cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 2 (2012)" : 11 Documents clear
UNJUK KERJA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAHU SECARA BIOLOGI Indriyati, Indriyati; Susanto, Joko Prayitno
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.059 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i2.1415

Abstract

Sebagian besar industri makanan, termasuk industri tahu membuang limbah cairnya yang mengandung bahan organik dengan kadar tinggi (lebih dari 16,483 mg/L) langsung ke badan air. Dengan menggunakan teknologi yang tepat, limbah cair ini dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan produk samping berupa biogas yang mengandunggas methan sebagai substitusi energi pada industri yang bersangkutan. Desa Kalisari merupakan salah satu sentra industri UKM tahu, untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan oleh industri-industri ini diperlukan reaktor biogas “anaerobic digester “ dengan kapasitas 20 m3. Hasil pengolahan limbah cair ini, disamping dapat menurunkan kandungan bahan organik yang terkandung, juga sekaligus dapat menghasilkan biogas yang produksinya sangat tergantung pada laju beban (loading rate) yang dimasukkan ke dalam reaktor. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh laju beban dan produksi  biogas yang optimal sebagai dasar untuk mengetahui unjuk kerja optimal (optimum performance) Fixed Bed reactor untuk mengolah limbah cair tahu dari 25 industri tahu rumah tangga. Kata kunci : anarobic, Fixed Bed. AbstractAlmost of food industries such as tofu industry discharge waste water that high organic content in about 16,483 mg/L and the application method of wase water treatment produce side product such as biogas that contain methane gas, that biogas can used  as energy substitution for the industry itself. According to the experienced in the Kalisarivillage there are a lot of small scale tofu industries , and it was built a 20 m3 bio reactor to treat the waste water. The tofu industry waste water is treated anaerobic by using anaerobic digester. Beside, reducing the organic pollutant, it is also produce biogas depend on the organic loading rate which come to the reactor. In this experiment areto find out the optimum of loading rate and also looking for the optimum gas production. According to organic loading rate can be seen the optimum performance of Fixed Bed reactor.The optimum biogas production is used to run the stoves for 25 households. Key word : anarobic, Fixed Bed.
PURIFIKASI SENYAWA POLIFENOL GLUKOSIDA HASIL REAKSI TRANSGLIKOSILASI ENZIMATIK DARI BIAKAN DAN UJI AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIMIKROBA Handayani, Rini; Rahayu, Rita Dwi; Sulistyo, Joko
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v13i2.1420

Abstract

Polifenol-glukosida disintesis menggunakan CGTase yang berasal dari Nocardia sp. Sintesis polifenol-glukosida dilakukan dengan menggunakan resorsinol sebagai akseptor dan tepung sagu sebagai donor. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis senyawa polifenol-glukosida secara enzimatik menggunakan CGTase dari biakan Nocardia sp,menguji aktivitasnya sebagai senyawa antimikroba dan untuk mengetahui pengaruh senyawa polifenol-glukosida terhadap kerusakan morfologi sel dari biakan Bacillus subtilis. Polifenol–glukosida hasil reaksi transfer dimurnikan menggunakan kolom kromatografi yang berisi matriks oktadesil silica dan menggunakan eluen asam formatdalam methanol (40-90%). Produk yang sudah terpisah ditunjukkan sebagai noda tunggal pada plat kromatografi lapis tipis dengan nilai Rf mendekati nilai Rf standar arbutin. Nilai Rf dari produk transfer tersebut adalah sebesar 0,84 dan nilai Rf standar arbutin adalah sebesar 0.85. Polifenol-glukosida hasil sintesis menunjukkan aktivitasantimikroba terhadap biakan Bacillus subtilis dan Escherichia coli. Kata kunci : polifenol-glukosida, CGT-ase, Nocardia sp., Bacillus subtilis dan Escherichia coli AbstractPolyphenol-glucoside was synthesized by using CGTase derived from Nocardia sp. Synthesis polyphenol-glucoside of was done by using resorcinol as the acceptor and starch sago as the donor. This study aims to synthesized polyphenol-glucoside enzymatically using CGTase derived from Nocardia sp and to assay it’s activity as antimicrobial compound and to determine effect of polyphenol-glucoside on morphological damaging of Bacillus subtilis cells. The synthesized polyphenols-glucoside by transfer reaction was purified through column chromatography containing octadecyl silica matrix that was eluted with formic acid in methanol (40-90%). The separated product was demonstrated by single spot appearance on thin-layer chromatography plate with Rf value that was closed to standard of arbutin Rf. The Rf value of this transfer product was 0.84 while Rf value of arbutin as authentic standard was 0.85. The synthesized polyphenol-glucosie exhibited antimicrobial activity against Bacillus  subtilis and Escherichia coli. Key words : Polyphenol-glucoside, CGT-ase, Nocardia sp., Bacillus subtilis and  Escherichia coli.
ANALISIS KIMIA LIMBAH B3 UNTUK MENENTUKAN EFISIENSI PENGHANCURAN DALAM UJI BAKAR DI INSINERATOR Kardono, Kardono
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.742 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i2.1416

Abstract

Salah satu cara efektif mengurangi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yaitu dengan membakarnya dalam insinerator. Berbagai keuntungan pembakaran limbah dalam insinerator mendorong usaha memanfaatkannya untuk menghacurkan limbah B3 di Indonesia. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Men-LH) no. 18/2009memungkinkan orang mendapat ijin pengolahan limbah B3 melalui insinerator, tetapi berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL No.: Kep-03/1995, mereka harus memenuhi persyaratan efisiensi penghancuran (DRE) sebesar 99,99% atau lebih, dan juga persyaratan lainnya. Pembuktian efisiensi penghancuran dilakukan melalui kegiatanuji bakar (TBT). Sebelum uji bakar dilakukan, analisis kimia limbah harus dilakukan di laboratorium. Senyawa yang paling sulit terbakar dalam uji bakar dapat dipilih berdasarkan nilai bakar senyawa dari hasil analisis tersebut. Dalam penelitian ini analisis kimia dari tiga jenis limbah B3, sarung tangan terkontaminasi, lumpur dari instalasi pengolahan limbah dan limbah infeksius rumah sakit, telah dilakukan. Hidrokarbon organic utama (POHC) yang dianalisis dari ketiga limbah ini adalah 1.1 Dichlorethylene, 1.1.1 Trichloroethylene dan Tetrachloroethylene dengan konsentrasi masing-masing  sebesar 1.411, 0.311, dan 0.166 mg/kg. Hasil perhitungan indek panas pembakarannya masing-masing adalah 38.45, 57.78 and 84.20. Jadi, Tetrachloroethylene merupakan POHC yang paling sulit terbakar sehingga terpilih sebagai wakil semua POHC yang mungkin terkandung dalam limbah B3 tersebut dalam uji bakar. Sampling untuk emisi Tetrachloroethylene menggunakan metode baku US EPA No. 30. Dalam uji bakar disarankan untuk mengukur emisi partikulat, logam-logam berat, asam khlorida (HCl) dan gas-gas emisi lainnya ((O2, CO, CO2, laju alir gas emisi, kadar air gas) dengan metode sampling baku. Data-data ini dapat digunakan untuk melakukan koreksi dan membantu dalam perhitungan hasil sampling. Kata Kunci: Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), Uji Bakar (TBT), Efisiensi Penghancuran (DRE), Indek Panas Pembakaran (I), Senyawa Hidrokarbon Organic Utama (POHC). AbstractOne effective way to reduce industrial hazardous wastes is to burn them in the incinerators. A variety of advantages of the waste incineration has caused businesses on employing incinerator for hazardous waste destruction in Indonesia. Regulation of the State Minister for the Environment No. 18/2009 allows business people to have licensesto treat hazardous waste through incinerator but according to the Decree of the Head of the Environmental  Management Agency (BAPEDAL) No.: Kep-03/1995 they must meet requirement of achieving 99.99% or more destruction removal efficiency (DRE) and other requirements. A demonstration of achieving DRE is done through a trial burn test (TBT). Prior to TBT, the chemical analyses of the wastes need to be done in the laboratory.Themost difficult compund to be burned in the TBT can be selected based on concentrations and heating values of those results. In this research, chemical analyses of three kinds of waste, contaminated gloves, wasterwater treatment sludge, and infectious medical wastes, have been carried out. The principal organic hydrocarbons (POHCs) analyzedare found to be 1.1 Dichlorethylene, 1.1.1 Trichloroethylene and Tetrachloroethylene with the respective average concentrations of 1.411, 0.311, and 0.166 mg/kg. The respective calculated heat of combustion indexs are 38.45, 57.78 and 84.20. Thus, Tetrachloroethylene is a POHC that is most difficult to be burned and therefore it ischosen to be a representation of all POHCs of the wastes for TBT. Sampling method of Tetrachloroethylene emission uses US EPA Method 30 –Volatile Organic Sampling Train (VOST). During TBT it is also suggested to measure particulate, metals, chloride acid (HCl), and other emitted gases (O2, CO, CO2, gaseous emission rate, gas watercontent) with standard sampling methods. These data could be use to standarize and support the calculationn of the sampling results. Key words: Hazardous wastes, Trial Burn Test (TBT), Destruction Removal Efficiency (DRE), Heat of Combustion Index (I), Principal Organic Hydrocarbons (POHCs).
SELEKSI JAMUR TANAH PENDEGRADASI SELULOSA DAN PESTISIDA DELTAMETHRIN DARI BEBERAPA LINGKUNGAN DI KALIMANTAN BARAT Subowo, Yohanes Bernard
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.836 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i2.1421

