cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
buletin-reaktor@batan.go.id
Editorial Address
Pusat Reaktor Serba Guna Badan Tenaga Nuklir Nasional Gedung No. 31 Kawasan PUSPIPTEK, Setu, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15310
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Reaktor : Buletin Pengelolaan Reaktor Nuklir
ISSN : 02162695     EISSN : 26148943     DOI : 10.17146
Buletin Pengelolaan Reaktor Nuklir "REAKTOR" ditebitkan oleh Pusat Serba Guna (PRSG) BATAN, frekuensi terbit enam bulanan. Jurnal ini mempublikasikan naskah-naskah hasil kegiatan riset dan kegiatan teknis pengelolaan perangkat nuklir dan sebagainya.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2010): Oktober 2010" : 6 Documents clear
PENGUJIAN ALAT UKUR DAYA DIJITAL MENGGUNAKAN PIRANTI STANDAR YOKOGAWA CA71 Hari Prijanto
Reaktor : Buletin Pengelolaan Reaktor Nuklir Vol 7, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran (DPFK) RSG-GAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/bprn.2010.7.2.1540

Abstract

PENGUJIAN ALAT UKUR DAYA DIJITAL MENGGUNAKAN PIRANTI STANDAR YOKOGAWA CA71. Alat ukur daya dijital dikembangkan untuk memenuhi prinsip diversity terhadap keandalan suatu sistem/komponen. Alat pengukur analog yang digunakan untuk mengukur daya reaktor ketika reaktor sedang beroperasi tidak mampu menunjukkan perubahan daya secara tepat. Dengan menggunakan alat dijital ini, daya reaktor dalam bentuk analog (0-100%) dapat diubah ke tegangan DC 0-30 Volt sebagai representasi daya reaktor 0-30 MW. Makalah ini membahas pengujian alat ukur dijital sebelum dioperasikan dengan tujuan untuk memeriksa apakah keandalan alat dapat dijamin. Dari kegiatan ini diperoleh beberapa parameter seperti linieritas dalam bentuk Y=2.4X, ketelitian pengukuran 98.46646% dan kesalahan pengukuran sebesar 1.533575% dapat ditentukan. Disimpulkan bahwa alat ukur dijital andal untuk dipergunakan.
INSTALASI DAN UJI FUNGSI KAMERA IP KOLAM REAKTOR RSG-GAS Hery Suherkiman; Sukino Sukino
Reaktor : Buletin Pengelolaan Reaktor Nuklir Vol 7, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran (DPFK) RSG-GAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/bprn.2010.7.2.1541

Abstract

INSTALASI DAN UJI FUNGSI KAMERA IP KOLAM REAKTOR RSG-GAS. Telah dilakukan pemasangan dan uji fungsi peralatan kamera IP diatas kolam reaktor dengan tujuan untuk memantau dan mendukung kegiatan di dalam kolam.tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan unjuk kerja kamera digital. Kelebihan kamera IP dibandingkan dengan kamera analog yang telah terpasang sebelumnya adalah bahwa kamera IP dapat melakukan perekaman dan dapat dikendalikan dari jarak jauh melalui sistem jaringan internet. Sehingga disamping mempunyai ketelitian tinggi, kamera IP dapat meningkatkan keselamatan dan efektifitas kerja.
ANALISIS KUANTITATIF SOURCE-TERM RSG-GAS PADA OPERASI DAYA 15 MW Jaja Sukmana; Jonnie Albert Korua; Sinisius Suwarto
Reaktor : Buletin Pengelolaan Reaktor Nuklir Vol 7, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran (DPFK) RSG-GAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/bprn.2010.7.2.1542

Abstract

ANALISIS KUANTITATIF SOURCE-TERM RSG-GAS PADA OPERASI DAYA 15 MW. Telah dilakukan analisis kuantitatif source-term RSG-GAS yang berbahan bakar U3Si2-Al pada daya 15 WM. Analisis ini perlu dilakukan untuk membuktikan bahwa persyaratan proteksi radiasi yaitu dicapainya ALARA tetap terjaga dan dijamin selama reaktor dioperasikan. Analisis dilakukan dengan mendata komponen penyusun teras reaktor dan menghitung produk fisi, produk aktivasi dan aktinida yang timbul selama reaktor dioperasikan. Dari hasil perhitungan radioaktivitas diperoleh radionuklida hasil fisi Uranium diantaranya adalah Sr-89, Sr-90, Y-91, Nb-97, Xe-133, I-133, Cs-137, Cs-138, Pr-145, dan Ce-144. Parameter yang digunakan untuk perhitungan adalah daya thermal reaktor P, yield yi, lama operasi t, dan waktu paro T1/2. Dari analisis menunjukkan bahwa source-term beraktivitas besar ditimbulkan karena lama operasi dan waktu paro radionuklidanya. Sistem keselamatan nuklir yang berkaitan dengan keselamatan instalasi, proteksi radiasi, dan keselamatan reaktor telah diterapkan pada fasilitas RSG-GAS sehingga tidak pernah terindikasi adanya source-term lepas ke lingkungan.
EVALUASI KINERJA ALAT PENUKAR PANAS RSG-GAS PASCA INSPEKSI Djunaidi -; Aep Saepudin Catur; Syafrul -
Reaktor : Buletin Pengelolaan Reaktor Nuklir Vol 7, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran (DPFK) RSG-GAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/bprn.2010.7.2.1538

Abstract

EVALUASI KINERJA ALAT PENUKAR PANAS RSG-GAS PASCA INSPEKSI. Alat penukar panas merupakan alat utama yang perlu dijaga kinerjanya, agar pengoperasian reaktor dapat dipertahankan keselamatannya. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah melakukan inspeksi ke bagian dalam alat penukar panas untuk mengetahui tingkat pengotor yang mengendap dibagian dalam pipa. Koefisien perpindahan panas global (Ug) merupaka program tasiran unjuk kerja dari alat penukar panas tersebut. Tulisan ini merupakan hasil kegiatan terhadap unjuk kerja alat penukar panas pasca inspeksi tahun 2006. Dengan mengamati suhu keluar dan masuk sistem primer dan sekunder dapat dihitung & diketahui harga terendah Ug selama pengamatan yakni 68,227 k cal/men m2 oK. Harga ini terbukti masih diatas harga keselamatan sebesar 41,092 k cal/ men m2 oK. Dapat disimpulkan bahwa kinerja alat penukar panas BC 02 masih bagus dan melum perlu dilakukan inspeksi ulang.
PEMANTAUAN KANDUNGAN H-3 DAN C-14 TERAS 70 PADA AIR PENDINGIN REAKTOR GA. SIWABESSY Subiharto Subiharto
Reaktor : Buletin Pengelolaan Reaktor Nuklir Vol 7, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran (DPFK) RSG-GAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/bprn.2010.7.2.1543

Abstract

PEMANTAUAN KANDUNGAN H-3 DAN C-14 TERAS 70 PADA AIR PENDINGIN REAKTOR GA. SIWABESSY. Telah dilakukan pemantauan kandungan H-3 dan C-14 teras 70 pada air pendingin reaktor GA.Siwabessy. H-3 dan C-14 adalah unsur yang mempunyai potensi radiasi interna. Karena kedua unsur ini mempunyai waktu paruh yang panjang yaitu 12,26 untuk H-3 dan 5568 untuk C-14, maka jika sampai terhirup akibatnya akan sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Dengan demikian perlu adanya pemantauan pada kedua nuklida tersebut. Pemantauan dilakukan dengan mencuplik air pendingin primer pada teras 70, kemudian dicacah dengan menggunakan pencacah kerlip cair Beckman 3801. Dari hasil pencacahan diketahui bahwa kandungan H-3 untuk KBE01AA66 = (8.46 ± 0,04) E-09 Ci/m3, KBE02AA22 = (1.01 ± 0,006) E-08 Ci/m3 dan kolam reaktor adalah (1.52 ± 0,004) E-08 Ci/m3. Kandungan C-14 untuk KBE01AA66 = (8.00 ± 0,04) E-09 Ci/m3, KBE02AA22 = (5,74 ± 0,04) E-08 Ci/m3 dan kolam reaktor adalah (1.3 ± 0,003) E-08 Ci/m3. Kandungan kedua nuklida tersebut masih berada dibawah batas yang diijinkan yaitu 2,96 E-6 Ci/m3 untuk H-3 dan 6 E-7 Ci/m3 untuk C-14.
REVOLUSI SISTEM SEIFGARD Endang Susilowati
Reaktor : Buletin Pengelolaan Reaktor Nuklir Vol 7, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran (DPFK) RSG-GAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/bprn.2010.7.2.1539

Abstract

REVOLUSI SISTEM SEIFGARD. Sistem seifgard telah mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak dilaksanakan pertama kali pada 1957 sampai saai ini 2010. Tulisan ini menjelaskan dan mendiskusikan tahapan-tahapan pelaksanaan sistem seifgard pada tiga periode yang berbeda. Tahap awal/ pertama yang ketentuannya dituangkan di dalam INFCIRC/ 26 adalah tahapan yang masih sangat lemah. IAEA belum punya wewenang penuh untuk melakukan verifikasi. Dapat dikatakan bahwa negara yang diinspeksi justru mengendalikan pelaksanaan seifgard. Tahap kedua sistem seifgard telah mendapat legitimasi internasional bahkan perjanjian seifgard IAEA INFCIRC/ 153 menjadi alat NPT untuk mencapai sasaran. Kondisi damai tahap kedua ini dihentakkan oleh ketidakpatuhan dua negara yaitu Korea Utara dan Irak atas perjanjian seifgard yang telah disepakatinya. Peristiwa Korea Utara dan Irak menjadi weak-up call para ahli seifgard untuk mencari solusi. INFCIRC/ 540 merupakan perjanjian tambahan yang mengakomodasikan kelemahan yang ada pada INFCIRC/ 153. Integrasi INFCIRC/ 540 ke INFCIRC/ 153 yang hasilnya disebut integrated seifgard memampukan IAEA untuk memperoleh gambaran yang lebih komplit tentang rencana pengembangan, jumlah bahan nuklir yang dimiliki serta sifat dan program nuklir di suatu negara. Dapat disimpulkan bahwa sistem seifgard tidak hanya berevolusi tetapi berevolusi.

Page 1 of 1 | Total Record : 6