cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi" : 6 Documents clear
Trend Kamera Analog Instan di Kalangan Remaja Yurif Setya Darmawan; Andrian Wikayanto
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 2 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i2.1930

Abstract

Maraknya penggunaan kamera analog instan baru-baru ini merupakan sebuah fenomena menarik. Fotografi menjadi ajang berekspresi penggunanya, untuk menunjukkan eksistensi mereka di media online. Caption menjadi salah satu hal yang penting di sini, seperti caption berbentuk tagar “#35mm” dan “#indo35mm” di Instagram menjadi salah satu pertanda bahwa postingan foto tersebut diambil menggunakan kamera analog. Munculnya komunitas fotografi virtual seperti KLASTIC, menandai awal mula tumbuhnya komunitas fotografi analog di Indonesia. Kemunculan kembali brand fotografi analog khususnya Instant Camera (kamera instan) Polaroid merupakan sebuah fenomena unik. Dalam fokus penelitian ini penulis berusaha menganalisa bagian-bagian terpenting pada keberlangsungan tumbuhnya industri fotografi analog yang mulai tergeser oleh digitalisasi. Secara umum terdapat pertumbuhan tren global terhadap eksistensi kamera analog dan kamera instan. Ada beberapa faktor yang dapat diteliti lebih dalam, dari segi teknologi, saluran komunikasi, kepuasan pengguna (kepuasan emosional dan kesamaan hobi ‘homophily’), waktu dan sistem sosial (agen perubahan sosial dan pemimpin opini), (Rogers, 1983). Penelitian ini hanya sebatas kajian analisa deskriptif kualitatif metode observasi dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan teori difusi inovasi dengan perkembangan trend penggunaan kamera analog instan. Inovasi produk berupa kebaruan bentuk dari kamera instan ternyata diminati di kalangan remaja. Ada sebuah fenomena disruptif, dengan munculnya aplikasi media sosial Instagram, foto hasil dari kamera instan difoto ulang dan diposting di Instagram. Terangkatnya trend penggunaan kamera analog instan juga merupakan dampak dari perkembangan komunitas pehobi kamera analog. 
Bahasa Indonesia dalam Animasi Lagu Anak Indonesia Bersama Diva Produksi Kastari Animation Sudaryanto Sudaryanto
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 2 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i2.2112

Abstract

Indonesian Language in Lagu Anak Indonesia Bersama Diva Animation Production by Kastari Animation. Indonesian children’s songs are numerous and have their own peculiarities. One of the uniqueness of it is the utilization of verbal aspects of Indonesian language in the lyrics of the song. However, not everyone, including parents is aware of it. In the Lagu Anak Indonesia Bersama Diva with the production division of Kastari Animation, found a number of verbal aspects that are used by the songwriter. The purpose of this study is to describe the verbal aspects of Indonesian language in the lyrics of Indonesian children’s songs, especially in Lagu Anak Indonesia Bersama Diva animation. The research method used is qualitative method. The results of this study are descriptions of verbal aspects of Indonesian language including (1) rhyme, (2) onomatopoeia, and (3) toponimi used by children’s songwriters. As for the Indonesian children’s songs being researched are Naik Becak, Menanam Jagung, Tik Tik Bunyi Hujan, Burung Kakak Tua, Halo-Halo Bandung, Satu Nusa Satu Bangsa, and Bendera Merah Putih.
Klaim Kebenaran Filmis Dokumenter: Problem dan Alternatif Sudut Pandang Renta Vulkanita Hasan; Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupang; Kurniawan Adi Saputro
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 2 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i2.1715

Abstract

Klaim kebenaran filmis yang berlaku bagi dokumenter perlu diselidiki dengan pertimbangan bahwa notabene gagasan tentang kebenaran filmis diletakkan pada dua aspek, yaitu: realitas dan sineas. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana persoalan itu berkembang, serta mencari berbagai kemungkinan atau alternatif untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Hasil penyelidikan tersebut menjadi dasar bagi konseptualisasi tentang kebenaran filmis dokumenter dengan cara mempertimbangkan peletakan kebenaran filmis pada aspek lain, di luar realitas dan sineas. Langkah awal penyelidikan fokus kepada literature review, di mana langkah ini menjadi cara yang efektif untuk menyarikan beberapa pemikiran penting dan mengkritisi pemikiran terkait klaim kebenaran filmis dokumenter. Hasil literature review menunjukkan adanya celah persoalan yang harus diselesaikan terkait klaim kebenaran filmis dokumenter. Persoalan itu muncul karena belum adanya satu gagasan yang secara signifikan menyebut pembacaan kebenaran filmis secara kognitif. Itu artinya, proses kognitif yang berlangsung selama kegiatan menonton belum sepenuhnya dibahas sebagai fokus dalam beberapa kajian tersebut. Problem inilah yang mendasari tawaran alternatif berupa pelibatan penonton untuk membaca kebenaran filmis dokumenter melalui pengamatan terhadap keberadaan unsur filmis di sepanjang alur dan plot. Konseptualisasi ini menemukan istilah bagi cara pandang penonton terhadap klaim kebenaran filmis, yaitu keterpercayaan. Istilah keterpercayaan ini akan dikaji secara khusus sebagai istilah baru bagi klaim kebenaran filmis dokumenter pada penelitian selanjutnya.
Evaluasi Sintesis Ekspresi Wajah Realistik pada Sistem Animasi Wajah 3D dengan Teknologi Motion Capture Samuel Gandang Gunanto; Arif Sulistiyono; Agnes Karina Pritha Atmani; Troy Troy
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 2 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i2.1747

Abstract

The human face has a unique shape and size, as well as a 3D character face model. The facial animation of 3D virtual characters is mostly done manually by moving the rigging in each frame. The more characters used, the more production costs that must be incurred. The absence of a cheap facial motion transfers system is also one of the reasons why not many studios are using motion capture technology in Indonesia.This research will evaluate the implementation of a facial expression synthetically using motion capture technology built from radial basis function (RBF) as a method of marker transfer as a reference for rigging movement in point cluster system. Testing is done by approaching facial expressions according to FACS theory and questionnaire of synthesis results.The experimental results show that according to FACS theory the requirement of expression formation has been fulfilled by referring to changes in facial features, but the implementation is not always able to describe perfectly the desired condition, namely the average percentage of faces easily recognizable by 35.53%. Therefore, the influence of animators in the control of micro expression improvements or the addition of exaggeration principle elements in the manufacture of facial animation is very important to produce facial expressions that are easily recognized by the audience.
Analisis Metafora Pendidikan dan Perkembangan Sosioemosional Tokoh Utama Film “Beauty And The Beast” Versi Live-Action Prima Dona Hapsari; F.A. Wisnu Wirawan
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 2 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i2.2306

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan konsep pendidikan yang terjadi di struktur sosial masyarakat Perancis pada abad ke-18. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis metafora pendidikan dan perkembangan sosioemosional sang tokoh utama film “Beauty and the Beast” versi live-action, Belle. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan studi kepustakaan mengambil teori-teori utama, yakni teori metafora pendidikan dan perkembangan sosioemosional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora pendidikan digambarkan secara jelas oleh tokoh utama dalam kaitannya dengan buku, perpustakaan, pendampingan membaca, dan book discussion. Hal ini pada akhirnya membawa pengaruh baik bagi kondisi masyarakat saat itu. Perkembangan sosioemosional tokoh utama berkaitan pula dengan mikrosistem, mesosistem, dan makrosistem yang menjadi satu rangkaian proses perkembangan aspek psikososialnya, yaitu kepercayaan, otonomi, inisiatif, rajin, identitas, dan keintiman. ABSTRACTAnalysis on Educational Metaphors and Socio-emotional Development of Live-Action Version “Beauty and the Beast” Main Character. This research was encouraged by the differences in the concept of education that occurred in the social structure of French society in the 18th century. This study aims to provide an analysis on educational metaphors and socio-emotional development of live-action version “Beauty and the Beast”, the main character, Belle. This research is a qualitative descriptive one, applying the theory of educational metaphor and socio-emotional development. The results showed that the main character clearly described the educational metaphor by doing many activities in relation to books, libraries, reading assistance, and book discussion. These brought good influence to the condition of the community at that time. Microsystems, mesosystems, and macrosystems related the main character to socio-emotional development. They led to be a series of processes in the development of psychosocial aspects, namely trust, autonomy, initiative, diligence, identity, and intimacy.
Eksplorasi Teknis Fotografi Udara Poros Imajiner Daerah Istimewa Yogyakarta Oscar Samaratungga
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 14, No 2 (2018): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v14i2.2305

Abstract

Yogyakarta adalah kota yang unik dan istimewa, salah satunya karena adanya filosofi tentang garis imajiner. Garis imajiner itu sudah menjadi wacana lama, tetapi tetap menarik untuk menjadi pembahasan. Kota ini terbelah sebuah oleh sumbu imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi – Tugu Pal Putih – Keraton – Panggung Krapyak – Parangtritis. Dilihat dari peta, juga bisa dilihat jika Merapi, Keraton, dan Pantai Selatan ini memang berada di satu garis lurus secara imajiner. Filosofi garis lurus imajiner dari Merapi hingga Laut Selatan ini sarat makna. Untuk masyarakat di Yogyakarta, Gunung Merapi, Laut Selatan, dan Keraton Yogyakarta mengandung makna penting. Kehidupan di dunia merupakan sebuah harmoni antara mikrokosmos (jagat cilik) dan makrokosmos (jagat gede). Keharmonisan itu harus dijaga satu sama lain, tidak boleh terjadi ketimpangan. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana melakukan eksplorasi pemotretan udara atas poros imajiner dikaitkan dengan teknis kreatif dan aspek estetis yang dapat mengungkap kekhasan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemotretan yang akan dilakukan adalah pemotretan melalui udara menggunakan drone, sebuah peralatan dan teknologi baru yang sedang berkembang dalam dunia fotografi saat ini. Lokasi yang akan direkam dan didokumentasikan adalah lima titik yang ada dalam poros imajiner tersebut, yaitu Gunung Merapi, Tugu Pal Putih, Keraton, Panggung Krapyak, dan Parangtritis. Salah satu kekuatan dalam fotografi udara dengan menggunakan drone adalah keleluasaan dalam menempatkan kamera. Keleluasaan penempatan kamera tersebut membuka ruang eksplorasi dalam mengambil gambar dari berbagai sudut yang berbeda. Gambar dari sudut yang berbeda tersebut dapat memberikan cara pandang yang berbeda pula. Hal ini berarti ruang hampir tidak terbatas untuk mengekplorasi berbagai sudut yang mungkin sulit dijangkau ketika menggunakan medium fotografi lainnya. ABSTRACTAerial Photography Technical Exploration of the Special Region of Yogyakarta’s Imaginary Axis. Yogyakarta is a unique and special city, one of them is because of the philosophy of the Imaginary Line. Although the imaginary line has become an old discourse, it is still interesting to be discussed. The city is split by an imaginary axis connecting Mount Merapi - Tugu Pal Putih - Keraton - Panggung Krapyak –Parangtritis.  Explored from the map, it can also be seen that Merapi, Keraton and South Coast are indeed in one imaginary straight line. The philosophy of imaginary straight lines from Merapi to the South Sea is full of meaning. For people in Yogyakarta, Mount Merapi, the South Sea, and Yogyakarta Palace, they have their own important meaninga. Life in the world is a harmony between the microcosm (the universe) and the macrocosm (big universe). The harmony must be maintained with each other, inequality must not occur.  The purpose of this study is to explore aerial photography of an imaginary axis associated with creative technical and aesthetic aspects that can reveal the peculiarities of the Special Region of Yogyakarta. The photos taken are aerial photography using Drones, a new equipment and technology that is developing in the world of photography today. The locations that were recorded and documented were the five points in the imaginary axis, namely Mount Merapi, Tugu Pal Putih, Keraton, Panggung Krapyak, and Parangtritis. One of the strengths in aerial photography using drones is the flexibility in placing the camera. The flexibility of placing the camera opens an exploration of space in taking pictures from different angles, because images from different angles can provide a different perspective. This means there is an unlimited space to explore various angles that may be difficult to reach when using other photography mediums.

Page 1 of 1 | Total Record : 6