cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA GEOMATIKA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2013)" : 10 Documents clear
Analisis Penentuan Posisi GPS BAKO Dikaitkan dengan Adanya Perubahan Ionosfer yang Dihitung Berdasarkan TEC GISTM Pontianak Marlia, Dessi
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrg.v1i1.244

Abstract

Abstrak Propagasi sinyal GPS dipengaruhi oleh Total Electron Content (TEC) pada ionosfer, dimana ionosfer dipengaruhi oleh aktivitas matahari. Tujuan penelitian ini adalah  menganalisis perubahan aktivitas maksimum matahari dan dampaknya terhadap ionosfer dan melihat ketelitian pengukuran posisi GPS. Pengamatan TEC dilakukan menggunakan penerima GPS yaitu GISTM Pontianak (-0.06° LS dan 109.4° BT) pada kondisi ionosfer tenang dan terganggu akibat adanya flare dan CME yang mengakibatkan badai geomagnetik dan data GPS BAKO yang merupakan hasil pengamatan di stasiun Cibinong. Hasil dan analisis menggunakan metode statistika sederhana. Badai geomagnetik yang terjadi pada tanggal 9 Maret 2012 pada jam 09.00 UT, dengan indeks Dst -133 nT menunjukkan terjadi peningkatan nilai VTEC harian sebesar 70 TECU. Badai geomagnetik yang terjadi pada tanggal 24 April 2012, dengan indeks Dst -107 nT pada jam 05.00 UT menunjukkan peningkatan nilai VTEC harian sebesar 69 TECU. Hasil pengamatan dengan menggunakan GPS frekuensi ganda yaitu GPS BAKO Cibinong menunjukkan kesalahan posisi 2-3 kali lebih besar dibandingkan pada saat tidak terjadi badai geomagnetik. Kata kunci: GPS, ionosfer, TEC, badai geomagnetik, flare, CME. Abstract Propagation GPS signals influenced by Total Electron Content (TEC) in the ionosphere, where the ionosphere influenced by solar activity. The purpose of this research was to analyze the changes of the maximum solar activity and their impact to the ionosphere and see GPS position measurement of accuracy. TEC observations made using GPS receiver is GISTM Pontianak (-0.06 °LS and 109.4 ° BT) in the quiet and disturb ionospheric conditions due to the flare and CME cause geomagnetic storms and  GPS BAKO data which is the result on observation Cibinong station. Geomagnetic storm occurance on  9 march 2012 at 09.00 UT with Dst index -133 nT. The results and analysis using a simple statistical method, showing increasing of daily  VTEC values on 9 march 2012 up to 70 TECU. Geomagnetic storm occurance  on 24 april 2012 with Dst index -107 nT at 05.00 UT showing increasing of daily VTEC values on 24 april 2012 up to 69 TECU. The result on observation by using a dual frequency GPS BAKO Cibinong showing the error position 2-3 times greater than when geomagnetic storm does not occur. Keyword : GPS, ionosphere, TEC, geomagnetic storm, flare, CME
Membangun Geodatabase Kelautan untuk Mendukung Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Isawisuda, Raditia
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrg.v1i1.249

Abstract

Abstrak Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil antarsektor, antara pemerintah dan pemerintah daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka mengoptimalkan usaha eksplorasi sumber daya laut dan mengelola kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengumpulkan data-data yang berisi informasi kelautan. Untuk memudahkan dalam menganalisis data dan informasi tersebut, maka diperlukan metode dan alat bantu dengan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) agar kebutuhan data dan informasi KKP dapat dipenuhi secara cepat, tepat, dan akurat. Di dalam SIG terdapat basis data yang mempunyai referensi geografis (georeference) atau disebut juga geodatabase, sehingga memudahkan dalam melakukan analisis data. Hasil dari penelitian ini adalah terbentuknya geodatabase kelautan dan pulau-pulau kecil yang sudah terintegrasi dengan baik, sehingga dapat mendukung pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Kata kunci: SIG, geodatabase, kelautan, wilayah pesisir, pulau-pulau kecil. Abstract Management of coastal zones and small islands is a process of planning, utilization, monitoring, and control of coastal resources and the small islands between sectors, between government and local governments, between the terrestrial and marine ecosystems, and between science and management to improve the prosperity society. In order to optimize exploration efforts of marine resources, coastal, and small islands, the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries collect data that contains information of the sea. In order to analyse the data and information easily, KKP requires methods and tools using technology of Geographic Information System (SIG) so as the data and information of the ministry can be met quickly, accurately, and accurate. In GIS contain database that has a geographic reference or also called the geodatabase. The results of this study is establishment of the marine and small islands geodatabase that are well integrated, so that it can support the management of coastal areas and small islands. Keywords: GIS, geodatabase, marine, coastal zone, small islands.
Pengaruh Waktu Pengamatan Terhadap Ketelitian Posisi dalam Survei GPS Rahman, Rina Rostika
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrg.v1i1.247

Abstract

Abstrak Realitas pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa data hasil pengamatan dari suatu survei GPS dari waktu ke waktu menghasilkan ketelitian posisi yang berbeda. Kenyataan tersebut menarik untuk dipelajari guna mengetahui waktu-waktu yang terbaik untuk melakukan pengamatan GPS. Dalam penelitian ini diteliti pengaruh waktu pengamatan terhadap ketelitian posisi dalam survei GPS, di mana waktu pengamatan dikelompokkan menjadi 5 (lima) bagian, yaitu: pagi, siang, sore, malam, dan subuh dengan selang waktu pengamatan 3 jam, 2 jam, dan 1 jam. Dari hasil hitungan diketahui bahwa waktu pengamatan yang terbaik untuk melakukan pengukuran pada survei GPS adalah siang hari sampai sore hari, yaitu sekitar pukul 11.00-18.00 WIB. Kata kunci: GPS RTK, ETS, posisi titik, ekstraterestrial.   Abstract Reality of experience in the field indicates that the measurement data of GPS survey from time to time result in different position accuracy. It is interesting to study to know the best times for perform GPS observations. This research examined the influence of observing time to the position accuracy of GPS survey by which time observations are grouped into 5 (five) parts: morning, afternoon, evening, night, and dawn at observation intervals of 3 hours, 2 hours, and 1 hours. From the obtained result it is known that the best time to take the GPS survey measurements is during afternoon until evening at around 11.00-18.00 pm. Keywords: GPS RTK , ETS, point position, extraterrestrial.
Aplikasi GPS RTK untuk Pemetaan Bidang Tanah Setiadi, Joko
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrg.v1i1.246

Abstract

Abstrak Penggunaan receiver GPS RTK (Real Time Kinematic) pada metode ekstraterestrial untuk penentuan posisi titik saat ini sudah banyak diterapkan. Penelitian ini bertujuan mengkaji sampai sejauh mana ketelitian posisi titik yang diperoleh dari hasil pengukuran secara ekstraterestrial menggunakan GPS RTK untuk pemetaan bidang-bidang tanah berikut kekurangan dan kelebihannya. Dari hasil pengukuran didapat ketelitian rata-rata hasil pengukuran posisi titik menggunakan GPS RTK dibandingkan dengan menggunakan alat ETS (Electronic Total Station) adalah sebesar 0,214 m sehingga dapat diterapkan untuk pembuatan peta skala 1 : 500. Untuk daerah yang terbuka, pengukuran bidang tanah menggunakan GPS RTK memerlukan waktu dua kali lebih cepat dibandingkan dengan ETS. Walaupun GPS RTK mempunyai keunggulan dalam hal efisiensi proses pengukuran di lapangan sehingga dapat mempersingkat waktu pengukuran, akan tetapi memiliki kekurangan dalam hal ketelitian data terutama pada area pengukuran yang tertutup. Kata kunci: GPS RTK, ETS, posisi titik, ekstraterestrial.   Abstract The use of RTK GPS receiver (Real Time Kinematic) on extraterrestrial method for point positioning h widely applied. The purpose of this study is to examine the point position accuracy obtained from the measurements using GPS RTK for extraterrestrial mapping plots, including its advantages and disadvantages. Measurement accuracy of the results obtained from the average measurement point positioning using GPS RTK compared using the ETS tool is equal to 0.214 m, so that it can be applied for map making of scale 1: 500. For open areas, field measurements using GPS RTK can be performed by two times faster than using ETS. Although GPS RTK has advantages in terms of measurements process efficiency in the field so as to shorten the time of measurement, but has shortcomings in terms of accuracy of the data, especially in an enclosed area measuring. Keywords: GPS RTK , ETS, point position, extraterrestrial.
Pengaruh Koneksitas Jaring Terhadap Ketelitian Posisi Pada Survei GPS Utama, Taufan Akbar
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrg.v1i1.245

Abstract

ABSTRAK Secara teoritis, salah satu faktor yang mempengaruhi ketelitian posisi titik-titik dari survei GPS adalah geometri jaring, yaitu banyaknya jumlah baseline yang terikat ke suatu titik (koneksitas titik). Penelitian ini menganalisis pengaruh banyaknya koneksitas titik dalam suatu jaring terhadap ketelitian posisi yang diperoleh dari hasil pengukuran GPS menggunakan receiver HI-TARGET HD8200X Single Frequency (L1) dengan format RINEX di 6 titik dengan sebaran titik-titik berada di wilayah Itenas, Gasibu, Cukangkawung, Cikutra, Siliwangi, Antapani dan Jalan Jakarta. Metode pengukuran yang digunakan adalah metode diferensial statik dan diujikan beberapa bentuk desain jaring dengan jumlah koneksitas yang berbeda-beda. Dari hasil hitungan yang diperoleh, jaring GPS dengan koneksitas 2 dan 3 menghasilkan ketelitian posisi horizontal dan vertikal rata-rata ± 20 cm dan ± 12 cm, sedangkan untuk koneksitas 4 dan 5 ketelitian posisi horizontal dan vertikal ± 9 cm. Penggunaan koneksitas di atas 4 menunjukkan peningkatan ketelitian yang tidak berarti, artinya penggunaan jaring dengan koneksitas 4 sudah optimal. Kata kunci: ketelitian posisi, geometri jaring, koneksitas titik. ABSTRACT Theoretically, one of factor that influenced the points positioning accuracy in GPS surveying is network geometric, which is the number of the baselines that bond to a point (point connectivity). This research analyzed the influence of the number of point connectivity in a single network to the position accuracy that resulted by GPS observation using HI TARGET HD8200X Single Frequency (L1) receiver device with RINEX format. The observation was held using 6 (six) ground points that distributed in different location, those are: ITENAS, Gasibu, Cukangkawung, Cikutra, Siliwangi, Antapani, and Jakarta Street. The method that used in this research was static differential and has been examined in some different network connectivity design. According to the result of this observation, the GPS network with 2 and 3 networks connectivity give the average accuracy of horizontal and vertical position are  ± 20 centimeters and ± 12 centimeters, while with 4 and 5 networks connectivity is ± 9 centimeters. The increase of accuracy for network more than 4 connectivities is not significant. So, the use of 4 networks connectivity was the most optimal. Keywords: position accuracy, network geometry, point connectivity.
Analisis Penentuan Posisi GPS BAKO Dikaitkan dengan Adanya Perubahan Ionosfer yang Dihitung Berdasarkan TEC GISTM Pontianak Marlia, Dessi
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Propagasi sinyal GPS dipengaruhi oleh Total Electron Content (TEC) pada ionosfer, dimana ionosfer dipengaruhi oleh aktivitas matahari. Tujuan penelitian ini adalah  menganalisis perubahan aktivitas maksimum matahari dan dampaknya terhadap ionosfer dan melihat ketelitian pengukuran posisi GPS. Pengamatan TEC dilakukan menggunakan penerima GPS yaitu GISTM Pontianak (-0.06° LS dan 109.4° BT) pada kondisi ionosfer tenang dan terganggu akibat adanya flare dan CME yang mengakibatkan badai geomagnetik dan data GPS BAKO yang merupakan hasil pengamatan di stasiun Cibinong. Hasil dan analisis menggunakan metode statistika sederhana. Badai geomagnetik yang terjadi pada tanggal 9 Maret 2012 pada jam 09.00 UT, dengan indeks Dst -133 nT menunjukkan terjadi peningkatan nilai VTEC harian sebesar 70 TECU. Badai geomagnetik yang terjadi pada tanggal 24 April 2012, dengan indeks Dst -107 nT pada jam 05.00 UT menunjukkan peningkatan nilai VTEC harian sebesar 69 TECU. Hasil pengamatan dengan menggunakan GPS frekuensi ganda yaitu GPS BAKO Cibinong menunjukkan kesalahan posisi 2-3 kali lebih besar dibandingkan pada saat tidak terjadi badai geomagnetik. Kata kunci: GPS, ionosfer, TEC, badai geomagnetik, flare, CME. Abstract Propagation GPS signals influenced by Total Electron Content (TEC) in the ionosphere, where the ionosphere influenced by solar activity. The purpose of this research was to analyze the changes of the maximum solar activity and their impact to the ionosphere and see GPS position measurement of accuracy. TEC observations made using GPS receiver is GISTM Pontianak (-0.06 °LS and 109.4 ° BT) in the quiet and disturb ionospheric conditions due to the flare and CME cause geomagnetic storms and  GPS BAKO data which is the result on observation Cibinong station. Geomagnetic storm occurance on  9 march 2012 at 09.00 UT with Dst index -133 nT. The results and analysis using a simple statistical method, showing increasing of daily  VTEC values on 9 march 2012 up to 70 TECU. Geomagnetic storm occurance  on 24 april 2012 with Dst index -107 nT at 05.00 UT showing increasing of daily VTEC values on 24 april 2012 up to 69 TECU. The result on observation by using a dual frequency GPS BAKO Cibinong showing the error position 2-3 times greater than when geomagnetic storm does not occur. Keyword : GPS, ionosphere, TEC, geomagnetic storm, flare, CME
Pengaruh Koneksitas Jaring Terhadap Ketelitian Posisi Pada Survei GPS Taufan Akbar Utama
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Secara teoritis, salah satu faktor yang mempengaruhi ketelitian posisi titik-titik dari survei GPS adalah geometri jaring, yaitu banyaknya jumlah baseline yang terikat ke suatu titik (koneksitas titik). Penelitian ini menganalisis pengaruh banyaknya koneksitas titik dalam suatu jaring terhadap ketelitian posisi yang diperoleh dari hasil pengukuran GPS menggunakan receiver HI-TARGET HD8200X Single Frequency (L1) dengan format RINEX di 6 titik dengan sebaran titik-titik berada di wilayah Itenas, Gasibu, Cukangkawung, Cikutra, Siliwangi, Antapani dan Jalan Jakarta. Metode pengukuran yang digunakan adalah metode diferensial statik dan diujikan beberapa bentuk desain jaring dengan jumlah koneksitas yang berbeda-beda. Dari hasil hitungan yang diperoleh, jaring GPS dengan koneksitas 2 dan 3 menghasilkan ketelitian posisi horizontal dan vertikal rata-rata ± 20 cm dan ± 12 cm, sedangkan untuk koneksitas 4 dan 5 ketelitian posisi horizontal dan vertikal ± 9 cm. Penggunaan koneksitas di atas 4 menunjukkan peningkatan ketelitian yang tidak berarti, artinya penggunaan jaring dengan koneksitas 4 sudah optimal. Kata kunci: ketelitian posisi, geometri jaring, koneksitas titik. ABSTRACT Theoretically, one of factor that influenced the points positioning accuracy in GPS surveying is network geometric, which is the number of the baselines that bond to a point (point connectivity). This research analyzed the influence of the number of point connectivity in a single network to the position accuracy that resulted by GPS observation using HI TARGET HD8200X Single Frequency (L1) receiver device with RINEX format. The observation was held using 6 (six) ground points that distributed in different location, those are: ITENAS, Gasibu, Cukangkawung, Cikutra, Siliwangi, Antapani, and Jakarta Street. The method that used in this research was static differential and has been examined in some different network connectivity design. According to the result of this observation, the GPS network with 2 and 3 networks connectivity give the average accuracy of horizontal and vertical position are  ± 20 centimeters and ± 12 centimeters, while with 4 and 5 networks connectivity is ± 9 centimeters. The increase of accuracy for network more than 4 connectivities is not significant. So, the use of 4 networks connectivity was the most optimal. Keywords: position accuracy, network geometry, point connectivity.
Aplikasi GPS RTK untuk Pemetaan Bidang Tanah Joko Setiadi
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penggunaan receiver GPS RTK (Real Time Kinematic) pada metode ekstraterestrial untuk penentuan posisi titik saat ini sudah banyak diterapkan. Penelitian ini bertujuan mengkaji sampai sejauh mana ketelitian posisi titik yang diperoleh dari hasil pengukuran secara ekstraterestrial menggunakan GPS RTK untuk pemetaan bidang-bidang tanah berikut kekurangan dan kelebihannya. Dari hasil pengukuran didapat ketelitian rata-rata hasil pengukuran posisi titik menggunakan GPS RTK dibandingkan dengan menggunakan alat ETS (Electronic Total Station) adalah sebesar 0,214 m sehingga dapat diterapkan untuk pembuatan peta skala 1 : 500. Untuk daerah yang terbuka, pengukuran bidang tanah menggunakan GPS RTK memerlukan waktu dua kali lebih cepat dibandingkan dengan ETS. Walaupun GPS RTK mempunyai keunggulan dalam hal efisiensi proses pengukuran di lapangan sehingga dapat mempersingkat waktu pengukuran, akan tetapi memiliki kekurangan dalam hal ketelitian data terutama pada area pengukuran yang tertutup. Kata kunci: GPS RTK, ETS, posisi titik, ekstraterestrial.   Abstract The use of RTK GPS receiver (Real Time Kinematic) on extraterrestrial method for point positioning h widely applied. The purpose of this study is to examine the point position accuracy obtained from the measurements using GPS RTK for extraterrestrial mapping plots, including its advantages and disadvantages. Measurement accuracy of the results obtained from the average measurement point positioning using GPS RTK compared using the ETS tool is equal to 0.214 m, so that it can be applied for map making of scale 1: 500. For open areas, field measurements using GPS RTK can be performed by two times faster than using ETS. Although GPS RTK has advantages in terms of measurements process efficiency in the field so as to shorten the time of measurement, but has shortcomings in terms of accuracy of the data, especially in an enclosed area measuring. Keywords: GPS RTK , ETS, point position, extraterrestrial.
