cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ITENAS REKAYASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2011)" : 5 Documents clear
Pembangunan Geodatabase Kelautan dan Pulau-Pulau Kecil Terluar Sumarno, -; Indrianawati, -
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 15, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.36 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau sebanyak 17.508 pulau dan 92 pulau di antaranya merupakan pulau-pulau kecil terluar. Sebagai ujung tombak batas wilayah Republik Indonesia, pulau-pulau kecil terluar memiliki peranan yang besar dalam berbagai segi, baik keamanan, sosial, ekonomi, maupun politik. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki tanggung jawab dalam bidang pembangunan kelautan. Salah satu di antaranya adalah mengoptimalkan eksplorasi sumber daya laut pulau-pulau kecil terluar. Untuk memudahkan dalam menganalisis data dan informasi pulau-pulau kecil terluar tersebut, maka diperlukan metode dan alat bantu dengan teknologi yang tepat agar kebutuhan data dan informasi KKP dapat dipenuhi secara cepat dan akurat. Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan teknologi sistem basis data yang memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan data spasial dan data atribut sehingga dapat menghasilkan informasi yang diinginkan. Di dalam SIG terdapat basis data yang mempunyai referensi geografis (georeference) yaitu geodatabase. Di dalam penelitian ini, perancangan geodatabase dilakukan dengan menggunakan metode top-down, yaitu dengan menganalisis tugas pokok dan fungsi instansi KKP. Hasil dari penelitian ini adalah terbentuknya geodatabase kelautan dan pulau-pulau kecil terluar yang sudah terintegrasi dengan baik, sehingga dapat mendukung pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terluar.Kata kunci: SIG, geodatabase, kelautan, pulau-pulau kecil.ABSTRACTIndonesia is an archipelago with the island as many as 17,508 islands and 92 islands of this is the outermost small islands. As the spearhead borders of the Republic of Indonesia, the outermost small islands have a large role in many aspects, such as security, social, economic, and political. Ministry of Marine Affairs and Fisheries (MMAF) has a responsibility in the field of marine development. One is to optimize the exploration of marine resources outermost small islands. For ease in analyzing data and information outermost small islands, then necessary methods and tools with the right technology for data and information of the ministry can be met quickly, accurately, and accurate. Technology Geographic Information Systems (GIS) technology is a database system that has the ability to integrate spatial data and attribute data so that it can produce the desired information. In GIS contain database that has a geographic reference is a geodatabase. In this study, design of geodatabase is done using top-down method, namely by analyzing the basic tasks and functions of the MMAF. The results of this study is establishment of the marine and outermost small islands geodatabase that are well integrated, so that it can support the management of coastal areas and outermost small islands.Keywords: GIS, geodatabase, marine, small islands
Pembangunan Basis Data Guna Lahan Kabupaten Bengkalis Basyid, Abdul; Suradianto, Dian
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 15, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.633 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk membangun basis data untuk pengembangan sistem informasi penggunaan lahan di wilayah kota/kabupaten dengan mengambil studi kasus di Kabupaten Bengkalis. Basis data yang dibangun diharapkan dapat membantu para pengambil kebijakan dalam kegiatan analisis penataan ruang dan pengelolaan lahan. Dalam melaksanakan analisis spasial, digunakan komponen-komponen analisis spasial yang terdapat dalam SIG di antaranya adalah: overlay, buffer, dan intersection. Basis data yang dibangun dalam penelitian ini selain dapat berfungsi sebagai media penyimpanan data spasial, juga dapat berfungsi sebagai alat untuk menganalisis daerah-daerah dalam rencana pola ruang yang memiliki risiko terhadap banjir, menganalisis daerah-daerah yang berpotensi sengketa dalam kaitannya dengan pemanfaatan hutan, serta menganalisis kawasan-kawasan suaka alam yang dimanfaatkan tidak sebagaimana fungsi utamanya.Kata kunci: Basis data, sistem informasi, penggunaan lahan, analisis spasial, penataan ruang.ABSTRACTThe purpose of this research is to build a database for the development of information system of land use in Bengkalis Regency that can help decision-makers in spatial analysis activities and land management. In conducting spatial analysis, this study used spatial analysis components contained in the GIS include: overlay, buffer, and intersection. The conclusion that can be drawn from this study is that the system can serve as a spatial data storage media. Moreover this system can also serve as a tool to analyze the areas in the landuse plan that has the spatial patterns of flood risks, to analyze the areas that have the potential dispute in relation to forest use, as well as analyzing the nature reserve areas that are not used as its primary function.Keywords: Database, Information System, land use, spatial analysis, spatial plan.
Pengembangan Sistem Remote Control untuk Setting Waktu pada Sistem Automatic Time Switch (ATS) Berbasis Real Time Clock (RTC) DS1307 untuk Saklar Lampu Rachmat, Hendi Handian; Indrawan, Ade Ninu; Syafitri, Niken
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 15, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.799 KB)

Abstract

ABSTRAKPada penelitian ini dikembangkan sistem remote control yang digunakan untuk melakukan setting (pengesetan) waktu pada sistem Automatic Time Switch (ATS) secara ‘jarak jauh’, sehingga lebih mempermudah setting waktu sistem ATS yang digunakan sebagai saklar otomatis berbasis waktu untuk pengontrolan lampu halaman. Pengembangan ini merupakan langkah untuk menyempurnakan sistem ATS-C2I versi 1 yang hanya memiliki beberapa setting waktu default. Referensi waktu yang dipergunakan pada sistem ini menggunakan komponen Real Time Clock (RTC)-DS1307 yang memiliki pengaturan setting waktu dalam satuan detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Setting waktu ini ditransmisikan dari sistem remote control menuju sistem ATS melalui sistem komunikasi frekuensi radio 315 MHz. Dari hasil pengujian diperoleh bahwa sistem ATS telah dapat menerima setting waktu dari sistem remote control dengan utuh dalam jangkauan jarak maksimum 22 meter. Selain itu, sistem ATS pun telah berfungsi untuk mengatur aktifasi saklar lampu sesuai dengan setting waktu yang diberikan. Keberadaan sistem ATS-C2I versi 2 ini dapat menghemat pemakaian aliran listrik serta dapat membantu meningkatkan keamanan rumah pada saat ditinggalkan pemiliknya.Kata kunci: Automatic Time Switch (ATS), Real Time Clock (RTC), remote control, frekuensi radio, saklar lampu.ABSTRACTA remote control system applied for remote time setting of the Automatic Time Switch (ATS) system was developed in this current research to make easier on the performing of time setting for ATS system that implemented to control a switch of front yard lamp automatically based on time setup. This development was also a further step to improve the first version of ATS-C2I system that just has some in system default time setup options. Time reference for this system utilized a Real Time Clock (RTC)-DS 1307 that has time setting duration from second, minute hour, day, month and year. This time setting was transmitted from remote system to ATS system through 315 MHz radio frequency communication system. From the experiment results, the ATS system has been able to receive time setting from remote control system completely on maximum distance range 22 meters. Beside of that, the ATS system has been able to control a lamp switch activation based on user time setting setup. The availability of the second version of ATS-C2I system can increase saving energy as well as can help to improve a home security system.Keywords: Automatic Time Switch (ATS), lamp switch, radio frequency, Real Time Clock (RTC), remote control.
Analisis Pengaruh Sebaran Ground Control Point terhadap Ketelitian Objek pada Peta Citra Hasil Ortorektifikasi Rudianto, Bambang
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 15, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.388 KB)

Abstract

ABSTRAKPenggunaan peta citra hasil ortorektifikasi citra satelit telah banyak diterapkan. Penelitian ini mengkaji pembuatan peta citra dari hasil ortorektifikasi citra Ikonos Resolusi Spasial (RS) 1,0 meter dan citra Quickbird RS 0,68 meter dengan uji coba penggunaan Ground Control Point (GCP) secara variatif dimulai dari 6, 8, 9, 13, dan 15 buah GCP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyaknya GCP yang digunakan dalam proses ortorektifikasi citra sangat berpengaruh terhadap ketelitian hasil koreksi geometrik yang ditunjukkan melalui harga Root Mean Square Error (RMSE). Penggunaan metode Rational Function dalam proses ortorektifikasi citra untuk citra Ikonos memerlukan minimal 13 buah GCP, sedangkan untuk citra Quickbird memerlukan minimal 9 buah GCP, dengan pola sebaran yang merata. Pembuatan peta citra menggunakan citra Ikonos dengan RS 1,0 meter masih memenuhi untuk skala 1 : 4.500 sedangkan penggunaan citra Quickbird dengan RS 0,68 meter, peta citra yang dihasilkan masih memenuhi untuk skala 1 : 2.000.Kata kunci: Resolusi Spasial (RS), citra satelit Quickbird, citra satelit Ikonos, Ground Control Point (GCP), Root Mean Square Error (RMSE).ABSTRACTThe use of image map obtained from orthorectified satellite imagery has been widely applied. This study aim to examine the making of image map that obtained from orthorectified of Ikonos imagery of spatial resolution (RS) 1.0 meter and Quickbird imagery of RS 0.68 meter. We analysed the effect of the amount and distribution of Ground Control Point (GCP) by using different amount of GCP, varied from 6, 8, 9, 13, and 15 GCPs. The results showed that the amount of GCP that used in orthorectification process affects the precision of the geometric correction indicated by the Root Mean Square Error (RMSE) values. The use of Rational Function method in orthorectification process requires a minimum of 13 GCPs for Ikonos imagery, while Quickbird imagery requires a minimum of 9 GCPs which are spread evenly. The making of image map using Ikonos imagery with 1.0 meter RS is eligible for 1: 4,500 scale mapping, while using Quickbird imagery with 0.68 meters RS is eligible for 1: 2,000 scale mapping.Keywords: Spatial resolution (RS), Quickbird satellite imagery, Ikonos satellite imagery, Ground Control Point, Root Mean Square Error (RMSE).
Kajian Implementasi Metode Penetapan Batas Administrasi Kota/Kabupaten Nugroho, Hary
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 15, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.353 KB)

Abstract

ABSTRAKBatas wilayah administrasi memiliki fungsi yang sangat strategis. Disamping sebagai pernyataan pemisahan wilayah kekuasaan secara administrasi, batas wilayah administrasi menjadi titik tolak seluruh kegiatan pembangunan daerah dan penghitungan PAD (pendapatan asli daerah). Peraturan mengenai pedoman penegasan batas daerah telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Permendagri No. 1 Tahun 2006. Dalam implementasinya banyak sekali kendala yang dihadapi, mulai dari kerancuan pemahaman antara batas administrasi dan batas adat, wilayah yang sangat sulit untuk dijangkau, atau pemerintah daerah yang bersebelahan tidak dapat mencapai kesepakatan karena wilayah yang berbatasan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pada makalah ini akan didiskusikan permasalahan yang terjadi di lapangan dalam implementasi penegasan batas daerah kota/kabupaten dengan studi kasus Provinsi Sumatera Barat.Kata kunci: batas wilayah administrasi, penetapan batas, penegasan batasABSTRACTAdministrative boundaries have a very strategic functions, not only a statement of separation of powers in the administration area, the boundary becomes the starting point of all development activities and the calculation of revenue (local revenue). Regulations of the administrave border confirmation guidelines has been set by the government through Permendagri No. 1 of 2006. Its implementation faced many obstacles, includes the confusion of understanding between administrative boundary and customary boundary, some areas that are very difficult to reach, or adjoining local governments which can not reach an agreement due to the adjacent territories have high economic value. This paper will discuss the problems that occur in the field in the implementation of the afirmation of city/district administrative boundary with a case study of West Sumatera Province.Key words: administrative boundaries, boundary setting, boundary confirmation.

Page 1 of 1 | Total Record : 5