cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA GEOMATIKA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2018, No 1" : 10 Documents clear
Visualisasi Bangunan Peninggalan Belanda di Kotabaru Yogyakarta melalui ESRI Story Map Farida, Annisa; Chintya, Ni Putu Praja; Mutiarasari, Wahyu Marta
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.968 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2018i1.2657

Abstract

ABSTRAKESRI Story map merupakan cara untuk memvisualisasikan peta dan data nonspasial pada aplikasi web tingkat lanjut. Contoh data nonspasial adalah teks narasi, gambar, dan konten multimedia. Salah satu peta cerita yang paling populer adalah peta cerita dalam bentuk jurnal. Peta cerita format jurnal menyajikan lokasi secara visual yang ditambahkan dengan data nonspasial. Makalah ini menyajikan cerita melalui ESRI story map untuk memvisualisasikan bangunan peninggalan Belanda di Kotabaru, Kota Yogyakarta. Bangunan peninggalan Belanda disebut juga sebagai bangunan heritage. Jumlah bangunan Heritage di Kotabaru saat ini menurun karena adanya pertumbuhan ekonomi di Kota Yogyakarta yang mengakibatkan beberapa bangunan heritage berubah menjadi bangunan modern. Jurnal ini menyajikan informasi tentang lokasi bangunan heritage yang disertai narasi sejarahnya sebagai salah satu upaya melestarikan bangunan bersejarah.Kata kunci: Bangunan peninggalan Belanda, peta cerita, spasial, heritage ABSTRACTESRI story map is an advance way to visualize maps with nonspatial data in a web application. Examples of nonspatial data are narrative text, images, and multimedia context. The most popular story map is story map journal. The story map journal shows nonspatial and the location of the story visually. We made story maps using ESRI story map to visualize Dutch heritage buildings in Kotabaru, Yogyakarta Province. Dutch heritage buildings are known as heritage buildings. Now, the number of heritage building is decreasing. This is due to economic growth in Yogyakarta. There are some significant changes in this area. Some heritage buildings are transformed into modern buildings. This paper presents the location information of heritage buildings along with its historical narrative as one of efforts to preserve the historical buildings.Keywords: Dutch heritage buildings, story map, spatial, heritage
Identifikasi Daerah Prospek Panas Bumi dengan Menggunakan Teknik Pengindraan Jauh (Studi Kasus: Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut) Nugroho, Hary; Fadhilah, Mohamad Farhan
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.027 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2018i1.2661

Abstract

ABSTRAKPertambahan jumlah penduduk mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan energi. Sumber energi dari fosil semakin hari semakin menipis sehingga perlu ada upaya pencarian energi terbarukan. Salah satu potensi energi terbarukan yang banyak tersebar di Indonesia adalah energi panas bumi. Indonesia memiliki 40% potensi energi panas bumi dunia. Umumnya daerah prospek panas bumi berada pada daerah vulkanik yang dikelilingi oleh vegetasi rapat. Salah satu cara untuk mengetahui lokasinya adalah menggunakan metode pengindraan jauh. Teknologi pengindraan jauh ini dapat digunakan pada tahap awal identifikasi yang selanjutnya dapat didalami menggunakan teknik geofisika dan geokimia. Citra pengindraan jauh yang digunakan dilakukan analisis melalui suhu kecerahan atau brightness temperature untuk selanjutnya diintegrasikan dengan data kelurusan, struktur geologi, dan manifestasi panas bumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa daerah prospek panas bumi terletak di kawasan Gunung Papandayan yang mencakup Desa Sirnajaya, Karamatwangi, Cisurupan, Cisero, Cidatar, Sukatani, Cipaganti, dan Sukawargi. Daerah prospek terletak di dataran tinggi dengan suhu kecerahan yang beragam antara 12,8°C-42,8°C.Kata kunci: panas bumi, pengindraan jauh, suhu kecerahan, manifestasiABSTRACTPopulation growth has resulted in increased energy demand. Energy sources from fossils will soon run out, so we need renewable alternative energy sources. One of the potential renewable energy that is widely spread in Indonesia is geothermal energy. Indonesia has 40% of the world's geothermal energy potential. Generally, geothermal prospect areas are in volcanic areas surrounded by dense vegetation. How to find out the location, one of which is the application of remote sensing methods. This remote sensing technology can be used at the initial stage of identification which can then be explored using geophysical and geochemical techniques. The image was processed and analyzed to obtain brightness temperature. These results were then integrated with geological structure, and geothermal manifestations. The prospect area obtained is located in the area of Mount Papandayan which includes the villages of Sirnajaya, Karamatwangi, Cisurupan, Cisero, Cidatar, Sukatani, Cipaganti, and Sukawargi. This region is located in the highlands with brightness temperature varying between 12.8°C-42.8°C.Keywords: geothermal, remote sensing, brightness temperature, manifestation
Analisis Pergeseran Koseismik Gempa Sianok Tahun 2007 Berdasarkan Data Pengamatan GPS Tahun 1993-2007 dan Efek terhadap SRGI 2013 Efendi, Joni; Prijatna, Kosasih; Meilano, Irwan
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1455.25 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2018i1.2662

Abstract

ABSTRAKTumbukan miring Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia membentuk zona subduksi di bagian barat Pulau Sumatra dan sejumlah segmen sesar di darat Pulau Sumatra. Zona subduksi dan segmen sesar yang terbentuk aktif bergerak sehingga sering menimbulkan gempa bumi di wilayah tersebut. Semenjak diberlakukannya Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI 2013) sebagai referensi tunggal dalam aktivitas pemetaan di Indonesia, maka perubahan posisi kerangka referensi koordinat sebagai fungsi waktu akibat dinamika bumi perlu diperhitungkan. Dengan terjadinya dua gempabumi yang berurutan pada tanggal 6 Maret 2007 di wilayah Danau Singkarak Sumatra Barat, akan menimbulkan deformasi koseismik yang dapat mempengaruhi SRGI2013. Dalam penelitian ini dilakukan analisis untuk menentukan model koseismik gempabumi Sianok yang paling sesuai dan sejauh mana dampaknya pada SRGI 2013. Berdasarkan hasil analisis terhadap nilai residual hasil validasi dengan koseismik pada 11 titik pengamatan GPS dapat disimpulkan bahwa model koseismik dari gempabumi Sianok adalah model koseismik menggunakan data parameter gempa dari Global CMT dengan residual misfit 47.5 mm. Secara umum, pola kosesimik gempabumi Sianok mendeskripsikan mekanisme gempabumi sesar geser. Nilai kosesimik terbesar terjadi pada titik KACA dan K108, yaitu 135,43 mm dan 84,74 mm. Besarnya koseismik gempabumi Sianok tidak berpengaruh terhadap peta dengan skala 1: 1000, akan tetapi akan mempengaruhi nilai koordinat Jaring Kontrol Geodesi (JKG) yang berada di sekitar daerah gempa, sehingga perlu adanya pemutakhiran koordinat dari JKG.Kata kunci: Gempabumi Sianok, GPS, Deformasi Koseismik, SRGI2013. ABSTRACTThe oblique movement of Eurasian Plate towards Indo-Australian Plate create subduction zone in the western part of Sumatra Island and some faults on the mainland of Sumatra. These subduction zone and faults actively produce some earthquakes. Since we used the Geospatial Reference System of Indonesia 2013 (SRGI 2013) as one reference on mapping activities in Indonesia, coordinate changes as a function of time caused by earthquake cycle need to be calculated. There are two earthquakes that had been occurred on March 6, 2007 in Singkarak Lake area which affected the SRGI 2013. We analyzed the data to estimate the coseismic model of Sianok earthquake and the impact to the SRGI 2013. The residual from the coseismic model by including 11 GPS displacements shows that the coseismic model of Sianok earthquake is a model that used earthquake parameters from Global CMT with the misfit of 47.5 mm. Overall, this coseismic pattern shows the shear mechanism. The largest displacements are on KACA and K108 sites, that are 135.43 mm and 84.74 mm respectively. The coseimic of Sianok earthquake does not affect a map with scale of 1:1000, but affect the Geodetic Control Network in this area. From this analysis, we conclude that we need to update our Geodetic Control Network.Keywords: Sianok Earthquake, GPS, Coseismic Deformation, SRGI2013.
Identifikasi Hazard dari Hasil Data Free Span pada Jalur Pipa Bawah Laut Lapangan Bekapai Menggunakan Data Multibeam Echosounder dan Side Scan Sonar Ravenska, Muhammad Biana; Cahya Perbani, Ni Made Rai Ratih
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.802 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2018i1.2669

