cover
Contact Name
Saleha Sungkar
Contact Email
salehasungkar@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
ejki.fkui@ui.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
eJurnal Kedokteran Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 23501426     EISSN : 23386037     DOI : 10.23886
Core Subject : Health,
Elektronik Journal Kedokteran Indonesia (eJKI) is a peer-reviewed and open access journal that prioritize the publication manuscript of students (medical education program, magister/specialist, doctoral). This journal publishes editorial, research article, reviews, evidence-based case report, and also interesting case reports/case study. eJKI published three times a year (April, August, December) and published by Faculty of Medicine Universitas Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus" : 14 Documents clear
Perkembangan Laparoskopi Operatif di Indonesia Wachyu Hadisaputra
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Primer Design for Sequencing DENV-4 to be used in Molecular Epidemiology of Dengue Viruses in Jakarta Nadia Tita Indriasti; Beti Ernawati Dewi
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis study is aimed to recognize the characteristic of dengue patients in Jakarta, to identify the genotype of dengue virus serotype 4 (DENV-4) in Jakarta and to design primer for DENV-4. This cross-sectional study involved 100 patients with positive result of NS-1 examination. This research was conducted at the Department of Microbiology, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia. The specimen were collected from March until December 2010, while the virus sequencing was perfomed between January and October 2011. The patients were categorized based on RT-PCR confirmation results, gender, age and domicile. The identification of serotipe of dengue viruses is determined by RT-PCR examination. The genotipe of DENV-4 is determined by sequencing of whole genome of DENV-4 by using Genetyx software. The primer design for DENV-4 was carried out by using Primer Designer program. The highest prevalence of DF was found among patients of 14-20 years old (41,4%) and those who lived in East Jakarta. The ratio of DF between male and female is not significantly different. The predominant serotype circulating in Jakarta was DENV 2. The genotype of serotype 4 circulating in Jakarta in 2010-2011 was type II. Primer design for dengue serotype 4 had a size of 406-692 base pairs, no hairpin developed, dimer formation was within two and Tm difference ranged from 0 to 8C.Keywords: DHF, serotype 4, genotype, primerAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pasien demam berdarah dengue di Jakarta dan mengidentifikasi genotipe virus dengue serotype 4 (DENV 4) di Jakarta serta membuat desain primer DENV-4. Penelitian dilakukan secara potong lintang pada 100 pasien dengan hasil pemeriksaan NS-1 positif. Penelitian dilakukan di Departemen Mikrobiologi, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret-December 2010, virus sequencing dilakukan pada bulan Januari-Oktober 2011. Sampel dibagi berdasarkan hasil konfirmasi RT-PCR, jenis kelamin, usia dan tempat tinggal. Identifikasi virus dengue dan penentuan serotipe menggunakan RT-PCR. Penentuan genotipe DENV-4 dilakukan dengan melakukan sekuensing whole genome DENV-4 menggunakan software Genetyx. Pembuatan primer DENV-4dilakukan dengan program Primer Designer. Prevalensi demam berdarah dengue tertinggi terdapat pada usia 14-20 tahun (41,4%) dan pada pasien yang bertempat tinggal di Jakarta Timur. Ratio penderita perempuan dan laki-laki tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Genotipe DENV-4 yang bersirkulasi di Jakarta adalah tipe II. Desain primer DENV-4 memiliki ukuran 406-692 pasang basa, tidak ada hairpin, formasi dimer dengan dua dan Tm yang berbeda yang berkisar antara 0-8 C.Kata Kunci: DBD, serotipe 4, genotipe, primer
Prediktor Mortalitas Pasien dengan Ventilator-Associated Pneumonia di RS Cipto Mangunkusumo Riahdo J. Saragih; Zulkifli Amin; Rudyanto Sedono; Ceva W. Pitoyo; Cleopas M. Rumende
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakVentilator-associated pneumonia (VAP) merupakan infeksi yang sering terjadi di intensive care unit (ICU) dan memiliki angka mortalitas yang tinggi. Pengetahuan tentang prediktor mortalitas dapat membantu pengambilan keputusan klinis untuk tatalaksana pasien. Mengetahui faktor-faktor prediktor mortalitas pasien VAP di RSCM. Penelitian ini merupakan studi kohor retrospektif pada pasien di ICU RSCM yang didiagnosis VAP selama tahun 2003&ndash;2012. Data klinis dan laboratorium beserta status luaran selama perawatan diperoleh dari rekam medis. Analisis bivariat dilakukan pada variabel kelompok usia, infeksi kuman risiko tinggi, komorbiditas, renjatan sepsis, kultur darah,prokalsitonin, ketepatan antibiotik empiris, acute lung injury, skor APACHE-II, dan hipoalbuminemia. Variabel diidentifikasi dengan analisis multivariat regresi logistik. Dari 201 pasien didapatkan mortalitas selama perawatan 57,2%. Kelompok usia, komorbiditas, renjatan sepsis, prokalsitonin, ketepatan antibiotik empiris, dan skor APACHE II merupakan variabel yang berpengaruh terhadap mortalitas pada analisis bivariat. Prediktor mortalitas pada analisis multivariat adalah antibiotik empiris yang tidak tepat (OR 4,70; IK 95% 2,25 sampai 9,82; p<0,001), prokalsitonin > 1,1 ng/mL (OR 4,09; IK 95% 1,45 sampai 11,54; p=0,01), usia &ge; 60 tahun (OR 3,71; IK 95% 1,35 sampai 10,20;p=0,011), dan renjatan sepsis (OR 3,53; IK 95% 1,68 sampai 7,38; p=0,001). Disimpulkan bahwa pemberian antibiotik empiris yang tidak tepat, prokalsitonin yang tinggi, usia 60 tahun atau lebih, dan renjatan sepsis merupakan prediktor independen mortalitas pada pasien VAP.Kata Kunci: prediktor mortalitas, ventilator-associated pneumoniaAbstractVentilator-associated pneumonia (VAP) is a frequently found infection with high mortality rates in intensive care unit (ICU). The prediction of outcome is important in decision-making process. To determine predictors of mortality in patients with VAP in Cipto Mangunkusumo Hospital (CMH), we performed a retrospective cohort study on patients admitted to the ICU who developed VAP between 2003&ndash;2012. Clinical and laboratory data along with outcome status were obtained for analysis. We compared age, presence of high-risk pathogens infection, presence of comorbidity, septic shock status, blood culture result, procalcitonin, appropriateness of initial antibiotics therapy, presence of acute lung injury, APACHE II score, and serum albumin between the two-outcomegroups. Logistic regression analysis was performed to identify independent predictors of mortality. A total of 201 patients were evaluated in this study. In-hospital mortality rate was 57.2%. Age, comorbidity, septic shock status, procalcitonin, appropriateness of initial antibiotics therapy, and APACHE II score were significantly different between outcome groups. The independent predictorsof mortality in multivariate logistic regression analysis were inappropriate initial antibiotics therapy (OR: 4.70; 95% CI 2.25 to 9.82; p < 0.001), procalcitonin > 1.1 ng/mL (OR: 4.09; 95% CI 1.45 to 11.54; p = 0.01), age &ge; 60 years old (OR: 3.71; 95% CI 1.35 to 10.20; p = 0.011), and presence of septic shock (OR: 3.53; 95% CI 1.68 to 7.38; p = 0.001). It was concluded that inappropriate initial antibiotic therapy, high serum procalcitonin, age 60 years or older, and septic shock were independent predictors of mortality in patients with VAP. Keywords: predictor of mortality, ventilator-associated pneumonia.
Hubungan Status Gizi, Asupan Besi, dan Magnesium dengan Gangguan Tidur Anak Usia 5-7 Tahun di Kampung Melayu, Jakarta Timur Tahun 2012 William Cheng; Rini Sekartini
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTidur adalah hal yang penting bagi anak karena terjadi peningkatan aktivitas susunan saraf pusat tertentu untuk memberikan efek fisiologis bagi tubuh. Banyak faktor yang menyebabkan gangguan tidur, salah satu yang dapat dimodifikasi adalah faktor nutrisi. Aspek nutrisi yang diperkirakan berkaitanadalah status gizi, asupan besi, dan asupan magnesium. Status gizi merupakan parameter secara umum keseimbangan antara derajat kebutuhan fisik anak terhadap nutrien. Besi dan magnesium berhubungan karena mempengaruhi substansi yang berperan dalam pengaturan fisiologi tidur. Penelitian ini merupakan studi observasi-analitik untuk mengetahui hubungan status gizi, asupan besi, dan asupan magnesium dengan gangguan tidur pada anak usia 5-7 tahun dengan metode cross-sectional dari data sekunder pada anak-anak di Posyandu Kampung Melayu, berupa status antopometri, asupan besi, asupan magnesium, dan skor gangguan tidur dengan kuesioner Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC). Gangguan tidur dinyatakan bila skor SDSC melewati angka39. Prevalensi anak yang mengalami gangguan tidur pada penelitian ini adalah 23,1%. Pada uji chi square untuk hubungan indeks Berat Badan/Umur dan Tinggi Badan/Umur dengan gangguan tidur didapatkan p>0,05 yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan secara statistik. Pada uji chi square untuk hubungan asupan besi dan magnesium dengan gangguan tidur, didapatkan p>0,05 yang menandakan tidak terdapat hubungan secara statistik.Kata kunci: asupan besi, asupan magnesium, gangguan tidur, dan status gizi.AbstractSleep is essential for children because there is enhancement of neural system activities that give physiologic effects for the body. There are several factors that relate with sleep disturbances, where one of the modifiable factors is nutrition. Nutritional status, iron intake, and magnesium intake are examples of nutrition that are believed to relate with sleep. Nutritional status represents thebalance between nutritional intake and expenditure. Iron and magnesium are micronutrients that are related to the substance that regulate sleep mechanism. This study is an observational-analysis study to examine the association of nutritional status, iron intake, and magnesium intake to the sleep disturbance in age five to seven children using cross-sectional method on the secondary data of children in Posyandu Kampung Melayu. Data include nutritional status, iron intake, magnesium intake, and sleep disturbance diagnosed with the Sleep Disturbance Scale for Children. The cut-off point to identify the disturbance is 39. Prevalence of children that have sleep disturbance is 23,1%. There was no statistically significant difference found between Body Weight on Age, Height on Age and sleep disturbance, using the chi square analysis, with p value more than 0,05. The same nonsignificant result was found from the chi square analysis to determine the relation between iron intake and magnesium intake to sleep disturbance, with the p value more than 0,05.Keywords: Iron intake, magnesium intake, nutritional status, and sleep disturbance.
Effectiveness of Health Education in Increasing the Knowledge on Filariasis Mass Drug Administration among Primary Health Care Workers in South Jakarta, 2013 Rikeish R. Muralitharan; Saleha Sungkar
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractEight new cases of chronic filariasis have been discovered in South Jakarta, a non-endemic area. To cut the chain of transmission, administration of diethylcarbamazine (DEC) and albendazole yearly for five years should be performed. Therefore, primary health care workers in South Jakarta require health education to perform filariasis prevention correctly. This research aimed to study the effectiveness of health education on filariasis mass drug administration (MDA) among primary health care workers in South Jakarta. This study used experimental design with pre-post study method. Data collection was done in South Jakarta on the 26 of June 2013 by asking all the attending primary health care workers to fill the questionnaires comprised of eight questions regarding filariasis MDA. The results show that before health education, 83.3% of participants had poor knowledge, 14.8% had average knowledge and 1.9% of participants had good knowledge on filariasis MDA. Following health education, 64.8% of participants had good knowledge on filariasis, 27.8% had average knowledge and only 7.4% of participants had poor knowledge (marginal homogeneity test <0.001). It was concluded that health education is effective in increasing the knowledge of primary health care workers on filariasis MDA. Keywords: filariasis, health education, health care workers, mass treatmentAbstrakDelapan kasus baru filariasis kronis ditemukan di Jakarta Selatan yang bukan merupakan daerah endemis. Untuk memutus rantai penularan, pemberian obat dietilkarbamazin dan albendazol tiap tahun selama lima tahun harus dilakukan.Oleh karena itu, petugas puskesmas di Jakarta Selatan memerlukan pengetahuan untuk melakukan pencegahan filariasis dengan benar. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui efektivitas penyuluhan kesehatan mengenai program pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis pada petugas puskesmas di Jakarta Selatan. Desain penelitian ini adalah eksperimental dengan metode pre-post studi. Pengumpulan data dilakukan di Jakarta Selatan pada 26 Juni 2013. Semua petugas puskesmas yang hadir diminta untuk mengisi kuesioner yang berisi 8 pertanyaan mengenai POMP filariasis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum penyuluhan kesehatan, 83,3% petugas memiliki pengetahuan yang buruk, 14,8% memiliki pengetahuan rata-rata dan 1,9% memiliki pengetahuan yang baik mengenai POMP filariasis. Setelah penyuluhan kesehatan, 64,8% petugas memiliki pengetahuan baik mengenaiPOMP filariasis, 27,8% memiliki pengetahuan rata-rata dan hanya 7,4% memiliki pengetahuan kurang (tes marginal homogeneity <0.001). Disimpulkan bahwa penyuluhan kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan petugas puskesmas mengenai POMP filariasis.Kata kunci: filariasis, penyuluhan, pekerja kesehatan, pengobatan masal
Hubungan antara Karakteristik Demografi, Gaya Hidup dan Perilaku Pasien Puskesmas di Jakarta Selatan dengan Dermatofitosis Eva Riani
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMikosis superfisialis merupakan penyakit yang banyak ditemukan di Indonesia, sebagian besar disebabkan oleh golongan dermatofita (dermatofitosis). Pada umumnya dermatofitosis dapat diobati dengan baik, akan tetapi mudah terjadi infeksi berulang. Oleh karena itu penting dilakukan edukasi dan penyuluhan yang tepat guna dan tepat sasaran kepada penderita jamur dermatofitosis terutama di Puskesmas selaku pusat pelayanan kesehatan primer dimana insidens penyakit ini masih tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara karakteristik demografi, gaya hidup dan perilaku pasien terkait dengan penyakit dermatofitosis. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan metode consecutive sampling berupa pengisian kuesioner yang dilakukan pada pertengahan bulan Juli-Agustus 2014 dengan total 307 responden. Data diolah dengan program SPSS versi 17. Hasil penelitian diolah dengan uji chi-square, uji Fisher&rsquo;s exact, uji Kolmogorov-Smirnov dan uji T-test. Didapatkan lima variabel yang berhubungan bermakna degan dermatofitosis antara lain; usia (p= 0,0012), keluhan berupa bercak merah (p=0,000), keluhan berupa lenting (p=0,006), keluhan lain-lain (p=0,000) dan tipe mudah berkeringat/berkeringat banyak (p= 0,005). Sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan antara karakteristik demografi, gaya hidup dan perilaku pasien dengan penyakit dermatofitosis. Kata Kunci: dermatofitosis, bercak merah, lenting AbstractSuperficial fungal infection is a disease commonly found in Indonesia, usually caused by dermatophyte fungal type called as dermatophytoses. Eventhough dermatophytoses is easily treated but there may be recurrent infection. It is important to give the right counseling to patient especially in Puskesmas as a primary health care where this type of disease is at high presence. The aim of the study is out the association between demographic characteristic, lifestyleand behaviour of patients related to dermatophytoses . A cross sectional study with consecutive sampling method was conducted on mid July-August 2014 by giving questionnaire to 307 patients who came to skin division in Puskesmas South Jakarta. Data from questionnaire were analyzed using SPSS version 17. The statistical analysis was done using the chi-square test, Fisher&rsquo;s exact test, Kolmogorov-Smirnov test and T-test. There are 5 variables which correlate with dermatophytoses; age (p= 0,0012), signs of red patch (p= 0,000), signs of &ldquo; lenting&rdquo; (p=0,006), other signs (p=0,000) and patients who easily or has a lot of sweat (p= 0,005). It was concluded that there is an association between demographic characteristic, lifestyle and behaviour of patients related to dermatophytoses. Keywords: dermatophytoses, red patch, lenting
Exploring Clinical Rotation Competence Improvements after Interpersonal Skills Development in At-Risk Medical Students Sri Linuwih Menaldi; Augustine D. Sukarlan; Dewi Matindas; Dharmayati B. Utoyo; Iwan Dwiprahasto; Ova Emilia; Yayi S. Prabandari
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractPrior to admission, medical students were subject to psychological tests to measure their logical thinking skills and personality, hence predicting their ability to complete their studies. The results showed 56,45% of medical students obtained recommendation category 4 (doubtful) and 5 (not recommended), two categories which are considered to be at-risk group with a very small probability of completing their studies. These results predicted that students in the mentioned groups will have difficulties in achieving the clinical competence level required by the Indonesian Doctors&rsquo; Competency Standard (IDCS). The aim of the study was to investigate clinical competency achievement by at-risk medical students in the third year, after following interpersonal skills development training program on July 2011. This research used qualitative study design through psychological examination, written self-reflection and in-depth interview after the training. Interpersonal skills development training for at-risk medical students gave positive effects to theircharacter development for the helping profession. It was concluded that interpersonal skills training could help improve medical student&rsquo;s achievement of clinical competence especially for at-risk group in their clinical rotations stage.Keywords: medical students, at-risk group, interpersonal skills, clinical competence AbstrakPada mahasiswa kedokteran yang baru masuk dilakukan pemeriksaan psikologis untuk memperoleh gambaran penalaran dan kepribadian untuk memprediksi kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan. Berdasarkan pemeriksaan tersebut diperoleh 56,45% mahasiswa dengan hasil uji psikometrik kategori rekomendasi 4 (diragukan) dan 5 (tidak disarankan) yang disebut sebagai kelompok at-risk. Kelompok at risk memiliki peluang keberhasilan rendah untuk menyelesaikan pendidikan dan akan mengalami kesulitan mencapai kompetensi klinik sesuai Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menggali pengalaman pencapaian kompetensi klinik mahasiswa kelompok at-risk pada tahun ketiga, setelah mengikuti pelatihan pengembangan keterampilan interpersonal yang dilaksanakan pada bulan Juli 2011. Penelitian ini menggunakan rancangan studi kualitatif dengan wawancara mendalam setelah dilakukan pelatihan. Pengembangan keterampilan interpersonal pada mahasiswa kedokteran kelompok at-risk memberikan dampak positif terhadap pembentukan kepribadian sebagai helping profession. Disimpulkan bahwa pengembangan keterampilan interpersonal yang diberikan dalam bentuk pelatihan dapat digunakan untuk membantu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa khususnya kelompok at-risk di tahap klinik.Kata Kunci: mahasiswa kedokteran, kelompok at-risk, keterampilan interpersonal, kompetensi klinik.
Diabetes Insipidus in Young Women with Cervical Cancer Bram Pradipta; Laila Nuranna
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractA 25 year old, unmarried, Indonesian woman came to the emergency department Cipto Mangunkusumo Hospital with shock condition. Initially assessed as septic condition, the patient was then diagnosed as diabetes insipidus (DI). It was concurrently found that the patient also had several sexual intercourse before and not until later that the patient diagnosed with stage IB cervical cancer. Cervical cancer (CC) is the third most common cancer in women worldwide and primarily affects young adult women, with consequences not only individually but also socially. DI is a rare disease that causes frequent urination that is not freqently related with CC. Concurrent incidence of DI with CC can only be seen in several case reports. It has not yet been established whether these two conditions are concurrent or having a cause-effect relationship. DI is not a common case, hence knowing its clinical sign and syptoms are very important. In fund limited setting in third world countries, the laboratory examination can be simplified by examining the osmolality of the serum and urine condition. These low level of serum can be very helpful in diagnosing DIwith treatment can be as simple as fluid restriction. Regarding the CC, radical trachelectomy can be done with surveilance must be done every 3-6 month for 2 years and every 6-12 month for 3-5 years with cytology.Keywords: CC, diabetes insipidusAbstrakSeorang perempuan Indonesia, 25 tahun, belum menikah datang ke IGD RSCM dengan keadaan syok. Awalnya dinilai sebagai keadaan sepsis namun akhirnya didiagnosis sebagai diabetes insipidus (DI). Didapatkan riwayat berhubungan seksual sebelumnya dan kemudian diketahui menderita kanker serviks stadium IB. Kanker serviks merupakan kanker ketiga tersering pada perempuan di seluruh dunia dan terutama menyerang dewasa muda, dengan konsekuensi individual dan sosial. DI merupakan penyakit yang menyebabkan seringberkemih dan jarang berhubungan dengan kanker serviks. Kejadian bersamaan antara DI dan kanker serviks hanya ditemukan pada beberapa laporan kasus. Belum dipastikan bahwa kedua kondisi tersebut terjadi bersamaan atau memiliki hubungan sebab-akibat. DI bukan kasus yang sering sehingga mengetahui tanda dan gejala klinis menjadi penting. Di wilayah dunia ketiga dengan keterbatasan dana, pemeriksaan laboratorium dapat disederhanakan dengan memeriksa osmolalitas serum dan urin. Apabila didapatkan kadar yang rendah makadiagnosis DI dapat ditegakkan dengan tatalaksana sederhana seperti pembatasan cairan. Mengenai kanker serviks, trakhelektomi radikal dapat dilakukan dengan pengawasan tiap 3-6 bulan untuk 2 tahun dan tiap 6-12 bulan untuk 3-5 tahun dengan sitologi.Kata Kunci: kanker serviks, diabetes insipidus
Penggunaan Antibiotik Topikal sebagai Alternatif Terapi Ulkus Kaki Diabetik Gratcia Ayundini; Nuri Purwito Adi
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakInfeksi mikroba pada ulkus kaki diabetik dapat menghambat proses penyembuhan sehingga dibutuhkan intervensi antibiotik untuk menyembuhkan infeksi, menyembuhkan ulkus dan menurunkan angka amputasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pilihan rute pemberian antibiotik yang tepat serta efektif sebagai tatalaksana ulkus kaki diabetes.Metode pencarian melalui Pubmed pada tanggal 30 Mei 2011 menggunakan kata kunci terkait. Pemilihan dengan kriteria RCT dan full text. Telaah kritis didasarkan kriteria standar untuk intervensi. Didapatkan hasil bahwa kesembuhan secara klinis adalah 87% untuk kelompok yang menggunakan pexiganan topikal dan 90% untuk kelompok ofloksasin oral. Hasil eradikasi mikrobiologisnya 42-47% untuk kedua kelompok. Komplikasi atau perburukan pada pasien dengan pexiganan topikal 8,13% dan ofloksasin oral 5,51%. Didapatkan juga peningkatan pola resistensi kuman yang bermakna secara klinis (p<0.001) pada pasien dengan terapi ofloksasin oral namun tidak pada terapi pexiganan topikal. Disimpulkan bahwa terapi antimikroba topikal tunggal dapat dipilih sebagai terapi alternatifuntuk mengatasi infeksi ulkus kaki diabetik yang ringan. Terapi antimikroba oral masih lebih efektif karena kemungkinan terjadinya perburukan dan komplikasi ulkus lebih kecil, walaupun terdapat juga risiko resistensi kuman pada penggunaannya.Kata Kunci: ulkus kaki diabetik, infeksi, ofloksasin, pexigananAbstractMicrobial infection in diabetic foot ulcer can interfere healing process. Antibiotic intervention was used to cure the infection, heal the ulcer and decrease amputation rate. This study was aimed to seek the best route of giving antibiotic therapy in patients with diabetic foot ulcer. The method used was conducting article searching through Pubmed on Mei 30 2011. The criteria of articles were RCT and full text articles. Critical appraisal was based on standard criteria for intervention. The result showed that clinical recovery of the foot ulcer for the topical pexiganan group was 87%, while the oral ofloxacin group was 90% (CI 95%). Microbiological eradication for both groups range from 42-47%. There were 8,13% patients in topical pexiganan group that developed complications of their ulcers and only 5,51% in oral ofloxacin group. The use of oral antibiotic could increase microbial resistance. As a conclusion topical antibiotic monotherapy could be an alternative choice to treat mild diabetic foot ulcer. However oral antibiotic therapy is still the most effective choiceof treatment for diabetic foot ulcer because the risk of complications are lower than the topical antibiotic, although the risk of drug resistance was higher.Keywords: diabetic foot ulcer, infection, ofloxacin, pexiganan
Deteksi Antigen pada Kriptokokosis Robiatul Adawiyah; Ridhawati Syam
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 2, No. 2 (2014): Agustus
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKriptokokosis merupakan infeksi sistemik yang disebabkan Cryptococcus sp. Predileksi jamur tersebut adalah susunan saraf pusat dan selaput otak. Terdapat 5 spesies Cryptococcus sp. yang menyebabkan penyakit pada manusia; yang paling banyak adalah Cr. neoformans dan Cr. gattii. Diagnosis kriptokokosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan laboratoris serta radiologis. Pemeriksaan laboratoris dilakukan dengan identifikasi morfologi, serologi danPCR. Pemeriksaan secara morfologi dengan tinta India positif bila jumlah sel jamur 10 sel/ml spesimen. Kultur dilakukan di media sabouraud dextrose agar (SDA) dan niger sheed agar (NSA), jamur tumbuh setelah 5-7 hari. Deteksi antigen dan antibodi dilakukan pada cairan tubuh dan tidak membutuhkan waktu lama. Deteksi antibodi Cr.neoformans memiliki kelemahan yaitu tidak menunjukkan hasil positif pada infeksi akut, IgA masih positif setelah 1-2 tahun fase penyembuhan, IgG dapat persisten, pada individu imunokompromis menunjukkan hasil yang sangat kompleks dan dalam menentukan diagnosis sering tidak konsisten. Polisakarida adalah komponen paling berperan dalam virulensi Cr. neoformans. Komponen polisakarida terutama glucuronoxylomannan merupakan petanda penting dalam diagnosis kriptokokosis secara serologis. Deteksi antigen Cr. neoformans memiliki kelebihan yaitu menunjukkan hasil positif pada infeksi akut/kronis, sensitivitas dan spesifisitas tinggi, dapat mendeteksi polisakarida hingga 10 ng/ml sehingga dengan kadarantigen yang minimal tetap dapat mendiagnosis kriptokokosis.Kata kunci: Cr. neoformans, glucuronoxylomannan, antigenAbstractCryptococcosis is systemic infection that caused by Cryptococcus sp. Predilection of this fungi is the central nervous system and brain membrane. There are 5 species of Cryptococcus sp. that cause cryptococcosis in human; but the majority are caused by Cr. neoformans and Cr. gattii. The diagnosis of cryptococcosis is made based on clinical symptoms, laboratory and radiologicalexaminations. Laboratory examinations performed by morphological identification, serology and PCR. Morphological examination with India ink is positive when the number of fungi is around 10 10 cells/ml. Cultur examination is performed in Sabouraud dextrose agar (SDA) and niger sheed agar (NSA) medium, fungi grows in 5-7 days. Antigen and antibody detection could be performed on body fluid and do not take a long time. Detection of Cr. neoformans antibody can not show positive result in acute infection, IgA still positive after 1-2 years of healing phase and IgG can be persistent. The immunocompromised person showed very complex result and inconsistent in determining the diagnosis. Polysaccharides are the most instrumental component in Cr. neoformans virulence. The component of Polysaccharide especially glucuronoxylomannan is the most important marker in thediagnosis of cryptococcosis. Antigen detection of Cr. neoformans can show positive result in acute/chronic infection, high sensitivity and specificity. Polysaccharides can be detected from 10 ng/ ml of body fluid, so in minimal level of antigen we still can diagnose cryptococcosis.Keywords: Cr. neoformans, glucuronoxylomannan, antigen

Page 1 of 2 | Total Record : 14