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai seleksi jamur tanah pengurai selulosa dan deltamethrin dari beberapa lingkungan di Kalimantan Barat. Tujuan penelitian untuk memperoleh isolat jamur yang mampu menguraikan selulosa dan pestisida deltamethrin.  Sampel tanah diambil dari beberapa lingkungan ekstrim di Kalimantan Barat meliputi: tanah gambut, tanah kering, tanah pantai, tanah pertanian dan tanah mangrove. Setelah dilakukan isolasi diperoleh 79 nomor isolat. Sebanyak 72 isolat dapat membentuk clear zone pada media mengandung CMC 1%. Sejumlah 10 isolat membentuk clear zone  berukuran besar. Jamur Aspergillus niger PS 1.4 dapat tumbuh paling baik pada media mengandung CMC 1% dengan menghasilkan bobot biomassa paling tinggi (0,7 g/L media). Jamur ini mempunyai aktivitas enzim selulase sebesar 0, 127 unit/ ml. Jamur Aspergillus niger PS 1.4 juga tumbuh pada beberapa pestisida: 50mg/L (ppm) Clorpirifos, 50 mg/L Cypermethrin dan 50mg/L Deltamethrin. Jamur Aspergillus niger PS1.4 dapat mendegradasi Deltamethrin sebanyak 90,2% dalam waktu 10 hari. Kata kunci: Aspergillus niger, deltamethrin, jamur tanah, penguraian, selulosa AbstractA research on selection of cellulose and deltamethrin degrading soil fungi from some environments in West Kalimantan had been done. The aim was to obtain isolates of fungi that have a high ability on decomposing cellulose and deltamethrin. The soil sample was taken from some environments in West Kalimantan, included: peatland,heath forest soil, sediment of manggrove, and coastal soil. Seventy two isolates were able to hydrolize CMC (Carboxy Methyl Cellulose). Aspergillus niger PS 1.4 was able to grow fastest among strains tested and yielded highest of mycelium. The fungi has cellulase activity was 0,127 unit/ml and able to grow on some pesticides also, included: 50 ppm Chlorpirifos, 50 ppm Cypermethrin and 50 ppm Deltamethrin. Aspergillus niger PS 1.4 was able to degrade deltamethrin as much as 90,2% in 10 days. Key words: Aspergillus niger, cellulose, deltamethrin, degradation, soil fungi
UJI COBA KINERJA BAKTERI KARBONOKLASTIK PADA TANAH TERCEMAR MINYAK BUMI DENGAN TEKNIK LANDFARMING Sopiah, Nida; Arifudin, Arifudin
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.364 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i2.1412

Abstract

Tantangan dalam proses bioremediasi selain senyawa yang didegradasi merupakan senyawa kompleks juga mengandung senyawa rekalsitran yang sulit didegradasi dan bersifat toksik, sehingga menyebabkan laju degradasinya berjalan lambat. Seleksi, bakteri dan optimasi bakteri pada bioremediasi lahan tercemar minyak bumi sangat diperlukan agar bakteri yang bekerja pada proses bioremediasi mampu beradaptasidan mendegradasi.Tujuan dari Penelitian ini adalah mengoptimasi kinerja bakteri karbonoklastik dengan menetapkan media tumbuh bakteri yang mampu menginduksi terbentuknya biosurfaktan; menentukan komposisi campuran (minyak bumi, tanah dan bulking agent ) yang optimal serta uji kinerja bakteri karbonoklastik dengan menggunakan teknik landfarming. Dari hasil uji coba tersebut diperoleh media tumbuh yang digunakan dalam perbanyakan ketiga bakteri karbonoklastik R122-2.3, R122-5 dan R122-BN5 adalah media MM2; sedangkan komposisi campuran yang digunakan dalam teknik landfarming mempunyai rasio 6 : 80 : 14 (minyak : tanah : Kompos) dengan nilai porositas dan water holding capacity sebesar 45% dan nilai bulk density 1.04 gram/mL. Uji kinerja bakteri karbonoklastik R122-BN5 dengan teknik landfarming mampu menurunkan nilaiTPH dari 6,8% menjadi lebih kecil dari 1% (0,82%) selama 32 hari. Kata kunci : bioremediasi, minyak bumi, rekalsitran, bakteri hidrokarbonoklastik, Biosurfaktan AbstractA challenge on applying bioremediation to soils contaminated with crude oil is the recalcitrant and toxic properties of the oil as such preventing it from readily biodegradation. To overcome the problem a selection process and optimization of microbial consortia must be undertaken so that the bacteria could adapt and perform optimally in the bioremediation. The purpose of  this study were optimizing hydrocarbonoclastic bacteria by formulating medium for microbial growth so that able to produce biosurfactant, determining optimal composition of microbial  matrix (crude oil, soil, and bulking agent), and testing the consortia and matrix on a landfarming trial. Results of the experiment demonstrated a medium MM2 capable of facilitating the growth of R122-2.3, R122-5 and R122-BN5 consortia. Furthermore, the optimal composition of matrix for bioremediation was 6 : 80 : 14 (crude oil : soil : compost) that having properties  porosity 45%, water holding capacity 45% and bulk density 1.04 g cm-3. Performance testof hydrocarbonoclastic bacteria of R122-BN5 With this landfarming technique a level of TPH from 6,8% could be reduced to less than 1% for 32 days.  Keywords: bioremediation, crude oil, recalcitrant, bacteria, biosurfactant
METABOLISME PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK MELALUI TEKNOLOGI KOMPOSTING DI WILAYAH INTERNAL PERKOTAAN Wahyono, Sri; Widanarko, Sulistyoweni; S. Moersidik, Setyo; T. Djajadiningrat, Surna
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.782 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i2.1417

Abstract

Kegiatan komposting sampah kota umumnya tidak berjalan sinambung karena kegagalan pasar, lemahnya dukungan pemerintah, lemahnya manajemen dan ketidaklayakan teknik yang digunakan. Penelitian ini bertujuan menyusun  konsep metabolisme pengelolaan sampah organik melalui teknologi komposting di wilayah internal perkotaan. Metodologi penelitian ini dilakukan dengan metode kuntitatif dan eksploratif deskriptif melalui analisis matematis, analisis multikriteria pengambilan keputusan, analisis aliran material, dan analisis finansial. Penelitian menyimpulkan bahwa metabolisme pengelolaan sampah organik melalui teknologi komposting di wilayah internal perkotaan adalah metabolism sistem fisik, sosial, dan ekonomi dari kegiatan pengelolaan sampah organik yang bercirikan metabolisme antropogenik untuk keberlanjutan kota sedang. Kata kunci: Pengelolaan sampah organik, metabolisme, aliran material, komposting, analisis multikriteria. AbstractComposting of municipal solid waste activities generally do not run continuously because of market failure, lack of government support, poor management and inability of the techniques used. This study aims to develop the concept of the metabolism of organic waste management through composting technology in internal urban areas. Theresearch methodology was conducted by the method of quantitative and descriptive explorative through mathematical analysis, multicriteria decision analysis, material flow analysis, and financial analysis. The study concluded that the metabolism of organic waste management through composting technology in internal urban areas is themetabolism system of physical, social, economic and environmental of organic waste management activities characterized by anthropogenic metabolism to the sustainability of medium cities. Key words: Organic waste management, metabolism, material flow, composting, analysis of multicriteria
PERAN INJEKSI AIR SECARA ARTIFISIAL DALAM UPAYA PEMULIHAN AIR TANAH DI KABUPATEN PANDEGLANG Komarawidjaja, Wage; Tjahjono, Hendra; Wibowo, Kusno; Samsuhadi, Samsuhadi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.126 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i2.1422

Abstract

Kajian pemodelan pemulihan air tanah ini bertujuan untuk memperolah gambaran kemungkinan mengurangi kesulitan pasokan air dimusim kemarau dengan menginjeksikan secara artificial air hujan yang berlimpah pada musim penghujan ke dalam akuifer air tanah dangkal di Kecamatan Panimbang, Cigeulis, Munjul danPagelaran, Kabupaten Pandeglang, Hasil pemodelan pemulihan air tanah dangkal di empat Kecamatan tersebut memberikan gambaran bahwa : (a) program pemulihan air tanah dangkal dapat dilakukan dengan memasukkan kembali air hujan melalui sumur, (b) dari segi pemanfaatan air, pengembalian air hujan kedalam tanah dapat menjadikan ketersediaan air tanah menjadi meningkat. Kata kunci : pemulihan air tanah, injeksi air secara artifisial. AbstractRecovery of groundwater modeling study aims to gain an overview possibility of reducing the dry season water supply difficulties by artificially injecting abundant rain water during the rainy season into the shallow groundwater aquifers in the District of Panimbang, Cigeulis, Munjul and Pagelaran of Pandeglang Regency, The results ofmodeling the recovery of shallow ground water in the four district is the idea that: (a) shallow groundwater recovery program can be done by incorporating rainwater back through wells, (b) in terms of water use, return of rainwater into the shallow groundwater aquifers make the water availability be increased.  Key words: ground water recovery, artificial
TOLERANSI LIMA JENIS RUMPUT TERHADAP MINYAK DAN KAPASITAS DEGRADASINYA DALAM SISTEM FITOREMEDIASI Priyanto, Budhi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.452 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i2.1413

Abstract

Sistem fitoremediasi berbasis rumput untuk pengelolaan pencemaran lingkungan di tambang minyak telah diteliti. Lima jenis rumput, yaitu Scirpus grossus, Brachiaria humidicola, Eleusine indica, Paspalum notatum, dan Setaria splendida ditanam pada tanah tercemar minyak lama berkadar 3,1%. Pengaruh cekaman salinitas dievaluasi dengan menambahkan air formasi (850 mg/L TDS) ke dalam tanah. Setelah dua belasminggu, parameter pertumbuhan ditetapkan dan kandungan minyak dalam tanah dianalisis. Hasilnya menunjukkan, bahwa semua jenis rumput dapat tumbuh pada tanah tercemar minyak lama. Di bawah cekaman air formasi, jumlah anakan dan berat kering tunas B. humidicola dan S. splendida jelas tertekan, tetapi panjang akar meningkat. Sebaliknya, berat kering tunas pada S. grossus meningkat di bawah cekaman salinitas. Berat kering akar semua jenis rumput secara nyata berkurang dengan cekaman salinitas. Nisbah berat kering tunas terhadap akar relatif tidak dipengaruhi oleh salinitas. Kegiatan degradasi minyak dipengaruhi oleh cekaman salinitas. Kandungan minyak yang hilang dari tanah berkisar antara 32% hingga 50% pada semua jenis rumput.Kata kunci: pencemaran minyak, fitoremediasi, rumput, air formasi Abstract Experiment to develop a grass based phytoremediation system for environmental management in oil industry has been established in the green house. Five species of grasses, i.e. Scirpus grossus, Brachiaria humidicola, Eleusine indica, Paspalum notatum, dan Setaria splendida, were planted in 6.5 kg oil polluted Semanggi soil (oil content of 3,1%). The effects of salinity were evaluated by adding 800 ml of produced water (850mg/L TDS) to the soil. Growth parameters of the plants and the remaining oil content in the soil were determined in the end of week 12th after planting. The results indicated that all of the grass species are capable of growing well in the polluted soil. However, under the salinity stress, the number of buds on the stolons or rhizomes and the shoot dry weight of B. humidicola and S. splendida are reduced significantly. On the contrary,the root length of the two species is increased; and the shoot dry weight of S. grossus is increased. The root dry weight of all tested species are reduced significantly; however the ratio of shoot dry weight to root dry weight is not influenced by salinity stress. Overall, the oil removal rate from the soil is in the range of 32% to 50%; S. grossus and S. splendida are being the best. The oil degradation activity of the two species is slightly increased under salinity stress condition.Key words: oil polluted soil, phytoremediation, grass, produced water
POTENSI SAMPAH KOTA SEBAGAI BAHAN BAKU KOMPOS UNTUK MENDUKUNG KEBUTUHAN PUPUK ORGANIK DALAM RANGKA MEMPERKUAT KEMANDIRIAN PANGAN L. Sahwan, Firman
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.932 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i2.1418

Abstract

Penurunan kualitas dan produktivitas sumberdaya lahan pertanian terutama disebabkan oleh kandungan C-organik yang rendah dan pemupukan yang tidak diimbangi dengan pupuk organik. Cara mengatasinya adalah mengembalikan bahan organik ke lahan pertanian melalui penggunaan pupuk kompos atau pupuk organik granul (POG) berbahan baku kompos. Pupuk kompos sebaiknya dibuat dari seluruh potensi bahan organik yang ada. Timbulan sampah kota yang besar dengan prosentase bahan organik yang tinggi, memiliki karakteristik yang cocok untuk dijadikan pupuk kompos berkualitas baik, dalam rangka memenuhi kebutuhan pupuk organik. Pupuk komposmemiliki kemampuan untuk memperbaiki dan meningkatkan sifat fisik, biologi dan kimia tanah. Keberhasilan program penggunaan pupuk kompos atau pupuk organic yang lain sangat bergantung kepada dukungan stakeholders terkait, serta kepercayaan petani untuk menggunakan pupuk organik. Dengan ketersedian pupuk organik yang berkualitas, yang diberikan secara berimbang bersama pupuk kimia, maka kualitas dan produksivitas sumberdaya lahan pertanian dapat ditingkatkan sehingga dapat mendukung dan memperkuat kemandirian pangan. Kata Kunci: Sumberdaya lahan pertanian, pupuk organik, sampah kota, kompos, kemandirian pangan. AbstractThe quality and productivity degrade of agricultural land resources mainly due to the low level of C-organic content and the fertilizing that do not use organic fertilizers. The way to solve it is by restoring the organic matter to agricultural land through the use of compost or organic fertilizer granules made from compost. Compost should be made from all organic materials that have potential. The high level of municipal solid waste generation with a high percentage of organic matter, contain the characteristics that are suitable to made a good quality compost, in order to meet the needs of organic fertilizer. Compost has the ability to improve and enhance the physical, biological and chemical soil properties. The successful of compost or other organic fertilizer utilization program is mainly depend on the stakeholders support, as well as the confidence of farmers to use organic fertilizer. With the availability of good quality of organic fertilizer, which is given in a balanced way with chemical fertilizers, the quality and productivity of agricultural land resources can be improved to support and strengthen the food self-sufficiency.Key words: Agricultural land resource, organic fertilizer, municipal solid waste, compost, food self sufficiency.
EFEKTIVITAS JUMLAH RUMPUN TANAMAN ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes (Mart) Solm) DALAM PENGENDALIAN LIMBAH CAIR DOMESTIK Dewi, Yusriani Sapta
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.852 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i2.1414

Abstract

Beberapa tanaman air dapat menyerap senyawa organik, anorganik dan bahan kimia lainnya yang terkandung dalam air limbah domestik. Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms), yang dikenal sebagai gulma air dapat digunakan untuk mengendalikan pencemaran air akibat limbah domestik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas jumlah rumpun eceng gondok (E. crassipes) dalam mengendalikan pencemaran air oleh limbah domestik. Metode penelitian dilakukan dengan eksperimen Rancangan Acak Kelompok Lengkap. Analisis data menggunakan formula efektivitas dan Rancangan Acak Kelompok Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan limbah cair domestik dengan eceng gondok (E. crasssipes) pada hari ke 14 efektif secara nyata menurunkan suhu, pH, BOD, COD, zat teroksidasi dan zat tersuspensilimbah cair domestik. Efektivitas penurunan tertinggi pada perlakuan dengan 3 rumpun tanaman eceng gondok; suhu turun 18,3 %; BOD turun 64,6%, COD turun 18,2 %, zat teroksidasi turun 60,3 % dan zat tersuspensi turun 97,7 % dari nilai kontrol.Kata kunci: air limbah domestik, eceng gondok (E. crassipes), efektivitas, jumlah rumpun tanaman.AbstractSome aquatic plants can absorb organic compounds, anorganic and other chemicals contained in domestic wastewater. Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms), known as water weeds and useless plants that can be used to solve the water pollution control domestic water. The research objective was to determine the effectiveness of the group of eceng gondok (E. crassipes) in the control of domestic wastewater. Methods ofresearch done of experiments designed to study Randomized Complete Group. Analysis of the data used is to use formulas and using the Random Group Design Complete. Theconclusion of this study is that the domestic wastewater treatment with eceng gondok (E. crassipes) on 14 days significantly decreased the effective temperature, pH, BOD,COD, suspended matter is oxidized and the substance of domestic wastewater. The highest decrease in the effectiveness of treatment with thee group of eceng gondok (E.crassipes.); temperature 18,3 %, BOD 64,6 %, COD 18,2 %, oxidized substance 60,3 % and suspended matter 97,7% from the value of the control.Key words : eceng gondok (E. crassipes), domestic  wastewater,the group of plants,the effectiveness.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue