cover
Contact Name
Dina Kartika Maharani
Contact Email
dinakartika@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
ujc@unesa.ac.id
Editorial Address
Kampus Unesa Ketintang
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Unesa Journal of Chemistry
  • unesa-journal-of-chemistry
  • Website
ISSN : -     EISSN : 22528180     DOI : -
UNESA Journal of Chemistry is published online by the Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Surabaya State University, located at Jl Ketintang, Surabaya, East Java, Indonesia. 60231. Published 3 times a year (January, May and September) Aims and Scope: UNESA Journal of Chemistry is online Journal covering all aspects of Chemistry. The journal publishes original research paper and review articles.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016" : 11 Documents clear
PEMBUATAN ELEKTRODA PASTA KARBON TERMODIFIKASI BENTONIT UNTUK ANALISIS LOGAM CO(II) PADA DAGING IKAN MUJAIR (OREOCHROMIS MOSSAMBICUS) DENGAN METODE VOLTAMETRI SIKLIK (PRODUCING CARBON ELECTRODE MODIFIED BENTONIT FOR ANALYZE CO(II) METAL IN TILAPIA FISH (OREOCHROMIS MOSSAMBICUS) BY CYCLIC VOLTAMMETRY METHOD AGUS NURUL FEBRIANTO, M
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan perbandingan komposisi elektroda pasta karbon termodifikasi bentonit terbaik, menentukan kondisi pH terbaik, dan mengetahui perbandingan kemampuan analisi antara metode voltametri siklik dengan metode AAS. Pengujian perbandingan komposisi elektroda pasta karbon termodifikasi bentonit terbaik dilakukan dengan perbandingan karbon: paraffin: bentonit yaitu 3:2:5, 3:3:4, 3:4:3, dan 3:5:2. Hasil pengujian menunjukkan bahwa komposisi EPK bentonit terbaik adalah perbandingan 3:3:4 dengan puncak Ipc sebesar -7,4451 x 10-4 A. Kemudian kondisi pH yang paling optimum untuk pengujian logam Co(II) adalah pH 4.63. Penentuan konsentrasi logam Co(II) pada daging ikan mujair dilakukan dengan metode voltametri siklik dan diperoleh konsentrasi sebesar 0,406 ppm. Sedangkan penentuan konsentrasi logam Co(II) pada sampel yang dilakukan dengan metode AAS didapatkan konsentrasi sebesar 0,648 ppm.   Kata kunci: voltametri siklik, elektroda pasta karbon termodifikasi bentonit, Co(II)   Abstract.This research’s goals is to determine the best composition ratio of carbon paste electrode modified bentonite, determine the best pH conditions, and determine the ratio between the analytical capability of cyclic voltammetry method with the analytical capability of AAS method. Testing the best composition ratio of carbon paste electrode modified bentonite do with the ratio of carbon: paraffin: bentonite which is 3:2:5, 3:3:4, 3:4:3, and 3:5:2. The result showed that the best composition of carbon paste electrode modified bentonite is 3:3:4 with Ipc’s peak is -7.4451 x 10-4 A. Then, the most optimum pH condition for Co(II) metals test is pH4.63. Determining the concentration of Co(II) metals in tilapia fish performed by cyclic voltammetry method and obtained 0.406 ppm. While determining the concentration of Co(II) metals in the sample performed by AAS method obtained 0.648 ppm.   Keyword: cyclic voltammetry, carbon paste electrode modified bentonite, Co(II).
PENENTUAN PH DAN SUHU OPTIMUM ENZIM PROTEASE DARI ISOLAT ST-30 YANG DIHASILKAN DARI SINGGAHAN, TUBAN DETERMINATION OF PH AND TEMPERATURE OPTIMUM PROTEASE ENZYME OF ST-30 ISOLATE RESULTING FROM HOT SPRING SINGGAHAN, TUBAN CHALIM MAULIDAH, NUR
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan pH dan suhu optimum enzim protease dari isolat ST-30 yang dihasilkan dari sumber air panas Singgahan, Tuban. Penentuan pH dan suhu optimum berdasarkan aktivitas enzim protease yang dilakukan setelah melalui tahap pemurnian parsial menggunakan amonium sulfat dengan fraksi 0-35%, 35-65%, dan 65-95%. Aktivitas protease ditentukan secara kolorimetri menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang 748 nm dan penentuan kadar protein menggunakan metode Lowry. Hasil fraksinasi amonium sulfat pada fraksi 0-35% menunjukkan aktivitas spesifik tertinggi yaitu 1,2650 U/mg dengan tingkat kemurnian 37,43 kali ekstrak kasarnya dan memperoleh persentase hasil 97,10%. Enzim protease dari isolat ST-30 menunjukkan kondisi optimum yaitu pada pH 7 dan suhu 75°C dengan masing-masing aktivitas enzim sebesar 0,3377 U/mL dan 0,2874 U/mL.   Kata kunci: Aktivitas Enzim Protase, pH Optimum, Suhu Optimum   Abstract.Research has been done that aims to determine of pH and temperature optimum protease enzyme of ST-30 isolate from hot spring Singgahan, Tuban. Determination of pH and temperature optimum based on protease enzyme activity that is made  after partial purification step using ammonium sulfate fractionation with fraction 0-35%, 35-65%, and 65-95%. Protease activity was determined by colorimetric using spectrophotometry at a wavelength of 748 nm and protein content determined using Lowry method. The result of ammonium sulfate fractionation in fraction 0-35% which showed the highest specific activity is 1,2650 U/mg with 37,43 fold purification than the crude extract and obtain a yield of 97,10%. Protease enzyme of ST-30 isolate shows the optimum condition that is at pH 7 and temperature 75°C with each enzyme activity are  0,3377 U/mL and 0,2874 U/mL.   Key words: Protease Enzyme Activity, pH Optimum, Temperature Optimum
YEAST HYDROLYSATE ENZYMATIC (YHE) DARI SUBSTRAT CAMPURAN LIMBAH PADAT TAPIOKA DAN AMPAS TAHU YEAST HYDROLYSATE ENZYMATIC (YHE) FROM MIXTURE OF SUBSTRATE OF TAPIOCA SOLID WASTE AND TOFU WASTE DIAH LARASATI, ANINDIA
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi terhadap kualitas Yeast Hydrolysate Enzymatic (YHE) menggunakan substrat campuran limbah padat tapioka dan ampas tahu. Fermentasi dilakukan pada waktu (0, 5, 10, 15, 20, 25, 30) hari. Prosedur yang dilakukan meliputi beberapa tahap antara lain preparasi bahan, fermentasi, plasmolisis, hidrolisis enzimatik dengan enzim bromelin, pasteurisasi dan penghalusan. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran terhadap beberapa parameter yang meliputi pengukuran kadar protein diukur dengan metode Kjeldahl, kadar abu diukur dengan metode pengeringan, kadar air diukur dengan metode Thermogravitimetri dan kadar glutamat diukur dengan alat HPLC. Penelitian ini juga dilakukan pengamatan oleh satu orang dan pengujian secara organoleptic oleh sepuluh panelis terhadap produk YHE. Produk YHE hasil fermentasi 10 hari memiliki kadar protein tertinggi sebesar (6,2 ± 0,10)% dengan kadar glutamat <0,0035%. Produk YHE hasil fermentasi 15 hari memiliki kadar abu tertinggi sebesar 5,98%. Produk YHE hasil fermentasi 30 hari memiliki kadar air tertinggi sebesar 4,23%. Hasil pengamatan terhadap produk YHE hasil fermentasi semua waktu tidak memiliki perbedaan yang signifikan, yaitu bertekstur halus tidak menggumpal, berwarna coklat dan berbau manis (gula). Tekstur produk YHE hasil fermentasi 25 dan 30 hari lebih banyak disukai dengan predikat suka. Warna produk YHE hasil fermentasi 0 dan 30 hari lebih banyak disukai dengan predikat suka. Bau produk YHE hasil fermentasi 25 dan 30 hari lebih banyak disukai dengan predikat cukup suka.    Kata Kunci: Yeast Hydrolysate Enzymatic (YHE), waktu fermentasi   Abstract. The study aimed to determine the effect of fermentation time on Yeast Hydrolysate Enzymatic (YHE) quality use mixture of substrat of tapioca solid waste and tofu waste. Fermentation was done at (0, 5, 10, 15, 20, 25, 30) days. The procedures performed include multiple stages which were sample preparation, fermentation, plasmolysis, enzymatic hydrolysis with bromelin, pasteurisation and smoothing. This research was conducted measurements of several parameters which include the protein content measured by Kjeldahl method, the ash content measured by drying method, the water content measured by Thermogravitimetric method and glutamat content measured by HPLC instrument. This research also was conducted observation by one person and orgonoleptic testing by ten panelists on YHE product. YHE product result fermented 10 days had the highest protein content of (6.2 ± 0,10)% with glutamate content <0.0035%. YHE product result fermented 15 days had the highest ash content of 5.98%. YHE product result fermented 30 days had the highest water content of 4.23%. Observation result on YHE product result fermented all days didn’t have significant difference, which were smooth textured didn’t clot, brown and smelling sweet (sugar). Texture of YHE poduct result fermented 25 and 30 days more favored with a predicate liked. Color of YHE poduct result fermented 0 and 30 days more favored with a predicate liked. Smell of YHE poduct result fermented 25 and 30 days more favored with a predicate enaough liked.   Keywords: Yeast Hydrolysate Enzymatic (YHE), fermentation time
PENGARUH WAKTU FERMENTASI LIMBAH PADAT TAPIOKA TERHADAP PRODUKSI BIOHIDROGEN MELALUI PHOTOFERMENTATION DENGAN KULTUR RHODOSPIRILLUM RUBRUM EFFECT OF FERMENTATION TIME ON TAPIOCA RESIDUE FERMENTATION TO PRODUCE BIOHYDROGEN THROUGH PHOTOFERMENTATION USING RHODOSPIRILLUM RUBRUM ARDIYANTO WIBISONO, DONNY
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh lama fermnetasi limbah padat tapioka terhadap produksi biohidrogen melalui photofermentaton dengan kultur Rhodospirillum rubrum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu fermnetasi terhadap produksi biohidrogen melalui proses photofermentation dengan kultur Rhodospirillum rubrum. Tahap penelitian menerapkan metode fermentasi dengan sistem batch yang diakukan melalui pencahayaan outdoor conditions dan menggunakan instrumen kromatografi gas dalam mengukur kadar biohidrogen. Variabel yang diujikan adalah waktu fermentasi 1, 2, 3, 4 dan 5 jam Analisa data berdasarkan uji statistik anova satu jalur memperlihatkan nilai signifikasnsi  sebesar 0.000 atau kurang dari 0,05 yang berarti waktu fermentasi mempengaruhi kadar produksi biohidrogen. Waktu fermentasi optimum untuk menghasilkan bohidrogen adalah Selama 2-4 jam dengan kadar biohidrogen sebesar 14,86% - 18,35 %. Kata kunci: Biohidrogen, Limbah padat tapioka, Fotofermenasi, Rhodospirillum rubrum   Abstract. The effect of fermentation time on tapioca residue fermentation to produce biohydrogen through photofermentation using Rhodospirillum rubrum were investigated. This study aimed to assign effect of light intensity to produce biohydrogen through photofermentation using Rhodospirillum rubrum. The process of research used a fermentation method in batch system with outdoor conditions irradiance. Hydrogen concentration were determined by using gas chromatoghraphy method. Variable test  were fermentation time for 1, 2, 3, 4 and 5 hour. The result of statiscal annova one way showed the significance point (p = 0.000 < 0.05), it was mean the fermentation time has affect to biohydrogen production. The fermentation time optimum to produce biohydrogen was 2-4 hour with biohydrogen yield are 14,86% - 18,35 % Key Word: Biohydrogen, Tapioca residue, Photofermentation, Rhodospirillum rubrum  
FORMULASI INSEKTISIDA NABATI EKSTRAK METANOL DAUN NANGKA (ARTOCARPUS HETEROPHYLLUS LAMK.) TERHADAP ULAT GRAYAK (SPODOPTERA LITURA FAB.) BIOINSECTICIDAL FORMULATION OF METHANOL EXTRACT OF JACFRUIT LEAVES (ARTOCARPUS HETEROPHYLLUS LAMK.)FOR ARMYWORM (SPODOPTERA LITURA FAB.) NUR SETYAWAN, ARIEF
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi, toksisitas ekstrak metanol daun nangka (EMDN) dan formulanya (F-EMDN) serta efektifitas hasil pengujian semilapang F-EMDN terhadap ulat grayak (Spodoptera littura).F-EMDN menggunakan bahan aktif ekstrak metanol daun nangka (EMDN) dan ekstrak etanol biji mimba (EEBM) dengan perbandingan konsentrasi 2:1.Pengujian toksisitas EMDN dan F-EMDN terhadap larva Spodoptera littura instar II menggunakan metode semprot dan celup daun agar terjadinya racun kontak dan racun perut dengan konsentrasi 0; 200; 400; 800; 1600; 3200; 6400 dan 12800  mg/l. Pengujian semilapang efikasi F-EMDN (2:1) disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 4 kali ulangan pada konsentrasi 0, 1, 3, 5 dan 7 EC serta OrgaNeem (insektisida pembanding). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji toksisitas EMDN dan F-EMDN didapatkan nilai LC50 sebesar 5007,11 dan 3599,8 mg/l. Nilai EI pengujian semilapang menunjukkan F-EMDN 7 EC memenuhi syarat dengan EI ≥ 50% yaitu 54,35 % sehingga F-EMDN 7 EC dapat dikatakan efektif.    Kata kunci:insektisida nabati, artocarpus heterophyllus, spodoptera litura, formulasi.   Abstract. The aim of this research was to know the effect of jackfruit leaves methanolic extract (EMDN) concentration and its formulae (EMDN), toxicity of EMDN and F-EMDN as well as to know the effectiveness tested result of F-EMDN at the semi-field toward armyworm (Spodoptera litura). F-EMDN used the active substance of methanolic extract of jackfruit leaves (EMDN) and ethanolic extract of mimba seeds (EMBM) with a concentration ratio 2:1. Toxicity test of EMDN and F-EMDN to the 2nd instar larvae of Spodoptera litura using the spray method and leaf dip method that occur contact posion and stomach poison with concentration 0; 200; 400; 800; 1600; 3200; 6400 dan 12800 mg/l. Semi-field test of F-EMDN efficacy (2:1) arranged in a randomized block design with four replications at concentration of 0, 1, 3, 5 and 7 EC and OrgaNeem (comparison insecticide). The results showed that the F-EMDN (2:1) test obtained LC50 value was 5007.11 and 3599.8 mg/l. Semi-field testing EI value indicated F-EMDN 7 EC was qualified with the EI value ≥ 50%, that is 54.32% so that the F-EMDN 7 EC can be effective. Keywords: bioinsecticide, artocarpus heterophyllus, Spodoptera litura, formulation.
PENGARUH JENIS KULTUR STARTER BAKTERI ASAM LAKTAT TERHADAP KARAKTERISTIK SOYGHURT THE EFFECT OF THE TYPE OF STARTER CULTURES OF LACTIC ACID BACTERIA TO THE CHARACTERISTICS OF SOYGHURT WAHYU HERMAWAN, AMRUL
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui pengaruh jenis kultur starter bakteri asam laktat terhadap karakteristik soyghurt meliputi mutu kimia (pH dan total asam), mutu mikrobiologi (total BAL dan total Koliform), dan mutu organoleptik (warna,, rasa, aroma,  tekstur, dan tingkat kesukaan umum). pH dan total asam diuji dengan menggunankan metode AOAC 1995 dan Apriyantono 1997, total BAL dan koliform diukur menggunakan Total Plate Count, danuji organoleptic menggunakan uji hedonik. Komposisi starter  yang diinokulasikan pada media sari kedelai yaitu 2,5% v/v dengan perbandingan yang sama dan kombinasi jenis kultur starter yang dinokulasikan adalah S. thermophillus FNCC 0040 : L. bulgaricus FNCC 0041 (1:1), S. thermophillus FNCC 0040 : L. bulgaricus FNCC 0041 : L.plantarum B1765 (1:1:1), S. thermophillus FNCC 0040 : L. plantarum B1765 (1:1), L. plantarum B1765(1).  Sari kedelai difermentasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Hasil pengujian mutu kimia menunjukkan kultur starter tunggal L. plantarum B1765 mampu menghasilkan pH yang terendah yaitu 4,63 dan menghasilkan total asam terbanyak sebesar 3,47. Berdasarkan uji mutu mikrobiologi,penggunaan kultur starter  S. thermophillus FNCC 0040 dan L. bulgaricus FNCC 0041 mampu tumbuh paling baik di media sari kedelai sebesar 1,06 x 1014 CFU/ml  dan untuk kultur starter tunggal L. plantarum B1765 mampu menekan pertumbuhan koliform terbaik sebesar 7,35 x106 CFU/ml. Pada uji mutu organoleptik dapat diketahui bahwa sampel soyghurt tidak memberikan pengaruh pada warna, rasa, aroma dan tingkat kesukaan umum, namun berbeda pada penerimaan tekstur.  Kata kumci: soyghurt, bakteri asam laktat, L. plantarum B1765, karakteristik soyghurt   Abstract. This research aims to determine the effect of the type of starter cultures of lactic acid bacteria to the characteristics soyghurt include chemica qualities (pH and total acids), microbiological qualities (total LAB and total coliform), and organoleptic qualities (color, taste, aroma, texture, and general preference level). The pH and total acid were measured by AOAC  1995 method and Apriyantono 1997 method,  the total LAB and total coliform were counted by Total Plate Count, and the organoleptic test using hedonic test. The composition of starter inoculated on media soya extract at 2,5% v / v with the same comparison. Inoculated species are S. thermophillus FNCC 0040: L. bulgaricus FNCC 0041 (1: 1), S. thermophillus FNCC 0040: L . bulgaricus FNCC 0041: L.plantarum B1765 (1: 1: 1), S. thermophillus FNCC 0040: L. plantarum B1765 (1: 1), L. plantarum B1765 (1). Soya exctract was fermented for 24 hours at 37oC. The result of chemical quality test showed the single startes culture of L. plantarum B1765 capable to decrease the pH to the lowest of 4.63 and produced the highest of total acid of 3.47%. Based on the quality of microbiological test, the use of mixed starter cultures S. thermophillus FNCC 0040 and L. Bulgaricus FNCC 0041 could grow best in the media of soya extract of 1,06 x 1014 CFU/ ml and the single starter culture of  L. plantarum B1765 be able to suppress the growth of coliform to 7,35 x106 CFU /ml. The organoleptic quality test showed that the soyghurt sample gives no effect on color, taste, aroma and general preference level, but differ in the texture reception.
KAJIAN TEORITIS KOMPLEKS ALUMINIUM-DELFINIDIN SEBAGAI BAHAN DASAR FOTOSENSOR (THEORETICAL STUDIES OF ALUMINIUM-DELFINIDIN COMPLEX AS A BASIC MATERIAL OF PHOTOSENSOR WAHYUDAH, HENI
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Telah dilakukan kajian teoritis untuk menentukan celah energi kompleks Al-delfinidin dalam metanol. Penelitian ini menggunakan metode komputasi Ab-initio dengan Teori Fungsi Kerapatan (DFT) pada bassis set 6-31g(d)/B3LYP. Kompleks Al-delfinidin memiliki celah energi sebesar ~1,11 eV. Kerapatan elektron kompleks Al-delfinidin lebih stabil. Kompleks stabil dikarenakan memiliki ligan berukuran besar yang cenderung mengkoordinasi atom pusat yang sama sehingga kompleks yang dihasilkan lebih sempit. Hal ini memungkinkan kompleks Al-delfinidin dapat digunakan sebagai bahan dasar fotosensor yang baik.  Kompleks Al-delfinidin mempunyai ikatan regang O-H, regang C-H, dan regang C=O yang masing-masing ditunjukkan pada bilangan gelombang 3704 cm-1, 2971 cm-1 dan 1590 cm-1. Serta memiliki ikatan lentur M-O yang muncul pada bilangan gelombang 593 cm-1. Kompleks Al-delfinidin memiliki spektrum UV-Vis denganλmax 3469,12 nm. Kata kunci : delfinidin, celah energi, kerapatan elektron   Abstract.It had been done a theoretical study aiming to determine the energy gap of Al-delphinidincomplex in methanol. Experimental methods used are Ab-initio with Density Function Theory (DFT) on bassist set 6-31g(d)/B3LYP. Al-delphinidin complex has energy gap of  ~1.11 eV. The electron density of Al-delphinidin complex is more stable. Al-delphinidin is stable due to have a large ligand that tend to coordinate the same central atom so complex is narrower. Al-delphinidin complex may be used as basic material for photosensor. In the other hands, it was reported that IR spectrum of Al-delphinidin complex represented O-H, C-H, and C=O strechings at 3704 cm-1, 2971 cm-1 and 1590 cm-1respectively. And also showed M-O bending at 593 cm-1. In addition, UV-Vis spectrum of the complex showed λmax 3469.12 nm. Key words : delphinidin, band gap, electron density
PEMBUATAN KARBON DARI SABUT SIWALAN DAN APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA RHODAMIN B THE MAKING OF CARBON FROM SIWALAN FIBER AND ITS APPLICATION AS RHODAMINE B ADSORBENT HERIONO,
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik karbon sabut siwalan sebagai adsorben, pengaruh massa dan waktu interaksi terhadap kemampuan adsorpsi rhodamin B. Pengaruh penambahan karbon sabut siwalan terhadap adsorpsi rhodamin B pada berbagai variasi massa yaitu 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; dan 0,5 gram dengan lama waktu interaksi 90 menit dan berbagai variasi waktu yaitu 30, 60, 90, 120, dan 150 menit dengan massa adsorben 0,3. Penelitian dilakukan pada dua tahap. Tahap pertama pembuatan karbon dari sabut siwalan.  Hasil penelitian tahap pertama menunjukan bahwa kandungan air dan abu pada karbon sabut siwalam secara berturut-turut adalah 3,9785% dan 15,7027%. Hasil surface area analyzer menunjukan luas permukaan dan rerata jari-jari pori berturut-turut sebesar 3,160 m2/g dan 3,199. Penelitian tahap kedua menguji aktivitas karbon dari sabut siwalan dengan rhodamin B pada variasi massa dan waktu interaksi menunjukan variasi massa berpengaruh terhadap kemampuan adsorpsi rhodamin B, waktu kontak optimum pada massa 0,3 gram dengan hasil rhodamin B teradsorp 54,61%. Sedangkan pada variasi waktu juga berpengaruh pada kemampuan mengadsorpsi rhodamin B, waktu kontak optimum pada waktu 90 menit dengan hasil rhodamin B teradsorp 57,37%   Kata Kunci: Adsorpsi, karbon, rhodamin B, sabut siwalan.   Abstract.This study aims to determine the characteristic of carbon from siwalan fiber as adsorbent, the effect of mass and interaction time to adsorption ability of rhodamine B. Various mass the effect of adding carbon from siwalan fiber to adsorp rhodamine B is 0.1; 0.2; 0.3; 0.4; and 0.5 grams with interaction time 90 minutes. The study was conducted in two stages. The first stage was making activated carbon from siwalan fiber. More over using vorius time 30, 60, 90, 120 and 150 minutes with mass of adsorbent 0.3. The first phase result showed that the content of water and ash in the carbon from fiber siwalan respectively were 3.0622% and 9.1429%. The results of surface area analyzer showed that surface area and average pore radius respectively were 3,160 m2 / g and 3,199Å. The second phase testing the activity of carbon from siwalan fiber with rhodamine B in the variation of mass and interaction time result showed a mass 0.3 grams with the result of adsorbent rhodamin B was 54.61%. While at the time variation also affect the ability to adsorb rhodamine B. The optimum contact time of 90 minutes with result of adsorbent rhodamine B was 57.37%.   Keywords:Adsorption, carbon, rhodamine B, siwalan fiber
PENGARUH KOMPOSISI LARUTAN CETAKDAN NON PELARUT TERHADAP KINERJA MEMBRAN POLYSULFON DENGAN POROGEN PEG 6000DALAM PEMISAHAN KROMIUM (VI) THE EFFECT OF CASTING SOLUTION COMPOSITION AND NON SOLVENT COMPOSITION ON THE PERFORMANCE OF POLYSULFONE MEMBRANES WITH POROGEN PEG 6000 IN THE SEPARATION OF CHROMIUM (VI) FITRIYAH, HUSNUL
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Salah satu upaya untuk mendapatkan nilai selektivitas dan permeabilitas yang sebanding ialah dengan membuat membran dengan struktur asimetri. Metode yang dapat digunakan untuk menghasilkan struktur asimetri ialah dengan metode inversi fasa dan teknik imersi-presipitasi dengan jenis rekayasa variasi komposisi larutan cetak dan non pelarut. Komposisi larutan cetak dalam penelitian ini adalah PSf:NMP:PEG (% b/b/b):12:84:4 -16:84:0. Sementara itu, komposisi non pelarut H2O:CH3OH (% v/v) yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100:0%, 75:25%, 50:50%. Hasil uji permeabilitas membran dengan larutan umpan K2Cr2O7 menunjukkan nilai fluks membran PSf pada penelitian ini berada pada rentang antara 1.021,65 Lm-2jam-1 - 9.904,92 Lm-2jam-1, dimana semakin tinggi kadar PSf dalam larutan cetak dan semakin tinggi kadar metanol dalam non pelarut, semakin rendah permeabilitas membran PSf. Demikian pula sebaliknya. Sementara itu, hasil uji selektivitas membran menggunakan spektrofotometer UV-Vis berada pada rentang koefisien rejeksi 11,407 % - 48,592 %, dimana semakin besar komposisi PSf dalam larutan cetak dan semakin besar kadar metanol dalam non pelarut, semakin rendah selektivitas membran PSf. Membran dengan kuantitas PSf terkecil memiliki pori dengan ukuran lebih besar dengan nilai modulus young sebesar 2031,675 N/m2 .Membran dengan kuantitas PSf terbesar memiliki pori dengan ukuran lebih kecil dengan nilai modulus young sebesar 3427,055 N/m2. Namun demikian, kemunculan struktur asimetri pada membran PSf yang dihasilkan pada penelitian ini belum teramati secara signifikan. Kata kunci: membran, Polysulfone, PEG 6000, Kromium (VI)   Abstract. One of the attempts to get the selectivity and permeability value that  proportional was by create membrane with asymmetry structure. Methods that can be used to generate the asymmetry structure on the membrane were phase inversion with  immersion-precipitation technique and variation on casting solution and non solvent composition. The casting solution composition of the membrane in this research were PSf:NMP:PEG (%w/w/w) 12:84:4 - 16:84:0. Meanwhile, the non solvent composition were H2O:CH3OH (% v/v) used in this study were 100:0%; 25:75%; 50:50%. Membrane permeability test results with a solution of K2Cr2O7 feed solution showed the flux value of PSf membrane in this research was at a range 1021.65 Lm-2hour-1 - 9904.92 Lm-2hour-1, where the higher levels of PSf  in casting solution compositions and methanol in the non solvent compositions, the lower permeability of the membrane. And vice versa. Meanwhile, the selectivity test results of the PSf membrane using Uv-Vis instruments was at a range 11.41% - 48.59%, where the higher levels of PSf in casting solution composition  and the higher levels of methanol in the non solvent, the lower PSf membrane selectivity. The PSf membrane with lower level of PSf has larger pore size with young modulus value of 2031.68 N/m2.  the membrane with the higher level of PSf has smaller pore size with the young modulus value of 3427.055 N/m2. Nevertheless, the emergence of asymmetric structure on the PSf membrane that resulted in this research has not been significantly observed.   Keywords: membranes, Polysulfone, PEG 6000, Chromium (VI)
KEMAMPUAN KITINASE SEBAGAI ANTIJAMUR TERHADAP PERTUMBUHAN FUSARIUM OXYSPORUM F.SP. CAPSICI PADA TANAMAN CABAI MERAH (CAPSICUM ANNUUM L.) CHITINASE ABILITY AS ANTIFUNGAL TO THE GROWTH OF FUSARIUM OXYSPORUM F.SP. CAPSICI ON RED CHILI PEPPER PLANT (CAPSICUM ANNUUM L.) AYU APRILIANA, INTAN
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Number 1, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Bakteri Bacillus sp LA 21 yang diambil dari tambak udang di Lamongan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan enzim kitinase. Enzim kitinase diketahui berfungsi sebagai antijamur pada tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan enzim kitinase dari Bacillus sp LA 21 sebagai antijamur terhadap F.oxysporum f.sp. capsici yang merugikan pada tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.). Metode yang digunakan adalah penentuan aktivitas kitinase dengan Monreal dan Reese dan metode cakram untuk menentukan penghambatan jamur. Hasil optimasi terhadap konsentrasi enzim menunjukkan bahwa konsentrasi enzim sebesar 1 U/mL dapat menghasilkan NAG sebesar 1,957%. Uji daya hambat terhadap F.oxysporum f.sp. capsici menunjukkan bahwa waktu inkubasi 7 hari memberikan penghambatan sebesar 1,89 cm. Kata-kata kunci: Antijamur, F.oxysporum f.sp. capsici, Kitinase.   Abstract. Bacillus sp LA 21 taken from shrimp pond in Lamongan has the ability to produce the chitinase enzyme. Chitinase enzymes are known to function as antifungal in plants. This research aimed to test the ability of the enzyme chitinase from Bacillus sp LA 21 as antifungals against F.oxysporum f.sp. capsici in red pepper plant (Capsicum annuum L.). The method used is the determination of chitinase activity by Monreal and Reese and dics method for determining the inhibition of fungal. Results of the optimization of the concentration of the enzyme showed that enzyme concentration of 1 U / mL can produce NAG amounting to 1.957%. Test of inhibition against F.oxysporum f.sp. capsici showed that the incubation time of 7 days gives the inhibition of 1.89 cm. Keywords: Antifungal, Chitinase, F.oxysporum f.sp. capsici. 

Page 1 of 2 | Total Record : 11