cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA GEOMATIKA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2017, No 1" : 10 Documents clear
Peningkatan Akurasi Interpretasi Foto Udara Menggunakan Metode Pembobotan Berbasis Objek untuk Pembuatan Peta Skala 1:5000 Lumbantobing, Marlonroi; Wikantika, Ketut; Harto, Agung Budi
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.367 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2017i1.1459

Abstract

ABSTRAK Kebutuhan akan adanya pengembangan metode untuk meningkatkan akurasi dari interpretasi objek memerlukan kajian metodologi yang disebut analisis citra berbasis objek. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan dan menganalisis akurasi dari interpretasi objek secara otomatis dengan metode berbasis objek dengan memberikan bobot yang berbeda untuk setiap kanal. Data yang digunakan adalah foto hasil pemotretan udara format menengah (medium format) dengan resolusi 16 cm. Ekstrak data menggunakan teknik object based image analysis (OBIA). Data diproses berdasarkan bobot yang yang berbeda untuk setiap kanal. Nilai akurasi ditentukan berdasarkan overall accuracy. Overall accuracy merupakan hasil validasi klasifikasi objek dengan ground truth yang diperoleh dari peta garis skala 1:5000 yang diinterpretasi secara visual. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan nilai akurasi dengan pendekatan OBIA jika setiap kanal diberikan bobot yang berbeda dibandingkan dengan bobot yang sama. Peningkatan akurasi paling tinggi dengan bobot (Red=3, Green=4, Blue=3, IR=4, dan DEM= 3) menghasilkan akurasi 85,88%. Hasil akurasi meningkat sebesar 10,27 % dibandingkan dengan interpretasi tanpa pembobotan. Kata kunci: Interpretasi, Peta 1:5000, Klasifikasi, OBIA, Pembobotan, AkurasiABSTRACT Interpretation of imagery or aerial photo is an attempt to understand or interpret imagery to obtain accurate information and in accordance with the recorded object. The need for developing methods to improve the accuracy of the object interpretation requires assessment methodology which is called as object based image analysis. This study aimed at determining and analyzing the accuracy of the interpretation of the object automatically using object based method by giving different weights to each band. The data used were medium format aerial photos with a resolution of 16 cm. The method of data processing was object based image analysis (OBIA). Data were processed by different weights for each band. Accuracy value is determined based on the overall accuracy. Overall accuracy is the result of the validated object classification with ground truth obtained from the map of 1:5000 which were interpreted visually. The research results showed that the value of the accuracy with OBIA approach increased if each band is given different weights compared with the same weight. The highest accuracy was achieved with weights (Red=3, Green=4, Blue=3 , IR=4, and DEM=3), and resulted overall accuracy 85,88%. Results accuracy increased 10,27% compared with the interpretation without weighting. Keywords: Interpretation, Map 1:5000, Classification, OBIA, Weighting, Accuracy
Pemodelan pada Proses Cyclostationarity Berdasarkan Data Pasut Cilacap Tahun 2007-2015 Cendani, Larasati S.; Perbani, N.M.R.R. Cahya; Sawitri, Kania
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.02 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2017i1.1460

Abstract

ABSTRAK Sesuai prosedur dalam penentuan MSL sejati, pengamatan pasut dilakukan secara terus-menerus selama 18,61 tahun dengan selang waktu satu jam tanpa jeda. Pengamatan pasut tersebut bukanlah suatu hal yang mudah dan hampir tidak dapat untuk dilakukan, MSL yang digunakan untuk kepentingan teknis umumnya ditentukan berdasarkan data pengamatan pasut periode pendek selama 15 atau 29 hari. Periode pendek tersebut memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi seluruh faktor yang mempengaruhi MSL. Hipotesis pada penelitian ini MSL bulanan juga memiliki sifat cyclostationarity berdasarkan penelitian pasang tinggi di Benoa, Bali yang memiliki sifat yang sama. Penelitian ini bertujuan memodelkan terjadinya proses cyclostationarity untuk dijadikan sebagai model koreksi mean sea level bulanan dan untuk mengetahui variasi yang terjadi. Pemodelan dilakukan menggunakan fungsi gelombang dua konstanta pasut periode panjang Sa dan Ssa menggunakan analisis harmonik kuadrat terkecil melalui Deret Fourier. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa model gelombang yang dihasilkan sudah 80% mewakili perilaku MSL bulanan dan simpangan maksimum terhadap MSL bulanan rata-rata sebesar 245 mm. Kata kunci: MSL bulanan, cyclostationarity, fungsi gelombang ABSTRACT In procedure to determine the true mean sea level (MSL), hourly tide measurement should be taken for 18,61 years continuously. That such measurement is not simple and barely possible to establish. In most technical cases, MSL is determined from shot period measurement 15 or 29 days. The limitation of that such short period data is in accommodating all factors with action MSL. In this study the monthly MSL is a cyclostationarity process like spring tides in Benoa, Bali is taken as the hypothesis. This study directed to model cyclostationarity process to build the model of monthly MSL and to find it’s variation. The modeling is accomplished using wave function two long period constituents (Sa and Ssa). Least square harmonic analysis by means of Fourier series is applied. It is found that the wave model from this study represent about 80% of monthly MSL behavior and the average of maximum deviation is 245 mm. Keywords: monthly MSL, cyclostationarity, wave function
Penentuan Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Kabupaten Sumedang Menggunakan Pemodelan Spasial Nugroho, Hary; Firmansyah, Melan Nano
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.556 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2017i1.1461

Abstract

ABSTRAK Jumlah penduduk Kabupaten Sumedang saat ini mencapai 1.125.125 jiwa dengan tingkat buangan sampah per hari pada tahun 2014 mencapai 3.270 m3. Adapun volume sampah yang tertangani per hari oleh pemerintah Kabupaten Sumedang melalui Badan Lingkungan Hidup baru mencapai 150 m3. Kondisi ini terjadi sebagai akibat akumulasi berbagai permasalahan penanganan sampah. Salah satu di antaranya adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah. TPA yang saat ini digunakan, yaitu TPA di Kecamatan Cimalaka Desa Cibeureum Wetan, sudah tidak layak. Oleh karena itu perlu dilakukan pencarian lahan yang dapat dijadikan lokasi tempat pembuangan sampah akhir yang dapat menampung sampah dalam kurun waktu yang lama. Penentuan lokasi TPA baru harus mengikuti kriteria standar seperti yang tertulis dalam SNI No. 03-3241-1994 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3/PRT/M/2013. Dalam penelitian ini, lokasi TPA terbaik ditentukan melalui analisis kesesuaian dengan menggunakan pemodelan spasial. Adapun parameter yang digunakan dalam pemodelan terdiri atas: jenis tanah, jenis batuan, tata guna lahan, kemiringan tanah, kepadatan lalu lintas, hidrogeologi, curah hujan, dan batas administrasi. Hasil pemodelan menunjukkan terdapat 45 titik sebaran lokasi yang berpotensi untuk dijadikan TPA Sampah dengan waktu pengoperasian lebih dari 5 tahun. Kata kunci: TPA Sampah, Pemodelan Spasial, SNI   ABSTRACT The population of Sumedang Regency currently reaches 1,125,125 people with waste disposal in 2014 reached 3,270 m3. The volume of waste which can be handled daily by the district government through the Environment Agency has only reached 150 m3. This condition occurs as a result of the accumulation of various problems of waste management. One of them is the Final Disposal Site (TPA) of Garbage. The TPA currently used, TPA in Cimalaka Village Cibeureum Wetan Village, is no longer feasible. Therefore it is necessary to search for the land that can be used as the location of the final waste disposal that can accommodate the waste in a long time. The determination of new TPA location must follow the standard criteria as written in SNI no. 03-3241-1994 and Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3/PRT/M/2013. In this study, the best TPA sites were determined through conformity analysis using spatial modeling. The parameters used in this modelling includes soil type, rock type, land use, land slope, traffic density, hydrogeology, rainfall, and administrative boundaries. The modelling result shows that there are 45 spots of potential location to be used as TPA of garbage with operating time more than 5 years. Keywords: TPA Garbage, Spatial Modelling, SNI
Analisis Perbandingan Latency Hasil Patch Test dengan Latency Real Titik Fiks Perum pada Survei Hidrografi (Studi Kasus: Pelabuhan Tanjung Benoa Bali) Rizkian, Fakhri; Perbani, N.M.R.R. Cahya
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.547 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2017i1.1462

Abstract

ABSTRAK Latency merupakan perbedaan yang terjadi akibat ketidaksinkronan waktu antara alat perekaman posisi horizontal dengan kedalaman laut. Masalah latency muncul ketika lokasi pengukuran berkarakteristik slope. Latency real bersifat individual untuk setiap titik fiks perum, sementara latency hasil patch test sepanjang jalur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana koreksi latency hasil teknik patch test dapat memberikan model topografi di sepanjang jalur pengukuran yang sesuai dengan model topografi dengan latency real. Koreksi kedalaman akibat latency diperoleh menggunakan fungsi slope, kecepatan kapal, dan latency untuk diterapkan baik pada latency hasil patch test maupun latency real. Tren model topografi di Pelabuhan Tanjung Benoa, Bali dengan kecepatan lebih rendah (rata-rata 4,2 m/detik) lebih mewakili kondisi topografi sebenarnya. Nilai deviasi standar untuk kecepatan lebih rendah sebesar ±0,16 m dan untuk kecepatan lebih tinggi (rata-rata 6,2 m/detik) sebesar ±0,2 m yang masih memenuhi standar ketelitian kedalaman menurut SNI sebesar 0,28 m. Kata kunci: latency, patch test, model topografi   ABSTRACT Latencyis a difference occurred while horizontal position and depth measurement is taken unsynchronously. The bigger slope of sea bottom topography in measurement area, the bigger problem of latency that arise. Real latency in individualited for each sounding fixed point, while patch test gives an along track latency. This research is schemed for finding whether the correction of latency from patch test ensure the topography model along measurement track can be fitted with the model from real latency. Depth correction for latency is calculated as a function of slope, vessel speed, and latency. It is applied for both of latency from patch test and the real latency. The trend of topography model in Tanjung Benoa Port, Bali from measurement with slower speed (4,2 m/sec average speed) more represent the actual topography. Standard deviation for measurement with slower speed is ± 0,16 m ; while for faster speed (6,2 m/sec average speed) is 0,2 m. Both of the vessel speed still fullfil depth accuracy standard of SNI, that is under 0,28 m. Keywords: latency, patch test, topography model
Evaluasi Kesiapan Implementasi Infrastruktur Data Spasial untuk Manajemen Penanggulangan Bencana -, Herlina; -, Sumarno; -, Indrianawati
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.013 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2017i1.1466

Abstract

ABSTRAK Akses data spasial yang cepat dan akurat mempunyai peranan yang penting dalam pengambilan keputusan untuk manajemen penanggulangan bencana. Infrastruktur Data Spasial (IDS) merupakan suatu cara untuk memudahkan pengguna untuk mengakses data spasial secara konsisten, mudah, dan aman. Dengan kata lain, IDS dapat meningkatkan ketersediaan data, kemudahan dalam akses, dan implementasi data spasial dalam pengambilan keputusan. Dalam hal manajemen penanggulangan bencana, BPBD dan stakeholder kebencanaan Kabupaten Bandung belum mengimplementasikan IDS kebencanaan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan model IDS kebencanaan dan mengevaluasi kesiapan implementasi dalam manajemen penanggulangan bencana di Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah penentuan model IDS kebencanaan yang mengacu pada model IDS yang dirumuskan oleh Rajabifard kemudian didetailkan dengan indikator penilaian IDS yang dikeluarkan Badan Informasi Geospasial tahun 2016. Pengambilan data dilakukan pada 18 stakeholder kebencanaan Kabupaten Bandung dengan wawancara, kuesioner, dan penilaian melalui website. Hasil evaluasi dari kesiapan implementasi IDS kebencanaan Kabupaten Bandung adalah 45,8%. Kata kunci: Infrastruktur Data Spasial, Manajemen Penanggulangan Bencana, Kabupaten Bandung ABSTRACT Fast and accurate spatial data access has an important role in decision making for disaster management. Spatial Data Infrastructure (SDI) is a way to facilitate the users to access spatial data consistently, easily, and safety. In the case, SDI can improve data availability, ease of access and implementation of spatial data for decision making. In disaster management, BPBD and disaster stakeholders in Bandung District have not implemented SDI of disaster. The objective of this study is to determine the SDI model of disaster and evaluate the readiness of implementation in disaster management in Bandung District. The method used in this study is determining SDI model of disaster, referred to IDS model which is formulated by Rajabifard, and then the SDI model of disaster is detailed by SDI assessment indicator issued by Geospatial Information Agency (2016). The data collection has been taken on 18 disaster stakeholders in Bandung District with interview, questionnaire, and assessment through the website. The evaluation result of the readiness of implementation the SDI of disaster in Bandung District is 45.8%. Keywords: Spatial Data Infrastructure, Disaster Management, Bandung District
Penentuan Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Kabupaten Sumedang Menggunakan Pemodelan Spasial Hary Nugroho; Melan Nano Firmansyah
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Jumlah penduduk Kabupaten Sumedang saat ini mencapai 1.125.125 jiwa dengan tingkat buangan sampah per hari pada tahun 2014 mencapai 3.270 m3. Adapun volume sampah yang tertangani per hari oleh pemerintah Kabupaten Sumedang melalui Badan Lingkungan Hidup baru mencapai 150 m3. Kondisi ini terjadi sebagai akibat akumulasi berbagai permasalahan penanganan sampah. Salah satu di antaranya adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah. TPA yang saat ini digunakan, yaitu TPA di Kecamatan Cimalaka Desa Cibeureum Wetan, sudah tidak layak. Oleh karena itu perlu dilakukan pencarian lahan yang dapat dijadikan lokasi tempat pembuangan sampah akhir yang dapat menampung sampah dalam kurun waktu yang lama. Penentuan lokasi TPA baru harus mengikuti kriteria standar seperti yang tertulis dalam SNI No. 03-3241-1994 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3/PRT/M/2013. Dalam penelitian ini, lokasi TPA terbaik ditentukan melalui analisis kesesuaian dengan menggunakan pemodelan spasial. Adapun parameter yang digunakan dalam pemodelan terdiri atas: jenis tanah, jenis batuan, tata guna lahan, kemiringan tanah, kepadatan lalu lintas, hidrogeologi, curah hujan, dan batas administrasi. Hasil pemodelan menunjukkan terdapat 45 titik sebaran lokasi yang berpotensi untuk dijadikan TPA Sampah dengan waktu pengoperasian lebih dari 5 tahun. Kata kunci: TPA Sampah, Pemodelan Spasial, SNI   ABSTRACT The population of Sumedang Regency currently reaches 1,125,125 people with waste disposal in 2014 reached 3,270 m3. The volume of waste which can be handled daily by the district government through the Environment Agency has only reached 150 m3. This condition occurs as a result of the accumulation of various problems of waste management. One of them is the Final Disposal Site (TPA) of Garbage. The TPA currently used, TPA in Cimalaka Village Cibeureum Wetan Village, is no longer feasible. Therefore it is necessary to search for the land that can be used as the location of the final waste disposal that can accommodate the waste in a long time. The determination of new TPA location must follow the standard criteria as written in SNI no. 03-3241-1994 and Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3/PRT/M/2013. In this study, the best TPA sites were determined through conformity analysis using spatial modeling. The parameters used in this modelling includes soil type, rock type, land use, land slope, traffic density, hydrogeology, rainfall, and administrative boundaries. The modelling result shows that there are 45 spots of potential location to be used as TPA of garbage with operating time more than 5 years. Keywords: TPA Garbage, Spatial Modelling, SNI
