cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bangka,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
TAMBANG
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2013): PROMINE" : 10 Documents clear
Pembuatan Karbon Aktif dari Batubara Pitulima, Janiar
PROMINE Vol 1, No 1 (2013): PROMINE
Publisher : PROMINE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.683 KB)

Abstract

ABSTRAKKarbon aktif adalah karbon dalam bentuk amorf yang mendapat perlakuan khusus sehingga mempunyailuas permukaan dan daya adsorpsi yang besar. Karbon aktif banyak dimanfaatkan sebagai adsorber,terutama pada industri-industri kimia, farmasi, makanan, dan industri pengolahan air. Pembuatankarbon aktif pada penelitian ini menggunakan batubara Kungkilan Sumatera Selatan. Prosespembuatannya terdiri dari tiga tahap yaitu oksidasi, karbonisasi dan aktivasi. Tahap oksidasi dilakukanselama 2 jam pada temperature 250 oC dan tahap karbonisasi dilakukan pada temperature 600 – 800 oCdengan waktu 15 menit sedangkan pada tahap aktivasi digunakan kukus sebagai gas pengaktivasi denganwaktu aktivasi 15 menit pada temperature 950 oC. Karbon aktif yang dihasilkan di tentukan kuantitasdaya serapnya dengan bilangan iodine. Hasil terbaik yang diperoleh dari penelitian ini adalah karbonaktif dengan bilangan iodine 500 mg/g, yang didapat pada temperature karbonisasi 800 oC dantemperature aktivasi 950 oC dengan ukuran partikel -45+60 mesh.ABSTRACTActivated carbon is carbon in amorf form which is undergone special treatment to have specific surfacearea and adsorbtion ability. Activated carbon have many applications as adsorber especially on chemicalindustries, pharmacies, foods, and water treatment. Activated carbon in this study is prepared fromKungkilan, East Sumatera Coal. The preparation process consist of three stage, oxidation, carbonisation,and activation. Oxidation stage is done for 2 hours on 250 oC. Carbonisation stage is done for 15 minuteson 600 – 800 oC. Activation stage is done using steam as activating agent for 15 minutes on fixedtemperature 950 oC. Activated carbon produced is then quantified its absorbing ability by iodine number.Experiment show that activated carbon with iodine number 500 mg/g which prepared by carbonisation on800 oC and activation on 950 oC for carbon size -45+60 mesh have the best adsorbing ability.Keywords: activated carbon, coal.
GEOTHERMOMETER DAN HEAT LOSS DALAM EKSPLORASI GEOKIMIA LAPANGAN PANASBUMI DAERAH CISUKARAME, KABUPATEN SUKABUMI, PROPINSI JAWA BARAT Haty, Intan Paramita; Nugroho, Ardian Nofri
PROMINE Vol 1, No 1 (2013): PROMINE
Publisher : PROMINE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan dan jenis manifestasi panasbumi mata air panas berperan penting dalam menentukan besarnya suhu reservoar dan dapat digunakan untuk menghitung besarnya hilang panas alamiah panasbumi (heat loss). Berdasarkan pengolahan data lapangan, diperoleh nilai geothermometer panasbumi Cisukarame berkisar 188°C-212°C. Diperoleh pula nilai heat loss daerah Cisukarame sebesar 19.367 kj/kg. Nilai hilang panas alamiah ini dapat digunakan untuk menentukan potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga panasbumi.
PEMETAAN ZONASI AKUIFER AIR TANAH UNTUK SUMBER AIR BERSIH MASYARAKAT DESA BALUNIJUK -, Franto -
PROMINE Vol 1, No 1 (2013): PROMINE
Publisher : PROMINE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan air tanah yang cenderung meningkat akan mengakibatkan berbagai dampak negatif, berupa penurunan muka air tanah, penurunan mutu air, dan penurunan tanah  (Subsidence) akibat kosongnya rongga-rongga didalam tanah karena hilangnya air. Salahsatu cara untuk mengetahui stratigrafi batuan dan kondisi akuifer di dalam tanah adalah dengan teknik geolistrik, karena geolistrik merupakan alat untuk mendeteksi perlapisan batuan di dalam bumi. Untuk mengetahui perlapisan batuan dan kondisi akuifer di Desa Balunijuk maka dilakukan pendugaan geolistrik pada 4 titik sampel dengan sebaran berdasarkan topografi Desa Balunijuk, Adapun metode geolistrik yang digunakan adalah rangkaian elektroda menurut konfigurasi Wenner. Dari ke empat titik pendugaan geolistrik tersebut maka diperoleh daerah penelitian yang diwakili penampang E-F merupakan daerah paling potensial mengandung air tanah yang tersimpan dalam akuifer dangkal, dengan demikian di daerah ini dapat dilakukan kegiatan pengeboran air tanah sedangkan untuk daerah penelitian yang diwakili penampang  C-D merupakan alternatif daerah yang cukup potensial mengandung air tanah yang tersimpan dalam akuifer dangkal. Namun lapisan pasir yang mengandung air tanah di daerah ini tidak setebal lapisan pasir yang dimiliki daerah penelitian dalam penampang E-F. Sedangkan untuk Lapisan batuan di Desa Balunijuk terdiri dari 3 bagian yaitu: lapisan lempung pasiran dengan nilai tahanan jenis 165-18.207 Ωm, lapisan krikil pasiran dengan nilai tahanan jenis 22,5-258 Ωm, dan lapisan lempung dengan nilai tahanan jenis 2,04-20,5 Ωm serta hasil analisis air permukaan bahwa air permukaan yang di ambil dari semua titik sampel tidak layak di jadikan sebagai sumber air baku air minum.Kata Kunci: Geolistrik, Air tanah, Air baku
PENGELOLAAN PERTAMBANGAN YANG BERDAMPAK LINGKUNGAN DI INDONESIA NOVIAYANTI MANIK SH.,M.HUM, JEANNE NOVIAYANTI MANIK SH.,M.HUM DARC
PROMINE Vol 1, No 1 (2013): PROMINE
Publisher : PROMINE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.687 KB)

Abstract

Usaha Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral dan batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang (Pasal 1 butir 6 Undang-Undang No.4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara). Pertambangan mempunyai beberapa karakteristik , yaitu tidak dapat diperbaharui (non renewable), mempunyai resiko relatif lebih tinggi dan pengusahaannya mempunyai dampak lingkungan baik fisik maupun lingkungan yang relatif lebih tinggi dibandingkan pengusahaan komoditi lain pada umumnya. Pentingnya penerapan kegiatan industri dan/atau pembangunan yang berbasis lingkungan, perlu disadari oleh setiap elemen bangsa, karena persoalan lingkungan merupakan permasalahan bersama.  Hanya saja dalam pratiknya, diperlukan lembaga formal pengendali yang secara yuridis berwenang untuk itu. Pengendalian kegiatan dan operasionalisasi industri, dalam prakteknya terwujud dalam konsep dan program kerja sistematis dalam bentuk perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup harus bermuara pada terjaminnya kelestarian lingkungan, seperti tercantum dalam Pasal 1 butir 2 Undang-Undang No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.Kata kunci       : pertambangan, hukum, lingkungan, pengelolaan, masyarakat
MINERALISASI DAN POLA ALTERASI DAERAH LAKEA, KECAMATAN LAKEA KABUPATEN BUOL, PROVINSI SULAWESI TENGAH ., Idarwati, S.T., M.T.
PROMINE Vol 1, No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.687 KB)

Abstract

The research area is located in the village of Lakea, Lakea subdistrict, Buol district, Central Sulawesi Province. Constituent Lithology within research area consists of three units, these are litodem lava basalt that mainly be composed by lava andesite and lava basalt which partly fractured, volcanic breccia, and tuff; Sandstone Unit mainly composed by sandstone, mudstone, muddy sandstone, and conglomerate; and the last unit is limestone as Coral Limestone Unit. Alteration assemblage is divided into four zones, namely argillic alteration zone (silicon oxide (kuarsa), magnesium aluminum iron silicate hydroxide, potassium aluminum silicate hydroxide dan sodium calcium aluminum silicate (albit), phyllic alteration zone (serisit/muskovit-kuarsa-klorit-feldspar), propylitic alteration zone (Chlorite-serpentine, Illite, Albite, calcian, ordered, Quartz, Muscovite ), and silicified alteration zone (quartz/silica + adularia + calcit± illite). The mineralization is controlled by open space filling with disseminated distribution. Gold mineralization usually associated with pyrite, chalcopyrite, and galena. Mineralization is found fill the major structural pattern with southeast-northwest direction. The fluid inclusion measurement results obtained that microthermometry Th (homogenization temperature when the fluid trapped in the crystals) ranged from 172 ~ 332 °C with a measurement range from 180.9 to 211.0 °C, and the melting temperature (first ice melting Temperatures / Tm) average ranges -1, 2 to 0.8 oC. By calculations, the depth of the formation rate is 79.4 ~ 1712 m, and under pressure about 8.2 ~ 130.3 bar.Keyword : Lakea, Buol, Alteration
PENGELOLAAN PERTAMBANGAN YANG BERDAMPAK LINGKUNGAN DI INDONESIA Manik SH.,M.HUM, Jeanne Darc Noviayanti
PROMINE Vol 1, No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.687 KB)

Abstract

Usaha Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral dan batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang (Pasal 1 butir 6 Undang-Undang No.4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara). Pertambangan mempunyai beberapa karakteristik , yaitu tidak dapat diperbaharui (non renewable), mempunyai resiko relatif lebih tinggi dan pengusahaannya mempunyai dampak lingkungan baik fisik maupun lingkungan yang relatif lebih tinggi dibandingkan pengusahaan komoditi lain pada umumnya. Pentingnya penerapan kegiatan industri dan/atau pembangunan yang berbasis lingkungan, perlu disadari oleh setiap elemen bangsa, karena persoalan lingkungan merupakan permasalahan bersama.  Hanya saja dalam pratiknya, diperlukan lembaga formal pengendali yang secara yuridis berwenang untuk itu. Pengendalian kegiatan dan operasionalisasi industri, dalam prakteknya terwujud dalam konsep dan program kerja sistematis dalam bentuk perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup harus bermuara pada terjaminnya kelestarian lingkungan, seperti tercantum dalam Pasal 1 butir 2 Undang-Undang No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.Kata kunci       : pertambangan, hukum, lingkungan, pengelolaan, masyarakat
GEOTHERMOMETER DAN HEAT LOSS DALAM EKSPLORASI GEOKIMIA LAPANGAN PANASBUMI DAERAH CISUKARAME, KABUPATEN SUKABUMI, PROPINSI JAWA BARAT Haty, Intan Paramita; Nugroho, Ardian Nofri
PROMINE Vol 1, No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.687 KB)

Abstract

Keberadaan dan jenis manifestasi panasbumi mata air panas berperan penting dalam menentukan besarnya suhu reservoar dan dapat digunakan untuk menghitung besarnya hilang panas alamiah panasbumi (heat loss). Berdasarkan pengolahan data lapangan, diperoleh nilai geothermometer panasbumi Cisukarame berkisar 188°C-212°C. Diperoleh pula nilai heat loss daerah Cisukarame sebesar 19.367 kj/kg. Nilai hilang panas alamiah ini dapat digunakan untuk menentukan potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga panasbumi.
PEMETAAN ZONASI AKUIFER AIR TANAH UNTUK SUMBER AIR BERSIH MASYARAKAT DESA BALUNIJUK ., franto, M.Si; Gusa, Rika Favoria
PROMINE Vol 1, No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.687 KB)

Abstract

Pemanfaatan air tanah yang cenderung meningkat akan mengakibatkan berbagai dampak negatif, berupa penurunan muka air tanah, penurunan mutu air, dan penurunan tanah  (Subsidence) akibat kosongnya rongga-rongga didalam tanah karena hilangnya air. Salahsatu cara untuk mengetahui stratigrafi batuan dan kondisi akuifer di dalam tanah adalah dengan teknik geolistrik, karena geolistrik merupakan alat untuk mendeteksi perlapisan batuan di dalam bumi. Untuk mengetahui perlapisan batuan dan kondisi akuifer di Desa Balunijuk maka dilakukan pendugaan geolistrik pada 4 titik sampel dengan sebaran berdasarkan topografi Desa Balunijuk, Adapun metode geolistrik yang digunakan adalah rangkaian elektroda menurut konfigurasi Wenner. Dari ke empat titik pendugaan geolistrik tersebut maka diperoleh daerah penelitian yang diwakili penampang E-F merupakan daerah paling potensial mengandung air tanah yang tersimpan dalam akuifer dangkal, dengan demikian di daerah ini dapat dilakukan kegiatan pengeboran air tanah sedangkan untuk daerah penelitian yang diwakili penampang  C-D merupakan alternatif daerah yang cukup potensial mengandung air tanah yang tersimpan dalam akuifer dangkal. Namun lapisan pasir yang mengandung air tanah di daerah ini tidak setebal lapisan pasir yang dimiliki daerah penelitian dalam penampang E-F. Sedangkan untuk Lapisan batuan di Desa Balunijuk terdiri dari 3 bagian yaitu: lapisan lempung pasiran dengan nilai tahanan jenis 165-18.207 Ωm, lapisan krikil pasiran dengan nilai tahanan jenis 22,5-258 Ωm, dan lapisan lempung dengan nilai tahanan jenis 2,04-20,5 Ωm serta hasil analisis air permukaan bahwa air permukaan yang di ambil dari semua titik sampel tidak layak di jadikan sebagai sumber air baku air minum.Kata Kunci: Geolistrik, Air tanah, Air baku
KARAKTERISTIK ENDAPAN TIMAH SEKUNDER DAERAH KELAYANG DAN SEKITARNYA KEBUPATEN BANGKA BARAT ., Mardiah, S.T., M.T.
PROMINE Vol 1, No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.687 KB)

Abstract

Research site is located in Kelayang and surrounding areas, Bangka Barat Regency, Province of Bangka Belitung. Research location largely entered into PT. Timah, Tbk Contract of Work. Geographically, this area lies in 535000 – 555000 mE and 9815000 – 9835000 mN, 48S zone, with total area is approximately 400 km2, consists ofland and offshore. The rock type composed of granite rock units (Late Triassic – Early Jura) and alluvial unit (Quarter) with landform units is eroded hills, alluvial plain, and fluvial. Based on the interpretation of shallow seismic data showed basin and borehole data, the study area were filled by alluvial deposits, suspected contains tin minerals bearing. The correlation from some borehole sindicates that cassiterite mineral content in an economical quantity especially at drillholes on valley mainly in the marine (offshore). The cassiterite mineralis closely associated with the presence of the valley as a place to accumulate. Based on the drilling data which is for correlation, interpreted that there are 2 layers of sediment that contain of secondary tin depositis kaksa layer above the bedrock, and mincan layer as reworking of the kaksa layer found in finesand to clayey layer. Keyword: secondary tin, cassiterite
KONTROL GEOMORFOLOGI DAN PETROLOGI TERHADAP LATERISASI ENDAPAN NIKEL DESA MOLORE DAN LAMERURU, KECAMATAN LANGGIKIMA KABUPATEN KONAWE UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Waluyo. S.T., M.T., Rakhmad Budi
PROMINE Vol 1, No 1 (2013): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.687 KB)

Abstract

Daerah telitian secara geografis terletak pada koordinat UTM zona 51S antara 418.500mE – 422.00mE dengan 9.630.500mN-9.635.500mN, secara administratif terletak pada desa Molore dan Lameruru, Kec.Langgikima, Kab. Konawe Utara, Prov. Sulawesi Tenggara. Bentuk lahan daerah telitian terdiri dari 5 satuan bentuk lahan yaitu bentuk lahan perbukitan berlereng curam (S1), bentuk lahan dataran (S2), bentuk lahan pantai (M1), bentuk lahan teluk (M2), dan tubuh sungai (F1). Stratigrafi daerah telitian dari batuan yang tua ke muda sebagai berikut : satuan peridotit, satuan konglomerat Pandua, dan satuan alluvial. Dari analisis kekar dan bidang sesar didapati 2 sesar yaitu sesar Molore dengan nama Normal Right Slip Fault, dan sesar pancuran bernama Reverse Right Slip Fault. Cadangan Terukur Pit Molore A6 sebanyak 3.892.473MT sedangkan cadangan terukur Pit Lamururu (A3) sebanyak 17.715.265MT. Padaluasan yang sama sebesar 22 Ha Cadangan Terukur Nikel di A6 Molore jauh lebih kecil dibandingkan dengan cadangan di A3 Lameruru. Hal ini menggambarkan bahwa laterisasi di Pit A6 Molore tidak berkembang bagus bila dibandingkan dengan laterisasi di Pit A3 Lameruru, hal ini dipengaruhi faktor bentuk lahan dimana bentuk lahan di Pit A6 Molore berupa perbukitan berlereng curam, sedangkan Pit A3 Lameruru bentuk lahannya dataran.

Page 1 of 1 | Total Record : 10