cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ITENAS REKAYASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2013)" : 6 Documents clear
Penyusunan Basis Data untuk Identifikasi Daerah Rawan Banjir Dikaitkan dengan Infrastruktur Data Spasial -, Indrianawati; Hakim, D. Muhally; Deliar, Albertus
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 17, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.413 KB)

Abstract

ABSTRAKIdentifikasi daerah rawan banjir merupakan bagian dari mitigasi bencana yang dilaksanakan untukmengurangi kerugian atau dampak akibat banjir. Keberadaan daerah rawan banjir dapat diidentifikasi dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) sehingga dalam pelaksanaannya membutuhkan data dasar spasial. Data dasar spasial yang diperlukan tersebut dapat didefinisikan dengan penyusunan model basis data. Namun permasalahan yang terjadi adalah tidak tersedianya informasi keberadaan data dasar tersebut sehingga menyulitkan pengguna dalam mengumpulkan dan menggunakan data. Untuk mengatasi kesulitan tersebut maka perlu didukung suatu Infrastrukur Data Spasial (IDS). Salah satu implementasi IDS adalah mengkaji keberadaan data dasar. Hal ini dikaji untuk mengetahui apakah data dasar yang diperlukan ini tersedia dan dapat digunakan untuk identifikasi daerah rawan banjir.Kata kunci: basis data, daerah rawan banjir, Infrastruktur Data SpasialABSTRACTIdentification of flood hazardous area is a part of disaster mitigation, which is conducted to reduce loss of flood impact. The existence of flood hazardous area could be identified using Geographic Information System (GIS) so that its implementation requires basic spatial data. Those basic spatial data could be defined through data base compilation model. The existing problem is unavailibility information of existence basic data so its complicate the user in collecting and applying data. To overcome this problem, the Spatial Data Infrastructure (SDI) support is needed. One of SDI implementation is to investigate the existence of basic data. It is investigated to know whether basic data is available and applicable to identify flood hazardous areaKeywords: data base, flood hazardous area, Spatial Data Infrastructure
Model Keseimbangan Lintasan Perakitan Mixed Model Menggunakan Algoritma Guided Greedy Randomized Adaptive Search Procedures dengan Kriteria Minimisasi Jumlah Stasiun Kerja Saleh, Alex; Zaini, Emsosfi; Rahayu, Puji Purwaning
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 17, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.295 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membahas model keseimbangan lintasan perakitan mixed model menggunakan algoritma guided greedy randomized adaptive search procedures (Guided GRASP) dengan kriteria minimisasi jumlah stasiun kerja. Keseimbangan lintasan perakitan mixed model adalah model lintasan perakitan tunggal yang merakit lebih dari satu produk sejenis atau memiliki karakteristik yang sama. Guided GRASP merupakan pendekatan metaheuristik yang terdiri dari dua tahap yaitu tahap inisial solusi dan local search. Tahap 1 adalah tahap pembentukan solusi inisial yang dibentuk melalui restricted candidate list (RCL). RCL disusun menggunakan suatu fungsi greedy berbasis penambahan waktu operasi dari setiap elemen kerja yang akan ditempatkan dan suatu threshold parameter α. Tahap 2 bertujuan untuk mengurangi jumlah stasiun kerja sehingga efisiensi lintasan yang dihasilkan besar. Pada Tahap 2, dilakukan pengeksplorasian solusi dengan cara menukar elemen kerja (exchange) dan menambahkan elemen kerja di stasiun kerja lain (insert) dengan tetap tidak melebihi waktu siklus dan tidak melanggar precedence relations. Performansi model usulan diuji dengan menggunakan data-data dari literatur. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model usulan dapat memberikan solusi yang sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang telah dipublikasikan.Kata kunci: lintasan perakitan, heuristik, guided GRASP, mixed model, jumlah stasiun kerja ABSTRACTThis study discusses a model assembly line balancing mixed models using randomized greedy algorithm guided adaptive search procedures (Guided GRASP) with minimization criteria the number of work stations. Mixed assembly line balancing model is a model of a single assembly line to assemble more than one product type or have the same characteristics. Guided GRASP is a metaheuristic approach which consists of two phases: the initial solution and local search. Phase 1 is the initial stage of the formation of a solution formed by the restricted candidate list (RCL). RCL were prepared using a function -based greedy additional operation time of each element of the work that will be placed and a threshold parameter α. Phase 2 aims to reduce the number of work stations so that the efficiency of the resulting trajectory great. In Phase 2, conducted exploring a solution by swapping elements of work (exchange) and add an element of work in another work station (insert) while not exceeding the cycle time and does not violate the precedence relations. The performance of the proposed model was tested using data from the literature. The results show that the proposed model can provide a solution similar to previous studies that have been published.Keywords: assembly line, heuristic, guided GRASP, mixed model, the number of work stations
Investigasi Variasi Tahunan Terhadap Mean Sea Level di Benoa, Bali Ratih, Ni Made Rai
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 17, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.097 KB)

Abstract

ABSTRAKMean Sea Level (MSL) merupakan permukaan laut stasioner yang bebas dari semua variasi yang bergantung pada waktu. Panjang data ideal untuk menentukan MSL adalah 18,61 tahun. Data pasut yang tersedia umumnya kurang dari yang disyaratkan. Data yang lebih pendek tidak dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang periodenya lebih panjang meskipun faktor-faktor tersebut tetap mempengaruhi data. Penelitian ini ditujukan untuk menginvestigasi terjadinya variasi tahunan sehingga dapat digunakan untuk memberikan koreksi terhadap MSL yang dihitung dari data pendek (bulanan) dengan mempelajari struktur gelombang periode lebih panjang dan memodelkannya. Data pasut yang digunakan adalah data Tahun 2007 s.d. 2009 di Benoa, Bali yang dicuplik menjadi 36 data bulanan. Untuk pemodelan variasi tahunan digunakan fungsi gelombang dengan periode pendekatan diambil dari nilai-nilai ekstrim yang berulang. Dari penelitian dapat diketahui variasi tahunan dari MSL di Benoa, Bali terjadi dengan periode 12,2 bulan dan memiliki kemiripan dengan Gelombang Sa serta memiliki amplitudo sebesar 170,14 mm.Kata kunci: Mean Sea Level, variasi tahunan, periode, amplitudo ABSTRACTMean Sea Level (MSL) is a stationary sea level which would exist in the absence of all time dependent variations. It needs 18.61 years data length to determine ideal MSL. The established tidal data is commonly less than that required. Shorter data can not be used to analyze the factors which have longer periodes although these factors still affect the data. This research is intended to investigate the occurrence of annual variations that can be used to provide a correction to MSL which is determined from short data ( monthly ) by studying the longer period wave structure and model it. Tidal data used is the data from 2007 to 2009 at Benoa, Bali and sampled into 36 monthly data . The wave function is used to model the annual variation. Approximation of period wave is determined by taking extreme values which seem to have repetitive behaviour . It is found that the annual variation of MSL at Benoa, Bali occurs with a period of 12.2 months, similar with Sa wave, and has amplitude of 170.14 mmKeywords: Mean Sea Level, annual variation, period, amplitude
Perancangan dan Realisasi Sistem Pentransmisian Short Message dan Sinyal Digital pada Modem BPSK berbasis MATLAB Darlis, Arsyad Ramadhan; Trisapto, Poernomo; Jambola, Lucia
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 17, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.652 KB)

