cover
Contact Name
Rokhani Hasbullah
Contact Email
rokhani.h@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltep@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Keteknikan Pertanian
ISSN : 24070475     EISSN : 23388439     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Keteknikan Pertanian dengan No. ISSN 2338-8439, pada awalnya bernama Buletin Keteknikan Pertanian, merupakan publikasi resmi Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA) bekerjasama dengan Departemen Teknik Mesin dan Biosistem (TMB) IPB yang terbit pertama kali pada tahun 1984, berkiprah dalam pengembangan ilmu keteknikan untuk pertanian tropika dan lingkungan hayati. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun. Penulis makalah tidak dibatasi pada anggota PERTETA tetapi terbuka bagi masyarakat umum. Lingkup makalah, antara lain: teknik sumberdaya lahan dan air, alat dan mesin budidaya, lingkungan dan bangunan, energi alternatif dan elektrifikasi, ergonomika dan elektronika, teknik pengolahan pangan dan hasil pertanian, manajemen dan sistem informasi. Makalah dikelompokkan dalam invited paper yang menyajikan isu aktual nasional dan internasional, review perkembangan penelitian, atau penerpan ilmu dan teknologi, technical paper hasil penelitian, penerapan, atau diseminasi, serta research methodology berkaitan pengembangan modul, metode, prosedur, program aplikasi, dan lain sebagainya.
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
Rancang Bangun dan Uji Kinerja Mekanisme Pengendali Otomatis Pedal Rem dan Tuas Transmisi Maju-Mundur pada Traktor Roda Empat I Dewa Made Subrata; Radite Praeko Agus Setiawan; Setya Permana; Muhammad Sigit Gunawan; Andreas .
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.01.1.%p

Abstract

AbstractMost of the four wheeled tractors were operated manually for many agricultural applications. Therefore the operator’s fatigue during operating tractor can’t be avoided. To decrease operator’s fatigue it was necessary to operate tractor automatically for forward and backward motion. This research focus on the automatic backward motion and decrease turning radius by modify the brake pedal and forward-backward transmission mechanisms, which were controlled using DC motor with H-bridge actuator. Functional test was done by lifting up the tractor so that it was not move sideways while the tires were rotated. Performance test was done on the field to know the ability of the tractor to move forward and backward automatically and to know the turning radius when the left or right brake pedal was pushed down automatically. Experimental result showed that the time required to push the brake was about 0.47 s for left brake and 0.61 s for right brake. Field test result showed that the tractor was able to control automatically for forward motion with average speed of 0.62 m/s, backward motion with average speed of 0.63 m/s, to turn left with average turning radius of 2.2 m, and turn right with average turning radius of 2.4 m.Keyword: automation, forward-backward transmission, brake pedal.AbstrakSampai saat ini sebagian besar traktor roda empat masih dioperasikan secara manual untuk penerapan di bidang pertanian. Dengan demikian kelelahan operator dalam mengoperasikan traktor tersebut tidak dapatdihindari. Untuk menurunkan tingkat kelelahan operator maka perlu diupayakan mengoperasikan traktor secara otomatis untuk gerakan maju maupun mundur. Otomatisasi gerakan maju telah dilakukan padapenelitian sebelumnya. Penelitian ini lebih difokuskan pada otomatisasi gerakan mundur dan memperkecil radius belok dengan memodifikasi mekanisme pengendali rem dan mekanisme pengendali transmisi majumundur. Kedua mekanisme tersebut dikendalikan menggunakan motor DC dengan aktuator H-bridge. Uji fungsional dilakukan di laboratoriun dengan cara mengangkat traktor sehingga roda tidak menapak dan traktor tidak bergerak meskipun rodanya berputar. Pengujian kinerja mekanisme juga dilakukan di atas lahan kering untuk mengetahui kemampuan bergerak maju dan mundur secara otomatis dan berputar balik melalui penekanan pedal rem secara otomatis. Hasil pengujian fungsional menunjukkan mekanisme bekerja dengan baik dengan waktu penekanan rem 0.47 s untuk rem kiri dan 0.61 s untuk rem kanan. Hasil pengujian lapangan menunjukkan bahwa traktor dapat dikendalikan secara otomatis untuk bergerak maju dengan kecepatan rata-tara 0.62 m/s, bergerak mundur dengan kecepatan rata-rata 0.63 m/s, berputar dengan jari-jari 2.2 m untuk rem kiri dan 2.4 m untuk rem kanan.Kata Kunci: otomatisasi, transmisi maju-mundur, pedal rem.Diterima: 11 Maret 2013; Disetujui: 18 Juni 2013
Rancang Bangun Incubator dengan Suhu dan Kelembaban Udara Terkendali untuk Penetasan Telur Ulat Sutera Dewa Made Subrata; Ahmad Nurman Sajuri; Ade Priyadi; Hotnida CH Siregar
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.01.1.%p

Abstract

AbstractSilkworms were the poikilothermic animals with life cycle strongly affected by environment condition such as temperature, humidity, light and wind. In other the silkworm’s egg hatcheries uniformly at the sameday, it was considered necessary to use the temperature and humidity controllable room (incubation room) according to their optimum hatcheries condition. The incubation room consisted of four actuators i.e: theheater, the cooler, the mist maker, and the water content absorber. All of that actuators were controlled based on the output signal from the sensor (SHT11). In this research the temperature was controlled at the value of 25°C, while the humidity was controlled at the value of 75 %. The experimental result of the incubator machine without silkworm egg shown that the incubator was able to control the temperature at the value of 25°C with maximum 25.4°C. It was also able to control humidity at optimum interval i.e: 73.9 % to 76.1 %. Experimental result with silkworm egg showed that the incubator was able to increase the uniformity of the hatcheries day, even though the hatcheries day was late about two days compared to the conventional method.Key words: incubator, controllable room, hatchery, silkworms egg.AbstrakUlat sutera tergolong hewan poikilotermik yaitu siklus hidupnya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (suhu, kelembaban, cahaya dan angin). Supaya telur ulat sutera menetas secara seragam padahari yang sama, maka perlu digunakan ruang yang suhu dan kelembabannya dapat dikendalikan pada nilai optimum penetasannya. Rancangan ruang inkubasi terdiri dari empat unit aktuator yaitu: pemanas, pendingin, pengkabut dan penyerap uap air. Keempat perangkat tersebut dikendalikan berdasarkan nilai pengukuran yang dihasilkan oleh sensor suhu dan kelembaban jenis SHT11. Pada penelitian ini suhu dikendalikan pada nilai 25°C dan kelembaban pada nilai 75%. Hasil pengujian pada kondisi tanpa telur menunjukkan bahwa incubator mampu mempertahankan suhu pada nilai 25°C dengan suhu maksimum25.4°C demikian juga untuk kelembaban dipertahankan pada selang nilai 73.9 % sampai 76.1 %. Hasil pengujian pada kondisi dengan telur ulat sutera Bombyx mori L. menunjukkan bahwa incubator mampumeningkatkan keseragaman hari penetasan telur namun penetasannya lebih lambat dua hari dibandingkan dengan metoda konvensional.Kata kunci: inkubator, ruang terkendali, penetasan, telur ulat sutera.Diterima: 20 Maret 2013; Disetujui: 02 Juli 2013
Modifikasi dan Uji Kinerja Kompor Spiral dengan Bahan Bakar Minyak Jarak Pagar Gatot S.A. Fatah; Soebandi .
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.01.1.%p

Abstract

AbstractEnergy crisis in Indonesia is still a problem that has not been fully resolved. Kerosene as the primary fuel for cooking, the price is very expensive (at Rp 8000.-/liter). Until now, the pressure cooker kerosene isstill used by cake makers, bread, and noodle. By modifying the part of the cup rubbing alcohol and add a protective piping hot, the stove can be used with pressurized fuel Jatropha oil. Tobacco industry, ceramic and asphalt still use the stove. The purpose of this study is to obtain a prototype pressure cooker spiral type, fueled with jatropha oil by modifying the part of the reservoir cup rubbing alcohol, pipe and nozzle heat shield oil expenses. Modified pressure cooker and test performance using Jatropha oil is obtained as follows: the fuel consumption of 935 ml / hour; pre-heating 17 minutes; time required to boil 2 liters of waterwas 5 minutes; noise level of 83.3 dB and the reddish color of blue flame.Keywords : pressure stove, jatropha oil, spiral type cooker, modification.AbstrakKrisis energi di Indonesia masih menjadi masalah yang belum sepenuhnya teratasi. Minyak tanah sebagai bahan bakar utama untuk memasak, harganya menjadi sangat mahal (mencapai Rp 8,000,-/liter). Sampai saat ini, kompor bertekanan berbahan bakar minyak tanah masih digunakan oleh pembuat kue, roti, dan mie. Dengan memodifikasi pada bagian cawan tempat spiritus dan menambahkan pipa pelindung panas,maka kompor bertekanan dapat digunakan dengan bahan bakar minyak jarak pagar. Industri pengovenan tembakau, keramik dan pengaspalan masih menggunakan kompor tersebut. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mendapatkan prototipe kompor bertekanan tipe spiral yang berbahan bakar minyak jarak pagar dengan cara memodifikasi pada bagian cawan penampung spiritus, pipa pelindung panas dan noselpengeluaran minyak. Hasil modifikasi dan uji kinerja kompor bertekanan dengan menggunakan minyak jarak pagar diperoleh sebagai berikut: konsumsi bahan bakar 935 ml/jam; pre-heating 17 menit; waktuuntuk mendidikan 2 liter air diperlukan waktu 5 menit; tingkat kebisingan 83.3 dB dan warna nyala api biru kemerahan.Kata kunci : kompor bertekanan, minyak jarak pagar, kompor tipe spiral, modifikasi.Diterima: 23 April 2013; Disetujui: 18 Juli 2013
Aplikasi Zone Cooling pada Sistem Aeroponik Kentang Di Dataran Medium Tropika Basah Eni Sumarni; G. H. Sumartono; Satyanto Krido Saptomo
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.01.1.%p

Abstract

AbstractSupplies of seed potatoes in Central Java is more than 12,000 tons per year, but that can be provided only about 300 tons. From this condition, there is a large market opportunity for the provision of seed potatoes. Highland for planting potatoes in Indonesia is still limited. Therefore, the cultivation of the potato in the plains of the medium is one of the efforts to help the production of seed. The high temperature in the plains of the medium can be resolved through aeroponics system with limited cooling (zone cooling). The purpose of this study is to obtain an appropriate cooling temperature on seed potato production in medium land. Aeroponic cultivation techniques used with 3 zone cooling (15 °C, 19 °C and 24 °C) and controls. Potato varieties used in this study is Granola is from tissue culture .The results showed that the highest plant cooling obtained at day and night regions 19 °C and 24 °C at night. The highest number of leaves was obtained at 24 °C day and night. The highest number of tubers obtained at 19 °C day and night.Keywords : aeroponics, medium wet tropical climates, potato, seed, , zone coolingAbstrakKebutuhan benih kentang di Jawa Tengah lebih dari 12.000 ton per tahun, tapi baru dapat dipenuhi sekitar 300 ton. Dari kondisi ini, ada peluang pasar yang besar untuk penyediaan bibit kentang. Dataran tinggi untuk menanam kentang di Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu, budidaya kentang di dataran medium adalah salah satu upaya untuk membantu produksi benih. Suhu tinggi di dataran medium dapat diselesaikan melalui sistem aeroponik dengan pendingin terbatas (zone cooling). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan suhu pendingin yang sesuai pada produksi benih kentang secara aeroponik didataran medium. Teknik budidaya aeroponik menggunakan 3 zona pendinginan (15 oC, 19 oC dan 24 oC) dan kontrol. Varietas kentang yang digunakan dalam penelitian ini adalah Granola dari kultur jaringan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman tertinggi diperoleh pada pendinginan siang dan malam suhu 19 °C dan pendinginan 24 °C di malam hari. Jumlah daun tertinggi diperoleh pada suhu 24 °C siang danmalam. Jumlah umbi tertinggi diperoleh pada suhu 19 °C siang dan malam.Kata kunci: aeroponik, benih kentang, dataran medium tropika basah, zone coolingDiterima: 01 Maret 2013; Disetujui: 03 Juni 2013
Efektifitas Riverbank Filtration Terhadap Parameter Fisik (TDS) di Sungai Cihideung Roh Santoso Budi W.; Diana Rahayu; Siti Komariah
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.01.1.%p

Abstract

AbstractWater is a natural resource that is necessary for the livelihood of many people, even by all living things. Data Ministry of Public Works in 2006 mentions the availability of water in Indonesia amounted to 15,500cubic meters per capita per year, far higher than the global availability averaged only 600 m3. If drawn, the amount of water covers 21% of Indonesia Pacific Ocean. However, the overflow Indonesia does notnecessarily solve the problem of water crisis which is also predicted to fall on two major islands in 2015. The general objective of this research is to develop and implement technological innovations RBF (RiverbankFiltration) to support the needs of irrigation water Watershed Cisadane, making RBF (Riverbank Filtration) as a natural water treatment in Cisadane River area, and water quality data information through RBF(Riverbank Filtration) Cisadane Watershed.Keywords: clean water crisis, the recovery of water quality, riverbank filtration technologyAbstrakAir merupakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Data kementerian PU tahun 2006 menyebutkan ketersediaan air di Indonesia sebesar 15.500 m3 per kapita per tahun, jauh lebih tinggi dari tingkat ketersediaan global yang rata-rata hanya 600 m3. Kalau digambarkan, jumlah air Indonesia mencakup 21% Samudera Pasifik. Akan tetapi, limpahan air Indonesia tidak serta-merta menyelesaikan masalah krisis air bersih yang diprediksi juga akan menimpa dua pulau mayor pada 2015 nanti. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan menerapkan inovasi teknologi RBF (Riverbank Filtration) untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air irigasi Daerah Aliran Sungai Cisadane, menjadikan RBF (Riverbank Filtration) sebagai pengolahan air yang alami di daerah Sungai Cisadane, dan mendapatkan informasi data kualitas air melalui RBF (Riverbank Filtration) Daerah Aliran Sungai Cisadane. Keluaran yang dari penelitian ini adalah kualitas parameter fisik air dengan pemanfaatan riverbank filtration meningkat karena turunnya parameter fisik TDS.Kata kunci : krisis air bersih, pemulihan kualitas air, teknologi Riverbank FiltrationDiterima: 13 Mei 2013; Disetujui:15 Agustus 2013
Desain Konseptual Penangkap Tandan Buah Sawit dan Pemanfaatan Energi Potensialnya Wawan Hermawan; Desrial .; Muhammad Iqbal Nazamuddin; Rusnadi .
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.01.1.%p

Abstract

AbstractIn oil palm harvesting, falling fruit bunches have a considerable potential energy, which can be captured and used to power the wheelbarrow in evacuating the fruit bunches. This study was conducted to measurethe engineering characteristics of fruit bunches harvesting, determine the best fruit bunches catchment platform material, analyze the potential energy of falling fresh fruit bunch, and design a conceptual designof the catchment platform and evacuation machine. Measurements of the characteristics of the harvesting were done in an oil palm plantation. Four types of fruit catchment platform materials were tested, namely:steel plate, wood board, expanded steel plate and rubber sheet. The results showed that, bunches fell at a distance between 0.6 m to 1.4 m from the tree. Fruit bunches weight was in the range of 16 kg to 32 kg.The rubber catchment platform was superior to the other materials in reducing the scattered loose fruits and bruised fruits. Potential energy of falling fruit bunches were in the range of 0.44-4.44 kJ. Theoreticaltraveling distance of the wheel barrow powered by the captured potential energy was in the range of 2.27 m - 22.98 m. Based on the data obtained, a conceptual design of catchment platform and evacuation machinewas designed.Keywords: oil palm harvesting, engineering characteristics, potential energy, catchment platform,conceptual design.AbstrakDalam panen kelapa sawit, tandan buah yang jatuh memiliki energi potensial yang cukup besar, yang dapat ditangkap dan digunakan sebagai daya penggerak angkong dalam mengevakuasi tandan buah segar(TBS). Penelitian ini dilakukan untuk mengukur karakteristik teknik panen TBS, menentukan bahan landasan terbaik untuk penangkap TBS, menganalisis potensi energi potensial TBS yang jatuh, dan merancangdesain konseptual dari mesin penangkap dan pengangkut TBS. Pengukuran karakteristik panen dilakukan di perkebunan kelapa sawit. Empat jenis bahan landasan tangkapan diuji, yaitu: pelat baja, papan kayu, pelat baja expanded dan lembaran karet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tandan jatuh pada jarak antara 0.6 m sampai 1.4 m dari pohon. Berat TBS berkisar antara 16 kg sampai 32 kg. Bahan karet paling baik untuk penangkap TBS dalam mengurangi jumlah buah tercecer dan buah memar. Energi potensial TBS jatuh berada di kisaran 0,44-4,44 kJ. Jarak tempuh teoritis dari angkong yang menggunakan energipotensial yang ditangkap, berada di kisaran 2.27 m - 22.98 m. Berdasarkan data pengukuran, sebuah desain konseptual mesin penangkap dan evakuasi TBS telah dirancang.Kata kunci: panen kelapa sawit, karakteristik teknik, energi potensial, landasan tangkapan, desain konseptual.Diterima: 24 Mei 2013; Disetujui: 27 Agustus 2013
Difusivitas Panas dan Umur Simpan Pempek Lenjer Railia Karneta; Amin Rejo; Gatot Priyanto; Rindit Pambayun
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.01.1.%p

Abstract

AbstractThe objectives of this research were to study the effect of fish and flour formulation as well as centre point temperature on the thermal diffusivity and shelf life of pempek lenjer. The parameters observed were the temperature of pempek at several position: i.e. (r0) = 0 cm, r1 = 1 cm, r2 = 2 cm, cooking time, change of textural value, total volatile nitrogen and total microbes of pempek during storage. Data temperaturedistribution was analyzed by using diffusivity at center point model, and random diffusivity models through computer program of Engineering Equation Solver (EES) Ver 8.91. The shelf life data was analyzed by usinglinear regression to determine the relationship between storage time and the measured variables which was followed by calculating using Arrhenius method to compare the decrease of pempek lenjer quality. The results showed that thermal diffusivity coefficient of pempek lenjer for formula 1 was in the range of 0.321 to 1.515 .10-7 m2/s, for formula 2 was in the range of 0.297 to 1.389.10-7 m2/s, for formula 3 was in the rangeof 0.378 to 1.471 . 10-7 m2/s and for formula 4 was in the range of 0.2778 to 1.620.10-7 m2/s.The research results showedthat longerstorage time results in lower values of texture, but produced higher value oftotal volatile nitrogen and total microbes. The lowest Eavaluefrom the measured variablewas totalmicrobes which can be used as the main parameter of deterioration for pempek lenjer during storage. The shelf lifeof pempek lenjer based on total microbes value was in the range of 27 to 33 hoursKeywords : thermal diffusivity, shelf life, pempekAbstrakTujuan penelitian inimempelajari pengaruh formula ikan dan tepung, serta suhu terhadap difusivitas panas dan umur simpan pempek lenjer. Variabel yang diukur adalah suhu sampel pempek pada titik pusat (r0) = 0 cm, r1 = 1 cm, r2 = 2 cm,lama pemasakan pempek, perubahan nilai tekstur, total volatil nitrogen dan total mikroba selama penyimpanan. Data distribusi suhudianalisis menggunakan model difusivitas panas pada titik sebarang, dan model difusivitas panas pada titik pusat dengan program computer Engineering Equation Solver (EES) Ver 8.91. Data umur simpan dianalisismenggunakan regresi linier untuk melihat hubungan antara lama penyimpanan dengan tekstur, total volatil nitrogen, dan total mikroba yang diukur, dan dilanjutkan dengan perhitungan cara Arrhenius untuk membandingkan penurunan mutu pempek lenjer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien difusivitas panas pempek lenjer pada formula 1 adalah interval 0,321 - 1,515. 10-7 m2/s, pada formula 2 adalah 0,297 – 1,389.10-7 m2/s, pada formula 3 adalah 0,378 – 1,471. 10-7 m2/s, dan formula 4 adalah 0,2778 – 1,620.10-7 m2/s.Semakin lama penyimpanan, tekstur semakin menurun, tetapi total volatil nitrogen dan total mikroba semakin meningkat. Nilai Ea terendah pada total mikroba, sehingga dapat dijadikan parameter kunci kerusakan pempek lenjer selama penyimpanan. Umur simpan pempek “lenjer” berdasarkan total mikroba selama 27 - 33 jam.Kata kunci : difusivitas panas, umur simpan, pempekDiterima: 17 Juni 2013; Disetujui: 26 September 2013
Potensi Penggunaan Bambu sebagai Tabung Resonator Thermoacoustics Refrigeration Edy Hartulistiyoso; Muhamad Yulianto; Irawan Senatosa
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.01.1.%p

Abstract

AbstractThermoacoustics refrigeration is considered as one of cooling method, which recently developed. This method can be applied for cooling of foods in particular vegetables. The important components in thermoacoustics refrigeration are: resonator tube, Stack, acoustics driver and working fluid. The advantages of thermoacousic refrigeration include the use of relatively simple components, consequent energy saving, and most importantly thing is environmentally friendly. Recent researches has highlighted the necessity to develop resonator tube and stack concerning shape, design, size and basic material which is used to produce resonator tube and stack. This paper comprehensively reviews the current state of technologyto develop shape, design, size, and basic material in the development of thermoacoustics refrigeration. It is concluded that the use of bamboo as basic material can be applied with continuing research of its application may lead to the use of thermoacoustic refrigeration for food and vegetables.Keywords: themoacoustics refrigeration, bamboo, resonator tube, stack, food and vegetablesAbstrakThermoacoustic refrigeration merupakan salah satu metode pendinginan yang saat ini banyak dikembangkan. Metode ini dapat diaplikasikan untuk mendinginkan makanan dan sayur-sayuran. Beberapa komponen komponen penting dalam thermoacoustic refrigeration diantaranya adalah : tabung resonator, stack, pembangkit akustik dan fluida kerja. Keunggulan penggunaan metode thermoacoustic refrigeration sebagai metode pendinginan adalah : penggunaan komponen yang lebih sedikit, penghematan energi, dan yang paling penting adalah ramah lingkungan. Penelitian-penelitian terbaru banyak memfokuskan pada pengembangan tabung resonator dan stack terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan bentuk, design, ukuran dan material dasar yang digunakan pada pembuatan tabung resonator dan stack. Artikel ini secara komprehensif meninjau kondisi perkembangan teknologi yang berkaitan dengan bentuk, design, ukuran dan material dasar pada pengembangan thermoacoustic refrigeration. Artikel ini mempunyai kesimpulan bahwa penggunaan bambu sebagai tabung resonansi dapat diaplikasikan dengan penelitian yang berkelanjutan untuk dapat diaplikasikan juga sebagai thermoacoustic refrigeration untuk makanan dan sayur-sayuran.Kata kunci: thermoacoustic refrigeration, bambu, tabung resonansi, stack, makanan dan sayur-sayuranDiterima: 17 Juni 2013; Disetujui: 26 September 2013
Analisis Pengeringan Sawut Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Menggunakan Pengering Efek Rumah Kaca (ERK) Dyah Wulandani; Stephani Utari
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.01.1.%p

Abstract

AbstractSweet potatoes processing in to starch need a drying process. Green-house effect solar dryer – rotating rack type is one of the altenative for drying of sweet potatoes due to its higienis and its availability to be used anytime. The objective of the study was to analysis chopped sweet potatoes drying by using rotating rack greenhouse effect solar dryer. The capacity of the drying chamber is 48 kg of chopped sweet potatoes. Three experiments of drying have been conducted: the first drying is without products, the second is drying of products without rotating of rack and and the third is drying of products byimplement the rotating of rack of 45o every 60 minutes. The results of chopped sweet potatoes drying show that drying temperature on the dryer chamber ranged between 31.6oC to 61oC. Drying of product by implement the rotating of rack of 45o every 60 minutes yields the best temperature uniformity. To reduce moisture content from 72.76 %wb to 9.5 %wb it’s needed 13.5 hours, or drying rate of 22.4 %bk/h. The energy consumption of the experiment 3 was 35.15 MJ/kg of moisture evaporated and the drying efficiency was 7.47 %Keywords: greenhouse effect solar dryer, chopped sweet potatoes dryingAbstrakPengolahan ubi jalar menjadi tepung ubi memerlukan proses pengeringan. Pengering efek rumah kaca hibrid tipe rak berputar merupakan alternative untuk mengeringakan ubi jalar sawut karena higienis dan dapat digunakan sepanjang waktu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengeringan ubi jalar menggunakan pengering efek rumah kaca hibrid tipe rak berputar. Kapasitas pengeringan alat pengeringini adalah 48 kg sawut ubi jalar. Pada penelitian ini dilakukan 3 macam perlakuan pengeringan; percobaan 1, pengujian tanpa beban; percobaan 2, pengujian pengering dengan beban tanpa pemutaran rak; danpercobaan 3, pengujian pengering dengan beban dan rak diputar 450 setiap 60 menit. Hasil pengeringan sawut ubi jalar menunjukkan suhu ruang pada pengering berkisar antara 31.6oC-61.5oC. Perlakuan pemutaran rak sebesar 450 setiap 60 menit (percobaan 3) menghasilkan tingkat keseragaman yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Untuk menurunkan kadar air sawut ubi jalar dari kadar air72,8 %bb menjadi 9.5 %bb dibutuhkan waktu 13.5 jam, atau laju pengeringan rata-rata 22.4 %bk/jam. Konsumsi energi untuk menguapkan 1 kg air dari produk adalah 35.15 MJ/kg dengan efisiensi pengeringan sebesar 7.47%.Kata kunci: pengering efek rumah kaca, pengeringan sawut ubi jalarDiterima: 04 Juni 2013; Disetujui: 03 September 2013
Kajian Kelembaban Tanah dan Kebutuhan Air Beberapa Varietas Hibrida DR UNPAD Kharistya Amaru; Edy Suryadi; Nurpilihan Bafdal; Fitri Punden Asih
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.01.1.%p

Abstract

AbstractThis research aimed for examining the effect of soil moisture toward the amount and efficiency of water application of hybrid maize DR Unpad. This research was conducted in the greenhouse located in Faculty of Agriculture Padjadjaran University, which is situated at about 801 meters above mean sea level. The research method was using the experimental method of Split Plot Design with three replicates. The first factor was the hybrid corn varieties, i.e.: DR-A, DR-B, DR-F, and BISI-2. The second factor wasthe arrangement of soil moisture, i.e.: 100% field capacity, 90% field capacity, and 80% field capacity.The results showed that there was no interaction between the treatment of maize varieties and soil moisture.On soil moisture maintained at 90% field capacity, the plants has the highest water requiremenst is 345.45 mm/season.It has showed the best plant growth, the yield and water-use efficiency at the highest level at1.83 g/L. Plants that showed the highest water requirement, the best in growth and yield, in a row are hybrid corn BISI-2, DR-F, DR-A, and DR-B.Keywords: soil moisture, water requirement, hybrid corn DR Unpad, and field capacity.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelembaban tanah terbaik terhadap jumlah kebutuhan dan efisiensi penggunaan air tanaman jagung hibrida DR Unpad. Penelitian dilakukan di rumah kaca KebunPenelitian Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran memiliki ketinggian ± 801 meter di atas permukaan laut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah varietas jagung hibrida, yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: DR-A, DR-B, DR-F, dan BISI-2. Faktor kedua adalah pengaturan kelembabantanah, yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: kelembaban tanah 100 % kapasitas lapang (KL), 90 % KL, dan 80 % KL. Hasil penelitian menunjukan bahwa antara perlakuan varietas jagung dan kelembaban tanah ternyata tidakterjadi interaksi. Pada kelembaban tanah dipertahankan 90 % kapasitas lapang, tanaman membutuhkan air paling tinggi, yaitu 345.45 mm/musim dan memperlihatkan pertumbuhan dan hasil tanaman paling baik, serta efisiensi penggunaan air paling tinggi yaitu 1.83 g/L. Tanaman yang menunjukkan kebutuhan air tertinggi, y pertumbuhan dan hasil yang terbaik dalam, berturut-turut adalah jagung hibrida BISI-2, DR-F,DR-A, dan DR-B.Kata Kunci: kelembaban tanah, kebutuhan air, jagung hibrida DR Unpad, dan kapasitas lapangDiterima: 08 April 2013; Disetujui: 09 Juli 2013

Page 1 of 51 | Total Record : 509


Filter by Year

1992 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 1 (2022): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 9 No. 3 (2021): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 9 No. 2 (2021): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 3 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 2 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 1 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 7 No. 2 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 6 No. 2 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 6 No. 1 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 5 No. 3 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 5 No. 2 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 5 No. 1 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 4 No. 2 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 4 No. 1 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 3 No. 2 (2015): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 3 No. 1 (2015): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 2 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 27 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 26 No. 2 (2012): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 26 No. 1 (2012): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 2 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 1 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 24 No. 2 (2010): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 24 No. 1 (2010): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 23 No. 2 (2009): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 23 No. 1 (2009): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 22 No. 2 (2008): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 22 No. 1 (2008): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 4 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 3 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 2 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 1 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 20 No. 3 (2006): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 20 No. 2 (2006): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 20 No. 1 (2006): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 19 No. 3 (2005): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 19 No. 1 (2005): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 17 No. 2 (2003): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 17 No. 1 (2003): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 16 No. 1 (2002): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 15 No. 2 (2001): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 15 No. 1 (2001): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 14 No. 3 (2000): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 14 No. 2 (2000): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 14 No. 1 (2000): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 3 (1999): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 1 (1999): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 2 (1998): Buletin Ketenikan Pertanian Vol. 12 No. 1 (1998): Buletin Ketenikan Pertanian Vol. 11 No. 1 (1997): Buletin Ketenikan Pertanian Vol. 6 No. 1 (1992): Buletin Ketenikan Pertanian More Issue