cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Juke
Published by Universitas Lampung
ISSN : 20889348     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 9 (2015)" : 27 Documents clear
Phlegmon Dasar Mulut Odontogenik: Laporan Kasus Muhammad Aditya; Anggraeni Janar Wulan
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.45 KB)

Abstract

Infeksi gigi merupakan penyakit yang umum terjadi di masyarakat. Infeksi gigi kebanyakan ringan, namun pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi komplikasi serius dan fatal. Salah satu komplikasi tersebut adalah phlegmon/angina Ludwig’s. Pasien laki-laki, 21 tahun, datang dengan keluhan bengkak pada leher sepanjang bawah rangan kanan dan kiri hingga ke leher depan, disertai nyeri, demam, nyeri saat mengunyah. Keluhan tidak disertai dengan gangguan napas, trismus, nyeri tenggorokan, maupun nyeri dada. Pasien memiliki masalah gigi berlubang pada gigi molar 2 rahang bawah kiri. Dari pemeriksaan fisik didapatkan caries dentis pada molar 2 kiri rahang bawah, dasar mulut tampak menonjol di bawah lidah, tidak ditemukan abses tonsil, tidak didapatkan trismus, dan faring tenang. Pada leher didapatkan edem hiperemis sepanjang submandibula kanan dan kiri hingga leher depan setinggi kartilago tiroid, teraba hangat, kenyal, dan terdapat nyeri tekan. Dari hasil laboratorium didapatkan leukosistosis dan pemeriskaan rontgen toraks dalam batas normal. pasien didiagnosis dengan phlegmon dasar mulut dan segera dilakukan bedah insisi debridement dengan pemasangan drainase serta diberikan antibiotik intra vena dengan sefalosporin generasi ketiga dan metronidazole. Selama perawatan pasien membaik dan direncanakan untuk konsultasi ke dokter gigi untuk masalah gigi pasien. Simpulan, phlegmon dasar mulut/angina Ludwig dapat berkomplikasi fatal dan dapat menyebabkan kematian, sehingga diagnosis dan tatalaksana segera dapat menyelamatkan pasien. Penyebab terbanyak berasal dari infeksi gigi (odontogenik). [JuKe Unila 2015; 5(9):76-80]
Cover Maret 2015 Muhammad Aditya
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.826 KB)

Abstract

Pengaruh Pemberian Infusa Kopi dalam Menurunkan Kadar Glukosa Darah Mencit yang Diinduksi Aloksan - Subeki; - Muhartono
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.763 KB)

Abstract

Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa yang tinggi pada darah. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penanganan penyakit diabetes dilakukan dengan pemberian insulin atau obat antidiabetes. Namun demikian, pemberian obat ini sering menimbulkan efek samping bagi penderita diabetes. Oleh karena itu, perlu dicari obat antidiabetes yang aman dan dapat menurunkan kadar glukosa darah. Salah satu alternatif adalah dengan menggunakan infusa kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian infusa kopi terhadap kadar glukosa darah mencit yang diinduksi aloksan. Penelitian ini menggunakan 27 ekor mencit yang dibagi menjadi 9 kelompok. Satu kelompok mencit digunakan sebagai kontrol normal dan kelompok mencit lainnya diinduksi aloksan 4,8 mg/g bb dan diberikan infusa kopi dosis 0, 6, 12, 18, 24, 30, 36, dan 42 mg/kg bb sehari sekali selama 7 hari mulai hari ke-8 pasca induksi aloksan. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada hari ke-7 dan ke-28 setelah induksi aloksan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa kopi dosis 36 mg/kg bb dapat menurunkan kadar glukosa darah menjadi normal dengan kadar glukosa darah sebesar 154 mg/dL. Simpulan, infusa kopi dapat menurukan kadar glukosa darah. [JuKe Unila 2015; 5(9):1-8]
Pengaruh Herbisida Paraquat Dichlorida Oral terhadap Derajat Kerusakan pada Esofagus Tikus Indri Windarti; - Muhartono; I Gede Eka Widayana
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.55 KB)

Abstract

Penggunaan herbisida di Indonesia terutama di sektor pertanian akhir−akhir ini ternyata semakin meningkat. Paraquat merupakan salah satu bahan aktif herbisida jenis gramoxone yang merupakan jenis herbisida yang paling banyak digunakan. Penggunaan paraquat dengan sembarangan dapat merusak berbagai macam organ termasuk traktus gastrointestinal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya efek paparan herbisida golongan paraquat diklorida terhadap gambaran histopatologi esofagus tikus putih  (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorik dengan desain post test only control group design. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 25 ekor tikus yang terbagi kedalam 5 kelompok. K merupakan kelompok kontrol yang diberi akuades,  P1 yang diberi paraquat 25 mg/KgBB, P2 yang diberi paraquat 50 mg/KgBB, P3 yang diberi paraquat 100 mg/KgBB dan P4 yang diberi paraquat 200 mg/KgBB. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan uji One Way ANOVA dan uji alternatifnya yaitu uji Kruskal Wallis. Sedangkan untuk melihat keeratan hubungan antar variabelnya digunakan uji Man Whitney. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh pemberian herbisida golongan paraquat diklorida per−oral terhadap gambaran histopatologi esofagus tikus putih (Rattus norvegicus)  jantan galur Sprague dawley (p=0,002). Hasil penelitian juga menunjukan ada pengaruh peningkatan dosis herbisida golongan paraquat diklorida terhadap derajat kerusakan esofagus tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley. Simpulan, terdapat pengaruh herbisida paraquat dichlorida oral terhadap derajat kerusakan pada esofagus tikus. [JuKe Unila 2015; 5(9):9-12]
Perbedaan Kemampuan Memori Kerja pada Tikus Pasca Paparan Gelombang Elektromagnetik dari Handphone Selama 14 Hari Anggraeni Janar Wulan; Rekha Nova Iyos; Muhammad Aditya
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.212 KB)

Abstract

Penggunaan handphone sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Hal ini  merupakan sebuah ancaman serius untuk kesehatan manusia. Paparan gelombang Elektromagnetik (EM) dapat menyebabkan gangguan pada otak manusia baik pada struktur, fungsi maupun aspek biokimiawinya. Stres akibat paparan gelombang EM dapat mengganggu fungsi memori. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan nilai memori kerja pada tikus putih  (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley. Pada penelitian ini digunakan 18 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley, berusia 2-3 minggu dibagi ke dalam 3 kelompok,  yaitu kelompok kontrol (K), kelompok perlakuan 1 (P1) dipaparkan dengan gelombang EM dari handphone 1 jam/hari (P1), dan P2 dipaparkan dengan durasi 3 jam/hari selama 14 hari. Pengujian memori kerja menggunakan radial arm maze. Hasil rerata memori kerja pada masing-masing kelompok adalah sebagai berikut K: 2%, P1: 1,33%, P2: 2,33%. Dari hasil analisa One Way ANOVA didapatkan nilai p=0,55 (p>0,05). Simpulan, paparan gelombang EM handphone selama 14 hari tidak mempengaruhi kemampuan memori kerja tikus putih  (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley. [JuKe Unila 2015; 5(9):13-17]
Faktor Risiko Pola Makan dan Hubungannya dengan Penyakit Jantung pada Pria dan Wanita Dewasa di Provinsi Lampung Reni Zuraida
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.003 KB)

Abstract

Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia termasuk Indonesia. Perubahan gaya hidup seperti pola makan yang menjurus ke sajian siap santap yang tidak sehat dan tidak seimbang karena mengandung kalori, lemak, protein, dan garam tinggi tapi rendah serat pangan disinyalir menjadi faktor risiko meningkatnya prevalensi penyakit jantung. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis faktor risiko pola makan dan hubungannya dengan penyakit jantung pada pria dan wanita dewasa di Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan disain penelitian cross-sectional. Penelitian ini menganalisis  faktor risiko pola makan yang berhubungan dengan penyakit jantung antara lain kebiasaan konsumsi sayur dan buah, kebiasaan konsumsi makanan berlemak, kebiasaan makanan asin, kebiasaan konsumsi alkohol pada pria dan wanita dewasa di Provinsi Lampung. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diambil dari data Riset Kesehatan Dasar 2007 Provinsi Lampung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Indonesia. Prevalensi penyakit jantung pada pria dan wanita dewasa di Provinsi Lampung adalah 3,8 %. Terdapat hubungan antara konsumsi makanan asin dengan penyakit jantung (OR=1,17). Tidak terdapat hubungan antara riwayat konsumsi alkohol dalam 12 bulan terakhir dengan penyakit jantung (p=0,226). Didapatkan konsumsi sayur dan buah merupakan faktor protektif terhadap penyakit jantung (OR=0,83). Simpulan, penderita jantung Provinsi Lampung harus memperhatikan pola makan meliputi mengurangi konsumsi makanan asin dan meningkatkan konsumsi sayur dan buah. [JuKe Unila 2015; 5(9):18-22]
Determinan Kondisi Rumah Penderita Tuberkulosis Paru di Kota Bandar Lampung Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.441 KB)

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular dengan potensi penularan yang sangat tinggi, sehingga angka kejadiannya terus meningkat. Insiden kasus secara global pada tahun 2013 meningkat dibanding tahun 2012. Terdapat beberapa determinan yang berpengaruh terhadap penularan TB, termasuk kondisi rumah. Kondisi rumah adalah indikator sosial ekonomi kesehatan dan kesejahteraan yang berkaitan dengan lingkungan. Kondisi rumah yang tidak baik berhubungan erat dengan TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan kondisi rumah penderita TB periode Januari-Juli 2012 dan membandingkannya dengan bukan penderita TB. Penelitian ini dilakukan di di 27 puskesmas dan 1 rumah sakit di Bandar Lampung yang telah melaksanakan strategi Directly Observed Treatment Short-course (DOTS). Responden penelitian ini terdiri dari 238 penderita TB BTA positif dan 238 bukan penderita TB. Variabel pada penelitian ini terdiri dari kondisi rumah yang diukur melalui indikator kepadatan rumah, kecukupan ventilasi dan keberadaan polusi dalam rumah. Data pada penelitian ini dikumpulkan menggunakan alat bantu kuesioner yang kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa penderita TB mempunyai kepadatan rumah yang lebih tinggi, ventilasi yang lebih kurang dan sumber polusi dalam rumah yang lebih banyak dibandingkan bukan penderita TB. Simpulan, determinan kondisi rumah penderita TB lebih rendah dibandingkan bukan penderita TB. Pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk mendukung program pengendalian TB, khususnya dalam implementasi strategi DOTS yang disertai dengan perbaikan kondisi rumah. [JuKe Unila 2015; 5(9):23-27]
Identifikasi Kontaminasi Telur Soil Transmitted Helminths pada Makanan Berbahan Sayuran Mentah yang Dijajakan Kantin Sekitar Kampus Universitas Lampung Bandar Lampung Hanna Mutiara
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.047 KB)

Abstract

Infeksi cacing usus merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia, terutama di daerah beriklim tropis. Penyakit ini ditularkan melalui tanah, disebut soil transmitted helminths. Spesies kelompok helminth tersebut adalah A. lumbricoides, T. trichiura, dan cacing kait. Penyakit ini dapat mempengaruhi derajat kesehatan,  yang salah satunya dapat digambarkan melalui status gizi. Sayuran segar dapat menjadi agen transmisi telur cacing. Memakan sayuran mentah dapat meningkatkan kemungkinan bawaan infeksi parasit. Universitas Lampung merupakan universitas negeri dengan ribuan mahasiswa yang merupakan bagian dari generasi penerus bangsa. Pada umumnya mahasiswa membeli makanan di sekitar kampus. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kontaminasi telur soil transmitted helminths pada makanan berbahan sayuran mentah yang dijajakan kantin di sekitar Universitas Lampung, Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian survei yang bersifat deskriptif, dilakukan pada bulan Agustus hingga November 2011. Sampel diperoleh secara total sampling dari 19 kantin di sekitar lingkungan kampus. Pemeriksaan telur cacing dilakukan secara mikroskopis, dengan metode sedimentasi. Hasil penelitian ini adalah teridentifikasi kontaminasi telur cacing pada 4 sampel (21,1%). Kontaminan tersebut adalah telur A. lumbricoides (50%), cacing kait (25%), dan kombinasi T.trichiura dan  A. lumbricoides (25%). Angka kontaminasi tersebut lebih rendah dibadingkan angka kontaminasi sayuran di pasar tradisional. Hal ini menggambarkan telah ada upaya pengelolaan bahan makanan, namun belum optimal. Simpulan, telah teridentifikasi kontaminasi telur cacing usus pada 21,1% makanan berbahan sayuran mentah. Hal ini perlu diperhatikan karena merupakan risiko terjadinya infeksi cacing usus pada pengkonsumsinya. [JuKe Unila 2015; 5(9):28-32]
Evaluasi Penatalaksanaan Abses Leher Dalam di Departemen THT-KL Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2012–Desember 2012 Mukhlis Imanto
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.233 KB)

Abstract

Abses leher dalam didefinisikan sebagai kumpulan nanah setempat yang terbentuk dalam ruang potensial diantara fasia leher dalam akibat kerusakan jaringan yang berasal dari penjalaran infeksi gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah, dan leher. Penatalaksanaan bertujuan menurunkan angka morbiditas dan terutama mortalitas, meliputi insisi dan drainase serta pemberian antibiotik yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan abses leher dalam di Departemen THT-KL Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif  retrospektif pada penderita yang terdiagnosis abses leher dalam berdasarkan data rekam medik periode Januari-Desember 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan 28 pasien, laki–laki (68%) dan perempuan (32%), terjadi pada kelompok usia terbanyak  20-39 tahun (50%), dengan tingkat sosial ekonomi rendah (64%). Berdasarkan jenis atau lokasi abses didapatkan terbanyak abses peritonsiller (32%) dengan sumber infeksi terbanyak dari odontogenik (50%). Penatalaksanaan terbanyak, antibiotik disertai insisi drainase (43%). Lama perawatan diperoleh terbanyak <7 hari (39%) dengan kondisi saat pulang terdapat perbaikan (71%). Simpulan penatalaksanaan abses leher dalam di Departemen THT-KL RSHS Bandung periode Januari-Desember 2012 memperlihatkan kondisi pasien saat pulang dengan perbaikan. [JuKe Unila 2015; 5(9):33-37]
Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Fungsi Paru pada Pegawai Pria di Gedung Rektorat Universitas Lampung Khairun Nisa; Liana Sidharti; Muhammad Farid Adityo
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.058 KB)

Abstract

Salah satu faktor yang dapat mempercepat penurunan fungsi paru adalah merokok. Penurunan fungsi paru ditandai dengan penurunan nilai volume ekspirasi paksa satu detik (VEP1), penurunan kapasitas vital paksa (KVP) dan rasio VEP1/KVP. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh lama merokok dan jumlah konsumsi harian terhadap rasio VEP1/KVP pada pegawai laki laki di Rektorat Universitas Lampung. Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Rektorat Universitas Lampung pada bulan Desember 2014. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pegawai laki-laki dengan rentang usia 25-50 tahun di Rektorat Universitas lampung. Sampel penelitian berjumlah 68 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Adapun analisis statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah uji chi-square. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik mulai dari pemilihan variabel ke analisis regresi logistik sampai model akhir, yang menjadi faktor dominan terhadap rasio VEP1/KVP adalah jumlah konsumsi harian rokok 1-10 batang dengan p=0,005. Simpulan. lama merokok dan jumlah konsumsi harian rokok berpengaruh terhadap rasio VEP1/KVP pegawai laki-laki usia 25-50 tahun di Rektorat Universitas Lampung. [JuKe Unila 2015; 5(9):38-42]

Page 1 of 3 | Total Record : 27