Abstract

ABSTRAKAudio Generator merupakan instrumen yang salah satu fungsinya adalah untuk membangkitkan sinyal persegi. Akan tetapi, instrumen ini tidak dapat membangkitkan sinyal persegi dengan amplitudo yang acak pada pengulangan setiap periodanya (sinyal digital). Alat ini juga tidak dapat membangkitkan pesan atau karakter dalam bentuk kode ASCII seperti halnya Short Message Service (SMS) pada teknologi GSM. Penelitian ini bertujuan untuk merealisasikan sistem yang dapat membangkitkan short message dan sinyal digital dari Personal Computer (PC). Realisasi dari penelitian ini dapat menjadi alternatif sebagai pembangkit sinyal digital dan pesan yang dapat diaplikasikan baik dalam praktikum modulasi digital maupun dalam aplikasinya yang lain. Dengan menggunakan software MATLAB 7.4., dibuat dua buah simulasi yang dapat membangkitkan pesan singkat dan sinyal digital. Pesan singkat dan sinyal digital yang dibangkitkan tersebut dikirimkan melewati sebuah interface menuju sebuah plant untuk dimodulasi dan didemodulasi kembali. Plant yang digunakan dan direalisasikan pada penelitian ini adalah modem Binary Phase Shift Keying (BPSK). Simulasi sinyal digital dan pesan singkat yang telah direalisasikan dengan menggunakan MATLAB 7.4. telah menunjukkan hasil yang diharapkan. Sinyal keluaran dari simulasi tersebut, baik sinyal digital maupun pesan singkat, telah dapat ditransmisikan melalui interface rangkaian RS-232 dengan menggunakan modulator BPSK dan diterima kembali olehdemodulator BPSK.Kata kunci : Generator, sinyal digital, pesan singkat, MATLAB 7.4., interface RS 232, modem BPSK ABSTRACTAudio Generator is an instrument that one of its functions is to generate a square signal. However, these instruments can not generate a square signal with a random amplitude in each period repetition (digital signal). This tool also can not generate a message or a character in the form of ASCII code as well as the Short Message Service (SMS) on GSM technology. This research aims to realize a system that can generate short message and the digital signal from the Personal Computer (PC). Realization of this research can be an alternative to the generation of digital signals and short messages that can be applied both in the laboratory and the other application. Using the software MATLAB 7.4., we created two simulations that can generate a short message and digital signal. Short messages and the digital signal generated were transmitted over an interface into a plant for the modulated and demodulated back. Plant used in research and realized this was. a modem Binary Phase Shift Keying (BPSK). Simulation of digital signal and a short message that has been realized by using MATLAB 7.4. have shown the expected results. The signal output from the simulation, both digital and short message, can be transmitted via RS- 232 interface circuit using BPSK modulator and receive by BPSK demodulator.Keywords : Generator, digital signal, short message, MATLAB 7.4., RS 232 interface, BPSK modem
Konsep dan Tantangan Pengembangan Biorefinery Pertiwi, Dyah Setyo
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 17, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.588 KB)

Abstract

ABSTRAKSaat ini telah terdapat definisi dan pendekatan penamaan/pengklasifikasian biorefinery yang dirumuskan oleh suatu badan otonomi bernama IEA Bioenergy, Task Number 42. Definisi biorefinery yang dirumuskan terbukti paling komprehensif dibandingkan definisi lain yang tersedia di literatur. Pendekatan pengklasifikasian biorefinery yang diajukan pun telah mempertimbangkan empat feature utama dari biorefinery, yaitu platform, produk, bahan baku dan proses. Panduan yang sistematis dinilai perlu ada untuk mendorong pengembangan biorefinery yang sustainable. Pengembangan biorefinery saat ini cenderung berbasis kepada kebutuhan untuk mensubstitusi produk oil refinery. Pengembangan proses-proses dalam biorefinery pun menyerupai pengembangan proses dalam oil refinery. Namun demikian, perbedaan karakteristik bahan baku memberi tantangan kepada sintesis biorefinery. Tantangan berupa pemilihan bahan baku dan produk disarankan untuk dihadapi dengan penggunaan parameter-parameter pembanding, seperti Chemical Value, Fuel Value, dan Component Value; sedangkan pemilihan jenis proses dan urutan proses yang sistematis dapat dirintis dengan adanya pemetaan technology platform terhadap kandungan bahan baku. Pemetaan tersebut akan menunjukkan adanya perbedaan yang berarti antara proses-proses untuk energy-driven biorefineries dan materialdriven biorefineries. Keberadaan klasifikasi biorefinery serta ketersediaan perangkat, berupa peta dan parameter pembanding, diharapkan dapat mendorong pengembangan sistem biorefinery yang sustainable dengan lebih cepat.Kata kunci: biorefinery, konsep, tantangan, sintesis ABSTRACTThere has been a definition and classification approach for biorefinery systems provided by an autonomous agency, IEA Bioenergy, Task Number 42. The definition is so far the most comprehensive and the classification has included four major features in biorefinery, i.e. platforms, products, raw materials and processes. It is envisaged that systematic guidance for developing sustainable biorefienies will be available. The current biorefinery development has been based on the need for the substitution of oil refinery products. Also, the development has been analogous to the oil refinery process development. However, the special characteristics of biomass have given some challenges to biorefinery synthesis. Some parameters are suggested to face the challenges in raw material and product selections, i.e. Chemical Value, Fuel Value, and Component Value, while process and process order selection can be assisted by technology platform and raw material mapping. There should be significant differences in process development for energy-driven biorefineries and material-driven biorefineries. The existence of biorefinery classification as well as some tools, i.e. mappings and relevant parameters, is expected to foster the development of sustainable biorefinery systems.Keywords: biorefinery, concepts, challenges, synthesis
Pemetaan Undulasi Kota Medan Menggunakan Hasil Pengukuran Tinggi Tahun 2010 Nugroho, Hary; -, Rinaldy
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 17, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.829 KB)

Abstract

ABSTRAKPengukuran posisi dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS) adalah pengukuran yang praktis. Koordinat yang diperoleh adalah koordinat dalam sistem kartesian 3 dimensi dengan nilai tinggi adalah tinggi geodetik atau tinggi di atas elipsoid (h). Sementara itu, dalam kegiatan sehari-hari ketinggian yang umum digunakan adalah ketinggian di atas permukaan bidang ekipotensial yang melalui permukaan laut rata-rata atau MSL (mean sea level) yang disebut geoid. Ketinggian ini disebut dengan ketinggian ortometrik. Secara fisik geoid adalah permukaan laut rata-rata tanpa gangguan. Tinggi ortometrik ini diperoleh dari pengamatan pasang surut (pasut) laut selama sekurang-kurangnya 18,6 tahun di satu stasiun pasut. Perbedaan antara kedua jenis ketinggian ini adalah undulasi (N). Ketersediaan data undulasi pada wilayah pengukuran akan memungkinkan setiap pengamatan GPS dapat dikoreksi untuk mendapatkan nilai tinggi ortometriknya. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran sipat datar dan pengamatan GPS pada beberapa titik kontrol yang tersebar di Kota Medan. Perbedaan ketinggian yang diperoleh dipakai untuk menentukan nilai undulasi. Hasil perhitungan selanjutnya diinterpolasi secara spasial, dipetakan, dan dibangun model permukaan digitalnya. Hasil akhir berupa peta kontur undulasi untuk seluruh Kota Medan. Masyarakat akan dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan tinggi ortometrik dengan melakukan pengamatan GPS dan nilai z yang diperoleh dikoreksi dengan nilai undulasi. Pada penelitian ini nilai tinggi titik referensi adalah titik tinggi di Pelabuhan LautBelawan yang diukur tahun 2010 dan TTG540. Hasil akhir dibandingkan dengan EGM2008.Kata kunci: tinggi ortometrik, tinggi normal, undulasi, GPS, EGM2008ABSTRACTMeasurement using the Global Positioning System (GPS) is practical. Obtained coordinates are Cartesian coordinates in three-dimensional systems where height value is geodetic height or height above the ellipsoid (h). Meanwhile, in the day-to-day activities, height value that is commonly used is the height above the surface of equipotential field through mean sea level (MSL) that is called the geoid. This height type is called orthometric height. Orthometric height obtained from observations of tidal data for at least 18.6 years in one tidal station. The difference between normal height and orthometric heigt is called undulation (N). The availability of undulation data on the measurement area will allow any GPS observations to be corrected to obtain the orthometric height. This research aims to develop undulation map of Kota Medan. We have performed levelling and GPS measurements at several control points scattered in the city of Medan. The difference between the two types of height were used to determine the undulation. The results were then spatially spatially interpolated, mapped, and the digital terrain model was built. The end result is a contour map of undulations for the entire city of Medan. The public will be able to use it to obtain orthometric height by performing GPS measurement, and z values obtained form the measurement are corrected by undulation values. In this study, height point in the Seaport Belawan, Medan measured in 2010 and TTG540 were used as reference points. The final result was compared with EGM2008.Keywords: orthometric height, normal height, GPS observation, EGM2008

Page 1 of 1 | Total Record : 6