cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi" : 6 Documents clear
Menengok Kembali Eksistensi Visual Effect Film Indonesia Arif Sulistiyono
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 1 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i1.3246

Abstract

AbstrakVisual effect film dunia saat ini sudah mencapai tingkat pencapaian tertinggi yang mampumembuat semua yang tidak mungkin menjadi mungkin, baik yang berdasarkan kenyataan,realita, sampai dengan yang bersifat imajinatif. Visual effect (VFX) atau efek visual hampirselalu hadir dalam film-film bergenre action yang mampu membuat penonton benar-benaryakin bahwa adegan tersebut adalah nyata, tak terkecuali untuk film-film buatan Indonesia.Namun, selama tiga dekade eksistensi efek visual di Indonesia, realita perkembangannya jauhtertinggal dibanding kualitas efek visual film Holywood baik dari sisi estetika maupun teknik.Masih banyak film Indonesia yang tidak meyakinkan dari sisi efek visualnya sehingga tidakcukup membuat penonton percaya bahwa adegan yang dihadirkan seolah-olah nyata atau tidakmempunyai efek realitas. Bahkan beberapa efek visual film/sinetron yang ditayangkan di salahsatu televisi swasta seringkali menjadi bahan cemoohan karena nampak jelas kepalsuannya.Sumber daya bidang animasi dan visual effect di Indonesia sesungguhnya sangat memenuhisyarat dan mampu membuat efek visual setara dengan produksi Holywood, namun padakenyataannya selalu ditemukan faktor klasik yang menghambatnya antara lain faktorkesempatan dan pembiayaan. Looking Back the Existence of Indonesia Film’s Visual Effects. The film’s visual effects arenow reaching the highest level of achievement that is able to make all the impossible becomespossible, whether based on fact, reality, to the imaginative nature. Visual effects (VFX) orvisual effect almost always presents in the action films genre that are able to make the audiencereally believe that these scenes are real, not least for films made in Indonesia. However, duringthe three decades of the existence of the visual effects in Indonesia, the reality of developmentis far behind the quality of visual effects of Hollywood movies both in terms of aesthetics andengineering. There are still many Indonesian films which are not convincing in terms of visualeffects that do not quite make the audience believe that the scene is presented as if it is realor not have the effect of reality. Even some of the visual effects of the film / soap opera thataired on a private television is often played as the subject of ridicule for obvious falsehood.Resources field of animation and visual effects in Indonesia actually highly qualified and ableto create visual effects on par with Hollywood production, but in fact, the classical factor thathinders among other factors and financing opportunities are always found.
Langen Katresnan: Video Animasi dengan Tema Ramayana Episode Penculikan Shinta Ika Yulianti
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 1 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i1.3245

Abstract

AbstrakKisah Ramayana telah banyak dikenal dalam masyarakat Indonesia sejak berabad-abad yanglalu. Kisah ini telah disebarkan dari generasi ke generasi. Cerita ini akrab bagi masyarakat dalambentuk kakawin ini sering dipentaskan dalam bentuk seni pertunjukan, dramatari, pertunjukanwayang, serta dalam bentuk boneka atau patung. Kisah Ramayana memiliki banyak episode,namun dalam penciptaan karya video animasi mengambil Episode Penculikan Shinta. Animasikarya video ini dieksplorasi bentuk karakter dan cerita, serta berkolaborasi dengan tari, teater,dan seni musik. Penculikan cerita Shinta menjadi dasar narasi utama dalam penciptaan videoanimasi dengan tema Ramayana episode penculikan Shinta ‘Langen Katresnan’ yang kemudiandikembangkan sesuai dengan ide-ide dan konsep. Ini juga mendukung penciptaan karya baruyang mempromosikan keaslian pekerjaan. Video animasi ini bekerja dengan menggunakanteknik dua dimensi. Ini sebenarnya adalah referensi yang animasi boneka yang pertama kalidiakui oleh nenek moyang sebelumnya. Langen Katresnan: An Animation Video with the Theme ‘Ramayana Episode the Abductionof Shinta’. Ramayana story has been widely known in Indonesian society since centuries ago.This story has been disseminated from generation to generation. The story is familiar to thepublic in the form of this kakawin often staged in the form of performing arts, dramatari,puppet performances, as well as in the form of puppet or sculpture. Ramayana story has a lotof episodes, but in the creation of this animated video work taking Shinta kidnapping episode.This animated video works explored the form of characters and stories, as well as collaboratewith dance, theater and musical arts. Kidnapping of Shinta’s story became the basis of theprincipal narrative in the creation of animated video with the theme of Ramayana episodekidnapping Shinta ‘Langen Katresnan’ which then developed in accordance with the ideas andconcepts. It also supports the creation of new work that promotes originality of the work. Thisanimated video works using two-dimensional techniques. This is actually a reference to thatpuppet animation that was first recognized by earlier ancestors.
Penggunaan Metafora Visual Dalam Video Iklan Layanan Masyarakat Kick It Out Winata Faturahman
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 1 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i1.3244

Abstract

AbstrakKerusuhan para penggemar sepak bola di Indonesia sudah umum terjadi pada banyaktayangan langsung. Sikap negatif yang berlebihan cenderung menjadi salah satu penyebabsering terjadinya kerusuhan antara penggemar sepak bola di Indonesia. Anarkisme cenderungmengarah pada sikap vandalisme yang sangat merugikan diri sendiri atau orang lain. Kurangnyasemnagat sportivitas pada penggemar sepak bola di Indonesia masih sering ditemui, perlukesadaran untuk mengubah itu semua. Iklan layanan masyarakat adalah iklan yang mengkritiktujuan non-komersial, satir, atau dibuat untuk menularkan sifat positif akan suatu masalahsosial. Sebuah iklan layanan masyarakat yang dibuat akan lebih mudah diterima olehmasyarakat jika disampaikan dengan memberikan paparan fenomena sosial. Metafora adalahsindiran halus yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang non-verbal. Sebuah iklanyang berisi pesan dan divisualisasikan melalui ajakan metafora akan lebih terkesan dan tidakmenggurui. Pendekatan metafora yang digunakan untuk menyampaikan pesan video iklanlayanan masyarakat Kick It Out akan menyampaikan pesan dengan cara halus. The Using of Visual Metaphor in the Video of Public Service Announcement ‘Kick It Out’.Football fans riot in Indonesia are common and many lives. Excessive negative and tends to beone of the causes frequent riots between football fans in Indonesia. Anarchism is likely to leadto vandalism attitude is very detrimental to yourself or others. Lack of sportsmanship spiritfootball fans in Indonesia are still frequently encountered, it is necessary for an awareness tochange it all. Public service ads are ads that criticize non-commercial purposes, satirical, orinvited to do the positive nature of social problems. A public service announcements that areinvited will be more easily accepted by the community by giving exposure to social phenomena.Metaphor is a delicate metaphor used to describe something as non-verbal. An advertisementthat contains a message and visualized through metaphor will be more impressed solicitationand not patronize them head on. Metaphorical approach used to convey a message, videopublic service announcements Kick It Out will convey a subtle message.
Aspek Perlindungan Anak dalam Iklan Televisi: Kajian Terhadap Iklan Televisi Yang Melanggar Kode Etik Periklanan Novi Mayasari
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 1 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i1.3247

Abstract

AbstrakIklan telah menjadi salah satu bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap hari,baik secara sadar maupun tidak kita selalu terpapar oleh iklan. Ketika menonton acara televisifavorit kita, tiba-tiba acara terhenti oleh iklan, ketika kita membaca koran, majalah atau bahkanketika kita berangkat kerja kita selalu bertemu dengan iklan entah itu dalam bentuk poster,spanduk, baliho maupun iklan di media cetak. Banyaknya iklan yang beredar di masyarakattentu saja memberikan pengaruh yang besar pada para konsumen mulai dari pengaruh yangberupa pembelian maupun pengaruh sederhana seperti meniru iklan. Besarnya pengaruh iklantersebut tentu saja harus diimbangi dengan sikap bijaksana terutama terkait dengan pengaruhiklan terhadap anak-anak. Sayangnya saat ini masih banyak iklan televisi yang melanggaretika pariwara Indonesia terkait dengan aspek perlindungan anak. Di antaranya adalah Iklantelevisi Permen Jagoan Neon versi “Mountain Bike”, Iklan Mie Sedap versi “Kerja Bakti”,Iklan Gerry Chocolatos versi “Masuk ke Dalam kulkas” serta iklan mie sedap versi “rasa ayamspesial”. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, yaitu jenis penelitian yang lebihmenekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisisterhadap dinamika hubungan antarfenomena yang diamati, dengan menggunakan logikailmiah. Data yang peneliti peroleh baik melalui penelitian kepustakaan maupun penelitianlapangan akan di analisis secara deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif melakukan analisishanya sampai taraf deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematiksehingga dapat lebih mudah dipahami dan disimpulkan. Aspects of the Protection of Children in Television Commercials: Study on the BreakingTelevision Advertising Advertising Code. Advertising has become one part in people’s dailylives. Every day, either consciously or not we are always exposed to the ads. When watchinga favorite television show us, suddenly interrupted by advertising the event, when we readthe newspapers, magazines or even when we go to work we are always met with the ad eitherin the form of posters, banners, billboards and print ads. The number of ads that circulate inthe community of course have a considerable influence on the consumer from the impact orinfluence the purchase of a simple form such as imitating the ad. The magnitude of the effect ofsuch advertising must of course be balanced with prudence, especially relating to the influenceof advertising on children. Unfortunately today there are many television ads that violate ethicsIndonesia advertisement related to aspects of child protection. Among these are television adsNeon Candy Stud version of “Mountain Bike”, Ad Noodle Savoury version of “Work Activity”,Ad Gerry Chocolatos version of “Go to In the fridge” and savory noodles ad version “specialchicken flavor”. This study is a qualitative research, which is a type of research that is moreemphasizes the analysis of deductive and inductive inference process and the analysis of thedynamics of the relationship antarfenomena observed, using scientific logic. Researchers dataobtained through library research and field research will be descriptive - qualitative analysis.Descriptive study analyzing only to some descriptions, which analyze and present the facts ina systematic way so that it can be easily understood and concluded.
Kaki Manusia Sebagai Objek Estetik Penciptaan Fotografi Seni Dira Herawati
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 1 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i1.3243

Abstract

AbstrakLaporan pertanggungjawaban adalah deskripsi tertulis pengalaman kreatif seorang senimanatau fotografer dalam upaya eksplorasi estetika pada gambar dan gagasan manusia sebagaistimulan dasar bagi penciptaan karya seni fotografi. Kaki manusia sebagai objek estetika adalahmasalah yang berhubungan dengan berbagai fenomena yang terjadi di bidang sosial, budaya,dan politik di Indonesia saat ini. Berdasarkan hubungan ini, kaki manusia akan dirumuskansebagai gambar yang memiliki nilai, dan kesan tersendiri dalam penciptaan sebuah karya senifotografi. Oleh karena itu, penciptaan seni fotografi ini berjudul Kaki Manusia sebagai ObjekEstetik Penciptaan Seni Fotografi. Dari latar belakang ini, kaki sebagai seni fotografi objekpilihan, akan dikelola secara kreatif dan sistematis melalui tahapan penciptaan. Fase penciptaanterdiri dari: (1) eksplorasi wacana, (2) eksplorasi artistik, (3) tahap elaborasi fotografi, (4) tahapsintesis, dan (5) tahap penyelesaian. Metodis, melalui tahapan proses kreatif di mana dirumuskandalam berbagai bentuk gambar artistik dari kaki manusia. Berbagai bentuk gambar artistik yangdihasilkan dari endapan dari proses penciptaan, dapat disimpulkan sebagai objek estetika dalamkarya-karya fotografi seni. Hal ini secara khusus ditandai dengan pembentukan ‘pencitraan laindi balik gambar kaki terlihat, serta dari berbagai bentuk citra baru’ sebagai hasil dari eksplorasiartistik gambar umum kaki. Secara umum, seluruh gambar dari kaki dalam karya fotografi senimemiliki hubungan reflektif dengan situasi sosial, budaya, dan politik yang berkembang dalammasyarakat Indonesia, yang mengandung nilai, makna, dan kesan. Human Foot as Aesthetic Object Creation Art Photography. Accountability report is a writtendescription of creative experiences as an artist or a photographer of aesthetic exploration effortson the image and the idea of a human as a basic stimulant for the creation of works of artphotography. Human foot as an aesthetic object is a problem that relates to various phenomenathat occur in the social sphere, culture and politics in Indonesia today. Based on these linkages,human feet would be formulated as an image that has a value, and the impression of eatingalone in the creation of a work of art photography. Hence the creation of this art photographyentitled The Human Foots as Aesthetic Object Creation of Art Photography. Starting from thisbackground, then the legs as an option object art photography, will be managed creatively andsystematically through a phases of creation. The creation phases consist of: (1) the explorationof discourse, (2) artistic exploration, (3) the stage of elaboration photographic, (4) the synthesisphase, and (5) the stage of completion. Methodically, through the phases of the creative processthrough which this can then be formulated in various forms of artistic image of a human foot. Thevarious forms of artistic images generated from the foots of its creation process, can be summedup as an object of aesthetic order in the photographic works of art. It is specifically characterizedby the formation of ‘imaging the other’ behind the image seen with legs visible, as well as of thevarious forms of ‘new image’ as a result of an artistic exploration of the common image of legsvisible. In general, the whole image of the foot in a photographic work of art has a reflectiverelationship with the social situation, cultures, and politics that developed in Indonesian society,by value, meaning and impression that it contains.
Gerak Tari Baris Tunggal dalam Fotografi Ekspresi Menggunakan Teknik Strobo Light Ida Bagus Candra Yana
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 1 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i1.3242

Abstract

AbstrakDance photography adalah pemotretan pada gerak tari yang memiliki karakteristik menunjukkangerakan tertentu dengan kostum yang unik. Seni fotografi tari khusus menggambarkan melaluiefek tematik tertentu dengan melaju estetika dan kreatif. Berdasarkan pengalaman fotograferuntuk menangkap cahaya bersama-sama dengan ekspresi estetika nya pada gerakan fotografi,ia akhirnya disajikan seni visual pada Baris Tunggal Dance dalam seni ekspresi fotografimenggunakan lampu sorot. Pada dasarnya, karya-karya kreatif difokuskan pada gerakanpenari dan berubah menjadi ekspresi fotografi yang dicampur dengan estetika dan kreatif ide(ideasional) juga kemampuan pemotretan teknis (teknis) dari fotografer. Foto tunas teknik yangdipilih melalui berbagai pertimbangan yang berorientasi pada implementasi kemungkinanpraktis, sehingga foto-foto di-freeze, kabur, dan multiple-gambar sebagai seni fotografi. Senifoto termasuk ekstrinsik dan nilai-nilai estetika intrinsik melalui presentasi foto. Denganhadirnya seni fotografi ini bekerja itu tidak hanya hadir dalam bentuk dokumentasi belaka,tetapi itu adalah seni ekspresi fotografi tingkat kreatif dan estetika. The Movement of Tari Baris Tunggal in Expression Photography Using the StrobeLight Technique. Dance photography is a photo shoot on a dance movement which has acharacteristic as it shows on a particular movement with unique costumes. The arts of dancephotography specifically describes through a specific thematic effect with an aesthetic andcreative oncoming. Based on the photographer experience to capture the light together withhis aesthetic expression on movement photography, he finally presented the visual arts onBaris Tunggal Dance in art photography expressions using strobe light. Basically, the creativeworks focused on the dancer movements and transformed into expression photography whichblended with aesthetic and creative idea (ideational) also the technical photo shoot capability(technical) of the photographer. The photo shoots technique have been chosen through avariety of consideration which oriented on practical implementations possibilities, resultingphotographs in freeze, blurred, and multiple-images as art photography. The art photographincludes extrinsic and intrinsic aesthetic values through photo presentation. With the presenceof this photography art works it was not only present in the form of mere documentation but itwas the art expression photography on creative and aesthetic level.

Page 1 of 1 | Total Record : 6