo Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya tetap tertinggi pada sistem closed house berturut-turut adalah biaya peralatan 53,97%, biaya penyusutan kandang 25,97%, penyusutan gudang 14,03%, bangunan listrik 4,51%, dan tendon air 1,50%. Sedangkan pada peternak tradisional berturut-turut dari tertinggi adalah biaya kandang 67,79%, biaya peralatan 24,48%, gudang 6,61%, dan tendon air 1,11%. Proporsi biaya variabel tertinggi pada kedua kelompok peternak adalah biaya pakan, biaya DOC, tenaga kerja, listrik, medicine dan bahan bakar. Proporsi biaya variabel pada kedua kelompok lebih dari 97 % dari total biaya. Rata-rata penerimaan yang diterima oleh peternak ayam pedaging yang menggunakan sistem closed house lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang diterima oleh peternak ayam pedaging dengan sistem tradisional. Pendapatan per periode produksi yang diterima oleh peternak ayam pedaging dengan sistem closed house Rp34.323.888 lebih tinggi bila dibandingkan dengan peternak sistem tradisional Rp16.790.140. Demikian juga rasio antara penerimaan dengan biaya (R/C) bahwa pada usaha peternakan ayam pedaging dengan sistem closed house lebih tinggi (1,16) bila dibandingkan dengan pada sistem tradisional (1,09). Secara keseluruhan penghasilan yang diterima sebesar Rp134.004.925 untuk kandang dengan sistem close house, dan Rp122.559.536,01 untuk kandang tradisional. Kata kunci: ayam broiler, sistem close house, sistem tradisional, penghasilan, pendapatan ABSTRACT This study aims to determine the effect of the cage system (closed house and traditional) on the income of broiler breeders. This research was carried out at a broiler farm in Rawalo Village, Rawalo District, Banyumas Regency. The results showed that the highest fixed costs in the closed house system were equipment costs 53.97%, cage depreciation costs 25.97%, warehouse depreciation 14.03%, electrical buildings 4.51%, and water tendons 1.50 %. Meanwhile, for traditional breeders, from highest to highest, the cost of cages is 67.79%, equipment costs are 24.48%, warehouse costs are 6.61%, and water tendon is 1.11%. The highest proportion of variable costs in the two groups of farmers is the cost of feed, DOC costs, labor, electricity, medicine and fuel. The proportion of variable costs in both groups was more than 97% of the total costs. The average income received by broiler farmers using the closed house system is higher than that received by broiler farmers using the traditional system. The income per production period received by broiler farmers with a close house system is Rp. 34,323,888, which is higher than that of farmers with a traditional system of Rp. 16,790,140. Likewise, the ratio between revenue and costs (R/C) that in broiler farming with a close house system is higher (1.16) when compared to the traditional system (1.09). Overall, the income received was Rp. 134,004,925 for cages with a close house system, and Rp. 122,559.536.01 for traditional cages. Keywords: broiler, close house system, traditional system, income.
EFEKTIVITAS PEMBERIAN MINYAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Linn) PADA MENCIT (Mus musculus) INFERTIL TERHADAP KADAR LUTEINIZING HORMONE (LH) DAN JUMLAH CORPUS LUTEUM (CL) Yanita Mutiaraning Viastika; Citopartusi Margaluna Purnama Tjahjani; Sari Eko Tuswati
Media Peternakan Vol 22, No 2 (2020): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.231 KB)

Abstract

AbstrakInfertilitas dapat menyebabkan gangguan sekresi hormon reproduksi, salah satunya adalah Luteinizing Hormone (LH). Gangguan sekresi LH akan menyebabkan gangguan pada proses ovulasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian minyak buah merah (Pandanus conoideus Linn) dapat menurunkan kadar LH dan meningkatkan jumlah corpus luteum. Mencit dibagi menjadi empat kelompok perlakuan, P0 sebagai kontrol negatif (mencit normal), P1 sebagai kontrol positif (mencit infertil), P2 dan P3 mencit infertil yang diberi minyak buah merah dengan dosis 0.05 ml dan 0.1 ml selama 14 hari. Kemudian kadar LH diukur menggunakan Elisa. Jumlah corpus luteum dihitung pada preparat histopatologi dari ovarium mencit dengan pewarnaan HE. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kadar LH dan peningkatan jumlah CL setelah pemberian minyak buah merah (Pandanus conoideus Linn).Kata kunci: minyak buah merah, LH, Corpus LuteumAbstractInfertility can cause reproductive hormone secretion, one of which is Luteinizing Hormone (LH). LH secretion disorders will cause interference on the process of ovulation. The purpose of this research was to know the effectiveness of giving red fruit oil (Pandanus conoideus Linn) can decrease the levels of LH and increase the number of corpus luteum. The mice were grouped into four groups, that are P0 as negative control (normal mice), P1 as positive control (infertile mice), P2 and P3 infertile mice respectively given a dose of 0.05 ml and 0.1 ml red fruit oil for 14 days. After treatment, blood serum LH was measured using Elisa. Number of corpus luteum were counted from HE stained histopathological preparation of the mice ovaries. Results showed decrease in serum LH and increase in CL number after the administration of red fruit (Pandanus conoideus Linn) oil. Key words: red fruit oil, LH, Corpus Luteum
Proporsi Spermatozoa Y Hasil Pemisahan dengan Menggunakan Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll dan Lama Penyimpanan yang Berbeda pada Domba. Susilo Rahardjo
Media Peternakan Vol 19, No 2 (2017): MEDIA PETERNAKAN
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.232 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui interaksi antara densitas dan lama penyimpanan terhadap proporsi spermatozoa Y ,( i ) mengetahui pengaruh gradien densitas percoll terhadap proporsi spermatozoa Y (ii ), mengetahui pengaruh lama penyimpanan terhadap proporsi spermatospermatozoa Y( iii ). Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan pola faktorial dan rancangan dasar acak kelompok Faktor I adalah densitas(d) terdiri dari tiga densitas yaitu d1(1,13; 1,11; 1,12), d2 (1,10; 1,09; 1,08) dan d3 ( 1,07; 1,06; 1,05). Faktor II adalah lama penyimpanan ( l ) terdiri dari tiga tingkatan yaitu l0 ( 0 jam ), l2 ( 2 jam ) dan l4 (4 jam) dengan ulangan sebanyak 3 kali. Sedangkan untuk menganalisis data digunakan analisis variansi dan uji BNT. Diperoleh hasil bahwa densitas berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap proporsi spermatozoa jantan ( Y ) sedangkan lama penyimpanan tidak berpengaruh terhadap proporsi spermatozoa Y ( P>0.05) serta tidak ada interaksi antara kedua factor. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Semakin tinggi desitas percoll yang digunakan akan semakin meningkatkan proporsi Kata Kunci : Proporsi, Densitas percoll, Lama penyimpanan, spermatozoa Y
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) PADA RANSUM TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAGING ITIK MANILA Fani Dwi Evadewi; Yanita Mutiaraning Viastika; Tri Sukmaningsih
Media Peternakan Vol 24, No 1 (2022): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.619 KB)

Abstract

Penelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Tepung Daun Pepaya (Carica papaya L.)pada ransum terhadap Karakteristik Fisik Daging Itik Manila” telah dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2022 sampai dengan tanggal 26 Maret 2022 di Kandang Percobaan dan Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Wijayakusuma Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun pepaya pada ransum terhadap sifat fisik daging itik manila dan untuk mengetahui berapa level pemberian tepung daun pepaya yang efektif untuk diberikan ke ternak dan mendapatkan hasil yang baik. Pakan merupakan salah satu kendala dalam usaha peternakan itik dikarenakan harganya yang mahal. Disamping itu, daya tarik masyarakat terhadap daging itik masih rendah karena daging itik cenderung alot. Pada kondisi demikian, dibutuhkan altenatif bahan pakan yang mampu meningkatkan produktifitas ternak itik dan kualitas daging itik. Bahan pakan yang dapat dimanfaatkan yaitu daun pepaya yang memiliki ketersediaan melimpah dan berpotensi meningkatkan produktifitas ternak. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Perlakuan dilakukan sebanyak 4 dengan pengulangan sebanyak 5 kali sehingga terdapat 20 unit percobaan. Perlakuan yang dilakukan yaitu pemberian tepung daun pepaya pada pakan dengan persentasi pemberian yang berbeda, yaitu P0: Pemberian pakan 100%, P1: Pemberian pakan 95% + Fermentasi Tepung daun pepaya 5%, P2: Pemberian pakan 90% + Fermentasi Tepung daun pepaya 10% dan P3: Pemberian pakan 85% + Fermentasi Tepung daun pepaya 15%. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian tepung daun pepaya pada ransum itik manila (0%, 5%, 10%, dan 15%) berpengaruh nyata (P0,05) terhadap nilai pH dan susut masak daging itik manila. Pemberian tepung daun pepaya pada presentase 10% merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan daya ikat air. Kata Kunci : Itik Manila, Tepung Daun Pepaya, Sifat Fisik Daging Abstract The research entitled "The Effect of Addition of Papaya Leaf Flour (Carica papaya L.) in the ration on the Physical Characteristics of Manila Duck Meat" was carried out from January 10, 2022 to March 26, 2022 in Experimental Cages and Laboratory of the Faculty of Animal Husbandry, Wijayakusuma University, Purwokerto. This study aims to determine the effect of adding papaya leaf powder to the ration on the physical properties of manila duck meat and to find out what level of administration of papaya leaf flour is effective for giving to livestock and getting good results. Feed is one of the obstacles in the duck farming business because it is expensive. In addition, the public's attractiveness to duck meat is still low because duck meat tends to be tough. In such conditions, alternative feed ingredients are needed that can increase the productivity of ducks and the quality of duck meat. The feed ingredients that can be used are papaya leaves which have abundant availability and have the potential to increase livestock productivity. This research was conducted using an experimental method using a completely randomized design (CRD) with a unidirectional pattern. The treatment was carried out 4 times with 5 repetitions so that there were 20 experimental units. The treatments were giving papaya leaf flour to the feed with different percentages of feeding, namely P0: 100% feeding, P1: 95% feeding + Fermentation of papaya leaf flour 5%, P2: 90% feeding + Fermentation of papaya leaf flour 10 % and P3: Feeding 85% + Fermentation Papaya leaf flour 15%. The results showed that the administration of papaya leaf flour on the manila duck ration (0%, 5%, 10%, and 15%) had a significant effect (P0.05). ) on the pH value and cooking loss of manila duck meat. Giving papaya leaf flour at a percentage of 10% is the best dose to increase water holding capacity. Keywords : Manila Duck, Papaya Leaf Flour, Physical Properties of Meat
PENGARUH JENIS TELUR DAN LAMA PEMERAMAN TERHADAP WARNA, RASA, KEMASIRAN DAN KESUKAAN TELIUR ASIN Nur Laela; Sari Eko Tuswati; Sulistyaningtyas -
Media Peternakan Vol 23, No 2 (2021): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.209 KB)

Abstract

Penelitian dengan judul : “Pengaruh Jenis Telur dan Lama Pemeraman terhadap Warna, Rasa, Kemasiran dan Kesukaaan Telur Asin” bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis telur dan lama pemeraman telur asin yang disukai konsumen. Materi yang digunakan adalah telur itik, telur ayam buras dan telur ayam ras masing-masing 60 butir. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimen. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Pola Tersarang, dengan jenis telur (telur itik, ayam buras dan ras) sebagai grup dan lama pemeraman (7, 14 dan 21 hari) sebagai sub grup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna kuning telur asin tidak dipengaruhi oleh jenis telur, tetapi sangat dipengaruhi oleh lama pemeraman. Lama pemeraman 21 hari memberikan warna lebih kuning daripada lama pemeraman 7 dan 14 hari. Lama pemeraman 14 hari menghasilkan warna lebih kuning daripada 7 hari. Rasa telur asin sangat dipengaruhi oleh jenis telur dan tidak dipengaruhi oleh lama pemeraman. Telur itik menghasiilkan rasa yang lebih enak daripada telur ayam buras dan telur ayam ras. Telur ayam buras lebih enak daripada telur ayam ras. Kemasiran tidak dipengaruhi oleh jenis telur maupun lama pemeraman. Kesukaan konsumen sangat dipengaruhi oleh jenis telur dan tidak dipengaruhi oleh lama pemeraman. Telur itik lebih disukai daripada telur ayam buras dan telur ayam ras. Telur ayam buras lebih disukai daripada telur ayam ras. Untuk mendapatkan telur asin yang enak dan disukai konsumen, sebaiknya menggunakan telur itik, dan untuk mendapatkan warna kuning telur yang lebih kuning sebaiknya dilakukan pemeraman 21 hari. Kata kunci: Jenis telur, lama pemeraman, warna kuning telur, rasa, kemasiran, kesukaan. The research entitled: "Effect of Egg Type and Ripening Time on Color, Taste, Grittiness and Preference of Salted Eggs" aims to determine the effect of egg type and ripening time of salted eggs that consumers prefer. The materials used were duck eggs, free-range chicken eggs and purebred chicken eggs using 60 eggs each. The research was conducted using an experimental method. The design used was a completely randomized design with nested patterns, with egg types (duck eggs, free-range chicken eggs and purebred chicken eggs) as a group and ripening time (7, 14 and 21 days) as a sub group. The results showed that the color of the salted egg yolk was not affected by the type of egg, but was strongly influenced by the ripening time. The ripening time of 21 days gave a yellower color than the ripening time of 7 and 14 days. The ripening time of 14 days resulted in a yellower color than 7 days. The taste of salted eggs is strongly influenced by the type of egg and is not affected by the ripening time. Duck eggs produce a better taste than free-range chicken eggs and purebred chicken eggs. Free-range chicken eggs are tastier than purebred chicken eggs. The grittiness was not affected by the type of egg and the time of ripening. Consumer preference is strongly influenced by the type of egg and is not influenced by the length of ripening. Duck eggs are preferred over free-range chicken eggs and purebred eggs. Free-range chicken eggs are preferred over purebred chicken eggs. To get salted eggs that are delicious and liked by consumers, it is better to use duck eggs, and to get a yellower egg yolk color it is better to let it ripe in 21 days. Keywords: Egg type, ripening time, egg yolk color, taste, grittiness, preference.
PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN DAN BODY CONDITION SCORE KAMBING YANG DISUPLEMENTASI TEPUNG BAWANG PUTIH DAN MINERAL CHROMIUM ORGANIK PADA PAKAN Zian Fahri Ahreza; Caribu Hadi Prayitno; Pambudi Yuwono
Media Peternakan Vol 22, No 2 (2020): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.581 KB)

Abstract

ABSTRAK            Kebanyakan peternakan kambing potong berupa usaha sampingan dengan mengandalkan pakan rumput seadanya. Pemberian pakan kwalitas rendah maka akan memunculkan kondisi pakan yang diberikan kurang baik dan masalah pemanasan global, terutama emisi metana sehingga dapat diatasi dengan penambahan feed supplement seperti bawang putih dan mineral chromium organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi tepung bawang putih (Allium sativum) dan mineral chromium organik terhadap petambahan bobot badan harian dan Body Condition Score pada kambing PE.Materi yang digunakan berupa 18 ekor kambing PE jantan. Pakan yang diberikan yaitu 4% dari bahan kering. Pakan perlakuan terdiri 60% Konsentrat, 40% Hijauan, tepung bawang putih 250 ppm, mineral chromium organik 1,5 ppm, dan air minum. Rancangan penelitian yang digunakan berupa 3 perlakuan dan ulangan sebanyak 6 kali. Susunan perlakuan terdiri dari R0 : Konsentrat 60% + Hijauan 40% (PK 14,36% dan TDN 66,32%)., R1 : Pakan R0 + 250 ppm tepung bawang putih (Allium sativum)., R2 : Pakan R1 + 1,5 ppm mineral chromium organik. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan yang diberikanberpengaruh nyata terhadap peubah yang diukur yakni PBBH pada R0 (106.40±12.1), R1 (104.81±3.75) dan R2 (123.53±12.13), sedangkan hasil nilai BCS adalah (2.17±0.21), R1 (2.531±0.23) dan R2 (2.643±0.37). Kesimpulan penelitian ini adalah suplementasi tepung bawang putih (Allium sativum) dan mineral chromium organik dalam pakan kambing dapat meningkatkan petambahan bobot badan harian dan body condition score yang signifikan, tetapi pada pemberian suplementasi tepung bawang putih saja kurang memberikan laju pertambahan bobot badan harian.Kata Kunci: Tepung bawang putih, Mineral chromium organik, Kambing PE, PBBH, BCSABSTRACT            Most of the goat farms in the form of side businesses by relying on improvised grass feed. Low quality feeds will lead to poor feed conditions and global warming problems, especially methane emissions so that they can be overcome by adding feed supplements such as garlic and organic chromium minerals. This study aims to determine the effect of garlic flour (Allium sativum) supplementation and minerals Chromium organic on daily body weight gain and Body Condition Score on PE goats. The material used in the form of 18 male PE goats. The feed given is 4% of the dry matter. The treatment feed consisted of 60% concentrate, 40% forage, 250 ppm garlic flour, mineral chromium 1.5 ppm organic, and drinking water. The study design used was 3 treatments and 6 replications. The composition of the treatment consisted of R0: Concentrate 60% + Forage 40% (PK 14.36% and TDN 66.32%)., R1: Feed R0 + 250 ppm garlic flour (Allium sativum)., R2: Feed R1 + 1 , 5 ppm organic chromium mineral. The results showed that the treatment given significantly affected the measured variables namely PBBH at R0 (106.40 ± 12.1), R1 (104.81 ± 3.75) and R2 (123.53 ± 12.13), while the results of BCS values were (2.17 ± 0.21), R1 (2,531 ± 0.23) and R2 (2,643 ± 0.37). The conclusion of this study is supplementation of garlic flour (Allium sativum) and organic chromium minerals in goat feed can increase daily body weight gain and body condition scores significantly.Keywords : Garlic flour, Mineral organic chromium, Goat PE, PBBH, BCS
PENGARUH PENAMBAHAN DAGING BUAH NAGA (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP AROMA DAN RASA SOSIS DAGING AYAM RAS ari hertiningsih; Tri Sukmaningsih; Susilo Rahardjo
Media Peternakan Vol 24, No 2 (2022): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.452 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian daging buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap aroma dan rasa sosis daging ayam ras. Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang digunakan terdiri atas 4 perlakuan, yaitu P0 sebagai kontrol, P1 penambahan 10% buah naga, P2 penambahan 20% buah naga dan P3 penambahan 30% buah naga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 10% daging buah naga sudah menimbulkan aroma buah naga pada sosis daging ayam ras. Semakin banyak daging buah naga yang ditambahkan pada sosis daging ayam ras menunjukkan peningkatan (P
PENGARUH LEVEL PEMBERIAN TEPUNG DAUN PEPAYA (Carica papaya L) DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI DAN KONVERSI PAKAN ITIK MANILA Aji Pratama; Susilo Rahardjo; Yanita Mutiaraning Viastika
Media Peternakan Vol 24, No 1 (2022): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.94 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh level pemberian tepung daun pepaya dalam ransum terhadap konsumsi dan konversi pakan itik manila. Materi yang digunakan adalah 40 ekor itik manila jantan berumur 6 minggu. Itik manila dibagi secara acak menjadi 20 kelompok masing-masing 2 ekor untuk masing-masing kandang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah, terdiri dari empat perlakuan dengan lima ulangan. Masing-masing perlakuan adalah P0 (kontrol), P1 (ransum + 2% tepung daun pepaya), P2 (ransum + 4% tepung daun pepaya), P3 (ransum + 6% tepung daun pepaya). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung daun pepaya dalam ransum berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dan konversi pakan itik manila. Kata kunci : itik manila, tepung daun pepaya, konsumsi pakan, konversi pakan The study aimed to determine the effect of the level of papaya leaf flour in the ration on the consumption and conversion of manila duck feed. The material used was 40 male manila ducks aged 6 weeks. Manila ducks are randomly divided into 20 groups of 2 heads each for each cage. The research design used was a Complete Randomized Design (RAL) in unidirectional patterns, consisting of four treatments with five tests. Each treatment was P0 (control), P1 (ration + 2% papaya leaf flour), P2 (ration + 4% papaya leaf flour), P3 (ration + 6% papaya leaf flour). The results showed that the feeding of papaya leaf flour in the ration was statistically different (P>0.05) to the consumption and conversion of manila duck feed. Keywords : manila ducks, papaya leaf flour, feed consumption, feed conversion

Page 1 of 4 | Total Record : 33