cover
Contact Name
Baskoro Suryo
Contact Email
banindro@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ars@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARS: Jurnal Seni Rupa Dan Desain
ISSN : 18297412     EISSN : 25807374     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
ARS merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni rupa dan desain. Jurnal ini terbit 3 kali setahun dengan 6 artikel setiap edisi yang jatuh pada bulan Januari - April, Mei - Agustus, September - Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "No.1 TH.1 April 2004" : 7 Documents clear
Memahami Peluang-peluang Quantum dalam Seni M. Dwi Marianto
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain No.1 TH.1 April 2004
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i1.231

Abstract

Tulisan ini merupakan tindak lanjut pelengkap dari tulisan penulis “Kajian QuantumUntuk Bidang Seni Rupa” yang dimuat di jurnal Ekspresi yang diterbitkan oleh LembagaPenelitian ISI Yogyakarta. Dalam tulisan sebelumnya penulis masih sebatas menawarkansuatu kajian yang didasarkan pada cara pandang atas realitas yang diadopsi dari temuantemuaneksperimental fisika quantum. Untuk melengkapi tulisan itu penulis menghadirkansatu cara pendekataa yang lebih praktikal dan opcrasional untuk memahami dan merefleksiseni. Pertama kali akan penulis kemukakan terlebih dahulu paradigma Fisika Klasik yangtelah berabad-abad pemikiran dan cara pandang masyarakat modern, lalu akan disusul dengancara pandang quantum yang mematahkan determinisme Fisika Klasik. Lalu akan penulispaparkan beberapa poin prinsipal dari Fisika Quantum yang penulis pandang layakdicermati. Poin-poin prinsipal ini kemudian akan dijelaskan dengan ilustrasi-ilustrasi yangdipetik dari kehidupan seni yangnyata. Dengan pemahaman quantum kita akan lebih mampusecara imajiner membayangkan potensi-potensi virtual seni atau peluang-peluang dalam karyaseni apapun, untuk selanjutnya dikaji, dan dipilih mana yang yang paling masuk akal danrealistik, bila ingin diaktualkan, baik secara lisan, tertulis, maupun grafis.
Cahaya Bagi Kreasi Estetik SP. Gustami
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain No.1 TH.1 April 2004
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i1.236

Abstract

Cahaya sebagai suatu gejala harus sudah disadari, sejak orang mengenal siang danmalam. Pada siang hari suhu udara menjadi hangat atau panas akibat terkena pancaransinar matahari. Oleh sebab itu, wajar jika cahaya diasosiasikan dengan panas; panasdiasosiasikan dengan iklim, yakni bagian siklus realitas alam yang ditimbulkan oleheksistensi matahari. Cahaya tidak hanya sebagai kekuatan (energi) yang memberikan dayahidup segala makhluk di dunia, tetapi disadari bahwa tanpa cahaya segala sesuatu tidakmungkin terlihat atau digumuli adan dikembangkan bagi kepentingan hidup.Pada dasarnya sumber cahaya dapat dipilahkan menjadi dua macam, yaitu sumbercahaya alami dan buatan. Sumber cahaya alami antara lain, berasal dari matahari dan kilat(lightningj dengan segala implikasinya; sedangkan sumber cahaya buatan antara lain,berasal dari api dan listrik. Efek yang ditimbulkan oleh kedua sumber cahaya itu telahmempengaruhi kesadaran manusia, sehingga setelah mengalami sentuhan estetik umbulfenomena tertentu yang terkesan dramatik, mitis, dan religius, atau sama sekali bersifatprofan. Hal itu bergayut dengan eksistensi manusia yang memiliki kesadaran rasional danirasional sekaligus. Sejalan dengan itu, pengenalan dan pemahaman manusia mengenaicahaya juga terbagi menjadi dua alur pikir yang berbeda, termasuk di dalamnyaperanannya di bidang penciptaan karya seni. Kehadiran cahaya dalam seni juga memilikidua kecenderungan terpisah, yaitu munculnya sifat sacral (dramatik, mitis, dan religius)dan profan. Bukti untuk itu dapat diperhatikan melalui uraian berikut.
Komunikasi Visual yang"Cerdik” M. Umar Hadi
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain No.1 TH.1 April 2004
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i1.232

Abstract

Bahasa Visual dalam Komunikasi di Sekitar KitaBahasa visual merupakan alat komunikasi yang memanfaatkan unsur-unsurrupa seperti bentuk, warna, komposisi, sebagai bahasa atau lambang untukmenyampaikan informasi. Ia dapat berwujud gambar, relief, patung, sebagairepresentasi kejadian, imajinasi maupun pikiran pengirimnya. Bentuk komunikasiseperti ini telah dikenal manusia sejak dahulu bahkan jauh sebelum ditemukan sistimalfabet oleh bangsa Phunesia. Gambar pahatan di dinding gua di Lascaux Perancis,Hieroglyph di Mesir, cetakan tanah liat di Cina memperlihatkan hal itu.1Kini lebih 2000 tahun kemudian komunikasi yang menggunakan lambanglambangvisual seperti itu telah berkembang pesat dan menjadi konsumsi masyarakatluas melalui berbagai jenis media. Surat kabar, Majalah, Tclcvisi, Video Game, Internet,hingga proyeksi OHP> LCD di ruang kuliah dan seminar menyajikan informasi dengancara visual untuk berbagai tujuan.Disadari atau tidak masyarakat kita saat ini berada pada suatu keadaan yangpenuli dengan berbagai bentuk komunikasi visual. Iklan barangkali objek yang palingmudah ditunjuk sebagai contoh nyata bentuk komunikasi visual yang ada dimasyarakat. Sebagai alat untuk menyampaikan pesan, iklan memang tidak pernahberhenti dalam upaya mencari jalan bagaimana menarik perhatian masyarakatkhususnya khalayak sasaran dalam usaha menawarkan produk maupun jasa. Kemajuanteknologi komunikasi telah menghadirkan sejumlah fasilitas dan berbagaikemungkinan baru yang mampu mempertinggi kualitas visual iklan sehingga dariwaktu ke waktu terjadi peningkatan daya tarik penampilannya.
'Jalan Pembebasan' Edi Sunaryo Suwarno Wisetrotomo
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain No.1 TH.1 April 2004
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i1.237

Abstract

Melacak jejak proses kreatif pelukisEdi Sunaryo (lahir di Banyuwangi, JawaTimur, 4 September 1951), sejak iamenapakkan pilihan profesinya menjadipelukis sekitar tahun 1970-an, akanditemukan fase-fase yang menarik. Di awaikarier, karya-karyanya bersandar padakekuatan dan kemampuannya menyusungaris, bidang, warna, dan tekstur, hinggamencapai kutuhan harmoni. Dalam fase itu,ia menggulirkan semacam tema yangdicitrakan sebagai 'citra primitif; yangmengisyaratkan bagaimana gubahan tatarupa itu berdasarkan atas spirit dari duniaseni (rupa) yang arkhaik. Fase ini dilaluicukup panjang (hingga akhir 1990-an). EdiSunaryo seperti terperangkap dalam jaringjaringtata rupa yang dibangunnya sendiri.
Mengubah "Kebetulan” men jadi " Kebenaran” Yang Unik-unik dalam Aktivitas dan Proses Kreasi Seni Rupa Mr. Subroto Sm.
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain No.1 TH.1 April 2004
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i1.233

Abstract

Dalam bahasa Indonesia arti kata “betul" sama dengan “benar”. Tetapi ketikamasing-masing diberi awalan dan akhiran ke an, artinya menjadi berbeda, yaitu“kebetulan” dan “kebenaran". Kebetulan, berarti suatu keadaan yang terjadi karenatidak diduga atau tidak disengaja, mendadak, spontan atau untung-untungan. Adapunkebenaran lebih kurang berarti sesuatu yang bernilai atau berharga jika dipandang baikdari akal, budi dan nurani.Dalam proses kreasi seni banyak peristiwa yang unik, aneh atau tak terduga.Peristiwa unik itu bisa saja dalam proses penemuan ide-ide baru, medium, atau teknik.Sehingga dari sana tidak mustahil dilahirkan bentuk-bentuk tertentu yang menandaihadirnya sebuah aliran seni atau gaya seni yang beraneka macam.Hal-hal yang dianggap kebetulan di dalam aktivitas dan proses kreasi seni tidakjarang oleh seniman disadari sebagai suatu berkah atau anugerah, karena kemudian iamengubah “kebetulan” itu menjadi suatu “kebenaran”, bahkan mungkin menjadiprinsip dalam berkeseniannya.
Merenungkan Kembali Gerakan Anti-Desain Mr. Sumartono
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain No.1 TH.1 April 2004
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i1.234

Abstract

Desain (design) adalah sebuah kata yang memiliki pengertian sangat longgar. Kataini bisa digunakan tidak hanya dalam kaitan dengan proses perancangan karya-karyadesain interior, desain komunikasi visual/desain grafis, dan desain produk industri,tetapi juga dengan perancangan produk-produk rekayasa teknik (engineering) danpenciptaan karya-karya seni kriya. Akibat dari pengertian desain yang sangat longgar initidaklah mungkin bagi bidang ini menggantungkan diri pada satu pendekatan dalamproses perancangan. Gerakan anti-desainyang menjadi inti judul tulisan inibukanlahsebuah gerakan desain yang negatif (karena menggunakan sebutan anti-desain), tetapiadalah sebuah gerakan desain pada masa setelah Perang Dunia II yang menentangkemapanan pendekatan desain Modern Amerika (Amerika Serikat) yang hanyaberorientasi pada keuntungan finansial dan kurang mengakomodasi keberagaman citarasa desain yang didasarkan pada kompleksitas psikologi manusia. Untuk menyebut'gerakan anti-desain' saya tidak menggunakan huruf besar karena gerakan ini tidakbersifat spesifik tetapi mewakili berbagai gerakan di sejumlah tempat di dunia yangditujukan untuk menentang pendekatan desain Amerika itu. Amerika menjadi sasarangerakan ini karena negara ini menjadi pelopor komersialisasi desain. Padatahun 1930-an,Amerika memelopori pendekatan desain Modern yang didasarkan pada formula “desainbagus « bisnis menguntungkan”. Pendekatan desain ini memang pernah populer, tetapikemudian mendapatkan tentangan hebat dari gerakan anti-desain. Karena dalampendekatan desain Amerika ini keuntungan finansial menjadi tujuan utama, makaproduk-produk industri dibuat dengan cepat dan seragam (massproduction). Akibatnyaproduk-produk itu cepai membosankan. Masyarakat kemudian digiring untuk membeliproduk-produk lebih baru, yang juga cepat membosankan. Akhirnya masyarakatmenjadi objek eksploitasi tanpa henti. Mereka yang secara ekonomi mampu maupunkurang mampu sama-sama merasakan eksploitasi ini, tetapi bagi yang secara ekonomikurang mampu eksploitasi ini terasa lebih menyakitkan.Meskipun gerakan anti-desain berkembang di Eropa tidak lama setelah selesainyaPerang Dunia II, pengaruhnya di duniatermasuk di negara-negara berkembang sepertiIndonesiatetap terasa hingga sekarang ini. Di dunia, termasuk di Indonesia, pengaruh inimuncul dalam bentuk karya-karya desain bergaya Posmodern. Gaya Modern memangmasih hidup, tetapi gaya Posmodern tampaknya menjadi pilihan penting di masasekarang, termasuk di Indonesia.
Seniman dan Nilai Generik Seni Sun Ardi
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain No.1 TH.1 April 2004
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i1.235

Abstract

1. M enengok ke B e lak an g : P roses Munculnya Humanisme2. R enaisans Semu3. Diversifikasi U saha dalam Masyarakat4. Seni Lukis Ekspresi dan Seni Lukis K omoditi5. Eksistensi Generik Seniman

Page 1 of 1 | Total Record : 7