cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN" : 22 Documents clear
PENGHILANGAN AMONIAK DI DALAM AIR BAKU AIR MINUM DENGAN PROSES BIOFILTER TERCELUP MENGGUNAKAN MEDIA PLASTIK SARANG TAWON Said, Nusa Idaman; Tresnawaty, Rina
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.013 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.194

Abstract

Masalah air baku air minum di kota-kota besar misalnya Jakarta, Surabaya, dan kota besar lainnya semakin hari kualitasnya semakin menurun. Hal inimengakibatkan semakin mahalnya biaya produksi air baku dan pada kondisitertentu dapat menyebabkan PAM tidak dapat menghasilkan air yang baik.Dari hasil pemantauan yang dilakukan oleh PAM pada bulan September 2000 terhadap air baku (intake water) di instalasi PAM Cilandak menunjukkan bahwa konsentrasi amoniak bervariasi hingga mencapai sekitar 2,0 mg/l, dimana nilai konsentrasi tersebut telah melampaui ambang batas peruntukkan air baku air minum yakni sebesar 1 mg/l menurut Kep. Gub. KDKI Jakarta No. 582 th 1995.PAM di Indonsia khususnya PAM di DKI Jakarta menggunakan senyawa khlor (gas khlor atau kalsium hipoklorit) yang selain untuk proses desinfeksi juga digunakan untuk menghilangkan senyawa logam Fe, Mn, serta amoniak. Dengan semakin besarnya konsentrasi senyawa amoniak dalam air baku, maka amoniak akan dapat bereaksi dengan khlor menjadi khloramine yang daya desinfeksinya lebih lemah. Hal ini akan mengakibatkan konsumsi khlor akan menjadi lebih besar sehingga biaya operasi menjadi lebih tinggi.Selain itu dengan semakin besarnya konsentrasi senyawa khlor yang digunakan, maka hasil samping yang dihasilkan seperti terbentuknya senyawa trihalometan dan khlorophenol juga semakin besar. Senyawa-senyawa tersebut dapat mengakibatkan penyakit kanker (carcinogen). Oleh karena itu zat pencemar amoniak harus dihilangkan.Untuk mengurangi kadar amoniak di dalam air baku air minum maka air sungai harus diolah terlebih dahulu melalui suatu pengolahan pendahuluan sebelum masuk ke unit pengolahan. Salah satu alternatif yakni menggunakan proses biologis dengan sistem biofilter tercelup yang diisi dengan media penyangga dari bahan plastik tipe sarang tawon.Penelitian dilakukan dengan mengoperasikan secara kontinyu satu reaktor biofilter tercelup menggunakan media palstik tipe sarang tawon dengan, ukuran 210 cm x 30 cm x 59 cm, volume total 371,7 liter.Efisiensi penurunan amoniak berdasarkan variasi waktu tinggal hidrolis 1-3 jam berkisar antara 48,74 % - 73.59 %. Pada pengolahan dengan pengkondisian waktu tinggal hidrolis 1 jam efisiensi penurunan sebesar 48.74%, untuk waktu tinggal 2 jam menunjukkan efisiensi sebesar 67.98 %, untuk waktu tinggal 3 jam efisiensi sebesar 73,59 %.Dari hasil percobaan di dapatkan persaman hubungan antara beban amoniak dengan efisiensi penghilangan amoniak yang ditunjukkan dengan persamaan :Y= -57,896 X + 79,859 di mana Y adalah efisiensi penghilangan amoniak (%), dan X adalah beban amoniak yang dinyatakan dalam gram amoniak/m2 media per hari, dengan nilai R (regresi) dengan harga R2 = 0,7486. Dari hasil tersebut terlihat bahwa dengan beban amoniak sebesar 0,1–0,7 gr/m2.hari di dapatkan efisiensi penghilangan amoniak antara 40 – 75 %.
DASAR HUKUM PENGELOLAAN LIMBAH B3 Setiyono, Setiyono
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.504 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.199

Abstract

Berbagai jenis limbah industri B3 yang tidak memenuhi baku mutu yang dibuang langsung ke lingkungan merupakan sumber pencemaran dan perusakan lingkungan. Untuk menghindari kerusakan tersebut perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Salah satu komponen penting agar program tersebut dapat berjalan adalah dengan diberlakukannya peraturan perundang-undangan lingkungan hidup sebagai dasar dalam menjaga kualitas lingkungan. Dengan diberlakukannya peraturan tersebut maka hak, kewajiban dan kewenangan dalam pengelolaan limbah oleh setiap orang, badan usaha maupun organisasi kemasyarakatan dijaga dan dilindungi oleh hukum.
PENGARUH PEMAKAIAN BIOFILTER STRUKTUR SARANG TAWON PADA PENGOLAH LIMBAH ORGANIK SISTEM KOMBINASI ANAEROB-AEROB (Studi Kasus : Limbah Tahu Dan Tempe) Herlambang, Arie
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.314 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.195

Abstract

Wastewater treatment of a combined anaerobic-aerobic system is secondarywastewater treatment after physical treatment. Basically this wastewater treatment relies on bacteria in degrading pollutants. The use of honeycomb biofilter is to increase specific surface of media for attaching bacteria. Total volume of reactors is 280 liter, made of glass, equipped with two circulating pump and blower in the aerobic zone. The Biofilter is made of plastic, structurally like honeycomb. Its dimension is 28 cm x 25 cm x 30 cm, very light and easy to clean. It takes 14 days for seeding.The reactors were run in four different resident time, namely 7 days, 5 days, 3 days and 1 day. The raw water used in this experiment is wastewater from tofu and fermented soybean cake industries that have BOD around 300 - 500 mg/l. The water is sampled weekly and the results from 1,872 physical and chemical parameters from 144 water samples show that the reactors that using biofilters have better performance than the reactors using no biofilters. The Efficiency process in decreasing BOD value is around 51 - 91 % for resident time one day up to 7 days. Besides such a good relatively high efficiency, the hydraulic loading is around 0,48 - 3,33 m3/m2/ day and BOD loading is around 0, 20 - 0,43 kg BOD/m3/day.
STUDI PENYISIHAN COD-ORGANIK PADA TAHAP NITRIFIKASI DAN DENITRIFIKASI DALAM SBR MENGGUNAKAN AIR LIMBAH COKLAT Lindu, Muhammad
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.802 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.200

Abstract

Air limbah pabrik pembuatan makanan kecil coklat batangan yang berasal dari proses pencucian alat cetakan diketahui banyak mengandung gula, protein dan lemak atau minyak. Suatu permasalahan yang sering ditemui dalam proses lumpur aktif pada air limbah yang mengandung kadar organik dan senyawa nitrogen tinggi adalah terbentuknya nitrogen dalam bentuk nitrogen terokdidasi seperti nitrat dan nitrit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh waktu aerobik dan anoksik dalam menurunkan kadar COD terlarut dan nitrat.Dari hasil percobaan didapatkan beberapa kesimpulan antara lain yakni makin besar periode aerasi dalam satu siklus waktu bioreaksi aerobik-anoksik sama maka makin besar pula penyisihan nitrat-N, dan makin besar produksi lumpur. COD terlarut akhir bioreaksi juga makin kecil bila periode aerasi lebih panjang walaupun total bioreaksi aerobik-anoksik sama. Waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi anoksik dari kondisi aerobik untuk masa aerasi 2-4 jam kurang dari 30 menit, sedangkan periode aerasi 5-6 jam butuh waktu < 40 menit. Penurunan nitrat- N dibawah baku mutu 10 mg/l, untuk periode arasi 2 – 4 jam juga < 30 menit dan periode aerasi 5 – 6jam butuh waktu < 40 menit.
ANALISA Cu(II) PADA SAMPEL AIR SUNGAI BERDASARKAN PEMBENTUKAN SENYAWA KOMPLEKS Cu-DDTC Susanto, Joko Prayitno
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.417 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.196

Abstract

Dalam penelitian ini, dikembangkan suatu metode analisa Cu dengan menggunakan peralatan pemekatan yang telah dikembangkan sebelumnya(1). Dengan ini dimungkinkan dapat dilakukan analisa Cu dengan konsentrasi yang sangat rendah. Ion Cu pada kadar rendah (trace concentration) dalam sampel cair direaksikan dengan Diethyldithio Carbamate (DDTC) untuk menghasilkan senyawa komplek Cu- DDTC. Larutan yang mengandung senyawa kompleks tersebut selanjutnyadipekatkan kedalam Micro Membrane Filter (MMF) menggunakan alat yang telah dikembangkan(1) dan MMF yang telah mengandung senyawa komplek tersebut kemudian secara langsung dimasukkan ke dalam Graphite Furnace Atomic Absortion Spectrophotometric (GF-AAS) untuk meanalisa konsentrasi Cu secara langsung. Dengan metode ini, sensitivitas (3 x σ larutan blanko) Cu(II) adalah 0,03 ppb dan relative standard deviation (n=6) adalah 2,5 %. Metoda ini telah diterapkan untuk menganalisa kandungan ion Cu dalam sampel air sungai dengan hasil yang sangat memuaskan.
DAUR ULANG SAMPAH ORGANIK DENGAN TEKNOLOGI VERMICOMPOSTING Wahyono, Sri
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.419 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.201

Abstract

Organic material from municipal solid wastes can be recycled by compostingtechnology become organic fertilizer. One kind of composting technologies isvermicomposting that use earthworm as ‘machine” of composting process. Thereare two products from the process: biomass of worm and casting. Vermicomposting consists of three phases of activities such as preparation,processing, and nursing phase. Preparation phase consists of choosing oflocation, system, building, and equipment. Processing phase consists of making of worm media, preparation of worm and planting. Nursing phase consists of feeding, turning, cropping of casting and controlling of the disease. This article talk about those phases and the classification and characterization of earthworm.
POTENSI SUMBERDAYA AIR TANAH DI SURABAYA BERDASARKAN SURVEI GEOLISTRIK TAHANAN JENIS Wibowo, Mardi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.777 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.197

Abstract

Surabaya merupakan salah satau kota terbesar di Indonesia dan sebagai pusat kegiatan (baik kegiatan industri, kependudukan, ekonomi maupun pemerintahan) di Jawa Timur khususnya dan Indonesia bagian timur pada umumnya. Seiring dengan hal tersebut maka Surabaya menghadapi banyak permasalahan khususnya yang berkaitan dengan air tanah. Akibat ketidakseimbangan antara pengisian (recharge) dengan pengambilan (discharge) air tanah akan menurunkan tinggi muka air tanah yang pada gilirannya mengakibatkan intrusi air laut, amblesan tanah dan kekurangan air bersih bagi masyarakat. Geometri, distribusi dan kedalaman akifer harus diketahui untuk dapat memecahkan permasalahn sumberdaya air tanah. Salah satu cara untuk mengetahui karakteristik akifer adalah dengan surve geolistrik tahanan jenis. Metode ini pada dasarnya adalah mengukur tahanan jenis material yang ada di bawah tanah dengan melewatkan arus listrik tertentu kedalam tanah dan kemudian mengukur perbedaan potensial antara dua titik. Berdasarkan survei ini, kondisi bawah tanah Surabaya terdiri dari 4 jenis batuan yaitu lapisan tanah (soil), batulempung,batulempung pasiran, dan batupasir. Akifer di Surabaya terbagi menjadi akifer dangkal/ akifer bebas (< 20 m) yang terdiri dari endapan alluvial dan akifer dalam/akifer tertekan (> 60 m) yang terdiri dari batupasir.Akifer ini tersebar merata di seluruh Surabaya hanya ketebalannya yang berbeda.
ANALISIS POSISI DAN PERAN LEMBAGA SERTA KEBIJAKAN DALAM PROSES PEMBENTUKAN LAHAN KRITIS Didu, Muhammad Said
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.443 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.202

Abstract

Lahan kritis merupakan lahan yang telah mengalami kerusakan sehinggakehilangan atau berkurang fungsi sesuai peruntukannya. Perluasan lahan kritis melibatkan aktivitas dan kebijakan berbagai lembaga yang saling terkait. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi, peran, dan fungsi lembaga serta kebijakan dalam proses pembetukan lahan kritis dengan menggunakan metode Intrepretative Structural Modelling (ISM).Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 28 lembaga dan 14 jenis kebijakan yang erat keitannya dengan proses pemebtukan lahan kritis. Departemen Keuangan, Kementerian PPN/BAPPENAS, Departemen Kehutanan, dan Lembaga Adat merupakan lembaga yang memiliki daya dorong (driver power) dan tingkat keterkaitan tinggi terhadap proses pembentukan lahan kritis. Dari aspek kebijakan, jenis kebijakan yang memiliki driver power tinggi adalah kebijakan lingkungan hidup, peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, penguasaan dan pengusahaan hutan, dan kebijakan keamanan.Proses pembetukan lahan kritis dapat dikendalikan jika perumusan kebijakan memperhatikan seluruh aspek yang memungkinkan lembaga lain dalam penggunaan lahan melakukan eksploitasi secara berlebihan. Untuk menghambat proses terbentuknya lahan kritis, interaksi antar lembaga yang terkait dengan lahan kritis baik untuk perumusan kebijakan maupun implementasi kebijakan sangat diperlukan. Mengingat kompleksitas permasalahan dan tingginya saling keterkaitan (interdependence) antar lembaga, maka proses pembentukan lahan kritis dapat dihambat jika kebijakan seluruh lembaga yang terkait dapat dikoordinasikan dengan baik.
ZEOLIT UNTUK MENGURANGI KESADAHAN AIR Marsidi, Ruliasih
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.865 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.193

Abstract

Dalam penggunaannya, air mempunyai persyaratan tertentu, baik untuk air rumah tangga maupun air industri. Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah angka kesadahan air, yaitu angka yang berhubungan dengan jumlah kandungan calsium dan magnesium. Kedua unsur ini khususnya pada air minum diperlukan, namun hanya sampai dengan batas tertentu, karena kelebihan unsur ini dapat berakibat pada kesehatan. Pada penggunaan air untuk cuci dan mandi kelebihan unsur calsium dan magnesium akan mengurangi efektifitas sabun/detergen, bahkanuntuk air industri kandungan unsur-unsur tersebut sebaiknya nol, karena adanya kedua unsur ini dapat merusak peralatan pemanas pada industri.Untuk membantu masyarakat, terutama pelaku industri kecil dan industri rumah tangga, telah dilakukan penelitian mengenai cara penghilangan kandungan unsur calsium dan magnesium dari dalam air . Dalam tulisan ini diinformasikan beberapa cara penghilangan kesadahan air atau biasa disebut dengan pelunakan air, namun percobaan yang dilakukan hanya terbatas pada cara pelunakan air sadah dengan metoda penukar ion. Bahan penukar ion yang digunakan adalah zeolit alam, karena zeolit alam mudah diperoleh dan harganya relatif murah. Hasil percobaan menunjukkan adanya penurunan kadar kesadahan, namun zeolit alam ini cepat sekali mencapai jenuh, sehingga harus sering dilakukan proses regenerasi.
KELAYAKAN AIR WADUK MUKAKUNING DI P. BATAM UNTUK BAHAN BAKU AIR MINUM Soetrisno, Yudhi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.874 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.198

Abstract

Telah diketahui bahwa tanah pulau Batam relatif sulit untuk meresapkan air,sehingga air hujan yang jatuh sebagian besar mengalir dipermukaan tanah,masuk sungai dan terbuang ke laut. Oleh karena itulah maka untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau (OPDIP) Batam membangun waduk-waduk untuk panampung air hujan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber utama bahan baku air bersih. Untuk mengetahui kualitas air waduk Sei Mukakuning dan kelayakannya sebagai bahan baku airbersih maka penelitian ini dilakukan.Penelitian ini mengungkapkan bahwa air W.S. Mukakuning tidak dapatdimanfaatkan secara langsung karena konsentrasi beberapa parameter; yakni deterjen, kromium, kadmium dan timbal melebihi konsentrasi baku mutu air golongan A pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.20 tahun 1990.Meskipun demikian air tersebut masih layak dijadikan sumber bahan baku airminum karena memenuhi ketentuan baku mutu air golongan B. Penulismenyarankan agar dilakukan pengkajian terhadap penyebab tingginya konsentrasi parameter-parameter tersebut, dan dalam mengolah air tersebut WTP Mukakuning perlu memberikan perhatian khusus pada parameter-parameter tersebut.

Page 1 of 3 | Total Record : 22


Filter by Year

2001 2001


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue