cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 1 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi" : 6 Documents clear
Eksibisionisme Film Riding The Lights Annisa Rachmatika Sari; Matius Ali
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 1 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i1.2135

Abstract

Tulisan ini menelaah bentuk eksibisionisme film Riding The Lights berupa konstruksi sinematik yang melakukan penyesuaian diri pada kategorisasi akal. Dalam proses tersebut, terjadi peristiwa film yang memberi cerapan inderawi. Hal ini bertujuan untuk membangun kesadaran penonton atas wujud objek. Adapun konsep perhatian Münsterberg digunakan untukmenemukan bentuk eksibisionisme dalam film Riding The Lights. Konsep perhatian berada dalam teori Photoplay yang menganggap bahwa proses mental disebabkan oleh penyesuaian diri yang dilakukan oleh film pada struktur dasar berpikir penonton. Pada teori psikologi film ini, konsep perhatian ditempatkan sebagai salah satu proses mental ketika menyaksikan film, yakni sebuah fase ketika mata penonton menerima cerapan inderawi secara tidak sadar. Hasil telaah menunjukkan bahwa bentuk eksibisionisme dalam film Riding The Lights mengarahkan penonton pada tokoh wanita berbaju hijau.AbstractExhibitionism in the Film of ‘Riding the Lights’. This paper examines the form of film exhibitionism in Riding The Lights, in the form of cinematic constructions that made adjustments to the categorization of reason. In that process, there was a moment that the film gave a sensational perception. It aimed to build the audience’s awareness of the object’s form. As for the concept of Münsterberg’s attention was used to discover the form of exhibitionism in the film of Riding The Lights. The concept of attention lied in the theory of Photoplay, which assumes that mental processes are caused by the adjustment carried by the film on the basic structure of audiences’ thoughts. In the theory of psychology of this film, the concept of attention was placed as one of the mental processes when watching the show, which became a phase when the eyes of the audience received sensational perception unconsciously. The results of the study showed that the form of exhibitionism in the film of Riding The Lights ledthe audience to the figure of women in green.
Analisis Peran Unmanned Aerial Vehicle Jenis Multicopter dalam Meningkatkan Kualitas Dunia Fotografi Udara di Lokasi Jalur Selatan Menuju Calon Bandara Baru di Kulonprogo Indreswari Suroso
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 1 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i1.2134

Abstract

Dunia fotografi berkaitan dengan pesawat tanpa awak disebut drone. Drone dipasang kamera sehingga pesawat tersebut dikendalikan pilot dari daratan. Hasil fotografi dilihat pilot setelah pesawat drone tersebut mendarat. Drone adalah pesawat yang terbang dengan sistem robotik dikendalikan oleh pilot di tanah.  Drone memiliki berbagai fungsi yaitu sebagai alat pendeteksi, alat pemetaan di udara, alat pemetaan banjir, tanah longsor, lahan pertanian bahkan dapat mendeteksi material logam didalam bumi. Drone dapat berfungsi alat pendeteksi pulau terpencil, salat foto udara bila terjadi sengketa sawah, untuk pemetaan bidang pertanian dan pemetaan bidang pertambangan. Berdasarkan jenisnya, terdapat dua jenis drone, yaitu multicopter dan fixed wing. Multicopter adalah jenis drone yang memanfaatkan putaran baling-baling untuk terbang, sedangkan fixed wing memiliki bentuk seperti pesawat terbang biasa yang dilengkapi sistem sayap. Langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah persiapan pembuatan drone, perencanaan ketinggian terbang, pengujian drone di ground, pengaturan kalibrasi kamera, pengambilan foto udara, melihat hasil foto udara, kemudian menganalisis hasil foto udara. Drone dalam penelitian ini memiliki empat propeller, yang digunakan untuk pemetaan jalur selatan menuju pintu masuk New International Yogyakarta Airports melalui Desa Plumbon, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo. AbstractRole Analysis of Unmanned Aerial Vehicle Type MultiCopter in Improving the Quality of Aerial Photography Field in the Southern Path towards the Prospective New Airport in Kulonprogo. The world of photography is very closely related to the unattended aircraft called drones. Drones are mounted with camera so that the plane is pilot-controlled from the mainland. Photography results are seen by the pilot after the drone aircraft is landed. Drone have various function namely as a detector, mapping equipment in the air, floods mapping tools, landslides,  agricultural lands, can ever detect metal material in the earth. Drone can fuction as remotr island detection device,  aerial photographs in the event of a rice field dispute, for mapping agriculture and minning fields. Based on its type, there are two types of drones, namely multicopter and fixed wing. Multicopter is the type of drone that utilizes the spin of the propeller, while the fixed wing has an airplane-like shape with a wing system. The steps used in this study were as follows: drone making preparation, fly height planning, ground drone testing, camera calibration settings, air photo capture, airresults viewing, and aerial photographs results analyzing. Drone used in this study has four propellers used for mapping south path entrance of New Yogyakarta International Airport through Plumbon Village,Temon sub-district, Kulonprogo regency.
Budaya Selfie Masyarakat Urban Kajian Estetika Fotografi, Cyber Culture, dan Semiotika Visual Idealita Ismanto
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 1 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i1.2138

Abstract

Penelitian ini membahas eksistensi individu yang dikonstruksi berdasarkan budaya visual. Selfie dan media sosial pada budaya visual sebagai wujud eksistensi merupakan kata yang tepat untuk menyikapiperkembangan eksistensi masyarakat. Persoalan yang diangkat membahas bagaimana budaya selfie dapat terjadi pada masyarakat urban, mengkaji budaya selfie melalui kajian estetika fotografi, cyberculture, dan semiotika visual serta perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat urban. Metode yang digunakan adalahobservasi dan wawancara. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, tahap reduksi, tahap penyajian data, serta tahap penarikan kesimpulan dengan penelitian kualitatif. Dapat disimpulkan bahwa praktik baru dalam cyberculture dan budaya visual yakni selfie, media sosial sebagai ranah eksistensi, masyarakat menjadikan selfie sebagai eksistensi diri yang narsisme. Masyarakat saling beradu eksistensi dengan media sosial yang berobjekkan wisata dan kesenian. AbstractSelfie Culture of Urban Society (Study of the Aesthetic of Photography, Cyberculture, and Visual Semiotics). This research discusses the existence of individuals constructed based on visual culture. Selfie and social media in the visual culture as a form of existence is the right word to address the development of society’s existence. The issues raised would discuss how the selfie culture can occur in the urban society, how the study of selfie culture through the aesthetic of photography, cyberculture studies, and the visual semiotics and also the social changes that occur in the urban societies. The method employed was observation and interview. The data analysis activities were started from the data collection step, the reduction step, the data presentation step, and the conclusion with qualitative research. It can be concluded that the new practice in cyberculture and visual culture, which is selfie, in the social media as the realm of existence, society makes selfie as the existence of narcissistic self. Communities collide with the existence of social media consisting touristy tourists’ attraction and arts.
Citra dan Tanda Malioboro dalam Konstruksi Fotografi Edial Rusli
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 1 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i1.2133

Abstract

Perkembangan zaman akan mengubah citra dan simbol Malioboro. Citra kawasan yang dulunya asri dan nyaman itu sekarang berubah menjadi semrawut dan tidak nyaman lagi. Keadaan ini menstimulasi ide penciptaan karya bahwa ruang publik Malioboro yang semrawut dan tidak nyaman itu dipersonifikasikan sebagai rumah besar yang ruang-ruangnya telah disekat-sekat layaknya kamar pribadi yang nyaman dengan kamar yang memiliki keunikan sendiri-sendiri. Konsep penciptaan dan perwujudan ini merupakan kumpulan objek imaji visual fotografi yang realistis untuk dikonstruksikan kembali dengan tujuan menghasilkan realitas imajiner. Pendekatan teori penciptaan ini adalah citra, konstruksi fotografi, dan makna. Proses eksperimentasi dan pembentukan karya diawali dari imaji-imaji visual fotografi yang dikumpulkan, diseleksi, dan direpresentasikan dengan citra objek kaum urban yang berjuang untuk hidup dan ruang cagar budaya yang terpinggirkan oleh bangunan modern di Malioboro melalui imaji visual fotografi. Imaji-imaji visual fotografi dari suatu realitas imaji masa lalu tersebut diimajinasikan ke masa yang akan datang untuk dikonstruksi kembali menjadi kesatuan dengan menggunakan teknik montase dan kolase digital imaging ke bentuk imajinasi visual fotografi yang imajinatif dan bernilai kreatif estetis untuk dimaknai kembali pada keadaan sekarang. Penciptaan karya ini tidak lagi berbicara tentang tataran teknis saja, namun juga berbicara tentang estetika, citra, tanda-tanda dan makna baru di dalamnya. Melalui penciptaan karya ini, masyarakat diharapkan dapat mengetahui citra, proses konstruksi, penyajian penciptaan karya, dan makna yang dihadirkan kembali dari perwujudan imaji ke bentuk karya imajinasi visual fotografi yang bernilai kreatif estetis. Karya imajinasi visual fotografi ini diharapkan menjadi media untuk mengungkapkan perasaan atau ekspresi dan emosi estetis pencipta dalam bentuk parodi visual. Penciptaan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkaya khazanah citra/imaji/makna baru dan untuk membangun rasa memiliki serta kesadaran akan permasalahan tata kehidupan dan tata ruang Malioboro sekarang ini.AbstractImage and Symbols of Malioboro in the Construction of Photography. Change of time will change the image and symbol of Malioboro. The image of this area that once was beautiful and comfortable now has changed into a chaotic and an uncomfortable one. This situation has stimulated an idea of creating artworks that the public space of Malioboro which is chaotic and uncomfortable is personified as a big house with separated rooms as in private bedrooms with their own uniqueness. The concept of the creation and the embodiment is a compilation of objects from photography visual images, which are realistic to be reconstructed with the aim of generating an imaginary reality. The approach for this creation is a photography construction’s image and its meaning. The processes of experimentation and the formation of the works were started with the visual images of photography which were collected, selected, and represented with the images of urban people who struggle to live there and the cultural heritage which is marginalized by modern buildings in Malioboro through visual images of photography. Visual images of photography from the past reality of those images were imagined into the future time to be reconstructed as a unity by using techniques of montage and collage in digital imaging which would transform them into creative and aesthetic photography visual imagination to be reinterpreted in recent time. This creation does not only articulate the technique itself, but also to articulate the aesthetics, images, signs and new meanings in them. Through this creation, society is expected to know the images, the construction process, the presentation, and the meaning which are brought back from the visualization of images to the form of creative and aesthetic photography visual imagination. It is expected to be a media to express the artist’s aesthetic feeling and emotion in the form of visual parody. This creation is expected to be beneficial in enriching the corpus of new images/meanings and to raise the sense of belonging as well as awareness of the problem of life order and the spatial layout of current Malioboro.
Reaktualisasi Teknologi Fotografi Abad Ke-19 dan 20 Studi Kasus pada Kelompok Kegiatan Mahasiswa KOPPI ISI Yogyakarta Irwandi Irwandi
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 1 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i1.2137

Abstract

Kecanggihan teknologi fotografi digital saat tidak memuaskan beberapa fotografer, terutama yang condong ke fotografi seni. Sebagai gantinya, mereka melihat kembali teknik fotografi lama, seperti yang dilakukan pada abad ke-19, antara lain cyanotype, salt print, vandyke, dan cetak gum bichromate. Sebagian besar teknik cetak diaktualisasikan ulang oleh sejumlah fotografer dengan orientasi yang berbeda. Artikel ini membahas bagaimana Kelompok Kegiatan Mahasiswa, Keluarga Old Photographic Processes ISI Yogyakarta (KOPPI) melakukan lebih dari sekadar rekonstruksi teknis. Mereka menggunakan media unik ini untuk menyampaikan pesan tentang masalah pribadi dan budaya. Teknik pengamatan partisipatif digunakan selama empat proses penciptaan: pengenalan, eksplorasi, eksperimen, dan presentasi. Ditemukan bahwa dalam menggunakan teknik pencetakan foto lama para peserta harus menegosiasikan tiga aspek, yaitu pemahaman teknis, material, dan konsep budaya. Setelah mereka mencapai pemahaman teknis dan material yang memadai, para peserta mulai mengeksplorasi isu-isu budaya. Isu budaya tentang penyimpangan perilaku, kesedihan, dan respons masyarakat terhadap kehidupan sehari-hari telah diangkat menjadi tema pekerjaan melalui teknik pencetakan foto lama. Anggota KOPPI memanfaatkan kesan kuno dan fleksibilitas media cetak untuk mewujudkan hal tersebut. AbstractRe-actualization of the 19th and 20th Century Photographic Printing Technology: The Case of KOPPI Student Activity Group. The sophistication of digital photography technology does not satisfy some photographers, especially those who tend towards art photography. Instead, they looked back at old techniques, such as those of the 19th-century based on chemical principles, including cyanotype, salt print, vandyke print, and gum bichromate print. Most of the printing techniques are re-actualized by a number of photographers with different orientations. This paper examines how Old Photographic Processes Student Activity Group of ISI Yogyakarta(KOPPI) did more than just technical reconstruction, They used these unique media for conveying messages of personal and cultural issue. Participatory observation techniques were used during the four processes of creation: introduction, exploration, experimentation, and presentation. The finding showed that in using the old photo printing technique the participants had to negotiate three aspects, namely the technical understanding, materials, and cultural concepts. After they reached a sufficient technical and material understanding, the participants began to explore cultural issues. Cultural issues about deviations of society’s behavior, sadness, and society’s response to every day life have been raised to be the themes of the work through the old photo printing technique. Members of KOPPI take advantage of the old-fashioned impressions and flexibility of print media to realize these things.
Objektivikasi Perempuan Tua dalam Fotografi Jurnalistik Analisis Semiotika pada Foto-Foto Pameran Jalan Menuju Media Kreatif #8 Sigit Surahman
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 1 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i1.2136

Abstract

Penelitian ini berfokus pada objektivitas perempuan tua dalam fotografi jurnalistik. Objektivikasi perempuan adalah objek yang menarik karena menjadi sebuah fenomena dalam kehidupan masyarakat. Hampir di setiap media massa, perempuan diposisikan sebagai pelengkap dunia laki-laki. Paras cantik dan keindahan lekuk tubuh perempuan dijadikan sebagai objek seksual. Lain halnya dalam karya fotografi pada pameran “Jalan Menuju Media Kreatif #8”. Dengan analisis deskriptif interpretif berparadigma kritis, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menginterpretasikan data yang bersangkutan dengan objektivikasi dan mitos dalam karya fotografi jurnalistik. Variabel penelitian ini adalah fotografi jurnalistik, perempuan, dan komunikasi visual. Terdapat tiga objektivikasi perempuan dalam karya foto jurnalistik ini: pertama, objektivikasi perempuan terletak pada inner beauty; kedua,; perempuan menikmati pekerjaannya sebagai ibu rumah; dan ketiga, perempuan tampil tanpa make up tebal. Mitos kecantikan perempuan terletak pada inner beauty, dalam foto-foto ini disajikan melalui keaslian wajah, profesi, dan ketaatannya. Mitos lain adalah penempatan perempuan yang selalu di wilayah domestik. Dengan demikian, perempuan tidak lagi hanya menghabiskan waktunya untuk berdandan dan bergaya. AbstractObjectification of Elderly Women in Photojournalism: Analysys of Semiotics on the Photographs of ‘Jalan Menuju Media Kreatif #8’. This study focused on elderly women objectivity in photojournalism. The objectification of women is an interesting object because it has become a phenomenon in the society. Almost in every mass media, women are positioned as the complement of men’s worlds. Pretty faces and the beauty of women’s curves are made as sexual objects. There was a difference in the photography exhibition in the event of “Jalan Menuju Media Kreatif #8”. By using interpretative descriptive analysis with critical paradigm, this research aims to describe and to interpret the data related to the objectification and myths in the photography works of photojournalism. The variables of this research are photojournalism, women, and visual communication. There are three objectifications of women in those works of photojournalism; first, objectification of women on their inner beauty; second, women enjoying their work as homemakers; and three, women without thick make-up. The myth of female beauty lies in the inner beauty,therefore in the photographs they were represented through the authenticity of their faces, professions, and obediences. Another myth is the position of women in the domestic sphere. Thus, women did not just spend their time to dress up and to be stylish.

Page 1 of 1 | Total Record : 6