cover
Contact Name
Saleha Sungkar
Contact Email
salehasungkar@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
ejki.fkui@ui.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
eJurnal Kedokteran Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 23501426     EISSN : 23386037     DOI : 10.23886
Core Subject : Health,
Elektronik Journal Kedokteran Indonesia (eJKI) is a peer-reviewed and open access journal that prioritize the publication manuscript of students (medical education program, magister/specialist, doctoral). This journal publishes editorial, research article, reviews, evidence-based case report, and also interesting case reports/case study. eJKI published three times a year (April, August, December) and published by Faculty of Medicine Universitas Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2015): April" : 12 Documents clear
Biosecurity dalam Kedokteran dan Kesehatan Pratiwi P. Sudarmono
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.809 KB)

Abstract

Virus dan bakteri adalah mikroorganisme yang dapat menimbulkan wabah penyakit yang menyebardengan cepat dan mengakibatkan kematian.Selain itu, beberapa wabah dikaitkan denganaksi terorisme yang menimbulkan kepanikan masyarakat, pemerintah dan petugas kesehatan.Hal tersebut mendorong WHO dan beberapanegara bekerja sama untuk menanggulangi dan mencegah terulangnya kejadian tersebut, dalam suatu istilah yang disebut biosecurity.1,2 Biosecurity merupakan konsep baru yang sedang berkembang di dunia kesehatan dan kedokteran. Oleh karena itu, biosecurity harus dimengerti oleh semua tenaga kesehatan, salah satunya adalah dokter.Sebagai klinisi, seorang dokter harus memiliki kecurigaan terhadap pertambahan angka kejadian penyakit tertentu, juga karakteristik berbagaipenyakit yang relatif baru yang terkait dengan bahan biologi atau agen infeksi patogen yang dapat disalahgunakan dalam bioterorisme, juga manifestasi klinis yang meragukan dan tidak biasa.Dalam upaya menanggulangi berbagai ancaman/bahaya bioterorisme, seorang dokter juga harus mampu bekerja sama dengan pemerintah ataupun berbagai elemen masyarakat terkait agar usaha bioterorisme dapat ditanggulangi.
The Trend of Diarrhea in Kodi and Kodi Utara Subdistricts, Sumba Barat Daya District in 2013 and Its Related Factors Cara Tasya Handita; Saleha Sungkar
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.014 KB)

Abstract

Diarrhea is one of the most frequent diseases occur globally, including Indonesia, with mostly infected children under five years old. Sumba Barat Daya (SBD) is one of area in Nusa TenggaraTimur (NTT) with limited water sources, including Kodi and Kodi Utara subdistricts. Kodi has riverthat is accessible for the population, while Kodi Utara has no clean water sources. The purpose ofthis study was to know the trend and prevalence of diarrhea in 2013, and its relation with age andthe availability of water sources Kodi and Kodi Utara, SBD district. This study used cross sectionaldesign using secondary data taken from local health service of SBD. This study found that numberof diarrhea cases in 2013 in the two subdistricts were fluctuated, with the highest cases belongedto population less than five years old. Prevalence of diarrhea in Kodi Utara (1.76%) was higherthan in Kodi (1.68%). Analytical test using chi square showed that prevalence of diarrhea in the twosubdistricts was significantly related to age (p<0.05), but it was not significantly related to the area(p>0.05). In conclusion, prevalence of diarrhea in Kodi and Kodi Utara was related to age, howeverit was not related with availability of water sources. Keywords: diarrhea, prevalence of diarrhea, clean water sources, Kodi, Kodi Utara, Sumba Barat Daya Trend Diare di Kecamatan Kodi dan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat DayaTahun 2013 dan Faktor-Faktor Terkait Abstrak Diare adalah penyaki tersering di dunia, termasuk Indonesia, yang sering menyerang anak di bawah usia lima tahun. Sumba Barat Daya (SBD) adalah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT). dengan sumber air yang terbatas, termasuk kecamatan Kodi dan Kodi Utara. Kodi memiliki sungaiyang mudah diakses oleh penduduknya, sedangkan Kodi Utara tidak memiliki sumber air bersih.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui trend dan prevalensi diare tahun 2013, serta hubungannyadengan usia dan ketersediaan sumber air di kecamatan Kodi dan Kodi Utara, Kabupaten SBD.Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan menggunakan data sekunder yang diambildari Dinas Kesehatan (DinKes) SBD. Dari penelitian ini didapatkan bahwa jumlah kasus diare tahun2013 di kedua kecamatan berfluktuasi, dengan jumlah kasus terbanyak pada usia kurang dari limatahun. Prevalensi diare di Kodi Utara (1,76%) lebih tinggi dibandingkan Kodi (1,68%). Analisis dengan uji chi square menunjukkan bahwa prevalensi diare di kedua kecamatan berhubungan secara signifikan dengan usia (p<0,05), tetapi tidak berhubungan signifikan dengan area (p>0,05).Disimpulkan bahwa prevalensi diare di Kodi dan Kodi Utara berhubungan dengan usia, namuntidak berhubungan dengan ketersediaan sumber air. Kata kunci: diare, prevalensi diare, sumber air bersih, Kodi, Kodi Utara, Sumba Barat Daya
Hubungan Infeksi Parasit Usus dengan Pengetahuan Perilaku Hidup Bersih Sehat pada Anak SD Bekasi, 2012 Rebecca O. Fransisca; Aprilia D. Iriani; Fia A. Mutiksa; Shabrina Izati; Risma K. Utami
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.349 KB)

Abstract

Infeksi parasit usus dapat mengganggu tumbuh kembang anak dan mempengaruhi kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi infeksi parasit usus pada anak sekolahdasar di Bekasi pada tahun 2012 dan hubungannya dengan tingkat pengetahuan tentang perilakuhidup bersih sehat (PHBS). Penelitian cross sectional ini dilakukan di sekolah dasar negri (SDN)dan madrasah ibtidaiyah (MI) di Bekasi. Data diambil pada bulan April 2012 dengan menggunakankuesioner yang berisi pertanyaan mengenai PHBS dan pemeriksaan feses. Semua murid kelas 3, 4,5, dan 6 yang hadir dijadikan subjek penelitian. Dari 130 sampel feses, 64,6% positif terinfeksi parasitusus yaitu B.hominis (43,1%), E. coli (3,1%), G. lamblia (3,1%), H. nana (2,3%), infeksi campur B.hominis dan E. coli (3,1%), B. hominis dan G. lamblia (8,5%), B. hominis dan T. trichiura (0,8%), B.hominis, E. coli, T. trichiura dan H. nana (0,8%). Hanya 3 subjek (2,3%) yang memiliki pengetahuanbaik mengenai PHBS sedangkan 72 subjek (55,4%) berpengetahuan sedang dan 55 subjek (42,3%)memiliki pengetahuan kurang. Uji chi square menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,043) sehinggadisimpulkan infeksi parasit usus berhubungan dengan tingkat pengetahuan PHBS. Kata Kunci: infeksi parasit usus, pengetahuan PHBS, anak sekolah dasar The Prevalence of Intestinal Parasitic Infection among Primary School Childrenin Bekasi, 2012 and its Associationwith Knowledge about Clean and Healthy Behaviour Abstract Intestinal parasitic infection can interfere children&rsquo;s growth and development which will affect their quality of life. The purpose of this research is to find out the prevalence of intestinal parasitic infectionamong primary school children in Bekasi in 2012 and its association with knowledge level about cleanand healthy living behaviour (PHBS). This cross sectional study was conducted in primary school(SDN) and Islamic primary school in Bekasi (MI). Data was obtained on April 2012 using questionnaireconsisted of questions about PHBS and stool examination. All students grade 3,4,5 and 6 were involvedin this study. Out of 130 stool samples, 64,6% samples were infected by intestinal parasite as follows:B.hominis (43,1%), E. coli (3,1%), G. lamblia (3,1%), H. nana (2,3%), mix infection B. hominis and E.coli (3,1%), B. hominis and G. lamblia (8,5%), B. hominis and T. trichiura (0,8%), B. hominis, E. coli,T. trichiura and H. nana (0,8%). Only 3 respondents (2,3%) have good PHBS knowledge while 72respondents (55,4%) have moderate PHBS knowledge and 55 respondents (42,3%) have poor PHBSknowledge. Chi square test shows significant difference (p=0,043) therefore it is summed that intestinalparasitic infection relates with level of PHBS knowledge. Keywords: intestinal parasitic infection, PHBS knowledge, primary school children
Resistensi dan Sensitivitas Bakteri terhadap Antibiotik di RSU dr. Soedarso Pontianak Tahun 2011-2013 Nurmala Nurmala; IGN Virgiandhy; Andriani Andriani; Delima F. Liana
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.417 KB)

Abstract

Salah satu upaya untuk mengurangi resistensi, pemberian antibiotik harus berdasarkan pola bakteri penyebab infeksi dan kepekaan bakteri terhadap antibiotik. Tujuan penelitian ini untukmengetahui pola bakteri, resistensi dan sensitivitasnya terhadap antibiotik di RSU dr. SoedarsoPontianak tahun 2011-2013. Penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif dilakukan RSU dr. Soedarso, Pontianak. Sampel penelitian adalah hasil pemeriksaan kultur dan uji kepekaan spesimen pus pasien yang diperiksa di Bagian Mikrobiologi Unit Labolatorium Kesehatan (ULK). Dari 111 sampel,terdapat 21 jenis bakteri. Bakteri gram-negatif lebih banyak dari gram-positif, yaitu 70,7% dan 29,3%.Tiga bakteri terbanyak adalah Citrobacter freundii (18%), P. aeruginosa (17,1%) dan Staphylococcusepidermidis (15,3%). Resistensi tertinggi bakteri adalah terhadap metronidazol (96,4%), sefaleksin(95,8%), sefuroksim (92,2%), oksasilin (91,7%) dan sefadroksil (91,5%) dan sensitivitas tertinggibakteri terhadap piperasilin/tozobaktam (89,7%), meropenem (82,9%), imepenem (78,1%), amikasin(76,3%), fosfomisin/trometamol (59,5%) dan levofloksasin (56,1%). Kata kunci: bakteri, antibiotik, resistensi, sensitivitas, pus. Resistance and Sensitivity of Bacteria to Antibioticsat dr. Soedarso Hospital Pontianak 2011-2013 Abstract An effort to reduce resistance, antibiotics prescription should be based on information about pattern of bacteria and sensitivity to antibiotics. The aim of the study is to determine the patternof bacteria, resistance and sensitivity to antibiotics at dr. Soedarso Hospital Pontianak 2011-2013. This research is a descriptive study with retrospective approach. Samples were culture and sensitivity test result in pus specimen of dr. Soedarso Hospital patient&rsquo;s examined at ULK. Thenumber of samples in this study were 111 samples. There were 21 type of bacterias. Gram-negativebacterias were found more than gram-positive bacterias, 70.7% and 29.3%. Three of most frequentbacterias are Citrobacter freundii (18%), P. aeruginosa (17,1%) and Staphylococcus epidermidis(15,3%). Overall, the highest bacterial resistance is to metronidazole (96,4%), cephalexin (95,8%),cefuroxime (92,2%), oxacillin (91,7%) and cefadroxil (91,5%), and the highest bacterial sensitivityto piperacillin/tozobaktam (89,7%), meropenem (82,9%), imepenem (78,1%), amikacin (76,3%),fosfomycin/ trometamol (59,5%) and levofloxacin (56,1%). Keywords: bacteria, antibiotic, resistance, sensitivity, pus.
Gambaran Histologi Regenerasi Hati Pasca Penghentian Pajanan Monosodium Glutamat pada Tikus Wistar Heryanto Andreas; Heru F. Trianto; M. In’am Ilmiawan
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.733 KB)

Abstract

Monosodium glutamat (MSG) merupakan bahan penyedap masakan yang sering digunakan, namun konsumsi MSG berlebihan dapat merusak hati. Tujuan penelitian ini adalah mengetahuipengaruh pajanan MSG terhadap gambaran histologis hati tikus jantan galur wistar dankemampuan regenerasinya. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental post-test only.Tikus dibagi menjadi 9 kelompok, yang terdiri atas 3 kelompok perlakuan dalam 3 periode yang berbeda (28, 42, dan 56 hari). Kelompok kontrol positif 1, 2, dan 3 diberikan akuades selama 28 hari, 42 hari, 56 hari; kelompok kontrol negatif 1, 2, dan 3 diberikan MSG 5 mg/gBB/hari selama 28hari, 42 hari, 56 hari; kelompok perlakuan regenerasi 1, 2, 3 diberikan MSG 5 mg/gBB/hari selama28 hari kemudian dihentikan selama 0 hari, 14 hari, 28 hari. Variabel yang diukur adalah derajatkerusakan jaringan hati. Pada analisis one way ANOVA terdapat perbedaan signifikan (p<0,05).Uji post hoc LSD menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok kontrol positif dengankelompok kontrol negatif (p<0,05) dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok kontrolpositif dengan perlakuan regenerasi 14 hari (p>0,05) dan perlakuan regenerasi 28 hari (p>0,05).Disimpulkan pajanan MSG mengakibatkan kerusakan hati dan terjadi regenerasi hati setelah 14hari penghentian pajanan MSG. Kata kunci: monosodium glutamat, regenerasi, kerusakan hati Histological Study of Liver Regeneration after Cessation ofMonosodium Glutamat on Rats Abstract Monosodium glutamat (MSG) is flavor enhancer that has been used in various food products. Excessive consumption of MSG have been reported to damage liver. The purpose of this experimentis to determine effect of MSG on male wistar rats&rsquo;s liver histology and it&rsquo;s regeneration capability.This is an experimental research with post-test only goup design. Rats were divided into 9 goups,consisted of 3 treatment goups with 3 different period (28, 42, and 56 days). 1 positivecontrol goup were given akuades for 28, 42, and 56 days; 1st, 2nd, and 3rdst, negative control goup weregiven 5 mg/gBW/day of MSG for for 28, 42, and 56 days; 1st, 2nd, and 3 treatment goup were given 5mg/gBW/day of MSG for 28, 42, and 56 days, then stopped for 0, 14, and 28 days. Measured variablewere liver damage degree. One Way ANOVA data analysis found a significant difference (p<0.05)and there was no significant difference between positive control and regeneration treatment goup day 14th (p>0.05) and regeneration treatment group day 28thrd2nd3, and 3rd (p>0.05). MSG exposure causes liver damage and liver regeneration occurs after 14 days cessation of MSG exposure. Keywords: monosodium glutamate (MSG), regeneration, liver damage
Level of Physical Activity and Its Associations with Lung Function of Medical Students Tommy Supit; Elisna Syahruddin
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.839 KB)

Abstract

Lung function is a well-established predictor of mortality and is used routinely in general health assessment. The objective of this study is to elaborate the importance of physical activity on lungfunction, focusing on daily activity as the domain parameter. Forty eligible medical students wereinterviewed for study parameters, answered GPAQ and underwent spirometry measurement. Alldata interpreted using an established method based on Pneumobile Project Indonesia. Comparisonbetween each level of physical activity (LPA) was assessed with Kruskall-Wallis test, followed byDunn&rsquo;s multiple comparison post hoc test.The number of medical student with LPA and lung functionwere almost similiar in low and moderate plus high groups. The FVC in low, moderate, and high LPAare: 105.4&plusmn;2.2% (n=20), 112.6&plusmn;2.2% (n=17), and 118&plusmn;6.3% (n=3), respectively. The FEV1 in lowLPA group is 109.2&plusmn;2.4%, moderate 113.7&plusmn;2.4%, and high 122&plusmn;7.2%.Students with higher LPA areassociated with higher FVC, FEV1, and spent less time on sedentary activities weekly. Keywords: level of physical activity, association, lung function, medical students Tingkat Aktivitas Fisik dan Hubungannya dengan Fungsi ParuMahasiswa Fakultas Kedoktereran Abstrak Fungsi paru adalah prediktor kematian yang terbukti dan digunakan secara rutin dalam penilaian kesehatan umum. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pentingnya aktivitas fisik untuk fungsi paru,dengan memfokuskan kegiatan sehari-hari sebagai parameter pengukur. Empat puluh mahasiswakedokteran yang memenuhi syarat diwawancarai untuk parameter studi, menjawab GPAQ danmenjalani pengukuran spirometri. Semua data diinterpretasikan berdasarkan hasil Proyek PneumobileIndonesia. Perbandingan antara setiap tingkat aktivitas fisik dinilai dengan uji Kruskall-Wallis, diikutidengan uji Dunn&rsquo;s multiple comparison post hoc test.Jumlah mahasiswa kedokteran yang mempunyainilai aktivitas fisik dan fungsi paru nyaris seimbang antara nilai rendah dibandingkan dengan sedangdan tinggi. Nilai FVC pada mahasiswa dengan tingkat aktivitas fisik rendah, sedang, dan tinggi adalah105,4&plusmn;2,2% (n=20), 112,6&plusmn;2,2% (n=17), dan 118&plusmn;6,3% (n=3). Nilai FEV1 pada kelompok denganaktivitas fisik rendah: 109,2&plusmn;2,4%, sedang 113,7&plusmn;2,4%, dan tinggi 122&plusmn;7,2%. Mahasiswa dengantingkat aktivitas yang lebih tinggi mempunyai nilai FVC dan FEV1 yang lebih tinggi dan menghabiskanlebih sedikit waktu dalam melakukan kegiatan yang rutin dan tetap. Kata kunci: tingkatan aktivitas fisik, asosiasi, fungsi paru, mahasiswa kedokteran
Hubungan antara Faktor Sosio Ekonomi Ibu terhadap Pengetahuan Mengenai Tuberkulosis Harris Soetanto; Trevino A. Pakasi
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428 KB)

Abstract

Tuberkulosis (TB) dan kematian akibat infeksinya merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan mengenai TB denganfaktor sosio-ekonomi. Desain penelitian adalah cross sectional dengan sampel 2419 ibu yangdipilih secara acak menggunakan sistem polygonal random sampling dari 11 kelurahan terpadat diJakarta Timur. Data diuji dengan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan hanya 335 responden(14%) yang menjawab seluruh pertanyaan dengan benar dan berhubungan dengan status kerja, penghasilan keluarga, pendidikan terakhir dan sumber informasi. Pengetahuan mengenai TB yang tinggi berhubungan dengan status ibu yang tidak bekerja (p=0,004 RP 0,894 IK95% 0,83;0,97),penghasilan keluarga yang tinggi (p<0,001 RP 1,33 IK95% 1,12;1,15), pendidikan terakhir yangtinggi (p<0,001 RP 1,41 IK95% 1,31; 1,51), dan mendapatkan informasi (p<0,001 RP 0,082IK95% 0,037; 0,178). Pengetahuan yang benar mengenai TB masih rendah dan televisi berperanbesar dalam meningkatkan pengetahuan mengenai TB pada ibu di Jakarta Timur. Disimpulkanpengetahuan mengenai TB berhubungan dengan faktor-faktor sosio ekonomik ibu dan dapatditingkatkan dengan sumber informasi yang tepat. Kata kunci: tuberkulosis, pengetahuan, Jakarta Timur, status kerja, penghasilan keluarga, tingkatpendidikan, sumber informasi Relationship between Socio Economic Factors with the Mother&rsquo;s Knowledge about Tuberculosis Abstract Tuberculosis and deaths caused by its infection is major problem in Indonesia. This study was done to describe the association between socio economic factors and tuberculosis&rsquo; knowledge. Thedesign of this study was cross-sectional survey. Research subjects were 2419 housewives from11 most populated districts within East-Jakarta selected at random by using polygonal randomsampling. Result showed that 335 respondents (14%) answered correct all question regardingetiology, curability, transmission and length of treatment. Chi-square test showed that tuberculosis&rsquo;knowledge was significantly associated with level of formal education, employment status, monthlyincome level, and information source. Better knowledge of tuberculosis was significantly related withunemployment (p 0,004 PR 0,894 CI95% 0,83;0,97), high level of monthly income (p < 0,001 PR 1,33CI95% 1,12;1,15), high level of formal education (p < 0,001 PR 1,41 CI95% 1,31; 1,51) and receivinginformation about TB (p < 0,001 PR 0,082 CI95% 0,037; 0,178). Overall, level of tuberculosisknowledge without misconception on housewives within East Jakarta is low. Level of tuberculosisknowledge related to socioeconomic status and can be improved by effective source of information. Keywords: tuberculosis, knowledge, east jakarta, employment status, family income, educationlevel, source of information
Penyekat Beta sebagai Terapi Anti-Remodeling pada Gagal Jantung Hilman Zulkifli Amin; Irsan Hasan
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.915 KB)

Abstract

Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama dan setiap tahunnya terjadi 50 juta kematian di seluruh dunia. Gagal jantung tercatat sebagai salah satu penyakit kardiovaskularyang sering terjadi. Pada gagal jantung, terjadi remodelling sel yang mengakibatkan penurunanfungsi pompa jantung. Seiring dengan kemajuan penelitian di bidang kardiovaskuler, penyekatbeta telah diteliti penggunaannya sebagai terapi anti-remodelling. Sampai sekarang, penelitian danstudi terkait hal tersebut masih terus dilakukan. Tujuan penulisan makalah ini untuk menjelaskanperan penyekat beta sebagai terapi anti-remodelling pada gagal jantung. Pencarian terstrukturmelalui PubMed mendapatkan 93 artikel, setelah disesuaikan dengan kriteria eksklusi dan inklusididapatkan 25 artikel. Setelah membaca artikel secara lengkap, didapatkan 11 artikel yang sesuai.Kemudian artikel tersebut ditelaah dalam menentukan validitas, relevansi, dan aplikabilitas. Dari 11artikel yang ditelaah kritis, didapatkan bahwa beta-blocker dapat berperan sebagai anti-remodellingmelalui peningkatan fungsi jantung sebagaimana terlihat pada kenaikan ejection fraction (EF),penurunan left ventricular end systolic volume (LVESV) dan left ventricular end diastolic volume(LVEDV) pada pasien gagal jantung. Kata Kunci: penyekat beta, anti-remodelling, gagal jantung Beta-Blocker as Anti-Remodeling Therapy in Heart Failure Abstract Cardiovascular diseases still become the leading cause of death in the world. All over the world, there are approximately 50 million deaths every year caused by cardiovascular diseases.Heart failure is known as one of cardiovascular diseases that frequently happened. In heart failurestate, there is a cell remodeling condition that implicated to lowering heart pump function. As thedevelopment progress of cardiovascular researches, beta-blocker has also been studied for its useas anti-remodeling therapy. Up to now, studies and researches related to that topic are still beingconducted. This paper made to acknowledge beta-blocker as anti-remodeling therapy in heartfailure. Structured PubMed search was conducted and yielded 93 articles; whereafter the inclusionand exclusion criteria were applied, 25 articles remained. After reading the full texts, 11 articleswere appraised concerning its validity, relevance, and aplicability. From 11 articles appraised, it was known that beta-blocker could be acted as anti-remodeling therapy by improving the heart function as shown by the increase of EF and decrease of LVESV and LVEDV in heart failurepatients on those studies. Keywords: Beta-blocker, Anti-remodelling, heart failure
Embryonal Rhabdomyosarcoma of The Forearm: A Diagnostic Dilemma and Surgical Management Achmad F. Kamal; Wahyu Widodo; Adrian Situmeang; Evelina Kodrat; Marcel Prasetyo
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.986 KB)

Abstract

Establishing the diagnosis of primary soft-tissue sarcoma is a difficult task even for an experienced clinician. There is a plethora of clinical manifestation yet its radiological appearancecan be very deceiving in every way. We report a case of embryonal rhabdomyosarcoma in an adultfemale with lump in her left distal forearm, with clinical manifestation and radiological appearance thatimmitate bone sarcoma. The diagnosis was not established until the biopsy result came up whichalso confirmed by immunohistochemistry stain. The treatment is a novelty limb salvage surgery withmodified forearm segmental amputation and shortening procedure. Six months after the surgery thepatient had good functional outcome without local recurrence and distant metastasis. Keywords: embryonal rhabdomyosarcoma, limb salvage surgery, forearm segmental amputation Rabdomiosarkoma Embrional Antebrakhii:suatu Masalah Diagnosis dan Penatalaksanaan Bedah Abstrak Menegakkan diagnosis sarkoma jaringan lunak primer merupakan pekerjaan sulit, bahkan di tangan klinisi yang berpengalaman sekalipun. Sejumlah kasus sarkoma jaringan lunak menunjukkan manifestasi klinis, tetapi gambaran radiologisnya tidak sesuai. Pada makalah ini dilaporkan satu kasus rabdomiosarkoma embrional pada perempuan dewasa dengan benjolan di antebrachii distalkiri dengan manifestasi klinis dan gambaran radiologi menyerupai sarkoma tulang. Diagnosis pastiditegakkan setelah pemeriksaan pulasan imunohistokimia. Penatalaksanaan bedah yang dilakukanmerupakan inovasi baru dengan cara limb salvage surgery amputasi segmental antebrachii yangdimodifikasi dan shorthening procedure. Pada pengamatan 6 bulan pascabedah, pasien memilikiluaran fungsional yang baik tanpa disertai rekurensi lokal dan metastasis jauh. Kata kunci: rabdomiosarkoma embrional, limb salvage surgery, amputasi antebrakhii segmental
Indikator Keberhasilan Pengelolaan Aktivitas Fisik pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 Nani Cahyani Sudarsono
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.511 KB)

Abstract

Aktivitas fisik menggambarkan gerakan tubuh manusia sebagai hasil kerja otot rangka. Penelitian peningkatan aktivitas fisik secara kumulatif penting dilakukan terkait membaiknya kualitaskesehatan melalui peningkatan endurans kardiorespirasi. Sebaliknya, perilaku sedenter dikaitkandengan berbagai penyakit, salah satunya diabetes melitus (DM) tipe 2. Program latihan fisikindividual disusun dengan memperhatikan latihan kardiorespirasi sebagai komponen utama yangdiuraikan berdasarkan prinsip frekuensi &ndash; intensitas &ndash; durasi &ndash; jenis latihan. Latihan fisik merupakansalah satu pilar penatalaksanaan diabetes. Latihan fisik teratur pada DM tipe 2 memberikanproteksi kardiometabolik sehingga mencegah atau mengurangi laju perjalanan penyakit diabetesdan komplikasi melalui perbaikan tekanan darah dan fungsi ginjal. Hatha yoga dan arm swingexercise menunjukkan pengaruh positif terhadap status kardiometabolik penyandang diabetes.Diperlukan upaya untuk mengaktifkan pasien melalui program latihan fisik teratur dan terstrukturdilengkapi konsultasi yang baik. Keberhasilan pendekatan secara komprehensif dipengaruhi 3indikator yaitu latihan fisik, pengendalian glukosa darah dan stres oksidatif. Kata Kunci: aktivitas fisik, latihan fisik, DM tipe 2 Indicators of Successful Physical Activity Programfor Diabetes Melitus Type 2 Abstract Physical activity depicts body movement generated by the musculoskeletal system. Study investigating the increase of cumulative physical activity that improves health quality is necessary.In contrast, sedentary lifestyle has been linked to various diseases including diabetes melitus (DM)type 2. Individual physical exercise program is arranged with cardiorespiratory exercise as the corecomponent based on frequency &ndash; intensity &ndash; time &ndash; type of exercise principle. Physical exercise isone of the pillars in diabetes control. Regular physical exercise in DM type 2 yields cardiometabolicprotection in term of preventing or decelerating diabetes evolution and its complication. Hatha yogaand arm swing exercise have shown benefits in cardiometabolic status. In this regards, to initiatiea prescribed, structured and regular physical exercise program in diabetes patient is certainlyimportant. The key success of comprehensive approach in diabetes management involves physicalexercise, blood glucose and oxidative stress control. Keywords: physical activity, physical exercise, DM type 2

Page 1 of 2 | Total Record : 12