Abstract

ABSTRAKLapangan Bekapai merupakan salah satu lapangan minyak yang memproduksi dan mendistribusikan minyak dan gas alam lewat pipa bawah laut. Untuk itu perlu dilakukan inspeksi secara berkala untuk meminimalkan terjadinya hazard baik yang berasal dari proses instalasi maupun dari proses operasi, di antaranya berupa free span. Penelitian ini menggunakan data multibeam echosounder (MBES) untuk mendapatkan data panjang dan posisi free span, sedangkan data side scan sonar (SSS) untuk interpretasi objek pipa dan perkiraan tinggi free span. Profil yang dibangun dari data MBES digunakan untuk memastikan adanya cekungan pada lokasi free span yang terdeteksi. Kriteria identifikasi hazard berupa free span pada jalur pipa bawah laut menggunakan DNV RP F-105 dengan panjang dan tinggi maksimum yang diperbolehkan adalah 14 meter dan 0,6 meter. Free span maksimum yang terdeteksi di lokasi penelitian memiliki panjang 9,2 meter dan tinggi 0,24 meter, yang masih dikategorikan aman atau tidak terjadi hazard pada pipa bawah laut di lokasi penelitian.Kata kunci: free span, multibeam echosounder, side scan sonar ABSTRACTBekapai Field has been known as one of the oil fields which produce and transport oil and natural gas through the subsea pipelines. It becomes so important to inspect periodically for minimizing the coming out of hazards, either during installation or operation process. One of the hazards is a free span. This research uses multibeam echosounder (MBES) data to specify the length and the position of free span, while side scan sonar (SSS) data is used to interpret the object of pipeline and to estimate the height of free span. Profiles that are builded from MBES data are used to ascertain the existence of a basin under the detected free span. DNV RP F-105 as the criteria of hazard identification for free span requires the maximum of length and height be allowed are 14 meters and 0.16 meters. The maximum free span detected at the research area has 9.2 meters length and 0.24 meters height, thus it can be stated as a safe condition category or there is no subsea pipelines hazards at the research area.Keywords: free span, multibeam echosounder, side scan sonar
Pemanfaatan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Jenis Quadcopter untuk Percepatan Pemetaan Bidang Tanah (Studi Kasus: Desa Solokan Jeruk Kabupaten Bandung) Hartono, Dhiky; Darmawan, Soni
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.807 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2018i1.2655