Analisis Perbandingan Latency Hasil Patch Test dengan Latency Real Titik Fiks Perum pada Survei Hidrografi (Studi Kasus: Pelabuhan Tanjung Benoa Bali) Fakhri Rizkian; N.M.R.R. Cahya Perbani
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latency merupakan perbedaan yang terjadi akibat ketidaksinkronan waktu antara alat perekaman posisi horizontal dengan kedalaman laut. Masalah latency muncul ketika lokasi pengukuran berkarakteristik slope. Latency real bersifat individual untuk setiap titik fiks perum, sementara latency hasil patch test sepanjang jalur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana koreksi latency hasil teknik patch test dapat memberikan model topografi di sepanjang jalur pengukuran yang sesuai dengan model topografi dengan latency real. Koreksi kedalaman akibat latency diperoleh menggunakan fungsi slope, kecepatan kapal, dan latency untuk diterapkan baik pada latency hasil patch test maupun latency real. Tren model topografi di Pelabuhan Tanjung Benoa, Bali dengan kecepatan lebih rendah (rata-rata 4,2 m/detik) lebih mewakili kondisi topografi sebenarnya. Nilai deviasi standar untuk kecepatan lebih rendah sebesar ±0,16 m dan untuk kecepatan lebih tinggi (rata-rata 6,2 m/detik) sebesar ±0,2 m yang masih memenuhi standar ketelitian kedalaman menurut SNI sebesar 0,28 m. Kata kunci: latency, patch test, model topografi   ABSTRACT Latencyis a difference occurred while horizontal position and depth measurement is taken unsynchronously. The bigger slope of sea bottom topography in measurement area, the bigger problem of latency that arise. Real latency in individualited for each sounding fixed point, while patch test gives an along track latency. This research is schemed for finding whether the correction of latency from patch test ensure the topography model along measurement track can be fitted with the model from real latency. Depth correction for latency is calculated as a function of slope, vessel speed, and latency. It is applied for both of latency from patch test and the real latency. The trend of topography model in Tanjung Benoa Port, Bali from measurement with slower speed (4,2 m/sec average speed) more represent the actual topography. Standard deviation for measurement with slower speed is ± 0,16 m ; while for faster speed (6,2 m/sec average speed) is 0,2 m. Both of the vessel speed still fullfil depth accuracy standard of SNI, that is under 0,28 m. Keywords: latency, patch test, topography model
Evaluasi Kesiapan Implementasi Infrastruktur Data Spasial untuk Manajemen Penanggulangan Bencana Herlina -; Sumarno -; Indrianawati -
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Akses data spasial yang cepat dan akurat mempunyai peranan yang penting dalam pengambilan keputusan untuk manajemen penanggulangan bencana. Infrastruktur Data Spasial (IDS) merupakan suatu cara untuk memudahkan pengguna untuk mengakses data spasial secara konsisten, mudah, dan aman. Dengan kata lain, IDS dapat meningkatkan ketersediaan data, kemudahan dalam akses, dan implementasi data spasial dalam pengambilan keputusan. Dalam hal manajemen penanggulangan bencana, BPBD dan stakeholder kebencanaan Kabupaten Bandung belum mengimplementasikan IDS kebencanaan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan model IDS kebencanaan dan mengevaluasi kesiapan implementasi dalam manajemen penanggulangan bencana di Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah penentuan model IDS kebencanaan yang mengacu pada model IDS yang dirumuskan oleh Rajabifard kemudian didetailkan dengan indikator penilaian IDS yang dikeluarkan Badan Informasi Geospasial tahun 2016. Pengambilan data dilakukan pada 18 stakeholder kebencanaan Kabupaten Bandung dengan wawancara, kuesioner, dan penilaian melalui website. Hasil evaluasi dari kesiapan implementasi IDS kebencanaan Kabupaten Bandung adalah 45,8%. Kata kunci: Infrastruktur Data Spasial, Manajemen Penanggulangan Bencana, Kabupaten Bandung ABSTRACT Fast and accurate spatial data access has an important role in decision making for disaster management. Spatial Data Infrastructure (SDI) is a way to facilitate the users to access spatial data consistently, easily, and safety. In the case, SDI can improve data availability, ease of access and implementation of spatial data for decision making. In disaster management, BPBD and disaster stakeholders in Bandung District have not implemented SDI of disaster. The objective of this study is to determine the SDI model of disaster and evaluate the readiness of implementation in disaster management in Bandung District. The method used in this study is determining SDI model of disaster, referred to IDS model which is formulated by Rajabifard, and then the SDI model of disaster is detailed by SDI assessment indicator issued by Geospatial Information Agency (2016). The data collection has been taken on 18 disaster stakeholders in Bandung District with interview, questionnaire, and assessment through the website. The evaluation result of the readiness of implementation the SDI of disaster in Bandung District is 45.8%. Keywords: Spatial Data Infrastructure, Disaster Management, Bandung District
Peningkatan Akurasi Interpretasi Foto Udara Menggunakan Metode Pembobotan Berbasis Objek untuk Pembuatan Peta Skala 1:5000 Marlonroi Lumbantobing; Ketut Wikantika; Agung Budi Harto
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kebutuhan akan adanya pengembangan metode untuk meningkatkan akurasi dari interpretasi objek memerlukan kajian metodologi yang disebut analisis citra berbasis objek. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan dan menganalisis akurasi dari interpretasi objek secara otomatis dengan metode berbasis objek dengan memberikan bobot yang berbeda untuk setiap kanal. Data yang digunakan adalah foto hasil pemotretan udara format menengah (medium format) dengan resolusi 16 cm. Ekstrak data menggunakan teknik object based image analysis (OBIA). Data diproses berdasarkan bobot yang yang berbeda untuk setiap kanal. Nilai akurasi ditentukan berdasarkan overall accuracy. Overall accuracy merupakan hasil validasi klasifikasi objek dengan ground truth yang diperoleh dari peta garis skala 1:5000 yang diinterpretasi secara visual. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan nilai akurasi dengan pendekatan OBIA jika setiap kanal diberikan bobot yang berbeda dibandingkan dengan bobot yang sama. Peningkatan akurasi paling tinggi dengan bobot (Red=3, Green=4, Blue=3, IR=4, dan DEM= 3) menghasilkan akurasi 85,88%. Hasil akurasi meningkat sebesar 10,27 % dibandingkan dengan interpretasi tanpa pembobotan. Kata kunci: Interpretasi, Peta 1:5000, Klasifikasi, OBIA, Pembobotan, AkurasiABSTRACT Interpretation of imagery or aerial photo is an attempt to understand or interpret imagery to obtain accurate information and in accordance with the recorded object. The need for developing methods to improve the accuracy of the object interpretation requires assessment methodology which is called as object based image analysis. This study aimed at determining and analyzing the accuracy of the interpretation of the object automatically using object based method by giving different weights to each band. The data used were medium format aerial photos with a resolution of 16 cm. The method of data processing was object based image analysis (OBIA). Data were processed by different weights for each band. Accuracy value is determined based on the overall accuracy. Overall accuracy is the result of the validated object classification with ground truth obtained from the map of 1:5000 which were interpreted visually. The research results showed that the value of the accuracy with OBIA approach increased if each band is given different weights compared with the same weight. The highest accuracy was achieved with weights (Red=3, Green=4, Blue=3 , IR=4, and DEM=3), and resulted overall accuracy 85,88%. Results accuracy increased 10,27% compared with the interpretation without weighting. Keywords: Interpretation, Map 1:5000, Classification, OBIA, Weighting, Accuracy
Pemodelan pada Proses Cyclostationarity Berdasarkan Data Pasut Cilacap Tahun 2007-2015 Larasati S. Cendani; N.M.R.R. Cahya Perbani; Kania Sawitri
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Sesuai prosedur dalam penentuan MSL sejati, pengamatan pasut dilakukan secara terus-menerus selama 18,61 tahun dengan selang waktu satu jam tanpa jeda. Pengamatan pasut tersebut bukanlah suatu hal yang mudah dan hampir tidak dapat untuk dilakukan, MSL yang digunakan untuk kepentingan teknis umumnya ditentukan berdasarkan data pengamatan pasut periode pendek selama 15 atau 29 hari. Periode pendek tersebut memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi seluruh faktor yang mempengaruhi MSL. Hipotesis pada penelitian ini MSL bulanan juga memiliki sifat cyclostationarity berdasarkan penelitian pasang tinggi di Benoa, Bali yang memiliki sifat yang sama. Penelitian ini bertujuan memodelkan terjadinya proses cyclostationarity untuk dijadikan sebagai model koreksi mean sea level bulanan dan untuk mengetahui variasi yang terjadi. Pemodelan dilakukan menggunakan fungsi gelombang dua konstanta pasut periode panjang Sa dan Ssa menggunakan analisis harmonik kuadrat terkecil melalui Deret Fourier. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa model gelombang yang dihasilkan sudah 80% mewakili perilaku MSL bulanan dan simpangan maksimum terhadap MSL bulanan rata-rata sebesar 245 mm. Kata kunci: MSL bulanan, cyclostationarity, fungsi gelombang ABSTRACT In procedure to determine the true mean sea level (MSL), hourly tide measurement should be taken for 18,61 years continuously. That such measurement is not simple and barely possible to establish. In most technical cases, MSL is determined from shot period measurement 15 or 29 days. The limitation of that such short period data is in accommodating all factors with action MSL. In this study the monthly MSL is a cyclostationarity process like spring tides in Benoa, Bali is taken as the hypothesis. This study directed to model cyclostationarity process to build the model of monthly MSL and to find it’s variation. The modeling is accomplished using wave function two long period constituents (Sa and Ssa). Least square harmonic analysis by means of Fourier series is applied. It is found that the wave model from this study represent about 80% of monthly MSL behavior and the average of maximum deviation is 245 mm. Keywords: monthly MSL, cyclostationarity, wave function

Page 1 of 1 | Total Record : 10