cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi" : 6 Documents clear
Etnografi Komunikasi Visual Pertunjukan Reyog Obyogan Ponorogo Oki Cahyo Nugroho; Eli Purwati
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 1 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i1.3282

Abstract

AbstrakPerkembangan reyog ponorogo ditengah majunya komunitas budaya global mempunyai cara khusus dan berbeda dalam penyampaian informasi, terutama dalam pertunjukkan reyog obyogan yang ada di kabupaten ponorogo. Reyog obyogan merupakan sebuah pertunjukkan reyog yang seolah-olah tidak mempunyai aturan dalam pertunjukkan, akan tetapi pertunjukkan ini penuh dengan makna yang terkandung didalamnya dan tersampaian dengan model komunikasi visual. Komunikasi visual merupakan sebuah rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan. Dalam bidang ilmu antroplogi, kajian ilmu tentang komunikasi dikenal dengan komunikasi ethnografi, sebuah proses yang dikembangkan dari pola-pola bicara dalam sebuah komunitas. Penelitian ini menggunaka teori komunikasi budaya dalam ranah etnografi yang dikembangkan oleh Dell Hymes, SPEAKING (Setting and scene, participant, event, act squence, key, instrumentalities, norms, and genres). Etnografi sendiri merupakan sebuah metode dalam menggali informasi yang terkandung dalam sebuah komunitas budaya dan  berusaha mengungkapkan sebuah pesan lewat media tari, ekspresi dan interaksi. Hal inilah yang menjadi sebuah cara berkomunikasi dengan banyak aspek yang saling terkait. Komunikasi visual dalam penelitian ini , sesuai namanya, adalah komunikasi melalui media penglihatan yang terdokumentasikan dengan media fotografi. Melihat paradigma dan perkembangan inilah, fokus dalam penelitan ini adalah melihat lebih jauh dan mendalam bagaimana sebuah tanda-tanda visual berkembang dalam bentuk komunikasi budaya yang hidup dan tumbuh dalam kesenian reyog terutama reyog Obyogan di Kabupaten Ponorogo. melalui metode penelitian kualitatif dengan observasi mendalam dan wawancara diharapkan hasil yang dicapai dapat lebih maksimal dengan temuan-temuan baru yang ada sesuai dengan perkembangan yang ada pertunjukkan reyog tersebut. 
Fotografi Surealisme Visualisasi Estetis Citra Fantasi Imajinasi Soeprapto Soedjono
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 1 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i1.3341

Abstract

ABSTRAKSebagaimana yang terjadi pada ranah seni sastra dan seni rupa, pengaruh surealisme sebagai moda artistik penciptaan karya seni, ternyata juga memengaruhi perkembangan bentuk dan genre baru di ranah fotografi. Sebagai bagian dari upaya-upaya penciptaan karya kreatif fotografis, beberapa fotografer menggunakan berbagai aspek dalam domain fotografi untuk juga bisa menampilkan karya-karya yang bernuansa surréal dan terkesan bersifat surealistis dengan berbagai teknik-teknik penciptaan visualnya. Prinsip-prinsip surealisme yang berkaitan dengan upaya memadukan elemen visual yang nyata dan yang bersifat tidak nyata (virtual, dream-like, fantasy) dalam karya-karya fotografi merekamenghasilkan sebuah fenomena ‘keraguan’ dalam menyikapi karya fotografinya. Hal ini terjadi karena yang selama ini karya fotografi diyakini sebagai medium penghasil karya seni visual yang nyata/realis dan merupakan satu bentuk representasi realitas yang faktual telah menjadi ‘ragu’ terhadap hasil karya fotografi surrealistic yang diciptakannya.Visualisasi bentuk-bentuk yang riil tertampilkan bertentangan dengan kelayakan konvensi logika visual alamiah realisme media fotografi yang ada. Namun, secara artistik tentunya kehadiran fotografi surealistik ini bisa dijadikan sebagai salah satu upaya alternatif penampilan visual karya seni fotografi yang ekspresif. Dalam arti bahwa ranah fotografi juga memiliki moda ungkapan ekspresif estetik yang juga memiliki kemungkinan untuk mengekplorasi aspek-aspek dunia mimpi bawah sadar, fantasi, yang bernuansa simbolisme visual dalam kancah pengembangan budaya visual yang bernilai ‘nyata - tidak nyata’. Surrealism Photography: Aesthetic Visualization of the Imagination Fantasy Imagery. As appeared in the sphere of literary and fine arts, the influence of surrealism as an artistic mode for the creation of works of art, apparently it also influences the development of new forms and genres in the sphere of photography. As part of the efforts to create photographic creative works, some photographers use various aspects in the photographic domain to also be able to present works which are surreal in nature and seem surrealistic in their various visual creation techniques. The principles of surrealism are associated with the attempts to combine visual elements which are real and not real (virtual, dream-like, fantasy) in photography works produce a phenomenon of ‘doubt’ in addressing the photographic work. This happens because all this time photography is believed to be a medium that produces visual art works that are real or realistic and is a form of factual reality representation which has become ‘doubtful’ of the surrealistic photographic works that it creates. The visualization of the real forms that appear is contrary to the feasibility of the natural visual logic conventions of the realism of the existing photographic media. However, artistically, the presence of this surrealistic photography can be used as an alternative attempt for the visual appearance of expressive photographic artworks. In the sphere of photography, it makes sense that it has an aesthetic expressive mode of expression which also has a possibility to explore the aspects of the subconscious self, fantasy, having the nuance of visual symbolical in the domain of developing visual culture which could be valued as ‘real-not real’.
Cross Culture Generasi Milenial dalam Film “My Generation” Sigit Surahman; Meliana Pratiwi; Annisarizki Annisarizki
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 1 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i1.2576

Abstract

This research aims to explore the signs that represent the millennial generation cross culture in the film My Generation (2017) by Upi Avianto. This film, shows the dynamics of life for generations of millennials in the era of technological development. Unlike teen films in general, this film dares to portray the reality of a teenager's life from the results of two years of director research through social media. So that the film portrays the cross-culture of the millennial generation with what is positive and negative. With Roland Barthes's semiotic analysis method and qualitative descriptive approach and constructivist paradigm. The theory used by researchers is the Representation theory of Stuart Hall. From this research shows the millennial cross culture is represented by various scenes that describe habits and characters that are different from the previous generation. Millennial generation's cross culture is shown in differences in social norms which do not care about politeness values, millennial generation stereotypes, differences in life perspectives that tend to be free or liberal, broader, open and courageous to show differences, and a strong and optimistic mindset.
Membongkar Identitas dalam Film "Wandu" Ghalif Putra Sadewa
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 1 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i1.1927

Abstract

Wandu (The Effeminate) adalah film pendek televisi yang bercerita tentang problematika tiga orang waria dalam proses pencarian identitas dan haknya sebagai manusia ditengah masyarakat yang majemuk. Penolakan aspirasi waria dan citra negatif telah melekat erat pada masyarakat dan berdampak pada segala sepak terjang waria. Semua waria sama saja, itulah ungkapan yang jamak. Diskriminasi, upaya penolakan, dan perlakuan yang tidak manusiawi merupakan tekanan sosial yang terjadi akibat nihilnya identitas bagi waria. Oleh sebab itu, identitas menjadi hal terpenting bagi waria. Identitas adalah bentuk keberadaan yang kongkrit untuk mendapatkan kesejahteraan sosial yang lebih baik dan setara.Kata kunci : Identitas, Waria, film Wandu
Sampling Suara Instrumen Musik sebagai Strategi Peningkatan Hasil Belajar Mahasiswa dalam Pembuatan Film Scoring Pandan Pareanom Purwacandra; Oriana Tio Parahita Nainggolan
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 1 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i1.3232

Abstract

ABSTRAKFilm scoring merupakan pembuatan musik untuk mengiringi gambar visual dalam film. Dalam pembuatan film scoring sangat dibutuhkan pengetahuan tentang musik, hal ini dikarekan film scoring memiliki tujuan untuk menciptakan emosi penonton agar dapat memahami film yang ditonton. Instrumen musik merupakan elemen musikal yang mendukung terciptanya emosi penonton. Penelitian ini memiliki tujuan meningkatkan hasil belajar mahasiswa Program Studi D-3 Animasi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada pembuatan Film Scoring dengan strategi pembelajaran menggunakan sampling suara isntrumen musik. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar mahasiswa, maka digunakan penelitian tindak kelas dengan tiga siklus. Indikator keberhasilan hasil belajar mahasiswa didapat dari nilai dalam tugas membuat film scoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar mahasiswa pada akhir siklus ketiga dari PTK dengan menggunakan strategi pembelajaran sampling suara instrumen musik. Hasil belajar mahasiswa ini ditunjukan dengan jumlah mahasiswa yang mendapat nilai amat baik dan baik yaitu sekitar 93,75% dari 16 mahasiswa. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi sampling suara instrumen musik meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada pembuatan film scoring. Film scoring is music written specifically to accompany a movie. The knowledge about music plays an important role in the making of film scoring. The purpose of film scoring is evoking audience’s emotion so they will understand the film message. Musical instrument is musical element that create audience’s emotion while watching film. This research aims to enhance student learning outcomes at Animation Study Program, Faculty of Media and Recorded Arts, Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta in making film scoring with using sampling musical instrument as learning strategy. This research is classroom action research with three cycles. The indicator of student learning outcomes gathering from number of students who got an excellent and good marking in making film scoring. The results show 93,75% students or 15 out of 16 students got an excellent and good marking in making film scoring. According to the result of this study, it was concluded that the strategy of using sampling musical instrument can improve student learning outcome in making film scoring. 
Konstruksi Keistimewaan Yogyakarta dalam Narasi Film-Film Kompetisi Produksi Dinas Kebudayaan Yogyakarta Tahun 2016-2017 Lilik Kustanto; Rr. Ari Prasetyowati; Ozhara Aisyia
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 1 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i1.3185

Abstract

ABSTRAKSejak Undang-undang Keistimewaan disahkan, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) konsisten menggelar program kompetisi Pendanaan Pembuatan Film. Dalam genre fiksi dan dokumenter, film-film terpilih yang difasilitasi telah menafsirkan dinamika kebudayaan di DIY dengan cukup beragam. Asumsinya, film-film tersebut setidaknya mampu mewujudkan tata nilai budaya masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai luhur budaya lokal. Namun demikian, beragamnya perspektif dan pendekatan yang digunakan sineas dalam produksi film kompetisi tentunya membangun realita baru akan narasi keistimewaan Yogyakarta. Penelitian ini akan memeriksa bagaimana konstruksi keistimewaan DIY dibagun lewat narasi film-film pemenang kompetisi pada dua tahun belakangan. Proses penelitian saat ini telah mencapai pada tahapan analisis struktur luar narasi kedua film kompetisi produksi Danais 2016-2017. Adanya ketidaksesuaian struktur narasi film-film dengan gagasan yang digunakan untuk menemukan struktur luar menurut Todorov justru menjadi tantangan besar dalam penelitian ini. Ketidaksesuaian ini sekaligus menjadi suatu penemuan yang penting saat keseluruhan proses analisis terselesaikan Since the Privileges Law has been authorized, the Government Cultural Office of the Special Region of Yogyakarta has been consistently holding a film-making funding program. In the genres of fiction and documentary, the facilitated selected films have climbed the Cultural Revolution in the Special Region of Yogyakarta with quite a variety. The assumption is that those films are at least able to realize the cultural values of the society based on the noble values of the local culture. However, the variety of perspectives and approaches used by filmmakers in the production of competitive films, certainly builds a new reality of the Yogyakarta's distinctive narrative. This research will examine how the construction of the privileges of the Special Region of Yogyakarta is built through the narrative of the winning films of the competition in the past two years. The current research process has reached the stage of analysis of the outside narrative structure of the two 2016-2017 Danais production competition films. According to Todorov, the inconsistency in the narrative structure of the films, with the ideas which are used to find the outward structures, has become a major challenge in this research. This incompatibility is also an important discovery when the entire analysis process is resolved.

Page 1 of 1 | Total Record : 6