cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2015): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi" : 6 Documents clear
Auto Lip-Sync Pada Karakter Virtual 3 Dimensi Menggunakan Blendshape Matahari Bhakti Nendya; Syahri Mu’min
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 11, No 2 (2015): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v11i2.1299

Abstract

Proses pembuatan karakter virtual 3D yang dapat berbicara seperti manusia merupakan tantangan tersendiri bagi animator. Problematika yang muncul adalah dibutuhkan waktu lama dalam proses pengerjaan serta kompleksitas dari berbagai macam fonem penyusun kalimat. Teknik auto lip-sync digunakan untuk melakukan pembentukan karakter virtual 3D yang dapat berbicara seperti manusia pada umumnya. Preston blair phoneme series dijadikan acuan sebagai pembentukan viseme dalam karakter. Proses pemecahan fonem dan sinkronisasi audio dalam software 3D menjadi tahapan akhir dalam proses pembentukan auto lip-sync dalam karakter virtual 3D. Auto Lip-Sync on 3D Virtual Character Using Blendshape. Process of making a 3D virtual character who can speak like humans is a challenge for the animators. The problem that arise is that it takes a long time in the process as well as the complexity of the various phonemes making up sentences. Auto lip-sync technique is used to make the formation of a 3D virtual character who can speak like humans in general. Preston Blair phoneme series used as the reference in forming viseme in character. The phonemes solving process and audio synchronization in 3D software becomes the final stage in the process of auto lip-sync in a 3D virtual character.
Teknik Cetak Foto Chlorophyll Print Cyrilus Uky Basuki
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 11, No 2 (2015): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v11i2.1294

Abstract

Sejarah mengatakan Thomas Wedgewood memulai kegiatan merekam objek pada sebuah media dua dimensi semenjak tahun 1800-an. Kegiatan merekam ini terus berulang hingga perkembangannya memengaruhi banyak aspek dalam dunia fotografi. Teknologi fotografi era digital memang menawarkan kemudahan dan kenyamanan penggunanya. Proses cetak fotografi pada era digital memungkinkan sebuah foto dicetak di banyak ragam material, seperti kaca, kain, dan kayu. Artinya teknik cetak cukup mengundang daya tarik karena memiliki nilai-nilai visual, seperti bentuk, kontras, dan tekstur. Seniman fotografi berusaha mewujudkan imaji penciptaan karya seninya melalui pertimbangan ide kreatif dan pencapaian estetis. Penggabungan teknikal dengan memanfaatkan pengolahan komputer dan pengolahan analog saat ini cukup diidolakan untuk menampilkan ciri khas seorang fotografer, seperti teknik chlorophyll print yang mengandalkan daun serta proses penyinaran untuk pembentukan image dari proses fotosintesis.Photo Print Technique the Chlorophyll Print. In 1800 Thomas Wedgwood began to capture the object on a two dimensional media with photographic materials. This repetitive activity affects many aspects of photography. As in the era of digital photography offers many facilities, convenience, and comfort for the user. Photo printing process in the digital age allows a photograph printed in a wide variety of materials, such as glass, fabric, and wood. It means printing technique is quite inviting appeal because it has a visual values, such as shape, contrast and texture. Many photographic artists try to create an image by considering the creation of creative ideas and aesthetics. Utilizing computer processing and analog processing is the idea of chlorophyll printing technique to form an image by photosynthesis process.
Sejarah Singkat Studio Fotografi Potret di Yogyakarta 1945-1975: Sumber Daya Manusia, Teknologi, dan Kreasi Artistiknya Irwandi Irwandi; G.R. Lono Lastoro Simatupang; Soeprapto Soedjono
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 11, No 2 (2015): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v11i2.1298

Abstract

Penulisan sejarah fotografi di Indonesia pascakemerdekaan boleh dikatakan masih belum banyak dilakukan. Catatan sejarah yang ada lebih mengarah pada perjalanan fotografi dalam merekam momen pra dan pascakemerdekaan, yang sebagian besar bersumber pada foto-foto dokumen milik IPPHOS (Indonesian Press Photo Service). Ini berarti, masih dibutuhkan penelusuran lebih lanjut guna merekonstruksi sejarah fotografi Indonesia dalam bidang yang lain, studio misalnya. Tulisan ini membahas perkembangan studio foto di Yogyakarta pascakemerdekaan. Hal yang dijadikan fokus utama ialah sumber daya manusia, teknologi, dan upaya-upaya artistik yang dilakukan dalam praktik studio foto masa itu. Penelusuran sejarah dilakukan dengan metode wawancara kepada pemilik studio, praktisi fotografi yang merupakan pelaku dan saksi sejarah studio fotografi pascakemerdekaan. Observasi juga dilakukan guna mengetahui lebih detail tentang upaya-kreatif yang dilakukan pihak studio foto dalam mewujudkan karyanya. Dapat disimpulkan bahwa aspek teknologi memberi pengaruh besar dalam proses perwujudan karya foto studio. Dapat terlihat bagaimana para pelaku usaha studio foto mengatasi keterbatasan teknologi.A Brief History of Portrait Photography Studio in Yogyakarta 1945-1975: Human Resources, Technology and Artistic It’s Creation.Writing the history of photography in the post-independence Indonesia arguably still not been done. The historical record that there are more leads on a photography trip in the pre and post-independence record the moments, which are largely sourced on the photographs of documents belonging IPPHOS (Indonesian Press Photo Service). This means, still needed further investigation in order to reconstruct the history of photography Indonesia in other fields, for example studio. This paper discusses the development of a photo studio in Yogyakarta post-independence. It is used as the primary focus is human resources, technology, and the efforts made in the artistic practices of the past photo studio. Search history conducted by interview to the owner of the studio, photography practitioner who is the perpetrator and witnesses photography studio post-independence history. Observations were also conducted to determine more details about the creative efforts that made the photo studio in realizing his work. It can be concluded that the technological aspects of great influence in the process embodiment studio photographs. It is noticeable how the photo studio business operators overcome the limitations of technology.
Analisis Naratif: Kemiskinan dalam Program Reality TV “Pemberian Misterius” di Stasiun SCTV Lilik Kustanto
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 11, No 2 (2015): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v11i2.1297

Abstract

Reality TV merupakan sebuah program televisi yang menggambarkan sebuah peristiwa realita atau peristiwa nyata. Namun, program tersebut mengalami perkembangan dengan menampilkan kejadian yang nyata dan dibuat sehingga disebut program hibriditas. Sebagai sebuah program yang menggambarkan kejadian tentunya reality TV memiliki aspek narasi di dalamnya. Salah satunya adalah program reality TV “Pemberian Misterius” yang menarasikan tentang memberi pertolongan dengan memberi hadiah kepada orang lain yang memenuhi kriteria yang ditetapkan. Namun, narasi yang ceritakan tersebut sebenarnya memiliki makna lain sebagai sebuah representasi kemiskinan yang secara implisit tidak terbaca oleh penonton. Analisis naratif merupakan metode mengkaji narasi yang dapat membantu kita untuk memahami, mengevaluasi dan memaknai struktur narasi. Oleh sebab itu program reality TV “Pemberian Misterius” akan dianalisis menggunakan analisis naratif untuk melihat makna sebenarnya, yaitu representasi kemiskinan dalam program reality TV “Pemberian Misterius”. Poverty in Reality TV Programme “Mysterious Gift” on SCTV Television Channel. Reality TV is a television program which depicts a realistic event or real event. However, the program evolves and depicts real (unscripted) and manufactured events (scripted), so that it’s called hybrid program. As a program which depicts events, reality TV contains narration aspect. One of them is reality TV program called “Pemberian Misterius” which narrates the aids delivery by giving gifts to others who meet established criteria. However, the narration contains another meaning which is as an implicit representation of poverty the audience isn’t aware of. Narrative analysis is the method of reviewing narration which can help us to understand, evaluate and interpret narration. Therefore, “Pemberian Misterius” reality TV program was analyzed using narrative analysis to discover its meaning, which is representation of poverty in “Pemberian Misterius” reality TV program.
Estetika Fotografi Jurnalistik dalam Kaitan Nilai Kebaikan Dan Kebenaran, Olah Rasa, dan Sinestesia Novan Jemmi Andrea
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 11, No 2 (2015): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v11i2.1296

Abstract

Fotografi jurnalistik  menjadi salah satu cabang dari pengelompokan besar di bidang fotografi, selain fotografi seni dan fotografi komersial. Sebagai salah satu bidang seni, fotografi jurnalistik tentunya memiliki konsep estetika tersendiri, bahkan konsep estetikanya sangat berkaitan dengan “rasa”, sebuah konsep abstrak mengenai proses peresapan sesuatu dalam diri manusia yang bahkan tidak dapat sepenuhnya dideskripsikan. Pemahaman konsep estetika merupakan proses dialektis berkaitan dengan persoalan lain seperti filsafat, sosial, politik, budaya, dan ekonomi sehingga nilai-nilai kebaikan dan kebenaran sering muncul dalam ragam diskusi estetika. Perkembangan pendekatan konsep proses penciptaan yang melibatkan penonton dan berupaya menyajikan berbagai rangsangan bagi pancaindera menuntut kemampuan dalam olah rasa lainnya, yaitu mengoneksikan pancaindera. Konsep yang berkaitan dengan hal tersebut dikenal dengan istilah synaesthesia (sinestesia), sebuah konsep di mana pancaindera bekerja bersama sekaligus saat merespons sebuah rangsangan sehingga akan menimbulkan sensasi yang melebihi ungkapan satu pancaindera saja. Pemahaman estetika dengan berbagai pendekatan tersebut merupakan proses apresiasi aktif yang bertujuan untuk mengungkap kemungkinan-kemungkinan pewacanaan baru dalam perkembangan fotografi jurnalistik. Photojournalism Aesthetic in Regards to the Value of Goodness and Truth, Feeling , and Synaesthesia. Photojournalism becomes one of the branches of a large group in the field of photography in addition to art photography and commercial photography. Great photojournalism is a strange sort of art. Photojournalism allows people to get close to events on the ground, so that people may better understand them as they unfold. This is an abstract concept about the impregnation which cannot be fully described. Understanding the concept of aesthetics is a dialectical process associated with other problems such as philosophy, social, political, cultural, and economic so that the values of goodness and truth often comes in a variety of aesthetic discussion. Developments in the approach to the concept and creation process that involves the audience and trying to present a wide range of stimuli for the senses require proficiency in another sense though, that connected the all senses. Concepts related to the case known as synaesthesia, a neurological phenomenon in which one or more sensory modalities are linked. Aesthetic understanding of the various approaches is an active appreciation process that aims to uncover the possibilities of a new discourse on development of photojournalism.
“Aku Yang Galau”: Refleksi Film Masa Kolonial Hingga Awal Kemerdekaan Sazkia Noor Anggraini
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 11, No 2 (2015): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v11i2.1295

Abstract

Film tidak hanya mewujudkan image (citraan) tetapi juga imaji (baca: imajinasi) tentang realitas masyarakatnya. Tulisan ini melihat film sebagai teks yang strategis dalam pergolakan dan kegalauan masyarakat pada masa kolonial, lalu pada era kebangkitan nasional hingga awal kemerdekaan. Film-film seperti Terang Boelan, Dasima, hingga Rentjong Atjeh yang dibuat sebelum kemerdekaan, telah menunjukkan antitesis kolonialisme. Film-film tersebut memang muncul ketika negeri ini masih dijajah, namun formula, bentuk, dan penyajiannya dapat dilihat telah berdikari –meski tidak sepenuhnya—dengan memasukkan unsur hibriditas yang disukai masyarakat. Daya tarik dari film pada masa kebangkitan nasional adalah masuknya selera pribumi dalam film yang pada saat itu ditujukan kepada pangsa pasar Eropa. Musik, pakaian, gaya hidup, dan respons dari film ini bukanlah suatu entitas tunggal. Seperti halnya masyarakat yang dilanda “kegalauan identitas” sebelum negeri ini benar-benar merdeka. Film pada masa tersebut menjadi subordinat dari selera masyarakat yang sebelumnya terikat struktur sosial karena pengaruh kolonialisme. Sementara itu, film yang muncul pada masa awal kemerdekaan seperti Harimau Tjampa, Lagi-Lagi Krisis, dan Tamu Agung menunjukkan ekspresi nasionalisme yang besar dengan tetap memasukkan unsur tradisi. Meski telah merdeka, film pada awal masa kemerdekaan ini menemui tantangan lain, yakni dominasi negara di satu sisi dan sikap masyarakat kelas bawah di sisi lain. Maka corak khas dari film-film pada masa itu pun terlihat menggambarkan kegalauan masyarakat yang baru saja merdeka dan sedang mencari identitas.The One Who’s Mixed up”: Reflections of Film from the Colonial Era to the Beginning of Independence. Film was not only creates images but also imagination by pictures of social reality. This article sees film as strategic text in society upheaval and mixed up during colonial era, continued to (kebangkitan nasional) national resurgence era until early independence. Films as Terang Boelan, Dasima, to Rentjong Atjeh which made before independence have been showing colonialism antitheses. This country was on colonized when that film shows, but the formula, form and presentation could be seen independent –tough not entirely— with popular hybrid elements input. Uniquely, films on national resurgence era attracts by local native taste which presented to European viewers. Music, clothes, lifestyle and response of those films was not a single entity, as though the society who has mixed up identity before getting independency. Films on that era are the subordinate of society taste which is before tied to colonial social structure. Meanwhile, early independence films such as Harimau Tjampa, Lagi-Lagi Krisis and Tamu Agung shows strong national expression by still using traditional element. Even after independence, early independence films met another challenge which is state domination and in another hand, the attitude of lower class. So the characteristic of films from colonial to the beginning of independence was representing societies mixed-up who were looking for identity.

Page 1 of 1 | Total Record : 6