Abstract

ABSTRAKPendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) merupakan kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak di Indonesia. Program PTSL dimulai pada tahun 2016 dan ditargetkan selesai pada tahun 2025. Dengan luas darat Indonesia mencapai 2,01 juta km2, dibutuhkan teknologi yang dapat mempercepat program PTSL, di antaranya menggunakan pesawat tanpa awak (drone). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan unmanned aerial vehicle (UAV) jenis Quadcopter untuk pemetaan bidang tanah yang ditinjau dari ketelitian, biaya, dan kecepatan. Daerah yang akan dikaji merupakan daerah yang sedang melaksanakan program PTSL yaitu Desa Solokan Jeruk Kecamatan Solokan Jeruk Kabupaten Bandung. Metodologi penelitian terdiri atas akuisisi data menggunakan UAV jenis Quadcopter dan proses pengolahan foto menggunakan perangkat lunak Agisoft Photoscan yang digeoreferensikan dengan ground control points (GCP) yang didapat dari pengamatan GPS Stop and Go. Hasil penelitian ini menunjukkan UAV jenis Quadcopter dapat mempercepat program PTSL dengan tingkat akurasi 96%, kecepatan penyediaan peta kerja atau peta dasar untuk program PTSL kurang dari 5 hari untuk luasan 1000 Ha, namun dengan biaya yang cukup tinggi.Kata Kunci: PTSL, UAV jenis Quadcopter, Ground Control Point (GCP) ABSTRACTComplete Systematic Land Registration (CSLR) is a land registration activity for the first time that is carried out simultaneously in Indonesia. The PTSL program was started in 2016 and targeted for completion by 2025. With Indonesia's land area reaching 2.01 million km2, technology is needed that can accelerate the CSLR program, one of which is using a drone. The purpose of this research is to know the extent of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) capability of Quadcopter type for mapping of plot of land in terms of accuracy, speed, and economics. The study area is area that is being implemented the program, which located in the village of Solokan Jeruk, Solokan Sub-District, Bandung Regency. The research methodology consists of data acquisition by using UAV type Quadcopters and photo processing using Agisoft Photoscan software that will be georeferenced to the Ground Control Point (GCP) that is obtained from the GPS Real Time Kinematic observation using the Stop and Go method. The results of this study indicate that the UAV type Quadcopter can accelerate the CSLR program by providing 96% accuracy, and the speed of providing a work map or base map for CSLR program of less than 5 days for 1000 Ha, but at a high cost.Keywords: CSLR, UAV type Quadcopter, Ground Control Point (GCP)
Analisis Pergeseran Koseismik Gempa Sianok Tahun 2007 Berdasarkan Data Pengamatan GPS Tahun 1993-2007 dan Efek terhadap SRGI 2013 Joni Efendi; Kosasih Prijatna; Irwan Meilano
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTumbukan miring Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia membentuk zona subduksi di bagian barat Pulau Sumatra dan sejumlah segmen sesar di darat Pulau Sumatra. Zona subduksi dan segmen sesar yang terbentuk aktif bergerak sehingga sering menimbulkan gempa bumi di wilayah tersebut. Semenjak diberlakukannya Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI 2013) sebagai referensi tunggal dalam aktivitas pemetaan di Indonesia, maka perubahan posisi kerangka referensi koordinat sebagai fungsi waktu akibat dinamika bumi perlu diperhitungkan. Dengan terjadinya dua gempabumi yang berurutan pada tanggal 6 Maret 2007 di wilayah Danau Singkarak Sumatra Barat, akan menimbulkan deformasi koseismik yang dapat mempengaruhi SRGI2013. Dalam penelitian ini dilakukan analisis untuk menentukan model koseismik gempabumi Sianok yang paling sesuai dan sejauh mana dampaknya pada SRGI 2013. Berdasarkan hasil analisis terhadap nilai residual hasil validasi dengan koseismik pada 11 titik pengamatan GPS dapat disimpulkan bahwa model koseismik dari gempabumi Sianok adalah model koseismik menggunakan data parameter gempa dari Global CMT dengan residual misfit 47.5 mm. Secara umum, pola kosesimik gempabumi Sianok mendeskripsikan mekanisme gempabumi sesar geser. Nilai kosesimik terbesar terjadi pada titik KACA dan K108, yaitu 135,43 mm dan 84,74 mm. Besarnya koseismik gempabumi Sianok tidak berpengaruh terhadap peta dengan skala 1: 1000, akan tetapi akan mempengaruhi nilai koordinat Jaring Kontrol Geodesi (JKG) yang berada di sekitar daerah gempa, sehingga perlu adanya pemutakhiran koordinat dari JKG.Kata kunci: Gempabumi Sianok, GPS, Deformasi Koseismik, SRGI2013. ABSTRACTThe oblique movement of Eurasian Plate towards Indo-Australian Plate create subduction zone in the western part of Sumatra Island and some faults on the mainland of Sumatra. These subduction zone and faults actively produce some earthquakes. Since we used the Geospatial Reference System of Indonesia 2013 (SRGI 2013) as one reference on mapping activities in Indonesia, coordinate changes as a function of time caused by earthquake cycle need to be calculated. There are two earthquakes that had been occurred on March 6, 2007 in Singkarak Lake area which affected the SRGI 2013. We analyzed the data to estimate the coseismic model of Sianok earthquake and the impact to the SRGI 2013. The residual from the coseismic model by including 11 GPS displacements shows that the coseismic model of Sianok earthquake is a model that used earthquake parameters from Global CMT with the misfit of 47.5 mm. Overall, this coseismic pattern shows the shear mechanism. The largest displacements are on KACA and K108 sites, that are 135.43 mm and 84.74 mm respectively. The coseimic of Sianok earthquake does not affect a map with scale of 1:1000, but affect the Geodetic Control Network in this area. From this analysis, we conclude that we need to update our Geodetic Control Network.Keywords: Sianok Earthquake, GPS, Coseismic Deformation, SRGI2013.
Identifikasi Hazard dari Hasil Data Free Span pada Jalur Pipa Bawah Laut Lapangan Bekapai Menggunakan Data Multibeam Echosounder dan Side Scan Sonar Muhammad Biana Ravenska; Ni Made Rai Ratih Cahya Perbani
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLapangan Bekapai merupakan salah satu lapangan minyak yang memproduksi dan mendistribusikan minyak dan gas alam lewat pipa bawah laut. Untuk itu perlu dilakukan inspeksi secara berkala untuk meminimalkan terjadinya hazard baik yang berasal dari proses instalasi maupun dari proses operasi, di antaranya berupa free span. Penelitian ini menggunakan data multibeam echosounder (MBES) untuk mendapatkan data panjang dan posisi free span, sedangkan data side scan sonar (SSS) untuk interpretasi objek pipa dan perkiraan tinggi free span. Profil yang dibangun dari data MBES digunakan untuk memastikan adanya cekungan pada lokasi free span yang terdeteksi. Kriteria identifikasi hazard berupa free span pada jalur pipa bawah laut menggunakan DNV RP F-105 dengan panjang dan tinggi maksimum yang diperbolehkan adalah 14 meter dan 0,6 meter. Free span maksimum yang terdeteksi di lokasi penelitian memiliki panjang 9,2 meter dan tinggi 0,24 meter, yang masih dikategorikan aman atau tidak terjadi hazard pada pipa bawah laut di lokasi penelitian.Kata kunci: free span, multibeam echosounder, side scan sonar ABSTRACTBekapai Field has been known as one of the oil fields which produce and transport oil and natural gas through the subsea pipelines. It becomes so important to inspect periodically for minimizing the coming out of hazards, either during installation or operation process. One of the hazards is a free span. This research uses multibeam echosounder (MBES) data to specify the length and the position of free span, while side scan sonar (SSS) data is used to interpret the object of pipeline and to estimate the height of free span. Profiles that are builded from MBES data are used to ascertain the existence of a basin under the detected free span. DNV RP F-105 as the criteria of hazard identification for free span requires the maximum of length and height be allowed are 14 meters and 0.16 meters. The maximum free span detected at the research area has 9.2 meters length and 0.24 meters height, thus it can be stated as a safe condition category or there is no subsea pipelines hazards at the research area.Keywords: free span, multibeam echosounder, side scan sonar
Pemanfaatan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Jenis Quadcopter untuk Percepatan Pemetaan Bidang Tanah (Studi Kasus: Desa Solokan Jeruk Kabupaten Bandung) Dhiky Hartono; Soni Darmawan
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) merupakan kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak di Indonesia. Program PTSL dimulai pada tahun 2016 dan ditargetkan selesai pada tahun 2025. Dengan luas darat Indonesia mencapai 2,01 juta km2, dibutuhkan teknologi yang dapat mempercepat program PTSL, di antaranya menggunakan pesawat tanpa awak (drone). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan unmanned aerial vehicle (UAV) jenis Quadcopter untuk pemetaan bidang tanah yang ditinjau dari ketelitian, biaya, dan kecepatan. Daerah yang akan dikaji merupakan daerah yang sedang melaksanakan program PTSL yaitu Desa Solokan Jeruk Kecamatan Solokan Jeruk Kabupaten Bandung. Metodologi penelitian terdiri atas akuisisi data menggunakan UAV jenis Quadcopter dan proses pengolahan foto menggunakan perangkat lunak Agisoft Photoscan yang digeoreferensikan dengan ground control points (GCP) yang didapat dari pengamatan GPS Stop and Go. Hasil penelitian ini menunjukkan UAV jenis Quadcopter dapat mempercepat program PTSL dengan tingkat akurasi 96%, kecepatan penyediaan peta kerja atau peta dasar untuk program PTSL kurang dari 5 hari untuk luasan 1000 Ha, namun dengan biaya yang cukup tinggi.Kata Kunci: PTSL, UAV jenis Quadcopter, Ground Control Point (GCP) ABSTRACTComplete Systematic Land Registration (CSLR) is a land registration activity for the first time that is carried out simultaneously in Indonesia. The PTSL program was started in 2016 and targeted for completion by 2025. With Indonesia's land area reaching 2.01 million km2, technology is needed that can accelerate the CSLR program, one of which is using a drone. The purpose of this research is to know the extent of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) capability of Quadcopter type for mapping of plot of land in terms of accuracy, speed, and economics. The study area is area that is being implemented the program, which located in the village of Solokan Jeruk, Solokan Sub-District, Bandung Regency. The research methodology consists of data acquisition by using UAV type Quadcopters and photo processing using Agisoft Photoscan software that will be georeferenced to the Ground Control Point (GCP) that is obtained from the GPS Real Time Kinematic observation using the Stop and Go method. The results of this study indicate that the UAV type Quadcopter can accelerate the CSLR program by providing 96% accuracy, and the speed of providing a work map or base map for CSLR program of less than 5 days for 1000 Ha, but at a high cost.Keywords: CSLR, UAV type Quadcopter, Ground Control Point (GCP)
Visualisasi Bangunan Peninggalan Belanda di Kotabaru Yogyakarta melalui ESRI Story Map Annisa Farida; Ni Putu Praja Chintya; Wahyu Marta Mutiarasari
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKESRI Story map merupakan cara untuk memvisualisasikan peta dan data nonspasial pada aplikasi web tingkat lanjut. Contoh data nonspasial adalah teks narasi, gambar, dan konten multimedia. Salah satu peta cerita yang paling populer adalah peta cerita dalam bentuk jurnal. Peta cerita format jurnal menyajikan lokasi secara visual yang ditambahkan dengan data nonspasial. Makalah ini menyajikan cerita melalui ESRI story map untuk memvisualisasikan bangunan peninggalan Belanda di Kotabaru, Kota Yogyakarta. Bangunan peninggalan Belanda disebut juga sebagai bangunan heritage. Jumlah bangunan Heritage di Kotabaru saat ini menurun karena adanya pertumbuhan ekonomi di Kota Yogyakarta yang mengakibatkan beberapa bangunan heritage berubah menjadi bangunan modern. Jurnal ini menyajikan informasi tentang lokasi bangunan heritage yang disertai narasi sejarahnya sebagai salah satu upaya melestarikan bangunan bersejarah.Kata kunci: Bangunan peninggalan Belanda, peta cerita, spasial, heritage ABSTRACTESRI story map is an advance way to visualize maps with nonspatial data in a web application. Examples of nonspatial data are narrative text, images, and multimedia context. The most popular story map is story map journal. The story map journal shows nonspatial and the location of the story visually. We made story maps using ESRI story map to visualize Dutch heritage buildings in Kotabaru, Yogyakarta Province. Dutch heritage buildings are known as heritage buildings. Now, the number of heritage building is decreasing. This is due to economic growth in Yogyakarta. There are some significant changes in this area. Some heritage buildings are transformed into modern buildings. This paper presents the location information of heritage buildings along with its historical narrative as one of efforts to preserve the historical buildings.Keywords: Dutch heritage buildings, story map, spatial, heritage
Identifikasi Daerah Prospek Panas Bumi dengan Menggunakan Teknik Pengindraan Jauh (Studi Kasus: Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut) Hary Nugroho; Mohamad Farhan Fadhilah
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPertambahan jumlah penduduk mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan energi. Sumber energi dari fosil semakin hari semakin menipis sehingga perlu ada upaya pencarian energi terbarukan. Salah satu potensi energi terbarukan yang banyak tersebar di Indonesia adalah energi panas bumi. Indonesia memiliki 40% potensi energi panas bumi dunia. Umumnya daerah prospek panas bumi berada pada daerah vulkanik yang dikelilingi oleh vegetasi rapat. Salah satu cara untuk mengetahui lokasinya adalah menggunakan metode pengindraan jauh. Teknologi pengindraan jauh ini dapat digunakan pada tahap awal identifikasi yang selanjutnya dapat didalami menggunakan teknik geofisika dan geokimia. Citra pengindraan jauh yang digunakan dilakukan analisis melalui suhu kecerahan atau brightness temperature untuk selanjutnya diintegrasikan dengan data kelurusan, struktur geologi, dan manifestasi panas bumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa daerah prospek panas bumi terletak di kawasan Gunung Papandayan yang mencakup Desa Sirnajaya, Karamatwangi, Cisurupan, Cisero, Cidatar, Sukatani, Cipaganti, dan Sukawargi. Daerah prospek terletak di dataran tinggi dengan suhu kecerahan yang beragam antara 12,8°C-42,8°C.Kata kunci: panas bumi, pengindraan jauh, suhu kecerahan, manifestasiABSTRACTPopulation growth has resulted in increased energy demand. Energy sources from fossils will soon run out, so we need renewable alternative energy sources. One of the potential renewable energy that is widely spread in Indonesia is geothermal energy. Indonesia has 40% of the world's geothermal energy potential. Generally, geothermal prospect areas are in volcanic areas surrounded by dense vegetation. How to find out the location, one of which is the application of remote sensing methods. This remote sensing technology can be used at the initial stage of identification which can then be explored using geophysical and geochemical techniques. The image was processed and analyzed to obtain brightness temperature. These results were then integrated with geological structure, and geothermal manifestations. The prospect area obtained is located in the area of Mount Papandayan which includes the villages of Sirnajaya, Karamatwangi, Cisurupan, Cisero, Cidatar, Sukatani, Cipaganti, and Sukawargi. This region is located in the highlands with brightness temperature varying between 12.8°C-42.8°C.Keywords: geothermal, remote sensing, brightness temperature, manifestation

Page 1 of 1 | Total Record : 10