cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Limbah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin LIMBAH terdiri dari rubrik atrikel dan info limbah. Rubrik artikel memuat makalah tentang Iptek Limbah meliputi tren teknologi pengolahan limbah serta aspek keselamatan lingkungan. Sedangkan info limbah berisi informasi mutakhir tentang Iptek limbah dari dalam dan luar negeri, serta aktifitas PTLR-BATAN.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2009): Tahun 2009" : 5 Documents clear
AN INTRODUCTION TO RADIOACTIVITY IN THE MARINE ENVIRONMENT Wahyu Retno Prihatiningsih
Buletin Limbah Vol 13, No 2 (2009): Tahun 2009
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1. Introduction Awareness of exposure to natural radioactivity and its technological enhancement in marine systems is growing. However, common misconceptions are the association of radioactive discharges only with the nuclear industry and that radioactivity is somehow unnatural. Environmental radioactivity is a natural occurrence, it was the combination of nuclear reactions and radioactivity that created all matter and variations in the stability of nuclides determined which elements are abundant and which are rare in the universe. Of the more than 5000 atoms (nuclides) known, about 95% are radioactive - they are the norm rather than the exception. Virtually all materials and environments on our planet are both radioactive and naturally exposed to ionising radiation. The energy from nuclear decay powers major geological changes on the Earth, such as internal convection cycles, earthquakes, volcanic activity and continental drift. Natural radioactivity triggers and catalyses key stages in the evolution of life and fusion reactors, such as our sun, provide the essential energy to our planet in the form of light and heat which regulates climate.
STUDI DAN DESAIN SISTEM PENDINGIN UNTUK INSTALASI DEKONTAMINASI ELEKTROLITIK BERSKALA LAB Ratiko Ratiko
Buletin Limbah Vol 13, No 2 (2009): Tahun 2009
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

STUDI DAN DESAIN SISTEM PENDINGIN UNTUK INSTALASI DEKONTAMINASI ELEKTROLITIK BERSKALA LAB. Telah dilakukan penelitian, kalkulasi serta desain beberapa sistem pendingin untuk instalasi dekontaminasi elektrolitik. Sistem pendingin diperlukan karena efisiensi optimal instalasi bisa dicapai pada temperatur tertentu. Dari kalkulasi dan desain instalasi dekontaminasi elektrolitik berskala laboratorium di PTLR BATAN Serpong diperoleh kapasitas pendingin yang diperlukan instalasi adalah 308,45 Watt, debit masa fluida pendingin (R22) pada temperature evaporasi 20C sebesar 7,45 kg/h, dan debit masa air pendingin pada ΔT = 200C sebesar 12,86 kg/h. Dari berbagai konsep sistem pendingin yang ada, sistem refrigerasi absorpsi dan sistem refrigerasi kompresi uap merupakan sistem pendingin yang sesuai untuk instalasi dekontaminasi elektrolitik. Biaya investasi sistem pendingin absorpsi memang 1,5 hingga 2 kali lebih besar disbanding sistem refrigerasi kompresi uap, namun sistem refrigerasi absorpsi untuk instalasi dekontaminasi elektrolitik berskala 227 liter (dapat mengolah limbah 120 m3 per tahun) mampu menghemat sebesar 13,2 kW tiap satu jam operasi. STUDY AND DESIGN OF COOLING SYSTEM FOR ELECTROTILYTIC DECONTAMINATION INSTALLATION ON LAB SCALE. Some cooling concepts for the electrolytic decontamination plant have been investigated and designed. Cooling system is needed, due to the fact that the optimally efficiency will be reached in the certain anolyte temperature. From the calculation and simulation (based on the lab scale electrolytic decontamination plant in PTLR-BATAN Serpong), it obtained that the cooling capacity of evaporator is 308,45 Watt, the mass flow of refrigerant (R22) at the evaporating temperature of 20C is 7,45 kg/h, the mass flow of chilled water at ΔT = 20 K is 12,86 kg/h. The absorption refrigeration and compression refrigeration system are favorable for the electrolytic decontamination plant. The installed cost for absorption system is 1.5 - 2 times higher than compression system, but the absorption system of 227 litre electrolytic decontamination plant (for 120 m3 waste capacity) could save operating cost of 13,2 kW per hour.
PENINGKATAN SISTEM PROTEKSI RADIASI KAWASAN NUKLIR SERPONG Syahrir Syahrir; Lucia Kwin Pudjiastuti; Untara Untara; Sri Widayati
Buletin Limbah Vol 13, No 2 (2009): Tahun 2009
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENINGKATAN SISTEM PROTEKSI RADIASI KAWASAN NUKLIR SERPONG. Review proteksi radiasi di Kawasan Nuklir Serpong oleh Misi Ahli IAEA (International Atomic Energy Agency) pada akhir tahun 2006 digunakan untuk meningkatkan program proteksi radiasi fasilitas nuklir kawasan. Misi Ahli mereview dokumen, mengunjungi fasilitas dengan pengamatan dan diskusi teknis. Review menghasilkan sejumlah temuan dan rekomendasi baik untuk masing-masing fasilitas maupun berlaku untuk kawasan. Review di antaranya merekomendasikan pembentukan komite proteksi radiasi, standarisasi aturan proteksi radiasi antar instalasi di kawasan nuklir Serpong, penerapan nilai batas dosis internasional terkini, penerapan dose constraint, sasaran ALARA (as low as reasonably achievable) dan batas buangan (discharge limits). Sebagai tindak lanjut dilakukan koordinasi dengan bidang keselamatan sekawasan Serpong dan diinventaris operasional proteksi radiasi antar instalasi di kawasan nuklir Serpong. Sementara Komite Proteksi Radiasi tidak dapat dibentuk, kerjasama antar fasilitas tetap diteruskan untuk menindaklanjuti temuan dan rekomendasi yang dianggap penting untuk meningkatkan program proteksi radiasi fasilitas. Dari kerjasama dilaksanakan beberapa tindak lanjut yang disepakati bersama maupun yang hanya dilaksanakan oleh fasilitas terkait. Pada akhir November 2008 Misi Ahli IAEA kedua untuk mengevaluasi tindak lanjut temuan dan pelaksanaan rekomendasi 2006 dilaksanakan. Misi ini memperkuat rekomendasi sebelumnya agar dibentuk suatu Central Authority dalam mengkoordinasikan program proteksi radiasi kawasan. Misi Ahli juga prihatin (concerned) dengan masih adanya paparan berlebih ada pada pekerja dan mendesak usaha nyata penanggulangannya. Selain temuan dan rekomendasi, Misi juga menganjurkan tahapan untuk meningkatkan program proteksi radiasi yang terpadu untuk fasilitas di kawasan nuklir Serpong. Central Authority telah disetujui pimpinan untuk dibentuk dengan usulan nama Komisi Proteksi Radiasi Kawasan Nuklir Serpong dengan tugas membuat standar proteksi radiasi sekaligus mengawasi pelaksanaannya di fasilitas maupun kawasan. IMPROVING RADIATION PROTECTION SYSTEM FOR SERPONG NUCLEAR ESTABLISH¬MENT The Review of radiation protection at Serpong Nuclear Center conducted by Expert Mission of IAEA (International Atomic Energy Agency) in 2006 has been used to improve radiation protection program by nuclear facilities in the area. The mission reviewed some documents, visited facilities with observation and discussion. The Review results findings and recommendations for the facilities and the site. It recommended a radiation protection committee that develop a radiation protection system for all facilities in Serpong site and enforce it. It also recommended to implement recent international dose limitations, dose constraint, discharge levels and ALARA objectives. All the relevant representative facilities discussed the the follow-up of the findings and the recommendations. The committee can not be fulfilled but the representative agreed to take action on the recommendations and findings as they are important to improve facility radiation protection programs. On November 2008 the second expert mission for Review of Radiation Protection by IAEA was conducted. The mission was stressing the need of a Central Authority in radiation protection for Serpong. It also concerned with overdose to some workers and urged real effort to cope with. Some findings to some facilities and recommendations are given on the mission report. The report also suggests a basic schedule in steps to improve a unified radiation protection program for facilities in Serpong Nuclear Establishment. Chairman of BATAN (National Nuclear Energy agency) agreed to form the Central Authority with the proposed name as Radiation Protection Commission for Serpong Nuclear Establishment. The Commission is asssigned to establish a radiation protection standard for Serpong site and control its implementation.
EVALUASI KESELAMATAN KERJA PADA PROSES LOADING BAHAN BAKAR BEKAS RSG-GAS DARI KOLAM KE TRANSFER CASK Lucia Kwin Pudjiastuti; Dyah Sulistyani Rahayu; Arie Budianti Budianti; Muhamad Cecep Cepi H
Buletin Limbah Vol 13, No 2 (2009): Tahun 2009
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EVALUASI KESELAMATAN RADIASI PADA PROSES LOADING BAHAN BAKAR BEKAS DARI KOLAM KE TRANSFER CASK. Telah dilakukan pemantauan terhadap potensi bahaya radiasi dan non radiasi pada personil, serta pengukuran paparan radiasi pada proses loading bahan bakar bekas sebanyak 42 buah sebelum dilakukan repatriasi. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk meyakinkan kepada pekerja bahwa pekerjaan yang sedang ditangani aman dan terkendali. Loading Bahan Bakar Bekas dari kolam dilakukan melalui dua tahapan. Tahap pertama adalah memindahkan bahan bakar bekas dari rak dalam kolam kedalam transfer hood, tahap kedua adalah memindahkan transfer hood ke cask. Hasil pemantauan menunjukkan laju dosis serta kontaminasi permukaan tidak melebihi nilai batas dosis yang diizinkan. RADIATION SAFETY EVALUATION ON SPENT FUEL LOADING FROM POOL TO TRANSFER CASK. Monitoring for radiation and non radiation hazard to workers and the radiation exposure measurement on 42 unit spent fuel loading was done before re- export. These activity is to give the protection for the worker and convince the worker to work peaceful. The loading of spent fuel from pool to do with two step. First step are remove spent fuel from rack from the pool into transfer hood, second step are remove transfer hood to the cask. The radiation monitored showed that dose rate and surface contamination were not less than the permitted dose.
APLIKASI XRF UNTUK IDENTIFIKASI LEMPUNG PADA KEGIATAN PENYIMPANAN LESTARI LIMBAH RADIOAKTIF Teddy Sumantry
Buletin Limbah Vol 13, No 2 (2009): Tahun 2009
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

APLIKASI XRF UNTUK IDENTIFIKASI LEMPUNG PADA KEGIATAN PENYIAPAN PENYIMPANAN LESTARI LIMBAH RADIOAKTIF. X Ray Fluorescence ( XRF) telah lama dikenal sebagai instrumen untuk menganalisis sampel dari lingkungan, sampel biologi atau sampel-sampel dari dunia industri. Jika dibandingkan dengan Atomic Absorption Spectroscopy ( AAS ) atau Inductively Coupled Plasma Spectroscopy ( ICPS ), XRF mempunyai banyak keuntungannya seperti : analisis tidak merusak, multi elemen, cepat dan murah Tujuan makalah ini adalah menginformasikan XRF merupakan salah satu instrumen untuk identifikasi lempung pada kegiatan penyiapan PLLR. Metode yang digunakan adalah sistem spektroskopi sinar pendar ( XRF ) yang menggunakan detektor SiLi. Untuk unsur Fe dan Ti dalam lempung dapat dianalisis dengan menggunakan sumber eksitasi Am-241 sedangkan untuk unsur Si, Ca, Al dan Mg dengan menggunakan sumber eksitasi Fe-55. XRF dapat dipakai untuk identifikasi lempung ( Clay ) baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif pada kegiatan penyiapan penyimpanan lestari limbah radioaktif. APLICATION OF X RAY FLUORESCENCE SPECTROSCOPY FOR CLAY IDENTIFY ON RADIOACTIVE WASTE DISPOSAL PREPARATION. X Ray Fluorescence has long been recognized powerful technique for quantitative and qualitative elemental analysis of environmental, biological or industrial samples. Compared to other competitive techniques, such as Atomic Absorption Spectroscopy ( AAS) or Iductively Coupled Plasma Spectroscopy ( ICPS). X Ray Fluorescence ( XRF) has the advantage of being nondestructive, multi-element, fast and cost effective. Objective of the paper is to inform that XRF one of instrument to support for clay selection on radioactive waste disposal preparation. Metode is used XRF spectroscopy with SiLi detector. For Ti and Fe element of clay is using a radioisotope Am-241 excitation source and for Si, Ca, Al and Mg element of clay is using a radioisotop Fe-55 excitation source. So that XRF can be used for identification of clay selection on radioactive waste disposal preparation in quntitative or qualitative analisysis

Page 1 of 1 | Total Record : 5