cover
Contact Name
Dina Kartika Maharani
Contact Email
dinakartika@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
ujc@unesa.ac.id
Editorial Address
Kampus Unesa Ketintang
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Unesa Journal of Chemistry
  • unesa-journal-of-chemistry
  • Website
ISSN : -     EISSN : 22528180     DOI : -
UNESA Journal of Chemistry is published online by the Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Surabaya State University, located at Jl Ketintang, Surabaya, East Java, Indonesia. 60231. Published 3 times a year (January, May and September) Aims and Scope: UNESA Journal of Chemistry is online Journal covering all aspects of Chemistry. The journal publishes original research paper and review articles.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016" : 17 Documents clear
UJI FITOKIMIA DAN UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL DAN EKSTRAK ETIL ASETAT DARI KULIT BATANG JUWET (SYZYGIUM CUMINI) BRIAN KARISMA, ANANDA
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Pohon juwet (Syzygium cumini) merupakan tumbuhan buah-buahan yang berasal dari Asia dan Australia tropis. Biasa tumbuh di dataran rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya senyawa metabolit sekunder apa saja yang terkandung pada bagian kulit batang tumbuhan juwet dengan melakukan pengujian fitokimia, dan juga dilakukan uji aktivitasnya sebagai  antioksidan. Dalam penelitian ini sampel yang berupa serbuk halus kulit batang tumbuhan juwet di ekstrak dengan metode maserasi dengan menggunakan dua pelarut, yaitu metanol dan etil asetat,selanjutnya dilakukan uji fitokimia dan untuk uji aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Pada ekstrak metanol, senyawa yang terkandung adalah Triterpenoid, Flavonoid, Saponin, Fenolik, dan Tanin. Untuk ekstrak etil asetat senyawa yang terkandung adalah Flavonoid, Fenolik, dan Tanin. Uji aktivitas antioksidan ekstrak metanol dan ekstrak etil asetat kulit batang tumbuhan juwet diuji dengan metode DPPH. Ekstrak Metanol pada kulit batang tumbuhan juwet tergolong antioksidan lemah dengan nilai IC50 163,642 ppm sedangkan ekstrak etil asetat tergolong aktivitas antioksidan sedang dengan nilai IC50 117,722 ppm. Standar positif digunakan vitamin C tergolong antioksidan kuat dengan nilai IC50 11,234 ppm.   Kata-kata kunci: Juwet (Syzygium Cumini), fitokimia,aktivitas antioksidan.   Abstract. Juwet tree (Syzygium cumini) fruit is a plant that comes from Asia and tropical Australia. Commonly grown in the lowlands. This study aimed to identify the presence of any secondary metabolites, which contained no part of the bark of plants juwet by testing phytochemicals, and also tested their activity as antioxidants. In this study the samples in the form of finely powdered bark of plants juwet extracted with maceration method using two solvents, namely methanol and ethyl acetate, and to test the antioxidant activity using DPPH method. Of phytochemical test conducted, the methanol extract, the compounds contained is Triterpenoid, flavonoids, saponins, phenolic, and Tanin. To the ethyl acetate extract contained compounds is flavonoids, phenolic, and Tanin. Test the antioxidant activity of methanol extract and ethyl acetate extract of the bark of plants juwet tested with DPPH. Methanol extracts of the bark of plants juwet relatively weak antioxidant with IC50 values ??163.642 ppm while the ethyl acetate extract antioxidant activity was classified with IC50 values ??117.722 ppm. Positive standards used vitamin C relatively strong antioxidant with IC50 value of 11.234 ppm.   Keywords: Juwet (Syzygium Cumini), phytochemicals, antioxidant activity 
PENGGUNAAN ZEOLIT SEBAGAI MODIFIER ELEKTRODA PASTA KARBON UNTUK ANALISIS CD (II) SECARA CYCLIC STRIPPING VOLTAMETRY Rofiansyah, Ardi
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian tentang penggunaan zeolit sebagai modifier elektroda pasta karbon untuk analisis Cd (II) secara cyclic stripping voltametry. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk menentukan perbandingan komposisi terbaik dari elektroda pasta karbon yang dimodifikasi dengan zeolit dengan perbandingan karbon : minyak parafin : zeolit adalah 3:2:5, 3:3:4, 3:4:3, 3:5:2. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan instrumen voltametri dengan menggunakan metode cyclic stripping voltametry. Pengukuran larutan analit Cd (II) dengan konsentrasi 5 ppm dengan metode ini dihasilkan komposisi elektroda terbaik dengan perbandingan 3:5:2. Pengukuran optimasi dilakukan dengan memvariasi buffer pH pada pH 3, 4, 5, dan 6, waktu deposisi pada 0, 10, 40, 80, dan 100 detik serta laju pindai 10, 20, 40, 50 dan 60 mV/detik, dan pengaruh interfensi ion logam pengganggu Mn (II) dan Ni (II). Berdasarkan dari penelitian ini diperoleh pH optimum pada pH 6 dengan arus puncak Ipc -3.666 mA dan Epc -0.656 mV. Lama waktu deposisi optimum yang didapatkan adalah 10 detik dengan arus puncak Ipc -6.382 mA dan Epc -0.661 mV. Lama laju pindai optimum yang dihasilkan dari pengukuran tersebut adalah 0,05 V/detik dengan arus puncak Ipc 8.624 mA dan Epc -0.925 mV. Penambahan ion pengganggu Mn (II) dan Ni (II) pada analisis Cd (II) secara cyclic stripping voltametry memiliki pengaruh yang cukup besar sehingga dalam pengukurannya tidak disarankan diberikan ion pengganggu. Persen Recovery larutan Cd (II) 5 ppm diperoleh sebesar 97,93%. Kata kunci : elektroda pasta karbon, voltametri, zeolit Abstract The research of the using of zeolite as the carbon paste electrode modifier for the analysis of Cd (II) has been done. This research aims to determine the best ratio composition of electrode carbon paste modified zeolite with a ratio of carbon: paraffin: zeolite is 3:2:5, 3:3:4, 3:4:3, 3:5:2. Measurements were made using instruments voltametry with cyclic stripping voltametry method. Measurement of Cd (II) at a concentration of 5 ppm with this produced the best electrode composition with a ratio of 3: 5: 2. Measurements were performed by varying the pH buffer at pH 3, 4, 5, and 6, deposition time at 0, 10, 40, 80, and 100 seconds and scan rate 10, 20, 40, 50 and 60 mV/sec, and the effect of metal ion interference Mn (II) and Ni (II). The resulting of this research is pH optimum at pH 6 with a peak current Ipc Epc -3666 mA and -0656 mV. Obtained optimum deposition time was 10 seconds with a peak current Ipc -6382 mA and Epc -0661 mV. Long produced the optimum scan rate is 50 mV/sec with peak currents Ipc -8624 mA and Epc -0925 mV. Ion interferens Mn (II) and Ni (II) was added on the analysis of Cd (II) are cyclic stripping voltametry has considerable influence so that the measurement is not advisable given interferens ion. The percent result of recovery with Cd (II) at a concentration of 5 ppm is 97,93%. Keywords: zeolites, carbon paste electrodes, voltammetry
PENENTUAN KONDISI OPTIMUM PADA PEMBENTUKAN SENYAWAN-ASETIL-D-GLUKOSAMIN HASIL HIDROLISIS KITIN NON ENZIMATIS FITRIA PRATIWI, INTAN
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kitin dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam klorida (HCl) menghasilkan N-asetil-D-glukosamin (GlcNAc). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi HCl dan waktu inkubasi optimum pada pembentukan N-Asetil-D-Glukosamin (GlcNAc) hasil hidrolisis kitin. Identifikasi dan Jumlah GlcNAc ditentukan dengan menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Waktu retensi senyawa GlcNAc pada HPLC ditentukan dengan menggunakan GlcNAc standar. Penentuan konsentrasi HCl optimum dilakukan dengan menghidrolisis kitin dengan variasi konsentrasi HCl  1N – 5N selama 24 jam. Dari hasil penelitian diperoleh konsentrasi HCl optimum adalah 4N. Penentuan waktu inkubasi optimum dilakukan dengan menghidrolisis kitin menggunakan konsentrasi HCl optimum dengan variasi waktu inkubasi (0, 12, 24, 36, 48) jam. Waktu inkubasi optimum yang diperlukan untuk menghasilkan senyawa GlcNAc adalah 36 jam.   Kata kunci: Kitin, N-Asetil-D-Glukosamin, hidrolisis Asam, HPLC   Abstract. Chitin can be hydrolized by hydrochloric acid produced N-Acetyl-D-Glukosamine (GlcNAc). The aim of this experiment were to know the concentration of hydrochloric acid and optimum incubation time on formation of N-Acetyl-D-Glukosamin (GlcNAc) from hydrolysis of chitin. The identification and amount of GlcNAc was determined using High Performance Liquid Chromatography (HPLC) analysis. The HPLC retention time of GlcNAc was determined using GlcNAc standard. Determination of concentration of hydrochloric acid to hydrolize chitin was done at variation of concentration HCl (1N- 5N) during 24 hours. The result showed that the optimum concentration of hydrochloric acid to hyrolized chitin is 4N. Determination of incubation time to hydrolize chitin was done at variation of incubation time (0, 12, 24, 36, 48) hours. The optimum incubation time is 36 hours.   Keyword: Chitin, N-Asetyl-D-Glucosamine, hydrolysis Acid, HPLC
KARAKTERISASI BENTONIT TERPILAR FE2O3 SEBAGAI ADSORBEN NERIVA CROMAIN, CLAUDIA
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Bentonit merupakan adsorben yang memiliki interlayer dan berpori namun memiliki kemampuan yang kurang maksimal dalam mengadsorpsi Methylene Blue. Peningkatan kemampuan adsorpsi dilakukan dengan pilarisasi sehingga dalam penelitian ini menghasilkan bentonit terpilar Fe2O3. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gugus fungsional, komposisi mineral, rerata jejari pori, total volume pori, luas permukaan spesifik dari bentonit dan bentonit terpilar Fe2O3. Pilarisasi dilakukan dengan menginterkalasikan pemilar FeCl3 kemudian dikalsinasi  pada 400 oC sehingga didapatkan bentonit terpilar Fe2O3 yang disertai perubahan warna yang semula coklat menjadi merah. Hasil analisis gugus fungsional bentonit dan bentonit terpilar Fe2O3 menunjukkan vibrasi ulur –OH masing-masing yaitu 3434 cm-1 dan 3435 cm-1; tekuk –OH dari Si-OH 1638,1 cm-1  dan 1639,33 cm-1; ulur Si-O dari Si-O-Si yaitu 1038,57 cm-1 dan 1051,55 cm-1; ulur Si-O dari Si-O-Al yaitu 554,38 cm-1 dan 571,10 cm-1. Komposisi mineral bentonit terpilar Fe2O3 memiliki kandungan Fe yaitu 64,13 % dan bentonit sebesar 31,86 %. Hasil analisis Gas Sorption Analyzer menunjukkan nilai rerata jejari pori bentonit terpilar Fe2O3 yaitu 378,6 ? dan pada bentonit yaitu 171,8 ?, volume total pori pada bentonit terpilar Fe2O3 0,149 cc/g dan pada bentonit yaitu 0,124 cc/g dan  luas permukaan spesifik area bentonit terpilar Fe2O3 yaitu 7,899 m2/g dan pada bentonit 14,54 m2/g.   Kata Kunci: Bentonit, Bentonit Terpilar Fe2O3, Pilarisasi. Abstract. Bentonite is an adsorbent which has a porous interlayer and it have less ability to adsorb  as maximum of Methylene Blue. Capacity adsorption can be increased by pillarization and in this study have done to synthesis Fe2O3 pillared bentonite. The purpose of this study to determine functional groups, mineral composition, mean pore, total volume pore, spesific surface area of bentonite and Fe2O3 pillared bentonite. Pillarisation of bentonite can synthesis by the intercalation pillaring agent FeCl3 and then calcined at 400 oC which is accompanied the changes original color brown to red. The result of the analysis of functional groups Fe2O3 pillared bentonite and bentonite of –OH stretching vibration is 3434 cm-1 and 3435 cm-1; bending of Si-OH 1638,1 cm-1and 1639,33 cm-1 ; Strecthing Si-O of Si-O-Si is 1038,57 cm-1 and 1051,55 cm-1; Strecthing Si-O of Si-O-Al is 554,38 cm-1 and 571,10 cm-1. Mineral composition Fe2O3 pillared bentonite has Fe content 64,13 % and bentonite has Fe content 31,86 %. The result of analysis Gas Sorption Analyzer has 378,6 ? pore radius average of Fe2O3 pillared bentonite and bentonite has 171,8 ?, total volume pore of Fe2O3 pillared bentonite is 0,149 cc/g, bentonite has 0,124 cc/g and spesific surface area bentonite is 7,899 m2/g and Fe2O3 pillared bentonite has 14,54 m2/g.   Keywords: Bentonite, Fe2O3 Pillared Bentonite, Pillarisation.
PENGARUH ENKAPSULASI BE TERHADAP KARAKTERISASI SILICON NANOTUBE ARMCHAIR PUTRI ARINTA, CINDY
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Telah dilakukan kaji teoritis untuk mengetahui pengaruh enkapsulasi Be terhadap karakterisasi silicon nanotube armchair (SiNT(17,17)-(20,20)). Penelitian ini menggunakan metode Teori Fungsi Kerapatan (DFT) dengan pendekatan LDA serta basis set yang digunakan adalah DZVP dan TZV2P. Semakin besar nilai kiralitas dari struktur SiNT, semakin besar pula diameter yang dihasilkan, sehingga berakibat pada nilai celah energinya dimana diameter yang lebih besar akan menghasilkan nilai celah energi nanotube yang lebih kecil, seperti halnya pada carbon nanotube. Dengan adanya enkapsulasi Be, nilai celah energi SiNT armchair menjadi semakin menurun. Celah energi SiNT-Be(17,17)-(20,20) berturut-turut adalah 1,667211; 1,560685; 1,560084; 1,504471. Selain itu, enkapsulasi Be juga mempengaruhi kestabilan struktur SiNT armchair yang ditandai dengan semakin rendahnya energi. Energi total dari optimasi geometri SiNT-Be(17,17)-(20,20) berturut-turut adalah -80,78410753; -62,99276708; -51,48317972; -48,69537121. Tipe semikonduktor yang dihasilkan dari pengenkapsulasian Be ini menghasilkan semikonduktor dengan tipe-p. Kata kunci : silicon nanotube, DFT, celah energi   Abstract. Theoretical studies has been done to determine the encapsulation effect of Be on the silicon nanotubes armchair (SiNT(17.17)-(20.20)). Experimental methods used Density Function Theory (DFT) with LDA approach and basis set used is DZVP and TZV2P. The greater value of the chirality of SiNT structure, the greater diameter is produced, resulting in the value of band gap where a larger diameter will produce smaller band gap of nanotubes, as well as on carbon nanotubes. With the encapsulation of Be, the band gap of SiNT armchair be decreased. Band gap SiNT-Be(17.17)-(20.20) respectively is 1.667211; 1.560685; 1.560084; 1.504471. In addition, encapsulation of Be tagged affect the stability of  SiNT armchair with the lower energy. The total energy of the geometry optimization SiNT-Be(17.17)-(20.20) respectively -80.78410753; -62.99276708; -51.48317972; -48.69537121. The resulting semiconductor types of encapsulation Be is a p-type semiconductor. Key words : silicon nanotube, DFT, band gap
PEMANFAATAN BENTONIT TEKNIS SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA Fathoni, Imam
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Bentonit merupakan bahan yang serbaguna dan secara luas digunakan dalam berbagai bidang salah satunya sebagai adsorben zat warna. Zat warna methylene blue dan naftol kerap digunakan sebagai industri tekstil. Zat warna methylene blue dan naftol bersifat toksik, penggunaan secara berlebihan dapat menyebabkan mutasi genetik, iritasi mata serta saluran pernafasan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi dan konsentrasi terbaik methylene blue, naftol dan campuran keduanya terhadap kemampuan adsorpsi bentonit. Prosedur percobaan dalam penelitian ini meliputi, penyiapan bentonit, memvariasikan konsentrasi methylene blue dan naftol (20 mg/L; 40 mg/L; 60 mg/L; 80 mg/L; 100 mg/L; 120 mg/L) serta larutan campuran (20 mg/L; 40 mg/L; 60 mg/L), dan adsorpsi zat warna. Hasil konsentrasi terbaik methylene blue, naftol dan campuran keduanya pada bentonit didapatkan sebesar 66,283 mg/L dengan daya adsorpsi sebesar 397,698 mg/g pada methylene blue. Konsentrasi naftol sebesar 62,071 mg/L dengan daya adsorpsi 372,426 mg/g, sedangkan untuk larutan campuran didapatkan konsentrasi methylene blue 56,119 mg/L dengan daya adsorpsi 336,714 mg/g dan naftol didapatkan 50,295 mg/L dengan daya adsorpsi 301,770 mg/g.   Kata kunci: Bentonit, Methylene Blue, Naftol, Adsorpsi Abstract. Bentonite is widely used in various fields and of one of that fields, can used as an dye adsorbent. Methylene blue and naphthol often used in textile industry. The dye of methylene blue and naphthol is toxicity, excessive genetic mutations, eyes irritation and respiratory tract. The purpose of this study to determine the effect of variations in the concentration and the best concentration of methylene blue, naphthol and mixture of both for the adsorption capacity using bentonite. The experimental procedure in this study were preparation of bentonite, various of concentration methylene blue and naphthol (20 mg / L; 40 mg / L; 60 mg / L; 80 mg / L; 100 mg / L; 120 mg / L) and mixture both of the dye (20 mg / L; 40 mg / L; 60 mg / L). The best result concentration of methylene blue, naphthol, and mixture of bentonite was 66.283 mg/L with adsorption capacity was 397.698 mg/g of methylene blue. The naphthol concentration was 62.071 mg/L with adsorption capacity was 372.426 mg/g. The best mixture concentration of methylene blue was 56.119 mg/L with adsorption capacity of 336.714 mg/g and naphthol was 50.295 mg /L with adsorption capacity of 301.770 mg/g.   Keywords: Bentonite, Methylene Blue, Naphthol, Adsorption
VARIASI ETANOL-ASETONITRIL PADA PEMURNIAN N-ASETILGLUKOSAMIN HASIL DEGRADASI ENZIMATIS KITIN JENIS AMORF DEWI NURROHMAWATI, FITRIA
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk memurnikan N-asetilglukosamin serta mengetahui persen rendemen yang dihasilkan setelah proses pemurnian. Pemurnian N-asetilglukosamin dilakukan dengan teknik pemurnian bertingkat dengan metode pengendapan menggunakan etanol dan asetonitril. Persen rendemen dihitung dengan membandingkan jumlah N-asetilglukosamin yang terbentuk terhadap kitin amorf mula-mula. Hasil pemurnian menunjukkan bahwa N-asetilglukosamin dapat dimurnikan dengan pemurnian bertingkat menggunakan etanol dan asetonitril menghasilkan kromatogram seperti standar. Rendemen N-asetilgukosamin yang dihasilkan setelah proses pemurnian yaitu sebesar 10,52%.   Kata Kunci: N-asetilglukosamin, pemurnian, persen rendemen   Abstract. Research has been done  that aims to purify N-acetylglucosamine and knowing percent rendemen produced after the purification process. N-acetylglucosamine purification was performed using multilevel purification by precipitation method using ethanol and acetonitrile. Percent rendemen is calculated by comparing the number of N-acetylglucosamine formed on the first amorphous chitin. The results showed that the purification of N-acetylglucosamine can be purified by purification using ethanol and acetonitrile graded with the standard approach resulting chromatogram. Percent rendemen produced after the purification process that is 10.52%.   Keywords: N-acetylglucosamine, purification, percent rendemen
KARAKTERISASI TEORITIS SEMIKONDUTOR SILICON NANOTUBE ARMCHAIR MENGGUNAKAN METODE DFT AMILIA, RIESKA
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Telah dilakukan kaji teoritis dalam menentukan celah energi dari silicon nanotube armchair. Penelitian ini menggunakan metode komputasi dengan Teori Fungsi Kerapatan (DFT) pada bassis set TZV2P (Triple Zeta Valence 2 Polarization). Silicon nanotube armchair (8,8-10,10) memiliki celah energi 2,745512eV, 2,402662eV, 2,323422eV. Bentuk silicon nanotube armchair lebih stabil. Silicon nanotube armchair stabil dikarenakan Orbital Pz mengalami tumpang tindih electron dengan sangat baik. Silicon nanotube armchair memiliki kecenderungan sifat semikonduktor tipe-p Kata kunci : silicon nanotube, celah energy, semiconductor   Abstract. Theoretical studies have been conducted to determine the energy gap of armchair silicon nanotubes and zig-zag silicon nanotube. This study uses computational methods with Density Function Theory (DFT) on the bassist set TZV2P (Triple Zeta Valence 2 Polarization). Armchair silicon nanotubes (8.8 to 10.10) has the energy gap 2,745512eV, 2,402662eV, 2,323422eV, zig-zag silicon. Armchair silicon nanotubes is more stable. Armchair silicon nanotubes are stable because Pz orbitals has a good overlap. Silicon armchair nanotubes have a tendency p-type semiconductor Key words : silicon nanotube, band gap, semiconductor
PEMBUATAN ELEKTRODA PASTA KARBON TERMODIFIKASI ZEOLIT UNTUK ANALISIS LOGAM FE(II) DENGAN ION PENGGANGGU ZN(II) DAN CD(II) SECARA CYCLIC STRIPPING VOLTAMMETRY Najih, Ainun
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Elektroda pasta karbon termodifikasi zeolit (EPKZ) terbuat dari campuran karbon, parafin, zeolit dengan berbagai komposisi tertentu hingga menjadi pasta, perbandingan komposisi yang digunakan yaitu 3:2:5, 3:3:4, 3:4:3, 3:5:2. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi terbaik EPKZ, kondisi terbaik (pH, waktu deposisi, laju pindai), serta meneliti keberadaan ion pengganggu Zn(II) dan Cd(II) dalam analisis Fe(II). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh EPKZ terbaik pada komposisi 3:4:3 (karbon:parafin:zeolit) dengan nilai Ipc -0,00049158 A dan Epc -0,5863 V dengan kondisi pengukuran terbaik pada pH 6, waktu deposisi optimum 10 s dan laju pindai optimum 0,02 V/s. Keberadaan ion pengganggu Zn(II) dan Cd(II) dapat mempengaruhi analisis ion Fe(II) karena adanya ion pengganggu dapat meningkatkan arus puncak reduksi.   Kata kunci: EPKZ, zeolit, voltametri     Abstract. Zeolite modified carbon paste electrode (EPKZ) is made from a mixture of carbon, paraffin, zeolite with different specific composition until the paste, a composition ratio used is 3: 2: 5, 3: 3: 4, 3: 4: 3, 3: 5 : 2. This study aims to get the best composition EPKZ, the best conditions (pH, deposition time, scan rate), as well as examining the existence of a bully ion Zn (II) and Cd (II) in the analysis of Fe (II). Based on the results obtained by the best EPKZ on the composition of 3: 4: 3 (carbon: paraffin: zeolite) with a value Ipc -0.00049158 A and Epc -0.5863 V with the best measurement conditions at pH 6, optimum deposition time 10 s and the optimum scan rate of 0.02 V / s. The existence of a bully ion Zn (II) and Cd (II) ions can affect the analysis of Fe (II) ions for their bullies can increase the amount of current peak reduction.   Keywords: EPKZ, zeolite, voltammetry
PENGARUH VARIASI OPTICAL DENSITY BAKTERI BACILLUS SUBTILIS TERHADAP EFISIENSI LISTRIK MICROBIAL FUEL CELL CITA SISWANTI, AULIA
Unesa Journal of Chemistry Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomer 3, 2016
Publisher : Unesa Journal of Chemistry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Telah dilakukan penelitian pengaruh variasi Optical Density bakteri Bacillus subtilis terhadap besarnya efisiensi Microbial Fuel Cell. Metode yang digunakan adalah mengalirkan substrat berupa larutan nutrisi jerami padi ke dalam ruang anoda sedangkan aquades digunakan untuk mengisi ruang katoda. Elektroda karbon aktif digunakan sebagai anoda dan tembaga sebagai katoda. Kemudian ditambahkan bakteri Bacillus subtilis pada ruang anoda. Bakteri melakukan metabolisme terhadap substrat di anoda dan mengubahnya menjadi energi listrik. Elektron mengalir melalui sirkuit luar menuju ke katoda sehingga menimbulkan arus listrik. Hasil penelitian diperoleh bahwa bakteri Bacillus subtilis dengan penambahan bakteri OD 0,5 efisiensi tertinggi yaitu 35,71%. Sedangkan pada penambahan jumlah bakteri OD 0 dan 1,0 menghasilkan efisiensi sebesar 18,32% dan 33,65%. Kata Kunci: Microbial Fuel Cell, Bacillus subtilis, efisiensi.   Abstract. Conducted research on the impact of variation Optical Density (OD) bacterium Bacillus subtilis to the Microbial Fuel Cell efficiency. The method used is the flowing the substrate form of rice straw nutrient solution into the anode chamber while the water used to fill the cathode chamber. Activated carbon electrode is used as anode and copper as cathode. Then added Bacillus subtilis in the anode chamber. Bacteria doing metabolism process of the substrate in anode and convert it into electrical energy. Electrons flow through external circuit to the cathode, so giving rise to an electric current. The result showed that the Bacillus subtilis with the addition of OD 0.5 produced the highest efficiency was 35,71%. While the bacteria in the number of bacteria OD 0 and 1.0 produced efficiency of 18,32% and 33,65%. Kata Kunci: Microbial Fuel Cell, Bacillus subtilis, efficiency.

Page 1 of 2 | Total Record : 17