cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Vol. 22 No. 1 (2021)" : 40 Documents clear
Variasi Jenis dan Ukuran Bahan pada Kompos Blok Berbasis Limbah Pertanian sebagai Media Pertumbuhan Tanaman Cabai Novita, Elida; Wahyuningsih, Sri; Minandasari, Fila Adilia; Pradana, Hendra Andiananta
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.3584

Abstract

ABSTRACT Agricultural waste is an organic material source. The organic matter was processed as compost. Compost block was one of composting technology developments. It has functioned as a planting medium. The type and size of raw materials are essential in the composting process. The purpose of this study was to examine variations in types and sizes of organic materials for compost blocks on the composting process and as a growth medium for chili plants. This study used a completely random design with two variables. The first variable was the variation of raw material type, i.e., coffee husk and pulp, tobacco petiole, and rice husk. The second variable was the variation of raw material size, i.e., 10, 40, and 80 mesh. The research data were analyzed using the analysis of variance test conducted with the Duncan test. The research data test show that compost from rice husks had the most C/N value of 19.71. The raw material on optimally composting refers to temperature and humidity parameters as rice husk. The most effective compost block as a planting medium is a rice husk with the size of 40 mesh. The variance analysis result showed the rice husk treatment with the size material of 0.06 cm had significant differences in the three parameters of vegetative growth of plants, i.e., plant growth rate, leaf growth rate, and leaf area. Keyword: composting, coffee husk and pulp,tabbaco petiole, rice husk, organic matter   ABSTRAK Limbah pertanian merupakan salah satu sumber bahan organik. Bahan organik tersebut berpotensi digunakan sebagai kompos. Kompos blok merupakan salah satu pengembangan teknologi pengomposan. Kompos ini digunakan sebagai media tanam. Jenis dan ukuran bahan baku berperan penting pada proses pengomposan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji variasi jenis dan ukuran pada bahan-bahan organik untuk kompos blok terhadap proses pengomposan dan sebagai media pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian ini menggunakan rancang acak lengkap dengan dua variabel. Variabel pertama adalah jenis bahan baku kompos meliputi kulit kopi, limbah tangkai daun tembakau, dan sekam padi. Variabel kedua adalah variasi ukuran dengan menggunakan ayakan 10, 40, dan 80 mesh. Data hasil pengukuran dianalisis menggunakan uji Analysis of Variance yang dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil pengujian unsur hara menunjukkan bahwa kompos dari sekam padi memiliki nilai C/N sebesar 19,71. Pengomposan bahan yang berjalan optimal berdasarkan parameter suhu dan kelembaban adalah sekam padi. Kompos blok yang paling efektif sebagai media tanam berdasarkan parameter laju jumlah daun adalah limbah sekam padi ukuran 40 mesh. Hasil uji Analysis of Variance menujukkan bahwa pelakuan ukuran sekam padi sebesar 0,06 cm memiliki perbedaan nyata terhadap tiga parameter pertumbuhan vegetatif tanaman, yaitu laju tinggi tanaman, laju jumlah daun, dan luas daun. Kata Kuci : pengomposan, kulit buah kopi, limbah tangkai tembakau, sekam padi, bahan organik
Perbandingan Penggunaan Panel Surya dan Turbin Angin dalam Implementasi Energi Baru Terbarukan (EBT) di Lingkungan Universitas Pertamina Fadillah, Riestiya Zain; Mahendra, Adhytia Ihza; Pangestu, Muhamad Benando; Afriansyah, Afriansyah; Rahman, Ahmad Fauzan; Muhasabah, Alzahid; Susanty, Meredita; Setiawan, Erwin
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.3247

Abstract

ABSTRACT Health risk characteristics expressed as a Risk Quotient (RQ) can be carried out through an environmental health risk analysis (ARKL) approach. This approach can estimate the public health risk caused by the concentration of risk agents of particulates consisting of PM2.5, PM10, and TSP. The research on the fluctuation of ambient air particulate pollutant and its risk to public health was conducted in each sub-district of Bogor City. Author identified a total of 360 respondents to determine the community anthropometric variable of exposures for time, frequency, and duration. There are several steps that need to be carried out to obtain the RQ value, namely identification of hazards from particulate risk agents, analysis of the dose-response in the form of Reference Concentration (RFC), analysis of the exposure obtained based on anthropometric variables, and the concentration of risk agents as well as characteristics of risk levels. The risk level characteristic shows that the RQ value of TSP is always the highest one, followed by PM10 and PM2.5. The respective RQ values of TSP for male and female residents are 1.85 and 1.53. Cumulatively, the male and female population in Tanah Sareal produced the highest RQ values. Those are 4.44 and 3.36, respectively. At the same time, the lowest cumulative RQ was obtained for male and female residents in East Bogor with RQ values of 2.96 and 2.54. The RQ value of each risk agent or the cumulative RQ that is more than 1 (RQ> 1) is stated to have or has a health risk, so it needs to be controlled, while the RQ value which is less than one (1) is displayed not to need to be controlled but needs to be maintained. Keywords: particulate, risk level, exposure assessment, anthropometric characteristic, environmental health risk assessment   ABSTRAK Karakteristik risiko kesehatan yang dinyatakan sebagai Risk Quotient (RQ) dapat dilakukan melalui pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pendekatan ini dapat mengestimasi risiko kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh konsentrasi agen risiko yaitu PM2,5, PM10, dan TSP di tiap-tiap kecamatan di Kota Bogor. Penulis mengidentifikasi sebanyak 360 responden yang terdiri dari laki-laki dan perempuan untuk menentukan variabel antropometri masyarakat di Kota Bogor, waktu paparan, frekuensi paparan, serta durasi paparan. Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk memperoleh nilai RQ, yaitu identifikasi bahaya dari agen risiko partikulat, analisis dosis-respon berupa Reference Concentration (RfC), analisis pajanan yang diperoleh berdasarkan variabel antropometri dan konsentrasi agen risiko serta karakteristik tingkat risiko. Karakteristik tingkat risiko menunjukkan nilai RQ TSP selalu paling tinggi diikuti PM10, dan terendah adalah RQ PM2,5 dengan nilai tertinggi TSP untuk penduduk laki-laki dan perempuan masing-masing sebesar 1,85 dan 1,53. Secara kumulatif, penduduk laki-laki dan perempuan di Tanah Sareal menghasilkan nilai RQ tertinggi masing-masing sebesar 4,44 dan 3,36. Sedangkan RQ kumulatif terendah diperoleh untuk penduduk laki-laki dan perempuan di Bogor Timur dengan nilai RQ 2,96 dan 2,54. Nilai RQ tiap agen risiko ataupun RQ kumulatif yang lebih dari 1 (RQ>1) dinyatakan memiliki atau terdapat risiko kesehatan sehingga perlu dikendalikan, sementara nilai RQ yang masing kurang dari satu dinyatakan tidak perlu dikendalikan tetapi perlu dipertahankan. Kata kunci: partikulat, tingkat risiko, analisis pajanan, karakteristik antropometri, analisis risiko kesehatan lingkungan
Produksi Biogas dari Limbah Cair Kelapa Sawit dengan Menggunakan Reaktor Unggun Tetap tanpa Proses Pretreatment Wiharja, Wiharja; Winanti, Widiatmini Sih; Prasetiyadi, Prasetiyadi; Sitomurni, Amita Indah
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.3250

Abstract

ABSTRACT Palm Oil Mill Effluent (POME) resulted from the palm oil industry is a potential resource for biogas production. In this study, POME was processed by utilizing microbes in an anaerobic condition using a fixed bed reactor. This study aimed at providing alternative processing of POME into biogas at the most optimum biogas yield without any pretreatment, taking advantage of POME conditions generated from the production process at the average temperature of 55 – 60 °C. In the anaerobic process, temperature conditions have a significant effect on bacteria's performance to degrade organic matter. In thermophilic conditions, bacteria deteriorate organic substrates more actively than in mesophilic states. This research proved that using fixed bed reactor technology to treat POME without pretreatment has generated biogas at the yield of 25.43 liters/liter of POME production. Applying this technology also demonstrated that investment and operating costs are cheaper due to having no mixing tank and fewer chemicals applications for the neutralization process. Keywords: biogas, fixed bed reactor, POME, pretreatment, thermophilic   ABSTRAK Proses pengolahan POME dapat dilakukan dengan menggunakan proses fermentasi anaerobik yaitu memanfaatkan kerja bakteri anaerobik untuk memproduksi biogas. Penelitian ini bertujuan memberikan alternatif pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit yang dapat menghasilkan biogas yang paling optimal tanpa melakukan pretreatment. Proses yang dipilih disesuaikan dengan kondisi panas POME yang keluar proses yaitu sekitar 55 - 60 oC. Kondisi temperatur sangat berpengaruh nyata terhadap kinerja bakteri pendegradasi bahan organik di dalam limbah cair dalam proses anaerobik. Pada kondisi termofilik bakteri lebih aktif dibandingkan pada kondisi mesofilik. Melalui penelitian ini, dapat diketahui bahwa dengan menggunakan teknologi reaktor fixed bed untuk mengolah POME tanpa adanya pretreatment, biogas tetap dapat diperoleh dengan perolehan rata rata 25,43 liter per liter POME. Dengan menggunakan teknologi ini biaya investasi dan operasi akan lebih murah dikarenakan tidak memerlukan bak pencampur dan penggunaan bahan kimia untuk proses netralisasi. Kata kunci: Biogas, reaktor fixed bed, POME, pretreatment, termofilik
Status Kualitas Air di Kolam Bekas Tambang Batubara di Tambang Satui, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan Said, Nusa Idaman; Yudo, Satmoko
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.3900

Abstract

ABSTRACT Coal mining can have positive and negative impacts on the environment. The positive effects include providing new employment opportunities and increasing regional income as well as foreign exchange. In comparison, negative consequences could be the changes in the environment's quality and sustainability, caused by the formation of ex-mining pits and acid mine drainage, which reduce the quality of surrounding soil and water. This study aimed to determine the water quality of the ex-mining ponds at the Antasena Pit, Satui Mine, Kintap District, Tanah Laut Regency, South Kalimantan. This research measured the ponds' water quality directly on site. Meanwhile, the water samples were taken and analyzed in the laboratory. The laboratory analyzes showed that, in general, the physicochemical and biological parameters were under Class 1 Water Quality Standards of the Government Regulation Number 82 the Year 2001 on Water Quality Management and Water Pollution Control. Keywords : coal mining, ex-mining ponds, pond water quality   ABSTRAK Penambangan batubara dapat memberikan dampak positif dan negatif terhadap lingkungan. Dampak positif tersebut antara lain membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan daerah serta devisa negara. Sedangkan dampak negatifnya adalah terjadinya perubahan kualitas dan kelestarian lingkungan akibat terbentuknya lubang bekas tambang dan timbulnya air asam tambang yang menurunkan kualitas tanah dan air di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air kolam bekas penambangan di Pit Antasena, Tambang Satui, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kualitas air kolam diukur langsung di lokasi dan sampel air diambil dan dianalisis di laboratorium. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa secara umum parameter fisika-kimiawi dan biologi telah sesuai dengan Standar Kualitas Air Kelas 1 sesuai Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Kata kunci : tambang batu bara, kolam bekas tambang, kualitas air kolam.
Kajian Timbulan dan Komposisi Sampah di Kampus Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas) Gumilar, Geany Sharah; Ainun, Siti
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.3956

Abstract

ABSTRACT Educational institutions are places to conduct research and innovation to improve the quality of an independent environment. This study aims to determine the amount of waste generation and composition of institutions, especially the Bandung National Institute of Technology (Itenas). The sampling method is based on SNI 19-3964-1994 by measuring the production and composition of waste for eight consecutive days. The study results obtained an average generation of Itenas waste of 0.015 kg/m2/day or 0.156 kg/person/day in units of weight and 0.242 liters/m2/day or 2.446 liters/person/day in units of volume. The composition of Itenas waste is dominated by organic waste by 50.78%, which consists of food scraps and leaves, while other waste compositions include 14.09% plastic; 4.54% cardboard; 2.33% paper; 1.93% fabric; 1.21% glass; 0.08% cans; 0.03% metal; and 24.99% residue or other waste. The highest activities that produce organic waste in Itenas are canteen activities, while the Student Center (SC) activities make the highest amount of recyclable waste. Keywords: institutional solid waste, solid waste generation, waste composition, Bandung National Institution of Technology (Itenas)   ABSTRAK Institusi pendidikan adalah tempat untuk melakukan penelitian dan inovasi untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan besaran timbulan dan komposisi sampah dari institusi khususnya Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas). Metode sampling yang dilakukan berdasarkan SNI 19-3964-1994 dengan cara melakukan pengukuran timbulan dan komposisi sampah selama 8 hari berturut-turut. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata timbulan sampah Itenas sebesar 0,015 kg/m2/hari atau 0,156 kg/orang/hari dalam satuan berat dan 0,242 liter/m2/hari atau 2,446 liter/orang/hari dalam satuan volume. Komposisi sampah Itenas didominasi oleh sampah organik sebesar 50,78% yang terdiri dari sisa makanan dan dedaunan, sedangkan komposisi sampah lainnya antara lain 14,09% plastik; 4,54% kardus; 2,33% kertas; 1,93% kain; 1,21% kaca; 0,08% kaleng; 0,03% logam; dan 24,99% residu atau sampah lainnya. Kegiatan yang paling tinggi menghasilkan sampah organik di Itenas adalah kegiatan kantin sedangkan kegiatan Student Center (SC) menghasilkan sampah daur ulang yang paling tinggi. Kata kunci: sampah institusi, timbulan sampah, komposisi sampah, Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas)
Tingkat Fluktuasi Air Tanah pada Jangka Pendek di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Sejati, Sadewa Purba
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.3985

Abstract

ABSTRACT Water is a natural resource used by people for various life necessities. The type of water often used by people is groundwater. Groundwater conditions should be inventoried to protect and maintain the continued function of groundwater. The research area was the administrative area of the Ngemplak Sub-district in Sleman Regency. Construction, growing population, and changing system positively correlate with potential disturbance to quantity, quality, and distribution of groundwater in the research area. To anticipate this, changing groundwater conditions in the administrative area of the Ngemplak Sub-district should be determined. The present study was aimed to determine the changing condition or dynamics of groundwater in the administrative area of Ngemplak Sub-district. The parameter used in the present study was the level of groundwater fluctuation. The primary data of groundwater depth in rainy and dry seasons 2019 was collected using a systematic random sampling method. Groundwater surface fluctuation data was obtained from the difference in groundwater-surface depths in dry and rainy seasons. The level of groundwater fluctuation was analyzed using the spatial interpolation method and classified using ArcGIS. The research result showed that the level of groundwater fluctuation in the research area consisted of three classes, i.e., low (<2.5 meters), medium (2.5 – 5 meters), and high (>5 meters). The research area was dominated by medium groundwater fluctuation. Spatial data analysis showed that groundwater fluctuation in the research area wasn’t only affected by reduced groundwater supply due to changing seasons but also by the massive groundwater usage. Keywords: groundwater, fluctuation, spatial interpolation   ABSTRAK Air merupakan sumberdaya alam yang digunakan penduduk untuk memenuhi beragam kebutuhan hidup. Jenis air yang seringkali digunakan penduduk adalah air tanah. Inventarisasi kondisi air tanah perlu dilakukan sebagai upaya untuk menjaga dan mempertahankan keberlanjutan fungsi air tanah. Wilayah yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah wilayah Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Pembangunan, peningkatan jumlah penduduk, dan peralihan musim berkorelasi positif dengan munculnya potensi gangguan terhadap kuantitas, kualitas, dan distribusi air tanah di daerah penelitian. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perubahan kondisi air tanah di wilayah Kecamatan Ngemplak perlu diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kondisi atau dinamika air tanah di wilayah administratif Kecamatan Ngemplak. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat fluktuasi air tanah. Data primer kedalaman air tanah pada musim hujan dan kemarau tahun 2019 dikumpulkan dengan metode systematic random sampling. Data fluktuasi air tanah merupakan selisih dari kedalaman air tanah pada musim kemarau dengan musim hujan. Tingkat fluktuasi air tanah dianalisis menggunakan metode interpolasi spasial dan klasifikasi dengan perangkat lunak ArcGIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat fluktuasi air tanah di daerah penelitian diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu rendah (<2,5 meter), sedang (2,5 – 5 meter), dan tinggi (>5 meter). Daerah penelitian didominasi oleh fluktuasi air tanah pada tingkat sedang. Analisis data spasial menunjukkan bahwa fluktuasi air tanah di daerah penelitian tidak hanya dipengaruhi berkurangnya suplai air tanah akibat perubahan musim, tetapi juga diakibatkan penggunaan air tanah dalam jumlah yang besar. Kata kunci: air tanah, fluktuasi, interpolasi spasial
Evaluasi Hidrolis Jaringan Distribusi Air Minum Sistem Beber PDAM Tirta Jati Kabupaten Cirebon Sukmawardani, Maharani Anastasya; Sururi, Mohamad Rangga; Sutadian, Arief Dhany
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.4088

Abstract

ABSTRACT Water loss is a severe problem in the drinking water supply system as it disrupts the continuity of the drinking water supply. The Water loss is a severe problem in the drinking water supply system as it disrupts the continuity of the drinking water supply. The largest proportion of water losses is usually found in distribution systems. This study was located in the Beber water supply system, PDAM Tirta Jati Cirebon Regency. The study aimed to evaluate the hydraulic condition and give improvement recommendations for the Beber piping network system distribution. This research performed the International Water Association (IWA) water balance concept through water production and water usage data. Furthermore, the hydraulic condition is evaluated using water usage, ground-level elevation, water usage pattern, and the existing distribution network's technical data. The evaluation was conducted by simulation using EPANET 2.0 from the Environmental Protection Agency (EPA), which then compared to the design criteria listed in Permen PUPR No. 27 2016. The results show a 44.38% percentage of water loss due to a pipe leak. Simulation results showed a segment of pipe having velocity less than 0.3 m/s (43.31%), and all nodes had pressure below 12.4 MPa. The simulation results also showed some nodes had pressure greater than 100 mKa and exceeded the HDPE SDR 17 pipe's maximum capacity. This condition causes many pipe leaks that occur in the system, so it is recommended to install a Pressure Reducing Valve (PRV) and change of pipe diameter. The study also suggests establishing a District Meter Area (DMA) to detect pipe leak points. Keywords: water loss, distribution network, pipe leakage, DMA, EPANET 2.0.   ABSTRAK Kehilangan air merupakan masalah serius dalam Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) karena mengganggu kontinuitas penyediaan air minum. Kehilangan air terbesar biasanya ditemui pada sistem distribusi termasuk pada SPAM Beber milik PDAM Tirta Jati Kabupaten Cirebon. Tujuan studi ini adalah untuk melakukan evaluasi hidrolis dan memberikan rekomendasi perbaikan pada sistem jaringan perpipaan distribusi SPAM Beber. Evaluasi dilakukan dengan konsep neraca air sesuai standar International Water Association (IWA) dengan menggunakan data debit produksi dan pemakaian air. Selanjutnya dilakukan evaluasi hidrolis jaringan menggunakan data pemakaian air, elevasi muka tanah, pola pemakaian air, serta data teknis jaringan distribusi eksisting. Evaluasi dilakukan dengan membuat simulasi hidrolis menggunakan software EPANET 2.0 dari Environmental Protection Agency (EPA) yang kemudian dibandingkan dengan kriteria desain yang tercantum dalam Permen PUPR No. 27 Tahun 2016. Hasil evaluasi menunjukkan persentase kehilangan air mencapai 44,38% akibat kebocoran pipa. Hasil simulasi hidrolis menunjukkan, terdapat segmen pipa yang memiliki kecepatan aliran kurang dari 0,3 m/detik (43,31%) dan seluruh nodes memiliki sisa tekan dibawah 12,4 MPa. Hasil simulasi juga menunjukkan terdapat nodes yang memiliki sisa tekan sebesar 100 mKa dan melebihi kapasitas maksimum dari pipa HDPE SDR 17. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab tingginya angka kebocoran pipa yang terjadi pada sistem, sehingga perlu dilakukan perbaikan dengan pemasangan PRV dan pergantian diameter pipa. Penataan District Meter Area (DMA) juga dapat dilakukan sebagai solusi untuk mempermudah pendeteksian titik kebocoran pipa. Kata Kunci : kehilangan air, jaringan distribusi, kebocoran pipa, DMA, EPANET 2.0.
Pemanfaatan Limbah Spent Bleaching Earth pada Stabilisasi Tanah Lempung dengan Clean Set Cement Sumarno, Agung; Prasetyo, Agus Mudo; Akbar, Fazhar; Widodo, Eko; Triastuti, Triastuti; Maidina, Maidina; Nugroho, Ananto; Budiman, Ismail; Subiyanto, Bambang
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.4125

Abstract

ABSTRACT The utilization of waste as soil stabilization materials is a solution to reduce the amount of waste and improve the building materials quality. This research is using Spent Bleaching Earth (SBE) materials from the palm oil industry waste. SBE can be reused to be pozzolan materials. This research aimed to investigate the SBE waste effect as an admixture on clay stabilization used 10% Clean Set Cements (CS-60) on density and California Bearing Ratio (CBR). A combination of CS-60 and SBE waste was expected to increase the CBR value of clay. Furthermore, SBE waste would decrease cementitious material for clay stabilization. Variation comparison of Clay : CS-60 : SBE on ST03, ST04, and ST05 were 67.5% : 10% : 22.5%; 45% : 10% : 45% and 22.5% : 10% : 67.5% respectively. The test was conducted on water content, density, and load penetration based on SNI 1744:2012. Generally, the CBR value of subgrade and improved subgrades oil with the moderate and good category are about 5-20%. As a result, the CBR value of ST 01 as original clay and ST 02 as clay with 10% CS-60 was 3.24% and 5.01%, respectively. Using SBE waste as an admixture material on clay stabilization increased CBR value better than clay stabilization used CS-60. ST03, ST04, and ST05 with CBR's value were 5.39%, 8.52%, and 17.99%, respectively. Furthermore, the density value decreased when SBE waste is used. Keywords : california bearing ratio, clay, clean set cement, spent bleaching earth, stabilization.   ABSTRAK Pemanfaatan limbah sebagai bahan stabilisasi tanah lempung merupakan solusi dalam mengurangi jumlah limbah dan meningkatkan mutu dari bahan bangunan. Penelitian ini menggunakan material Spent Bleaching Earth (SBE) dari limbah industri pengolahan minyak kelapa sawit. SBE dapat dimanfaatkan sebagai material pozzolan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh limbah SBE sebagai bahan tambah pada stabilisasi tanah lempung yang menggunakan 10% Clean Set Cements (CS-60) terhadap densitas dan California Bearing Ratio (CBR). Kombinasi limbah SBE dengan CS-60 diharapkan mampu meningkatkan nilai CBR tanah lempung. Selain itu, juga mengurangi penggunaan bahan berbasis semen untuk stabilisasi tanah lempung. Variasi perbandingan tanah lempung : CS-60 : SBE yang digunakan pada sampel ST03, ST04, dan ST05 berturut-turut 67,5% : 10% : 22,5%, 45% : 10% : 45% dan 22,5% : 10% : 67,5%. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian kadar air, densitas, dan penetrasi beban yang mengacu pada SNI 1744:2012. Secara umum, nilai CBR tanah dasar dan tanah timbunan dengan kategori sedang dan baik berkisar antara 5-20%. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa sampel ST01 yang berupa tanah lempung asli memiliki nilai CBR 3,24% dan sampel ST02 yang berupa tanah lempung yang distabilisasi dengan 10% CS-60 menghasilkan nilai CBR 5,01%. Penambahan limbah SBE dapat meningkatkan nilai CBR dengan nilai yang lebih tinggi bila dibanding dengan hanya distabilisasi dengan CS-60, hal ini terlihat pada sampel ST03, ST04, dan ST05 dengan nilai CBR berurutan sebesar 5,39%, 8,52%, dan 17,99%. Selain itu, penambahan limbah SBE juga akan menurunkan densitas dari tanah lempung.   Kata kunci : california bearing ratio, clean set cement, spent bleaching earth, stabilisasi, tanah lempung.
Perbandingan Tingkat Kadar Gas SO2 dan NO2 di Udara Ambien Antara Metode Pasif dan Metode Aktif (Studi Kasus: Kota Jakarta) Indrawati, Asri; Tanti, Dyah Aries; Cholianawati, Nani; Sofyan, Andi; Cahyono, Waluyo EKo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.4182

Abstract

ABSTRACT A comparison of the measurement results between the active method and the passive method was carried out to see the correlation between the resulting concentrations. The passive method used CSIRO passive sampler, while the active method used the Air Quality Monitoring System (AQMS). Sampling was conducted at AQMS Bundaran HI Jakarta Station, belonging to the Environment Laboratory of DLH DKI Jakarta. The sampling period was February - April 2019 for SO2 and NO2 parameters, with a sampling duration of three days for each data. Data was proceed using the correlation method. Data filtering with boxplot was used to filter outlier data from the passive sampler and AQMS measurements. Meteorological factors were included in the correlation calculations because of their effect on gas absorption that occurred in the passive sampler. Meteorological factors used were temperature, humidity, and wind direction. The AQMS concentration value prediction was calculated using the correlation equation between the passive sampler and the AQMS. The results showed that the correlation coefficient value between the passive sampler and AQMS was 0.67 for SO2 and NO2 of 0.79. Multivariate correlation using meteorological data, to improve the correlation value, obtained correlation values of 0.97 for SO2 and 0.94 for NO2. The predictive value of AQMS used a regression equation, with an average bias value of 4.4% for SO2 and 9.9% for NO2, while the RMSE values were 0.89 for SO2 and 4.41 for NO2. The results showed that the concentration of SO2 and NO2 gas measurement results from the passive and active methods had a good and significant correlation. Keywords: passive method, active method, SO2, NO2, AQMS   ABSTRAK Perbandingan hasil pengukuran antara metode aktif dan metode pasif dilakukan untuk melihat korelasi konsentrasi yang dihasilkan antara metode aktif dan metode pasif. Metode pasif menggunakan passive sampler CSIRO, sedangkan metode aktif menggunakan Air Quality Monitoring System (AQMS). Sampling dilakukan di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) DKI 1 Bundaran HI milik  Laboratorium Lingkungan Hidup DLH DKI Jakarta. Periode sampling dilakukan dari bulan Februari – April 2019 untuk parameter SO2 dan NO2, dengan durasi sampling per tiga hari untuk satu data. Pengolahan data dilakukan dengan metode korelasi. Filter data dilakukan dengan menggunakan boxplot untuk memfilter data outlier dari pengukuran passive sampler dan AQMS. Faktor meteorologi dimasukkan dalam perhitungan korelasi karena pengaruhnya pada penyerapan gas yang terjadi di passive sampler. Faktor meteorologi yang digunakan adalah temperatur, kelembapan, dan arah angin. Prediksi nilai konsentrasi AQMS dihitung dengan menggunakan persamaan korelasi antara passive sampler dengan AQMS. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai koefisien korelasi antara passive sampler dengan AQMS sebesar 0,67 untuk SO2 dan NO2 sebesar 0,79. Korelasi multivariat menggunakan data meteorologi untuk memperbaiki nilai korelasi diperoleh nilai korelasi 0,97 untuk SO2 dan 0,94 untuk NO2. Nilai prediksi AQMS menggunakan persamaan regresi, dengan nilai rata-rata bias 4,4% untuk SO2 dan 9,9% untuk NO2, sedangkan nilai RMSE sebesar 0,89 untuk SO2 dan 4,41 untuk NO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hasil pengukuran gas SO2 dan NO2 metode pasif dan metode aktif mempunyai korelasi yang baik dan signifikan. Kata kunci: metode pasif, metode aktif, SO2, NO2, AQMS
Evaluasi Penerapan Insinerator Sampah Skala Kecil di TPST Kabupaten Sidoarjo Purwanta, Wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.4199

Abstract

ABSTRACT The waste's production rate in Sidoarjo Regency is estimated at 1,216 tpd. Around 464 tpd (ton per day) are transported to Jabon Landfill, and about 298 tpd are treated at the Integrated Garbage Treatment Center (TPST), 3R Treatment Center, and the Bank of Garbage. Therefore, there are still 454 tpd of waste that has not yet been managed, potentially harming the environment. The still limited garbage service level to be transported to the landfill has made the community take the initiative to process the garbage with incinerators placed at the existing TPST. These incinerators can reduce the waste up to 25% to 30% by weight of the waste that enters the TPST. In this research, ten incinerators were studied in the TPST. From the sample conditions obtained, almost all incinerators were operated below the technical standards required for optimum operation and minimum environmental impact. The combustion temperature is generally below 800 °C, the gas residence time is less than 2 seconds, and there is no turbulence. Therefore, the black smoke often occurs due to incomplete combustion. Air pollution control installations such as cyclones and scrubbers are malfunctioning and rusty due to high temperatures and acidic environments. Incinerator management hardly relies on community contributions. However, it is generally only enough for employee salaries. Furthermore, there is no incinerator maintenance. On the other hand, social conflicts due to incinerator smoke are reported to have not yet occurred because the location of TPST is generally still far from residential areas. Keywords: incinerator, small scale, operation, environmental   ABSTRAK Tingkat timbulan sampah Kabupaten Sidoarjo adalah 1.216 ton/hari, dimana sekitar 464 ton dibawa ke TPA Jabon dan 298 ton ditangani di TPST, TPS 3R, dan Bank Sampah. Hal ini berarti masih ada 454 ton sampah yang tidak terkelola dan berpotensi lari ke lingkungan. Masih terbatasnya tingkat pelayanan sampah untuk diangkut ke TPA telah membuat masyarakat berinisiatif mengolah sampahnya dengan insinerator yang ditempatkan di TPST yang ada. Keberadaan insinerator ini mampu mengurangi berat sampah hingga 25% hingga 30% berat sampah yang masuk ke TPST. Melalui penelitian terhadap sepuluh insinerator di TPST, diperoleh kondisi bahwa hampir semua insinerator beroperasi di bawah standar teknis yang dipersyaratkan bagi tercapainya operasi optimum dan minimnya dampak lingkungan. Suhu pembakaran umumnya berada di bawah 800 0C, waktu tinggal gas kurang dari 2 detik dan tidak terjadi turbulensi, sehingga sering terjadi asap yang hitam akibat pembakaran tidak sempurna. Kondisi instalasi pengendalian pencemaran udara seperti cyclone dan scrubber banyak yang tidak berfungsi dan berkarat akibat tidak tahan suhu tinggi dan lingkungan yang asam. Pengelolaan insinerator mengandalkan iuran warga namun umumnya hanya cukup untuk honor pekerja sehingga tidak ada untuk perawatan insinerator. Konflik sosial akibat asap insinerator belum terjadi karena lokasi TPST umumnya masih jauh dari permukiman warga. Kata Kunci:  insinerator, skala kecil, operasi, lingkungan

Page 1 of 4 | Total Record : 40


Filter by Year

2021 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue