cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol. 17 No. 2 (2016)" : 18 Documents clear
PENGARUH KOMPOSISI PUPUK KANDANG DAN KOMPOS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KANGKUNG (Ipomea reptans) AKUAPONIK Rahmi, Sayekti
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.834 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.111

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan. Keterbatasan lahan pertanian menjadi kendala dalam produksi bahan pangan. Pertanian vertikultur merupakan salah satu solusi peningkatan produksi pertanian. Akuaponik adalah konsep pengembangan bio-integrated farming system, yaitu suatu rangkaian teknologi yang memadukan antara teknik budidaya perikanan dan teknik pertanian. Ember diisi air 60 liter dengan perlakuan pupuk 0 g/1000 l, pupuk kandang 250 g/ 1000 l, pupuk kandang 500 g/ 1000 l, pupuk kompos  250 g/ 1000 l, dan pupuk kompos 500 g/ 1000 l. Aplikasi pupuk organik dalam bentuk pupuk kandang dan kompos mampu meningkatkan pertumbuhan, hasil, dan kualitas dari kangkung akuaponik dibandingkan dengan tanpa aplikasi pupuk organik. Pupuk kandang dengan takaran 500 g/1000 l memberikan hasil dan kualitas kangkung akuaponik yang terbaik.
KAJI TERAP TEKNOLOGI KOMPOSTING UNTUK PENANGANAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG Sahwan, Firman
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.412 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.32

Abstract

Program swasembada daging sapi, telah memacu berkembangnya usaha peternakan sapi potong lokal. Sedangkan usaha penggemukan sapi impor ikut berkembang karena adanya target untuk memenuhi kebutuhan daging sapi perkapita sebanyak 2,2 kg. Hasil ikutannya adalah meningkatnya timbulan limbah  kandang yang merupakan campuran antara alas kandang dengan kotoran sapi. Limbah kandang yang utamanya kotoran sapi, merupakan bahan baku utama pada pembuatan pupuk organik. Namun pembuatan pupuk organik berbahan baku limbah kandang bukanlah tanpa masalah. Untuk itulah penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui karakteristik pupuk organik berbahan baku limbah kandang, mengevaluasi faktor positif dan negatifnya; serta memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas pupuk organiknya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kandungan unsur hara makro utama, kadar Fe, pH dan keberadaan mikroba fungsionalnya memenuhi Permentan 70 tahun 2011. Hal tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik yang dibuat dari pupuk kandang memiliki kualitas yang baik. Pada sisi lain, keberadaan mikroba kontaminan (E. coli dan Salmonella sp), positif pada pukan segar dan negatif pada pukan kering dan pupuk organik. Selain itu, analisa tingkat kematangan menyimpulkan bahwa pupuk organik yang diteliti belum mencirikan pupuk yang sudah stabil atau matang. Kedua hal tersebut merupakan permasalahan yang sering dihadapi pada pembuatan pupuk organik berbahan baku limbah kandang. Pemecahannya adalah memperpanjang waktu proses dekomposisinya sampai diperoleh pupuk yang memenuhi kriteria pupuk organik (kompos) matang, dengan menggunakan teknologi composting. Proses dekomposisinya akan berjalan secara aerobik sehingga menghasilkan suhu tinggi yang dapat membunuh mikroba patogen (kontaminan) dan bibit gulma.
TELAAH PRODUKSI BIODIESEL DARI BIOMASSA MIKROALGA Santos, Arif D
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.615 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.95

Abstract

Pusat Teknologi Lingkungan-BPPT telah melakukan ujicoba budidaya mikroalga dalam fotobioreaktor untuk mengetahui produktivitas sel, efisiensinya terhadap penyerapan gas rumah kaca hingga potensinya sebagai bahan baku biofuel. Pada penelitian ini telah dihitung kesetimbangan energi dari keseluruhan proses budidaya alga untuk kemudian hasilnya dibandingkan dengan nilai kapabiltas penyerapan gas karbon dari proses tersebut. Nilai kesetimbangan energi dihitung dengan menggunakan metode perhitungan Life Cycle Assessment (LCA), sedangkan nilai kapabilitas penyerapan karbon diukur langsung dari ujicoba reaktor. Nilai kapabilitas penyerapan karbon kemudian dibandingkan dengan nilai pengantian biaya dari emisi karbon yang diacu oleh beberapa negara yang telah menerapkan satuan biaya penggantian penyerapan emisi karbon. Hasil perhitungan menyatakan bahwa Penelusuran variable dengan menggunakan aplikasi LCA dapat memberi gambaran dengan rinci tentang inventarisasi input, output  pada proses produksi. Energi terbesar yang digunakan pada proses produksi terjadi pada tahap budidaya yakni pada kegiatan pemanenan sebesar 55,6 MJ dan proses pemecahan dinding sel sebesar 35 MJ. Nilai hasil perhitungan NER pada produksi biodiesel mikroalga adalah 0,62±0,78. Total biaya dan total pendapatan dari proses produksi biodiesel dari mikroalga sebesar Rp. 62.980,- dan Rp. 42.900,-.Kata kunci : alga fotobioreaktor, kesetimbangan energi, NER (net energy ratio), Life Cycle Assessment (LCA), emisi karbon
ANALISIS PEMILIHAN WILAYAH TERKAIT DENGAN TPA REGIONAL DI TPST BANTARGEBANG MENGGUNAKAN METODE TOPSIS Manurung, Douglas
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.937 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.27

Abstract

Pada tahun 2008, Republik Indonesia mengeluarkan Undang-undang No. 18 tentang Penegelolaan Sampah. Tujuan dari undang-undang ini adalah: 1) seluruh Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di Indonesia harus memakai sistem sanitary landfill. 2) pemerintah daerah dapat membentuk kerjasama pengelolaan sampah di hilir dengan membentuk sebuah TPA Regional dengan melibatkan masyarakat dan investor.  Tujuan ini sulit dicapai karena beberapa kendala yaitu terbatasnya anggaran, sulitnya menentukan pemerintah daerah mana yang sebaiknya bekerjasama, dan institusi seperti apa yang sebaiknya bertanggung jawab untuk mengelola TPA regional tersebut. Dengan menggunakan Technique For Order Preference Similarity To Ideal Solution (TOPSIS), penelitian ini menentukan wilayah mana saja dari 8 (delapan) kota dan kabupaten di JABODETABEK yang bekerjasama untuk membentuk TPA regional di TPST Bantargebang. Hasil TOPSIS menyimpulkan bahwa Kota Bekasi adalah alternatif terbaik untuk memakai TPST Bantargebang dengan nilai Ci+ mendekati 1. Hal ini juga berarti bahwa alternatif Kota Bekasi berjarak terpendek terhadap solusi ideal dan berjarak terjauh dengan solusi negatif-ideal. Alternatif terbaik kedua adalah Kabupaten Bekasi, sedangkan alternatif terbaik ketiga adalah Kabupaten Bogor. TPST Bantargebang dapat dikembangkan menjadi sebuah TPA regional dengan perluasan lahan sebesar 25 ha, menaikkan ketinggian landfill menjadi 30 meter, dan ketinggian jarak trap 3 meter, faktor konversi volume 1000 kg sampah sama dengan 3 m3, faktor pemadatan 50 persen dan faktor reduksi alami sampah sebsar 30 persen. Dengan kondisi tersebut TPST Bantargebang masih dapat menerima tambahan sampah sebesar 2.422 ton per hari sampai 15 tahun ke depan.    
SEBARAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TEKSTIL DAN DAMPAKNYA DI BEBERAPA DESA KECAMATAN RANCAEKEK KABUPATEN BANDUNG Komarawidjaja, Wage
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.063 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.1045

Abstract

Di Kecamatan Rancaekek terdapat industri tekstil yang limbah cairnya diduga mempengaruhi kondisi lingkungan desa-desa seperti Jelegong dan Linggar.   Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengkaji dampak pencemaran industri terhadap kondisi lingkungan hidup di sekitarnya. Hasil analisa air dan tanah menunjukkan air sungai dan lahan pertanian sawah di sekitar industri tekstil mengandung bahan organik dan logam berat dengan konsentrasi yang cukup tinggi.  Kandungan bahan organik air Sungai Cikijing yang  tinggi ditunjukkan oleh konsentrasi KMnO4 yang tinggi 859,1 mg/l, sedangkan pencemaran tanah oleh logam berat yang tinggi terjadi akibat proses akumulasi dimana konsentrasi Cr (8,56 mg/l), Pb (9,06 – 16,64 mg/l), As (8,4-13,2 mg/l) dan Zn (2,87-92,69 mg/l), sementara konsentrasi logam berat dalam air Sungai Cikijing hanya berkisar antara  <0,005 – 0,07 mg/l. Berdasarkan Penelitian tersebut, direkomendasikan upaya meminimalisir dampak pencemaran dengan upaya pentaatan terhadap regulasi pengelolaan limbah cair dan menerapkan teknik fitoremediasi lahan.
Penghilangan Senyawa Fenol Oleh Bakteri Yang Diisolasi dari Area Pertambangan Minyak Bumi Prayitno, Joko
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.212 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.1067

Abstract

The aim of this research was to study the effectiveness of local bacterial strains from oil-contaminated soil to degrade phenol. The study consisted of two experiments, using six individual strains and using mix of strains. Bacterial strains used in the first experiment were 1.3, 3.3 dan 8.2.1 (Bacillus sp.), strain 3.2 (Propionibacterium), strain 3.4 (Pseudomonas sp.), and strain 8.1.2 (Enterobacter sp.).Bacterial strains used in the second experiment were mix of all six strains (K6) and mix of three strains (K3) consisted of  strain 3.4, 8.1.2 and 8.2.1 with the same ratio. The experiments were conducted in 100 mL Bushnell and Haas medium containing 300-400 ppm phenol for three days.Three strains (strain 3.4, 8.1.2, dan 8.2.1) had the highest phenol removal efficiency at day 3, i.e. 99-100%. COD values were decreased to 345-393 mg/L or 56-61.3% by those three strains. Mix culture K6 effectively removed phenol form the medium, but COD value decreased to only 56.7%. The fate of COD decrease was not the same as phenol removal by these strains (either in idividual or mix cultures), because phenol was degraded into intermediate compounds. 
UJI LINGKUNGAN ANGIN DISEKITAR MODEL GEDUNG DI TEROWONGAN ANGIN fariduzzaman, fariduzzaman
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.623 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.105

Abstract

Gangguan angin sekitar gedung adalah kasus lingkungan yang penting karena bisa menimbulkan beberapa masalah, antara lain: penurunan tingkat kenyamanan dan produksi polusi udara. Hal ini juga bisa memacu kerusakan pada beberapa bagian struktur sekitarnya. Gangguan ini sudah tentu harus di antisipasi sejak awal konstruksi, yakni selama proses perancangan. Metoda yang paling praktis untuk mencari solusi masalah angin ini adalah dengan simulasi atau pengujian model di terowongan angin. Makalah akan menguraikan beberapa pengalaman penulis dalam simulasi lingkungan angin sekitar bangunan.
PENGARUH SUHU UDARA TERHADAP PERKEMBANGAN PRADEWASA LALAT RUMAH (MUSCA DOMESTICA) Ihsan, Iif Miftahul
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.971 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.1044

Abstract

Lalat rumah merupakan serangga yang banyak dijumpai di sekitar pemukiman manusia dan berperan sebagai penyebar penyakit. Studi ini merupakan hasil pengamatan laboratorium yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara suhu udara dan daya tahan hidup dan periode perkembangan pradewasa lalat rumah. Pengamatan dilakukan pada suhu 16 ºC, 27 ºC, 31 ºC, 39 ºC dan suhu lingkungan (ambient), sebagai suhu kontrol. Hasil pengamatan menunjukan daya tahan hidup pradewasa terendah di ruang terkontrol terjadi pada suhu 16ºC dan tertinggi pada suhu 27 ºC. Pola hubungan antara suhu dengan daya tahan hidup dan laju perkembangan pradewasa per hari membentuk persamaan kuadratik. Hasil analisis data menunjukan suhu optimum daya tahan hidup dan laju perkembangan pradewasa adalah 28 ºC. Pola hubungan pengaruh perubahan suhu terhadap periode perkembangan pradewasa berbeda dengan pola pengaruh suhu terhadap daya tahan hidup. Peningkatan suhu menyebabkan penurunan periode perkembangan pradewasa mengikuti persamaan eksponensial.
Performance of Ceriporiopsis sp. in the Treatment of Black Liquor Wastewater Sari, Ajeng Arum
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.377 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.28

Abstract

High amounts of black liquor wastewater are generated from bioethanol production by using oil palm empty fruit bunches. It contains an alkaline solution (NaOH), so it is quite toxic for aquatic ecosystems if discharged directly into waters. Black liquor has been treated by coagulation method, and it still needs additional treatment. This study aimed to determine degradation of black liquor wastewater by selected white-rot fungi (WRF). Five different strains of WRF have been tested for their ability to decolorize black liquor on agar and liquid media. Out of five fungi studied, two fungi, Ceriporiopsis sp. and Phanerochaete chrysosporium, showed the capacity to grow more than 50% on agar medium. In liquid medium, the percentage of decolorization of 15,000 ppm coagulated and diluted black liquor ranged from 70 to 89% at 30 days depending on the fungal strain. Ceriporiopsis sp. showed the better ability to decolorize black liquor than P. chrysosporium. The performance of Ceriporiopsis sp was evaluated regarding decolorization of black liquor, chemical oxygen demand (COD), and mycelial dry weight both in coagulated black liquor and original black liquor. The color of original and coagulated black liquor can be decolorized up to 90.13 and 86.85%, respectively. COD in original and coagulated black liquor was reduced up to 70.17 and 40.09%, respectively. The presence of coagulant Poly Aluminum Chloride (PAC) inhibited degradation of black liquor by fungus. The result demonstrated that Ceriporiopsis sp has a potential alternative to treat black liquor wastewater. 
ANALISIS PEMILIHAN WILAYAH TERKAIT DENGAN TPA REGIONAL DI TPST BANTARGEBANG MENGGUNAKAN METODE TOPSIS Douglas Manurung
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.27

Abstract

Pada tahun 2008, Republik Indonesia mengeluarkan Undang-undang No. 18 tentang Penegelolaan Sampah. Tujuan dari undang-undang ini adalah: 1) seluruh Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di Indonesia harus memakai sistem sanitary landfill. 2) pemerintah daerah dapat membentuk kerjasama pengelolaan sampah di hilir dengan membentuk sebuah TPA Regional dengan melibatkan masyarakat dan investor.  Tujuan ini sulit dicapai karena beberapa kendala yaitu terbatasnya anggaran, sulitnya menentukan pemerintah daerah mana yang sebaiknya bekerjasama, dan institusi seperti apa yang sebaiknya bertanggung jawab untuk mengelola TPA regional tersebut. Dengan menggunakan Technique For Order Preference Similarity To Ideal Solution (TOPSIS), penelitian ini menentukan wilayah mana saja dari 8 (delapan) kota dan kabupaten di JABODETABEK yang bekerjasama untuk membentuk TPA regional di TPST Bantargebang. Hasil TOPSIS menyimpulkan bahwa Kota Bekasi adalah alternatif terbaik untuk memakai TPST Bantargebang dengan nilai Ci+ mendekati 1. Hal ini juga berarti bahwa alternatif Kota Bekasi berjarak terpendek terhadap solusi ideal dan berjarak terjauh dengan solusi negatif-ideal. Alternatif terbaik kedua adalah Kabupaten Bekasi, sedangkan alternatif terbaik ketiga adalah Kabupaten Bogor. TPST Bantargebang dapat dikembangkan menjadi sebuah TPA regional dengan perluasan lahan sebesar 25 ha, menaikkan ketinggian landfill menjadi 30 meter, dan ketinggian jarak trap 3 meter, faktor konversi volume 1000 kg sampah sama dengan 3 m3, faktor pemadatan 50 persen dan faktor reduksi alami sampah sebsar 30 persen. Dengan kondisi tersebut TPST Bantargebang masih dapat menerima tambahan sampah sebesar 2.422 ton per hari sampai 15 tahun ke depan.    

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue