cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol. 20 No. 1 (2019)" : 21 Documents clear
Informasi Sebaran Titik Panas Berbasis WebGIS untuk Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia Hidayat, Taufik; Priyatna, Muhammad; Sutanto, Ahmad; Alkhudri, Aby; Khomarudin, Rokhis
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.551 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.2961

Abstract

ABSTRACTThe Remote Sensing Application Center – LAPAN has resulted in information on hotspot spreading. Availability of information monitoring the distribution of hotspots latest rapid, precise and accurate can improve the remote sensing application to support the management of forest resources and establish a monitoring system that is accountable and can be a reference in the organization of activities of forest fire control and land at the same time participate in managing, maintaining safety as well as the preservation of Indonesia’s natural resources is sustainable. Given the importance of information and communication in disaster crisis management, efforts to facilitate the implementation of dissemination of hotspots distribution information to the wider community should properly be realized. One application is to develop a Web-based dissemination system Geographic Information System with Geonode application. The method used in this research is a prototype with open technology. Geonode can integrate that information to the layers with web mapping systems and the internet. The opensource geoportal system is built, the result of a combination of Django framework and Python programming language that is capable of providing dynamic spatial visualization interactively and connected to other electronic information networks. This Dissemination System can be used for decision makers in preparation of planning, development, monitoring, and response to an emergency disaster of forest and land fires in Indonesia, as well as a reference in the field of innovative technology and application of Geospatial information.Keyword: hotspots, forest fires, emergency response, Geonode, dissemination, web applications  ABSTRAKPusat Pemanfaatan Pengideraan Jauh-LAPAN telah menghasilkan informasi sebaran titik panas. Ketersediaan informasi pemantauan sebaran titik panas terkini yang cepat, tepat dan akurat dapat meningkatkan pemanfaatan penginderaan jauh untuk mendukung pengelolaan sumber daya kehutanan dan membangun sistem pemantauan yang akuntabel dan dapat menjadi acuan dalam penyelenggaraan kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan sekaligus ikut serta dalam pengelolaan, menjaga keselamatan serta kelestarian sumber daya alam Indonesia yang berkelanjutan. Mengingat pentingnya informasi dan komunikasi dalam penanggulangan krisis akibat  bencana, maka upaya memudahkan pelaksanaan penyebarluasan informasi sebaran titik panas masyarakat luas dengan baik perlu diwujudkan. Salah satu pengaplikasiannya adalah dengan mengembangkan sistem diseminasi berbasis Web Sistem Informasi Geografis dengan aplikasi Geonode. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purwarupa dengan teknologi terbuka. Geonode dapat mengintegrasikan informasi tersebut dalam layer-layer sistem pemetaan web dan internet. Geonode merupakan sebuah sistem geoportal opensource gabungan antaran framework Django dan bahasa pemograman Python yang mampu menyajikan visualisasi spasial dinamis secara interaktif dan terhubung ke jaringan informasi elektronik lainnya. Sistem diseminasi ini dapat dipakai untuk pengambilan keputusan dalam persiapan perencanaan, pembangunan, pengawasan, dan respon terhadap keadaan darurat bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, serta sebagai referensi dibidang teknologi inovatif dan penerapan informasi Geopasial.Kata kunci: titik panas, kebakaran hutan, tanggap darurat, Geonode, diseminasi, aplikasi web  
Kajian Level dan Dampak Senyawa Polybrominated Diphenyl Ethers (PBDEs) pada Ikan Kerapu Budidaya dan Kerapu Liar dari Lampung Sudaryanto, Agus
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.076 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.3120

Abstract

ABSTRACT In regard to food security and safety, the need for evaluation of the risks and benefits of fishery products due to environmental contamination by polybrominated diphenyl ethers (PBDEs) has become a matter of concern. In this study, PBDEs were determined in farmed and wild groupers obtained from a mariculture area in Lampung to understand the contamination status and its differences between farmed and wild groupers, and to evaluate the proportion of their congeners as well as risks and benefits of consuming contaminated fish. Fourteens PBDE congeners from mono- to deca BDE were analyzed from samples stored in es-Bank using gas chromatography equipped with mass spectrometry detector (GC-MS). PBDEs were detected in all the samples of the present study, with the levels being significantly higher (p<0.01) in farmed (1.1–6.2 ng/g lipid wt) than in wild groupers (0.20–1.1 ng/g lipid wt). Analysis of fish feeds indicated that the higher level of contaminants in farmed groupers most likely came from the commercial fish feed which they consumed. The study confirms relatively high concentrations of these compounds in farmed than wild fish. However, the levels still bellow to those farmed fish reported worldwide but have similar composition pattern of congeners being BDE-47 as predominant congener. The evaluation of PBDEs concentration in groupers showed that the levels were still bellow than fish tissue guideline. Furthermore, the estimated daily intake of PBDEs was also far bellow the reference dose values (RfDs) and/or Minimum Risk Levels (MRL), indicating minimum risk caused by these pollutants to groupers as well as to Indonesian from consuming fish.  Keywords: contamination, PBDEs, farmed grouper, wild grouper, health risk. ABSTRAK Berkaitan dengan isu ketahanan dan keamanan pangan, evaluasi terhadap resiko dan manfaat dari produk perikanan terhadap pencemaran lingkungan dari polybrominated diphenyl ethers (PBDEs)  telah menjadi perhatian.  Pada penelitian ini, PBDEs dideterminasi pada ikan kerapu budidaya dan kerapu liar dari daerah Lampung untuk mengetahui status kontaminasi dan perbedaan diantara dua kelompok kerapu, mengevaluasi proporsi konjener penyusun serta risiko dan manfaat dari mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi. Empat belas konjener PBDEs dari mono- sampai ke deka BDE dianalisis dari sampel yang tersimpan di es-BANK menggunakan kromatografi gas yang dilengkapi dengan detektor spektrometri massa (GC-MS). PBDEs terdeteksi di semua sampel kerapu, dengan konsentrasi secara signifikan lebih tinggi (p<0,01) pada kerapu budidaya (1,1–6,2 ng / g lipid wt) daripada di kerapu liar (0,20–1,1 ng / g lipid wt). Analisis pakan ikan menunjukkan bahwa tingkat kontaminan yang lebih tinggi di kelompok kerapu budidaya ini kemungkinan berasal dari pakan ikan komersial yang mereka konsumsi. Studi ini menegaskan bahwa ikan budidaya mempunyai konsentrasi PBDEs yang lebih tinggi daripada ikan liar. Namun demikian, kadar konsentrasi PBDEs pada kerapu budidaya ini masih lebih rendah daripada yang dilaporkan pada beberapa ikan budidaya di seluruh dunia, tetapi memiliki pola komposisi konjener yang sama dimana BDE-47 merupakan konjener yang dominan. Evaluasi konsentrasi PBDEs pada kerapu memperlihatkan bahwa kadarnya masih di bawah standar rujukan untuk konsentrasi pada jaringan ikan. Selanjutnya, perkiraan asupan harian PBDEs juga masih jauh di bawah nilai rujukan dosis referensi (RfDs) dan/atau Tingkat Risiko Minimum (MRL), menunjukkan potensi dampak yang rendah pada jaringan ikan itu sendiri maupun kesehatan orang Indonesia karena mengkonsumsi kerapu. Kata kunci: kontaminasi, PBDEs, kerapu budidaya, kerapu liar, resiko kesehatan
Appendix JTL Vol 20, No 1, Januari 2019 JTL Vol 20, No 1, Januari 2019, Appendix
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.189 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.3339

Abstract

Kajian Kualitas Air Tanah dan Sungai pada Kawasan Rawan Banjir di Kabupaten Serang Kaitannya dengan Penyediaan Air Bersih Naryanto, Heru Sri; Prihartanto, Prihartanto; Ganesha, Deliyanti
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1715.683 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.2907

Abstract

ABSTRACTSerang District is one of the flood-prone areas, that about 20 subdistricts were affected by the flood in Serang District. Problems of clean water necessity occurred in the flood area, especially water quality in both of surface water and groundwater. To know the condition of clean water in Serang District, it is necessary to study the quality of water both surface water and groundwater in the flood-prone areas. The study was conducted by water sampling and in-situ water quality measurements at 28 open-pit points used by communities and river bodies in the potential flood in 2012-2015. In-situ physical water quality measurements are performed during sampling of well water and river water using multiparameter quality checker equipment. Water quality parameters that were measured in-situ are total dissolved solids (TDS) and turbidity. Laboratory tests of water samples were performed for suspended solids (TSS), Ammonium (NH3-N), Iron (Fe), Manganese (Mn) and total hardness parameters. The standard method of water quality analysis of these parameters is carried out using Indonesian National Standard SNI 06-6989.3-2004 water and wastewater. Turbidity tends to increase towards the downstream of the river indicating additional sediment material is transported downstream. The high total suspended solids in the river, especially in Kragilan, is caused by the waste from high domestic, commercial, and industrial activities in the area. Generally, groundwater and surface water in the flood areas at the study sites still largely indicate that quality is still feasible for consumption by the community, except for high Fe and Mn content and NH3-N in some wells due to the influence of surface water entering groundwater.Keywords: Serang district, water quality, flood areas, water supply ABSTRAKKabupaten Serang termasuk wilayah yang rawan banjir, dari 29 kecamatan yang ada sekitar 20 kecamatan pernah terkena dampak banjir. Permasalahan kebutuhan air bersih terjadi pada kawasan banjir tersebut, terutama kualitas air baik air permukaan maupun airtanah. Untuk mengetahui secara rinci kondisi air bersih di kabupaten Serang, maka perlu dilakukan kajian kualitas air baik air permukaan maupun airtanah pada kawasan rawan banjir tersebut. Kajian dilakukan dengan pengambilan sampel air dan pengukuran in-situ kualitas air pada 28 titik sumur terbuka yang digunakan oleh masyarakat dan badan air sungai pada wilayah potensial genangan banjir tahun 2012-2015. Pengukuran kualitas air fisik secara in-situ dilakukan pada saat pengambilan sampel air sumur dan air sungai dengan menggunakan peralatan multiparameter quality checker, adalah: zat padat terlarut (total dissolved solids/TDS) dan turbiditas/kekeruhan. Sedangkan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air dilakukan untuk parameter zat padat tersuspensi (total suspended solid/TSS), Amonia bebas NH3-N), Besi (Fe), Mangan (Mn) dan kesadahan total. Metode standard analisis kualitas air terhadap parameter-parameter tersebut dilaksanakan menggunakan Standard Nasional Indonesia SNI 06-6989.3-2004 air dan air limbah. Kekeruhan cenderung meningkat ke arah hilir sungai menunjukkan adanya tambahan material sedimen tertransport pada bagian hilir. Tingginya zat padat tersuspensi pada sungai khususnya di Kragilan akibat dampak limbah dari aktivitas domestik, komersial dan industri yang tinggi di daerah tersebut. Secara umum airtanah dan air permukaan pada daerah banjir di lokasi penelitian sebagian besar masih menunjukkan kualitas yang masih layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat, kecuali kandungan Fe dan Mn yang tinggi serta NH3-N pada beberapa sumur penduduk akibat pengaruh air permukaan termasuk air banjir masuk ke dalam airtanah.Kata kunci: Kabupaten Serang, kualitas air, kawasan banjir, penyediaan air bersih
Batas Ekologi untuk Pembangunan Berkelanjutan Menggunakan Metode UETs di Wilayah Utara Propinsi Mie, Jepang Widiyanto, Anugerah; Widjajawati, Erwina
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.294 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.2866

Abstract

ABSTRAKPerencanaan penggunaan lahan yang berkelanjutan memerlukan analisis mendalam tentang sumber daya alam yang ada (localizer, features, kepekaan terhadap pembangunan) dan pemahaman tentang karakteristik pembangunan (kebutuhan sumber daya dan side effecs) untuk mengidentifikasi penggunaan sumber daya alam pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis. Dalam konteks ini, beberapa metode menggunakan konsep ambang batas (thresholds concept) untuk menetapkan batas kemampuan lingkungan untuk mendukung pengembangan pembangunan yang direncanakan sumber daya alam yang tidak akan merugikan kehidupan generasi masa depan. Salah satu metode ini adalah UETs (Ultimate Environmental Thresholds) yang dikembangkan dan diterapkan dengan tujuan mengidentifikasi ambang batas akhir kemampuan lingkungan untuk pembangunan. Integrasi UETs dan GIS dikembangkan dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi ambang batas lingkungan untuk pengembangan daerah pemukiman di Wilayah Utara Propinsi Mie, Jepang. Hasil dari penelitian ini adalah penilaian ambang batas toleransi hutan terhadap pembangunan pemukiman perkotaan.Kata kunci: pembangunan berkelanjutan, nilai ekologi, ambang batas, UETs dan GIS ABSTRACTSustainable land use planning is essential to determine the most efficient use of existing natural resources that will not prejudice future development. There is a need to analyze relationships between natural resources and development to assess development possibilities which are based ecologically. Some methods use thresholds concept to establish the limits environment ability to support planned development. One of these methods is the Ultimate Environmental Thresholds (UETs) which develop and apply with the aim of identifying the environmental thresholds for development. The integration UETs method and GIS was developed as a means of identifying of this study areas and development level to which various forms of residential areas should be confined on the Northern Region of Mie Prefecture, Japan. The outcome of this study that is the territorial thresholds of forest tolerance to urban development have established. Keywords: sustainable development, ecological value, thresholds, UET and GIS  
Pengolahan Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi Biogas dengan Sistem Anaerobik Tipe Fixed Bed tanpa Proses Netralisasi Winanti, Widiatmini Sih; Prasetiyadi, Prasetiyadi; Wiharja, Wiharja
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.58 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.3248

Abstract

ABSTRACTPalm Oil Mill wastewater or POME is currently not fully utilized. POME waste treatment generally uses covered lagoon technology using the anaerobic system, which generally operates well in neutral waste conditions with a pH of 7 and uses mesophilic processes at temperatures around 35oC. So it is necessary to cool down and neutralize before POME is fed to the reactor, by mixing it with POME which has been degraded inside the reactor, where the pH condition has to turn into a base. It is useful to ensure that the POME temperature before being fed into the reactor is near the ambient temperature and the acidity of POME is near neutral (pH = 7). POME treatment using a covered lagoon reactor usually need 30 days residence time. The Fixed Bed anaerobic reactor is capable to treat waste with a low pH waste, so POME which has a pH of 4 does not need to be neutralized before treating using Fixed Bed Reactor. This will simplify the processing process, reduce investment costs and operating costs. The purpose of this research is to process POME waste using an anaerobic type Fixed Bed reactor without neutralization stage. The method processing using Fixed Bed type reactor is divided into two stages of a process that is bacteria inoculation process and POME waste adaptation process. The results of the research can reduce the HRT to 2o days, with optimal POME feeding at 150 liters/day. The percentage of methane gas measured was 66%. The methane gas yield is 0.52 liters/gram of COD or greater than the results of using the covered lagoon, which is 0.35 liters/ gram COD.Key word: Palm Oil Mill Effluent (POME), anaerobic, Fixed Bed, biogas, neutralizationABSTRAKLimbah cair industri minyak kelapa sawit atau POME saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Pengolahan limbah POME umumnya menggunakan teknologi covered lagoon dengan sistem anaerobik, dimana umumnya teknologi ini beroperasi baik pada kondisi limbah yang netral dengan pH 7 dan menggunakan proses mesopilik pada suhu sekitar 35oC.  Sehingga diperlukan tahap pendinginan dan tahap netralisasi terlebih dahulu sebelum POME diumpankan ke reaktor, yaitu dengan mencampurkannya dengan POME yang sudah terdegradasi di dalam reaktor, karena sifatnya  sudah berubah menjadi basa. Hal ini berguna untuk memastikan bahwa suhu POME sebelum masuk reaktor sudah mendekati suhu lingkungan dan tingkat keasaman POME sudah mendekati netral (pH =7). Pengolahan POME menggunakan covered lagoon umumnya memerlukan waktu tinggal di dalam reaktor(HRT) sekitar 30 hari. Reaktor anaerobik tipe Fixed Bed mampu mengolah limbah dengan pH rendah, sehingga POME yang mempunyai pH 4, tidak perlu dinetralkan terlebih dahulu. Hal ini akan menyederhanakan proses pengolahan, menurunkan biaya investasi dan biaya operasi. Tujuan penelitian ini adalah mengolah limbah POME dengan menggunakan reaktor anaerobik tipe Fixed Bed tanpa tahap proses netralisasi. Metode pengolahan anaerobik dengan menggunakan reaktor tipe Fixed Bed, terbagi menjadi dua tahapan proses yaitu proses inokulasi bakteri dan proses adaptasi limbah POME. Hasil penelitian dapat menurunkan HRT menjadi 20 hari, dengan pengumpanan POME optimal pada 150 liter/hari. Persentase gas metana adalah 66%. Hasil produksi gas metana adalah 0,52 liter/gram COD atau lebih besar dari hasil proses menggunakan covered lagoon, yaitu 0,35 liter/ gram COD.Kata Kunci: Palm Oil Mill Effluent (POME), anaerobik, Fixed Bed, biogas, netralisasi
Isolasi Bakteri Indigineous dari Limbah Cair Tahu dalam Mendegradasi Protein dan Melarutkan Fosfat Asril, Muhammad; Oktaviani, Indah; Leksikowati, Santi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.754 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.3132

Abstract

ABSTRACTThe tofu industry in Indonesia is growing rapidly along with the consumption needs. This amount affects the production of the tofu wastewater that will be discharged into the environment. The waste contains high levels of BOD, COD, and high protein organic substances. The discharged of the tofu wastewater without going through a good process of separation and treatment caused odor and pollution in the water and the soil environment. This study aims to examine the amount of production, a chemical characteristic, and bacterial potential (the genus of Pseudomonas and Aeromonas, proteolytic bacterial isolates, and potential phosphate solvent bacteria) which can be used as a reference for bioconversion of higher tofu wastewater. The method used in this study was water sampling, chemical characteristic testing (BOD, COD, total protein, and pH), the bacterial isolation of Pseudomonas and Aeromonas using GSP media, isolation of proteolytic bacteria using nutrient agar + Skim milk media and testing the solubilizing phosphate ability in pikovskaya media. The results showed the production of the tofu liquid waste reached 4000 liters/day with BOD, COD, total protein and pH content is 3210 mg/ L, 7102 mg/L, 20.74% and 5, respectively. The amount of indigenous bacteria in wastewater from Pseudomonas were 72 x 102 cfu/ml), Aeromonas were 18 x 102 cfu/ml), and total proteolytic bacteria were 23.7 x 105 cfu/ml). Proteolytic bacteria obtained in this research were 28 isolates with diverse proteolytic abilities. In addition, 17 of the 28 proteolytic bacteria isolates have the ability to soluble phosphate on pikovskaya medium. These results show that the production of the tofu liquid waste is quite high. Therefore, the chemical character and the presence of bacteria in it have the potential to be developed and can be used as a reference for bioconversion of waste before being discharged into the environment.Keywords: Aeromonas, proteolytic bacteria, tofu wastewater, phosphate solubilizing bacteria, Pseudomonas ABSTRAKIndustri tahu di Indonesia berkembang sangat pesat seiring dengan kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Jumlah ini berpengaruh terhadap produksi limbah cair tahu yang akan dibuang ke lingkungan. Limbah tersebut memiliki kandungan BOD, COD dan bahan organik berupa protein yang cukup tinggi. Limbah cair tahu jika dibuang lingkungan tanpa melalui proses pemisahan dan perlakuan yang baik dapat menimbulkan bau dan pencemaran di lingkungan air dan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jumlah produksi, karakteristik kimia dan potensi biologi (bakteri genus Pseudomonas dan Aeromonas, isolat bakteri proteolitik dan bakteri pelarut fosfat potensial) yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan biokonversi limbah cair tahu yang semakin tinggi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pengambilan sampel, pengujian karakteristik kimia (BOD, COD, total protein dan pH), isolasi bakteri genus Pseudomonas dan Aeromonas pada media GSP, isolasi bakteri proteolitik di media Nutrien agar + Skim milk dan pengujian kemampuan melarutkan fosfat pada media pikovskaya. Hasil menunjukkan bahwa limbah cair yang diproduksi setiap harinya mencapai 4000 liter/hari dengan kandungan BOD, COD, total protein dan pH berturut-turut sebesar 3210 mg/L, 7102 mg/L, 20.74 % dan 5. Jumlah bakteri indigeous dalam limbah cair tahu dari genus Pseudomonas adalah 72 x 102 cfu/ml, genus Aeromonas adalah 18 x 102 cfu/ml dan total bakteri proteolitik adalah 23.7 x 105 cfu/ml. Bakteri proteolitik yang diperoleh berjumlah 28 isolat dengan kemampuan proteolitik yang cukup beragam. Selain itu, 17 dari 28 isolat bakteri proteolitik tersebut memiliki kemampuan melarutkan fosfat pada media pikovskaya. Hasil ini menunjukkan bahwa produksi limbah cair tahu yang cukup tinggi, karakteristik kimia serta keberadaan bakteri didalamnya memiliki potensi untuk dikembangkan dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk biokonversi limbah sebelum dibuang ke lingkungan.Kata kunci: Aeromonas, bakteri proteolitik, limbah cair tahu, bakteri pelarut fosfat, Pseudomonas
Back Cover JTL Vol 20, No 1, Januari 2019 JTL Vol 20, No 1, Januari 2019, Back Cover
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.227 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.3340

Abstract

Pengamatan Efek Pratritmen Tandan Kosong Sawit sebelum Proses Konversi Biogas dengan Analisis Mikroskopi Parlina, Iin
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1110.366 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.3184

Abstract

ABSTRACTConversion of lignocellulosic biomass such as Oil Palm-Empty Fruit Bunch (OP-EFB) into bioenergy is a promising solution to mitigate the impact of climate change and avoid an energy crisis that have been globally anticipated. The abundance amount of OP-EFB as a biomass waste from oil palm processing in Indonesia has opened more chance to produce bio-energy and other valuable products without having competition with the food sector. It has a high content of cellulose and hemicellulose that can be processed generating bio-energy such as biogas or bioethanol. However, to be processed into bio-energy, and other products, EFB should be pretreated first to break the recalcitrant characteristic and increase the yield and conversion rate. Alkaline pretreatment is widely known for its effectivity on lignin removal to open more access of the lignocellulose, especially for the Anaerobic Digestion (AD) process. There are several ways to evaluate Pratritmen performance before the AD process, for example by chemical analysis as well as visual observation using a microscope. Visual observation emphasizes the change in microstructure or morphology of the pretreatment process so that it can be a method for physically explaining what is happening at the microscopic level. This research’s objective is to perform microscopy observation on the OP-EFB component’s changes during the low concentrated alkaline pretreatment using NaOH 6% and mixture of NH4OH and (NH4)2CO3 10% as long as 24 hours. The result from using CLSM shows the process of delignification, while SEM shows 3 major visual changes i.e. silica bodies removal, surface degradation and the enhanced bacteria’s affinity to the OP-EFB’s surface.Keywords: Microscopy analysis, Oil palm empty fruit bunch, alkaline pretreatment, Anaerobic Digestion, visual changes  ABSTRAKKonversi biomasa lignoselulosa seperti Tandan Kosong Sawit (TKS) menjadi bioenergi adalah solusi yang menjanjikan untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menghindari krisis energi yang telah diantisipasi secara global. Jumlah kelimpahan TKS sebagai residu dari proses produksi minyak kelapa sawit telah membuka banyak peluang untuk menghasilkan bioenergi dan produk nilai lainnya tanpa bersaing dengan sektor pangan. TKS memiliki kandungan selulosa dan hemiselulosa tinggi yang dapat diproses menghasilkan bioenergi seperti biogas atau bioetanol. Namun, untuk diproses menjadi bio-energi, dan produk lainnya, substrat ini harus dipratritmen terlebih dahulu untuk mengatasi karakteristik rekalsitransi yang menjadi penghambat utama dalam proses biokonversi. Pratritmen dengan menggunakan reagent basa (alkalin) secara luas dikenal karena efektifitasnya pada penghilangan lignin untuk membuka lebih banyak akses lignoselulosa, terutama untuk proses produksi biogas (AD). Terdapat beberapa cara untuk mengevaluasi kinerja Pratritmen sebelum proses AD, misalnya dengan analisis kimia juga pengamatan visual dengan menggunakan mikroskop. Observasi visual menekankan adanya perubahan mikrostruktur atau morfologi dari proses pratritmen sehingga bisa menjadi metode untuk menjelaskan secara fisik apa yang terjadi dalam tataran mikroskopis. Tujuan dari penelitian adalah melakukan analisis mikroskopi dengan menggunakan confocal dan SEM pada TKS sebelum dan setelah dilakukan pratritmen dengan alkalin NaOH 6% dan campuran NH4OH dengan (NH4)2CO310% selama 24 jam juga TKS hasil pratritmen yang digunakan untuk proses produksi biogas. Hasil dari Confocal memperlihatkan adanya perubahan dari TKS sebelum dan setelah pretreatmen yaitu terjadinya proses delignifikasi, sementara hasil SEM memperlihatkan 3 perubahan visual utama yang dapat dianalisis yaitu penghilangan silika, degradasi permukaan dan peningkatan afinitas bakteri pada permukaan TKS yang dilakukan pratritmen.Kata kunci : analisis mikroskopi, tandan kosong kelapa sawit, pratritmen alkalin, Anaerobic Digestion, perubahan visual
Kondisi Kualitas Air Sungai Surabaya Studi Kasus: Peningkatan Kualitas Air Baku PDAM Surabaya Yudo, Satmoko; Said, Nusa Idaman
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1090.277 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.2547

Abstract

ABSTRACTThe disposal of domestic and industrial waste to Surabaya river continues to increase, resulting in worse physical condition and severe pollution. The existence of Surabaya river is very important for the sustainability of the economy and the survival of society, industry, and commerce around the riverbank. In addition, Surabaya River becomes the raw water source of PDAM Surabaya and more than 3 million consumers of Surabaya PDAM depend on the water quality condition of Surabaya River. The purpose of this activity is to know the current condition of Surabaya River’s water quality and to determine the technology that can improve the water quality of PDAM. The conclusion that can be drawn from the water quality condition of Surabaya River is the high concentration of organic matter pollutants. Moreover, it is increasing in the dry season. With the increasingly poor quality of raw water coming from Surabaya river, consequently, the cost of processing will become more expensive. Therefore, conventional processing is not able to eliminate the pollutant compounds. One alternative technology to improve the quality of raw water is to apply a pretreatment process with the process biological by using biofilter technology. Keywords: water quality in Surabaya River, Surabaya Municipal Waterworks (PDAM), Biofilter technology ABSTRAKPembuangan limbah domestik dan industri di sepanjang Kali Surabaya terus meningkat, mengakibatkan kondisi fisik sungai semakin memburuk dan mengalami pencemaran semakin berat. Keberadaan kali Surabaya sangat penting bagi keberlangsungan perekonomian dan kelangsungan hidup bagi masyarakat, industri, dan niaga di sekitar bantaran kali. Selain itu Kali Surabaya menjadi sumber air baku PDAM Surabaya dan lebih dari tiga juta konsumen PDAM Surabaya bergantung pada kondisi kualitas air Kali Surabaya. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui kondisi kualitas air Kali Surabaya dan menentukan teknologi yang dapat meningkatkan kualitas air baku PDAM. Kesimpulan yang dapat diambil dari kondisi kualitas air Kali Surabaya adalah tingginya konsentrasi polutan zat organik yang semakin meningkat pada musim kemarau. Dengan semakin buruknya kualitas air baku yang berasal dari Kali Surabaya, akibatnya biaya pengolahan akan menjadi semakin mahal dan pengolahan secara konvesional tidak mampu menghilangkan senyawa polutan tersebut Salah satu teknologi alternatif untuk meningkatkan kualitas air baku PDAM adalah dengan menerapkan proses pengolahan awal (pretreatment) dengan proses biologis menggunakan teknologi biofilter. Kata kunci: kualitas air Kali Surabaya, PDAM Surabaya, Teknologi Biofilter 

Page 1 of 3 | Total Record : 21


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue