cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi" : 6 Documents clear
Butterfly: Video Mapping Transformasi Kupu-Kupu sebagai Simbol Transformasi Diri Dina Dwika Oktora
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 2 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i2.3251

Abstract

AbstrakKupu-kupu mengalami proses transformasi sebagai bagian dari siklus hidup normal. Kupukupujuga merupakan representasi dari simbol tentang sukacita, kebahagiaan, musimsemi, kelahiran kembali, dan pembaharuan. Image serangga cantik ini juga menyimbolkankelembutan, yang bisa menyentuh dalam masa sulit. Dalam proses kesedihan, orang yangberduka telah belajar bagaimana menghadapi kehilangan, atau perubahan yang signifikan.Banyak orang mungkin menyembunyikan diri seperti berada dalam kepompong ketikamencoba untuk menyembuhkan jiwanya. Fase kepompong merupakan salah satu fasetransformasi dari introspeksi dan refleksi. Proses ini berakhir dengan orang yang munculdari kepompong mereka, bermetamorfosis menjadi orang yang berbeda. Video instalasi inimerupakan salah satu seni media baru, dengan menggunakan video mapping sebagai teknikyang akan memperlihatkan fase-fase transformasi kupu-kupu hingga menjadi kupu-kupu yangcantik sebagai simbol transformasi diri. Butterfly: Video Mapping of Butterfly’s Transformation as a Symbol of Self- Transformation.Butterfly undergoing a process of transformation as part of the normal life cycle. Butterfliesalso represent a symbol of a lot of joy, happiness , spring, rebirth and renewal. This beautifulinsect image also symbolizes light and soft, which can touch the heart during this difficult timeand force one to think about the migration of power. In the process of grief , grieving peoplehave learned how to deal with loss or significant change. many people may hide themselvesfrom all over the world such as in a cocoon when trying to heal his soul. Cocoon phase is onestage of the transformation of introspection and reflection. This process ends up as peopleemerged from their cocoons, morphed into a different person. This video instalation is one ofnew media art, by using video mapping technique will show how the phases through which thebutterfly in its transformation into a beautiful butterfly as a symbol self transformation.
Penciptaan Video Seni Melalui Representasi Kekerasan dalam Program Komedi Televisi “Opera van Java” Vani Dias Adiprabowo
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 2 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i2.3250

Abstract

AbstrakVideo seni merupakan sistem komunikasi yang bisa menjadi medium perlawanan kulturalterhadap industri pertelevisian yang sangat dominan. Video seni cenderung bebas dan mampumenjadi sebuah kultur media baru atau new media art, tidak terikat elemen filmis terutamaalur dan kronologi, terkadang juga terdapat karya yang absurd. Berbeda dengan tayangantelevisi yang cenderung lebih mengedepankan aspek komersial semata. Dalam hal tersebut,tulisan ini menyoroti representasi kekerasan yang ada pada program tayangan komedi “Operavan Java” dengan menggunakan teori representasi khususnya pendekatan konstruksionis dariStuart Hall agar lebih mendapatkan kajian yang mendalam. Kekerasan yang muncul dalamtayangan tidak hanya sekadar dimaknai sebagai hal yang negatif semata, namun akan menjadihal yang menarik ketika dibawa ke sebuah penciptaan video seni. Video Art Creation Through the Representation of Violence on Television Comedy Program“Opera van Java”. Video art is the communication system that will be able to become themedium of cultural resistance against the domination of television industry. Video Art tends tobe free and able to be a culture of new media or new media art, not tied to the filmic elementmainly the plot and chronology, sometimes there are also containing the works that considered“absurd”. In contrast to TV footage that tends to be more emphasized on the commercialaspects alone. In doing so, this paper highlights the representation of violence that existson the program of Opera Van Java Comedy. Using the constructionist approach to theory ofrepresentation, especially from Stuart Hall to get an in depth study. Violence appears in theimpressions are not meant merely as purely negative thing, but it will be an interesting thingwhen it is brought to a creation of a video art.
Virtual Reality: Hiperkonsumerisme, Hiperteks, Hipermedia, Hiperealitas Roni Edison
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 2 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i2.3254

Abstract

AbstrakKemajuan teknologi informasi dan mulai “membaiknya” tingkat perekonomian rataratapenduduk Indonesia, ikut meningkatkan kuantitas serta kualitas kehidupan mereka.Pertumbuhan dan kecanggihan gadget kadang tidak memberi kesempatan bagi penggunanyauntuk menggunakan dan menikmati kecanggihan tersebut. Baru beberapa saat gadget canggihtersebut dimiliki dan belum semua aplikasi yang tertanam di gadget tersebut digunakan,sudah datang dan muncul seri baru yang lebih canggih dengan aplikasi yang lebih beragamdan menghibur. Televisi dengan materi audiovisualnya yang juga semakin menghibur danmemanjakan mata penontonnya seakan tidak mau kalah untuk menyuguhkan budaya glamour,konsumtif, instan, dan sekali lagi menghibur. Demikianlah bangsa ini dalam setiap detik denyutnapas hidupnya tiada henti dijejali dengan hiburan, hiburan, sekali lagi hiburan yang dangkal,artifisial, dan semu. Ketika dunia Barat mencapai kemajuan bangsanya melalui proses revolusiindustri bangsa Indonesia mencapai dan memperoleh kemajuan hanya pada tingkat penggunadan pola pikir konsumtif. Tidak berlebihan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa bangsaIndonesia ini sudah terjajah untuk ketiga kalinya. Dijajah oleh industri kapitalisme globaldengan teknologinya sehingga budaya, kearifan lokal, nurani serta olah rasa dan pikiran darimanusia Indonesia semakin tergerus. Bahkan untuk disebut sebagai intelektual yang ilmiahrakyat dari bangsa ini harus mengerti dan memahami bahasa mereka, sebaliknya bangsaBarat tersebut dengan leluasa berkeliaran di negeri ini dengan berbagai kepentingan tidakdiharuskan mengerti, memahami, dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Budaya malu, tepaselira, saling memahami, dan menghargai dalam memaknai perbedaan juga semakin hilangdalam kehidupan bermasyarakat dan juga dalam bernegara. Gagap teknologi, bukan dalamartian tidak mampu menggunakan dan mengoperasikan hasil kemajuan teknologi, tetapi lebihpada ketidakmampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut secara cerdas,beretika, dan bertanggung jawab. Inilah fenomena budaya yang sedang terjadi di negara yangmemiliki falsafah Pancasila dengan semboyannya Bhinneka Tunggal Ika. Virtual Reality: Hyperconsumerism, Hypertext, Hypermedia, Hypereality. Advancesin information technology and started “improving” the average rate of the economy ofIndonesia’s population, helps to improve the quantity and the quality of their lives. But thegrowth and sophistication of gadgets sometimes do not provide an opportunity for users touse and enjoy the sophistication. New gadgets while it is held, and not all applications areembedded in the gadget is used, has come and appear more sophisticated new series with amore diverse applications and entertaining. Television with audio-visual materials are alsomore entertaining and pleasing to the eye as if the audience does not want to lose to presentthe glamor culture, consumerism, instant and once again entertaining. Thus this nation inevery second breath of life relentless beats crammed with entertainment, amusement oncemore entertainment shallow, artificial and superficial. When the western world nation achieveprogress through the industrial revolution of the Indonesian nation reach and make progressonly at the level of the user and consumer mindset. No exaggeration there is a statement that says that the Indonesian nation has been occupied for the third time. Colonized by globalcapitalism with the technology industry to culture, local wisdom, conscience and if the heartsand minds of the Indonesian people increasingly eroded. Even for the so-called scientificintellectual people of this nation should know and understand their language, otherwisethe western nations to freely roam the country with a variety of interests are not requiredto understand, comprehend spoken in Indonesian. Culture of shame, tepo seliro, mutualunderstanding and respect of understanding of the difference is also getting lost in the societyand also in the state. Stuttering technology, not in the sense of not being able to use andoperate the result of advances in technology, but rather the inability to take advantage ofthe technological advances in intelligent, ethical and responsible.It’s a cultural phenomenonthat is happening in a country that has a philosophy of Pancasila with the motto of Unity inDiversity.
Ekspresi Fotografi Seni dengan Objek Rangda I Gede Budiwijaya
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 2 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i2.3249

Abstract

AbstrakDalam karya seni fotografi, banyak hal yang dapat diangkat sebagai objek penciptaan yangmemiliki nilai-nilai estetika, salah satunya adalah Rangda. Ekspresi fotografi seni denganobjek Rangda merupakan sebuah konsep penciptaan karya fotografi seni, yang pada hakikatnyaadalah upaya perwujudan ide kreatif dalam menanggapi sosok Rangda melalui media senifotografi. Rangda, yang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali dipandang sebagaibenda (topeng) yang disucikan, ternyata memiliki potensi yang luar biasa, apabila dipandangdan disikapi sebagai sumber serta objek penciptaan seni, khususnya fotografi seni. Melaluieksplorasi dan observasi diperoleh pengalaman empiris selanjutnya ditranformasikan lewatmodel objek-objek imajinatif dan diolah secara digital imaging. Pengetahuan tentang estetikadalam menyusun elemen-elemen objek serta pemahaman dan kemampuan penguasaan teknikfotografi diterapkan untuk mewujudkan karya ekspresi fotografi seni dengan objek Rangda. The Expression of Art Photography with “Rangda” as the Object. In the work of artphotography, there are so many things used as the object for the artwork, with some aestheticvalues, one of those things is Rangda. Art photography with Rangda as it’s object is a conceptto create the creative idea of Rangda to be kind of a real thing with an art photography as themedia. Rangda, in the daily life of Balinese people, is a sacred thing (mask), but when it isseen as an artwork source, in fact it has a great potential, especially in the art photography.The empiric experience of those are gained from the exploration and observation transformedby the imagination object and then developed by a digital imaging. The knowledge of theaesthetic of how to arrange the object elements, with comprehension and skill of photographytechnic the will be used to create the expression of art photography artwork with Rangda asit object.
Supers Sebagai Media Persuasi dalam Iklan Layanan Masyarakat “Untuk Bumi yang Lebih Hijau” Nissa Fijriani
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 2 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i2.3253

Abstract

AbstrakPenumpukan sampah di seluruh penjuru dunia makin mengkhawatirkan dan berdampakburuk dalam kehidupan manusia. Iklan Layanan Masyarakat (ILM) tentang lingkungan yangmemberikan solusi sederhana dapat dilakukan untuk menyelamatkan lingkungan dibutuhkanoleh masyarakat. Supers atau teks yang muncul pada frame merupakan kekuatan. Hal inikemudian dimanfaatkan dengan memunculkan kalimat-kalimat persuasi untuk ditampilkandalam ILM “Untuk Bumi yang Lebih Hijau”. Pengaplikasian supers dalam ILM ini selainsebagai media persuasi ternyata juga berperan sebagai pendukung visualisasi. Supers as the Medium of Persuassive on a Public Service Announcement “For a GreenerEarth”. Stacking garbages in all over the world are increasingly worrying and have negativeimpact on human life. Public Service Announcements (PSAs) on the environment provides asimple solution that can be done to save the environment needed by the community. Supers ortext that appears on the frame is a power. This is then used to bring the words of persuasion tobe displayed in the PSA “For a Greener Earth “. The Application of supers in this PSA than
Ironi Setting Lokalitas dalam Film Komedi Jagad X Code: Kajian Sosiologi Pierre Bourdieu Anjar Widyarosadi
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 10, No 2 (2014): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v10i2.3252

Abstract

AbstrakFilm komedi yang cenderung untuk sekadar memenuhi selera pasar dengan ramuan seks,mistik, kekerasan, dan roman percintaan picisan pada kenyataannya bukan menjadi sebuahkonvensi yang baku untuk film bergenre komedi. Ada juga film-film bergenre komedi yangdibuat dengan idealisme berbeda, termasuk dengan muatan ranah lokal/setting lokalitas yangmengangkat persoalan sosial, seperti masyarakat pinggiran dan masyarakat kota. Masyarakatpinggiran yang selama ini umum dikanal dengan kehidupan yang keras, premanisme, kumuh,“kampungan”, gagap teknologi, dalam film JAGAD X CODE ditampilkan berkebalikandengan pandangan umum tersebut. Terdapat ironi setting antara yang ditampilkan dengananggapan umum masyarakat. Ironi setting lokalitas yang terdapat dalam film komediJAGAD X CODE melibatkan hubungan antara hal-hal yang saling bertolak-belakang sertamengejutkan antara yang dipikirkan penonton dengan realita kehidupan yang didigambarkansecara dramatik dan sinematik. Bourdieu melalui konsep habitus, menunjukkan bahwa realitassosial berupaya memahami dan menganalisis kesenjangan sosial-budaya, ekonomi, dan politikyang ada di masyarakat. Terjadi represi dan kekerasan simbolik yang dilakukan oleh rezimatau kelompok yang berkuasa terhadap masyarakat kelas bawah, yang terpinggirkan dalamproses “pembangunan.” Dengan demikian, kelompok yang dominan pada hakikatnya terusmereproduksi struktur yang menguntungkan posisinya tersebut. Permasalahan yang dikajiadalah apakah makna ironi setting lokalitas dalam film JAGAD X CODE? Apakah hubunganantara ironi setting lokalitas dalam film JAGAD X CODE dengan nilai-nilai lokalitas?Bagaimana konsep habitus Bourdieu berperan dalam naratif film JAGAD X CODE? Kajianini mengidentifikasi bahwa di tengah gegap industri budaya film komedi, berbau seks, mistis,kekerasan, dan roman percintaan picisan, terdapat film komedi yang disajikan dengan nuansayang berbeda dan lebih menyoroti kehidupan masyarakat. Ironi setting dan teori habitusBourdieu berperan membebaskan masyarakat pinggiran kota dari “kediktaktoran” pandanganumum dan menyuarakan kritik atas masyarakat pada umumnya yang cenderung habitusdengan struktur yang telah mengikat secara kultur dan menguasai manusia itu sendiri. The Irony of Locality Setting in Comedy Film “Jagad X-Code: A Pierre Bourdieu SociologyStudy. Comedy that tends to just meet the tastes of the market with potions, there are: sex,mysticism, violence, and romance novels in fact there has not standard convention for moviecomedy. There is also comedy films are made with different ideals, including with local wisdom/locality setting that raised social issues, such as rural communities and urban communities.X-CODE JAGAD is a film which shown in contrast about that common sense. Ruralcommunities that have common known by the hard life, thuggery, seedy, “tacky”, stutteringtechnology, but in that film there is not. There is irony about the settings with the general notionof society. The irony of locality setting contained in JAGAD X CODE involves the relationshipbetween things that are exclusive mutually and surprising the audience thought the realityof life which dramatic and cinematic described. Bourdieu, through the concept of habitus, economics and politics of society. Occurs repression and symbolic violence committed by theregime or the ruling group of lower classes, marginalized in the “development” process. Thus,the dominant is continue reproducing the favorable position structure. The problem studied iswhether the meaning of irony of locality setting on JAGAD X CODE? What is the relationshipbetween irony of locality setting on JAGAD X CODE with values locality? How Bourdieu’sconcept of habitus role in the narrative of JAGAD X CODE? This study identified that in themiddle of the culture industry of comedy: sexist, mystical, violence, and pulp romance novels,there are presented with different shades and further highlights the life of the community.Irony of setting and Bourdieu’s theory about “habitus” suburban community liberating role ofcommon sense about “dictatorship” and criticism of society in general tend with a structurethat has binding and control of human culture itself.

Page 1 of 1 | Total Record : 6