Pengaruh Waktu Pengamatan Terhadap Ketelitian Posisi dalam Survei GPS Rina Rostika Rahman
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Realitas pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa data hasil pengamatan dari suatu survei GPS dari waktu ke waktu menghasilkan ketelitian posisi yang berbeda. Kenyataan tersebut menarik untuk dipelajari guna mengetahui waktu-waktu yang terbaik untuk melakukan pengamatan GPS. Dalam penelitian ini diteliti pengaruh waktu pengamatan terhadap ketelitian posisi dalam survei GPS, di mana waktu pengamatan dikelompokkan menjadi 5 (lima) bagian, yaitu: pagi, siang, sore, malam, dan subuh dengan selang waktu pengamatan 3 jam, 2 jam, dan 1 jam. Dari hasil hitungan diketahui bahwa waktu pengamatan yang terbaik untuk melakukan pengukuran pada survei GPS adalah siang hari sampai sore hari, yaitu sekitar pukul 11.00-18.00 WIB. Kata kunci: GPS RTK, ETS, posisi titik, ekstraterestrial.   Abstract Reality of experience in the field indicates that the measurement data of GPS survey from time to time result in different position accuracy. It is interesting to study to know the best times for perform GPS observations. This research examined the influence of observing time to the position accuracy of GPS survey by which time observations are grouped into 5 (five) parts: morning, afternoon, evening, night, and dawn at observation intervals of 3 hours, 2 hours, and 1 hours. From the obtained result it is known that the best time to take the GPS survey measurements is during afternoon until evening at around 11.00-18.00 pm. Keywords: GPS RTK , ETS, point position, extraterrestrial.
Membangun Geodatabase Kelautan untuk Mendukung Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Raditia Isawisuda
REKA GEOMATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil antarsektor, antara pemerintah dan pemerintah daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka mengoptimalkan usaha eksplorasi sumber daya laut dan mengelola kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengumpulkan data-data yang berisi informasi kelautan. Untuk memudahkan dalam menganalisis data dan informasi tersebut, maka diperlukan metode dan alat bantu dengan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) agar kebutuhan data dan informasi KKP dapat dipenuhi secara cepat, tepat, dan akurat. Di dalam SIG terdapat basis data yang mempunyai referensi geografis (georeference) atau disebut juga geodatabase, sehingga memudahkan dalam melakukan analisis data. Hasil dari penelitian ini adalah terbentuknya geodatabase kelautan dan pulau-pulau kecil yang sudah terintegrasi dengan baik, sehingga dapat mendukung pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Kata kunci: SIG, geodatabase, kelautan, wilayah pesisir, pulau-pulau kecil. Abstract Management of coastal zones and small islands is a process of planning, utilization, monitoring, and control of coastal resources and the small islands between sectors, between government and local governments, between the terrestrial and marine ecosystems, and between science and management to improve the prosperity society. In order to optimize exploration efforts of marine resources, coastal, and small islands, the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries collect data that contains information of the sea. In order to analyse the data and information easily, KKP requires methods and tools using technology of Geographic Information System (SIG) so as the data and information of the ministry can be met quickly, accurately, and accurate. In GIS contain database that has a geographic reference or also called the geodatabase. The results of this study is establishment of the marine and small islands geodatabase that are well integrated, so that it can support the management of coastal areas and small islands. Keywords: GIS, geodatabase, marine, coastal zone, small islands.

Page 1 of 1 | Total Record : 10