cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2016): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi" : 6 Documents clear
Colour Splash untuk Model Perempuan dalam Fotografi Ekspresi Sigit Setya Kusuma
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 12, No 1 (2016): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v12i1.1383

Abstract

AbstrakPenciptaan karya fotografi ini berjudul “Colour Splash untuk Model Perempuan dalam Fotografi Ekspresi”. Tujuan penciptaan karya fotografi ini untuk: (1) mendeskripsikan visualisasi respons colour splash dengan percikan air dan ledakan holi powder untuk objek model perempuan dalam karya fotografi ekspresi; (2) menjelaskan faktor yang mendukung sehingga karya colour splash dan objek perempuan menarik jika divisualisasikan menjadi karya fotografi ekspresi; dan (3) menjelaskan alasan colour splash dengan percikan air dan ledakan holi powder untuk objek  perempuan menjadi daya tarik apabila dijadikan karya fotografi ekspresi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, dengan cara pengumpulan data, yaitu mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu objek dalam suatu periode tertentu dan dengan merekam hal-hal tertentu yang diamati. Metode ini dilakukan dengan menjabarkan apa yang ingin disampaikan disertai dengan eksplorasi dan eksperimen terhadap objek, lokasi, alat, dan teknik yang akan dipakai dalam fotografi colour splash. Hasil dari penciptaan karya fotografi ini adalah penulis secara detail menjadi tahu tentang proses kreatif penciptaan karya fotografi seni. Bahwa ledakan warna dan percikan air yang berwarna bisa didukung oleh objek perempuan yang mampu menghasilkan foto yang bernilai artistik sekaligus menjadi pengalaman seni yang baru. AbstractColor Splash for Female Models in Fine Art Photography. This creation of photography is entitled “Color Splash for Female Models in Fine Art Photography”.  The aims of this creation are (1) describing visual response towards color splash with water splash and holi powder explosion on the female models in the context of fine art photography;  (2) explaining supportive factors which are able to make the female objects and the color splash look interesting visually in fine art photography; and (3) explaining the reasons why color splash with water splash and holi powder on the female objects become attractive in fine art photography. The method used in this research was the observatory method by means of collecting data, which were conducting direct observation of an object in a certain period of time and recording them. This method was conducted by describing everything which was needed to be delivered along with the exploration and experiment towards the objects, location, tools, and techniques used in color splash photography. This study resulting a deep knowledge of the creative process in fine art photography creation, that the color explosion and the colorful water splash could support the female photographic objects in order to create artistic photographs and whole new artistic experience.
Kode Etik Jurnalisme di Indonesia dan Inggris Raya Astrid Puspita Sari
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 12, No 1 (2016): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v12i1.1382

Abstract

AbstrakEtika bukan hanya soal kode etik atau aturan yang harus diikuti. Hal ini lebih terkait dengan prinsip-prinsip tentang yang benar dan yang salah dari perilaku manusia yang berlaku obyektif dan tidak memihak. Praktek jurnalisme sebagai suatu profesi menimbulkan permasalahan etika. Tulisan ini bermaksud membandingkan kode etik praktek jurnalistik yang dilakukan wartawan Inggris Raya dan Indonesia serta membahas beberapa contoh malpraktek etika kerja jurnalistik. Walaupun di kedua negara tersebut menjunjung kebebasan pers dan kebebasan informasi. Di Inggris sendiri media lebih dibatasi oleh hukum dan kode etik tertentu secara spesifik. Sedangkan di Indonesia, media tetap dibatasi oleh hukum tapi tidak secara spesifik meskipun kode etik jurnalistik juga digunakan sebagai salah satu aturan yang ada. Tulisan ini menyajikan perbedaan dalam hal etika jurnalistik yang digunakan oleh wartawan dari kedua negara tersebut. AbstractJournalism Code of Ethics in Indonesia and United Kingdom. Ethics is not just a matter of codes of conducts or rules to be followed. It is more related to principles concerning the rights and wrongs of human conduct applied objectively and impartially. The practice of journalism as a profession raises many ethical issues. This essay compares the journalist’s practice code of ethics between United Kingdom and Indonesia and also discusses some examples of malpractices ethics of journalistic work. In Britain, the media are more restricted by specific law and codes of conducts. Whereas, in Indonesia, the media are restricted by law but not in specific areas even though also using the journalistic codes of conducts as one of the rules. However, both countries they have the idea of free press and freedom of information. This essay presents those differences in terms of ethics that is being used by the journalist from both countries.
Mencitrakan Sang Kandidat: Si “Tukang Foto” Iklan Politik Dewi Sartika Bukit
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 12, No 1 (2016): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v12i1.1381

Abstract

Abstrak Perkembangan fotografi komersial di Indonesia akhir-akhir ini telah memasuki ranah politik, terutama sejak diberlakukannya sistem demokrasi langsung. Masyarakat menentukan pilihan mereka melalui pendekatan para kandidat dan calon, baik berupa kampanye maupun melalui iklan-iklan politik yang hadir di media massa, maupun berupa cetak billboard dan selebaran. Dalam iklan-iklan politik, terutama ikan luar ruang, kandidat yang dianalogikan sebagai produk, dipotret dan dikemas dalam sebuah desain iklan yang membawa pesan-pesan penting berupa pencitaan dan direduksi dalam sebuah gambar. Dengan demikian, fungsi fotografer iklan baik secara teknis maupun ide memberi pengaruh yang besar terhadap pencitraan kandidat, yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap jalannya negara selanjutnya setelah kandidat tersebut melaju ke urusan birokrasi negara. Di samping itu, permasalahan ekonomi yang berbanding lurus dengan pencitraan kandidat dalam iklan-iklan politik, ternyata menyimpan kemelut yang kompleks. AbstractImaging the Candidate : the “Photographer” of Politic Ads. Lately, the development of commercial photography in Indonesia has entered the realm of politics, especially since the system of direct democracy has been enacted. Communities determine their choice through the candidates and prospective nominees, either through campaigns or political advertisements presented in mass media, as well as on billboards and flyers printed form. In political ads, especially the outdoor ads, the candidate analogized as product, were photographed and packaged in advertisement design carrying important messages in the form of imagery and reduced in an image. Thus, the function of advertising photographers, both technically and in ideas, giving major influences on imaging the candidate, which indirectly affect the course of the country once the candidate proceeds to the affairs of the state bureaucracy. In addition, the economic problems which unfortunately are in direct proportion to the imaging candidate in the politics ads, turn out keeping a complex crisis.
Determinisme Teknologi Komunikasi dan Globalisasi Media Terhadap Seni Budaya Indonesia Sigit Surahman
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 12, No 1 (2016): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v12i1.1385

Abstract

AbstrakPenelitian ini berfokus pada pengaruh terpaan teknologi komunikasi dan globalisasi media terhadap seni budaya Indonesia. Determinasi teknologi komunikasi atau terpaan teknologi komunikasi hadir di tengah-tengah masyarakat dan memengaruhi cara pandang dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi komunikasi dan media merupakan dwitunggal yang tidak dapat dipisahkan karena keduanya hadir saling melengkapi. Perkembangan media ini semakin pesat dan canggih seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi saat ini. Terpaan teknologi dan media ini memengaruhi seni budaya dan perilaku masyarakat atau bangsa Indonesia. Analisis deskriptif kualitatif merupakan metode pengkajian yang digunakan dengan tujuan mengungkap fakta, keadaan, fenomena, variabel, dan keadaan yang terjadi saat penelitian berjalan dan menyuguhkan apa adanya. Variabel dalam penelitian ini adalah teknologi komunikasi, globalisasi media, dan seni budaya Indonesia. Dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif pengkajian ini akan mengungkap pengaruh terpaan teknologi dan globalisasi media terhadap seni budaya Indonesia. AbstractThe Determinism of Communication Technology and Media Globalization Towards Arts and Indonesian Culture. This study focuses on the effect of the exposure of media communications technology and the globalization of the art and culture in Indonesia. Determination of communications technology or the exposure of communications technology present in the midst of society and influence the worldview and human behavior in everyday life. Communication technology and media are a duumvire that cannot be separated, both present complementary. The increasingly rapid development of media and its advancement are along with the development of communication technology. The exposure of media and technology affects art and culture as well as the behavior of people or the Indonesian. Qualitative descriptive analysis is the method of assessment used to uncover the facts, phenomena, variables and circumstances that occurred while running the research and presenting it as what it is. The variables in this study are technology, media globalization, and Indonesian arts and culture. By using qualitative descriptive analysis, this study will reveal the influence of technology and media globalization exposure to the art and culture of Indonesia .
Rekonstruksi Identitas Ke-“Tionghoa”-an dalam Film Indie Pasca-Suharto Umilia Rokhani; Aprinus Salam; Ida Rochani-Adi
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 12, No 1 (2016): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v12i1.1380

Abstract

AbstrakKe-“tionghoa”-an  senantiasa menjadi hal yang dipermasalahkan di Indonesia. Hal ini mengacu pada identitas ke-“tionghoa”-an yang selalu  diformulasikan oleh masyarakat Indonesia, baik oleh masyarakat Tionghoa  itu sendiri maupun masyarakat non-Tionghoa. Upaya formulasi tersebut dimunculkan melalui berbagai wacana yang muncul baik perdebatan publik maupun berbagai karya mengenai kehidupan masyarakat Tionghoa di Indonesia seperti dalam film. Metode yang dipakai mempergunakan pendekatan konstruktivisme sosial. Dalam hal ini, makna-makna subjektif dikaji atas pengalaman-pengalaman kehidupan masyarakat Tionghoa di Indonesia melalui representasi film indie. Representasi tersebut dikaji tidak hanya melalui  makna karya semata, tetapi juga mempertimbangkan unsur sejarah sebagai salah satu penentu alat produksi dan reproduksi. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar diperoleh gambaran latar belakang yang kompleks mengenai kondisi historikal dan kultural kehidupan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Gambaran yang kompleks tersebut akan membantu dalam menafsirkan makna-makna yang terkandung dalam karya film indie sebagai suatu hasil produksi dan reproduksi dari gambaran kehidupan masyarakat Tionghoa sebenarnya. Identitas masyarakat Tionghoa di Indonesia terbentuk baik dari pandangan eksternal maupun internal, sudut pandang formal maupun informal. Sudut pandang eksternal dilihat dari sisi luar masyarakat Tionghoa, sedangkan sudut pandang internal merupakan sudut pandang masyarakat Tionghoa membentuk jati dirinya sendiri. Identitas yang dibentuk secara formal terkait dengan peraturan perundangan yang diberlakukan di Indonesia sedangkan secara informal merupakan identitas yang dikembangkan melalui kolaborasi budaya bersifat mana suka (arbitrerness) yang pada akhirnya membentuk identitas baru yang tumbuh dari konteks ruang-antara masyarakat Tionghoa di Indonesia. Abstract The Reconstruction of Tionghoaness Identity in Indonesian Indie Movies in the Era of Post-Suharto. ‘Being a Chinese’ has always been an issue in Indonesia. It refers to the identities of ‘being a Chinese’ that were formulated by Indonesian people, both by the half-Chinese Indonesians and non half-Chinese Indonesians. The efforts in formulating those identities were mediated by various discourses found in public debates and works of arts represented the Chinese society life in Indonesia, such as in films. In this research, the social constructivism approach was applied. The experiences in life traversed by the Chinese society in Indonesia depicted in indie movies were studied to get the subjective meanings. The representations were not scrutinized merely from the meaning, but also by considering the historical aspects as, among others, the determinant factor of the means of production and reproduction. It was carried out to get the full picture of complicated background about the historical and cultural conditions of the Chinese people in Indonesia. The complicated depiction will be very beneficial in interpreting the meanings of the indie movies as a result of production and reproduction of the real life experienced by the Chinese society. The identity of Chinese people in Indonesia was shaped by the internal and external perspectives, by the formal and non formal point of views. The external point of view was the one given by the non Chinese people, whereas the internal was how the Chinese view themselves. The formally built identity was related to the laws applied in Indonesia. Arbitrary cultural collaborations informally developed the new Chinese identity that grew from the spatial contexts between the Chinese people in Indonesia. 
Kamera Sebagai Alat Operasi Male Gaze: Analisis Male Gaze dalam Film Horor “Pacar Hantu Perawan” Diyah Ayu Karunianingsih
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 12, No 1 (2016): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v12i1.1384

Abstract

Abstrak Kehadiran perempuan dalam sebuah film horor dapat dilihat dari bagaimana perempuan direpresentasikan dan diposisikan. Film yang dianalisis adalah film horor berjudul Pacar Hantu Perawan. Menurut Lauretis teknik sinematik mengonstruksi perempuan sebagai objek hasrat pandangan bagi penonton dengan menggarisbawahi representasi tubuh perempuan sebagai sisi utama seksualitas dan kesenangan visual. Dalam tulisan ini dianalisis teknik sinematik terutama kamera dengan berbagai pilihan tipe pengambilan gambar (type of shot) yang digunakan. Analisis juga dilakukan terhadap teknik pencahayaan (lighting) dan pilihan kostum. Dari hasil analisis diketahui bahwa teknik sinematik baik teknik pengambilan gambar (type of shot) maupun pencahayaan digunakan untuk melancarkan hasrat memandang laki-laki (male gaze)  dan mengeksploitasi tubuh perempuan demi kesenangan visual. Kamera digunakan sebagai alat beroperasinya hasrat memandang (voyerist gaze).  Perempuan diposisikan sebagai objek bagi pandangan laki-laki yang patuh terhadap tatapan mata kamera (tatapan mata laki-laki). Teknik sinematik mengonstuksi perempuan sebagai objek hasrat pandangan bagi orang-orang di balik produksi dan penonton.Kata kunci: male gaze, teknik sinematik, perempuan, objek seksualitas  AbstractCamera as a Tool of Male Gaze Operations: The Analysis of Male Gaze in Horror Film “Pacar Hantu Perawan”. The presence of women in a horror movie can be seen from how women are represented and positioned. The title of The film being analyzed is ‘Pacar Hantu Perawan’. According to Lauretis, cinematic technique is used to construct women as an object of eyeing desire for the audience by highlighting the representation of the female body as the primary side of sexuality and visual pleasure. In this paper the cinematic techniques were analyzed, especially the camera with its various types of shooting.  Analyses were also conducted on the technique of lightings and costume selection. The result of the analyses shows that the cinematic techniques, either the types of shots or the lightings were used to expedite the male gaze and exploit the female body for the sake of visual pleasure. The camera is used as an operating means of eyeing desire (voyeur gaze). Women were positioned as the objects of the male gaze adherent to the gaze of the camera (male gaze). Cinematic techniques constructed women as objects of male gaze for the people behind the production as well as the audience.Keywords:

Page 1 of 1 | Total Record : 6