cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 20 No. 2 (2019)" : 20 Documents clear
Efektifitas Kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri Gula di Kabupaten Kediri dan Kabupaten Sidoarjo Rhofita, Erry Ika; Russo, Aldentio Emir
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3469

Abstract

ABSTRACTWastewater from sugar industries has complex characteristics and depends on the production capacity. The main aim of this study is to determine the effectiveness of the waste water treatment processes (WWTP) of two sugar factories PG. Kediri and PG. Sidoarjo in reducing pH, BOD, COD, and TSS during year 2016 and 2017. Wastewater influents in both factories exceeded the water quality standards of Ministry of Environment Regulation Number 5 Year 2014. After treatments, water quality parameters of the effluents including pH, BOD, COD and TSS were significantly decreased. The effectiveness of the PG Kediri WWTP in reducing BOD, COD and TSS was 98.52%; 98.47% and 91.51% respectively. The effectiveness of PG Sidoarjo WWTP in reducing BOD, COD and TSS was 5-20% lower than that of PG. Kediri. Keywords: effectiveness performance, WWTP, sugar industry, wastewater  ABSTRAKLimbah cair yang dihasilkan oleh industri gula memiliki karakteristik yang kompleks dan bergantung pada kapasitas produksi. Pengolahan limbah cair dilakukan secara fisika dan biologi untuk mengurangi konsentrasi bahan pencemar yang menjadi permasalahan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas kinerja IPAL di PG. Kediri dan PG. Sidoarjo dalam menurunkan konsentrasi pH, BOD, COD dan TSS selama tahun 2016 dan 2017. Sebelum pengolahan air limbah memiliki konsentrasi tinggi melebihi ambang batas baku mutu air limbah yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI No. 5 Tahun 2014. Setelah dilakukan pengolahan terjadi penurunan konsentrasi pH, BOD, COD, dan TSS secara signifikan yang diukur di bagian outlet IPAL. Besarnya efektifitas kinerja IPAL di PG Kediri dalam menurunkan konsentrasi BOD, COD, dan TSS sebesar 98,52%; 98,47%; dan 91,51%. Berbeda dengan nilai efektifitas kinerja IPAL di PG Sidoarjo yang lebih rendah 5 sampai 20% dari efektifitas PG. Kediri.Kata kunci: efektifitas kinerja, industri gula, IPAL, limbah cair
Inside Cover JTL Vol 20, No 2, Juli 2019 JTL Vol 20, No 2, Juli 2019, Inside Cover
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.692 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3670

Abstract

Distribusi Spasial, Sumber Pencemaran, dan Kajian Risiko Ekologi Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) dalam Sedimen Pesisir di Pulau Bintan, Indonesia Yogaswara, Deny; Wulandari, Ita; Khozanah, Khozanah; Edward, Edward; Falahudin, Dede
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.774 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3547

Abstract

ABSTRACTBintan Island is the small island in the Riau Archipelago which borders Singapore and Malaysia. Its water is crossed by international shipping lines. Therefore, water quality in this area is potentially polluted by marine activities. The present study aimed to evaluate the concentration, spatial distribution, and assessment of ecological risks of polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) in surface sediments from selected coastal water of Bintan. Surface sediments in this study were extracted by using the ultrasonic system and determined with GCMS. The data were visualized with ArGIS software for spatial distribution mapping, applied ratio diagnostic methods for the source of PAH contamination, and assess their ecological risk based on sediment quality guidelines. The results showed PAHs concentrations ranged from below the method detection limit (<DL) to 13.492 ng.g−1(dry weight) with the highest concentration of PAHs were detected at TJU 1 station as much as 13.492 ng.g-1. As many as seven types of PAHs were identified in Bintan water, they were Naphthalene (two rings), Fluorene and Anthracene (three rings); fluoranthene, Pyrene, Benzo (a) Pyrene and Chrysene (five rings). Based on diagnostic ratios, the sources of PAHs in this coastal area were mainly from pyrogenic origins. Ecological risk assessment has shown that the average value of ∑10 PAH in Bintan waters (5.855 ng.g-1) is lower than the corresponding ERL, ERM, TEL, and PEL value indicating that the adverse biological effects of PAHs are generally low.Keywords: Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), Distribution, Pollution, Bintan WatersABSTRAKPulau Bintan merupakan pulau kecil di Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan negara Singapura dan Malaysia serta perairannya dilintasi oleh jalur pelayaran internasional sehingga potensi pencemaran dari aktivitas di laut sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur konsentrasi, distribusi spasial, sumber asal pencemaran dan analisis resiko lingkungan senyawa PAH dalam sedimen permukaan di perairan pesisir Pulau Bintan. Sedimen permukaan diekstraksi dengan sistem ultrasonik dan dianalisa akhir dengan GCMS. Data senyawa PAH diolah dengan software ArGIS untuk membuat peta distribusi spasial, dianalisa dengan metode diagnosa rasio untuk mengetahui sumber pencemarnya dan dibandingkan dengan nilai baku mutu sedimen untuk mengkaji resiko ekologinya. Hasil analisis di setiap stasiun sampling di Muara Pengudang dan Tanjung Uban menunjukkan konsentrasi Total PAH (TPAH) berkisar antara < limit deteksi alat (1 ngg-1) sampai 13,492 ng.g-1 berat kering dengan konsentrasi tertinggi terdeteksi di stasiun TJU 1 yaitu sebesar 13,492 ng.g-1.  Sebanyak tujuh jenis senyawa PAH teridentifikasi di perairan Bintan ini diantaranya Naphthalene, (dua cincin benzene), Fluorene dan Anthracene (tiga cincin benzene); Fluoranthene, Pyrene, Benzo (a) Pyrene, dan Chrysene (empat cincin benzene). Berdasarkan analisa diagnosa rasio, sumber pencemaran PAH di perairan pesisir Bintan adalah berasal dari kombinasi antara sumber pirogenik. Analisis resiko lingkungan menunjukkan nilai rata-rata ∑10 PAH di perairan Bintan (5,855 ngg-1) masih rendah dibandingkan nilai ERL, ERM, TEL dan PEL, hal tersebut mengindikasikan bahwa efek biologis senyawa PAH secara umum rendah.Kata kunci: Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH), Sebaran, Pencemaran, Perairan Bintan
Analisis Debit Puncak untuk Perencanaan Sistem Drainase di Kawasan Teknopark Pelalawan Indriatmoko, Robertus Haryoto
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.636 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3467

Abstract

ABSTRACTA drainage system is an infrastructure that plays an important role for regions such as in Pelalawan technopark. Drainage system design needs to be carried out comprehensively to obtain the results of the predicted regional channel system analysis based on maximum daily rainfall data in the area. Thus, any rain falling in each sub-watershed within the region can be properly flowed, through the channel system in the four main drainages and does not cause flooding in the area. The methodology for the analysis of drainage systems is carried out through 4 comprehensive stages, starting with delineation of the four sub-watersheds in the area and performing sub-watershed morphometry until mapping process of the main drainage system of the Pelalawan technopark area. The results of peak discharge analysis is derived from the calculation of rain plan/predicted rain results in the 25-year return period, the Petarik sub-watershed has value of 158.21 m3/sec, while the Bedaguh Guntung watershed,  the Kahayan sub-watershed, and the Langgam watershed have results about 53.64 m3/dt, 30.56 m3/sec, and 34.16 m3/sec respectively. If the drainage system is to be built in the Technopark area, one main channel must be provided in each sub-watershed with channel capacity by the peak discharge. If the four main channels have been prepared, the Technopark Region will be free of flooding for the planning period from the rain with a 25 year return period.Keyword: Technopark, infiltration, rainfall, return periode, peak discharge, drainage capacity ABSTRAKRancangan sistem  drainase adalah sebuah infrastruktur yang memegang peranan penting termasuk untuk kawasan seperti di teknopark Pelalawan. Perencanaan sistem drainase perlu dilaksanakan dengan baik untuk mendapatkan hasil analisis sistem saluran kawasan yang diprediksi berdasarkan data  hujan hujan harian maksimum dalam kawasan tersebut.  Dengan demikian, setiap hujan  yang jatuh di dalam setiap sub DAS dalam kawasan dapat dialirkan dengan baik, melalui sistem saluran pada keempat drainase utama dan tidak menimbulkan banjir dalam kawasan. Metodologi untuk analisis sistem  drainase, dilakukan melalui 4 tahap yaitu yang dimulai dengan melakukan deliniasi terhadap keempat sub DAS dalam kawasan dan melakukan morfometri sub DAS untuk mendapatkan data luas dari masing-masing sub DAS, kemiringan lereng, koefisien runoff, dan time of consentration (tc). hingga pemetaan sistem drainase utama  kawasan teknopark Pelalawan. Hasil analisis  debit puncak  pada 4 sub DAS  dalam kawasan teknopark yang berasal dari perhitungan hujan rencana/ hujan hasil prediksi pada periode ulang 25 tahun, untuk ke 4 adalah Sub DAS Petarik sebesar 158,21 m3/dt, sub DAS Bedaguh Guntung sebesar 53,64  m3/dt. Sub DAS Kahayan sebesar  30,56 m3/dt  dan  Sub DAS Langgam sebesar 34,16 m3/dt. Apabila dalam kawasan Teknopark tersebut akan dibangun sistem drainase, maka harus disediakan 1 (satu) buah saluran utama di setiap  Sub DAS dengan kapasitas saluran sesuai dengan besarnya sesuai dengan debit puncak. Jika keempat saluran utama tersebut telah disiapkan maka Kawasan Teknopark akan dapat terbebas dari banjir untuk periode perencanaan dari hujan dengan periode ulang 25 tahun.Kata kunci: Teknopark, infiltrasi, hujan, periode ulang, debit puncak, kapasitas saluran
Purifikasi Gas Metana (CH4) dari TPA Sampah Menggunakan Metode Water Scrubber Sahwan, Firman Laili; Wahyono, Sri; Suryanto, Feddy; Hanif, Muhammad
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.394 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3260

Abstract

ABSTRACTHigh population growth rate has stimulated the increase of energy consumption. Therefore, the use of renewable energy sources such as methane gas from landfill has also been encouraged. It is necessary that landfill methane gas is purified to increase its concentration. Common method to purify methane gas is water scrubber method. The aim of this research was to evaluate the effectiveness of landfill methane gas purification using a spray water scrubber (water scrubber method), a water column scrubber (bubbling methods) and the combination of both methods to increase the content of landfill methane. The experiment was conducted in the dry season and rainy season. Results of the study concluded that water scrubber was the most effective method for increasing methane gas concentration. The average increase of methane gas in the dry season were 33.32% (water scrubber) and 23.79% (combination of bubbling and water scrubber), and in the rainy season 8.89% (water bubbling) and 2.75% (combination of water scrubber and water bubbling). The increase in methane gas was due to a decrease in CO2 gas. In addition, there was an increase of H2O content in biogas from landfill after the purification process.Keywords: Landfill, methane gas, purification, water scrubberABSTRAKTingginya laju pertumbuhan penduduk telah memacu konsumsi energi yang terus meningkat. Oleh karena itu diperlukan upaya pemanfaatan sumber energi terbarukan, yang salah satunya adalah gas metana yang berasal dari TPA sampah. Keinginan untuk meningkatkan kandungan gas metana TPA diperlukan upaya purifikasi, menggunakan metode water scrubber. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui efektivitas purifikasi gas metana TPA dengan menggunakan metode pengaliran gas dalam percikan air (water scrubber) dan metode pengaliran gas dalam air atau water bubbling (serta kombinasi keduanya) untuk meningkatkan kandungan gas metana TPA, yang dilakukan pada musim kemarau dan musim penghujan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa water scrubber merupakan metoda yang paling efektif untuk meningkatkan kandungan gas metana. Rata-rata peningkatan gas metana pada musim kemarau dan musim penghujan, berturut-turut sebesar 33,32% (water scrubber), 23,79 (kombinasi water bubbling dan water scrubber), 8,89% (water bubbling) dan 2,75% (kombinasi water scrubber dan water bubbling). Peningkatan gas metana tersebut terjadi karena adanya penurunan gas CO2. Selain itu, terjadi peningkatan kandungan H2O pada biogas dari TPA setelah proses purifikasi.Kata kunci: TPA, gas metana, purifikasi, water scrubber.
Uji Kinerja Instalasi Daur Ulang Air Limbah Industri Kaleng di Jakarta Yudo, Satmoko; Nugroho, Rudi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.368 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3413

Abstract

ABSTRACTThe need for clean water consumption continues to increase in line with the current population and industry growth. The canned industry is one of the industries that consume a considerable amount of water for the production process, while the availability of clean water sources is very limited, both in quantity and quality. One alternative solution to the problem above is by building a wastewater treatment plant into reusable water (recycling) to meet the needs of the washing process in the industry. This paper discusses the testing of wastewater recycling installations into clean water in a canned industry in Jakarta. The process of recycling wastewater is divided into several stages, namely chemical processes for pH control, biological processes of activated sludge, biofilter, and filtration. Afterward, the wastewater is filtered using a reverse osmosis membrane. The test results show that the water quality of recycling wastewater and filtered wastewater using RO membranes could produce pure water quality. The use of water for the process in the canned industry is large enough for canned washing processes. Therefore, by using the recycling technology, the use of water, especially for the washing process, can be saved up to 100%.Keyword : wastewater reuse, reverse osmosis, can industriesABSTRAKKebutuhan akan konsumsi air bersih terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan industri saat ini. Industri kaleng merupakan salah satu industri yang mengkomsumsi air dalam jumlah yang cukup banyak untuk proses produksi, sedangkan  ketersediaan sumber air bersih sangat terbatas, baik secara kuantitas maupun kualitas. Salah satu alternatif solusi permasalahan di atas yaitu dengan membangun instalasi pengolahan air limbah menjadi air yang dapat digunakan kembali (daur ulang) guna memenuhi kebutuhan proses pencucian di industrinya. Makalah ini membahas tentang pengujian instalasi daur ulang air limbah menjadi air bersih di salah satu industri kaleng di Jakarta. Proses pengolahan daur ulang air limbah terbagi dalam beberapa tahap yaitu proses pengolahan air limbah produksi dengan proses kimia untuk kontrol pH, proses biologis lumpur aktif dan biofilter serta filtrasi. Kemudian berikutnya dengan proses filtrasi menggunakan membran reverse osmosis. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kualitas air pengolahan daur ulang air limbah dan penyaringan dengan menggunakan membran RO menghasilkan kualitas air yang murni. Pemakaian air untuk proses di industri kaleng yang cukup besar adalah untuk proses pencucian kaleng. Sehingga dengan adanya teknologi daur ulang, maka pemakaian air khususnya untuk proses pencucian dapat dihemat sampai 100%.Kata kunci : Daur ulang air limbah, reverse osmosis, industri kaleng
Efisiensi Penggunaan Grey Water dan Air Hujan dalam Rangka Menurunkan Tingkat Penggunaan Air Baku Hidayat, Muhamad Yusup; Fauzi, Ridwan; Harianja, Alfonsus Hasudungan; Saragih, Grace Serepina
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.13 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3347

Abstract

ABSTRACTThe population growth rate in big cities such as Jakarta and its satellite cities has a correlation that is directly proportional to the level of clean water consumption. The biggest consumption of clean water is generally used for domestic household needs. However, the use of clean water is still not efficient. Therefore, the efficiency of water-saving needs to be carried out by utilizing sources that have not been optimally used, for example, greywater and rainwater. The purpose of this study is to determine the level of water usage in 3 (three) types of housing and the level of efficiency of utilization of domestic wastewater (greywater) and rainfall (CH) in reducing the use of clean water. This research was performed in the Villa Bintang Mas residential area in the City of South Tangerang, the Villa Bintang Mas residential area in the City of Depok, and the Selakopi Hijau/Forestry residential area in the City of Bogor. Data collection was conducted by a series of surveys using a questionnaire on the sample of a household. The results show that the data processing needs of clean water in three residentials range of values between ± 158.84 Liters/person/day up to ± 215.38 Liters/person/day. The level of efficiency of the utilization of greywater and rainwater in reducing the usage of clean water in three housing ranges from 21.12% to 58.47%.Keywords: Domestic Waste, the Use of Clean Water ABSTRAKTingkat pertumbuhan penduduk di kota-kota besar seperti jakarta dan kota-kota satelitnya memiliki korelasi yang berbanding lurus dengan tingkat konsumsi air bersih yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Konsumsi air bersih terbesar adalah untuk kebutuhan domestik rumah tangga. Penggunaan air bersih saat ini masih belum mengikuti kaidah efisiensi dalam penggunaannya, untuk itu efisiensi penghematan air perlu segera dilakukan dengan memanfaatkan sumber-sumber lain yang belum termanfaatkan, antara lain air limbah domestik rumah tangga (grey water) dan air hujan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat pemakaian air di 3 (tiga) tipe perumahan,serta tingkat efisiensi pemanfaatan air limbah domestik rumah tangga (grey water) serta curah hujan (CH) dalam menurunkan pemakaian air bersih. Penelitian ini dilaksanakan di Perumahan Villa Bintang Mas, Kota Tangerang Selatan, Perumahan Permata Depok, Kota Depok, dan Perumahan Selakopi Hijau/Kehutanan, Kota Bogor. Pengambilan data dilakukan dengan cara survei menggunakan kuesioner pada rumah tangga yang menjadi sampel. Hasil pengolahan data memperlihatkan bahwa kebutuhan air bersih di tiga perumahan berkisar pada rentang nilai antara ±158,84 Liter/Orang/Hari sampai dengan ± 215.38 Liter/Orang/Hari. Tingkat efisiensi pemanfaatan grey water dan air hujan dalam mengurangi pemakaian air bersih di tiga perumahan berkisar antara 21,12% hingga 58,47%.Kata kunci: Limbah Domestik, Penggunaan Air Bersih 
Cover JTL Vol 20, No 2, Juli 2019 JTL Vol 20, No 2, Juli 2019, Cover
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.392 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3667

Abstract

Jejak Ekologis Kawasan Regional Bandung Marganingrum, Dyah
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.746 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3003

Abstract

ABSTRACTThis paper aims to explain the application of Ecological Footprint method as an approach for finding out the carrying capacity of the region. Case study was conducted in Bandung Basin Area that called as The Bandung Regional area. Ecological Footprint Analysis was done by using the Workbook and Guidebook National Footprint Account 2008 that prepared by the Global Footprint Network (GFN). Results of the analysis showed that the ecological footprint of Bandung Regional has been deficit of 1.31 gha/capita (EF Consumption is 1.37 gha/capita and biocapacity is 0.06 gha/capita). Thus, the supply-demand ratio is 0.04. This value ratio is less than one so it is categorized as the overshooting status. This status indicates that the carrying capacity of resources has been overloaded in the Bandung Regional. Therefore, it requires the number of efforts including regulation that can alter the consumption pattern and create metabolic utilization of natural resources which is more circular than linear. In addition, it needs a good cooperation among stakeholders in the surrounding area of Regional Bandung to meet the demands of all communities in Bandung region.Keywords: Bandung regional, carrying capacity, ecological footprint, overshoot  ABSTRAKMakalah ini bertujuan menjelaskan hasil aplikasi metode jejak ekologis sebagai salah satu pendekatan untuk mengetahui daya dukung lingkungan suatu kawasan. Studi kasus dilakukan di Kawasan Cekungan Bandung yang disebut juga sebagai Regional Bandung. Analisis jejak ekologis dilakukan dengan memanfaatkan Workbook dan Guidebook National Footprint Account Tahun 2008 yang disediakan oleh Global Footprint Network (GFN). Hasil analisis menunjukkan bahwa jejak ekologis Regional Bandung mengalami defisit sebesar 1.31 gha/kapita dengan nilai jejak ekologis konsumsi (EF consumption) sebesar 1.37 gha/kapita dan biokapasitasnya sebesar 0,07 gha/kapita. Dengan demikian rasio supply-demand sebesar 0.04. Nilai rasio supply-demand kurang dari satu dikategorikan sebagai status overshoot. Status ini mengindikasikan bahwa daya dakung sumber daya alam di kawasan Regional Bandung telah terlampaui. Oleh karena itu diperlukan berbagai upaya termasuk regulasi yang dapat merubah pola konsumsi dan menciptakan metabolisme pemanfaatan sumber daya alam yang lebih bersifat sirkuler daripada linier. Selain itu perlu dilakukan kerjasama yang baik diantara pemangku kepentingan di wilayah sekitarnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakat di Regional Bandung. Kata kunci: daya dukung, jejak ekologis, regional Bandung, terlampaui
Penentuan Temperatur Optimal Pembakaran Boiler untuk Karbonisasi Hidrotermal Sampah Organik Melalui Model Semi-Analitik Perpindahan Panas Dewanti, Dian Purwitasari; Sulaiman, Albert
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3484

Abstract

ABSTRACTBoiler is the one of the importance main equipment in the hydrothermal carbonization process. Steam produced from boiler is used to hydrothermal carbonization of organic waste in the reactor. This steam is produced due to the thermal displacement resulting from fuel combustion. The effectiveness of thermal displacement affects the amount of the fuel consumed and the air emissions produced by the combustion process. The study of the thermal transfer in a water tube typed boiler through Rayleigh-Benard convection semi-analytic modeling was carried out in this study. The boiler is modeled as a cylinder of two-dimensions with degrees of freedom of radius and height of the cylinder. Semi-analytic solutions are obtained by applying the Galerkin method where ordinary nonlinear differential equation systems are solved using the 4th order Runge-Kutta method. The results show that the amplitude that is function of the stream and thermal dispersion will oscillate sharply at the start of the heating process and then periodically oscillate with small variability as quasi patterns. Simulation shows that the rolling condition starts with a large rolling radius and then shrinks that is followed by uniformly distributed rolling and thermal spread throughout the boiler. The simulation results show the optimal temperature is around 300 oC. At this temperature, steam meets the conditions needed during the hydrothermal carbonization process of organic waste and fuel consumption can be adjusted to reduce air emissions resulting from combustion.Key words: boiler, convective, heat transfer, hydrothermal carbonization, Rayleigh-Benard.ABSTRAKBoiler atau ketel uap merupakan salah satu peralatan utama yang sangat penting pada proses karbonisasi hidrotermal. Uap air (steam) yang dihasilkan dari boiler dibutuhkan untuk proses karbonisasi hidrotermal sampah organik dalam reaktor. Produksi uap disebabkan oleh perpindahan panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar. Efektifitas perpindahan panas mempengaruhi jumlah bahan bakar yang dibutuhkan dan emisi udara yang dihasilkan oleh proses pembakaran tersebut. Kajian perpindahan panas dalam boiler bertipe water tube melalui pemodelan semi analitik konveksi Rayleigh-Benard dilakukan dalam penelitian ini. Boiler dimodelkan sebagai silinder dua dimensi dengan derajat kebebasan jari jari dan tinggi silinder. Solusi semi analitik diperoleh dengan menerapkan metode Galerkin dimana sistem persamaan diferensial biasa nonlinier model dipecahkan menggunaan metode Runge-Kutta orde 4. Hasilnya menunjukkan bahwa amplitude yang merupakan fungsi aliran (stream) dan dispersi panas akan berosilasi secara tajam pada awal waktu proses pemanasan dan kemudian secara periodik berosilasi dengan variabilitas yang kecil mengikuti pola kuasi. Simulasi menunjukkan bahwa kondisi rolling dimulai dengan jari jari rolling yang besar dan kemudian mengempis yang diikuti dengan tersebar meratanya rolling dan panas secara seragam di seluruh boiler. Hasil simulasi menunjukkan suhu optimal adalah sekitar 300oC. Pada suhu tersebut, steam memenuhi kondisi yang dibutuhkan selama proses karbonisasi hidrotermal sampah organik dan konsumsi bahan bakar bisa diatur untuk mengurangi emisi udara yang dihasilkan dari pembakaran.Kata kunci: boiler, karbonisasi hidrotermal, konvektif, perpindahan panas, Rayleigh-Benard.

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue