cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2017): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi" : 6 Documents clear
“Wonder If I Gave an Oreo” : Analisis Etnolinguistik Terhadap Iklan Televisi Nanik Rianandita Sari
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 13, No 2 (2017): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1938

Abstract

Iklan merupakan salah satu alat promosi yang digunakan untuk komunikasi dengan penonton yang yang dapat dilakukan melalui surat kabar, majalah, internet, radio dan atau  televisi. Menggunakan iklan, sebuah produk mencoba untuk membuat tanda kepada penonton untuk meyakinkan mereka benar-benar memahami pesan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa bagaimana bahasa yang terdapat dalam lirik yang ada pada iklan Oreo: “Wonder if I gave an Oreo”  di televisi. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis Etnolinguistik. Pendekatan Etnolinguistik Humboldt digunakan oleh peneliti untuk mengungkap bahasa terhadap pandangan iklan tersebut. Data sekunder yang digunakan, juga didukung oleh studi literatur, untuk melakukan analisis mendalam dari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan makna dari iklan yang digunakan berdasarkan cara pandang Oreo. Advertisement is one of promotional tools used to communicate with its audience which can be done through newspaper, magazine, internet, radio, and/or television. Using advertisement, the product tries to create signs in the message to the audience to make sure they really understand the message. The objective of the study is to analyze how the languages are created in the lyrics on Oreo: “Wonder if I gave an Oreo” TV advertisement. The metodology is qualitative research using Ethnolinguistic analysis. Humboldt Ethnolinguistic approach is applied to explore the language based on the advertisement’s view. Secondary data were used, also supported by study literature, to conduct a deep analysis of this study. The research finding shows meaning were used to deliver the message of Oreo.
Perubahan Karakter Rangga Sebagai Salah Satu Bentuk Proses Kreatif Mira Lesmana Dalam Film Ada Apa dengan Cinta 2 (2016) Sugeng Nugroho; Danissa Dyah Oktaviani
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 13, No 2 (2017): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1937

Abstract

Mira Lesmana, produser terkemuka Indonesia, membuat gebrakan dengan meliris dan menulis sendiri cerita film Ada Apa dengan Cinta 2. Kekuatan film ini tidak semata-mata bersandar dari sekuel sebelumnya, namun juga dikemas dengan aliran cerita yang menarik. Alur menggantung pada sekuel sebelumnya merupakan peluang besar untuk mengembangkan kreatifitas. Bentuk kreativitas Mira Lesmana dalam menulis cerita film ini adalah untuk mengubah karakter utama, Rangga. Karakter Rangga sengaja dibuat berbeda didasari tokoh Cinta. Perubahan karakter Rangga terjadi pada awal dan akhir cerita. Perubahan karakter Rangga dapat dilihat dari ekspresi, dialog dan tanggapan dari orang lain mengetahui sehingga dapat diketahui perubahan karakter dasar (karakter tokoh 3D) adalah fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Perubahan karakter Rangga dapat diketahui melalui pendekatan psikologi yang didalamnya memuat karakterisasi tokoh, kostelasi tokoh, dan konsepsi tokoh. Melalui pendekatan tersebut akan nampak struktur, dinamika, dan perkembangan tokoh Rangga sehingga dapat diketahui perubahan karakter Rangga yang berdampak pada kehidupannya dalam film ini. Mira Lesmana, Indonesia's leading producer, made a breakthrough by writing  story itself and released the film “What’s Up with Love? 2”. The strength of the film is not simply leaning on the previous sequel, but also packed with interesting stories flow. Flow hang on previous sequel is a great opportunity to develop creativity. Mira Lesmana form of creativity in the writing of this movie is to change the main character, Rangga. Characters of  Rangga deliberately made different based on the character of Cinta. Rangga character changes occur at the beginning and end of the story. Character of Rangga change can be seen from the expression, dialogue and feedback from others to know that it can be seen changes in the basic character (characters 3D) is a physiological, sociological, and psychological. Rangga character change can be known through the psychological approach which includes the characterization of the figures, kostelasi character, and character conception. Through this approach would seem the structure, dynamics and character development that can be known Rangga character changes that have an impact on life in this film.
Pendidikan Seni Film dan Televisi Menjadi Penggerak Industri Ekonomi Kreatif Alexandri Luthfi
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 13, No 2 (2017): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1933

Abstract

Globalisasi, sebagai suatu proses integrasi internasional, terjadi karena pertukaran pandangan dunia dalam berbagai sektor. Di Indonesia gelombang globalisasi sudah bergerak lebih dari 25 tahun. Tumbuh dan berkembangnya memberikan pengaruh terhadap berbagai sisi kehidupan bangsa dengan semua  atribut budayanya. Di bidang pendidikan, globalisasi memiliki dampak yang cukup besar bagi perubahan pada sistem atau model pembelajaran dan kurikulum yang diajarkan. Era industri kreatif yang digulirkan oleh pemerintah melalui Menteri Perdagangan RI waktu itu masih dijabat oleh Dr. Mari Elka Pangestu, telah  memberikan peluang seluas-luasnya bagi pendidikan tinggi seni agar dapat berfungsi sebagai salah satu pilar bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia.Indonesia sudah memiliki kantong-kantong institusi dan perusahaan yang dapat menjadi mitra bagi para lulusan pendidikan seni. Para talenta yang kreatif dan terampil lulusan pendidikan seni adalah sumber daya manusia yang diperlukan bagi sektor industri kreatif di masa mendatang. Karya film dan program acara televisi sebagai karya seni yang memiliki standart estetika, di dalamnya terdapat gagasan, pengolahan artistik, matrialisasi, pengalaman teknik dan manajemen produksi, yang  proses produksinya  membutuhkan sekelompok atau individu sumberdaya manusia berkualitas dengan tingkat  pendidikan setara diploma dan sarjana. Kemudian juga dengan  televisi apabila sudah masuk ke dalam rana industri kapitalis, tentu akan berdampak pada bagi masyarakatnya, seperti yang dijelaskan oleh Redatin Parwadi untuk menciptakan perilaku konsumtif bagi konsumennya inilah, televisi mempunyai peran yang sangat penting baik sebagai media ataupun sebagai alat bagi kaum kapitalis untuk mengkonstruksi pikiran konsumen. Sejalan dengan konsep HAKI yang melindungi kualitas  karya cipta  anak bangsa dari originalitas dan eksistensinya, tentu lembaga pendidikan seni memiliki peran penting di dalam melahirkan sumberdaya manusia yang mampu menghasilkan karya seni  kreatif dan inovatif. Maka dewasa ini, di Indonesia sudah saatnya menerapkan konsep  pendidikan multikulturalisme berbasis budaya lokal yang dapat menjadi salah satu alternatif untuk membangun kearifan lokal menuju kebudayaan dunia. Art Education of Film and Television as Actuation in the Creative Economy Industry for the Lecturers of Television Department, Faculty of Recorded Media Arts ISI Yogyakarta. Globalization, as a process of international integration, occurs because there is an exchange of the world’s view in some sectors. In Indonesia, the wave of globalization has been ongoing for more than 25 years. Its growth and development have given influence to all aspects of nation’s life with its cultural attributes. In education, globalization has a quite big impact for the shift of system or learning model and the taught curriculum. The era of creative industry launchedby the government through the Indonesian Minister of Trade which was once held by Dr. Mari Elka Pangestu, has now given a vast opportunity for higher education in art to be one of the pillars for the growth of creative economy in Indonesia. Indonesia has certain institutions and companies that could be partners for the graduates of art school. Creative talents andskillful graduates from art school are the necessary human resources for creative industry sector in the future. Films and television programs as works of art which has standardized aesthetics, therein we could find ideas, artistic process, materialization, technique and production management experience, whose production processes need a group of people or qualified human resources holding diplomas of bachelor degree and bachelor of honors or those in equivalence. When television is admitted into capitalist’s industry, it will affect the society, as stated by Redatin Parwadi, to create a consumptive behavior for the consumers,television has an important part both as media and as means for the capitalists to construct the mind of the consumers. In accordance with the concept of HAKI (intellectual rights) to protect the quality of copyrights owned by the nations’ generation with their originality and existence, higher education of arts has a very significant role in creating human resources who are able to create creative and innovative works of art. Nowadays, Indonesia has already applied multiculturalism education concept on the basis of local wisdom that could be one ofalternatives to build local wisdom into world’s culture.
Simulakra Baudrillard dalam Multidimensi Posmodernisme: Kajian Fotografi Makanan dalam Media Sosial Instagram Adya Arsita
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 13, No 2 (2017): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1932

Abstract

Makanan kini dipandang dengan sudut pandang yang berbeda, karena ia tak lagi sekedar kebutuhan pokok, tetapi telah dimaknai jauh dari fungsi utamanya.  Telah sekian lama makanan menjadi simbol kemakmuran orang yang berpunya sejak dari abad ke-16 dan ke-17 yang ditunjukkan dalam lukisan-lukisan di masa itu, yang kini kemudian meraih masa gemilangnya melalui berbagai tayangan di televisi, majalah, dan buku-buku masakan.  Makanan tidak lagi sekedar apa yang dimakan, tetapi menjadi sesuatu yang dipamerkan dan berkembang menjadi gaya hidup.  Seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi, orang cenderung mengumbar kegemarannya akan makanan melalui berbagai media sosial, salah satu yang terkenal yaitu Instagram.  Visualisasi makanan telah diekspos sedemikian rupa dari menu rumahan yang sederhana hingga makanan kelas atas yang biasanya tersaji di restoran mewah.Tulisan ini membahas banyaknya foto-foto makanan yang diunggah ke dalam berbagai akun Instagram dan kemudian akan dicoba untuk menemukan bagaimana unggahan tersebut mempengaruhi keseharian kita.  Metode yang digunakan adalah mengaitkan teori simulakra dari Baudrillard dengan pendekatan multidimensi posmodernisme.  Akun Instagram dipilih secara acak berdasarkan tampilan enam frame pertamanya yang menampilkan foto-foto makanan, yang kemudian foto-foto tersebut dianalisis menggunakan kajian simulakra dari Baudrillard. Hasil temuan dari analisis menunjukkan bahwa orang tidak lagi mengonsumsi sesuatu (makanan) sesuai fungsinya, tanpa disadari mereka telah mengonsumsi sebuah tanda yang akhirnya akan meletakkan mereka ke dalam hirarki, kelompok, dan kelas dengan kemampuan mengonsumsi yang sama.  Instagram merupakan salah satu media sosial yang menggunakan foto sebagai instrumen untuk berkembangnya budaya visual yang makin memperkuat berlangsungnya simulakra dalam keseharian, yang memisahkan objek dari apa yang seharusnya direpresentasikannya hingga ke ambang batas nihilisme dan orang tidak bisa lagi mengenali apa yang sesungguhnya mereka apresiasi. Food has been seen in different views nowadays, it is not merely one of the staples, but it has gone far beyond its primary function.  Food has long been a symbol of prosperity of the haves since the 16th  until the 17th century through paintings, which later these days regains its triumph in the abundant TV shows, magazines and cook books.  Food is no longer what we eat, but it is something to show off and lately it has become a lifestyle.  Along with the advanced communication technology, people tend to flaunt their food fetish through various social media, one that has become so popular is Instagram.  The visuality of food has been vividly exposed from simple home cooking   menu to high-end foods such those served in fine dining restaurants.   This article tries to analyze the massive photographs of food uploaded in several random accounts of Instagram, and then to find out to what extent they influence our everyday life.  The method employed is Baudrillard’s simulacra with a hint of approach of multidimensional postmodernism.  Random accounts of Instagram were chosen based on their first six frames or feeds all exposing food,  then those photographs were elaborated and analyzed using Baudrillard’s simulacra.          The findings show that people no longer consume something (food) as it is, but they have consumed ‘signs’ or the prestige symbols embedded in that object.  The act of consuming signs will finally put them in certain hierarchy, groups, and classes with the same interest and ability to consume the same sign in the same way.  Instagram as one  of the social media using the photograph as the instrument in blossoming the visual culture strengthens the simulacra that happens in daily basis, that it seems separating the object from what it should represent until it fades to nihilism and people can hardly recognize what they really appreciate.
Media Fotografi Abad ke-19: Daguerreotype, Calotype, dan Collodion Pitri Ermawati
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 13, No 2 (2017): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1939

Abstract

Artikel ini bermaksud menjelaskan tiga medium fotografi yang lazim digunakan pada abad-19 yaitu daguerreotype, calotype, dan collodion. Pembahasan ketiga medium tersebut dititikberatkan pada sejarah kemunculan, teknik pembuatan, dan karakteristik imaji. Baik daguerreotype, calotype, maupun collodion memiliki sejumlah karakteristiknya yang khas; juga memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Daguerreotype yang ketajaman imajinya sangat memukau itu memiliki kekurangan pada cetakannya yang tidak dapat diperbanyak. Kekurangan tersebut dapat teratasi oleh calotype yang dapat diperbanyak sampai dengan tidak terhingga. Adapun kekurangan calotype yang berdetail tidak tajam, teratasi oleh collodion yang berdetail tajam sekaligus dapat diperbanyak. Lambat laun setelah dipraktikkan oleh masyarakat, disimpulkan bahwa kekurangsempurnaan medium yang muncul lebih awal akhirnya menjadi penyebab berakhirnya masa kejayaan medium tersebut, karena telah hadir medium baru yang bisa mengompensasi kekurangan yang ada. This article explains three kinds of main stream medias in 19th century; they are daguerreotype, calotype, and collodion. The explanation of the three medias is focused on the origin of the medias, the techniques of the medias, and the characteristics of the image made by each medias. There are some characteristics in daguerreotype, calotype, and collodion, each by its own way. There are pros and cons about each process also. Daguerreotype is amazing in sharpness but lack of reproduction ability. Calotype which came later on public could overcome that lackness because of one calotype negative is able to produce unlimited positive images. On the other side, colotype has not enough good detail due to the grain of the paper which is used as the film. Then these kind of problems could be solved by the characteristic of the latest medium called collodion which has sharp details and also could be reproduced. Thus, time by time, one medium superseded one after enother.
Meme dan Visualisasi Kebencian Netizen dalam Kasus Penistaan Agama Abdul Malik
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 13, No 2 (2017): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1931

Abstract

Kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tidak hanya menimbulkan pro dan kontra di masyarakat tetapi juga polemik di dunia maya. Media sosial seperti facebook dipenuhi berbagai wacana kebencian. Banyak netizen memproduksi dan mereproduksi meme untuk memvisualisasikan kebenciannya terhadap pihak-pihak yang terkait dengan kasus tersebut. Tulisan ini mengkaji bagaimana netizen mengekspresikan kebenciannya terhadap pihak-pihak yang terkait dengan kasus dugaan penistaan agama melalui visualisasi meme, dan bagaimana penggambaran netizen terhadap pihak-pihak yang menjadi objek visualisasi dalam bentuk meme tersebut? Hasilnya, berbagai penggambaran netizen kepada parapihak terkait kasus dugaan penistaan agama mengerucut kepada bentuk kebencian dan pembelaan. Netizen yang kontra memvisualisasikan Ahok sebagai penista agama, tidak layak menjadi pemimpin, dan berbagai visualisasi kebencian lain. Kelompok pro Ahok, Megawati Soekarnoputri, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, dan Presiden Jokowi, juga menjadi pihak yang tak luput dari penggambaran negatif penuh kebencian. Sedangkan meme terhadap Buni Yani memberikan penggambaran positif. Ia menjadi sosok yang dibela. Sedangkan netizen pro Ahok memberikan penggambaran berisi pembelaan terhadap Ahok tetapi bertendensi kebencian terhadap kelompok kontra Ahok. Gambaran kebencian juga dilakukan oleh netizen terhadap Buni Yani, kelompok kontra Ahok, dan terutama sekali Habib Rizieq. Cases of alleged blasphemy committed Basuki Tjahaja Purnama  (Ahok) not only raises the pros and cons in the community but also polemic in cyberspace. Social media such as Facebook full of hatred discourse. Many netizens producing and reproducing meme to visualize the hatred of the parties associated with the case. This article examines how netizens expressing hatred against those associated with cases of alleged blasphemy through visualization meme, and how netizens depiction of the parties which is the object of visualization in the form of the meme? As a result, images of netizen to related parties alleged blasphemy case boiled down to the hate and defense. Netizens who cons visualize Ahok as a blasphemer, unfit to be a leader, and a variety of other hatred visualization. Pro Ahok, Megawati Sukarnoputri, police chief Tito Karnavian, and President Jokowi, those who did not escape  the negative portrayal of hatred. While the meme to Buni Yani give positive portrayals. He is a person who defended. Meanwhile, netizens meme pro Ahok provides unbiased depiction of defense against Ahok but the tendency to hate against a group of counter Ahok. Images of hatred is also done by netizens against Buni Yani, the counter Ahok, and particularly  Habib Rizieq.

Page 1 of 1 | Total Record : 6