cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN" : 26 Documents clear
SISTEM JARINGAN KELEMBAGAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN PANTAI Wibowo, Mardi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.258

Abstract

Lingkungan pantai merupakan suatu kawasan yang spesifik, dinamik, memiliki kekayaan habitat yang beragam di darat maupun di laut. Luas lahan kawasan pantai sangat terbatas padahal pemanfaatannya semakin lama semakin meningkat sehingga sering terjadi konflik kepentingan antar sektor yang membutuhkannya. Di lain pihak belum ada dukungan data, informasi dan koordinasi antar instansi yang sistematis, efektif dan efisien dalam masalah pengelolaan lingkungan pantai. Selama ini pengumpulan, penyimpanan, pengolahan data dan informasi serta penentuan kebijakan dilakukan secara sektoral oleh berbagai instansi yang terkait dan sering tidak terjadi koordinasi dan keterpaduan program dan kebijakan. Ditambah lagi masih belum ada kepastian siapa yang berwenang dalam perencanaan dan pengelolaan lingkungan pantai (belum ada sistem atau model jaringan kelembagaan yang baik). Untuk itu dibutuhkan komitmen dan peran sertastakeholders di daerah baik di tingkat propinsi, kabupaten/kota, dan desa-desa, untuk bersama-sama aktif dalam pengelolaan sumberdaya pantai, yang kemudian dituangkan dalam peraturan perundangan yang mengatur kewenangan masing-masing. Selain itu diperlukan mekanisme koordinasi yang jelas dan tegas baik koordinasi horisontal maupun vertikal serta melibatkan peran aktif masyarakat luas dalam mekanisme pengawasan.
IDENTIFIKASI KUALITAS GAS SO2 DI DAERAH INDUSTRI PENGECORAN LOGAM CEPER Wiharja, Wiharja
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.263

Abstract

Di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten telah lama berkembang industripengecoran logam. Untuk mengantisipasi pengeruh aktifitas industri tersebutterhadap kualitas udara disekitarnya, khususnya konsentrasi SO2 maka penelitian ini dilakukan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa konsentrasi gas SO2 udara ambient di wilayah pengecoran logam masih jauh dibawah nilai ambang batas yang diperlukan, sehingga keberadaannya tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat disekitarnya.
PERAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA LINGKUNGAN PERAIRAN DAS CITARUM BERKELANJUTAN Soetrisno, Yudhi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.254

Abstract

Sumberdaya lingkungan perairan daerah aliran sungai (SDLP-DAS) Citarum yang telah banyak memberikan manfaat dan berperan dalam pembangunan telah rusak dan tercemar sangat berat oleh sedimen dan berbagai limbah; baik limbah cair maupun padat yang langsung ataupun tidak langsung dibuang oleh manusia kedalamnya. Oleh karena itu maka perlu dirumuskan sebuah strategi pengelolaan dan teknologi lingkungan yang dapat merehabilitasi/ memulihkan SDLP DAS Citarum sehingga perannya dapat berkelanjutan.Kristalisasi dari literatur dan diskusi fanel yang telah dilaksanakan untukmengidentifikasi jenis-jenis teknologi lingkungan yang dibutuhkan dalampengelolaan SDLP DAS Citaerum menyimpulkan bahwa pengelolaan sumberdaya lingkungan perairan daerah aliran sungai (SDLP-DAS) Citarum yang berkelanjutan dan berkeadilan untuk kesejahteraan masyarakat akan dapat terwujud jika dan hanya jika didukung oleh semua stakeholders, dengan melalui koordinasi aktif yang dilandasi rasa empati dan didukung dengan penerapan teknologi lingkungan dan teknologi ramah lingkungan.
PERENCANAAN PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR Djunaedi, Achmad
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.259

Abstract

Wilayah pantai/pesisir mempunyai karakter yang spesifik dibandingkan dengan kawasan yang lain. Wilayah ini merupakan agregasi dari berbagai komponen ekologi dan fisik yang saling terkait dan saling berinteraksi. Pembangunan dengan memanfaatkan sumberdaya pantai tanpa memperhatikan prinsip-prinsip ekologis akan dapat merusak fungsi ekosistem pantai.Pengembangan wilayah pada kawasan pesisir sebagaimana pengembangan wilayah pada kawasan lainnya, mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini dilakukan melalui perencanaan pengembangan dalam suatu proses yang didalamnya terdapat berbagai pendekatan yang harus diperhatikan.Dewasa ini pembangunan pada kawasan pantai berkembang sangat pesat dan ditunjukkan dengan adanya multi kegiatan, misalnya usaha tambak, nelayan, pengusaha industri, hotel dan rekreasi wisata, dan usaha-usaha. Dengan semakin meningkat dan kompleksitas kegiatan didalamnya maka perlu dilakukan perencanaan pengembangan kawasan pantai/pesisir.Pengelolaan wilayah pantai secara terpadu (Intergrated Coastal ZoneManagement) merupakan kunci bagi pembangunan melalui pemecahan problem dan konflik di wilayah pantai yang sangat pelik dan kompleks.
TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR SADAH widayat, wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.264

Abstract

Air merupakan merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan. Jika kebutuhanakan air belum terpenuhi baik secara kuantitas maupun kualitas, maka akan menimbulkan dampak yang besar terhadapkerawanan kesehatan maupun sosial. Kualitas air meliputi persyaratan fisik, kimia dan bakteriologis yang merupakan suatu kesatuan, sehingga apabila ada satu parameter yang tidak memenuhi syarat, maka air tersebut tidak layak untuk digunakan. Salah satu parameter kimia dalam persyaratan kualitas air adalah jumlah kandungan unsur Ca2+ dan Mg2+ dalam air yang keberadaannya biasa disebut kesadahan air. Kesadahan dalam air sangat tidak dikehendaki baik untuk penggunaan rumah tangga maupun untuk penggunaan industri. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satu alternatif adalah mengolah air tanah atau air sumur setempat sehingga didapatkan air siap minum yang dengan kualitas yang memenuhi persyaratan.
PROSES NITRIFIKASI DENGAN SISTEM BIOFILTER UNTUK PENGOLAHAN AIR LIMBAH YANG MENGANDUNG AMONIAK KONSENTRASI TINGGI Marsidi, Ruliasih
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.255

Abstract

Limbah cair yang mengandung amoniak pada masa industrialisasi saat ini semakin banyak jumlahnya, karena semakin berkembangnya pabrik-pabrik yang memproduksi produk yang mengandung unsur nitrogen. Berdasarkan hal ini telah dilakukan penelitian dalam upaya untuk memperoleh suatu sistem pengolahan yang cukup sederhana yang dapat diterapkan di industri-industri kecil. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan pengolahan limbah yang mengandung amoniak konsentrasi tinggi dengan menerapakan sistem nitrifikasi biologis yang menggunakan reaktor biofilter tercelup. Dari hasil Penelitian diharapkan dapat diperoleh karakteristik proses nitrifikasi yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar pembuatan alat pengolahan limbah amoniak. Penelitian ini merupakanpenelitian awal, karena hanya melakukan proses nitrifikasi yaitu suatu proses penurunan/penghilangan zat amoniak, yang kemudian hasil dari proses ini masih menghasilkan zat polutan nitrit dan nitrat, karena proses nitrifikasi adalah proses perubahan zat amoniak menjadi nitrit dan nitrat. Oleh karena itu penelitian ini disebut tahap awal karena untuk menghasilkan hasil olahan yang memenuhi standar baku air limbah, perlu dilakukan proses selanjutnya untuk menghilangkan nitrit dan nitrat yaitu melalui proses denitrifikasi. Hasil percobaan proses nitrifikasi yang telah dilakukan menghasilkan penurunan rata-rata amoniak sebesar 97,98 %, dengan volume reaktor (15x20x150)cm atau 45 liter, kapasitas maximum 4,8 l/jam dan waktu tinggal 24 jam.
TEKNOLOGI PEMANFAATAN LAHAN MARGINAL KAWASAN PESISIR Gunadi, Sunarto
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.260

Abstract

Lahan pesisir sesuai dengan ciri-cirinya adalah sebagai tanah pasiran, dimana dapat dikategorikan tanah regosal seperti yang terdapat di sepanjang pantai selatan berupa bukit – bukit pasir terbentuk dari pasir pantai berasal dari abu vulkanik.Disamping sistem tanah lahan kawasan pesisir yang mempunyai sifat marginal, sistem atmosfernya, juga mempunyai ciri kecepatan angin yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan tenaganya untuk menaikkan air sumur melalui kincir angin.Usaha budidaya pertanian pada awalnya selalu memperhitungkan kesesuaian lahan agar proses produksi dapat berjalan dengan baik. Artinya secara potensi alam, proses interaksi hubungan komponen dalam ekosistem pertanian dapat berlanjut tanpa input bantuan material dari manusia. Namun makin hari lahan yang sesuai potensinya makin berkurang dan jarang. Hal ini mendorong manusia dalam usaha proses produksi biomasa pertanian memilih lahan alternatif yang mempunyai keterbatasan-keterbatasan, sehingga diperlukan input teknologi.Peluang pemanfaatan teknologi di lahan kawasan pesisir diantaranya berupa teknologi perbaikan sifat fisik, kimiawi dan organisme tanah agar interaksi tanah – air – tanaman dapat terwujud dengan baik. Wujud teknologi lain adalah interaksi antara tanaman dan atmosfir, karena di lahan kawasan pantai perlu mendapatkan perhatian adalah tersedianya cukup energi matahari, angin dan energi biomas.
TEKNOLOGI USAHATANI KONSERVASI TERPADU KONSEP PEMBANGUNAN BERBASIS KESERASIAN LINGKUNGAN Sudaryono, Sudaryono
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.256

Abstract

Sebagian besar sumber daya lahan di Indonesia merupakan lahan kering yang memiliki potensi untuk usaha pertanian. Pada umumnya kawasan lahan kering tersebut memiliki topografi dari landai sampai terjal, sehingga apabila dimanfaatkan untuk usahatani sangat rentan terhadap erosi. Tingkat erosi yang tinggi merupakan masalah serius terhadap kelestarian sumberdaya lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) dibagian hulu, dan menimbulkan pengaruh negatif di DAS bagian hilir.Usahatani pada lahan kering menghadapi problema yang sangat kompleks,beragam dan beresiko tinggi, oleh karena itu diperlukan penelitian dengan strategi pendekatan pengelolaan secara terpadu. Penelitian dan pengembangannya melibatkan berbagai disimplin ilmu (interdisipliner). institusi (interinstitusi) dan petani sebagai pengelola utamanya.Pengembangan sistem usaha tani konservasi terpadu pada sub DAS Prambanan hulu dengan tujuan mencari solusi pengembangan teknologi alternatif serta upaya mengendalikan erosi, ternyata telah mendapat respon positif baik oleh petani binaan maupun non-binaan.
PENGEMBANGAN DAN PEMBERLANJUTAN TEKNOLOGI PEMANTAUAN LINGKUNGAN PERAIRAN LAUT (SEAWATCH INDONESIA) purwanta, wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.261

Abstract

Sebagai sebuah infrastruktur yang bernilai investasi tidak sedikit, upaya menjaga kesinambungan sistem Seawatch sangatlah penting.Secara umum permasalahan yang muncul dalam pengoperasian dan pengembangan sistem ini dapat dikategorikan sebagai masalah teknis dan non-teknis. Secara teknis masalah yang terjadi pada sistem buoy sebagian besar disebabkan oleh faktor ketidak-akraban lingkungan laut bagi sistem elektronik. Sementara pada aspek teknis pada pusat kendali lebih kepada aspek keandalan (reliability) sistem dan masalah penyebaran termasuk pengaturan aksesnya. Adapun faktor non-teknis utama adalah aspekyang berkaitan dengan ekonomi dalam arti apakah nilai tambah yang dihasilkan sistem Seawatch sebanding dengan biaya pengadaan, pengembangan, dan operasionalnya. Dalam menjaga kesinambungan ke depan suatu upaya bagaimana menekan biaya operasional dan meningkatkan manfaat dan kemanfaatan data dan atau informasi yang dihasilkan menjadi penting. Peningkatan kemampuan pada aspek teknik-praktis-operasional dan peningkatan pemahaman (meaning atau know-how) pada sistem pemantauan diperlukan agar diperoleh pilihan-pilihan pengukuran dan koleksi data yang lebih ekonomis. Sementara penyebaran data dan informasi yang ada perlu segera dilakukan dalam kaitan memberi manfaat dalam jangka panjang khususnya dalam pembangkitan arti pentingnya data dan informasi kelautan.
AGENDA 21, GEF DAN ALIH TEKNOLOGI Kuswartojo, Tjuk
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.252

Abstract

Agenda 21 adalah program aksi dunia untuk pembangunan berkelanjutan yang disepakati oleh 178 Negara, termasuk Indonesia. Agenda 21 ini terdiri dari empat bagian, bagian pertama tentang program yang berkaitan dengan dimensi sosial ekonomi, bagian kedua tentang pengelolaan sumberdaya dan pencemaran, bagian ketiga tentang program untuk penguatan kelompok utama dan keempat program pengembangan sarana implementasi. Pada bagian keempat ini antara lain dicantumkan komitmen negara maju untuk memberikan 0,7% GNP nya bagi negara berkembang untuk pengelolaan lingkungan. Untuk mengimplementasikan komitmen negara maju itu antara lain dibangun organisasi Global EnvironmentalFacilities (GEF), untuk melaksanakan pemikiran yang dikenal dengan semboyan berfikir global dan bertindak lokal ( think globally act locally). Ada tiga badan dunia yang melaksanakan GEF ini yaitu UNDP, UNEP dan Bank Dunia. UNDP menyelanggarakan kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan manusia dan kelembagaan agar pemerintah dan non pemerintah mampu melindungi lingkungan global. UNEP menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan bantuan serta prakarsa global dan pada Science and Technology Advisory Panel (STAP) yaitu kelompok yang memberikan masukan bagi kebijakan GEF dan membahas berbagai proyek yang didanai melalui GEF. Sedangkan Bank Dunia meneyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan investasi. Dalam kaitannya dengan alih teknologi, Agenda 21 lebih menekankan pada pengembangan saranauntuk terjadinya alih teknologi, tetapi tidak secara eksplisit memprogramkan alih teknologi itu sendiri. Untuk itu negara-negara berkembang termasuk Indonesia harus menyusun siasatnya sendiri yaitu dengan merubah faktor-faktor kontekstual yang dapat diubah, seperti misalnya kepranataannya, mempengaruhi pihak pasokan atau mempengaruhi pihak permintaan. Jelas bahwa alih teknologi tidak akan dengan sendirinya terjadi, juga tidak dapat dilakukan hanya dengan mendatangkan artifak saja.

Page 1 of 3 | Total Record : 26


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue