cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol. 22 No. 2 (2021)" : 19 Documents clear
Pengolahan Limbah Cair Industri Pakan Ternak dengan Kombinasi Proses Aerasi dan Biologi Aerob Sumada, Ketut; Chaerani, Novika Cahya; Priambodo, Melandy Dwi; Saputro, Erwan Adi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.3967

Abstract

ABSTRACT Wastewater is unclean and contains various substances that can risk the lives of humans and animals. This waste usually comes from the results of human actions (including industrialization). Industry must apply the principle of waste control in a careful and integrated system. Aeration is one of the most widely used techniques for improving the physical and chemical characteristics of wastewater. The aerobic microbiological wastewater treatment process utilizes aerobic microbial activity in aerobic conditions to decompose organic matter in wastewater into stable inorganic substances that don’t provide pollution impacts on the environment. This study determines the best time for the aeration process to reduce Chemical Oxygen Demand (COD) or Biological Oxygen Demand (BOD) of animal feed wastewater and the volume ratio of waste, that is, the number of microorganisms to reduce COD and BOD of animal feed wastewater. The study results show that the longer the aeration contact time, the more significant the decrease in COD and BOD values. In addition, the greater the addition of microbial concentration, the more effective the reduction in COD and BOD values. Furthermore, the aeration process time with microbial concentration, which will produce the best COD and BOD reduction, is 6 hours. Unfortunately, the COD and BOD values ??still do not meet the wastewater quality standards in the aeration process. Still, with microbial concentrations, COD and BOD values ??reduction targets will be obtained in the aerobic biological process, following the wastewater quality standards. Finally, wastewater processing from the animal feed industry with a combination of aeration and aerobic biology can meet quality standards. Keywords: aerobic, anaerobic, animal feed, BOD, COD, wastewater   ABSTRAK Air limbah merupakan air yang tidak bersih atau yang mempunyai kandungan berbagai zat yang berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan. Biasanya limbah dihasilkan dari kegiatan manusia (termasuk industrialisasi) sehingga sudah sepatutnya perindustrian mengelola hasil buangannya sesuai kaidah pengolahan limbah secara terpadu, efisien, dan efektif. Aerasi merupakan salah satu teknik yang paling banyak digunakan dalam perbaikan karakteristik fisik dan kimiawi air limbah. Terdapat berbagai proses pengolahan limbah di mana salah satunya dengan memanfaatkan aktivitas mikroba aerob untuk menguraikan zat organik dalam kondisi aerob menjadi zat anorganik yang stabil yang tidak mencemari lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui waktu terbaik proses aerasi terhadap penurunan Chemical Oxygen Demand (COD) atau Biological Oxygen Demand (BOD) limbah cair pakan ternak dan mengetahui rasio volume limbah, yaitu jumlah mikroorganisme terhadap penurunan COD dan BOD limbah cair pakan ternak. Kesimpulan hasil kajian yaitu waktu pengontakan aerasi semakin lama dan penambahan konsentrasi mikroba berpengaruh pada penurunan nilai COD dan BOD dengan penurunan terbaik didapatkan pada waktu 6 jam. Nilai COD dan BOD proses biologi aerob dengan penambahan konsentrasi mikroba pada proses aerasi dan kombinasi aerasi dan biologi aerob telah memenuhi standar baku mutu limbah tetapi pada proses aerasi belum. Kata kunci: aerob, anaerob, BOD, COD, limbah cair, pakan ternak
Efek Paparan Subletal Limbah Cair Industri Penyamakan Kulit terhadap Rasio Konversi Pakan dan Laju Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Ihsan, Taufiq; Edwin, Tivany; Elza, Vira
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4091

Abstract

ABSTRACT Wastewater from the tanning industry of UPTD XX has entered the waters of Batang Anai River, West Sumatra. This wastewater quality exceeds the established quality standards and can be harmful to tilapia as a river biota. This study aimed to analyze the effect of sublethal tannery wastewater on food conversion ratio (FCR) and the specific growth rate (SGR) of tilapia. This study was conducted in three conditions: zero wastewater exposure (control), 1.85%, and 3.69% wastewater exposure. Each situation was set in triplo and observed for 28 days. We analyzed the correlation between duration exposure to the FCR and SGR by using regression and correlation analysis. Results showed an increase in the FCR value during observation in both wastewater exposure variations of 1.85% and 3.69%, with FCR values consecutively 1.19 and 1.75. At the same time, the control experiment showed a decreasing value of FCR. On the contrary, SGR values were decreased during observation in both wastewater exposure variations of 1.85% and 3.69%, consecutively 3.09% and 3.72%. While increasing SGR value was observed in the control experiment. A reliable correlation was obtained between the FCR and SGR ratio of tilapia to the exposure duration (r = 0.99). Furthermore, multivariate analysis showed a significant difference between the FCR and SGR to the variation and period of direction. It can be concluded that the longer the exposure time and the higher the concentration of exposure, decreasing the food uptake of tilapia and reducing the specific growth rate. Keywords: tilapia, ratio growth rate, tannery wastewater, feed conversion, West Sumatra   ABSTRAK Limbah cair dari industri penyamakan UPTD XX, Sumatera Barat telah memasuki perairan Sungai Batang Anai, Sumatra Barat. Kualitas air limbah ini melebihi standar kualitas yang ditetapkan dan dapat berbahaya bagi nila sebagai salah satu biota sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh air limbah penyamakan kulit terhadap Rasio Konversi Pakan (Food Conversion Ratio/FCR) dan Laju Pertumbuhan Spesifik (Specific Growth Rate/SGR) pada ikan nila. Penelitian ini dilakukan dalam tiga variasi, yakni tanpa paparan air limbah (uji kontrol), paparan air limbah 1,85% dan 3,69%. Setiap variasi dilakukan secara triplo dan diamati selama 28 hari. Korelasi antara lama paparan dengan rasio FCR serta SGR, dianalisis dengan menggunakan regresi dan analisis korelasi. Selanjutnya analisis multivariat menggunakan ANOVA two-way untuk melihat perbedaan signifikan FCR dan SGR terhadap variasi dan durasi paparan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai FCR di kedua variasi paparan air limbah 1,85% dan 3,69% dengan nilai FCR berturut-turut 1,19 dan 1,75. FCR dalam uji kontrol menunjukkan penurunan nilai FCR. Sebaliknya, nilai SGR cenderung menurun selama pengamatan pada kedua variasi paparan air limbah 1,85% dan 3,69%, dengan nilai SGR berturut-turut 3,09% dan 3,72%, sementara peningkatan nilai SGR terjadi pada uji kontrol. korelasi yang sangat kuat diperoleh dari nilai FCR dan SGR terhadap durasi paparan (r = 0,99). Selanjutnya, uji signifikansi ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan antara rasio FCR dan SGR dengan variasi dan durasi paparan air limbah. Dapat disimpulkan bahwa semakin lama waktu paparan dan semakin tinggi konsentrasi paparan air limbah, mengurangi serapan pakan ikan nila dan mengurangi tingkat pertumbuhan. Kata kunci: ikan nila, laju pertumbuhan, limbah cair penyamakan kulit, rasio konversi pakan, Sumatra Barat
Investigasi Kinerja Biofilter di Dalam Proses Pengolahan Air Minum: Studi Kasus: Instalasi Pengolahan Air Minum Palyja Taman Kota Said, Nusa Idaman; Yudo, Satmoko; Widayat, Wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4149

Abstract

ABSTRACT Taman Kota Drinking Water Treatment Plant is Palyja's drinking water treatment plant located in West Jakarta, which processes raw water from Cengkareng Drain. The Processing capacity of IPAM is 150 liters per second. Taman Kota Drinking Water Treatment Plant has a vital meaning of meeting the supply of drinking water in the West Jakarta area. In 2007, the installation stopped operating due to the poor quality of the raw water. Since 2012 the process has been modified by adding a biofiltration process to reduce pollutants, especially ammonia. This study aims to investigate the performance of the biofilter of the Taman Taman Water Treatment Plant after operating for eight years since the process was modified in 2012 by analyzing sampling data. Sampling was carried out every day from January 2019 to January 2020, and the parameters examined were pH, turbidity, ammonium, manganese and dissolved oxygen. In the biofiltration process with a 12–36 minutes contact time in a biofiter reactor, an average ammonium reduction was 42.8%, and the manganese reduction efficiency was 42.78%. The rapid sand filtration process can reduce ammonium concentration with an average efficiency of 49.04%. Using aerobic biofiltration process can significantly increase dissolved oxygen concentration; increasing the concentration of dissolved oxygen can reach 223.45%. The results study shows that the biofiltration process using honeycomb plastic media can reduce water pollutants, such as ammonia and manganese. It can be seen that the most significant portion of the reduction of ammonium concentration occurs in the process of biofiltration and rapid sand filtration. Keywords : biofilter, drinking water, treatment, ammonium   ABSTRAK Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Taman Kota, Jakarta Barat adalah instalasi pengolah air baku milik Palyja yang mengolah air baku dari Cengkareng Drain, Jakarta Barat. Kapasitas pengolahan IPAM adalah 150 liter per detik. Instalasi Pengolahan Air Minum Taman Kota mempunyai arti penting untuk memenuhi suplai air minum di wilayah Jakarta Barat. Pada tahun 2007, IPAM Taman Kota telah berhenti beroperasi disebabkan karena kualitas air bakunya yang buruk. Sejak tahun 2012 telah dilakukan modifikasi proses dengan menambahkan proses biofiltrasi untuk menurunkan konsentrasi polutan khususnya amoniak. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan investigasi kinerja proses biofilter IPAM Taman Kota yang telah beroperasi selama delapan tahun sejak dilakukan modifikasi proses pada tahun 2012 dengan melakukan analisa data sampling. Pengambilan sample dilakukan setiap hari dari bulan Januari 2019 sampai Januari 2020, dan parameter yang diperiksa yakni pH, kekeruhan, amonium, mangan dan oksigen terlarut. Dalam proses biofiltrasi dengan waktu kontak 12–36 menit di dalam reaktor biofiter didapatkan penurunan amonium rata-rata 42,8%, dan efisiensi penurunan mangan 42,78%. Proses filtrasi pasir cepat dapat menurunkan konsentrasi amonium dengan efisiensi penurunan rata-rata 49,04%. Dengan proses biofiltrasi aerobik dapat meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut dengan sangat signifikan, peningkatan konsentrasi oksigen terlarut dapat mencapai 223,45%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa proses biofiltrasi menggunakan media plastik tipe sarang tawon dapat menurunkan polutan pencemar yang di dalam air misalnya amonia dan mangan serta dapat diketahui bahwa porsi penurunan konsentrasi amonium yang terbesar terjadi di proses biofiltrasi dan filtrasi pasir cepat. Kata kunci : biofilter, air minum, pengolahan, amonium
Reactive Black 5 (RB5): Pengolahan Air Limbah Tekstil dengan Adsorbsi Menggunakan Powdered Karbon Aktif Septiariva, Iva Yenis; Suryawan, I Wayan Koko; Sarwono, Ariyanti
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4523

Abstract

ABSTRAK Umumnya, industri tekstil menggunakan berbagai pewarna sintetis yang menghasilkan air limbah yang sangat berwarna. Oleh karenaitu, air limbah tekstil ini harus diolah sebelum dibuang ke lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyisihan warna dengan teknik adsorpsi menggunakan karbon aktif. Metode ini dianggap sebagai teknologi berbiaya rendah dan perawatan yang mudah untuk pengolahan air limbah. Proses adsorpsi batch dilakukan dengan waktu kontak yang berbeda yaitu 5–60 menit dan variasi konsentrasi awal yang mengandung Reactive Black 5 (RB-5) sebesar 5 mg/L; 10 mg/L; 15 mg/L; dan 20 mg/L. Azo-Reactive Black-5 adalah material pewarna yang digunakan untuk membuat air limbah artifisial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adsorpsi menurunkan kadar konsentrasi warna masing-masing sebesar 86,21%, 85,21%, 84,29%, dan 71,07% selama 60 menit. Peningkatan konsentrasi zat warna dalam air limbah menyebabkan efisiensi penghilangan warna yang rendah. Selain itu, penelitian mengevaluasi efektivitas adsorpsi batch oleh karbon aktif karena efisiensi penghilangan warna dapat mencapai lebih dari 50% setelah waktu kontak 30 menit. Hal ini terlihat pada konsentrasi awal 5 mg/L dan 20 mg/L dengan efisiensi penyisihan sebesar 66,18% dan 53,97%. Kinetika adsorpsi yang sesuai untuk pendekatan pemodelan pada penelitian ini adalah Langmuir isotherm dengan nilai r2 yang lebih besar dan mendekati nilai 1 yaitu 0,9756. Estimasi kapasitas adsorpsi maksimum yang diperoleh dari model sebesar 4,353 mg/g. Kata kunci: Air limbah tekstil, warna, adsorpsi, efisiensi penyisihan   ABSTRACT Generally, the textile industry uses various synthetic dyes that produced a large amount of highly colored wastewater. This research aims to investigate the color removal by adsorption using powdered activated carbon. This method is considered viable due to cost effective and ease of maintenance for wastewater treatment. The batch adsorption process was carried out at different contact times of 5–60 minutes and varied initial dye concentration containing azo-Reactive Black 5 (RB-5) of 5 mg/L; 10 mg/L; 15 mg/L; and 20 mg/L. A synthetic RB-5 was prepared  as the artificial wastewater to simulate the actual wastewater. The adsorption  proceeded initially with higher rates and gradually slowed down until reached a constant value due to the carbon surface's saturation with increasing contact time.The results showed that, at different initial dye concentration, the adsorption process decreased color concentration for 60 minutes by 86.21%, 85.21%, 84.29%, and 71.07% respectively. The increase of initial dye concentration lowers color removal efficiency. Besides, the effectiveness of adsorption by activated carbon was found more than 50% after 30 minute of contact time. The efficiency removal presented initial concentration of 5 mg/ and 20 mg/L was 66.18% and 53.97%, respectively. Langmuir and Freundlich isotherm were also plotted to assess the kinetics of adsorption. Langmuir isotherm gave the best modelling approach for adsorption kinetics as indicated by higher coefficient of determination (r2) of 0.9756. An estimated maximum adsorption capacity obtained from the model was 4.353 mg/g. Keywords: Textile wastewater, color, adsorption, removal efficiency
Produksi Bersih Pengolahan Limbah Cair Menggunakan Decanter pada PT Aetra Air Jakarta Sukwika, Tatan; Muhammad, Said Azmi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4583

Abstract

ABSTRACT Clean water process production by PT Aetra Air Jakarta (AAJ) emits a lot of wastewater. All this time, a sludge drying bed is used for its production activities, where the sludge produced is not proportional to the area and length of drying time, so the unsatisfied sludge is eventually dumped into the water body. In line with the need to improve the quality of operational activities, clean water service providers are trying to create zero waste. They are environmentally friendly through the use of a decanter. The research objective was to determine the amount of sludge treated in the wastewater treatment process and measure water removal efficiency in sludge using a decanter. Methods of data collection through observation and testing of wastewater treatment using a decanter. The decanter treatment process starts from taking the sludge sample before it is processed; the sludge treatment process begins entering the decanter until the sludge is finished processing. The results showed that the average volume of sludge was 24.84 m3, and the water removal efficiency was between 89–91%. The conclusion is that the set inflow rate is directly proportional to TSS while the efficiency of TSS water removal in the sludge is smaller so that the use of a decanter is greater. It recommended that the residual processing sludge be used as raw material for fertilizer production. The Pb and Zn content in the sludge does not exceed the quality standard. Keywords: decanter, clean production, TSS, sludge volume   ABSTRAK Air bersih yang diproduksi oleh PT Aetra Air Jakarta (AAJ) mengeluarkan banyak limbah cair. Selama ini, kegiatan produksinya digunakan sludge drying bed, dimana lumpur yang dihasilkan tidak sebanding dengan luas dan lamanya waktu pengeringan, sehingga lumpur yang tidak tertampung akhirnya terbuang ke badan air. Seiring kebutuhan perbaikan kualitas kegiatan operasional, penyedia layanan air bersih berupaya menciptakan zero waste dan ramah lingkungan melalui penggunaan decanter. Tujuan penelitian menentukan jumlah lumpur yang diolah pada proses pengolahan limbah cair dan mengukur efisiensi penyisihan air pada limbah lumpur menggunakan alat decanter. Metode pengumpulan data melalui pengamatan dan pengujian pengolahan limbah cair menggunakan decanter. Proses pengolahan decanter dimulai dari pengambilan sampel lumpur sebelum diolah, proses pengolahan lumpur dari awal masuk ke decanter sampai lumpur selesai diolah. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata volume lumpur sebesar 24,84 m3, dan efisiensi penyisihan air antara 89–91%. Kesimpulannya adalah set inflow rate berbanding lurus dengan TSS sedangkan efisiensi penyisihan air TSS pada limbah lumpur semakin kecil sehingga penggunaan decanter menjadi lebih besar. Direkomendasikan agar lumpur sisa pengolahan dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan pupuk dengan syarat kandungan Pb dan Zn dalam lumpur tidak melebihi baku mutu. Kata kunci: decanter, produksi bersih, TSS, volume lumpur
Penanganan Sampah Plastik pada Produksi Paving Block Zainuri, Zainuri
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4586

Abstract

ABSTRACT Efforts to handle waste are continuously carried out, starting from the lowest layer, namely households, to large factories that produce garbage every day. Waste production that is not balanced with the handlers causes waste to be a problem for the environment. One type of waste that is difficult to decompose by nature (non-biodegradable) is plastic waste, which occupies the most considerable quantity of other types of waste. Based on statistical data, the amount of non-biodegradable waste that is disposed of in the final disposal site every day in several cities in Indonesia is 6,598.23 tons/day. This study aims to calculate the reduction in plastic waste if it is used in making paving blocks. Almost all variations are included in quality D outlined in SNI 03-0691-1996. Only two variations have below the required standard, namely 10% plastic: 90% sand and 60% plastic: 40% sand. In the variation 70% plastic: 30% sand, the plastic weight needed is 796.32 kg and in the variation 80% plastic: 20% sand, the need for plastic waste drops to 793.60 kg. The variation 70% plastic: 30% sand is recommended for production because it absorbs the most plastic waste from the calculations made. This study concluded that the potential for reducing plastic waste if it is used for the production of paving blocks is 3.9816 tons/day in the job mix with a variation of 70% plastic: 30% sand. Keywords: inorganic, paving blocks, plastic, garbage   ABSTRAK Upaya penanganan sampah terus dilakukan mulai dari lapisan terbawah yaitu rumah tangga hingga pabrik besar yang menghasilkan sampah setiap hari. Produksi sampah yang belum berimbang dengan penanganan menyebabkan sampah masih menjadi masalah bagi lingkungan. Salah satu jenis sampah yang sulit diuraikan oleh alam (non-biodegradable) adalah sampah plastik, menempati kuantitas terbesar dari jenis sampah lainnya. Berdasarkan data statistik, jumlah sampah non-biodegradable yang dibuang ke TPA sampah setiap hari di beberapa kota di Indonesia sebesar 6.598,23 ton/hari. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung potensi pengurangan sampah plastik apabila dimanfaatkan dalam pembuatan paving block. Hampir semua variasi masuk dalam mutu D yang digariskan dalam SNI 03-0691-1996. Hanya dua variasi memiliki kekuatan di bawah standar yang disyaratkan yaitu variasi 10% plastik: 90% pasir dan 60% plastik: 40% pasir. Pada variasi 70% plastik: 30% pasir, berat plastik yang dibutuhkan 796,32 kg dan pada variasi plastik 80%: 20% pasir, kebutuhan sampah plastik turun menjadi 793,60 kg. Dari perhitungan yang dilakukan maka variasi 70% plastik: 30% pasir yang direkomendasikan untuk diproduksi sebab menyerap paling banyak sampah plastik. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa potensi pengurangan sampah plastik jika dimanfaatkan untuk produksi paving block adalah sebesar 3,9816 ton/hari pada job mix dengan variasi 70% plastik: 30% pasir. Kata kunci: non-biodegradable, paving block, plastik, sampah
Traffic-related Noise at Roadside Schools: Assessment and Prediction in Urban Setting Dirgawati, Mila; Apriani, Gita Nur; Asyari, Astien Arsten; R. Triyogo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4607

Abstract

ABSTRAK Kebisingan lalu lintas adalah salah satu ancaman bagi kesehatan masyarakat perkotaan. Paparan bising memberikan efek kesehatan jangka pendek dan panjang, dan efeknya berpotensi lebih buruk pada anak-anak yang belajar di sekolah pinggir jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi kebisingan lalu lintas jalan di sekolah-sekolah yang terletak di jalan-jalan utama di Bandung, Indonesia serta memberikan rekomendasi mitigasi dan adaptasi untuk pengendalian kebisingan. Kebisingan lalu lintas diperoleh di dua sekolah pinggir jalan terletak di dua jalan utama (Jalan Suci dan Djuanda), beserta data volume dan komposisi lalu lintas, serta kecepatan kendaraan. Pengukuran dilakukan antara jam sekolah selama satu hari yang mewakili lokasi trotoar jalan, depan sekolah, dan halaman sekolah. Parameter tingkat kebisingan yang penting (Leq, L10, L50, L90) diukur, dan dilakukan analisis korelasi antara masing-masing parameter kebisingan. Model CoRTN digunakan untuk memprediksi kebisingan lalu lintas pada jarak tertentu dari jalan raya. Sepeda motor merupakan jenis kendaraan dominan secara berturut 79,1% dan 67,1% dari total volume kendaraan di ruas jalan Suci dan Djuanda. Kendaraan berat menyumbang <1%. Mayoritas kebisingan lalu lintas yang diukur sebagai Leq, L10, L50, L90 melebihi batas maksimum untuk pinggir jalan dan zona sekolah menurut standar internasional dan nasional <55 dBA). Model tersebut berkinerja lebih baik di ruas jalan Djuanda daripada Suci. Jumlah lokasi dan waktu pengukuran yang lebih banyak dapat memberikan penilaian paparan tingkat kebisingan lalu lintas yang lebih baik dengan menggunakan model CoRTN. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan kebijakan berbasis pengetahuan bagi pemerintah kota dan lembaga untuk mengurangi dampak bising bagi anak didik. Kata kunci: kebisingan lalu lintas jalan, tingkat kebisingan, Model CoRTN   ABSTRACT Noise from road traffic is one of the most ubiquitous threats to the public health in urban setting. Its exposures have proven short-and long-term health effects. and potentially worse for vulnerable population such as children studying at roadside schools. This study aimed to characterize the road traffic noise at schools located at major roads in Bandung, Indonesia. Traffic noise were obtained at 2 roadside schools located at two major roads (Suci and Djuanda roads), along with data on traffic volume and composition, and vehicles speed. The measurement was conducted between school hours during one day-time only at locations representative of roadside, front of the schools, and schoolyard. Important noise level parameters such as Leq, L10, L50, L90 were recorded, and correlation analysis between each parameter was conducted. The CoRTN model was then applied to predict the traffic noise at particular distances from the road. Motorcycles were the predominant vehicle type on both road segments: 79.1% and 67.1% of the total vehicle volume on Suci on Djuanda segments, respectively.  Conversely, heavy vehicles accounted <1%. The majority of measured traffic noise determined as Leq, L10, L50, L90 exceeded the maximum limit for roadside and school zone set by the international and national standard (>55 dBA). The model performed better in Djuanda road segment than in Suci segment. More measurement locations and time could provide better assessment of exposure to traffic noise levels at roadside schools using the CoRTN model. Keywords: road traffic noise, noise level, CoRTN model
Life Cycle Assessment (LCA) Pengelolaan Sampah di TPA Gunung Panggung Kabupaten Tuban, Jawa Timur Ula, Rahmah Arfiyah; Prasetya, Agus; Haryanto, Iman
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4690

Abstract

ABSTRACT The primary municipal waste treatment in Tuban Regency, East Java, was landfilling, besides the small amount of the waste was turned to compost. Landfilling causes global warming, which leads to climate change due to CH4 emission. This environmental impact could be worst by the population growth that increases the amount of waste. This study aimed to evaluate the environmental impact on waste management in the Gunung Panggung landfill in Tuban Regency and its alternative scenarios using Life Cycle Assessment (LCA). Four scenarios were used in this study. They are one existing scenario and three alternative scenarios comprising landfilling, composting, and anaerobic digestion. The scope of this study includes waste transportation to waste treatment which is landfilling, composting, and anaerobic digestion (AD). The functional unit of this analysis is per ton per year of treated waste. Environmental impacts selected are global warming potential, acidification potential, and eutrophication potential. The existing waste management in Gunung Panggung landfill showed the higher global warming potential because of the emission of CO2 and cost for human health, which is 6.379.506,17 CO2 eq/year and 5,92 DALY, respectively. Scenario 3 (landfilling, composting, and AD; waste sortation 70%) showed a lower environmental impact than others, but improvements were still needed. Covering compost pile or controlling compost turning frequency was proposed for scenario 3 amendment. Keywords: environmental impact, landfill, life cycle assessment, waste management   ABSTRAK Landfill merupakan pengelolaan sampah utama di tempat pemrosesan akhir (TPA) Gunung Panggung Kabupaten Tuban. Selain landfill, pengomposan diterapkan untuk mengolah sebagian kecil sampahnya. Landfill menghasilkan gas metana yang menyebabkan pemanasan global dan memicu perubahan iklim. Pertambahan penduduk memperbanyak sampah yang perlu diolah di TPA dan dapat memperparah dampak lingkungan yang ditimbulkan. Tujuan penelitian ini adalah menilai dampak lingkungan dari pengelolaan sampah eksisting di TPA Gunung Panggung Kabupaten Tuban Jawa Timur beserta skenario alternatifnya menggunakan Life Cycle Assessment (LCA). Terdapat satu skenario eksisting dan tiga skenario alternatif pengelolaan sampah yaitu landfilling, pengomposan, dan fermentasi anaerob (anaerobic digestion). Ruang lingkup studi meliputi pengangkutan sampah, pengelolaan sampah dengan cara pengomposan, Anaerobic Digestion (AD), dan landfill. Satuan fungsional yang digunakan yakni ton sampah yang diolah per tahun. Dampak lingkungan yang dipelajari di antaranya: pemanasan global, asidifikasi, dan eutrofikasi. Dampak lingkungan skenario eksisting menunjukkan nilai tertinggi terutama pada pemanasan global (6.379.506,17 CO2eq/tahun) dan kerugian pada kesehatan manusia (5,92 DALY). Skenario alternatif 3, yang meliputi pengelolaan secara landfill, pengomposan, dan AD menunjukkan dampak lingkungan yang kecil, namun memerlukan perbaikan. Perbaikan untuk skenario 3 yaitu dengan menambahkan penutup pada tumpukan kompos atau mengontrol frekuensi pembalikan kompos untuk mengurangi emisi NH3. Kata kunci: dampak lingkungan, life cycle assessment, pengelolaan sampah, tempat pemrosesan akhir
Pembentukan Pupuk Struvite dari Limbah Cair Industri Tempe dengan Proses Aerasi Edahwati, Luluk; Sutiyono; Anggriawan, Rizqi Rendri
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4721

Abstract

ABSTRACT Struvite, also known as magnesium ammonium phosphate hexahydrate, is a white crystal with a chemical formula magnesium ammonium phosphate hexahydrate (MgNH4PO4.6H2O). Because of its phosphate content, struvite can be utilized as a fertilizer. Tempeh industrial effluent contains a high concentration of PO4, making it a possible struvite fertilizer producing material. The formation of struvite fertilizer is carried out by the aeration process. This process is able to increase the pH and homogeneity of the solution. The solution of Magnesium Ammonium Phosphate (MAP) is prepared by reacting tempeh industrial wasterwater, Magnesium Chloride (MgCl2), and Ammonium Hydroxide (NH4OH). The MAP ratios used are 1:1:1 and 3:1:1. The temperature was set at 30 °C and pH 9, the airflow rate was carried out at a rate of 0.25 - 1.25 liters per minute. Struvite crystals were analyzed using X-ray Fluorescence (XRF) and Scanning Electron Microscope (SEM). The best struvite fertilizer content is magnesium by 40.3% and phosphorus by 43.9% at an air flow rate of 1.25 liters per minute and a ratio of 3:1:1. Further development can be done by applying struvite fertilizers to plants.  Keywords: aeration, crystallization, tempeh industrial wastewater, struvite   ABSTRAK Struvite adalah kristal putih yang secara kimiawi dikenal sebagai magnesium amonium fosfat heksahidrat (MgNH4PO4.6H2O). Struvite dapat dimanfaatkan menjadi pupuk karena kandungan fosfat (PO4) di dalamnya. Limbah cair industri tempe memiliki kandungan PO4 yang cukup tinggi, menjadikan limbah cair industri tempe adalah bahan pembentuk pupuk struvite yang potensial. Pembentukan pupuk struvite dilakukan dengan proses aerasi. Proses ini mampu meningkatkan pH dan homogenitas dari larutan. Larutan MAP (Magnesium Amonium Fosfat) dibuat dengan cara mereaksikan limbah cair industri tempe, Magnesium Klorida (MgCl2), dan Amonium Hidroksida (NH4OH). Rasio MAP yang digunakan adalah 1:1:1 dan 3:1:1. Temperatur ditetapkan sebesar 30°C dan pH 9, laju alir udara dilakukan dengan laju 0,25 - 1,25 liter per menit. Kristal struvite dianalisis menggunakan Floresensi sinar-X (XRF) dan Mikroskop Pemindai Elektron (SEM). Kandungan pupuk struvite terbaik adalah magnesium sebesar 40,3% dan fosfor sebesar 43,9% pada konsentrasi 3:1:1 dan laju alir udara 1,25 liter per menit. Pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan dengan mengaplikasikan pupuk struvite ke tanaman. Kata Kunci: aerasi, kristalisasi, limbah cair industri tempe, struvite
Perhitungan Reduksi Emisi Gas Buang Melalui Penentuan Rute Distribusi Beras di Kota Bandung Fauzi, Muchammad; Sopandi, Deryl Baharudin; Hartati, Verani
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4742

Abstract

ABSTRACT Total transport energy use and carbon emissions in 2030 are estimated to be about 80% higher than at present. West Java's transportation sector emissions are projected to occupy the third position in the third-largest contributor to GRK emissions, amounting to 21.9 million tons of CO2. The West Java Provincial Government aims to reduce 3.18 million tons of CO2 eq for the energy sector and 1.1 million tons of CO2 eq for the transportation sector. Of course, this is a challenge for the government because the volume of truck logistic systems continues to increase, especially in Bandung. The purpose of this study is to determine the value of truck exhaust emissions produced and to know what strategies should be taken to reduce exhaust emissions based on the selection of distribution routes for rice distribution in Bandung City. This study uses an ILP model with a Matlab solver that compares the total mileage, the number of vehicles, and total transportation costs in two distribution systems, namely direct delivery and shared delivery. In this study, the scenario of the transport capacity was changed according to the use of the truck type fuso tub, changing the type of truck that has a larger capacity, and calculating the value of exhaust emissions for trucks in both new scenarios and two distribution systems. The results showed, to reduce exhaust emissions by adjusting the number of vehicles and the minimum total mileage through increased transport capacity and sharing delivery systems, this strategy can reduce exhaust emissions by 21.92% for each composition.  Keywords: transportation, rice distribution, sharing delivery, emission reduction, exhaust emission   ABSTRAK Total penggunaan energi transportasi dan emisi karbon pada tahun 2030 diperkirakan menjadi sekitar 80% lebih tinggi daripada kondisi saat ini. Pada emisi sektor transportasi Jawa Barat diproyeksikan pada tahun 2020 menempati posisi ketiga terbesar penyumbang emisi GRK sebesar 21,9 juta ton CO2. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki target menurunkan 3,18 juta ton CO2-eq untuk sektor energi dan 1,1 juta ton CO2-eq untuk sektor transportasi. Tentu hal ini menjadi tantangan pemerintah karena faktanya pada sistem logistik volume kendaraan truk terus meningkat khususnya di Kota Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai emisi gas buang kendaraan truk yang dihasilkan dan mengetahui strategi apa yang harus diambil untuk menurunkan emisi gas buang berdasarkan pemilihan rute distribusi untuk distribusi beras di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan model ILP dengan solver Matlab yang membandingkan total jarak tempuh, jumlah kendaraan, dan total biaya transportasi pada dua sistem distribusi yaitu pengiriman langsung dan pengiriman berbagi. Pada penelitian ini skenario kapasitas angkut diubah sesuai dengan penggunaan armada angkut truk jenis fuso bak, mengubah jenis truk yang memiliki kapasitas lebih besar, serta menghitung nilai emisi gas buang untuk kendaraan truk pada kedua skenario baru dan dua sistem distribusi. Hasil penelitian menunjukkan, dengan mengatur jumlah kendaraan dan total jarak tempuh minimum melalui peningkatan kapasitas angkut dan penggunaan sistem pengiriman berbagi, dapat menurunkan emisi gas buang sebesar 21,92% untuk setiap komposisinya. Kata kunci: transportasi, distribusi beras, pengiriman berbagi, reduksi emisi, emisi gas buang

Page 1 of 2 | Total Record : 19


Filter by Year

2021 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue