cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 1 (2012)" : 12 Documents clear
Dampak Eutrofikasi Terhadap Struktur Komunitas dan Evaluasi Metode Penentuan Kelimpahan Fitoplankton Garno, Yudhi Soetrisno
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.186 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1406

Abstract

Pada umumnya peneliti menentukan status kualitas perairan menggunakan data yang diperoleh dengan plankton-net. Data tersebut tidak menceminkan kepadatan dan struktur komunitas fitoplankton yang sebenarnya. Oleh karena itu data tersebut kurang layak untuk menganalisis status kualitas perairan. Artikel ini menyampaikan hasil kajian kelimpahan fitoplankton di perairan tawar dan laut, yang diperoleh dengan dan tanpa menggunakan plankton-net. Kepadatan yang diperoleh dengan planktonnet menghasilkan nilai yang jauh lebih kecil dari kepadatan yang diperoleh tanpa menggunakan plankton-net. Ini mengisyaratkan bahwa untuk menganalisis status kualitas air, lebih layak menggunakan data yang diperoleh dengan tanpa plankton-net kata kunci: fitoplankton, plankton-net, nutrien, eutrofikasi, struktur komunitas.AbstractIn general, researchers determine the status of water quality using data obtained with a plankton-net. The data do not reflect the density and the actual structure of phytoplankton communities. Therefore, the data is not feasible to analyze the water quality status. This article present the results of the study the abundance of phytoplankton in freshwater and marine, which obtained with and without using a plankton-net. Density obtained with a plankton-net produce values that are much smaller than the density obtained without using a plankton-net. This implies that in order to analyze the status of water quality, is more feasible to use data obtained with the no-net plankton key words: phytoplankton, plankton-net, nutrients, eutrophication, the community structure.
ANALISIS VIABILITAS PROBIOTIK Lactobacillus TERENKAPSULASI DALAM PENYALUT DEKSTRIN DAN JUS MARKISA (Passiflora edulis) Yulinery, Titin; Nurhidayat, N.
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.835 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1411

Abstract

Probiotik cair tidak efisien dalam stabilitas dan kemasan. Bubuk probiotik dapat disimpan lebih lama dan stabilitas dalam kualitas. Bubuk bisa dibuat dengan metode enkapsulasi sedangkan konsentrasi lapisan sangat penting. Rasa dari bubuk seperti jus markisa yang diperlukan untuk mendapatkan rasa bagus di minum. Penelitian ini menggunakan L. plantarum dan Lactobacillus Mar 8 A17 dengan menambahkan gairah jus buah dan dekstrin dengan konsentrasi beberapa seperti 2%, 5%, 10% dan 15%. Kemudian dikemas dengan menggunakan spray dryer pada 125oC. Bubuk dari enkapsulasi disimpan selama 2 minggu pada suhu 4oC, tahapan uji coba telah dilakukan untuk bedak sebelum dan setelah enkapsulasi setelah disimpan selama 2 minggu pada suhu 4oC. Setelah enkapsulasi bahwa berat tertinggi pada pengobatan dengan menggunakan jus buah gairah Lactobacillus A17 dengan dekstrin 15% adalah 5649,6 mg dan diikuti oleh L. plantarum Mar8 adalah 5400 mg. Kelangsungan hidup setelah enkapsulasi untuk setiap konsentrasi dekstrin yang signifikan, kecuali pada konsentrasi 10% tidak signifikan, tapi di gudang untuk penyimpanan dua minggu setelah enkapsulasi kelangsungan hidup Lactobacillus plantarum Mar8 dan A17 Lactobacillus signifikan. yaitu 8,59 log10 cfu / g dan 7,28 log10cfu / g. Penyimpanan setiap sampel adalah variasi, tetapi LactobacillusA17 dengan dekstrin 10% dapat disimpan sampai 72,02 hari dan tingkat mortalitas adalah 0,00141 cfu / g / jam, sedangkan L.plantarum Mar8 bisa menjadi toko hanya sampai 14,63 hari dan tingkat mortalitas adalah 0,00867 cfu / g / jam. Jadi, perawatan ini dengan menambahkan jus markisa dengan dekstrin 10% dapat direkomendasikan sebagai probiotik dalam bentuk bubuk kata kunci: Lactobacillus, enkapsulasi, dekstrin, gairah jus buah AbstractThe liquid probiotic is not efficient in stability and packaging. The powder probiotic could be kept longer and stability in quality. Powder could be made by encapsulation method while the concentration of coating is very important. The flavor of the powder like passion fruit juice was needed to get the nice taste in drinking. This research used L. plantarum Mar 8 and Lactobacillus A17 by adding passion fruit juice and dextrin with several concentration like 2%, 5%, 10% and 15%. Then encapsulated by using spray dryer at 125oC. The powder of encapsulation stored for 2 weeks at 4oC, viability test had been done to the powder before and after encapsulation after stored for 2 weeks at4oC. After encapsulation that the highest weight on the treatment by using passion fruit juice of Lactobacillus A17 with 15% dextrin was 5649.6 mg and followed by L. plantarum Mar8 was 5400 mg. The viability after encapsulation for each dextrin concentration was significant, except at 10% concentration was not significant, but in storage for two weeks storage after encapsulation the viability of Lactobacillus plantarum Mar8 and  Lactobacillus A17 was  ignificant. ie, 8.59 log10 cfu/g and 7.28 log10cfu/g. The storage of each sample were variation, but Lactobacillus A17 with 10% dextrin could be stored until 72.02 days and the mortality rate was 0.00141 cfu/g/hour, while L.plantarum Mar8 could be store only until 14.63 days and the mortality rate was 0,00867 cfu/g/hour. So,this treatment by adding passion fruit juice with 10% dextrin could be recommended as probiotic in powder forms key words : Lactobacillus, encapsulation, dextrin, passion fruit juice
APLIKASI METODE CURVE NUMBER UNTUK MEMPRESENTASIKAN HUBUNGAN CURAH HUJAN DAN ALIRAN PERMUKAAN DI DAS CILIWUNG HULU – JAWA BARAT Tikno, Sunu; Hariyanto, Teguh; Anwar, Nadjadji; Karsidi, Asep; Aldrian, Edvin
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.735 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1402

Abstract

Aliran permukaan/limpasan (run off) merupakan salah satu variabel hidrologi yang sangat penting di dalam menunjang kegiatan pengembangan sumber daya air. Metode prediksi yang handal untuk menghitung jumlah dan laju limpasan yang berasal dari permukaan tanah dan bergerak menuju sungai di suatu DAS yang tidak dilengkapi alat ukur (ungaged watershed) adalah suatu pekerjaan yang sangat sulit dan memerlukanwaktu yang banyak. Penelitian ini dilakukan di DAS Ciliwung Hulu, yang merupakan daerah penting dalam kotribusi banjir di Jakarta. Untuk mengetahaui run off  yang terjadi, digunakan data curah hujan dan debit Tahun 2007-2009. Sebagai model, untuk mengetahui run off menggunakan peta penggunaan lahan, peta jenis tanah, dan topografi. Peta-peta tersebut diolah dengan menggunakan Arcview, sehingga didapatkannilai CN. Berdasarkan analisis perhitungan, besarnya debit mendekati 50% dari tebal hujan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kondisi DAS Ciliwung Hulu sudah tidak mampu lagi menyerap curah hujan dengan baik. Korelasi antara hasil prediksi run off model yang menggunakan CN dengan perhitungan run off observasi cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa metode Curve Number cukup dapat mepresentaskan hubungancurah hujan dengan aliran permukaan (run off). kata kunci : Run off observasi, run off model, curve number AbstractRun off (surface flow) is one of the most important hydrological variable in supporting the activities of water resources development. A reliable prediction method to calculate the amount and rate of runoff from the land surface caused by the rain that falls in a watershed that is not equipped with measuring devices (un gauge watershed) is a verydifficult job and requires a lot of time. The research was conducted in the watershed Ciliwung Hulu, which is an important area in relation to the incidence of flooding in Jakarta. Curve Number (CN) method can be used to predict the amount of runoff from a watershed. This model required input of rainfall; land cover maps; soil type maps,and topography. The maps are processed using Arc View software, so we get the value of CN. In this study, we used of rainfall and discharge data 2007-2009. Based on the analysis of calculation, known that amount of surface flow approaching 50% of rainfall depth. This condition indicates that the Ciliwung Hulu watershed conditions were not ableand proper to absorb of rainfall. The correlation between the results of run-off prediction models using CN with run-off observation was quite good. This indicated that the Curve Number method could be able to represent the relationship of rainfall with surface flow (run off) and also to predict runoff key words: Run off observation, run-off model, curve number
PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT DI RAWASARI, KELURAHAN CEMPAKA PUTIH TIMUR, JAKARTA PUSAT Wahyono, Sri; L. Sahwan, Firman; Suryanto, Feddy
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.798 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1407

Abstract

Pengelolaan sampah berbasis masyarakat (PSBM) adalah sistem penanganan sampah yang direncanakan, disusun, dioperasikan, dikelola dan dimiliki oleh masyarakat. Peran PSBM sangat penting dalam ikut membantu mengurangi permasalahan sampah kota, sehingga konsep tersebut banyak dilakukan di berbagai tempat, termasuk di Rawasari. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan kegiatan PSBM di Rawasari, yang secara khusus bertujuan: (i) monitoring dan evaluasi, (ii) pembinaan dan pendampingan, (iii) sosialisasi dan publikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan PSBM di Rawasari berjalan dengan baik, berkat adanya pembinaan yang baik dan berkesinambungan. Hal ini tergambar dari peningkatan jumlah keluarga yang berpartisipasi dalam kegiatan pengomposan dan daur ulang sampah anorganik. Hasil tersebut juga tidak terlepas dari peran kader lingkungan yang ada serta kerjasama yang baik antar stakeholders, baik yang berasal dari pemerintah setempat, instansi kebersihan, lembaga penelitian, LSM, lembaga asing, dan warga setempat. Adanya kegiatan sosialisasi keberhasilan PSBM di RW 01 dan RW 02 melalui kegiatan pencanangan gerakan PSBM oleh Gubernur DKI Jakarta, ikut mendorong keberhasilan PSBM di Rawasari. Pemerintah DKI Jakarta menyadari bahwa peran serta masyarakat, sangat efektif dalam menekan jumlah timbulan sampah. Untuk itu, kegiatan PSBM telah dijadikan sebagai salah satu program utama pengelolaan sampah. kata kunci: pengelolaan sampah, kader lingkungan, daur ulang, pengomposanAbstractCommunity-based solid waste management (CBSWM) is the solid waste management that are planned, developed, operated, managed and owned by the local community. CBSWM is very important role to reduce the problem of municipal solid waste. This concept is widely applied in various places, including in Rawasari, Central Jakarta. The study was conducted to determine the progress of the CBSWM in Rawasari, which specifically aims to: (i) monitoring and evaluation, (ii) coaching and mentoring, (iii) socializing and publication. The results showed that the activity of CBSWM in Rawasari is going well. This is illustrated by the increasing number of families who participate in composting and recycling of anorganic waste. These good results are affected by the roles of environmental cadres as well as good cooperation between stakeholders, such as local governments, research institutions, NGOs, international agencies, and local residents. The Jakarta administration realizes that the roles of the community are very effective in reducing the amount of waste generation. So that, activities of CBSWM becomes one of the major program in waste management..kay words: Community-based solid waste management,  environmental cadres, recycling, composting
EVALUASI KARAKTERISASI DAN KESESUAIAN LAHAN UNTUK KOMODITAS UNGGULAN PERKEBUNAN : STUDI KASUS KABUPATEN KAMPAR Mubekti, Mubekti
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1851.228 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1403

Abstract

Inventarisasi sumberdaya lahan dalam kaitannya dengan penentuan kesesuaian lahan merupakan hal yang harus dilakukan dalam analisis perencanaan wilayah. Studitentang kemampuan lahan di Kabupaten Kampar, Riau telah dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan untuk pengembangan perkebunan. Informasi umum lingkungan fisik disajikan untuk mengetahui secara sekilas tentang wilayah studi.Metodologi klasifikasi kesesuaian lahan disampaikan dalam tulisan ini, kemudian hasil analisisnya didiskusikan. Berdasarkan bentuk lahan, wilayah studi dibagi menjadi 8 grup fisiografi, yaitu kubah gambut, aluvial, dataran tufa masam, dataran, karst, perbukitan, pegunungan dan aneka bentuk lahan. Bentuk lahan yang paling luas ditempati oleh fisiografi dataran, sementara yang paling sempit luasannya adalah fisiografi karst.Sebagian besar lahan di wilayah studi masuk kelas sesuai untuk komoditas unggulan perkebunan, terutama untuk tanaman kelapa sawit, karet, kelapa dan kakao. Namun demikian, lahan yang sesuai tersebut didominasi oleh kelas sesuai marjinal. Sementara itu kesesuaian lahan untuk komoditas gambir sebagian besar masuk katagori tidak sesuai. Sebagian lahan yang mempunyai kelas lebih rendah dalam kesesuaian lahan aktual dapat ditingkatkan kelasnya dalam kesesuaian lahan potensial asalkan faktorfoktorpembatas lahan dapat diperbaiki. Faktor-faktor pembatas lahan terdiri dari dua jenis, yaitu (1) faktor pembatas permanen yang tidak dapat diperbaiki, misalnya lereng, tekstur tanah, ketinggian (altitude), dan (2) faktor pembatas yang dapat diperbaiki, misalnya kesuburan lahan, unsur racun Al, kemasaman tanah. kata kunci: Satuan lahan, kesesuaian lahan, GIS, Remote Sensing AbstractLand resource inventories to determine land suitabilities have become standard part of planning analysis. A study of land carriying capacity in kampar District, Riau has been done aiming to evaluate the suitability of land for plantation crops. General information regarding to physical environment of study area are presented in order to know an overview of the study area. The Methodology of land suitability classification corresponding to the selected plantation crops are briefly explained, then, the results of the study are discussed. The study area is divided into 8 group of fisiographic land units, namely, peat dome, alluvial, acid tuff plain, plain, karst, hilly, mountain and miscellaneouslandform. The largest one is occupied by plain fisiographic and the smallest one is occupied karst fisiographic. Most of the land is suitable for selected plantation crops, especially for palm oil, rubber, coconut, and cocoa. But, those of suitable land is dominated by marginally suitable category. Whereas for gambier crop shows that most of the land is classified into unsuitable category. A part of the lower class in the actual suitability could be improved to a higher class in the potential suitability depending on limiting factors. There are two types limiting factors to define land suitability, i.e., (1) permanently (un-improvable) limiting factors, such as slope, soil texture, latitude and(2) improvable limiting factors, such as soil fertility, Al toxicity, soil acidity. key word: land unit, land suitability, GIS, Remote Sensing
PENGARUH LAMA ENSILASE TERHADAP KUALITAS FRAKSI SERAT KASAR SILASE LIMBAH PUCUK TEBU (Saccharum officinarum) YANG DIINOKULASI DENGAN BAKTERI ASAM LAKTAT TERSELEKSI Fariani, A.; Akhadiarto, S.
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.55 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1408

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama ensilase terhadap kualitas fraksi serat kasar silase limbah pucuk tebu (Saccharum officinarum) yang diinokulasi dengan bakteri asam laktat yang dipilih. Penelitian ini dilakukan dalam dua Tahap. Tahap pertama adalah pengayakan dan seleksi bakteri asam laktat dari pucuk tebu dan tahap kedua adalah pembuatan silase pucuk tebu dengan bakteri asam laktat hasil penelitian tahap pertama. Penelitian dilakukan di laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan : P1 (lama fermentasi 7 hari), P2 (lama fermentasi 14 hari), P3 (lama fermentasi 21 hari), dan P4 (lama fermentasi 28 hari). Parameter yang diamati adalah NDF, ADF, selulosa, lignin, pHsilase dan populasi bakteri asam laktat. Hasil penelitian menunjukkan, perlakuan yang memberikan pengaruh signifikan pada NDF (P1 66.90%, P2 70.79%, P3 70.83% and P4 69.26%) dan ADF (P1 62.78%, P2 63.41%, P3 63.58% and P4 66.94%, sedangkan untuk selulosa, lignin, dan pH silase adalah non signifikan. Disimpulkan bahwa inokulasi bakteri asam laktat terseleksi dapat meningkatkan kualitas fermentasi silase pucuk tebu dan waktu ensilase dapat dipercepat dari 21 hari menjadi 7 hari. kata kunci : lama ensilase, kualitas fraksi serat kasar, inokulasi, bakteri asam laktat. AbstractThe objective of this research was to know the effect of ensilage time on fiber fraction quality of sugarcane top (Saccharum officinarum) inoculated with selected lactic acid bacteria. This research was conducted in two stage. First stage was lactic acid bacteria isolated from sugarcane top and second sugarcane top ensilage with selected lacticacid bacteria. There were held on Animal feed and Nutritive Laboratory Faculty of Agriculture, Sriwijaya University. This research used Completely Randomized Design with 4 treatments and 4 replications: P1 (7 days ensilage), P2 (14 days ensilage), P3 (21 days ensilage), P4 (28 days ensilage). Observed parameters were NDF, ADF,cellulose, lignin, pH silage and population lactic acid bacteria. The result showed that treatment gave significant effect on NDF (P1 66.90%, P2 70.79%, P3 70.83% and P4 69.26%) and ADF (P1 62.78%, P2 63.41%, P3 63.58% and P4 66.94%, however cellulose, lignin and pH silage were non significant. In conclution, selected lactic acidbacteria could improved silage fermentation quality of sugarcane top and ensilage time were improved from 21 days to 7 days. key Words: Ensilage time, fiber fraction quality, inoculant, lactic acid bactery
KERAGAAN MODEL BUDIDAYA PERIKANAN TERINTEGRASI MULTI TROPIK DI PANTAI UTARA KARAWANG, JAWA BARAT Aliah, Ratu Siti
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.185 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1404

Abstract

Teknologi budidaya perikanan terintegrasi multi tropik IMTA (Integrated Multi Tropic Aquaculture) dengan menggunakan ikan nila, udang, rumput laut dan kerang yang dipelihara dalam satu kolam telah menunjukkan produktivitas yang tinggi dan stabilitas lingkungan yang cukup baik dibandingkan dengan yang monokultur. Demikian halnya denga budidaya yang sejenis walau tidak menggunakan kerang, telah memberikan produktivitas dan kualitas air yang lebih baik. Namun demikian kualits tanah juga berpengaruh besar terhadap keberhasilan budidaya terutama untuk komoditas udang windu yang hidup di dasar. Nilai potensial redox yang negatif dapat menjadi tanda buruknya kualitas tanah untuk budidaya dan perlu di rehabilitasi. Untuk tanah seperti ini nampaknya ikan nila dan rumput laut menjadi alternatif komoditas yang cukup baikuntuk dikembangkan, karena pertumbuhannya tidak terganggu. kata kunci : Keragaan Model Budidaya Perikanan Terintegrasi Multitropik,Pantai Utara Karawang AbstractIntegrated Multi Tropic Aquaculture (IMTA) technology by using tilapia, shrimp, seaweed and shellfish that are cultured in one pond integrately have demonstrated high productivity and environmental stability compared to the monoculture. Similarly, cultivation of similar model with unusing a shell has been providing productivity andbetter water quality. However, soil quality also greatly affect on the success of farming, especially for commodity shrimp that live on the benthic. Negative redox potential value can be a sign as a poor quality of land for cultivation and needs to be rehabilitation. For this kind of soil, cultivation of tilapia and seaweed as alternative commodities is excellent to be developed, because their growth is not disturbed. key words : Performance of the Integrated Multi Tropic Aquaculture (IMTA) Model in the northern coastal area of Karawang, West Java
PREPARASI DEINOCOCCUS RADIODURANS DAN KHAMIR DALAM MATERIAL KECAP L-DRYING SEBAGAI BAHAN UJI PROFISIENSI Yulinery, Titin; M.Dewi, Ratih
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1409

Abstract

Tes kemampuan adalah salah satu kegiatan penting dalam pengendalian mutu dan jaminan kualitas mikrobiologi laboratorium untuk mengukur kompetensi analis dan analisis uji profisiensi membutuhkan persiapan Model mikroorganisme adalah kualitas standar dan validitas. Mikrobiologi uji kualitas produk kedelai utama diarahkan pada kehadiran Saccharomyces cerevisiae ragi (S. cerevisiae), S. Bailli, S. rouxii dankontaminan bakteri seperti Bacillus dan Deinococcus. Jenis ragi dan bakteri yang terlibat dalam proses dan dapat menjadi salah satu parameter kualitas penting dalam persiapan yang dihasilkan. Jumlah dan viabilitas bakteri dan ragi menjadi parameter utama dalam proses persiapan bahan uji. Jumlah tersebut adalah jumlah minimum yang berlaku dapat dianalisis. Jumlah ini harus dibawah 10 CFU diperlukan untuk menunjukkan tingkat hygienitas proses dan tingkat minimal kontaminasi. Viabilitas bakteri dan bahan tes ragi persiapan untuk tes kemahiran kecap yang diawetkan dengan L-pengeringan adalah teknik Deinococcus radiodurans (D. radiodurans) 16 tahun, 58 tahun S. cerevisiae, dan S. roxii 13 tahun. kata kunci: Viabilitas, Deinococcus, khamir, L-pengeringan, Proficiency AbstractProficiency test is one of the important activities in quality control and quality assurance microbiology laboratory for measuring the competence of analysts and analysis Proficiency test requires a model microorganism preparations are standardized quality and validity. Microbiological test of the quality of the main soy products aimed at thepresence of yeast Saccharomyces cerevisiae (S. cerevisiae), S. bailli, S. rouxii and bacterial contaminants such as Bacillus and Deinococcus. Types of yeasts and bacteria involved in the process and can be one of the important quality parameters in the preparation produced. The number and viability of bacteria and yeasts become themain parameters in the process of test preparation materials. The amount in question is the minimum number that is valid can be analyzed. This amount must be below 10 CFU required to indicate the level of hygienitas process and the minimum level of contamination. Viability of bacteria and yeast test preparation materials for proficiencytest of soy sauce that preserved by L-drying technique is Deinococcus radiodurans ( D. radiodurans ) 16 years, 58 years S. cerevisiae, and S. roxii 13 years. key words : Viability, Deinococcus, Khamir, L-drying, Proficiency
MODEL PENGENDALIAN LINGKUNGAN DALAM PEMBANGUNAN KOTA BARU BERKELANJUTAN Hadi, Syamsul; Pramudya, Bambang; Sutjahjo, Surjono Hadi; Hadi, Setia
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.663 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1400

Abstract

AbstrakPembangunan kota baru diharapkan dapat memecahkan masalah seperti pengurangan migrasi ke kota-kota besar, pembangunan ekonomi regional, dll, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan tujuan. Perubahan lingkungan adalah salah satudampak yang tidak dipertimbangkan dengan hati-hati ketika kota baru direncanakan dan dikembangkan. Tujuan penelitian ini untuk merumuskan model pengendalian lingkungan selama pembangunan kota baru, untuk mencapai tujuan keberlanjutan.Studi kasus penelitian dilakukan di kota baru Bumi Serpong Damai (BSD) di Propinsi Banten, Indonesia. Penelitian ini menganalisis kualitas udara dan air dan kemudian membandingkan keduanya dengan kualitas lingkungan standar, analisis keberlanjutan BSD menggunakan skala multidimensional (MDS), dan merumuskan parameter kuncimenggunakan “prospective tools”, model mengembangkan pengendalian lingkungan menggunakan sistem dynamic, dan merumuskan prioritas kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air dan tanah di sekitar daerah BSD terkontaminasi limbah organik seperti BOD dan COD, sedangkan atmosfer mengandung gas toksik seperti: CO, SOx, NOx, ozon (O3) dan TSP. Di dalam analisis keberlanjutan mengungkapkan bahwa kota BSD mempunyai kategori kurang berkelanjutan (46,75), kurang dari 50 poin. Hanya dalam aspek seperti infrastruktur dan teknologi (52,20), ekonomi (53,17) dan hukum dan lembaga (59,95) mendekati kategori berkelanjutan. Sementara dalam aspek ekologi (42,22) dan sosial budaya (26,49) kota BSD dikategorikan tidak berkelanjutan.Terdapat 22 faktor pengaruh dan 5 parameter kunci untuk dapat dipertimbangkan kota BSD di dalam mencapai kota yang keberlanjutan. Disarankan kebijakan untuk pengembangan kota berkelanjutan baru harus ada penyediaan teknologi produksibersih, penyediaan fasilitas sistem pembuangan kotoran, pengembangan jaringan jalan, transportasi umum yang efektif dan efisien, mempertimbangkan budaya lokal, peningkatan lembaga yang sesuai. kata kunci: kota baru, kualitas air dan udara, system pembuangan kotoran, model, strategi, dan kebijakan.kata kunci: kota baru, kualitas air dan udara, system pembuangan kotoran, model, strategi, dan kebijakan.
LAJU PENYERAPAN CO2 PADA KANTONG SEMAR (Nepenthes gymnamphora Nees) DI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK, JAWA BARAT Mansur, Muhammad
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.28 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1405

Abstract

Penelitian laju penyerapan CO2 pada kantong semar (Nepenthes gymnanphora Nees) dilakukan di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Jawa Barat, pada bulan Juni 2011. Sebanyak 15 individu N. gymnamphora dipilih sebagai sampel pengukuran, setiap individu diukur daun muda dan daun tua. Laju penyerapan CO2 dan parameter fisiologi lainnya diukur dengan alat portable LCi ADC Bioscientific Ltd. Photosynthesis system, kandungan khlorofil daun dengan alat Chlorophyll meter tipe SPAD-502 merk Minolta, Intensitas cahaya dengan alat Lux meter, suhu dan kelembaban udara dengan alat hygrometer digital, pH dan kelembaban tanah dengan menggunakan soil tester. Hasil dapat dilaporkan bahwa laju penyerapan CO2 pada N. gymnamphora terendah 2,44 μmol/m2/s dan tertinggi 29,12 μmol/m2/s dengan rata-rata sebesar 11,07 μmol/m2/s pada radiasi cahaya di permukaan daun (Qleaf) rata-rata sebesar1074 μmol/m2/s. Dari hasil pengukuran harian diketahui bahwa laju penyerapan CO2 dari N. gymnamphora optimum terjadi pada jam 10:00 pagi dan terendah pada jam 14:00 siang. kata kunci: Laju penyerapan CO2, Nepenthes gymnamphora, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak AbstractStudy of carbon dioxide (CO2) in the pitcher plant (Nepenthes gymnamphora Nees.) was conducted in the Halimun-Salak Mountain National Park, Resort Cidahu, West Java, on June 2011. Fifteen individuals N. gymnamphora selected as the sample measurements, each individual measured young leaves and old leaves. The rate of CO2 sequestration and other physiological parameters measured with a portable LCi ADC Bioscientific Ltd.,Photosynthesis System, leaf chlorophyll content with a Chlorophyll meter SPAD-502 type (Minolta), the light intensity with Digital Light Meter Der EE DE-3351, air temperature and humidity with a Digital Thermohygrometer AS ONE TH-321, soil pH and moisture with a Soil Tester. Results that, the CO2 sequestration rate of N. gymnamphora thelowest is 2.44 μmol/m2/s and highest is 29.12 μmol/m2/s with average 11.07 μmol/ m2/s at light radiation on the leaf surface (Qleaf) average 1074 μmol/m2/s. The daily of photosynthesis is known that the rate of photosynthesis of N. gymnamphora, optimum occurred at 10:00 am and lowest at 14:00 noon. key words: Photosynthesis rate, Nepenthes gymnamphora, Halimun-Salak Mountain National Park.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue